Tag Archives: KDART

Ditinggalkan Namun Tak Pernah Sendiri

Banyak wanita membayangkan pernikahan adalah sebuah dunia yang indah, demikian juga mimpi Maureen. Namun ternyata mimpi indahnya tak terwujud malah berubah menjadi sebuah mimpi buruk. Inilah penuturan Maureen tentang kisah hidupnya.

Ketika aku menikah dengan suamiku, dan membentuk sebuah keluarga, kami pindah ke kota Balikpapan. Dengan sebuah pengharapan yang besar, aku memulai kehidupan yang baru. Aku memiliki cita-cita, pernikahanku akan menjadi seperti pernikahan kedua orangtuaku. Sebuah keluarga yang ideal dan bahagia.

Namun kehidupan ternyata tidak seindah bayanganku. Ketika suamiku mulai berhasil usahanya, dia mulai lupa akan keluarga. Dia melalaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan kepala keluarga. Saat aku mengingatkannya, semua itu berakhir dengan pertengkaran dan tak jarang pukulan dilayangkannya kepadaku. Akhirnya dia pergi meninggalkanku bersama kelima buah hatiku tanpa meninggalkan apapun untuk kami.

Aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta, dan berjuang membesarkan kelima anakku. Aku bertekad untuk mendidik dan membesarkan anak-anakku dengan baik. Aku melakukan segala cara untuk bisa menyekolahkan dan memberi makan mereka. Saat aku sudah tidak memiliki apapun, aku jual baju-baju yang ku miliki. Lima belas tahun lalu, satu baju yang kujual harganya seribu rupiah. Dan dengan uang hasil penjualan baju-bajuku itu, aku membeli beras, minyak tanah, sayuran, dan aku atur sedemikian rupa sehingga anak-anakku dapat makan makanan yang sehat dan bergizi sekalipun sangat sederhana.

Terkadang, jika anak-anakku ingin makan apel atau jeruk, mereka harus pergi ke kuburan. Pada hari-hari tertentu, akan ada orang-orang yang datang kekuburan untuk sembahyang dan membawa makanan persembahan. Ketika anak-anakku bercerita kalau mereka harus berebutan dengan orang-orang untuk mendapatkan buah-buahan dikuburan itu, aku merasa sangat sedih.

Suatu kali, kami sudah tidak memiliki apapun untuk dimakan. Hingga jam dua siang, anak-anakku belum juga makan. Aku kumpulkan anak-anakku, dan kuajak mereka berdoa, “Ayo kita berdoa.” Kami memanjatkan doa Bapa Kami bersama-sama. Ketika kami berkata, “Amin,” tiba-tiba pintu rumahku di ketuk. Ada seseorang yang datang dan membawakan makanan sehingga kami bisa makan.

Dalam kondisi sulit seperti itu, aku terus memperjuangkan kehidupan anak-anakku. Aku mulai melamar pekerjaan dimana-mana. Sekalipun itu hanya pekerjaan part time, aku jalani dengan segenap hati. Terkadang ada teman yang telah mengenalku dengan baik sengaja memintaku bekerja ditempatnya. Sekalipun hanya bekerja selama satu minggu, tetapi hasil kerja saya itu bisa mencukupi kehidupan selama satu bulan, dari sekolah anak-anak, membayar kontrakan hingga makan sehari-hari.

Mulai saat itu aku mulai bekerja sebagai pegawai pengganti dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Aku menggantikan pegawai yang sedang cuti ataupun hamil. Jika ada pegawai yang hamil, aku sangat senang sekali, karena itu artinya aku bisa bekerja selama tiga bulan. Itu sangat lumayan sekali bagiku, karena uangnya aku bisa simpan untuk keperluan yang akan datang.

Perlahan-lahan kehidupanku dan anak-anakku mulai membaik. Satu hal yang membuatku bisa melewati semua masa sulit itu adalah adanya sebuah tekad yang tertanam dalam hatiku, “Aku harus menjadi panutan bagi anak-anakku.” Aku ingin anak-anakku bisa belajar nilai-nilai kehidupan yang benar dari diriku.

Jika orang lain berpikir aku bisa saja menghalalkan segala cara sehingga aku bisa lebih mudah melewati kesulitan-kesulitan yang menghadangku, aku berkata pada diriku, aku tidak boleh melakukan itu. Aku tidak mau menghalalkan segala cara, karena dalam hatiku ada takut akan Tuhan. Karena ada Tuhan Yesus dalam hidup keluargaku, aku tidak pernah takut dengan apa yang ada di masa depanku karena aku tahu Dia yang menjamin kehidupanku dan kehidupan anak-anakku. Aku sudah membuktikannya sejak awal ketika aku harus menjalani kehidupan seorang diri bersama kelima anak-anakku sampai saat ini, Dia selalu menyertaiku. Karena Dia adalah Immanuel.

Sumber Kesaksian :
Maureen (jawaban.com)

Terbakar Emosi, Suami Tusuk Istri dengan Gunting

Seorang suami seharusnya bisa menjadi figur seorang imam yang mengayomi keluarga. Tapi apa yang dilakukan Gebon justru sebaliknya, dia kerap berlaku kasar kepada istrinya bahkan pernah menusuk sang istri dengan gunting.

Kisah ini bermula ketika Gelbon Sianturi dan Rismayanti menikah dan tinggal di rumah orangtua Rismayanti (Yanti). Gelbon mencoba memenuhi kebutuhannya dan Yanti dengan bekerja sebagai pengamen. Hal ini lantas dianggap remeh oleh ibu mertua Gelbon, bahkan Yanti pun pernah membuang uang receh hasil Gelbon mengamen karena merasa malu.

“Perasaan saya sangat sedih, padahal pada saat mengamen saya tidak ada perasaan malu. Merasa bahagia saja saya mendapat uang,” ungkap Gelbon.

Hal itu menjadi awal konflik diantara keluarga muda tersebut. Bahkan intervensi orangtua Yanti membuat Gelbon dan Yanti harus tinggal terpisah. “Di situ juga bergejolak hati saya karena memilih orangtua atau suami. Karena orangtua saya, ibu saya terutama tiap hari itu selalu bilang ‘udah nggak usah diterima lagi si Gelbon, ngapain punya suami ngamen kaya begitu? Malu!’” ujar Yanti.

Gelbon pun terpaksa meninggalkan Yanti yang tengah hamil muda. “Cuma begini saya minta kepada Tuhan, ‘Tuhan saya tidak mau seperti ini, bawalah dia kepada saya. Tetapi jangan jauhkan saya dari dia, jangan bikin saya seperti ini Tuhan,” kenang Gelbon sambil menangis.

Enam bulan berselang, Yanti mendatangi Gelbon dengan menggendong anak pertama mereka serta menyampaikan keinginan hatinya untuk kembali bersatu dengan Gelbon. “Lalu saya kembali lagi kepada suami saya, karena saya berpikir bahwa nggak enak juga hidup tanpa suami. Lagian saya lihat anak saya, kasian anak saya. Bagaimana masa depannya?” aku Yanti.

Kedatangan Yanti pun disambut baik oleh Gelbon. Mereka pun berniat untuk membangun kembali keluarga yang bahagia. Namun ternyata, keharmonisan dalam keluarga bukanlah sesuatu yang mudah untuk diwujudkan. Tanpa sadar, kekecewaan Gelbon terhadap keluarga Yanti membuatnya berontak.

“Terus saya mulai berontak, karena setiap ingat masalah yang dulu yang diperlakukan ke saya. Saya kaya dendam, jadi kalau ada masalah sedikit saya main kasar aja,” ungkap Gelbon.

Sikap kasar Gelbon ini terus berlanjut bahkan suatu waktu dia tega menusuk istrinya itu dengan gunting. Peristiwa itu terjadi ketika Gelbon tengah asyik ngobrol di rumah temannya yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.

Yanti berinisiatif membawa salah satu anaknya untuk untuk bisa dijaga Gelbon sehingga dia bisa mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Hal itu dianggap Gelbon sebagai wujud tidak hormat Yanti terhadapnya dan menegurnya langsung di tempat.

“Saya tidak berpikir dia marah, eh setengah jam kemudian dia pulang. Dia buka pintu tidak seperti biasanya, dia buka pintu sambil dibanting,” kisah Yanti.

Yanti yang tidak mengerti kemarahan suaminya itu mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Percekcokan pun tak bisa dihindari, kata-kata kasar pun keluar dari mulut Gelbon. Yanti tetap berusaha membela dirinya dengan berbagai pendapat. Hal ini makin menambah geram Gelbon dan membuatnya gelap mata.

“Apa yang ada di depan dia, dilempar ke saya. Tapi seolah-olah dia kesetanan dan membabi buta,” Yanti menceritakan situasi.

“Terus saya lihat gunting. Saya emosi, dan saya tusuk,” kisah Geldon.

“Kenalah di paha sebela kiri saya,” ucap Yanti yang mengaku akhirnya mendapat pertolongan dari tetangganya.

Walaupun sudah diperlakukan kasar, Yanti masih berharap suatu saat suaminya itu akan diubahkan Tuhan. Dia pun kerap membawa hal ini dalam doanya. “Waktu itu saya sering doain suami saya supaya berubah, supaya tidak kasar, menjadi suami yang lembut dan baik. Setiap hari saya doain. Karena saya pikir kalau saya tidak mampu merubah, hanya Tuhan yang mampu merubah. Memulihkan suami saya,” ungkap Yanti.

Suatu hari anak-anak Geldon dan Yanti pulang dari sekolah minggu sambil menangis. Geldon sempat menyangka bahwa anaknya itu diganggu teman, namun pengakuan putranya tersebut membuat Geldon dan Yanti miris. “Temen-temen orangtuanya hadir di gereja, bapak nggak ada ibu nggak ada. Jadi saya sedih,” Geldon mengenang perkataan anaknya.

Pernyataan anaknya tersebut membuat Geldon dan Yanti sangat terpukul. Mereka merasa menjadi orangtua yang tidak bertanggung jawab. “Saya merasa terpanggil, terharu saya. Oh iyaa yaa, kok saya ini jadi orangtua, nggak bisa mendidik anak. Kurang bertanggung jawab saya sebagai orangtua. Timbul dalam hati saya, ‘Oh saya mau didik anak saya’ mulai dari situlah saya pergi ke tempat ibadah,” ungkap Yanti yang mengaku setelah itu rajin beribadah bersama Geldon.

Sejak saat itu, Yanti dan Gelbon mulai belajar apa arti sebuah keluarga.

“Kami didoakan orang lain. Disitulah saya merasa bahwa beban yang selama ini saya tanggung, selama ini saya rasakan, lepas gitu. Saya seperti ringan. Saya seperti tidak punya masalah apapun,” ungkap Yanti.

Hal yang sama juga dirasakan Geldon. “Disitu saya mulai menangis ‘Tuhan ampuni saya, dosa-dosa saya yang begitu besar Tuhan, ampuni saya’” ungkap Geldon.

“Waktu saya didoakan itu ada sesuatu yang datang begini ‘kamu harus minta maaf’. Saya katakana saya mau Tuhan. (Kemudian) saya mulai minta maaf kepada istri juga kepada anak-anak. Dan saya mulai berubah terus disitu,” tambahnya.

Yanti pun mempunyai ayat yang kemudian menjadi pedomannya untuk menjalani kehidupan. “Ada satu firman Tuhan ‘bersukacitalah di dalam pengharapan, bersabarlah dalam kesesakan, bertekunlah dalam doa’. Jadi apapun yang kita alami, apapun yang kita rasakan, kita tetap harus bersukacita dalam Tuhan,” ungkapnya.

Di sisi lain, ternyata Gelbon masih sulit mengampuni dirinya sendiri. Kekerasan yang selama ini telah dilakukannya kepada istrinya membuatnya memandang hina dirinya dan bahwa dia tidak pantas mendapat pengampunan. Namun hamba Tuhan pun meyakinkan Geldon bahwa Tuhan tetap mempunyai kasih yang luar biasa untuknya.

Pemulihan pun Terjadi

“Saat ini perilaku suami saya terhadap saya sungguh sangat luar biasa. Dia baik, dia lembut, dia perhatian sama saya,” ungkap Yanti.

“Mengucap syukurlah kepada Tuhan, memang inilah rencana yang indah buat saya. Yang dulu saya nggak ngerti, tapi dibalik itu semua Dia berikan yang indah kepada kami sekarang ini. Keluarga yang bahagia,” ungkap Geldon sambil menahan air mata.

“Kalau dulu dia kasar, keras, sering pukul saya. Tapi sekarang luar biasa berubah, diubahkan Tuhan. Saya percaya itu,” ungkap Yanti menutup kesaksian mereka.

Sumber Kesaksian :
Geldon Sianturi dan Rismayanti (jawaban.com)

Kenji Michitakasago: Bocah Penuh Penderitaan


Video Kisah Nyata – Kisah Sukses Bocah Malang
Awalnya Kenji Michitakasago cukup bangga memiliki seorang papa yang asli Jepang. Setahun dua tahun, ia bersama keluarganya merasakan kebahagiaan, kasih sayang dari orang tua, dan bahagia sekali. Tapi sejak kehadiran orang ketiga, sikap papa Kenji menjadi berbeda sekali. Bahkan penyiksaan-penyiksaan yang tidak mereka sangka, itu bisa terjadi.

Bujuk rayu dari wanita selingkuhan itu membutakan hati ayah Kenji. Ia tega melakukan perbuatan yang kejam kepada Kenji dan Akira, adik Kenji. Pernah ketika Kenji dan Akira mengganggu ayah Kenji bersama wanita selingkuhannya, ayah Kenji mengikat Kenji dan Akira lalu menggelindingkan mereka dengan tangga dari lantai atas ke bawah.

“Waktu itu saya berpikir hidup saya hanya sampai disini. Sepanjang saya ditendang bergelinding saya hanya bisa menangis,” kisah Kenji.

Kenji tak menduga bahwa perlakuan sadis papanya belum berakhir. Hingga satu malam peristiwa tak terduga mengejutkannya. Ketika ia beserta adiknya dan mamanya sedang tidur, papanya melemparkan kaleng susu yang terbuka yang berisikan kelabang-kelabang.

“Saya terbangun ketika ibu saya berteriak minta tolong. Ayah saya melemparkan kaleng berisi kelabang itu bermaksud seandainya saja kami bisa dibunuh, jadi orang akan mengira kami mati karena ini. Tapi ternyata sewaktu itu saya merasakan bahwa Tuhan itu menjaga kami. Dan papa dengan santainya mengambil baju lalu pergi tidak terjadi apa-apa. Jadi kami seperti dianggap seakan-akan kami palingan akan mati. Ia tidak merasakan apa-apa jika istri dan anak-anaknya mati. Ia tidak meninggalkan uang atau apa-apa, setelah itu ia hanya mengangkut baju lalu pergi,” kisah Kenji.

Tinggal bersama papa tiri
Dikarenakan tak sanggup menanggung beban yang menindih hidupnya, Kenji bersama mama dan adiknya merantau ke Jakarta dan mencoba hidup yang baru. Di Jakarta Kenji dikenalkan dengan seorang pria yang akan menjadi ayah tirinya.

Kenji MichitakasagoKenji berkisah, “Hubungan papa tiri dengan saya dari awal sudah tidak baik semenjak bertemu. Suatu ketika ketika subuh saya dibangunkan untuk menyiapkan makanan untuk dia, dan saya tidak bangun. Kemudian dia tendang saya, dia menyeret saya keluar dari kamar dan saya diikat. Mama saya tidak bisa menolong, dan hanya bisa diam saja. Dan ia hanya bisa menangis. Saya cuma merasa ketakutan sekali. Saya memikirkan ayah saya dan berpikir, ‘Kalau boleh papa saya tuh mati.’

Perihnya pukulan dan aniaya dari ayah tirinya membuat Kenji memutuskan untuk meninggalkan rumahnya.

“Waktu saya di jalan, saya tidurnya di kolong jembatan, di stasiun rel kereta api, di pinggir jalan… Itu menjadi tempat tidur saya,” kisah Kenji.

Kenji ingin bekerja dengan keringatnya, dengan halal, meskipun ia harus menyemir sepatu di jalan. “Dan waktu itu saya tidak berpikiran dengan uang yang berkelimpahan. Saya hanya berpikir saya mau merasakan tidak ada lagi orang yang menyiksa saya. Dan saya juga bisa bermain game, di tempat mainan ding-dong, dengan uang mainan saya sendiri tanpa penyiksaan dari ayah tiri saya. Itu yang saya cari di jalan.”

Di jalanan saya mulai berani menawarkan diri untuk menyemir sepatu orang. Itu yang Kenji lakukan hari demi hari. Hingga suatu ketika Kenji bertemu dengan seorang pelanggan dimana ketika ia membayar tetapi Kenji tidak memiliki kembalian karena orang itu adalah pelanggan pertamanya di hari itu. Lagi-lagi Kenji menemukan siksaan. Pelanggan itu menganggap Kenji berbohong lalu mengusir Kenji dengan menendangnya.

“Akhirnya saya jalan tanpa hasil uang yang seharusnya saya dapat. Selagi jalan saya merenungi nasib saya – “Kenapa kok penyiksaan ini datang lagi?” Di sepanjang jalan saya menangis. Saya bilang hidup saya itu seperti tidak ada artinya,” kisah Kenji.

Penderitaan yang dialami Kenji seakan tak akan pernah berakhir. Ditinggalkan oleh ayah kandungnya. Disiksa oleh ayah tirinya. Hingga membuatnya memilih tinggal di jalan. Kenji merasakan bahwa hidupnya seakan tidak ada artinya lagi.

“Ketika berjalan di pinggir jalan tuh ingin bunuh diri. Saya merasa kaki saya berat sekali untuk melangkah ke tengah jalan itu. Saya tidak tahu kenapa…” kisah Kenji tentang percobaan bunuh dirinya yang ia ingin lakukan ketika berusia 9 tahun.

Tinggal bersama tante, apakah kehidupanku akan berubah?
Selepas dari percobaan bunuh diri itu, Kenji diajak tinggal bersama dengan tantenya. Namun ia tak pernah menyangka akan apa yang harus ia hadapi di sana.

Kenji Michitakasago“Waktu itu kebetulan tante saya pergi ke luar kota selama 3 hari. Dan waktu itu, anak-anak tante saya itu menyiksa saya. Mereka menyuruh saya menyeterika seragam sekolah mereka. Jika saya tidak lakukan apa yang mereka suruh, mereka akan menyeterika tangan saya. Setelah saya diseterika, mereka memperlakukan saya seperti binatang juga. Saya dimasukin di kandang anjing herder dan saya disuruh tidur disana bersama dengan adik saya. Disitu saya merasakan seperti binatang. Saya dijadikan satu dengan anjing, tidur disana, makannya disana, dan buang air juga disana,” kisah Kenji menceritakan bagaimana ia mendapati siksaan juga di tempat tinggalnya yang baru.

Saudara-saudaranya melakukan itu semua dikarenakan sirik dengan perlakuan tantenya. Jadi saudaranya melakukan itu agar Kenji dan adiknya tidak betah di rumah. Terus siksaan itu Kenji alami dan mereka juga mengancam Kenji agar tidak menceritakan hal tersebut kepada mami mereka atau tante dari Kenji.

Terkatung-katung menjadi anak jalanan
“Suatu ketika akhirnya saya tidak tahan dan saya ngomong ama tante. Akhirnya tante emosi dan menghajar anak-anaknya. Setelah tante itu menghajar anak-anaknya, saya kabur, dan kembali lagi ke jalan,” kisah Kenji.

Saat kembali ke jalanan, Akira, adik Kenji, memutuskan untuk berpisah dengan Kenji. Kenji tak bisa berbuat apa-apa.

“Saya sempat sedih juga… Kenapa saya harus berpisah dengan adik saya padahal saya sudah berpisah dengan papa. Kenapa Tuhan itu jahat? Kenapa Tuhan itu tidak ada ketika saya mengalami penyiksaan begitu luar biasa, Tuhan itu tidak menolong saya… Hanya diam. Kenapa Tuhan seperti itu? Tidak ada Tuhan. Saya tidak bisa merasakan yang namanya Tuhan.”

Hingga suatu hari Kenji belum makan selama dua hari karena belum mendapatkan pelanggan. Ia berdiri di depan rumah makan cepat saji dan memandangi sebuah keluarga yang begitu harmonis memakan makanan bersama. Kenji merasakan kerinduan menginginkan keluarga seperti yang ia lihat. Kenji hanya termenung saja dan terdiam. Setelah keluarga keluar sehabis makan, Kenji masuk dan memunguti tulang-tulang sisa makanan mereka. Ketika Kenji mengambil sisa makanan itu, ia dikejar sekuriti.

“Waktu saya dikejar sekuriti saya lari dan berpikir saya mungkin akan ditangkap dan dipukuli lagi. Saya coba terus lari dan membawa tulang ayam yang saya dapatkan. Sampai di tempat yang aman, saya melanjutkan memakan makanan itu. Di situ saya merasa hancur. Kenapa penderitaan ini rasanya terus terjadi lagi tak habis-habis. Saya harus memakan makanan sisa orang. Saya hanya bingung dan saya menikmati makanan tulang ayam itu selayaknya orang makan,” Kenji berkisah sambil menitikkan air mata.

Kehidupan di jalanan yang keras harus ia jalani selama bertahun-tahun. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seseorang yang akan mengubah hidupnya.

Aon SantosoSeorang pria bernama Aon Santoso yang sedang dalam perjalanan menuju pelayanan. Ia melihat Kenji dan hanya berpikir mungkin Kenji hanya seorang anak nakal yang ingin bermain di jalan sampai malam dan belum pulang.

“Setelah satu minggu saya telusuri dia, dia bercerita. Dua hari… satu malam… anak sembilan tahun untuk mengisi perut dengan tulang-tulang ayam bekas orang. Sebagai pelayan Tuhan saya bergumul dan akhirnya saya putuskan untuk membawa dia pulang,” kisah Aon Santoso mengenai terbebannya hatinya melihat keadaan Kenji.

Perubahan hidup mengenal Tuhan
Kenji pun berkisah mengenai perubahan hidupnya semenjak mengenal Ko Aon, “Perlahan-lahan kehidupan baik luka batin saya dan segala sesuatu yang saya alami semenjak masa kecil saya… Itu dipulihkan. Saya sepenuhnya mengampuni mama saya, papa tiri saya bahkan papa kandung begitu juga dengan saudara-saudara yang pernah menyiksa saya. Mulailah saya mengenal Tuhan yang sesungguhnya, bahwa Tuhan itu ada. Dan Tuhan itu tidak pernah meninggalkan saya dalam keadaan apapun.”

Suatu ketika Kenji memainkan kibord di rumah ko Aon dan ternyata Kenji memiliki bakat untuk bermain kibord.

“Sewaktu itu Kenji tidak mempunyai kepercayaan diri,” kata Aon. Tetapi karena Kenji ingin untuk belajar memainkan kibord, meskipun biaya belajar alat musik kibord cukup mahal… Kenji akhirnya pun giat belajar memainkan kibord.

Dengan talenta yang dimilikinya, Kenji mengalami kemajuan pesat. Kasih karunia Tuhan menyertai Kenji hingga ia dapat menyelesaikan album pertamanya.

“Saya berjumpa dengan Tuhan, saya bisa berubah drastis, karena saya diberikan kedamaian di hati. Suatu sukacita. Saya juga bisa melayani orang-orang yang membutuhkan kasih sayang. Di situ saya merasakan bahwa hidup saya berarti dan saya bisa menjadi berkat buat orang,” kisah Kenji mengenai perubahan hidupnya yang drastis setelah mengenal Tuhan.

Kehidupan Kenji pun diubahkan saat ia menemukan kasih sejati dari Tuhan Yesus.

“Perbedaan hidup saya dahulu itu… gelap dan kelam. Tetapi setelah saya mengenal Tuhan dan mencari jalan keselamatan, hidup saya itu cerah… ceria… dan senang sekali.” (Kisah ini ditayangkan 12 Juni 2009 dalam acara Solusi Life di O Channel)

Sumber kesaksian:
Kenji Michitakasago (jawaban.com)

Kenji Michitakasago

Suami Istri Yang Saling Menyakiti


Video Kisah Nyata Pertengkaran Rumah Tangga (KDART)
Dua insan yang dulunya saling mencinta, menjadi begitu saling membenci dan penuh dengan dendam.

“Sewaktu menikah, melihat suami saya berubah itu membuat saya berpikir – Kok bisa berubah begitu banyak dengan sifatnya sewaktu pacaran itu baik, tetapi begitu rumah tangga kok… berubah. Dalam hal kecilpun dia bisa marah. Pokoknya sifatnya ya dibilangin malah kasar dan mau menang sendiri, egois. Kadang dia suka bilang ke saya sebagai istrinya bahwa saya itu tak punya otak, tak sekolah. Sebagai istri, saya sakit hati dibilang begitu,” ujar Allien, istri dari Herman.

Herman sendiri bertutur, “Istri saya suka ngomong kasar. Apapun ia berkata kasar, kadang-kadang perbuatannya pun kasar. Pernah saya lagi makan siang, saya tanya – ini sendoknya mana? – Dia lempar dari dapur sendoknya. Sakit hati saya disitu. Trauma. Saya paling gak suka perempuan itu galak. Yang saya tahu istri saya sewaktu pacaran itu tidak keras. Orangnya lemah lembut. Tetapi setelah menikah, dia kok semakin kasar terus.”

Semakin hari permasalahan semakin menumpuk. Saling mempersalahkan dan menuduh sudah menjadi bagian hidup mereka sehari-hari.

Herman berkisah, “Berkomunikasi dengannya sudah susah sekali. Saya sudah berusaha ingin ngomong, tapi tak pernah ada yang namanya kesepakatan sama sekali. Karena jika saya sudah ngomong sepatah, dia sudah ngomong sepuluh kata. Jika saya sudah denger dia ngomong sepuluh kata, saya diam. Jadi masalah itu saya bawa pergi. Saya sering keluar itu karena menghindari percek-cokan.”

Terkadang Herman sering mendapat telepon dari teman-temannya untuk pergi makan di malam hari. Meskipun bingung, tetapi sebagai istri Allien menerima saja suaminya pergi menerima ajakan keluar rumah dari teman-temannya.

“Saya setiap malam selalu ijin pergi sama istri. Malam ini saya bilang A ulang tahun, besok lain lagi si B yang ulang tahun. Padahal tidak pernah, kita perginya ke diskotik. Saya ngebohongin istri saya,” ujar Herman.

Setiap suaminya pulang, terkadang dalam keadaan muntah. Kadang pintu ingin didobrak oleh suaminya. Terkadang ia merasa ia seperti pembantunya.

“Pada waktu itu saya tidak pernah memikirkan istri saya. Tidak ada sama sekali. Saya malah senang jika melihat istri saya menderita,” ujar Herman.

Rasa benci menjadikan Herman semakin menggebu-gebu untuk membuat istrinya menderita. Bahkan pada saat mereka sedang berhubungan intim.

“Dalam berhubungan intim pun, saya rasanya ingin menyakiti dia terus. Jadi tidak punya rasa mesra. Inginnya, menyiksa. Inginnya merasa puas sendiri. Saya tidak pernah mikirin apakah istri saya itu merasa sakit, atau merasa terpuaskan. Tidak ada sama sekali,” ujar Herman.

Merasa tidak berdaya menghadapi sikap suaminya, Allien pun mencari pelampiasan untuk membalas perbuatan suaminya. Ia melampiaskan pada anaknya. Anaknya sendiri pun ia pukuli. Suaminya tidak mengetahui perbuatan istrinya pada anak mereka.

“Jika bapaknya tahu, saya bisa digebukin oleh bapaknya,” ujar Allien.

Allien menambahkan sambil terisak, “Dahulu saya tidak memiliki rasa kasihan sama anak, karena saya sering dipukulin oleh suami saya. Jadi anak pertama saya habis saya pukulin.”

Amazing True Story - Allien & HermanAllien sudah merasa tidak kuat. Kerap ia ingin merasakan untuk bunuh diri. Kalau malam melihat anaknya tidur, ia suka merasa kasihan. Tetapi jika keesokannya lagi suaminya melakukan hal yang sama, anaknya pun tetap menjadi sasarannya. Ia kerap melampiaskan rasa frustasinya pada anaknya.

Keinginan Herman untuk menaklukkan istrinya pun semakin tak terbendung lagi. Bahkan ia nekat menggunakan kuasa kegelapan.

“Saya sering merasa dibantah oleh istri saya. Saya ingin buktikan bahwa ia akan nurut jika saya pasang susuk. Saya pasang susuk karena saya ingin buktikan pada istri saya bahwa saya adalah orang perkasa, bahwa saya adalah kepala rumah tangga yang kuat,” ujar Herman.

Tetapi setelah pasang susuk, Herman justru semakin tambah emosi. Apalagi jika ia melihat segala omongannya selalu dibantah oleh istrinya. Tetapi susuk itu tak pernah terbukti sama sekali. Tetap saja istrinya melawan dirinya.

“Saya tidak pernah menyadari bahwa saya itu jahat. Yang saya tahu bahwa perbuatan saya itu menyenangkan hati saya. Saya merasa hati saya puas dengan kelakuan-kelakuan yang saya buat untuk dia,” ujar Herman mengungkapkan bagaimana dahulu hatinya sudah begitu bebal.

Dahulu saking kesalnya, Allien sempat berpikir untuk meracuni suaminya. Kadang jika sedang tidur, apabila sudah dirasuki setan, kadang-kadang ia ingin menusuk saja suaminya.

Bukan surga dalam rumah-tangga yang mereka rasakan, namun neraka di dunia yang harus mereka hadapi setiap hari. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang senantiasa berdoa dan berlutut kepada Tuhan bagi mereka.

Amazing True Story - Allien & HermanAllien mengungkapkan, “Saya diberitahu oleh anak teman saya bahwa saya itu didoakan oleh teman anak saya melalui anak saya hingga berpuasa. Puasa doa, puasa doa… Bergumul untuk mama-nya. Oleh anak saya yang kedua, saya sering diajak komsel olehnya. Saya sering marah kepadanya menanggapi ajakan anaknya.”

Tetapi suami Allien berkata kepada Allien ketika melihat ia menolak ajakan anak mereka, “Kamu itu tidak punya agama. Kalau kamu mati, saya buang ke laut mayat kamu. Saya tidak mau urus mayat kamu.”

Perkataan itu selalu terngiang-ngiang di benak Allien. Dia pun menuruti saran anaknya untuk menghadiri kelompok doa tersebut. Ternyata dia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Jika di komsel kan suka sering didoain, suka ditanya apa pergumulan masing-masing dari kita. Saya bilang jikalau – ‘Saya tadinya belum mengenal Tuhan karena saya tadinya tidak percaya Tuhan. Hati saya kacau, hidup saya tidak tenang.’ – Jadi saya pun didoakan. Rasanya enak sekali. Pikiran pun plong,” Allien mengisahkan bagaimana ia merasa ketenangan ketika berkumpul bersama dalam komsel (komunitas sel, red).

Perubahan dari bagaimana ia tergabung dalam komunitas sel itu, ia merasa bahwa ia sudah lagi tidak marah-marah. Ia pun sudah tidak lagi memukul anak-anaknya. Dengan suami pun jika berbicara, ia sudah menjadi lebih lembut.

Tengah malam ia pun menjadi sering terbangun berdoa untuk suaminya. Kadang-kadang jika suami lagi tidur, ia sering tumpang tangan.

“Saya berdoa untuk suami saya agar karakternya berubah,” ujar Allien.

Ternyata Herman sering tersadar bahwa di tengah malam istrinya sering mendoakan dirinya. “Ketika saya tertidur, saya sering tersadar jika istri saya bangun. Tetapi saya tidak tahu bahwa ia itu mendoakan saya,” kisah Herman.

Suatu hari, kerap ketika pulang kerja Herman merasakan bahwa pekerjaan begitu sulit. Di rumah istrinya berkata, “Ya sudah, ke gereja saja. Pasti setelah gereja, pekerjaan kamu akan kelar.”

Setelah mentok sana-sini, Herman teringat bahwa dahulu ia sering mendengar cerita bahwa Yesus itu melakukan banyak mukjizat, bisa menyembuhkan orang, dan lain-lain. Setelah berpikir, Herman mau juga untuk pergi ke gereja.

Herman lalu menghadiri kebaktian keluarga khusus untuk pasangan suami-istri untuk pertama kalinya. Ia merasakan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya olehnya.

Amazing True Story - Allien & Herman“Saya merasakan hati yang hancur. Saya merasakan ada jamahan. Ada perasaan bersalah. Saya ingat segala yang saya perbuat sama istri dan keluarga saya. Saya teringat semuanya. Kenapa setiap mendengar lagu-lagu rohani, air mata saya selalu keluar? Disitu saya mulai merasa damai sekali di hati,” kisah Herman mengenai pertobatan pertamanya.

Hari demi hari, keluarga mereka mulai mengalami perubahan yang menakjubkan.

“Dulu jika biasanya ngobrol-ngobrol di tempat tidur, jadinya berantem. Tetapi setelah ngobrolin Yesus, itu rasanya damai. Memecahkan masalah kami. Jika ada sifat pasangan yang tidak disukai, kami bicarakan. Lalu masing-masing kami berjanji tidak akan begitu lagi. Jadi sekarang ada komunikasi di antara kami. Bicara pun lemah lembut. Tidak lagi bentak-bentak seperti dulu,” kisah Herman mengenai perubahan dalam keluarganya.

Bahkan anak-anaknya pun sekarang sudah berani untuk curhat kepada Herman. Istrinya pun sudah tidak lagi membantahi dirinya.

“Saya benar-benar percaya bahwa Tuhan saya, Tuhan Yesus itu adalah Tuhan yang benar-benar membawa kedamaian. Membawa sukacita buat keluarga saya. Membawa berkat dalam keluarga saya,” ujar Herman.

Allien sendiri berkisah, “Saya benar-benar tak pernah terpikir bahwa suami saya bisa berubah begitu cepat. Tuhan benar-benar baik mengubah suami saya. Karakternya sudah berubah sama sekali. Tadinya yang mau menang sendiri, tetapi sekarang jika istri bicara, dia mau mendengarkan. Saya benar-benar mengucap syukur!”

Amazing True Story - Allien & HermanHerman sendiri mengucap syukur sambil menangis, “Begitu besar kasihnya. Sehingga saya yang berdosa saja mau diampuni. Mau dipilih untuk diselamatkan. Yang saya rasakan begitu luar biasa adalah keselamatan yang diberikan oleh Yesus kepada saya. Ketika saya sedang berjalan di tempat yang gelap dahulu, saya tidak pernah tahu bahwa saya ada jalan yang di tempat terang. Tetapi ketika saya di tempat terang, barulah saya tahu bahwa jalan yang saya lalui dahulu adalah di tempat yang gelap. Sekarang saya merasa lebih berharga. Saya merasa berharga sekali.” (Kisah ini sudah ditayangkan 22 Mei 2009 dalam acara Solusi Life di o Channel)

Sumber Artikel: Jawaban.com

Tangis Doa Hapuskan Hinaan

Bapak Selamet terikat kebiasaan bermain judi dan memasang lotere. Demi kesenangannya, ia rela menghabiskan begitu banyak uang dan mengabaikan istri serta anak-anaknya. Ia jarang sekali ada di rumah, andaikata pulang sekalipun ia hanya akan meminta kembali uang yang pernah ia berikan kepada istrinya, ibu Hermi. Selamet bahkan tidak segan-segan untuk melakukan kekerasan jika sang istri tidak dapat memenuhi keinginannya itu.

Suami saya jarang pulang, kalaupun pulang ke rumah ia hanya akan meminta uang. Kalau saya tidak mau mencari uang untuknya, saya akan ditempeleng, dipukuli dan dihajar suami saya. kalau bapak tidak di rumah, saya merasa lebih bahagia, lebih plong rasanya. Tapi kalau bapak ada di rumah, keadaan menjadi tidak damai.

Haryoto, putra Selamet pernah menyaksikan kekejaman ayahnya.
Saya pernah lihat sendiri bagaimana bapak menganiaya ibu saya. Saya benar-benar kecewa, bukan hanya kecewa tetapi juga marah. Kalau saat itu saya bisa, saya akan lawan bapak saya.

Bukan hanya kebiasaan berjudi dan meminta uang yang bapak Selamet bawa masuk kedalam hidup rumah tangganya. Ia juga menjalin hubungan dengan wanita lainnya, dan bahkan tidak segan-segan membawa wanita selingkuhannya tersebut untuk tinggal serumah dengan istri dan anak-anak kandungnya. Perilaku ini membuat hancur hati Hermi, istrinya serta semua anak-anaknya. Dwiyani, salah seorang putri bapak Selamet merasakan bagaimana hatinya tidak dapat menerima keadaan ini.

Kami tidak dapat menerima keadaan ini. Setiap ada wanita lain yang bapak bawa ke rumah membuat kami sangat kecewa dan sedih. Kami juga bisa merasakan ibu sangat sakit dengan perlakuan bapak seperti itu.

Keadaan ini membuat ibu Hermi memutuskan keluar dari rumah.
Saya merasa lebih baik pergi dari kampung ini, dari kampung saya. Setelah itu saya berpikir selama berbulan-bulan, saya melihat anak-anak saya. Saya katakan pada mereka bahwa mereka akan saya tinggal karena saya akan mencari penghidupan yang lain. Bahwa hidup keluarga ini sepertinya tidak ada harapan lagi. Setelah berbulan-bulan berpikir akhirnya saya pergi ke Bandung. Anak-anak saya tinggalkan.

Kepergian istrinya membuat bapak Selamet bingung sekaligus marah.
Saat-saat istri saya pergi inilah hidup saya menjadi seperti orang bingung. Saya tidak tahu harus bagaimana saat itu. Saya juga menjadi marah, marah yang terpendam. Saya berpikir jika seandainya saya bisa bertemu dengan istri saat saya mencarinya, mungkin saya bisa membunuh dia saat itu.

Meski demikian bapak Selamet tetap hidup dalam kebiasaannya yang kerap meninggalkan rumah. Ia biasa meninggalkan begitu saja anak-anaknya untuk waktu yang sangat lama tanpa tujuan pasti. Yang tertinggal dalam hidup anak-anak bapak Selamet hanyalah kekecewaan demi kekecewaan. Putra Selamet, Haryoto merasa kedua orang tuanya telah menelantarkan hidup mereka

Saya kecewa dengan keadaan ini. Ibu pergi dan bapak tidak ada. Sepertinya tidak ada harapan. Saya harus berbuat apa ke depan, saya tidak tahu. Saya benar-benar frustasi waktu itu. Saya masih ingat begitu pahitnya kami anak-anak harus menghadapi itu semua. Kadang-kadang kami tidak makan. Tidak makan menjadi sesuatu yang biasa bagi kami. Kalau kami tidak makan berarti kami harus menahan lapar.

Demikian juga dengan Dwiyani, anak putri dalam keluarga ini
Kami merasa takut sekaligus sedih sekali waktu itu. Saat kami lapar sering tetangga dekat kami seperti tahu hal itu dan mereka mengirimkan makanan untuk kami.

Sementara itu ibu Hermi merasa sedih dan hatinya tidak dapat tenang karena telah meninggalkan anak-anaknya begitu saja. Setelah hampir setahun ibu Hermi dan anak-anaknya berpisah, ia kembali ke rumah untuk membawa anak-anaknya pergi ke kota Bandung untuk tinggal bersamanya.

Dalam perjalanan kehidupan selanjutnya, satu persatu anak-anak bapak Selamet dan ibu Hermi diubahkan oleh Tuhan. Demikian juga dengan ibu Hermi, karena persahabatannya dengan seorang pemudi yang membawanya pada Tuhan, ia akhirnya mendapat kelegaan dan pembaharuan dalam hidupnya. Mulai saat itu ibu Hermi dan anak-anaknya berdoa minta kepada Tuhan agar membawa kembali bapak Selamet ketengah keluarga mereka.

Saya merasakan damai, sejahtera dan hati saya merasa senang sekali waktu saya menerima Tuhan Yesus dalam hati saya. Saya juga berdoa supaya suami saya kembali ketengah keluarga kami lagi. Keluarga kami jadi utuh lagi.

Tuhan bekerja melalui keadaan sulit yang dialami bapak Selamet. Bapak Selamet mengalami keputusasaan serta keadaan yang sulit akibat bisnis usahanya yang mengalami kegagalan. Ditengah kebingungan dan keputusasaannya akhirnya langkah kaki bapak Selamet menghantarkan dia bertemu kembali dengan anak dan istrinya.Setelah lama berpisah, ini menjadi kesempatan bagi anak-anak Selamet untuk mengajak ayahnya kembali ke jalan yang benar. Dwiyani, putrinya bahkan mengajak ayahnya untuk mengenal jalan Tuhan.

Saya bicara dengan bapak agar dia bisa bertobat dan mengenal siapa Tuhan itu. Saya katakan bahwa Tuhan itu baik dan akan dapat menebus kesalahan dan dosa-dosa yang bapak saya lakukan pada masa lalu. Akhirnya bapak diam saja dan lalu menangis. Waktu menangis inilah bapak mengatakan bahwa ia mau menerima Tuhan dalam hatinya. Kemudian bapak mau berdoa bersama-sama dengan kami.

Tuhan Yesus menjawab doa ibu Hermi dan anak-anaknya. Tuhan memulihkan hubungan keluarga ini satu dengan yang lain, antara bapak Selamet dengan ibu Hermi dan antara seorang ayah dan anak-anaknya. Setelah 12 tahun berpisah akhirnya bapak Selamet kembali kepada keluarganya. Inilah menjadi moment kelepasan dari semua beban derita ibu Hermi dan putra putrinya.

Kami semua menangis saat itu karena TUHAN kembalikan keluarga saya. Suami saya bisa kembali kepada saya. Tuhan Yesus itu benar-benar mujizat bagi keluarga saya. Saya, anak-anak dan suami sekarang merasa damai sejahtera dan bersukacita karena Tuhan.

Putra-putri Selamet kini merasakan perubahan diri ayah mereka.
Sekarang bapak menjadi orang yang penuh kasih, bukan hanya kepada anak-anaknya. Bapak begitu sayang pada ibu dan bapak juga sayang ada cucu-cucunya.

Dwiyani bersyukur atas perkara ajaib yang Tuhan lakukan
Saya bersyukur pada Tuhan karena Dia adalah Allah yang ajaib yang sanggup dan mampu melakukan sesuatu yang tidak mungkin menurut manusia, namun mungkin untuk Tuhan.

Bapak Selamet sendiri mengakui betapa Tuhan itu baik bagi dirinya.
Saya disatukan kembali dengan anak istri karena kasih Tuhan.

Sebab seperti isteri yang ditinggalkan dan yang bersusah hati TUHAN memanggil engkau kembali; masakan isteri dari masa muda akan tetap ditolak? Firman Allahmu. Hanya sesaat lamanya Aku meninggalkan engkau, tetapi karena kasih sayang yang besar Aku mengambil engkau kembali. Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu. (Yesaya 54:6-8)

Sumber Kesaksian: Selamet & Hermi (jawaban.com)

Dalam Puncak Kebencian

Kegagalan seorang ayah dalam membina rumah tangga dapat menimbulkan kebencian yang semakin memuncak di dalam diri anaknya. Ini yang dialami oleh Yoel Yani sehingga ia bertekad suatu hari nanti akan membunuh ayahnya.

Tidak terasa 10 tahun telah berlalu sejak kepergian ibu, banyak hal telah berubah. Andai saja ibu masih hidup saat ini dan menikmati saat-saat yang indah bersama keluarga. Andai saja ia dapat bertahan lebih lama melalui penderitaan yang harus ia alami.

Sejak kecil orang memanggilku Yani. Ayahku seorang militer yang tidak segan menggunakan tangannya untuk menyalurkan emosinya. Kesalahan kecil seperti terlambat pulang atau lupa menyapu, sudah cukup untuk membuatnya menghajarku habis-habisan. Yang pasti pukulan adalah menu sehari-hari dalam keluarga kami.

Sebagai anak laki-laki aku menerima perlakuan ayah sebagai sesuatu yang wajar. Laki-laki memang sepantasnya diperlakukan dengan keras. Tapi aku tidak tahan melihat ibuku sendiri diperlakukan seperti binatang. Aku melihat sendiri bagaimana semua itu membuat ibu menderita. Ia hidup dalam tekanan yang berat sampai akhirnya tergantung pada obat. Sejak itulah aku bertekad untuk membunuh ayahku.

Walau usiaku masih kanak-kanak, aku mulai mempunyai satu kebiasaan aneh. Aku suka sekali menonton film-film pembunuhan. Aku berkhayal bahwa satu hari kelak aku akan melakukan apa yang ditunjukkan dalam film-film itu. Aku berkhayal menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.

Menginjak SMP aku mulai mempelajari ilmu bela diri dan hipnotis. Saat di SMA aku telah mampu menjadi pelatih pencak silat. Perlahan tapi pasti aku sedang membangunkan monster dalam diriku. Begitu aku lulus SMA dan bisa membiayai hidupku sendiri, rencanaku menjadi pembunuh akan segera terwujud. Membayangkan saja rencana itu sudah membuatku merasa bergairah. Dengan semua yang pernah dibuat ayah kepada ibu, aku sama sekali tidak merasa bersalah. Akhirnya waktu yang kunantikan itu semakin dekat.

Tahun 1988 aku lulus dari SMA dan aku pergi ke Jakarta selama seminggu untuk mendaftarkan diri ke sebuah sekolah tinggi. Sesampainya di Jakarta aku diajak kakakku untuk pergi ke sebuah persekutuan. Sesampainya disana aku merasakan suatu suasana yang berbeda. Ketika berdoa, salah satu dari pemuda yang mengikuti ibadah itu mendatangiku dan menyampaikan Firman Tuhan yang mengatakan padaku : “Jangan keraskan hatimu karena hari ini adalah hari keselamatan bagimu!, Yesus sedang menunggu dan mengetuk pintu hatimu untuk menjadi Tuhan dan Raja bagi kehidupanmu!.”

Aku seperti orang yang sedang ditelanjangi. Saat itu aku merasakan bagaimana Tuhan mengungkapkan pikiranku bahwa aku adalah orang jahat yang akan membunuh ayahku sendiri. Aku tidak dapat bertahan dihadapan pernyataan Firman Tuhan, aku takluk. Aku mengambil keputusan untuk bertobat di hadapan Tuhan dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan raja dalam kehidupanku. Sesuatu yang indah terjadi saat aku merasakan turunnya damai sejahtera dan sukacita yang tidak pernah aku alami sebelumnya.

Beberapa bulan kemudian setelah pulang dari Jakarta, aku terus bertumbuh dalam iman dan mulai memberanikan diri untuk mengunjungi ayah. Saat aku bertemu dengan ayah, aku berusaha untuk mengajak berbicara secara pribadi. Aku mengutarakan kejahatan hatiku dan aku mengungkapkan bahwa aku sesungguhnya berencana untuk membunuh ayah. Tapi aku menceritakan bagaimana Tuhan menjamah hatiku. Aku mulai bertobat dan mengambil keputusan untuk mengampuni ayah.

Saat itu aku minta ayah untuk mau mengampuni diriku. Setelah itu kami saling berpelukan dan kami saling menangis. Disitu aku merasakan seperti ada tembok yang hancur. Tembok kepahitan dan dendam itu hancur. Aku merasakan sebuah hati bapa memenuhi diriku.

Setelah peristiwa itu ayah tidak langsung berubah. Ia masih sama seperti yang dulu, sekalipun hari itu aku sendiri mengalami terobosan yang sangat berarti. Aku sendiri masih membutuhkan proses selama dua tahun untuk dapat mengampuninya secara total. Tahun 1993 ibu meninggal setelah sekian tahun menjalani hari-hari penuh derita. Ayahku sendiri bertobat tahun 2001 setelah dilayani oleh dua orang kakakku.

Satu keharuan kurasakan saat ayahku menyesali apa yang telah terjadi. Saat ayah menyesali mengapa tidak sejak dulu ia mengenal Tuhan?. Jikalau ia mengenal kasih Yesus maka ibuku tidak akan mengalami semua derita hingga akhir hayatnya. Namun kukatakan pada ayahku agar ia melupakan segala sesuatu yang telah berlalu. Saat ini kami telah memiliki Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat sehingga kehidupan yang akan datang kami yakini akan menjadi sesuatu yang lebih baik.

Walaupun apa yang telah terjadi tidak dapat dihapuskan, tapi aku dan keluargaku telah memilih sesuatu yang baru dalam kehidupan keluarga kami yaitu hidup dalam pengampunan dan kedamaian dalam Tuhan Yesus Kristus. (Kisah ini telah ditayangkan 20 Maret 2003 dalam acara Solusi di SCTV).


Sumber Kesaksian:
Yoel Yani

Sumber Artikel:
Jawaban.com

Kisah Nyata Preman Yang Menjadi Pria Sejati

Kisah Nyata – Aku berasal dari sebuah keluarga yang sama sekali tidak mengenal Kristus. Karena berasal dari keluarga yang berada, aku tidak pernah ambil pusing dengan masalah keuangan sehingga aku menjalankan gaya hidup yang suka bersenang-senang dan berfoya-foya. Semua orang takut padaku karena aku tidak segan-segan menghajar bahkan membunuh mereka yang mencari masalah denganku.

Rumah Tangga Yang Hancur

November 1988 aku menikah dengan Cucu Ratnasari. Pada awal pernikahan kami, tepatnya 1 minggu setelah menikah, masalah demi masalah mulai muncul namun rumah tangga kami masih terus berjalan bahkan sampai kami dikaruniai anak-anak. Gaya hidupku yang suka bersenang-senang dan penuh tantangan menjadi masalah paling utama dalam kehidupan rumah tanggaku. Bahkan, aku sering membawa perempuan-perempuan lain ke dalam kamar tidurku, dan hal itu terjadi tepat di depan mata istriku. Hal yang sangat menyakitkan bagi seorang istri sebaliknya menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagiku. Aku merasa menjadi lelaki yang paling hebat. Tidak jarang istriku tersiksa secara batin dan jasmani karena diperlakukan seenaknya. Hubungan seksual kami menjadi tidak wajar lagi. Aku benar-benar menjadi lelaki yang haus seks tanpa mempedulikan keadaan istri sendiri. Jika aku tidak mendapatkan wanita di luar sana, maka saat itu juga aku memaksa istri untuk melakukannya. Tidak ada rasa cinta di dalamnya melainkan hawa nafsu belaka. Istriku menjadi wanita malang saat ia memutuskan menikah denganku. Bukannya kasih sayang, perlindungan dan perhatian yang ia terima tetapi siksaan dan diperlakukan semena-mena. Aku adalah binatang dalam rupa manusia saat itu.

Istriku Melakukan Aborsi

Karena tertekan dengan perlakuanku dan melihat penderitaan anak pertama kami, pada kehamilannya yang kedua,  ia pergi untuk menggugurkan kandungannya. Tindakan itu membuatnya merasa sangat tertekan dan selalu dihantui rasa bersalah. Setiap malam ia tidak dapat tidur dengan tenang karena selalu terbayang janin yang digugurkannya tersebut. Ketika hal itu diceritakannya kepadaku, aku marah besar dan menghajarnya habis-habisan.

Disaat-saat ia menahan rasa sakit luka-luka memar akibat pukulan-pukulanku dan juga luka bekas aborsi beberapa waktu lalu, ia dikagetkan karena ternyata janin itu masih ada dalam kandungannya. Namun karena keadaan terus menekannya, sekali lagi ia berusaha menggugurkan kandungannya dengan meminum jamu-jamu dan obat-obat tertentu. Namun keputusannya ini harus disesali kami berdua sampai sekarang ini. Karena tindakannya tersebut telah menyebabkan lahirnya seorang anak yang cacat tubuh dan mental. Kami memutuskan untuk membuangnya ke sebuah panti rehabilitasi khusus yang menangani anak-anak cacat mental.

Kesempatan Untuk Bertobat

Ada seorang ibu, tetangga depan rumah kami, ternyata selama ini telah memperhatikan keadaan rumah tanggaku ini. Ia adalah seorang Kristen. Pada saat aku diluar rumah, ia mengambil waktu untuk menemui istriku dan menawarkan ibadah kecil dirumahku. Seperti yang telah mereka rencanakan, suatu hari ibadah itu sedang berlangsung dan pada saat yang bersamaan aku pun pulang. Aku pun tidak mengetahui alasan kenapa aku pulang lebih awal dimana tidak biasanya seperti itu. Karena orang-orang sudah berkumpul, secara terpaksa aku bergabung dengan komunitas itu. Walaupun hatiku sedang kacau balau, tetapi aku mengikuti penyampaian renungan firman Tuhan saat itu. Aku terkejut karena renungan tersebut seperti berbicara kepadaku. Tidak tahu kenapa hatiku luluh dan merasa Tuhan mulai menegurku. Setelah ibadah selesai dan orang-orang pulang. Malam itu aku merenung sendirian di ruang tamu. Aku kembali teringat akan kehidupan-kehidupan yang telah kujalani selama ini. Terlintas dalam benakku, “Betapa jahat dan berdosanya aku selama ini…” Sekali lagi, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku tergerak berdoa, sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya :

Tuhan Yesus, aku sadar kini betapa hancur dan berdosanya kehidupanku …Saat kubuka  hati, biarlah kiranya Engkau masuk ke dalam hatiku dan menjamah serta memulihkanku… Aku berjanji mulai saat ini aku akan berbalik dari jalanku yang jahat kepada kehidupan yang Kau ingini untuk aku jalani bersama Engkau dalam tiap langkah kehidupanku…”

Dan saat itu aku tiba-tiba menangis, sesuatu yang tidak pernah dialami oleh seorang preman sepertiku, karena menyadari betapa berdosanya hidupku ini. Yang aku tahu saat itu bahwa aku begitu dekat dengan telinga Tuhan dan Ia telah mendengar dengan jelas seruan pertobatanku saat itu.

Rumah Tanggaku Dipulihkan

Setelah kejadian malam itu, timbul keberanianku untuk memutuskan sesuatu yang dulu sangat bertentangan dengan prinsip hidupku. Aku memutuskan untuk beribadah ke gereja setiap minggunya. Pertama kali aku menginjakkan kakiku dalam gedung gereja, semua orang sangat terkejut karena mereka mengetahui latar belakang hidupku sebagai seorang preman. Situasi itu seolah-olah menunjukkan kepadaku bahwa ternyata selama ini reputasiku sangat buruk di mata masyarakat lingkunganku.

Januari 2005, seseorang yang mengenalku mengajak untuk mengikuti sebuah seminar bernama “Pria Sejati” dalam bentuk camp. Seminar yang berlangung selama 3 hari 2 malam itu membuat mataku rohaniku dibukakan dengan kebenaran-kebenaran Kristus. Orang-orang dalam acara tersebut terus berdoa dan menumpangkan tangannya untukku supaya dilepaskan dari jerat dosa. Disini aku mengakui ke banyak orang tentang semua kebejatan hidupku. Dan setelah itu aku merasa kutuk kegelapan itu telah dihancurkan dan aku mengalami perjumpaan dengan Kristus yang membimbingku mengetahui bahwa Ia telah mengasihiku begitu besarnya dan aku pun harus mengasihi sesamaku. Tidak berhenti dalam komunitas itu saja, aku pun beranikan diri untuk meminta maaf sebesar-besarnya kepada istri dan anak-anak atas semua kejahatanku selama ini. Aku berjanji menjadi pria sejati bagi keluarga ini.

Sejak pemulihan itu, aku terus berusaha untuk menjadi figur kepala keluarga yang baik, bahkan setiap hari selalu ada mezbah doa di dalam keluargaku. Aku juga setiap hari selalu berdoa dan menumpangkan tangan atas istri dan anak-anakku. Sepertinya hidupku penuh dengan rasa cinta kepada keluarga dan semua orang. Inilah yang telah lama hilang dari hidupku.

Anakku yang berada di panti rehabilitasi adalah buah hatiku. Kasih Tuhan menggerakkan dan memampukanku untuk mencintai anak tersebut. Kami pun memutuskan untuk mengunjunginya supaya terjadi rekonsiliasi antara orang tua dan anaknya. Sejak saat itu kami sering mengunjunginya, memberikan kasih saying padanya, dan puji Tuhan, semakin hari keadaannnya semakin membaik. Aku yakin ini semua tak terlepas dari kuasaNya yang luar biasa dalam hidupku. (Kisah ini telah ditayangkan 26 Oktober 2006 dalam acara Solusi di SCTV).

Sumber Artikel :
Jawaban.com

Sumber Kesaksian :

Bpk. Ali Sadikin

Kehilangan Yang Mengawali Pemulihan

Basri merupakan momok yang mengerikan bagi orang-orang di sekelilingnya. Kekerasan adalah dunianya. Brutal, sadis dan kejam terus bergejolak dalam darahnya. Lingkungan yang jahat dan latar belakang keluarga yang tidak baik telah membentuk karakter yang keras di dalam diri Basri. Berbagai tindakan premanisme telah ia lakukan. Istri dan anak-anaknya berada dalam bayang-bayang kematian.

Masa Remaja Basri

Semenjak kecil berbagai tindakan kriminal telah dilakuakn oleh Basri. Bersama teman-temannya mereka sering memasuki rumah orang dan menjarah apa saja yang dapat mereka ambil. Sifat jahat Basri terus berkembang sampai Basri menginjak usia remaja. Di usia belia saat masih SMP, Basri telah mengenal seks dan berzinah dengan istri orang.

Demi menuruti tantangan seorang teman, Basri mengawali tindakan kriminal profesionalnya dengan menjambret seorang wanita. Saat itulah Basri sempat dihakimi massa sampai babak belur. Aksinya kali ini harus berakhir di penjara. Jeruji besi telah mengekang segala tindakan kejahatannya. Sekitar 3 bulan Basri harus menjalani masa hukumannya. Pada akhirnya Basri pun bebas tapi ia tetap tidak berubah.

Pernikahan Penuh Darah Dan Air Mata

Basri akhirnya menikah dengan paribannya Marta. Namun gejolak liarnya terus dibawa Basri ke dalam kehidupan rumah tangganya. Istrinya pun menjadi korban keganasannya. Dalam salah satu pertengkaran mereka, Basri tidak hanya menampar istrinya tapi ia juga menghantamkan sebuah periuk ke kepala istrinya sampai pecah. Kekejaman ini tidak hanya berlangsung sekali. Terhitung sampai dua kali kepala istri Basri harus dijahit karena kekejaman Basri.

“Terkadang kepala saya sampai pecah. Memang dari dulu dia orangnya kasar, selalu main tangan, itulah tingkahnya dulu,” ujar Marta sambil terisak mengingat kelakuan istrinya.

Tidak hanya sampai di situ saja kelakuan Basri. Berzinah dan bermain dengan berbagai macam perempuan pun dilakoninya. Dunia premanisme yang dijalani Basri memang identik dengan kehidupannya yang penuh dengan wanita dan narkoba. Marta merasakan kepedihan yang mendalam. Seringkali Marta harus menyaksikan bekas gincu di baju Basri tapi untuk marah pun Marta tidak berani. Kekejaman suaminya seakan-akan menutup rapat mulutnya. Marta hanya dapat menyimpan semuanya di dalam hati.

Pada suatu kejadian saat anak pertamanya menangis karena habis berkelahi, ia mengadu pada Basri. Bukannya bersimpati, Basri malah seakan siap menerkam anaknya karena menganggapnya sebagai anak yang pengecut. Tidak tanggung-tanggung, Basri pun siap untuk menganiaya anak pertamanya. Untung saja Marta segera menyelamatkan anak mereka. Kekesalan di hati Marta benar-benar tidak terbendung. Marta kecewa dengan sikap Basri yang benar-benar tidak memberikan kasih sayang dan memperhatikan anaknya.

Tidak ada yang dapat menghentikan sifat Basri. Bahkan saat Marta hendak pulang kampung dan tengah larut di dalam kesedihan karena neneknya yang meninggal, hati Marta semakin tergores akibat perlakuan Basri kepada dirinya. Permintaan Basri akan sejumlah uang yang tidak dapat dipenuhi Marta membuat mereka bertengkar di pinggir jalan. Saat itu dalam keadaan emosi, Basri tidak hanya memukuli istrinya tapi juga menyeret Marta di tengah jalan. Sungguh malang nasib Marta. Ia telah menjadi tontonan orang banyak. Hatinya sangat pedih dan penuh dengan luka. Marta benar-benar merasa tidak memiliki harga diri lagi. Dalam kesakitannya, Marta pun pingsan di tengah jalan. Kesakitan, kebencian dan kepedihan memenuhi hati Marta. Tapi Marta hanya dapat berserah kepada Tuhan. Niat untuk bercerai dari Basri sudah terlintas di dalam hati Marta, tapi karena memikirkan anak-anak dan keluarganya, Marta masih mencoba untuk bertahan.

Berawal dari Kematian

Selama bertahun-tahun, Basri jarang memberikan kasih sayang yang penuh kepada keluarganya. Suatu hari ketika Basri pulang ke rumah, betapa kagetnya ia melihat anak pertamanya kejang-kejang dan mukanya menghitam. Padahal anaknya tidak pernah sakit sebelumnya. Jauh di dalam hatinya Basri merasa bersalah karena ia sering memukuli kepala anaknya dengan keras. Rumah sakit menjadi pilihan terakhir bagi Basri. Selama dua hari, Basri memberikan perhatian dan kasih sayang yang penuh kepada anaknya. Namun di hari ketiga, saat Basri ke rumah sakit sambil membawa mainan untuk anaknya, Basri mendapati tempat tidur anaknya sudah kosong. Basri pun lalu mendapat informasi kalau anaknya sudah pulang ke rumah. Hati Basri mulai bertanya dan gelisah, apa yang menyebabkan kepulangan anaknya secara mendadak. Saat itu Basri tidak berani pulang ke rumah karena takut menerima kenyataan kalau anaknya sudah meninggal.

Saat itu seorang temannya datang menghampiri. Basri pun meminta tolong padanya untuk melihat keadaan anaknya di rumah. Selama menanti kedatangan temannya kembali, jiwa Basri dipenuhi kecemasan dan ketakutan. Kematian ataukah kehidupan yang berpihak pada anaknya. Sejam kemudian saat temannya datang membawa kabar, apa yang ditakutkan Basri pun menjadi kenyataan. Anak pertamanya telah meninggal. Dengan tergopoh-gopoh Basri segera berlari pulang. Dengan tak percaya, Basri melihat anaknya yang telah terbujur kaku di atas tempat tidur. Basri membayangkan bagaimana seharusnya anaknya bahagia menerima maianan yang telah dibelikannya, tapi hal itu pun tidak dapat menjadi kenyataan. Dengan penuh penyesalan, Basri menangisi kepergian anak pertamanya.

Penyesalan selalu datang terlambat. Basri menyadari jeritan, tangisan dan ratapannya tidak akan berguna lagi bagi anaknya. Yang tersisa hanyalah kenangan indah yang tidak dapat diulang kembali. Basri dan Marta merasakan kepedihan tak terkira karena kehilangan anak pertama mereka. Memiliki suami kejam dan ditinggalkan anak tertuanya sempat membuat Marta berniat untuk bunuh diri. Banyak yang menasehati Basri untuk bertobat karena Tuhan sedang menegur dia melalui kematian anaknya.

Hati Basri yang terluka kembali tergores lebih dalam lagi. Saat Basri kembali dari pemakaman, Basri kembali dikejutkan oeh teriakan istrinya. Di dalam kamar, anak kedua mereka pun sedang mengalami kondisi yang sama dengan kakaknya. Dengan penuh kepanikan, mereka membawa anaknya ke rumah sakit. Dukanya terus bertambah, akankah kematian akan terulang kembali pada anak keduanya, mengikuti jejak sang kakak?

Kemana pun anaknya berobat, tidak ada kesembuhan bagi anaknya. Namun seorang temannya menasehati Basri. “Anak ini bisa sembuh. Kamu berubah sikap, kamu bertobat, anak ini sembuh.” Basri sangat menyesali semua perbuatannya. Anak keduanya pun akhirnya sembuh. Namun penyesalan tidak bertahan lama. Basri kembali kepada kehidupannya yang lama.

Dalam kesesakan dan penderitaannya, Marta hanya bisa berdoa. Doa Marta hanya dipenuhi oleh doa akan suaminya, supaya berubah dan kembali ke jalan yang benar. Marta sangat yakin, kalau ia senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya. Suatu iman yang luar biasa.

Pertemuan Yang Mengubahkan

Pada suatu hari Basri melihat seorang wanita cantik di dalam sebuah angkot. Timbul niat jahat di dalam hatinya untuk mengganggu wanita itu. Namun di sanalah terdapat pertolongan atas hidupnya. Dengan ramah, Basri mulai mengajak wanita ini untuk berbincang-bincang. Dari perbincangan itulah Basri mengetahui kalau wanita ini hendak pergi ke gereja. Niat jahat Basri seketika itu juga berubah dan ketakutan menyerangnya. Basri pun mengakui niat jahatnya pada wanita tersebut. Basri mulai mengingat penyesalannya akan kematian anaknya yang dulu. Basri meminta wanita tersebut untuk mendoakan dirinya, supaya Tuhan menangkap hatinya, menangkap rohnya supaya kembali kepada Tuhan. Dengan antusias wanita itu pun menyanggupi untuk mendoakan basri.

Hati Basri semakin terharu ketika wanita tersebut membayar ongkos perjalanannya. Karena Basri yakin wanita ini bukan orang kaya. Kalaupun dia orang kaya, pasti saat ini dia sudah mengendarai mobil pribadi. Padahal malam sebelumnya, Basri baru saja melakukan perzinahan dengan pelacur. Basri merasa untuk membayar uang tip seorang pelacur ia mampu, sedangkan wanita yang dianggapnya hamba Tuhan ini malah membayar ongkosnya.

Dalam kesedihannya, Basri memutuskan untuk pergi beribadah. Ketika musik berdentang dengan kencang, Basri pun mulai berperilaku aneh akibat dampak mengkonsumsi ekstasi sehari sebelumnya. Namun ketika musik berdentang dengan lembut, Basri merasakan ketenangan di dalam hatinya. Air mata pun mulai menetes dan tak kunjung berhenti mengalir di wajah Basri. Hati Basri yang hancur kembali terpukul ketika ia mendengar kata-kata yang sangat menusuk hatinya melalui frman Tuhan yang dibawakan pada hari itu. Semuanya mengena di hati Basri dan mengingatkannya akan semua perbuatan dosa yang telah dilakukannya selama ini. Semua kejahatannya menimbulkan kesedihan yang mendalam di hati Basri.

Di kebaktian itu Basri memberikan kesaksian mengenai pertemuannya dengan wanita di angkot beberapa hari sebelumnya. Di kebaktian itu Basri didoakan supaya hatinya kembali kepada Tuhan. Saat itulah Basri menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Tuhan dan meninggalkan kepremanannya, baik dalam hal roh perzinahan, narkoba maupun perkelahian, Basri bertekad untuk terus ikut Tuhan. Basri yakin Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik baginya. Sukacita dan damai sejahtera pun menjadi milik Basri semenjak saat itu.

Saat ini Basri menafkahi keluarganya dengan berjualan jagung bakar. Dia telah menjadi suami dan ayah yang terbaik bagi keluarganya. Kedamaian dan kebahagiaan melingkupi keluarga mereka. Di gereja pun Basri terlibat dengan pelayanan penjara, menguatkan dan meneguhkan orang-orang yang terlibat dalam dunia kriminal.

“Saya sangat senang melihat perubahan yang terjadi atas suami saya. Dia sering mengajak anak-anak berkumpul, membaca firman dan berdoa. Anak-anak pun sekarang sangat diperhatikan. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan Yesus karena suami saya sudah bertobat dan doa saya selama 10 tahun ini sudah dijawab Tuhan,” ujar Marta dengan penuh rasa syukur.

“Pokoknya untuk saat ini, tiada hari tanpa Tuhan. Karena Tuhan Yesus saya bisa berubah dan meninggalkan semuanya. Jadi saya benar-benar merasa bangga memiliki Tuhan seperti Yesus,” ujar Basri menutup kesaksiannya dengan senyuman penuh rasa syukur. (Kisah ini telah ditayangakan 10 Desember  2007 dalam acara Solusi di SCTV).

Sumber Artikel :
Jawaban.com
Sumber Kesaksian :
Basri Siagian