Tag Archives: kekerasan dalam rumah tangga

Ditinggalkan Namun Tak Pernah Sendiri

Banyak wanita membayangkan pernikahan adalah sebuah dunia yang indah, demikian juga mimpi Maureen. Namun ternyata mimpi indahnya tak terwujud malah berubah menjadi sebuah mimpi buruk. Inilah penuturan Maureen tentang kisah hidupnya.

Ketika aku menikah dengan suamiku, dan membentuk sebuah keluarga, kami pindah ke kota Balikpapan. Dengan sebuah pengharapan yang besar, aku memulai kehidupan yang baru. Aku memiliki cita-cita, pernikahanku akan menjadi seperti pernikahan kedua orangtuaku. Sebuah keluarga yang ideal dan bahagia.

Namun kehidupan ternyata tidak seindah bayanganku. Ketika suamiku mulai berhasil usahanya, dia mulai lupa akan keluarga. Dia melalaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan kepala keluarga. Saat aku mengingatkannya, semua itu berakhir dengan pertengkaran dan tak jarang pukulan dilayangkannya kepadaku. Akhirnya dia pergi meninggalkanku bersama kelima buah hatiku tanpa meninggalkan apapun untuk kami.

Aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta, dan berjuang membesarkan kelima anakku. Aku bertekad untuk mendidik dan membesarkan anak-anakku dengan baik. Aku melakukan segala cara untuk bisa menyekolahkan dan memberi makan mereka. Saat aku sudah tidak memiliki apapun, aku jual baju-baju yang ku miliki. Lima belas tahun lalu, satu baju yang kujual harganya seribu rupiah. Dan dengan uang hasil penjualan baju-bajuku itu, aku membeli beras, minyak tanah, sayuran, dan aku atur sedemikian rupa sehingga anak-anakku dapat makan makanan yang sehat dan bergizi sekalipun sangat sederhana.

Terkadang, jika anak-anakku ingin makan apel atau jeruk, mereka harus pergi ke kuburan. Pada hari-hari tertentu, akan ada orang-orang yang datang kekuburan untuk sembahyang dan membawa makanan persembahan. Ketika anak-anakku bercerita kalau mereka harus berebutan dengan orang-orang untuk mendapatkan buah-buahan dikuburan itu, aku merasa sangat sedih.

Suatu kali, kami sudah tidak memiliki apapun untuk dimakan. Hingga jam dua siang, anak-anakku belum juga makan. Aku kumpulkan anak-anakku, dan kuajak mereka berdoa, “Ayo kita berdoa.” Kami memanjatkan doa Bapa Kami bersama-sama. Ketika kami berkata, “Amin,” tiba-tiba pintu rumahku di ketuk. Ada seseorang yang datang dan membawakan makanan sehingga kami bisa makan.

Dalam kondisi sulit seperti itu, aku terus memperjuangkan kehidupan anak-anakku. Aku mulai melamar pekerjaan dimana-mana. Sekalipun itu hanya pekerjaan part time, aku jalani dengan segenap hati. Terkadang ada teman yang telah mengenalku dengan baik sengaja memintaku bekerja ditempatnya. Sekalipun hanya bekerja selama satu minggu, tetapi hasil kerja saya itu bisa mencukupi kehidupan selama satu bulan, dari sekolah anak-anak, membayar kontrakan hingga makan sehari-hari.

Mulai saat itu aku mulai bekerja sebagai pegawai pengganti dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Aku menggantikan pegawai yang sedang cuti ataupun hamil. Jika ada pegawai yang hamil, aku sangat senang sekali, karena itu artinya aku bisa bekerja selama tiga bulan. Itu sangat lumayan sekali bagiku, karena uangnya aku bisa simpan untuk keperluan yang akan datang.

Perlahan-lahan kehidupanku dan anak-anakku mulai membaik. Satu hal yang membuatku bisa melewati semua masa sulit itu adalah adanya sebuah tekad yang tertanam dalam hatiku, “Aku harus menjadi panutan bagi anak-anakku.” Aku ingin anak-anakku bisa belajar nilai-nilai kehidupan yang benar dari diriku.

Jika orang lain berpikir aku bisa saja menghalalkan segala cara sehingga aku bisa lebih mudah melewati kesulitan-kesulitan yang menghadangku, aku berkata pada diriku, aku tidak boleh melakukan itu. Aku tidak mau menghalalkan segala cara, karena dalam hatiku ada takut akan Tuhan. Karena ada Tuhan Yesus dalam hidup keluargaku, aku tidak pernah takut dengan apa yang ada di masa depanku karena aku tahu Dia yang menjamin kehidupanku dan kehidupan anak-anakku. Aku sudah membuktikannya sejak awal ketika aku harus menjalani kehidupan seorang diri bersama kelima anak-anakku sampai saat ini, Dia selalu menyertaiku. Karena Dia adalah Immanuel.

Sumber Kesaksian :
Maureen (jawaban.com)

Terbakar Emosi, Suami Tusuk Istri dengan Gunting

Seorang suami seharusnya bisa menjadi figur seorang imam yang mengayomi keluarga. Tapi apa yang dilakukan Gebon justru sebaliknya, dia kerap berlaku kasar kepada istrinya bahkan pernah menusuk sang istri dengan gunting.

Kisah ini bermula ketika Gelbon Sianturi dan Rismayanti menikah dan tinggal di rumah orangtua Rismayanti (Yanti). Gelbon mencoba memenuhi kebutuhannya dan Yanti dengan bekerja sebagai pengamen. Hal ini lantas dianggap remeh oleh ibu mertua Gelbon, bahkan Yanti pun pernah membuang uang receh hasil Gelbon mengamen karena merasa malu.

“Perasaan saya sangat sedih, padahal pada saat mengamen saya tidak ada perasaan malu. Merasa bahagia saja saya mendapat uang,” ungkap Gelbon.

Hal itu menjadi awal konflik diantara keluarga muda tersebut. Bahkan intervensi orangtua Yanti membuat Gelbon dan Yanti harus tinggal terpisah. “Di situ juga bergejolak hati saya karena memilih orangtua atau suami. Karena orangtua saya, ibu saya terutama tiap hari itu selalu bilang ‘udah nggak usah diterima lagi si Gelbon, ngapain punya suami ngamen kaya begitu? Malu!’” ujar Yanti.

Gelbon pun terpaksa meninggalkan Yanti yang tengah hamil muda. “Cuma begini saya minta kepada Tuhan, ‘Tuhan saya tidak mau seperti ini, bawalah dia kepada saya. Tetapi jangan jauhkan saya dari dia, jangan bikin saya seperti ini Tuhan,” kenang Gelbon sambil menangis.

Enam bulan berselang, Yanti mendatangi Gelbon dengan menggendong anak pertama mereka serta menyampaikan keinginan hatinya untuk kembali bersatu dengan Gelbon. “Lalu saya kembali lagi kepada suami saya, karena saya berpikir bahwa nggak enak juga hidup tanpa suami. Lagian saya lihat anak saya, kasian anak saya. Bagaimana masa depannya?” aku Yanti.

Kedatangan Yanti pun disambut baik oleh Gelbon. Mereka pun berniat untuk membangun kembali keluarga yang bahagia. Namun ternyata, keharmonisan dalam keluarga bukanlah sesuatu yang mudah untuk diwujudkan. Tanpa sadar, kekecewaan Gelbon terhadap keluarga Yanti membuatnya berontak.

“Terus saya mulai berontak, karena setiap ingat masalah yang dulu yang diperlakukan ke saya. Saya kaya dendam, jadi kalau ada masalah sedikit saya main kasar aja,” ungkap Gelbon.

Sikap kasar Gelbon ini terus berlanjut bahkan suatu waktu dia tega menusuk istrinya itu dengan gunting. Peristiwa itu terjadi ketika Gelbon tengah asyik ngobrol di rumah temannya yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.

Yanti berinisiatif membawa salah satu anaknya untuk untuk bisa dijaga Gelbon sehingga dia bisa mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Hal itu dianggap Gelbon sebagai wujud tidak hormat Yanti terhadapnya dan menegurnya langsung di tempat.

“Saya tidak berpikir dia marah, eh setengah jam kemudian dia pulang. Dia buka pintu tidak seperti biasanya, dia buka pintu sambil dibanting,” kisah Yanti.

Yanti yang tidak mengerti kemarahan suaminya itu mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Percekcokan pun tak bisa dihindari, kata-kata kasar pun keluar dari mulut Gelbon. Yanti tetap berusaha membela dirinya dengan berbagai pendapat. Hal ini makin menambah geram Gelbon dan membuatnya gelap mata.

“Apa yang ada di depan dia, dilempar ke saya. Tapi seolah-olah dia kesetanan dan membabi buta,” Yanti menceritakan situasi.

“Terus saya lihat gunting. Saya emosi, dan saya tusuk,” kisah Geldon.

“Kenalah di paha sebela kiri saya,” ucap Yanti yang mengaku akhirnya mendapat pertolongan dari tetangganya.

Walaupun sudah diperlakukan kasar, Yanti masih berharap suatu saat suaminya itu akan diubahkan Tuhan. Dia pun kerap membawa hal ini dalam doanya. “Waktu itu saya sering doain suami saya supaya berubah, supaya tidak kasar, menjadi suami yang lembut dan baik. Setiap hari saya doain. Karena saya pikir kalau saya tidak mampu merubah, hanya Tuhan yang mampu merubah. Memulihkan suami saya,” ungkap Yanti.

Suatu hari anak-anak Geldon dan Yanti pulang dari sekolah minggu sambil menangis. Geldon sempat menyangka bahwa anaknya itu diganggu teman, namun pengakuan putranya tersebut membuat Geldon dan Yanti miris. “Temen-temen orangtuanya hadir di gereja, bapak nggak ada ibu nggak ada. Jadi saya sedih,” Geldon mengenang perkataan anaknya.

Pernyataan anaknya tersebut membuat Geldon dan Yanti sangat terpukul. Mereka merasa menjadi orangtua yang tidak bertanggung jawab. “Saya merasa terpanggil, terharu saya. Oh iyaa yaa, kok saya ini jadi orangtua, nggak bisa mendidik anak. Kurang bertanggung jawab saya sebagai orangtua. Timbul dalam hati saya, ‘Oh saya mau didik anak saya’ mulai dari situlah saya pergi ke tempat ibadah,” ungkap Yanti yang mengaku setelah itu rajin beribadah bersama Geldon.

Sejak saat itu, Yanti dan Gelbon mulai belajar apa arti sebuah keluarga.

“Kami didoakan orang lain. Disitulah saya merasa bahwa beban yang selama ini saya tanggung, selama ini saya rasakan, lepas gitu. Saya seperti ringan. Saya seperti tidak punya masalah apapun,” ungkap Yanti.

Hal yang sama juga dirasakan Geldon. “Disitu saya mulai menangis ‘Tuhan ampuni saya, dosa-dosa saya yang begitu besar Tuhan, ampuni saya’” ungkap Geldon.

“Waktu saya didoakan itu ada sesuatu yang datang begini ‘kamu harus minta maaf’. Saya katakana saya mau Tuhan. (Kemudian) saya mulai minta maaf kepada istri juga kepada anak-anak. Dan saya mulai berubah terus disitu,” tambahnya.

Yanti pun mempunyai ayat yang kemudian menjadi pedomannya untuk menjalani kehidupan. “Ada satu firman Tuhan ‘bersukacitalah di dalam pengharapan, bersabarlah dalam kesesakan, bertekunlah dalam doa’. Jadi apapun yang kita alami, apapun yang kita rasakan, kita tetap harus bersukacita dalam Tuhan,” ungkapnya.

Di sisi lain, ternyata Gelbon masih sulit mengampuni dirinya sendiri. Kekerasan yang selama ini telah dilakukannya kepada istrinya membuatnya memandang hina dirinya dan bahwa dia tidak pantas mendapat pengampunan. Namun hamba Tuhan pun meyakinkan Geldon bahwa Tuhan tetap mempunyai kasih yang luar biasa untuknya.

Pemulihan pun Terjadi

“Saat ini perilaku suami saya terhadap saya sungguh sangat luar biasa. Dia baik, dia lembut, dia perhatian sama saya,” ungkap Yanti.

“Mengucap syukurlah kepada Tuhan, memang inilah rencana yang indah buat saya. Yang dulu saya nggak ngerti, tapi dibalik itu semua Dia berikan yang indah kepada kami sekarang ini. Keluarga yang bahagia,” ungkap Geldon sambil menahan air mata.

“Kalau dulu dia kasar, keras, sering pukul saya. Tapi sekarang luar biasa berubah, diubahkan Tuhan. Saya percaya itu,” ungkap Yanti menutup kesaksian mereka.

Sumber Kesaksian :
Geldon Sianturi dan Rismayanti (jawaban.com)

Ingin Ku Bunuh Ayahku!

Sikap ayah Jobson yang kasar dan tukang main pukul terhadap istri dan anak-anaknya membuat Jobson menaruh dendam kepada ayahnya itu. Bahkan dalam kekesalannya itu, Jobson bersumpah di hadapan ibunya bahwa dia akan membunuh ayahnya jika sudah besar nanti. “Mak lihat mak, nanti aku besar aku bunuh bapak itu!” Jobson mengulang sumpahnya itu.

Salah satu peristiwa yang paling mengena dalam ingatan Jobson adalah ketika ayahnya sakit. “Paling menyakitkan waktu itu penyakit bapak kambuh dan semua orang harus bangun dan mijitin dia, nggak boleh tidur sebelum papa tidur,” ungkap Jobson.

Jobson berkisah, karena sudah kelelahan satu persatu anggota keluarganya mulai dari ibu, kakak dan adik Jobson tertidur, tidak lama kemudian giliran Jobson yang menyerah dan tertidur di kaki ayahnya. Tidak beberapa lama, ayah Jobson terbangun dan menendang kepala Jobson karena tidak mendapati istri dan anaknya memijitnya lagi.

Dendam tertanam kuat dihatinya, namun sebelum dendam itu terbalaskan, ayah yang sangat dibencinya itu meninggal dunia karena penyakit komplikasi. “Saya nggak nangis waktu bapak meninggal, saya senang. Nggak ada lagi yang mukulin saya,” ungkap Jobson.

Setelah ayahnya meninggal, Jobson tinggal bersama bibinya untuk melanjutkan pendidikan. Awalnya Jobson merasa dirinya akan hidup nyaman, namun justru sebaliknya yang terjadi. “Bibi saya sering mengatakan hal ini: ‘kalau kamu masih mau sekolah, kerja yang benar kalau nggak kamu pergi dari rumah ini,” ingat Jobson.

Kesedihan dan air mata terus menjadi teman Jobson, hal ini membuatnya menjadi pribadi yang tertutup. “Tiap saya punya masalah, saya tidak tahu mesti cerita sama siapa. Saya nangis dan sempet merasa ‘gimana siih, kok hidup saya seperti ini?’”, ungkap Jobson yang mengaku sering membandingkan hidupnya dengan teman-temannya.

Sikap memendam perasaan ini terus dilakukannya hingga SMA, namun hal itu merubahnya menjadi pribadi yang kasar dan brutal. “Di rumah kelihatan baik-baik, tapi di luar saya berantem dan tawuran,” ungkap Jobson.

Menurut Jobson tiap dia berkelahi, dia selalu membayangkan sedang menyerang ayah dan bibinya. “Waktu saya lagi nginjek orang itu, saya sedang membayangkan nginjek bapak saya, saya lagi membayangkan saya lagi nginjek bibi saya,” ungkap Jobson.

“Saya puas gitu rasanya!,” ungkap Jobson.

Sikap munafik, kasar dan terikat dengan minuman keras membuat Jobson hidup tanpa tujuan dan masa depan. “Saya merasa saya tidak punya harapan, saya nggak tahu nantinya saya ini akan menjadi seperti apa, saya merasa seolah-olah saya sendiri. Nggak ada yang peduli sama saya, nggak ada yang perhatiin saya, nggak ada yang mau mendengarkan saya cerita. Semua masalah itu saya pendam sendiri,” Jobson menceritakan pergumulannya waktu itu.

Saat seperti itu Jobson mengikuti sebuah ibadah retret yang kemudian merubah jalan hidupnya. “Disitu saya ditantang untuk mengampuni papa saya, saya dibagikan statement bahwa ketika kita benci dengan seseorang kita akan menjadi sama dengan orang itu,”

Jobson langsung berkaca dengan hal itu, dia sadar bahwa saat tanpa sadar dia telah mewarisi sikap ayahnya. “Bapak saya kasar, bapak saya penjudi, sekarang saya juga main judi, saya juga mabok, saya juga kasar,” aku Jobson.

Jobson sempat menahan dirinya untuk mengampuni ayahnya karena menganggap ayahnyalah yang bersalah, bahkan perkataan dari kakak pembinanya tak juga membuat Jobson melepaskan pengampunannya untuk ayahnya. “Sebenarnya kalau kita tidak mengampuni, kitalah yang terluka,” Jobson mengulang perkataan kakak pembinanya itu.

Seperti melihat sebuah video, semua kenangan buruknya bersama ayahnya tiba-tiba terputar kembali dalam ingatannya, Jobson pun terus mengeraskan hatinya untuk tidak mengampuni ayahnya. Namun saat tiba-tiba kakak pembinanya memeluk dan mendoakannya, air mata Jobson tumpah karena tidak sanggup membendung lagi perasaannya.

“Saya nangis sekenceng-kencengnya, setelah nangis saya ngomong sama diri saya: ‘Ya Tuhan, hari ini saya mengampuni papa saya yang sudah meninggal, saya mengasihi dia, saya memaafkan semua kesalahan papa saya yang dulu’” kisah Jobson.

Pernyataan Jobson itu membuat dirinya langsung merasakan damai sejahtera dalam hatinya, “Ada sesuatu yang mengalir, seolah mencair, seperti batu yang hancur di hati saya dan saya merasakan damai sejahtera,” ungkap Jobson.

Pengampunan itu menjadi titik awal perubahan serta pemulihan dalam diri Jobson dan kuasa pengampunan dalam Tuhan Yesus mampu melepaskan keterikatan Jobson atas dosa-dosanya. “Setelah saya mengambil keputusan itu, saya bisa lepas dengan semua itu. Saya nggak minum-minum lagi, saya bisa lebih lembut kepada mama saya,” ungkap Jobson.

Perubahan nyata terjadi dalam hidup Jobson, bahkan saat ini dia menjadi seorang guru yang sangat dikagumi oleh murid-muridnya. “Menurut saya Pak Jobson orangnya asyik banget, cara mengajar di kelas maupun di luar kelas asyik aja, bahkan bisa jadi seperti teman,” ungkap seorang murid Jobson.

Bersama Yesus Jobson memiliki kehidupan yagn baru, sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya pada masa remajanya dulu. Jobson mengaku semuanya ini karena campur tangan Tuhan Yesus. “Buat saya Yesus adalah pribadi yang sanggup mengubahkan hidup saya yang dulunya saya tidak tahu hidup saya akan menjadi seperti apa, saya nggak punya pengharapan dengan hidup saya, bahkan kalau melihat hidup saya hari ini pun saya tidak pernah berpikir kalau saya bisa menjadi seperti sekarang ini,”

“Apa yang dulu saya anggap tidak mungkin, di dalam Yesus semuanya mungkin. Saya percaya bahwa di dalam Tuhan Yesus pasti selalu ada pengharapan, Tuhan Yesus dasyat!,” ungkap Jobson mengakhiri kesaksiannya.

 

Sumber Kesaksian :
Jobson Aritonang (jawaban.com)

Kekejaman Ibu Tiri Memotivasiku Menjadi Kaya

Video Kisah Nyata

“Usia 8 tahun saya sudah ikut dengan ibu tiri. Hari demi hari yang saya lalui terasa semakin tidak menyenangkan,” ujar Yuyung memulai kisah hidupnya.

Pukulan dan perlakuan keras dari ibu tirinya sudah menjadi santapan setiap hari bagi Yuyung. Bahkan tak jarang pukulan-pukulan itu membekas di tubuh kecilnya. Namun Yuyung hanya bisa diam dalam ketakutan.

Yuyung adalah anak pertama dari ayah kandungnya. Bersama adik perempuannya yang nomor tiga, mereka ikut ibu tiri. Sebelum tidur, Yuyung dan adik perempuannya yang masih kecil sering ngobrol di kamar dan saling menceritakan hal-hal tidak menyenangkan yang harus mereka terima dari sang ibu tiri sepanjang hari itu. Apalagi anak-anak dari ibu tirinya semuanya perempuan, dan mereka memperlakukan adik perempuan Yuyung dengan sangat kejam. Tak jarang adik perempuannya menunjukkan luka bekas penganiayaan yang dialaminya hari itu.

Setiap kali mengingat bagaimana adik perempuannya harus menanggung hal-hal yang buruk saat itu, tanpa terasa Yuyung pasti meneteskan air mata. Sejak saat itulah Yuyung memendam keinginan di dalam hatinya, jika kelak ia sudah dewasa, ia harus menjadi orang kaya, harus berhasil dan memiliki banyak uang supaya hidupnya bisa bahagia. Karena bagi Yuyung saat itu bahwa kebahagiaan itu awalnya dari uang.

Ada satu peristiwa yang terekam dengan sangat jelas dalam ingatan Yuyung mengenai perlakuan ibu tirinya. Saat itu Yuyung sedang sakit gigi dan ia sangat kesakitan karena giginya sudah bengkak. Ayahnya pun membuatkan bubur untuk dirinya. Namun ibu tirinya tidak bisa terima kalau Yuyung dibuatkan bubur oleh ayah kandungnya sendiri. Pertengkaran pun pecah antara ayah dan ibu tirinya. Saat itulah ayah Yuyung baru tahu kalau istrinya ternyata memperlakukan anak-anak tirinya dengan tidak layak. Saat itu juga ayah Yuyung langsung membawa Yuyung pergi ke rumah neneknya.

Pada hari itu yang terpikir dalam otak Yuyung hanyalah dirinya telah bebas dari kungkungan, dan ia akan menikmati kebebasan hidup sepenuhnya seperti sebelum ia ikut ibu tirinya.

Himpitan ekonomi dan keinginan untuk menjadi kaya membuat Yuyung tidak melanjutkan sekolahnya dan memilih untuk bekerja keras. Mulai dari bekerja sebagai kuli angkut di pasar-pasar, buruh pabrik hingga menjadi mandor bangunan sebuah proyek di Jakarta. Teriknya matahari, tetesan keringat dan rasa lelah akhirnya terbayar sudah saat ia akhirnya memiliki sebuah pabrik konveksi dan mempersunting kekasih hatinya, Sri Tini.

“Ada satu rasa kebanggaan dalam diri saya karena saya telah berhasil menjadi orang yang sukses dan memiliki banyak uang, sehingga pada akhirnya membuat saya ingin memakai uang itu untuk kepuasan pribadi,” ujar Yuyung.

Uang hasil kerja kerasnya dipakai Yuyung untuk mabuk-mabukan dan bermain wanita. Yuyung berpikir dengan bermain wanita ia akan mendapatkan kebahagiaan. Yuyung bisa pergi keluar kota selama berhari-hari dengan berbagai alasan, padahal yang ia lakukan hanyalah menghabiskan uang hasil kerja kerasnya dengan mengumbar hawa nafsu. Sementara istri dan anak-anaknya di rumah menganggap Yuyung sebagai seorang suami dan ayah yang baik.

Namun suatu kali Sri Tini, istri Yuyung, menemukan sebuah tiket pesawat atas nama Yuyung dengan seorang wanita. Saat Sri Tini menanyakan perihal tiket pesawat tesebut, Yuyung tidak mengakuinya. Namun salah seorang teman Sri Tini, yang juga merupakan istri dari salah seorang teman Yuyung mengatakan saat ia pergi ke Singapur, ia melihat Yuyung dengan seorang wanita. Kebenaran yang terbongkar itu begitu menyakiti hati Sri Tini. Sepertinya ia tak akan sanggup mengampuni dan menerima Yuyung seperti dulu lagi.

“Kalau ia sudah melakukan hal-hal seperti itu, berarti ia sudah tidak membutuhkan saya lagi,” kisah Sri Tini dengan hati yang pedih. Saat itu juga Sri Tini langsung meminta cerai dari Yuyung. Serta merta Yuyung mendatangi Sri Tini, minta maaf dan memintanya untuk memikirkan anak-anak mereka. Yuyung pun berjanji saat itu bahwa ia akan meninggalkan semua dan menjadi suami yang baik.

Pada kenyataannya Yuyung dapat menjalani kehidupan yang baik itu hanya dalam hitungan bulan. Tidak sampai setahun berlalu, Yuyung kembali bertemu teman-teman lamanya dan bujukan teman-temannya membuat Yuyung kembali keluar malam dan bermabuk-mabukan bersama dengan para wanita yang mengelilinginya.

Sampai suatu ketika keadaan Yuyung tak tertolong lagi. Semua bisnis yang dijalankannya bangkrut total. Yuyung tak tahan saat melihat anak-anaknya dengan berpegangan tangan berjalan keluar rumah sambil mencari bajaj. Yuyung tidak tahan melihat anak-anaknya hidup menderita. Yuyung merasa ia telah melakukan hal yang sama seperti yang dahulu ayahnya lakukan, yaitu mengambil keputusan yang membuat anak-anaknya menderita. Yuyung merasa ia tidak bisa memberikan hal-hal yang baik kepada anak-anaknya.

Secercah harapan bersandar di hati Yuyung saat adiknya datang dan mendoaka dia beserta keluarganya. Saat itu adiknya memperkenalkan pribadi Yesus kepada Yuyung dan keluarganya. Dalam kesulitan ekonomi yang dialaminya, adiknya meminta Yuyung untuk hanya mengandalkan Yesus dan tidak kepada pertolongan saudara maupun teman-temannya. Adik Yuyung pun akhirnya memimpin Yuyung, istri dan anak-anaknya untuk berdoa bersama.

Setelah adiknya pulang, ada sesuatu yang berbeda dirasakan Yuyung di dalam hatinya. Yuyung mulai merasa ingin tahu siapakah Yesus itu. Sejak hari itu Yuyung bisa berdoa berkali-kali dalam sehari. Yuyung bisa seharian di kamar hanya untuk membaca Firman dan berdoa. Yuyung hanya membayangkan dirinya sebagai seorang anak kecil yang datang kepada Tuhan dan mengadu apa yang sedang ia alami saat itu. Namun kerinduan terdalam yang ada di hatinya saat itu ialah ia ingin berjumpa dengan Tuhan Yesus.

Sampai suatu ketika Tuhan memberikan suatu penglihatan kepada Yuyung. Ia melihat sebuah cahaya seperti api dan sangat terang. Dirinya seperti dikelilingi oleh cahaya api saat itu, namun di tengah cahaya itu ada gambaran sebentuk wajah yang tidak terlalu jelas namun Yuyung yakin kalau itu adalah wajah Tuhan Yesus. Peneguhan yang diterimanya saat itu membuat Yuyung semakin yakin dan percaya kepada Tuhan Yesus.

Yuyung pun menyadari bahwa penyesalan dari sebuah peristiwa tak akan pernah lengkap tanpa pengampunan.

“Setelah saya bertobat, saya meminta ampun kepada istri saya. Saya sangat menyesal,” ujar Yuyung.

“Setelah adiknya mendoakan, dia mulai mau mendengarkan Firman, mau ke gereja, sedikit demi sedikit ia mulai menerapkan apa yang ia dengar. Apa yang saya doakan, Tuhan kabulkan,” kisah Sri Tini mengenai pertobatan Yuyung, suaminya.

Tidak hanya kepada istrinya, Yuyung juga meminta ampun kepada anak-anaknya karena selama ini ia telah menyia-nyiakan mereka. Tidak cukup sampai di situ, Yuyung juga mendatangi ayah dan ibu tirinya. Yuyung meminta ampun kepada semua orang.

“Setiap kali saya merasa ingin kembali lagi kepada kebiasaan yang lama, saya akan lari kepada Tuhan, saya akan minta tolong kepada Tuhan. Dengan kekuatan saya, saya tidak akan mampu untuk melawan ini semua. Tapi saya yakin dengan kekuatan Roh Kudus yang ada di dalam saya, saya mampu untuk menolak semua hal yang tidak berkenan kepada-Nya. Kebahagiaan yang saya rasakan saat saya punya uang, itu bukanlah kebahagiaan yang sesungguhnya. Tapi sewaktu saya berjumpa dengan Tuhan Yesus dan saya mau menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat buat saya, di situlah saya merasakan telah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Saya mengucap syukur, karena kalau bukan Tuhan Yesus, tidak akan ada saya seperti saat ini. Saya baru merasakan kalau hidup saya itu betul-betul berharga di mata Tuhan. Jadi buat saya, Tuhan Yesus itu adalah segalanya. Tidak dapat digantikan oleh apapun juga,” ujar Yuyung menutup kesaksiannya sambil menangis terharu mengingat kebaikan Tuhan dalam hidupnya. (Kesaksian ini ditayangkan 17 Oktober 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian :
Yuyung (jawaban.com)

Overdosis Karena Kepahitan Pada Ayah

Perlakuan kasar sang ayah kepada ibunya menjadi peristiwa yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Hampir setiap hari, Stephen harus menyaksikan pertengkaran kedua orang-tuanya.

“Lebih sering papa tidak berada di rumah, tapi pergi keluar dengan teman-temannya… Mabuk-mabukan dan kebanyakan ia habiskan uangnya untuk bermain judi. Dalam keadaan mabuk, ya, yang ada juga ia malah menyakiti mama. Menyakiti kita semua yang ada di rumah,” kisah Stephen mengenai kekejaman ayahnya di keluarga mereka.

Tanpa alasan yang jelas, tak jarang pukulan keras itu mendarat di tubuh Stephen. Hingga kebencian pada sang ayah berakar dalam hatinya.

“Suatu waktu ayah pulang dalam keadaan mabuk dan tanpa alasan apa-apa ia marah-marah, seperti mengutuk saya mengatakan ‘Kamu anak yang tidak berguna,’ lalu ayah menempeleng saya dengan keras. Dan saya hanya bisa menangis saja. Saya tidak mengerti kenapa ayah saya sejahat itu. Sampai saya pernah bilang bahwa suatu hari nanti saya tidak mau mengakui dia sebagai ayah saya,” Stephen melanjutkan kisahnya.

Perlakuan yang baik tak pernah ia terima, membuat hatinya semakin perih. Bagai buah simalakama, keputusan yang pahit pun harus ia ambil sewaktu ibunya memutuskan untuk pergi.

“Perasaan saya waktu mama pergi itu… Saya tidak mau kehilangan mama saya. Cuma sebagai anak, saya juga pengen agar mama itu senang. Punya kehidupan yang baik… selagi saya juga pada waktu itu tidak bisa memberikan apa-apa untuk dia,” ungkap Stephen ketika mamanya memutuskan pergi dari rumah keluarga mereka.

Stephen yang terpuruk dalam kesendiriannya merasakan menemukan teman-teman yang menerima dirinya. Namun kehidupannya tak semakin membaik.

Stephen berkisah, “Tentunya ketika bermain dengan teman, memakai ‘barang’ juga. Yang saya cari itu, suatu kebersamaan itu sendiri. Rasanya ada hal yang mengisi di kekosongan yang ada pada diri saya. Tetapi setelah itu… Ya kembali lagi. Rasa sedih itu datang. Rasa sepi… Hidup saya tuh sama sekali tidak menyenangkan, jadi, tak ada enak-enaknya.”

Dalam kesepiannya, di sebuah stasiun kereta Stephen menemukan apa yang selama ini ia cari.

“Tanpa sengaja saya melihat seorang bapak dengan anaknya. Walaupun hal yang mereka lakukan itu adalah hal sederhana, seperti, sang ayah kasih tahu kepada anaknya suara kereta api itu bagaimana… Tetapi bagi saya itu adalah pemandangan yang indah sekali. Karena saya tak pernah dapatkan yang seperti itu. Itu sangat mengena sekali dan tak pernah saya lupakan. Jika bisa diulang, saya ingin hidup saya setidaknya lebih manis. Saya ingin punya orang tua yang normal saja, yang bisa pergi jalan-jalan bersama, ngobrol bersama. Saya sempat kecewa dengan Tuhan…”

Rasa sepi yang membunuhnya membuat hidupnya hampa dan putus asa. Bahkan kekecewaan Stephen pun bertambah saat ia lulus SMA. Ia ingin sekali untuk melanjutkan pendidikannya dengan berkuliah. Tetapi ketika ia menyampaikan niatnya kepada tantenya. Tantenya malah mengatakan bahwa itu adalah hal yang sia-sia karena nanti ia pun bisa saja akan seperti ayahnya yaitu menjadi orang yang tak berguna.

Stephen Victor“Ya saya menjadi semakin malu, gak tahu mau ngapain lagi,” kisah Stephen.

Masa depannya seakan menjadi punah. Bagi Stephen, ia seperti tak memiliki harapan lagi. Sampai tindakan nekat ia lakukan.

“Suatu hari kebetulan saya sedang bermain di rumah temen saya. Sampai akhirnya kami sepakat untuk ngeganja. Akhirnya setelah ganja kami nyabu juga. Dan kami memakainya itu terlalu banyak. Sampai akhirnya sewaktu sedang duduk-duduk begitu, saya merasakan sesuatu yang aneh. Nafas saya mulai sesak, badan saya dingin semua. Tidak karu-karuanlah rasanya. Hingga saya tiba-tiba tidak bisa merasakan kaki saya. Dan lama-lama semakin menjalar-menjalar sampai ke leher. Tak bisa merasakan apa-apa lagi. Seperti tidak punya badan saja. Saya meminta tolong pada teman saya, mereka pikir kalau saya ini sedang becanda. Sampai akhirnya teman saya benar-benar sadar bahwa saya benar-benar dalam keadaan sekarat,” kisah Stephen bagaimana ia sudah mau nyaris dalam kondisi overdosis.

Temannya, Ryan, yang adalah anak pemilik rumah itu berlari ke ibunya yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. “Ma, tolongin Stephen Ma…” Lalu ibu Ryan dan teman-temannya mendoakan Stephen.

Stephen VictorStephen sendiri dalam keadaan seperti itu merasakan bahwa ia dibawa ke dalam suatu suasana dimana ia melihat tubuh penuh kemuliaan yang begitu besar. Ia melihat jempol raksasa dan ia berpikir tubuh siapakah itu. Tapi ia tidak bisa melihat siapa-siapa.

Pada saat itu ia berpikir bahwa apa yang ia lihat itu adalah Tuhan, karena Tuhan sangat besar sekali.

“Disitu saya menangis, ‘Tuhan, saya tidak mau mati dulu. Aku masih ingin hidup. Jika Tuhan masih mau tolong aku, tolongin aku, Tuhan. Jika Tuhan masih kasih kesempatan aku hidup, yang jelek-jelek aku mau untuk tinggalkan.’ – Setelah aku bilang seperti itu, tiba-tiba, aku seperti berada di sebuah taman yang indah. Dan disitu aku melihat diri aku berubah menjadi anak-anak. Aku melihat diri aku lari-lari, dan aku bermain-main dengan satu orang dewasa… Dia gendong aku. Saat itu aku merasa senang sekali. Belum pernah aku merasakan rasa senang seperti pada saat itu.”

Keinginan Stephen untuk mengenal pada sosok pria dalam penglihatannya itu, membawanya ke dalam suatu pertemuan yang mengubahnya.

“Belum ia jawab apa-apa, baru meluk aku saja, aku sudah menangis disitu. Menangis sejadi-jadinya yang benar-benar aku tidak bisa tahan lagi,” kisah Stephen.

Melalui sesosok seorang pria yang memiliki wibawa seperti seorang ayah, pria dalam pertemuan itu melakuan rekonsiliasi antara Stephen dengan ayah kandungnya sebagai wakil dari ayah kandungnya. Pertemuan itu adalah pertemuan titik balik dalam hidup Stephen dimana ia mengalami rekonsiliasi dalam hatinya sendiri terhadap ayah kandungnya.

Perubahan demi perubahan terjadi dalam hidup Stephen. Saat ini ia sedang melanjutkan studi di sebuah perguruan tinggi. Kasih Tuhan kian nyata ia rasakan.

“Sekalipun saya menghadapi berbagai macam masalah, tetapi saya itu bisa menghadapinya. Jika dulu, perbedaannya, saya tidak bisa menghadapinya. Tuhan Yesus itu memang Tuhan yang sangat hebat, sangat luar biasa. Di dalam Dia, Ia menerima seutuh-utuhnya diriku. Aku juga menemukan semangat hidup. Buat aku Tuhan Yesus itu… Papa yang hebat!” kisah Stephen mengenai perubahan hidupnya mengenal Kristus. (Kisah ini ditayangkan 27 Agustus 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
Stephen Victor (jawaban.com)

Stephen Victor

Ayahku Sayang, Ayahku Malang


Video Kisah Nyata Kekerasan dalam rumah tangga

Sejak kecil Nengsih sering melihat perilaku kasar sang Ayah kepada ibunya.

Dulu keluaga kami punya toko kelontong di rumah. Pada suatu hari orang tua kami bertengkar. Dalam pertengkaran sengit itu, tiba-tiba sebuah botol kecap melayang tepat di kening sang ibu, darah segarpun keluar,” ujar Nengsih mengenang masa lalunya.

Karena waktu itu Nengsih masih kecil, ia hanya bisa menyaksikan pertengkaran hebat tersebut dari balik pintu sambil menangis. Dan ia tidak menyangka Ayahnya akan sekasar itu kepada ibunya. Kebencian yang mendalam kepada sang ayah akhirnya tertanam dalam diri Nengsih. Sang Ayah di mata Nengsih bagai monster dalam keluarganya.

Kekerasan demi kekerasan menjadi pemandangan sehari-hari bagi Nengsih, hingga suatu hari ia dan saudara-saudaranya berusaha melerai pertengkaran orang tua mereka.

Puncak kebencian Nengsih kepada Ayahnya terjadi ketika suatu hari, karena tidak sengaja bermain bakar-bakaran di dalam rumah, rumah mereka hampir saja terbakar betulan. Ayah Nengsih dengan penuh emosi memarahinya, juga mengikat serta mengurung Nengsih dalam sebuah ruangan untuk waktu yang cukup lama. Nengsih menangis dan terus berteriak mohon ampun kepada Ayahnya, tetapi teriakan itu tidak digubris. Hal ini sangat membekas dalam diri Nengsih dan kebenciannya pada sang ayah pun semakin bertambah.

Sebagai seorang anak kecil pada waktu itu, Nengsih ingin sekali dipeluk oleh sang Ayah. Ia juga ingin mendapatkan kasih sayang yang penuh dari seorang Ayah. Namun semua keinginan itu hanyalah sebuah angan yang tak pernah terwujud dalam hidup Nengsih saat itu.

Menjelang dewasa, Nengsih menjalin hubungan dengan seorang pria yang umurnya jauh lebih tua darinya. Harapan Nengsih ia akan mendapatkan kasih sayang dan rasa aman dari sang pacar. Ternyata setelah Nengsih menjatuhkan pilihan kepada sang kekasih, ia baru tahu bahwa sang kekasih adalah sepupunya sendiri. Hal ini tidak membuat Nengsih mundur, ia merasa yakin akan pilihannya .

Harapan Nengsih ternyata salah karena pada suatu hari ia mendapat telpon dari seorang wanita yang mengaku sudah menjadi pacar dari kekasihnya selama 10 tahun. Hati Nengsih pun bertambah hancur. Belum lama luka hatinya sembuh, kembali hal mengejutkan terjadi dalam hidup Nengsih. Ayahnya meninggalkan mereka dan pergi dengan wanita lain. Namun hal yang lebih menyakitkan bagi Nengsih adalah kepergian ayahnya yang meninggalkan hutang yang cukup besar dan semua itu harus ditanggung oleh keluarganya padahal ibunya sudah bersusah payah berjuang menghidupi keluarganya.

“Pada waktu itu jujur saya sering kali ingin bunuh diri, karena hidup ini sudah tidak berarti lagi,” ujar Nengsih kepada Tim Solusi.

Suatu hari pada saat Nengsih pulang kuliah, ia dan teman-temannya duduk di sebuah halte untuk menunggu bus. Kepada seorang teman ia mengatakan bahwa ia ingin masuk asuransi agar kelak kalau ia bunuh diri dan meninggal, maka uangnya akan diberikan kepada Ibunya. Dengan uang tersebut ia berharap Ibunya akan terbebas dari hutang.

Teman Nengsih tersenyum sambil berkata, “Kamu bodoh kalau kamu melakukan itu. Tidak ada orang yang bunuh diri terus dapat uang dari asuransi.” Setelah sampai di rumah, Nengsih langsung masuk kamar dan menangis.

Kemudian ia teringat akan sosok Yesus yang ia dengar pada waktu ia masih di sekolah dasar. Lalu Nengsih mulai berdoa kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Pada saat itu juga ia mengambil keputusan untuk mencurahkan segala isi hatinya kepada Tuhan. Mulai saat itu, setiap hari, Nengsih mulai rajin membaca Firman.

Seiring berjalannya waktu, Nengsih juga mulai menemukan kepercayaan diri. Semenjak ia menyerahkan dirinya kepada Tuhan, ada sukacita yang luar biasa mengalir dalam dirinya.

“Tuhan adalah sebuah anugerah yang tak ternilai buat hidup saya,” ujar Nengsih dengan mantap. Dan bersama Tuhan ia mulai menemukan figur seorang Ayah. Pemulihan yang dialami Nengsih berdampak pula pada hubungannya dengan sang Ayah. Hubungan Nengsih dengan ayahnya semakin membaik. Hati Nengsih pun sejalan dengan waktu dipulihkan dari kekecewaan yang mendalam terhadap ayahnya. Nengsih mulai menghargai Ayahnya. Bahkan ketika Nengsih wisuda, ia mengundang ayahnya untuk mendampinginya.

Menurut Nengsih, seburuk apapun ayahnya, pasti ia merindukan Tuhan sama seperti dirinya. Pemulihanpun terjadi. Seluruh keluarganya sudah bisa melupakan kejadian masa lalu dan memulai hidup yang baru.

“Pada tahun 2008, Ayah saya meninggal dunia. Namun sebelum ia meningal, saya merasakan kasih Tuhan yang memulihkan hidup dia,” ujar Nengsih menutup kesaksiannya. Nengsih juga bersyukur boleh merasakan kasih Tuhan yang begitu besar kepada Keluarganya. (Kisah ini sudah ditayangkan pada tanggal 22 Oktober pada Acara Solusi Life di O’Channel).

Nara Sumber :
Nengsih

Kenji Michitakasago: Bocah Penuh Penderitaan


Video Kisah Nyata – Kisah Sukses Bocah Malang
Awalnya Kenji Michitakasago cukup bangga memiliki seorang papa yang asli Jepang. Setahun dua tahun, ia bersama keluarganya merasakan kebahagiaan, kasih sayang dari orang tua, dan bahagia sekali. Tapi sejak kehadiran orang ketiga, sikap papa Kenji menjadi berbeda sekali. Bahkan penyiksaan-penyiksaan yang tidak mereka sangka, itu bisa terjadi.

Bujuk rayu dari wanita selingkuhan itu membutakan hati ayah Kenji. Ia tega melakukan perbuatan yang kejam kepada Kenji dan Akira, adik Kenji. Pernah ketika Kenji dan Akira mengganggu ayah Kenji bersama wanita selingkuhannya, ayah Kenji mengikat Kenji dan Akira lalu menggelindingkan mereka dengan tangga dari lantai atas ke bawah.

“Waktu itu saya berpikir hidup saya hanya sampai disini. Sepanjang saya ditendang bergelinding saya hanya bisa menangis,” kisah Kenji.

Kenji tak menduga bahwa perlakuan sadis papanya belum berakhir. Hingga satu malam peristiwa tak terduga mengejutkannya. Ketika ia beserta adiknya dan mamanya sedang tidur, papanya melemparkan kaleng susu yang terbuka yang berisikan kelabang-kelabang.

“Saya terbangun ketika ibu saya berteriak minta tolong. Ayah saya melemparkan kaleng berisi kelabang itu bermaksud seandainya saja kami bisa dibunuh, jadi orang akan mengira kami mati karena ini. Tapi ternyata sewaktu itu saya merasakan bahwa Tuhan itu menjaga kami. Dan papa dengan santainya mengambil baju lalu pergi tidak terjadi apa-apa. Jadi kami seperti dianggap seakan-akan kami palingan akan mati. Ia tidak merasakan apa-apa jika istri dan anak-anaknya mati. Ia tidak meninggalkan uang atau apa-apa, setelah itu ia hanya mengangkut baju lalu pergi,” kisah Kenji.

Tinggal bersama papa tiri
Dikarenakan tak sanggup menanggung beban yang menindih hidupnya, Kenji bersama mama dan adiknya merantau ke Jakarta dan mencoba hidup yang baru. Di Jakarta Kenji dikenalkan dengan seorang pria yang akan menjadi ayah tirinya.

Kenji MichitakasagoKenji berkisah, “Hubungan papa tiri dengan saya dari awal sudah tidak baik semenjak bertemu. Suatu ketika ketika subuh saya dibangunkan untuk menyiapkan makanan untuk dia, dan saya tidak bangun. Kemudian dia tendang saya, dia menyeret saya keluar dari kamar dan saya diikat. Mama saya tidak bisa menolong, dan hanya bisa diam saja. Dan ia hanya bisa menangis. Saya cuma merasa ketakutan sekali. Saya memikirkan ayah saya dan berpikir, ‘Kalau boleh papa saya tuh mati.’

Perihnya pukulan dan aniaya dari ayah tirinya membuat Kenji memutuskan untuk meninggalkan rumahnya.

“Waktu saya di jalan, saya tidurnya di kolong jembatan, di stasiun rel kereta api, di pinggir jalan… Itu menjadi tempat tidur saya,” kisah Kenji.

Kenji ingin bekerja dengan keringatnya, dengan halal, meskipun ia harus menyemir sepatu di jalan. “Dan waktu itu saya tidak berpikiran dengan uang yang berkelimpahan. Saya hanya berpikir saya mau merasakan tidak ada lagi orang yang menyiksa saya. Dan saya juga bisa bermain game, di tempat mainan ding-dong, dengan uang mainan saya sendiri tanpa penyiksaan dari ayah tiri saya. Itu yang saya cari di jalan.”

Di jalanan saya mulai berani menawarkan diri untuk menyemir sepatu orang. Itu yang Kenji lakukan hari demi hari. Hingga suatu ketika Kenji bertemu dengan seorang pelanggan dimana ketika ia membayar tetapi Kenji tidak memiliki kembalian karena orang itu adalah pelanggan pertamanya di hari itu. Lagi-lagi Kenji menemukan siksaan. Pelanggan itu menganggap Kenji berbohong lalu mengusir Kenji dengan menendangnya.

“Akhirnya saya jalan tanpa hasil uang yang seharusnya saya dapat. Selagi jalan saya merenungi nasib saya – “Kenapa kok penyiksaan ini datang lagi?” Di sepanjang jalan saya menangis. Saya bilang hidup saya itu seperti tidak ada artinya,” kisah Kenji.

Penderitaan yang dialami Kenji seakan tak akan pernah berakhir. Ditinggalkan oleh ayah kandungnya. Disiksa oleh ayah tirinya. Hingga membuatnya memilih tinggal di jalan. Kenji merasakan bahwa hidupnya seakan tidak ada artinya lagi.

“Ketika berjalan di pinggir jalan tuh ingin bunuh diri. Saya merasa kaki saya berat sekali untuk melangkah ke tengah jalan itu. Saya tidak tahu kenapa…” kisah Kenji tentang percobaan bunuh dirinya yang ia ingin lakukan ketika berusia 9 tahun.

Tinggal bersama tante, apakah kehidupanku akan berubah?
Selepas dari percobaan bunuh diri itu, Kenji diajak tinggal bersama dengan tantenya. Namun ia tak pernah menyangka akan apa yang harus ia hadapi di sana.

Kenji Michitakasago“Waktu itu kebetulan tante saya pergi ke luar kota selama 3 hari. Dan waktu itu, anak-anak tante saya itu menyiksa saya. Mereka menyuruh saya menyeterika seragam sekolah mereka. Jika saya tidak lakukan apa yang mereka suruh, mereka akan menyeterika tangan saya. Setelah saya diseterika, mereka memperlakukan saya seperti binatang juga. Saya dimasukin di kandang anjing herder dan saya disuruh tidur disana bersama dengan adik saya. Disitu saya merasakan seperti binatang. Saya dijadikan satu dengan anjing, tidur disana, makannya disana, dan buang air juga disana,” kisah Kenji menceritakan bagaimana ia mendapati siksaan juga di tempat tinggalnya yang baru.

Saudara-saudaranya melakukan itu semua dikarenakan sirik dengan perlakuan tantenya. Jadi saudaranya melakukan itu agar Kenji dan adiknya tidak betah di rumah. Terus siksaan itu Kenji alami dan mereka juga mengancam Kenji agar tidak menceritakan hal tersebut kepada mami mereka atau tante dari Kenji.

Terkatung-katung menjadi anak jalanan
“Suatu ketika akhirnya saya tidak tahan dan saya ngomong ama tante. Akhirnya tante emosi dan menghajar anak-anaknya. Setelah tante itu menghajar anak-anaknya, saya kabur, dan kembali lagi ke jalan,” kisah Kenji.

Saat kembali ke jalanan, Akira, adik Kenji, memutuskan untuk berpisah dengan Kenji. Kenji tak bisa berbuat apa-apa.

“Saya sempat sedih juga… Kenapa saya harus berpisah dengan adik saya padahal saya sudah berpisah dengan papa. Kenapa Tuhan itu jahat? Kenapa Tuhan itu tidak ada ketika saya mengalami penyiksaan begitu luar biasa, Tuhan itu tidak menolong saya… Hanya diam. Kenapa Tuhan seperti itu? Tidak ada Tuhan. Saya tidak bisa merasakan yang namanya Tuhan.”

Hingga suatu hari Kenji belum makan selama dua hari karena belum mendapatkan pelanggan. Ia berdiri di depan rumah makan cepat saji dan memandangi sebuah keluarga yang begitu harmonis memakan makanan bersama. Kenji merasakan kerinduan menginginkan keluarga seperti yang ia lihat. Kenji hanya termenung saja dan terdiam. Setelah keluarga keluar sehabis makan, Kenji masuk dan memunguti tulang-tulang sisa makanan mereka. Ketika Kenji mengambil sisa makanan itu, ia dikejar sekuriti.

“Waktu saya dikejar sekuriti saya lari dan berpikir saya mungkin akan ditangkap dan dipukuli lagi. Saya coba terus lari dan membawa tulang ayam yang saya dapatkan. Sampai di tempat yang aman, saya melanjutkan memakan makanan itu. Di situ saya merasa hancur. Kenapa penderitaan ini rasanya terus terjadi lagi tak habis-habis. Saya harus memakan makanan sisa orang. Saya hanya bingung dan saya menikmati makanan tulang ayam itu selayaknya orang makan,” Kenji berkisah sambil menitikkan air mata.

Kehidupan di jalanan yang keras harus ia jalani selama bertahun-tahun. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seseorang yang akan mengubah hidupnya.

Aon SantosoSeorang pria bernama Aon Santoso yang sedang dalam perjalanan menuju pelayanan. Ia melihat Kenji dan hanya berpikir mungkin Kenji hanya seorang anak nakal yang ingin bermain di jalan sampai malam dan belum pulang.

“Setelah satu minggu saya telusuri dia, dia bercerita. Dua hari… satu malam… anak sembilan tahun untuk mengisi perut dengan tulang-tulang ayam bekas orang. Sebagai pelayan Tuhan saya bergumul dan akhirnya saya putuskan untuk membawa dia pulang,” kisah Aon Santoso mengenai terbebannya hatinya melihat keadaan Kenji.

Perubahan hidup mengenal Tuhan
Kenji pun berkisah mengenai perubahan hidupnya semenjak mengenal Ko Aon, “Perlahan-lahan kehidupan baik luka batin saya dan segala sesuatu yang saya alami semenjak masa kecil saya… Itu dipulihkan. Saya sepenuhnya mengampuni mama saya, papa tiri saya bahkan papa kandung begitu juga dengan saudara-saudara yang pernah menyiksa saya. Mulailah saya mengenal Tuhan yang sesungguhnya, bahwa Tuhan itu ada. Dan Tuhan itu tidak pernah meninggalkan saya dalam keadaan apapun.”

Suatu ketika Kenji memainkan kibord di rumah ko Aon dan ternyata Kenji memiliki bakat untuk bermain kibord.

“Sewaktu itu Kenji tidak mempunyai kepercayaan diri,” kata Aon. Tetapi karena Kenji ingin untuk belajar memainkan kibord, meskipun biaya belajar alat musik kibord cukup mahal… Kenji akhirnya pun giat belajar memainkan kibord.

Dengan talenta yang dimilikinya, Kenji mengalami kemajuan pesat. Kasih karunia Tuhan menyertai Kenji hingga ia dapat menyelesaikan album pertamanya.

“Saya berjumpa dengan Tuhan, saya bisa berubah drastis, karena saya diberikan kedamaian di hati. Suatu sukacita. Saya juga bisa melayani orang-orang yang membutuhkan kasih sayang. Di situ saya merasakan bahwa hidup saya berarti dan saya bisa menjadi berkat buat orang,” kisah Kenji mengenai perubahan hidupnya yang drastis setelah mengenal Tuhan.

Kehidupan Kenji pun diubahkan saat ia menemukan kasih sejati dari Tuhan Yesus.

“Perbedaan hidup saya dahulu itu… gelap dan kelam. Tetapi setelah saya mengenal Tuhan dan mencari jalan keselamatan, hidup saya itu cerah… ceria… dan senang sekali.” (Kisah ini ditayangkan 12 Juni 2009 dalam acara Solusi Life di O Channel)

Sumber kesaksian:
Kenji Michitakasago (jawaban.com)

Kenji Michitakasago

Suami Istri Yang Saling Menyakiti


Video Kisah Nyata Pertengkaran Rumah Tangga (KDART)
Dua insan yang dulunya saling mencinta, menjadi begitu saling membenci dan penuh dengan dendam.

“Sewaktu menikah, melihat suami saya berubah itu membuat saya berpikir – Kok bisa berubah begitu banyak dengan sifatnya sewaktu pacaran itu baik, tetapi begitu rumah tangga kok… berubah. Dalam hal kecilpun dia bisa marah. Pokoknya sifatnya ya dibilangin malah kasar dan mau menang sendiri, egois. Kadang dia suka bilang ke saya sebagai istrinya bahwa saya itu tak punya otak, tak sekolah. Sebagai istri, saya sakit hati dibilang begitu,” ujar Allien, istri dari Herman.

Herman sendiri bertutur, “Istri saya suka ngomong kasar. Apapun ia berkata kasar, kadang-kadang perbuatannya pun kasar. Pernah saya lagi makan siang, saya tanya – ini sendoknya mana? – Dia lempar dari dapur sendoknya. Sakit hati saya disitu. Trauma. Saya paling gak suka perempuan itu galak. Yang saya tahu istri saya sewaktu pacaran itu tidak keras. Orangnya lemah lembut. Tetapi setelah menikah, dia kok semakin kasar terus.”

Semakin hari permasalahan semakin menumpuk. Saling mempersalahkan dan menuduh sudah menjadi bagian hidup mereka sehari-hari.

Herman berkisah, “Berkomunikasi dengannya sudah susah sekali. Saya sudah berusaha ingin ngomong, tapi tak pernah ada yang namanya kesepakatan sama sekali. Karena jika saya sudah ngomong sepatah, dia sudah ngomong sepuluh kata. Jika saya sudah denger dia ngomong sepuluh kata, saya diam. Jadi masalah itu saya bawa pergi. Saya sering keluar itu karena menghindari percek-cokan.”

Terkadang Herman sering mendapat telepon dari teman-temannya untuk pergi makan di malam hari. Meskipun bingung, tetapi sebagai istri Allien menerima saja suaminya pergi menerima ajakan keluar rumah dari teman-temannya.

“Saya setiap malam selalu ijin pergi sama istri. Malam ini saya bilang A ulang tahun, besok lain lagi si B yang ulang tahun. Padahal tidak pernah, kita perginya ke diskotik. Saya ngebohongin istri saya,” ujar Herman.

Setiap suaminya pulang, terkadang dalam keadaan muntah. Kadang pintu ingin didobrak oleh suaminya. Terkadang ia merasa ia seperti pembantunya.

“Pada waktu itu saya tidak pernah memikirkan istri saya. Tidak ada sama sekali. Saya malah senang jika melihat istri saya menderita,” ujar Herman.

Rasa benci menjadikan Herman semakin menggebu-gebu untuk membuat istrinya menderita. Bahkan pada saat mereka sedang berhubungan intim.

“Dalam berhubungan intim pun, saya rasanya ingin menyakiti dia terus. Jadi tidak punya rasa mesra. Inginnya, menyiksa. Inginnya merasa puas sendiri. Saya tidak pernah mikirin apakah istri saya itu merasa sakit, atau merasa terpuaskan. Tidak ada sama sekali,” ujar Herman.

Merasa tidak berdaya menghadapi sikap suaminya, Allien pun mencari pelampiasan untuk membalas perbuatan suaminya. Ia melampiaskan pada anaknya. Anaknya sendiri pun ia pukuli. Suaminya tidak mengetahui perbuatan istrinya pada anak mereka.

“Jika bapaknya tahu, saya bisa digebukin oleh bapaknya,” ujar Allien.

Allien menambahkan sambil terisak, “Dahulu saya tidak memiliki rasa kasihan sama anak, karena saya sering dipukulin oleh suami saya. Jadi anak pertama saya habis saya pukulin.”

Amazing True Story - Allien & HermanAllien sudah merasa tidak kuat. Kerap ia ingin merasakan untuk bunuh diri. Kalau malam melihat anaknya tidur, ia suka merasa kasihan. Tetapi jika keesokannya lagi suaminya melakukan hal yang sama, anaknya pun tetap menjadi sasarannya. Ia kerap melampiaskan rasa frustasinya pada anaknya.

Keinginan Herman untuk menaklukkan istrinya pun semakin tak terbendung lagi. Bahkan ia nekat menggunakan kuasa kegelapan.

“Saya sering merasa dibantah oleh istri saya. Saya ingin buktikan bahwa ia akan nurut jika saya pasang susuk. Saya pasang susuk karena saya ingin buktikan pada istri saya bahwa saya adalah orang perkasa, bahwa saya adalah kepala rumah tangga yang kuat,” ujar Herman.

Tetapi setelah pasang susuk, Herman justru semakin tambah emosi. Apalagi jika ia melihat segala omongannya selalu dibantah oleh istrinya. Tetapi susuk itu tak pernah terbukti sama sekali. Tetap saja istrinya melawan dirinya.

“Saya tidak pernah menyadari bahwa saya itu jahat. Yang saya tahu bahwa perbuatan saya itu menyenangkan hati saya. Saya merasa hati saya puas dengan kelakuan-kelakuan yang saya buat untuk dia,” ujar Herman mengungkapkan bagaimana dahulu hatinya sudah begitu bebal.

Dahulu saking kesalnya, Allien sempat berpikir untuk meracuni suaminya. Kadang jika sedang tidur, apabila sudah dirasuki setan, kadang-kadang ia ingin menusuk saja suaminya.

Bukan surga dalam rumah-tangga yang mereka rasakan, namun neraka di dunia yang harus mereka hadapi setiap hari. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang senantiasa berdoa dan berlutut kepada Tuhan bagi mereka.

Amazing True Story - Allien & HermanAllien mengungkapkan, “Saya diberitahu oleh anak teman saya bahwa saya itu didoakan oleh teman anak saya melalui anak saya hingga berpuasa. Puasa doa, puasa doa… Bergumul untuk mama-nya. Oleh anak saya yang kedua, saya sering diajak komsel olehnya. Saya sering marah kepadanya menanggapi ajakan anaknya.”

Tetapi suami Allien berkata kepada Allien ketika melihat ia menolak ajakan anak mereka, “Kamu itu tidak punya agama. Kalau kamu mati, saya buang ke laut mayat kamu. Saya tidak mau urus mayat kamu.”

Perkataan itu selalu terngiang-ngiang di benak Allien. Dia pun menuruti saran anaknya untuk menghadiri kelompok doa tersebut. Ternyata dia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Jika di komsel kan suka sering didoain, suka ditanya apa pergumulan masing-masing dari kita. Saya bilang jikalau – ‘Saya tadinya belum mengenal Tuhan karena saya tadinya tidak percaya Tuhan. Hati saya kacau, hidup saya tidak tenang.’ – Jadi saya pun didoakan. Rasanya enak sekali. Pikiran pun plong,” Allien mengisahkan bagaimana ia merasa ketenangan ketika berkumpul bersama dalam komsel (komunitas sel, red).

Perubahan dari bagaimana ia tergabung dalam komunitas sel itu, ia merasa bahwa ia sudah lagi tidak marah-marah. Ia pun sudah tidak lagi memukul anak-anaknya. Dengan suami pun jika berbicara, ia sudah menjadi lebih lembut.

Tengah malam ia pun menjadi sering terbangun berdoa untuk suaminya. Kadang-kadang jika suami lagi tidur, ia sering tumpang tangan.

“Saya berdoa untuk suami saya agar karakternya berubah,” ujar Allien.

Ternyata Herman sering tersadar bahwa di tengah malam istrinya sering mendoakan dirinya. “Ketika saya tertidur, saya sering tersadar jika istri saya bangun. Tetapi saya tidak tahu bahwa ia itu mendoakan saya,” kisah Herman.

Suatu hari, kerap ketika pulang kerja Herman merasakan bahwa pekerjaan begitu sulit. Di rumah istrinya berkata, “Ya sudah, ke gereja saja. Pasti setelah gereja, pekerjaan kamu akan kelar.”

Setelah mentok sana-sini, Herman teringat bahwa dahulu ia sering mendengar cerita bahwa Yesus itu melakukan banyak mukjizat, bisa menyembuhkan orang, dan lain-lain. Setelah berpikir, Herman mau juga untuk pergi ke gereja.

Herman lalu menghadiri kebaktian keluarga khusus untuk pasangan suami-istri untuk pertama kalinya. Ia merasakan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya olehnya.

Amazing True Story - Allien & Herman“Saya merasakan hati yang hancur. Saya merasakan ada jamahan. Ada perasaan bersalah. Saya ingat segala yang saya perbuat sama istri dan keluarga saya. Saya teringat semuanya. Kenapa setiap mendengar lagu-lagu rohani, air mata saya selalu keluar? Disitu saya mulai merasa damai sekali di hati,” kisah Herman mengenai pertobatan pertamanya.

Hari demi hari, keluarga mereka mulai mengalami perubahan yang menakjubkan.

“Dulu jika biasanya ngobrol-ngobrol di tempat tidur, jadinya berantem. Tetapi setelah ngobrolin Yesus, itu rasanya damai. Memecahkan masalah kami. Jika ada sifat pasangan yang tidak disukai, kami bicarakan. Lalu masing-masing kami berjanji tidak akan begitu lagi. Jadi sekarang ada komunikasi di antara kami. Bicara pun lemah lembut. Tidak lagi bentak-bentak seperti dulu,” kisah Herman mengenai perubahan dalam keluarganya.

Bahkan anak-anaknya pun sekarang sudah berani untuk curhat kepada Herman. Istrinya pun sudah tidak lagi membantahi dirinya.

“Saya benar-benar percaya bahwa Tuhan saya, Tuhan Yesus itu adalah Tuhan yang benar-benar membawa kedamaian. Membawa sukacita buat keluarga saya. Membawa berkat dalam keluarga saya,” ujar Herman.

Allien sendiri berkisah, “Saya benar-benar tak pernah terpikir bahwa suami saya bisa berubah begitu cepat. Tuhan benar-benar baik mengubah suami saya. Karakternya sudah berubah sama sekali. Tadinya yang mau menang sendiri, tetapi sekarang jika istri bicara, dia mau mendengarkan. Saya benar-benar mengucap syukur!”

Amazing True Story - Allien & HermanHerman sendiri mengucap syukur sambil menangis, “Begitu besar kasihnya. Sehingga saya yang berdosa saja mau diampuni. Mau dipilih untuk diselamatkan. Yang saya rasakan begitu luar biasa adalah keselamatan yang diberikan oleh Yesus kepada saya. Ketika saya sedang berjalan di tempat yang gelap dahulu, saya tidak pernah tahu bahwa saya ada jalan yang di tempat terang. Tetapi ketika saya di tempat terang, barulah saya tahu bahwa jalan yang saya lalui dahulu adalah di tempat yang gelap. Sekarang saya merasa lebih berharga. Saya merasa berharga sekali.” (Kisah ini sudah ditayangkan 22 Mei 2009 dalam acara Solusi Life di o Channel)

Sumber Artikel: Jawaban.com

Tangis Doa Hapuskan Hinaan

Bapak Selamet terikat kebiasaan bermain judi dan memasang lotere. Demi kesenangannya, ia rela menghabiskan begitu banyak uang dan mengabaikan istri serta anak-anaknya. Ia jarang sekali ada di rumah, andaikata pulang sekalipun ia hanya akan meminta kembali uang yang pernah ia berikan kepada istrinya, ibu Hermi. Selamet bahkan tidak segan-segan untuk melakukan kekerasan jika sang istri tidak dapat memenuhi keinginannya itu.

Suami saya jarang pulang, kalaupun pulang ke rumah ia hanya akan meminta uang. Kalau saya tidak mau mencari uang untuknya, saya akan ditempeleng, dipukuli dan dihajar suami saya. kalau bapak tidak di rumah, saya merasa lebih bahagia, lebih plong rasanya. Tapi kalau bapak ada di rumah, keadaan menjadi tidak damai.

Haryoto, putra Selamet pernah menyaksikan kekejaman ayahnya.
Saya pernah lihat sendiri bagaimana bapak menganiaya ibu saya. Saya benar-benar kecewa, bukan hanya kecewa tetapi juga marah. Kalau saat itu saya bisa, saya akan lawan bapak saya.

Bukan hanya kebiasaan berjudi dan meminta uang yang bapak Selamet bawa masuk kedalam hidup rumah tangganya. Ia juga menjalin hubungan dengan wanita lainnya, dan bahkan tidak segan-segan membawa wanita selingkuhannya tersebut untuk tinggal serumah dengan istri dan anak-anak kandungnya. Perilaku ini membuat hancur hati Hermi, istrinya serta semua anak-anaknya. Dwiyani, salah seorang putri bapak Selamet merasakan bagaimana hatinya tidak dapat menerima keadaan ini.

Kami tidak dapat menerima keadaan ini. Setiap ada wanita lain yang bapak bawa ke rumah membuat kami sangat kecewa dan sedih. Kami juga bisa merasakan ibu sangat sakit dengan perlakuan bapak seperti itu.

Keadaan ini membuat ibu Hermi memutuskan keluar dari rumah.
Saya merasa lebih baik pergi dari kampung ini, dari kampung saya. Setelah itu saya berpikir selama berbulan-bulan, saya melihat anak-anak saya. Saya katakan pada mereka bahwa mereka akan saya tinggal karena saya akan mencari penghidupan yang lain. Bahwa hidup keluarga ini sepertinya tidak ada harapan lagi. Setelah berbulan-bulan berpikir akhirnya saya pergi ke Bandung. Anak-anak saya tinggalkan.

Kepergian istrinya membuat bapak Selamet bingung sekaligus marah.
Saat-saat istri saya pergi inilah hidup saya menjadi seperti orang bingung. Saya tidak tahu harus bagaimana saat itu. Saya juga menjadi marah, marah yang terpendam. Saya berpikir jika seandainya saya bisa bertemu dengan istri saat saya mencarinya, mungkin saya bisa membunuh dia saat itu.

Meski demikian bapak Selamet tetap hidup dalam kebiasaannya yang kerap meninggalkan rumah. Ia biasa meninggalkan begitu saja anak-anaknya untuk waktu yang sangat lama tanpa tujuan pasti. Yang tertinggal dalam hidup anak-anak bapak Selamet hanyalah kekecewaan demi kekecewaan. Putra Selamet, Haryoto merasa kedua orang tuanya telah menelantarkan hidup mereka

Saya kecewa dengan keadaan ini. Ibu pergi dan bapak tidak ada. Sepertinya tidak ada harapan. Saya harus berbuat apa ke depan, saya tidak tahu. Saya benar-benar frustasi waktu itu. Saya masih ingat begitu pahitnya kami anak-anak harus menghadapi itu semua. Kadang-kadang kami tidak makan. Tidak makan menjadi sesuatu yang biasa bagi kami. Kalau kami tidak makan berarti kami harus menahan lapar.

Demikian juga dengan Dwiyani, anak putri dalam keluarga ini
Kami merasa takut sekaligus sedih sekali waktu itu. Saat kami lapar sering tetangga dekat kami seperti tahu hal itu dan mereka mengirimkan makanan untuk kami.

Sementara itu ibu Hermi merasa sedih dan hatinya tidak dapat tenang karena telah meninggalkan anak-anaknya begitu saja. Setelah hampir setahun ibu Hermi dan anak-anaknya berpisah, ia kembali ke rumah untuk membawa anak-anaknya pergi ke kota Bandung untuk tinggal bersamanya.

Dalam perjalanan kehidupan selanjutnya, satu persatu anak-anak bapak Selamet dan ibu Hermi diubahkan oleh Tuhan. Demikian juga dengan ibu Hermi, karena persahabatannya dengan seorang pemudi yang membawanya pada Tuhan, ia akhirnya mendapat kelegaan dan pembaharuan dalam hidupnya. Mulai saat itu ibu Hermi dan anak-anaknya berdoa minta kepada Tuhan agar membawa kembali bapak Selamet ketengah keluarga mereka.

Saya merasakan damai, sejahtera dan hati saya merasa senang sekali waktu saya menerima Tuhan Yesus dalam hati saya. Saya juga berdoa supaya suami saya kembali ketengah keluarga kami lagi. Keluarga kami jadi utuh lagi.

Tuhan bekerja melalui keadaan sulit yang dialami bapak Selamet. Bapak Selamet mengalami keputusasaan serta keadaan yang sulit akibat bisnis usahanya yang mengalami kegagalan. Ditengah kebingungan dan keputusasaannya akhirnya langkah kaki bapak Selamet menghantarkan dia bertemu kembali dengan anak dan istrinya.Setelah lama berpisah, ini menjadi kesempatan bagi anak-anak Selamet untuk mengajak ayahnya kembali ke jalan yang benar. Dwiyani, putrinya bahkan mengajak ayahnya untuk mengenal jalan Tuhan.

Saya bicara dengan bapak agar dia bisa bertobat dan mengenal siapa Tuhan itu. Saya katakan bahwa Tuhan itu baik dan akan dapat menebus kesalahan dan dosa-dosa yang bapak saya lakukan pada masa lalu. Akhirnya bapak diam saja dan lalu menangis. Waktu menangis inilah bapak mengatakan bahwa ia mau menerima Tuhan dalam hatinya. Kemudian bapak mau berdoa bersama-sama dengan kami.

Tuhan Yesus menjawab doa ibu Hermi dan anak-anaknya. Tuhan memulihkan hubungan keluarga ini satu dengan yang lain, antara bapak Selamet dengan ibu Hermi dan antara seorang ayah dan anak-anaknya. Setelah 12 tahun berpisah akhirnya bapak Selamet kembali kepada keluarganya. Inilah menjadi moment kelepasan dari semua beban derita ibu Hermi dan putra putrinya.

Kami semua menangis saat itu karena TUHAN kembalikan keluarga saya. Suami saya bisa kembali kepada saya. Tuhan Yesus itu benar-benar mujizat bagi keluarga saya. Saya, anak-anak dan suami sekarang merasa damai sejahtera dan bersukacita karena Tuhan.

Putra-putri Selamet kini merasakan perubahan diri ayah mereka.
Sekarang bapak menjadi orang yang penuh kasih, bukan hanya kepada anak-anaknya. Bapak begitu sayang pada ibu dan bapak juga sayang ada cucu-cucunya.

Dwiyani bersyukur atas perkara ajaib yang Tuhan lakukan
Saya bersyukur pada Tuhan karena Dia adalah Allah yang ajaib yang sanggup dan mampu melakukan sesuatu yang tidak mungkin menurut manusia, namun mungkin untuk Tuhan.

Bapak Selamet sendiri mengakui betapa Tuhan itu baik bagi dirinya.
Saya disatukan kembali dengan anak istri karena kasih Tuhan.

Sebab seperti isteri yang ditinggalkan dan yang bersusah hati TUHAN memanggil engkau kembali; masakan isteri dari masa muda akan tetap ditolak? Firman Allahmu. Hanya sesaat lamanya Aku meninggalkan engkau, tetapi karena kasih sayang yang besar Aku mengambil engkau kembali. Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu. (Yesaya 54:6-8)

Sumber Kesaksian: Selamet & Hermi (jawaban.com)

Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Aku berasal dari suku Padang. Ayahku memiliki 4 orang istri dan ibuku adalah istri keempat. Aku memiliki 15 orang saudara, dan aku adalah anak pertama dari ibuku. Aku tinggal di Pekan Baru. Hubunganku dengan ayah sangat tidak harmonis. Ayahku sangat kurang memperhatikanku, bahkan ibuku sering diperlakukan dengan semena-mena oleh ayahku. Karena itulah aku sangat menyayangi ibuku.

Kepahitan dengan figur ayah

Karena melihat perlakuan buruk yang dilakukan ayah kepada ibu, aku membuat keputusan untuk tidak akan pernah melakukan poligami karena melihat betapa tersiksanya nasib ibuku. Walaupun perlakuan ayah padaku tidak terlalu kejam, mungkin karena dari SD sampai SMP aku selalu juara kelas, tetapi perlakuannya pada adikku sangat kejam. Bahkan adikku pernah dilempar ke dalam parit karena ayahkku kesal akan kebodohannya. Hal itu semakin membuatku kepahitan dengan ayah.

Akibat kurangnya perhatian seorang ayah, sejak SMP kelas 2 aku sudah terlibat dalam pergaulan yang salah, bahkan aku juga terlibat narkoba dan suka main perempuan. Bahkan aku sering tidak pulang ke rumah jika malam minggu. Tapi setiap berada di rumah, aku selalu menunjukkan sifat yang baik supaya keluargaku tidak curiga.

Ditinggal ayah dan ibukuku

Ketika aku menginjak kelas dua SMU, ayahku meninggal dunia. Saat itu aku merasa biasa-biasa saja karena aku tidak terlalu dekat dengan ayah. Ketika aku tamat SMU, aku melanjutkan kuliah di Jakarta dan tinggal bersama saudaraku yang ada di sana. Tapi ketika menginjak semester dua, ibuku meninggal karena penyakit darah tinggi. Saat itulah aku merasa sangat kehilangan dan sedih kehilangan ibuku. Akhirnya hidupku semakin tidak terkontrol.

Ketika liburan tingkat dua, aku dipertemukan dengan Grace, wanita yang menyentuh hatiku. Namun karena gaya hidupku yang terlalu bebas, aku dan Grace melakukan hubungan intim. Namun hubungan kami tidak disetujui oleh orang tua dari pihak Grace. Aku tidak putus asa. Aku tetap berusaha untuk menjalin hubungan dengan Grace. Akhirnya aku membawa Grace kabur dan berencana untuk kawin lari dan menetap di Jakarta.

Tapi beberapa saat kemudian, kami didatangi oleh keluarga kami masing-masing dan hubungan kami harus terputus karena semua pihak menentang hubungan kami. Aku dibawa kembali ke Medan.

Perjumpaan kembali

Setelah sebulan tidak bertemu, entah bagaimana, tiba-tiba Grace muncul di hadapanku. Saat itu kami merencanakan untuk melarikan diri lagi karena memang kami sudah tidak dapat dipisahkan. Akhirnya kami berhubungan lagi secara diam-diam. Kami kembali melakukan hubungan intim sehingga akhirnya Grace hamil. Akhirnya kami sepakat untuk melarikan diri dan berusaha untuk menjalani kehidupan kami sendiri.

Rencana hampir gagal

Sehari sebelum kami melarikan diri, tiba-tiba ayah Grace bersama temannya datang dan mengobrak-abrik kamarku. Untung waktu itu Grace sudah aku pindahkan ke kamar lain. Keesokan harinya, pagi-pagi, kami diantar temanku ke terminal dan menuju Jakarta. Aku dan Grace sempat bingung mengapa kepergian kami kali ini tidak dicari oleh keluarga Grace. Setibanya di Medan kami menikah dengan cara agama yang berbeda dengan agama yang kuanut dan saat itu Grace sudah hamil 5 bulan. Yang menghadiri acara pernikahan kami adalah pihak keluargaku.

Setelah menikah, kami mengontrak sebuah rumah. Grace berhenti kuliah sedangkan aku tetap melanjutkan kuliahku. Awal pernikahan kami dipenuhi penderitaan. Keadaan perekonomian kami memburuk. Bahkan aku jadi sering memukuli Grace, menyiksa dan menghajarnya. Setiap kali aku merasa cemburu, pasti Grace kuhajar habis-habisan. Akhirnya Grace merasa lelah dengan perlakuanku yang sangat kasar padanya. Sakit hati dan sakit badan sudah menjadi penderitaannya setiap waktu. Sampai-sampai ia sering kali mencoba untuk bunuh diri.

Tahun 1996 Grace hampir minum baygon karena depresi, namun tidak jadi karena aku menahannya. Tahun 1997 ia berusaha menyilet tangannya, namun gagal juga. Tahun 1998 ia menyiapkan gantungan di jendela. Namun karena ia masih memikirkan nasib anak kami, ia tidak jadi bunuh diri. Setiap kali habis bertengkar Sam, anak kami, selalu menghibur Grace.

Akhirnya Grace mulai menyerahkan seluruh masalahnya kepada Tuhan. Ia juga banyak belajar tentang pemulihan gambar diri. Grace mulai berdoa meminta Tuhan mencabut akar kepahitan dalam dirinya. Ia terus memohon perlindungan dan kekuatan dari Tuhan agar dapat tegar menghadapi segala kehidupannya.

Sejak saat itu Tuhan mulai membuka jalan bagi kehidupanku. Aku mulai diajak ke gereja oleh temannya dan lewat Firman-Firman yang dibawakan, sedikit demi sedikit karakterku yang keras mulai diubahkan.

Aku mulai membuka hati ke Tuhan

Desember tahun 2005, ketika istriku menghadiri sebuah KKR, topik pembicaraannya mengenai ‘Hati Bapa’. Saat itu istriku langsung teringat kepadaku. Dia ingin aku dipulihkan. Akhirnya kami pergi bersama-sama ke sebuah gereja lokal. Saat ditantang altar call, aku maju ke depan. Saat itu juga hatiku dijamah oleh kuasa Tuhan. Aku menyadari dosa-dosaku dan merasa tersentuh oleh jamahan Roh Kudus. Sejak saat itu aku mengambil komitmen untuk benar-benar merubah karakterku dan hidup dengan benar di dalam Tuhan. Aku juga mulai mengikuti PSK dan beberapa komsel. Aku merasakan kalau kehidupanku sudah mulai ada perubahan walaupun belum pulih seutuhnya.

Pemulihan yang seutuhnya

Maret 2006, pada sebuah acara retreat, aku diperlihatkan Tuhan wajah mertuaku. Saat itu Tuhan benar-benar menjamah hatiku untuk melepaskan pengampunan kepada mertuaku. Aku merasakan hadirat Tuhan yang begitu nyata dan akupun menangis. Aku teringat akan perbuatanku yang menyakiti istri dan anakku. Akupun langsung meminta pengampunan dari Tuhan. Dan saat itu juga aku sepenuhnya menerima Tuhan sebagai Juru Selamat dan Pemimpin dalam hidupku. Saat session bersaksi, aku maju ke depan dan menceritakan apa yang baru kualami. Aku merasa sangat lega. Aku merasakan sukacita yang begitu luar biasa. Aku menceritakan semua hal-hal ajaib yang Tuhan kerjakan dan sejak saat itu aku dipulihkan seutuhnya. Aku dapat membina rumah tangga yang harmonis dan hubunganku dengan anak istriku dipulihkan seutuhnya.

Pemulihan keluargaku juga berdampak pada pemulihan perekonomian keluarga kami. Seluruh hutang kami dibayar lunas secara ajaib oleh Tuhan. Bahkan kami bisa membeli rumah di sebuah kawasan perumahan yang cukup besar di daerah Lippo Cikarang. Aku yakin ini semua tidak terlepas dari mukjizat yang Tuhan kerjakan dalam hidupku. Terima kasih Tuhan untuk semua yang terbaik dan luar biasa yang Kau kerjakan dalam hidupku. (Kisah ini telah ditayangkan 16 Juli 2007 dalam acara Solusi di SCTV).

Sumber Artikel :
Jawaban.com
Sumber Kesaksian :
Syahril Sabarus