Tag Archives: Free Sex

2

Berawal dari Film Porno, Berakhir Menjadi Pecandu Wanita (Hendy & Irene)

Berawal dari Film Porno, Berakhir Menjadi Pecandu Wanita (Hendy & Irene)
Semakin dilarang, semakin penasaran, itulah yang dialami Hendy yang waktu itu masih berumur 10 tahun. Orang-orang dewasa yang sedang asik menonton film porno itu tidak pernah tahu bahwa Hendy akhirnya mengintip di balik celah kayu.

0

Sudah Bersuami, Wanita Ini Masih Haus Belaian Pria Lain (Rose Hutagalung)

Pada awalnya, pernikahan Rose Hutagalung dan Alhadin Sihombing terasa begitu indah. Namun lama kelamaan, Rose merasakan ada yang kurang di dalam rumah tangganya. Suami yang ia harapkan dapat memenuhi kebutuhan batinnya ternyata mengabaikan dirinya. Untuk menggantikan ketidakpuasan yang ia alami, Rose pun akhirnya menerima ajakan teman-temannya untuk hangout dan mencari hiburan yang menyenangkan hati.

Bersaksi bersama AIDS

Bertumbuh merupakan proses yang berat bagi Herb Hall. Dia sering mengalami sakit sejak kecilnya. Pergaulannya dengan anak-anak seusianya dibatasai oleh orang tuanya yang merupakan Kristen yang taat. Akhirnya Herb Hall bertumbuh menjadi anak yang lemah dan banyak menerima penolakan. Tetapi seiring dengan bertumbuhnya Herb, mendapat penerimaan dari pria menjadi obsesinya.

Jika saya melihat kembali kehidupan saya, semua itu dimulai akibat luka dan penolakan yang saya alami selama bertahun-tahun. Itu betul-betul mempengaruhi hidup saya. Saya merasa nyaman bersama laki-laki karena saya merasa diterima oleh mereka. Saya dapat berteman dengan mereka. Laki-laki tidak pernah mentertawakan saya dan mereka tidak pernah mempermalukan saya. Mereka tidak pernah menolak saya seperti kaum wanita biasa memperlakukan saya. Hingga akhirnya saya melakukan kesalahan karena hubungan saya dengan sesama pria di usia saya yang ke 21 tahun.

Bertahun-tahun saya hidup dengan perasaan bersalah dan berkali-kali saya berpikir untuk mengakhiri hidup saya. Satu waktu saya pernah menelan satu botol pil sekaligus, saya sudah ingin mati. Namun keinginan ini gagal. Ibu saya menerima telepon yang ternyata untuk saya, dia kemudian masuk ke kamar, menemukan saya tidak sadarkan diri. Ia membaca surat yang saya tulis dan melihat botol pil yang kosong. Ibu saya menelepon paramedis dan nyawa saya diselamatkan.

Pada saat di rumah sakit, Herb menerima kunjungan dari pendeta gembala gerejanya. Itu merupakan pertemuan dramatis yang merubah hidupnya.

Pendeta saya mengatakan bahwa dia mungkin tidak tahu masalah yang menimpa saya, dia tidak tahu apa yang membuat saya kecewa. Pendeta saya mengakui bahwa dia tidak dapat mengetahui cobaan apa yang sedang saya hadapi. Namun dalam semuanya dia menekankan bahwa ada pribadi yang mengasihi dan sanggup memelihara hidup saya dari berbagai masalah, dialah Kristus Yesus. Akhirnya saya menceritakan semua masalah beban masa lalu yang saya derita pada pendeta saya tersebut.

Saya merasakan suatu kelegaan dan kelepasan yang luar biasa setelah menceritakan semua hal itu. Saya terkejut karena pendeta gembala itu tidak pernah menolak saya. Setelah peristiwa ini saya mengambil keputusan untuk melakukan pemulihan. Selama tiga tahun saya harus melewati pemulihan ini dengan doa, konseling dan penuh perjuangan. Tadinya saya pikir hanya dengan semalam saya bisa melewati hal ini namun ternyata saya menghadapi semuanya dengan perjuanagn yang berat. Dan setelah tiga tahun saya merasakan Tuhan telah benar-benar menyembuhkan saya.

Setelah beberapa tahun kemudian Herb bertemu dan jatuh cinta dengan seorang wanita dari gerejanya. Pada waktu ia hendak menikahinya, Herb memutuskan untuk memeriksakan dirinya agar dia yakin bahwa dia telah bebas dari virus HIV.

Pada waktu saya akan memeriksakan diri, saya berkata dalam hati bahwa ini hanyalah tindakan untuk berjaga-jaga. Saya yakin sebagai orang Kristen maka saya tidak akan terkena virus HIV atau AIDS. Saya percaya hasil yang didapatkan adalah negatif. Namun saat suster datang dan memberitakan kabar yang menyedihkan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan hasil positif. Saya sempat menolak dan meminta untuk test ulang, namun perawat ini mengatakan bahwa test yang dilakukan merupakan test terbaik. Saya divonis terkena virus HIV+ dan harus kehilangan impian untuk menikahi gadis yang saya kasihi.

Hari itu saya pulang dengan putus asa, saya keluar dari mobil dan menemui ibu saya, saya menangis. Saya juga harus menceritakan pada calon pengantin saya bahwa saya terinfeksi HIV, tidak bisa menikah dan tidak bisa punya anak. Kami berdua menangis namun dia mengatakan apapun yang terjadi dia akan tetap menjadi sahabat saya dan bersedia mendukung saya. Setelah 4 tahun berlalu ternyata dia tetap ada didekat saya. Kami masih sering bersama, makan malam bersama, dia mengasihi saya walau kami tidak dapat menikah.

Waktu terus berlalu, walau Herb telah memberikan hatinya bagi Tuhan Yesus, tekanan hidup yang dia alami semakin berat sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya

Saat itu saya sepertinya tidak kuat lagi dengan semua beban yang ada. Saya mau menaruh pistol di kepala dan menembak otak saya. Saya tidak mau orang mengenali identitas saya dan mereka menelpon polisi, jadi saya mengendarai mobil dan saya memasuki jalan tol. Namun saat saya mengendarai mobil di jalan tol tersebut, Tuhan berbicara kepada saya seperti yang tidak pernah dilakukanNya. “Herb kapan kamu mau percaya bahwa Aku akan memakai hidupmu?”, “Kapan kamu percaya bahwa Aku sudah mengampuni dosamu?”, “Kapan kamu mau memberikan 100 persen hidupmu bagiKu?” demikian tanya Tuhan.

Suara Tuhan menyadarkan Herb. Setelah Herb mendengar Tuhan berbicara kepadanya, dia kemudian menghubungi adiknya. Herb katakan padanya bahwa dia akan memeriksakan diri pada dokter. Itu merupakan waktu yang menentukan bagi Herb dan ia menyerahkan hidupnya sepenuhnya pada Tuhan. Hasil test yang dilakukan dokter sungguh mengejutkan Herb, kekebalan tubuh Herb telah sangat menurun dan dokter mengatakan bahwa umur hidup Herb tidak akan lama lagi. Herb akan segera meninggal.

Namun hari ini Herb bagaikan “mujizat berjalan”. Telah 11 tahun berlalu sejak ia terkena AIDS dan vonis dokter diberikan, Herb masih hidup.

Saya melihat setiap hari sebagai bentuk kasih karunia Tuhan yang besar bagi saya. Perubahan yang terbesar ialah ketika saya mulai menyadari bahwa bila saya mati dalam waktu satu tahun seperti yang pernah dokter katakan maka saya akan ada bersama Tuhan. Namun bila saya diijinkan hidup maka saya punya kesempatan untuk memberitakan kabar baik. Saya menyadari bahwa saya menjadi seorang pemenang dalam semua keadaan.

Tuhan ternyata punya rencana besar bagi Herb. Tahun 91 Herb bertemu dengan pendeta Bruce Sanumber. Bruce mengundang Herb untuk bergabung dalam kelompok peduli AIDS di gerejanya. Kelompok ini mulai bekerja dari melayani penderita AIDS di California lalu kemudian berkembang menjadi pelayanan internasional yang bernama “DIA MENGHENDAKI KEMENANGAN”. Sebagai anggota pelayanan ini, Herb Hall memberitakan pengalaman hidupnya dan menguatkan para penderita AIDS di seluruh dunia. Saat ini pelayanan ini telah mempunyai cabang bahkan sampai Malaysia, Thailand, Singapura hingga Vietnam.

Saya juga baru berkunjung ke Australia, Afrika, Inggris dan kepulauan Utara untuk menguatkan banyak orang. Bagi saya ini merupakan hal yang luar biasa. Tuhan dapat memakai saya, orang yang penuh kegagalan dengan masa lalu yang kelam untuk menjadi kesaksian bagi banyak orang betapa Tuhan mengasihi mereka.

Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. (Yesaya 43:4) “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”(Yesaya 49:6)

Sumber Kesaksian:
Herb Hall (jawaban.com)

Kugadaikan Hidupku Pada Wanita Malam Demi Narkoba

“Waktu kecil, hubungan mama dan papa saya sangat tiidak baik. Dan saya melihat jurang perbedaan di antara mereka hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah. Dan saya mulai kecewa dengan papa saya dan mulai menyalahkan papa atas perpisahan papa dan mama saya,” ungkap Denny memulai kisah hidupnya.

“Kalau saya melihat teman lain, saya merasa cemburu dengan keharmonisan mereka. Papa mereka sangat sayang dengan anak-anaknya dan saya merindukan hal itu. Saya benar-benar kehilangan figur seorang ayah. Saya merasa saya tidak punya papa,” ungkap Denny.

Trauma masa kecil yang dialaminya membuat Denny tumbuh menjadi seorang anak yang agak bandel. Kelas 6 SD Denny mulai mengenal rokok, ganja, narkoba bahkan sampai jatuh ke dalam dunia seks bebas. Demi mendapatkan narkoba yang harganya mahal, Denny mulai bergaul dengan preman untuk mendapatkan uang.

Di tengah kekelaman hidup yang dijalaninya, Denny sangat mencintai ibunya. Intensitas pertemuan dengan ayahnya yang semakin jarang membuat keluarganya semakin terpuruk secara ekonomi. Denny yang mencintai ibunya harus menyaksikan bagaimana ibunya sebagai seorang single parent harus bekerja keras membiayai sekolah dia beserta saudara-saudaranya yang masih kecil. Tak jarang ibunya rela untuk tidak makan hanya agar Denny bisa makan.

Kenyataan itu membuat Denny melakukan berbaga macam cara agar dapat membantu ibunya. Setiap subuh Denny memalak tukang-tukang sayur hanya untuk memgisi kulkas di rumahnya. Ibunya mulai mencurigai kelakuan Denny namun ia tak pernah melihat langsung kenakalan Denny di luar rumah. Hingga suatu hari ibunya memergoki Denny sedang menyuntikkan obat-obatan terlarang ke tubuhnya. Ibunya yang shock menampar Denny dan langsung pingsan mengetahui kelakuan Denny. Jauh di dalam hatinya Denny menyesali apa yang telah dilakukannya karena sesungguhnya Denny sangat menyayangi ibunya.

“Pertama kali tangan saya pukul Denny waktu dia SMA,” ungkap Dortje Suawah, ibunda Denny. “Pikiran saya saat itu hanya: saya sudah hidup sendiri, cari nafkah untuk anak-anak saya, tapi anak saya yang satu ini membuat saya kecewa sekali,” tambah Dortje dengan hati pedih.

Dalam kesedihan hatinya, Dortje hanya bisa berdoa memohon kepada Tuhan agar Denny dapat terlepas dari ikatan obat-obatan terlarang yang mengikatnya. Ia tak ingin Denny semakin terpuruk akibat kesalahannya sebagai seorang ibu yang tak mampu memberikan keluarga yang terbaik bagi Denny.

Tak mau kecewakan sang ibu, Denny ingin berhenti dari cengkeraman narkoba. Namun kebutuhannya akan narkoba semakin meningkat dan teman dekatnya yang juga seorang wanita malam sanggup memenuhi segala kebutuhannya akan barang laknat itu. Uang, barang-barang mahal dan seks menjadi teman dekatnya saat itu akibat pergaulannya yang buruk.

“Tadinya saya merasa inilah hidup saya. Tapi lama-kelamaan saya mulai capek dengan situasi ini. Papa tidak sayang sama saya dan saya juga tidak sanggup membahagiakan mama saya, buat apalagi saya hidup. Situasi seperti itu membuat saya semakin down. Saya berpikir sepertinya masa depan saya sudah gelap,” ujar Denny.

Lelah karena harus selalu merasa sakau dan menjalani hidup yang suram karena harus berpacaran dengan wanita malam demi narkoba membuat Denny berpikir bahwa mati adalah sebuah pilihan yang waras. Namun usaha bunuh diri yang coba dilakoninya tak kunjung membuat maut menjemputnya.

Keinginan untuk berhenti dari narkoba sebenarnya ada di hatinya namun ia tak kuasa menahan dirinya dari dorongan obat yang telah begitu menguasai tubuhnya. Demi memenuhi hasrat kebutuhannya akan narkoba, Denny bahkan pernah merampok taksi. Dalam salah satu aksinya ia nyaris diamuk massa karena ketahuan warga.

Saat massa mengejarnya, Denny berhasil bersembunyi. Denny yang tadinya berpikir bahwa dirinya tidak takut mati ternyata takut juga untuk mati. Di saat genting itu, ia ingat untuk berdoa kepada Tuhan. Dan secara ajaib Tuhan menolong Denny lolos dari amukan massa. Saat itu Denny sadar bahwa Tuhan itu baik. Bahkan untuk dirinya, seorang berdosa yang penuh dengan kejahatan, Tuhan masih mau untuk menjawab doanya. Momen itu sempat menjadi momen dimana Denny berpikir untuk meninggalkan segala dosa-dosanya. Namun dalam peringatan milenium memasuki tahun 2000, Denny mendapati dirinya masih terjerat narkoba, bahkan ia semakin terpuruk.

“Saya pesta narkoba, sampai akhirnya saya pesta seks. Saya sadar dan bertanya-tanya kenapa saya seperti ini lagi. Padahal niat saya adalah untuk berubah. Karena sayang saya sama mama, saya mencoba untuk berubah. Dan saya ingat waktu dulu Tuhan jawab doa saya, itu yang saya ingat. Sampai akhirya saya merasa bersalah. Jangan sampai saya berakhir seperti teman saya yang terlambat (untuk ditolong),” ungkap Denny panjang lebar.

Denny akhirnya memutuskan untuk menghentikan semua kebiasaan buruknya. Selama beberapa bulan Denny berusaha lepas dari ketergantungannya dengan mengurung diri di kamar. Ibunya tak pernah tahu ketika Denny harus menahan sakit sendirian melalui masa-masa sakaunya. Sampai akhirnya Denny berhasil lepas dari ketergantungannya akan narkoba.

Setelah menjalani hidup baru, Denny mulai menjalin hubungan spesial dengan seorang wanita. Denny yakin bahwa wanita ini adalah jodoh terbaik bagi dirinya. Setelah menikah, Denny memutuskan untuk mengalah dan meninggalkan pekerjaannya di Bandung demi dapat berkumpul dengan istrinya di Bekasi. Namun semua usaha yang dijalaninya selalu gagal. Sampai akhirnya kegagalan itu meninggalkan hutang dan membuatnya frustrasi. Denny merasa ia tidak hanya gagal sebagai seorang anak yang tak dapat membahagiakan ibunya, namun ia juga gagal sebagai seorang suami yang tak dapat menafkahi istrinya.

Komunikasi yang kurang dengan istrinya membuat Denny tak tahu harus berbagi kepada siapa mengenai kondisi kegagalan bisnisnya. Teman lama menjadi pilihan Denny untuk melepaskan rasa frustrasinya. Bahkan ia nyaris jatuh lagi ke dalam dosa seks bebas. Kehidupan kelam itu kembali dijalaninya sekitar tiga bulan lamanya. Sampai akhirnya istrinya jatuh sakit. Kondisi istrinya yang harus istirahat total di tempat tidur membuat Denny harus selalu menemani dan membantu istrinya beraktivitas.

“Saat itu saya merasa bersalah. Karena saya merasa kok saya senang-senang tapi istri saya kerja keras (untuk memenuhi kebutuhan kami). Sampai akhirnya istri saya jatuh sakit,” ujar Denny.

Rasa bersalah membuat Denny akhirnya memberanikan dirinya untuk mengaku dosa di hadapan istrinya. Ia mengaku bagaimana dirinya kembali menggunakan narkoba, mabuk dan main perempuan. Secara mengejutkan, dengan lapang dada istri Denny memutuskan untuk mengampuni Denny.

“Saya bertanya pada Tuhan apa yang harus saya lakukan. Dan saat itu hati saya dikuatkan. Saya berpikir bagaimana membuat dia kembali ke jalan Tuhan karena dia membutuhkan saya,” ujar Eliana D Simbolon, istri Denny.

“Saat itu saya kaget. Saya pikir istri saya akan marah, ternyata ia hanya senyum, ia hanya elus-elus dada saya,” ujar Denny.

“Yang terngiang di telinga saya hanya kata-kata papa saya, laki-laki yang tinggal di dalam Tuhan itulah laki-laki yang setia. Saya percaya tidak ada manusia yang bisa merubah manusia yang lain. Manusia berubah hanya ketika ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Itu yang saya percaya, mangkanya saya selalu berdoa untuk suami saya,” ujar Eliana.

“Ini adalah istri terbaik yang Tuhan kasih buat saya. Ya, saya sangat terharu sekali. karena saya telah menyakiti istri saya namun istri saya dengan mudahnya bisa memaafkan saya,” ungkap Denny.

Berawal dari keterbukaan, Denny mendapati dirinya terus dipulihkan. Denny kemudian sadar bahwa kebencian dan kepahitan yang dimilikinya terhadap sang ayah membuat hidupnya terus jatuh bangun dalam dosa. Melepaskan pengampunan menjadi pilihan Denny untuk menikmati hidup berkelimpahan dan jauh dari dosa.

“Tuhan tidak suka dengan orang yang mengalami kepahitan dan kebencian karena Tuhan itu adalah kasih. Jadi, kalau kita menyimpan kebencian dan kepahitan, itu adalah lawan dari kasih. Kita tidak akan memiliki rasa kasih itu jika kita menyimpan kepahitan dan kebencian. Kita tidak akan mengenal kasih kalau kita tidak mengenal kasih Bapa. Dan kasih Bapa itu hanya datang daripada Yesus,” ujar Denny menutup kesaksiannya.

Sumber Kesaksian:
Denny Hilton (jawaban.com)

Aku Dijual Pacarku Jadi Pelacur

Reny lahir dari keluarga yang cuek. Kedua orangtua Reny tidak terlalu memperhatikan kebutuhan emosional buah hati mereka. Perlakuan kasar dari sang ibu kerap diterimanya. Saat Reny menolak membantu ibunya, sang ibu pun tak segan-segan bertindak keras terhadap Reny. Seringkali Reny harus berlarian keliling kampung karena dikejar ibunya, dan setelah Reny tertangkap, pukulan demi pukulan pun harus ia terima. Tanpa ampun ibunya terus memukuli Reny sampai meninggalkan bekas di tangan dan kakinya. Kesakitan fisik yang dirasakannya tak sesakit perasaan hati yang harus ditanggungnya saat itu, dipermalukan di depan umum. Sampai saat ini pun Reny masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana ibunya kerapkali menghajar dirinya dengan sapu.

Penyesalan kerapkali menghampiri hatinya saat itu. Segala pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya, kenapa dirinya harus dilahirkan, kenapa orangtuanya mempertahankan ia untuk tetap hidup dan bukan mengakhiri nyawanya saja ketika ia masih bayi, dan berbagai perasaan lainnya memenuhi hati dan pikiran Reny. Perlakuan kasar orangtuanya seakan belum cukup untuk menggores hati Reny. Di saat usia Reny masih sangat belia, Reny harus menuruti keinginan orangtuanya di mana hal itu sagat bertentangan dengan hati nuraninya.

Kelas 5 SD, pinangan datang dari salah seorang tetangga yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Menurut adat Jawa yang diemban kedua orangtuanya saat itu, kalau ada pinangan datang berarti harus diterima meskipun anaknya sendiri sebenarnya tidak suka. Reny sendiri benar-benar menolak pinangan dari tetangganya tersebut. Namun orangtua Reny tetap ngotot untuk menikahkannya dengan seorang pria yang tidak disukainya di usianya yang terbilang masih sangat belia kala itu. Perasaan takut kepada ibunya akhirnya membuat Reny menyerah dan mengikuti kemauan ibunya.

Ancaman sang ibu membuat Reny tak berdaya. Menjelang detik-detik pernikahannya, Reny harus merelakan waktu bermain dengan teman-temannya terampas dengan paksa demi sang calon suami. Karena kedatangan calon suaminya, dengan paksa sang ibu menarik Reny untuk pulang dan disuruh menyediakan minuman bagi calon suaminya. Ketidaksukaan Reny terhadap calon suaminya sudah ditunjukkannya dengan jelas, namun calon suaminya tetap gigih berniat menikahi Reny dengan harapan satu waktu nanti perasaan Reny terhadap dirinya akan berubah. Tak pernah terbayangkan oleh Reny ketika ia harus menikah di usia yang masih sangat muda. Kini Reny harus mengubur semua mimpi-mimpinya.

“Saya melihat teman-teman saya yang memakai seragam mau ke sekolah, saya benar-benar iri. Saat itu dendam kepada orangtua saya kembali dibangkitkan, kenapa sih orangtua saya benar-benar tidak mau mendengarkan apa yang menjadi keinginan anaknya. Keinginan untuk berumahtangga benar-benar tak terlintas di pikiran saya saat itu. Karena kemauan orangtua, karena terpaksa, akhirnya saya jalani. Setelah menikah, saya benar-benar membenci orangtua saya, terlebih lagi kepada suami saya,” ujar Reny dengan raut muka penuh kepedihan.

Pernikahan tanpa ikatan cinta pun harus dijalani Reny. Hal itu membuat bayang-bayang kebebasan begitu kuat menguasai batinnya. Reny tak pernah bisa menikmati kehidupan berumahtangga. Dari luar, orang masih bisa melihat mereka hidup bersama tapi sesungguhnya hati Reny dan suaminya terpisah begitu jauh. Banyak malam Reny lewati dengan satu keinginan untuk pergi meninggalkan suaminya dan menemukan kebebasan, tapi Reny tak pernah berani untuk melakukan hal itu.

Keadaan ekonomi yang sulit membuat Reny dan suaminya harus mengikuti program transmigrasi ke Aceh. Di sana, Reny bertemu dengan seseorang yang akan membuat hidupnya bergairah kembali. Pria itu begitu memperhatikan Reny, sehingga Reny pun akhirnya menjalin hubungan gelap dengan pria tersebut.

Hubungan Reny dengan pria itu pun semakin dalam. Namun hubungan tersebut akhirnya tercium oleh suami Reny. Hal itu membuat sang suami berang dan tak kuasa menahan amarah dan nyawa laki-laki itu berada dalam ancaman. Jika tak dihalangi oleh warga sekitar, parang suami Reny bisa saja menghabisi laki-laki tersebut. Di malam kejadian itu, setelah suasana emosi suaminya sedikit reda, Reny pun memutuskan untuk meninggalkan suaminya daripada harus terus terlibat keributan dalam rumahtangganya. Anak laki-laki Reny yang saat itu sedang tertidur lelap, ditinggalkan Reny begitu saja. Saat itu perasaan kasihan maupun keinginan untuk membatalkan kepergiannya tidak timbul sama sekali di hati Reny. Bagi Reny, itulah saat dirinya bisa menikmati kebebasan. Demi cinta dan kebebasan, akhirnya Reny pun pergi dengan teman prianya. Mereka pergi menuju kota Malang dan berharap kebahagiaan akan berpihak kepada mereka.

“Saya lari sama dia itu tujuannya bukan untuk senang-senang, saya hanya ingin berumahtangga, membina rumahtangga yang baik-baik, tidak ada kendala apa-apa karena saya pikir hal itu dibangun atas dasar suka sama suka,” kisah Reny.

Dengan dalih menawarkan pekerjaan yang cepat meghasilkan uang untuk biaya pernikahan, teman pria Reny tak tanggung-tanggung mendorong Reny ke jurang kekelaman. Dalam keluguannya, Reny tak menyangka sama sekali bahwa ia telah dijual kepada seorang mucikari. Reny hanya berpikir bahwa ia dititipkan sementara di tempat itu sebelum mereka menikah. Bahkan dengan polosnya ia berharap bahwa teman prianya akan sering mengunjunginya hingga hari itu tiba, saat ia akan dijemput dan mereka dapat hidup bersama. Reny tidak pernah membayangkan sama sekali pekerjaan yang harus ia lakoni selanjutnya.

Keluguan dan kepolosan Reni akhirnya membawa Reny ke dalam kehidupan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Saat ia menjalankan tugas pertamanya untuk melayani laki-laki, di situlah baru Reny menyadari bahwa ternyata dirinya telah dijual. Reny benar-benar merasa terhina. Segala perjuangan dan pengorbanannya ternyata berakhir dengan hancurnya harga dirinya seutuhnya.

“Waktu itu saya benar-benar tidak tahu siapa saya. Saya tidak tahu jati diri saya itu siapa. Sampai akhirnya saya menangis di situ. Saya menangis karena ingat dengan pacar saya itu, kok saya dibawa pergi hanya untuk jadi seperti ini? Rasanya waktu itu kalau sampai saya ketemu dengan dia, rasanya ingin saya bunuh… saya benar-benar menyesal pernah bertemu dengan dia,” kisah Reny.

Pernikahan dini membuat batin Reny teraniaya. Harapannya untuk hidup bahagia dengan seorang pria pun kandas tak berbekas. Akhirnya memuaskan nafsu liar dari para lelaki hidung belang pun tak dapat ia hindari. Walau awalnya Reny merasa hina, namun gemerlap dunia malam telah menghanyutkan dirinya ke dalam arus kebahagiaan yang semu. Pada saat itu adalah hal mudah bagi Reny untuk mendapatkan uang. Merasa dirinya sudah hancur dan kehilangan harga diri, Reny pun akhirnya memutuskan untuk meneruskan cara hidupnya yang kelam. Reny merasakan kebebasan tanpa ada seorang pun yang menghalangi apa pun yang ingin dilakukannya. Reny mulai menikmati dan merasakan kebahagiaan dengan kehidupan baru yang dijalaninya.

Profesi sebagai wanita malam benar-benar telah melekat dalam diri Reny. Namun tiba-tiba, ada sesuatu yang mulai mengusik hatinya. Kebosanan dan kejenuhan mulai menghinggapi Reny. Di kala rasa itu datang, terpikir oleh Reny untuk menghentikan kehidupan malamnya. Kembali Reny ingin membina rumahtangga. Akhirnya Reni bertemu dengan seorang pria yang kemudian menjadi suaminya. Mereka pun dikaruniai seorang anak perempuan. Namun hubungan ini pun tak luput dari masalah yang akan mengancam keutuhan rumahtangga mereka.

Reny menemukan selembar foto yang menggambarkan suaminya sedang menggendong seorang wanita. Kekalutan menyelimuti perasaan Reny saat itu. Keinginan untuk bunuh diri tiba-tiba datang menyergapnya. Bahkan Reny terpikir untuk mengajak putrinya, Raurent, mati bersama. Reny benar-benar merasakan kekecewaan yang mendalam kepada suaminya.

“Dulu saya sudah disakiti dari keluarga, istilahnya saya harus menjalani hidup yang tidak enak. Lalu sekarang, kehidupan saya juga malah jadi seperti ini. Hati saya panas, benar-benar kalut. Saya mau minta tolong kepada siapa? Rasanya saya itu benar-benar sendirian. Hidup saya ini rasanya tidak ada artinya. Saya benar-benar hanya ingin mati,” ujar Reny.

Batin Reny bagaikan tercabik-cabik sembilu. Dan ia tak kuasa lagi menahan penderitaan yang begitu menekan hidupnya. Namun tiba-tiba, sebuah sinar menyinari wajah Reny. Saat itu Reny hanya mendengar sebuah suara yang mengatakan bahwa dirinya harus mempunyai pegangan, tapi Reny sama sekali tidak mengerti artinya.

Saat Reny masih dilingkupi kegalauan, tak lama kemudian suami Reny pun pulang. Tanpa merasa bersalah, suami Reny malah balik memarahi Reny. Sakit hati Reny yang begitu dalam membuahkan dendam yang membara dalam hatinya. Hasrat Reny untuk menghabisi nyawa sang suami pun tak terbendung lagi. Tapi rasa takut akan akibat yang ditimbulkan bila ia membunuh suaminya, mengurungkan niatnya tersebut. Suami Reny pun akhirnya menawarkan perpisahan dengan dirinya. Walaupun sakit hati, Reny tetap menerima keputusan suaminya tanpa melakukan tindakan balas dendam apa pun.

Tak tahu harus mengadu kemana, Reny teringat akan kakak iparnya yang sering dikunjungi oleh teman-temannya. Kepada salah seorang tante yang sering datang mengunjungi kakak iparnya, secara sekilas Reny menceritakan tentang suaminya. Sang tante hanya meminta Reny menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan Tuhan pasti akan tolong. Merasa ada orang lain yang perduli akan permasalahan hidupnya, Reny pun mengambil langkah yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Reny mulai datang untuk beribadah ke gereja.

Saat tiba di tempat ibadah, lantunan lagu yang lembut membuat Reny terhanyut di dalamnya dan tiba-tiba menyentuh lubuk hatinya. Air mata mengucur dengan deras di wajah Reny tanpa dapat dibendung lagi. Reny menangis karena melalui lagu yang didengarnya, ia menyadari bahwa Tuhan mau mengampuni dirinya meskipun ingatan akan pekerjaan yang pernah dilakoninya dulu begitu memenuhi pikirannya. Reny mengingat semua perbuatan dosa yang pernah dilakukannya, bagaimana ia disakiti keluarganya, disakiti orang lain bahkan oleh seseorang yang ia cintai dengan sepenuh hati, Reny benar-benar hancur hati mendengar lagu pujian saat itu. Saat itulah Reny menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Tuhan.

“Tuhan, saya mau masuk hadirat-Mu dengan hati yang sungguh. Di situ saya merasakan damai yang sesungguhnya. Rasanya hati saya seperti disiram, rasanya adem, rasanya enak,” ujar Reny menceritakan awal pertemuannya secara pribadi dengan Tuhan.

Kehidupan Reny lambat laun mengalami perubahan yang berarti. Sampai akhirnya Reny pun mengambil tindakan yang akan memerdekakan hidupnya.

“Saya tadinya tidak bisa mengampuni orang-orang yang sudah menyakiti saya, apalagi orangtua saya suami saya. Lalu teman-teman mendoakan saya, dan dengan mulut saya mengaku di hadapan Tuhan, ‘Tuhan, saya mau mengampuni’. Rasanya ada sesuatu yang tercabut dari hati saya, lega sekali” kisah Reny akan proses saat ia memutuskan untuk mengampuni orang-orang yang telah menyakiti hatinya.

Akhirnya Reny pun mengubur semua masa lalunya yang kelam dan ia memulai lembaran hidupnya yang baru.

“Saat ini tidak ada yang menguasai hidup saya selain Yesus, Tuhan yang saya tahu adalah Juruselamat saya,” tambah Reny.

“Aku tidak perduli dengan masa lalunya mama. Aku menerima mama apa adanya karena aku sayang sama mama,” ujar Rourentsia, putri Reny yang sudah beranjak remaja.

Rasa penyesalan yang mendalam masih tersisa dalam diri Reny karena ia telah meninggalkan anak laki-lakinya dan Reny pun tak kuasa untuk mengungkapkan curahan hatinya. Saat ini yang diinginkan Reny hanyalah dapat bertemu kembali dengan anak laki-lakinya yang terus dirindukannya selama ini.

Sumber Kesaksian:
Reny Agustin (jawaban.com)

Hasrat Terjawab

Apa jadinya bila kita diperhadapkan pada kematian sementara kita sendiri belum siap saat menghadapinya?. Hal inilah yang dialami seorang mahasiswa aktivis demo yang bernama Paskalis. Siapakah Paskalis dan apakah yang ia lakukan dalam masa mudanya?, rekan-rekannya akan menuturkan orang seperti apakah Paskalis itu.

David mengingat bagaimana Paskalis muda menjadi seorang idealis.
Saya mengenal Paskalis ini sejak masa SMA. Dia ini adalah seorang teman yang serius, idealis dan juga kritis. Sejak lama dia senang membaca buku-buku tentang politik. Ditambah lagi dengan lingkungan dan keadaan masyarakat Papua yang semakin membuat dia menjadi orang yang kritis. Inilah yang membuat dia menjadi seotrang yang sangat maju dan menjadi seorang yang sangat idealis.

Robert mengakui energi besar yang dimiliki Paskalis untuk aksi-aksi demo.
Saya mengenal Paskalis sejak kuliah. Dia seringkali mengadakan demo yang ada di kampusnya ataupun di luar kampus. Bahkan kami sering mengikuti demo yang ada di Jakarta ataupun banyak tempat lainnya. Ini hanya untuk demo saja.

Namun Paskalis memiliki tabiat buruk, seperti yang Ferry tuturkan.
Dimulai dari suatu persahabatan, saya melihat dia sering keluar malam dan minum bersama-sama. Dia juga suka mengisap ganja dan kadang membawa cewek malam. Sepertinya itu bentuk rasa frustasinya yang dilampiaskan lewat hal-hal seperti itu.

Itulah hidup Paskalis, disatu pihak dia mencoba menyuarakan aspirasi rakyat banyak, namun di lain pihak dia tidak kuasa menghindarkan dirinya dari tabiat yang buruk. Semua terjadi hingga serangan sakit mendadak menimpanya. Dia terjatuh pingsan saat sedang melakukan pesta minum-minuman bersama rekan-rekannya. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, rekan-rekannya hanya bisa membawa Paskalis pulang ke rumahnya.

Saya merasakan pada waktu itu mulai dari ujung-ujung kuku saya merasakan kram. Kram-nya itu mulai dari bawah dan terus menjalar naik sampai ke bagian kepala saya. Gejala ini juga sampai pada jantung hingga jantung saya rasanya kram. Rasanya sakit sekali sehingga saya merasa kesulitan sekali untuk bernafas.

Dalam keadaan setengah sadar, saya seperti melihat film yang menunjukkan kehidupan saya sebelumnya. Saya melihat kehidupan dunia malam saya, saya melihat kehidupan saya yang tidak bermoral. Saya menjadi frustasi. Kehidupan perkuliahan saya yang mulai kacau balau. Tiba-tiba saya teringat masa kecil saya ketika ibu yang saya sangat sayangi harus pergi karena meninggal dunia. Melihat itu semua saya bertanya : “Apakah saya harus menyusul ibu saya sekarang juga?!”

Diluar kesadarannya, Paskalis mulai teringat akan nasehat ayahnya.
Saya juga mulai mengingat perkataan ayah saya waktu mau melepaskan saya meninggalkan Papua dan pergi ke Jawa untuk berkuliah. Waktu itu ayah saya berkata : “Kamu tahu bahwa ibu kamu telah pergi. Kamu tidak dapat terus mengandalkan harapan kepada bapamu karena bapak juga akan pergi. Kamu hanya bisa menggantungkan harapanmu hanya kepada Dia yaitu Tuhan Yesus Kristus”.

Dalam keadaan tidak sadarkan diri, hati Paskalis berkata-kata pada Tuhan.
Waktu itu saya katakan pada Tuhan : “Tuhan, saya tidak dapat pergi dalam keadaan seperti ini!”. Tiba-tiba ada hasrat yang sangat kuat dalam hati saya untuk mengungkapkan hasrat saya : “Tuhan Yesus, jangan biarkan saya pergi seperti ini!”. Begitu saya mengungkapkan kata ‘Tuhan Yesus’, tiba-tiba saya muntah. Saya tersadar saat itu dan saya berpikir bahwa jamahan Tuhan datang dalam hidup saya dalam keadaan saya yang kritis.

Melalui peristiwa itu, Tuhan telah mengubah hidup Paskalis. Dia telah meninggalkan kehidupan malam dengan segala kebiasaan buruknya dan kembali bergairah untuk melanjutkan studinya.

Saya mulai menjalani hari-hari hidup saya dengan sukacita yang baru yang belum pernah saya alami dalam kehidupan lama saya. Saya kini punya arah hidup yang jelas serta kepastian hidup yang jelas. Saya sadar bahwa arti hidup saya ini hanya bisa saya dapat dalam Tuhan Yesus. Saya mulai sadar bahwa hanya Dia saja yang dapat memenuhi hasrat-hasrat saya.

Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali. (Mazmur 103:2-5)

Sumber Kesaksian: Paskalis (jawaban.com)

Samuel Mulia Tinggalkan Seks Bebas, Tapi Tetap Gay

KOMPAS.com – Samuel Mulia, brand consultant untuk media dan penulis bidang lifestyle di surat kabar dan majalah, mengaku dirinya gay.  Akunya pula, ia sempat menjalani seks bebas dengan banyak lelaki.

Pria berumur 46 tahun ini memang memiliki penampilan yang berbeda dengan kebanyakan laki-laki. Ia berani mengenakan rompi dengan detail bunga-bunga. Cara berjalan dan berbicaranya pun tidak seperti umumnya lelaki.

Hal itu tak jarang membuat orang-orang menoleh kepada pria yang dipanggil akrab Sam ini. “Biarin aja pada mau ngeliatin. Emangnya kenapa? Saya emang ngondek (keperempuan-perempuanan). Tapi, kan saya enggak pakai baju perempuan atau make-up,” kata Sam enteng ketika ditemui di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat.

Dengan santai ia menuturkan bahwa dirinya pencinta sesama jenis atau gay. “Yes, I’m gay. Kenapa harus malu mengakui itu? Kalau ‘sakit’, kenapa harus ditutupi?” katanya lagi.

Sejak SMU
Sejak kecil, Sam merasa berbeda dengan anak lelaki lainnya. Ia tidak bisa memainkan permainan anak laki-laki, seperti sepakbola, layang-layang atau kelereng. Ia juga merasa lebih nyaman bergaul dengan anak perempuan. “Dulu, waktu SMP, ada pelajaran prakarya, saya disuruh gergaji tripleks, tapi  enggak bisa. Main bola juga enggak bisa, tapi lucunya dulu teman-teman saya kalau mau main bola pasti ngajak saya,” kenang lulusan Universitas Udayana ini.

Gaya yang berbeda dengan anak laki-laki lainnya menjadikannya bahan ejekan teman-temannya. Tapi, ia tidak pernah ambil pusing.

Ia baru menyadari bahwa ia benar-benar berbeda sewaktu duduk di bangku SMU. “Agak telat sih.  Tapi, pas SMU itu, pertama kalinya saya suka kepada pria. Dia itu tinggi putih, mukanya ganteng banget. Enggak pernah bosan saya, kalau lihat dia,” ceritanya sambil tersenyum. Namun, Sam hanya memendam perasaan tersebut dan berdoa agar perasaan itu hilang.

Selama kuliah, di fakultas kedokteran, ia makin menyukai laki-laki. Tapi, lagi-lagi, ia hanya mampu menyimpan perasaan tersebut. Setelah lulus kuliah, ia mencoba peruntungannya di Perancis. Selama beberapa tahun di sana, ia bertahan tanpa pasangan. “Pulang dari Perancis saya masih jomblo, dicium saja belum pernah,” kenangnya lagi.

Terjerumus ke seks bebas
Lima tahun bekerja di sebuah media di Jakarta, Sam merasa kesepian. Atas saran seorang teman, ia mencoba untuk chatting. “Tadinya, saya merasa sendiri. Setelah ketemu dengan teman-teman baru dari internet, saya merasa lebih hidup,” ujarnya.

Dengan bergaul di internet, Sam juga berubah menjadi orang yang berani menyatakan perasaannya kepada sesama jenis dan, bahkan, menjalani seks bebas dengan banyak pria. “Saya enggak peduli dengan siapa saya melakukan itu. Kalau saya lagi mau, ya siapa aja ayo,” kisahnya sambil terkekeh. Ketika berhubungan seks, ia berperan sebagai perempuan.

Sam lebih menyukai lelaki Asia atau pria kulit hitam. Di matanya, mereka lebih seksi. “Saya kurang suka bule,” tegasnya. “Dulu pacar-pacar saya juga ada yang punya istri. Enggak tahu kenapa, mereka takluk oleh saya,” imbuhnya.

Sam berkecimpung di dunia hitam itu seakan tanpa beban. Setelah ia membuat pengakuan kepada ayahnya mengenai kelainan orientasi seksualnya tersebut, langkahnya makin ringan dan rasa berdosanya hanya muncul sekilas. “Reaksi ayah saya, tidak marah. Ia hanya mengatakan, kalau saya senang,  ayah saya juga senang,” kisahnya.

Tinggalkan seks bebas
Namun, Sam masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Awal 2005 ia mengalami gagal ginjal. Setelah beberapa bulan menjalani cuci darah di Jakarta, ia mendapat cangkok ginjal di salah satu rumah sakit di Goang Cho, China.

Sejak itu, ia bertobat, tidak lagi menjalani seks bebas, meskipun tetap gay. “Memang, kalau ada cowok ganteng, saya masih suka ngeliatin. Tapi, setelah itu, ya udah, biasa lagi. Kalau dulu, ada laki-laki yang saya suka, pasti akan saya kejar sampai dapat, enggak peduli siapa dia,” tuturnya.

“Saya sangat beruntung tidak terkena penyakit apapun (HIV/AIDS), padahal saya tidak pernah menggunakan pengaman saat berhubungan seks. Sekarang sudah lima tahun saya enggak pernah berhubungan badan lagi. Saya enggak mau, tiba-tiba pas lagi berhubungan, Tuhan mencabut nyawa saya,” tambah Sam, yang banyak beribadah serta siap dan pasrah menghadapi kematian. (RDI)

Kisah Nyata dan Kesaksian mantan Pelacur dan Bintang Film Porno

film porno
shelley lubben

Saya lahir tahun 1968, dan tumbuh di California selatan. Saya adalah yang tertua daritiga bersaudara, seorang anak berkemauan keras dengan kepribadian yang “bersemangat”. 8 tahun pertama dalam hidup saya, keluarga saya menghadiri gereja yang baik di mana saya belajar tentang Tuhan dan Yesus.

Sebagai seorang gadis kecil, saya mengenal dan sangat mengasihi Yesus. Ketika saya berumur 9 tahun, banyak hal berubah di dalam keluarga kami. Kami pindah ke Glendora, meninggalkan gereja dan sahabat-sahabat yang kami kenal dan cintai. Kedua orang tua saya berhenti menghadiri gereja, dan perlahan-lahan keluarga kami terseret menjauh dari Tuhan dan dari satu sama lain.

Saya tumbuh tanpa hubungan yang berarti dan intim dengan kedua orang tua saya, meskipun mereka bukan orang tua yang jahat. Banyak dari waktu dalam keluarga kami, kami habiskan duduk di depan televisi. Keluarga kami SANGAT SUKA menonton televisi. Saya masih ingat kebanyakan episode dari televisi tahun 70 dan 80an. The Love Boat, Three’s Company, Star Trek,Twilight Zone, Chips, I love Lucy (favorit kami), The Munsters, Carol Burnett show,Gilligan’s Island, Bewitched, Bonanza, dan Happy Days. Singkatnya, saya dibesarkan oleh televisi dan mulai mengembangkan cara berpikir yang salah dan berbahaya.

Ibu saya sering berkata bahwa, televisi adalah sebuah pengasuh bayi yang hebat. Saat bertumbuh, saya berbeda dari anak-anak lain. Saya benar-benar kreatif, dan pada usia yang sangat muda saya sudah mulai menulis puisi dan cerita pendek. Waktu itu saya sangat frustrasi karena saya tidak memiliki tempat untuk mengarahkan energi kreatif saya. Orang tua saya tidak mendaftarkan saya ke dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan dalam kebanyakan waktu saya, saya merasa sangat bosan. Pada umur 6 tahun, saya menulis, menyutradarai, dan “membintangi” drama sekolah saya.

Guru kelas satu saya melihat kreativitas dalam diri saya. Dia memberitahu ibu saya bahwa dia terkagum-kagum dengan bakat saya, dan dia tidak sabar melihat saya di usia saya yang ke-30. Diapercaya saya bisa menjadi artis Hollywood atau produser film. Saya ingat juga waktu itu saya seorang yang aneh, karena saya mulai masturbasi dan memiliki tendensi seksual pada usia yang sangat muda. Mata saya dibukakan terhadap seksualitas oleh seorang gadis remaja dan saudara laki-lakinya ketika umur saya 9 tahun, dan mulai saat itu mengalami perlakuan seksual dengan perempuan dan laki-laki sebelum saya berumur 18 tahun.

Seks menjadi sesuatu yang membingungkan untuk saya. Seks berarti “cinta” untuk saya karena enak rasanya, merasa dibutuhkan dan diingini oleh orang lain dan menerima perhatian, tapi pada saat yang sama saya merasa kotor. Saya tidak sadar pada saat itu, sebagai seorang anak kecil, saya sedang diperkosa secara seksual. Sebagai seorang remaja, saya mencari cinta dari laki-laki dan alkohol, dan mulai berhubungan seks di usia 16 tahun.

Usia remaja saya dipenuhi dengan teriakan-teriakan dan pertengkaran yang konstan dengan kedua orang tua saya. Saya punya seorang ibu yang marah pada saya sepanjang waktu, dan seorang ayah yang terlihat terlalu sibuk berteriak menegur saya karena sikap saya yang tidak sopan terhadap ibu saya, dibanding membangun hubungan ayah-anak yang berkualitas dengan saya.

Aku tidak ingat seorangpun mengatakan “aku mengasihimu” dalam tahun-tahun itu. Kedua orang tuaku tidaklah jahat, tapi aku merasa mereka tidak tertarik denganku, dan aku menjadi seorang remaja pemberontak yang bertingkah aneh untuk mendapat perhatian. Tapi bukannya mendapat perhatian mereka, orang tuaku malah memilih tinggal diam di rumah.

Begitu apatisnya mereka, saya diperbolehkan melakukan hal-hal seperti berpakaian kostum kelinci playboy pada usia 15 tahun. Saya diperbolehkan mengencani pria-pria yang mereka tidak kenali. Pada usia 15 tahun saya diperbolehkan pergi ke sebuah malam prom dengan seorang laki-laki berumur 18 tahun, yang akhirnya membuat saya mabuk untuk pertama kalinya.

Kejadian ini memulai gaya hidup berpesta untuk saya, dan saya memulai nongkrong di klub malam, menggunakan narkotika, di usia 16 tahun. Orangtua saya tahu saya punya masalah alkohol, tapi mereka tidak tahu apa yang harusmereka perbuat. Mereka mencoba konseling keluarga, tapi ayah terlalu “sibuk” bekerja dan hanya berhasil datang satu kali. Jadi saya pergi mencari keluarga baru dan menemukan “cinta” di kerumunan yang salah, minum alkohol dengan dosis yangteratur, dan mulai merokok ganja. Orang tuaku melalui kesedihan yang dalam karena tindakan-tindakanku, dan akhirnya – di batas kesabaran mereka – mengusir saya darirumah di usia saya yang ke-18.

Saya berakhir di San Fernando Valley tanpa uang dan makanan. Seorang pria “baik”melihat saya kesulitan dan mengatakan betapa dia mengasihani saya. Dia melingkarkan lengannya di sekeliling saya dan menawarkan bantuan. Tapi kemudian dia mengatakan pada saya dia mengenal seorang pria yang ingin berhubungan seks dengan saya danakan memberi saya uang. Saya masih sangat terkejut dan penuh kemarahan karena orang tua saya mengusir dari rumah, sehingga saya tidak peduli lagi dan menerima tawarannya. Saya menjual diri seharga 35 dollar dan hidup saya sebagai pelacur dimulai dari situ.

Tidak lama aku bertemu seorang ibu yang memperkenalkanku pada sisi “glamour” dari pelacuran. Dia mengajariku setiap trik pelacuran dan cara memanipulasi pria. Awalnya terlihat menarik dengan pria-pria memberiku uang, perhiasan, dan hadiah-hadiah, tapi tidak lama hidup saya terasa seperti perbudakan. Saya menemukan diri saya melakukan seks yang aneh dengan orang asing dan mulai membencinya. Pelanggan mulai melakukan hal-hal menyeramkan seperti menyobek kondom dengan sengaja atau mengikuti saya kemana-mana. Lainnya mencoba membunuh saya dan menabrak saya dengan truknya. Pria lain membawa pistol kapanpun ia bersama saya dan mengancamakan membunuh saya kalau saya tidak melayaninya dalam posisi-posisi seks tertentu.

Pria-pria menuntut dan terus meminta dari saya dan saya terus menerus mesti berbohong untuk keluar dari situasi-situasi yang menakutkan. Saya menjadi seorang pembohong professional dan dapat benar-benar berbohong untuk melicinkan jalan saya. Saya bahkan bisa berbohong pada polisi untuk keluar dari tuntutan mengemudi mabuk, dan beberapa pengalaman mengerikan lainnya. Ini adalah standar untuk industri seks dan alat meloloskan diri paling utama untuk setiap penari telanjang, pelacur, atau artisporno.

Gaya hidup dalam industri seks menjadi semakin buruk bagi saya dan saya merasa tidak ada jalan kemanapun untuk lari. Yesus terus mengetuk pintu hati saya tapi saya tidak menghiraukan-Nya. Saya berpikir, Tuhan tidak memelihara saya, jadi saya harus melakukan apa saja yang bisa saya lakukan untuk bertahan hidup sendiri. Siklus ganas sebagai seorang pelacur dan penari eksotik di California selatan bertahan selama delapan tahun. Selama bekerja sebagai pelacur, saya hamil tiga kali dari pelanggan dan hal itu menghancurkan saya. Jutaan pertanyaan muncul dalam pikiran saya setiap kali. Bagaimana saya membiarkan hal ini terjadi? Bagaimana saya akan merawat bayi ini? Haruskah saya aborsi? Kemana saya harus mencari bantuan? Saya bahkan tidak tahu siapa ayah-ayah dari dua kehamilan. Kemudian saya mengingat Yesus dan saya meminta-Nya, “Tolong saya”. Tuhan menghibur saya dan saya tahu saya tidak bisa membunuh dan akhirnya saya menjaga bayi saya. Dua dari kehamilan itu gugur karena tidak terawat, tapi salah satunya berhasil dan saya punya putri pertama saya, Tiffany, di usia saya yang ke-20. Tiffany memiliki darah Asia dan sangatlah cantik. Saya mencoba kembali untuk hanya melakukan tari eksotik, tapi pelacuran terus menghantui saya dan godaannya sulit untuk ditolak, apalagi untuk seorang orang tua tunggal.

Setelah beberapa tahun membesarkan anak seorang diri dan bekerja sebagai seorang pelacur dan penari, saya mulai minum alkohol secara berlebihan dan mulai bergantung pada alkohol dan narkotika. Tiffany tumbuh sebagai seorang gadis kecil yang sedih, dan kepolosannya terkadang dinodai. Ketika dia tumbuh semakin besar, dia sadar akan keberadaan pria-pria aneh yang “mengunjungi” saya dan memarahi saya. Saya memaksanya bersembunyi di kamarnya sementara saya “menghibur” pelanggan. Dia juga melihat saya dengan hubungan yang “aneh” dengan wanita-wanita. Dia tidak benar-benar mengerti semua itu, tapi jelas dia tahu bahwa dia hidup dengan seorang perempuan liar yang cabul. Ketika itu saya merupakan seorang ibu yang buruk, saya biasa memberinya pager dan menyuruhnya pergi ke taman sementara saya melacur. Umurnya baru empat tahun.

Saya mulai melihat diri saya sendiri sebagai sebuah kegagalan total. Saya kehilangan semua harga diri dan membenci diri saya sendiri sebagai seorang ibu yang buruk. Saya sangat lelah selalu mencoba untuk bertahan hidup. Tidak pernah ada istirahat dari gaya hidup itu. Pria-pria mengikuti saya pulang, menyayat ban mobil saya, menelepon saya setiap saat, datang mabuk di tengah malam, dan bahkan mencoba membunuh saya. Untuk bisa berfungsi, saya selalu bergantung pada sebotol besar Jack Daniels di tangan. Kadang saya akan duduk di sudut dengan botol saya dan dalam keadaan mabuk total menangis pada Yesus, “Saya mohon, tolong saya!”, tapi sepertinya Dia tidak ada disana. Entah mengapa saya selalu merasa ada “perlindungan” aneh di sekeliling saya. Seiring dengan perjalanan menyakitkan saya berlanjut, saya mulai terlibat dalam industri film porno. Saya pikir saya bisa mendapat uang yang mudah dan cepat, juga film porno terlihat lebih aman dan legal dibanding pelacuran. Banyak pelacur yang saya kenal diperkosa dan dikirim ke penjara, dan saya tidak mau hal itu terjadi pada saya. Juga dalam waktu itu, saya benar-benar seorang pecandu berat alkohol dan narkotika dan tidak mampu mengambil keputusan yang rasional.

Ketika saya membuat film porno saya yang pertama, sesuatu yang sangat “gelap”datang pada saya. Saya hampir bisa mendengar iblis berkata, “Lihat Shelley, aku akan membuat kamu terkenal dan KEMUDIAN semua orang akan mencintai kamu.” Sebuah kekuatan aneh yang sangat besar membuat saya mampu berhubungan seks dengan penuh semangat, hanya untuk kemudian ‘jatuh dari ketinggian’ dan hancur, merasa dipermalukan dan dilecehkan. Saya menyukai perhatiannya, tapi membenci diri sayasendiri dalam saat yang sama. Saya suka mendengar betapa hebatnya saya ‘tampil’, tapi saya juga benci seks yang begitu brutal. Saya mulai membintangi film-film seks yang lebih brutal, dan hanya dengan menggunakan lebih banyak alkohol dan narkotika sayaberhasil melakukannya. Saya merasa seperti saya harus membuktikan sesuatu pada dunia dan semua orang yang pernah menyakiti saya. Dan ketika industri pornografi membuka lengan besar mereka dan mengundang saya ke dalam sebuah “keluarga”, akhirnya saya merasa diterima. Tapi harga yang saya bayar untuk “keanggotaan”keluarga itu adalah hidup saya sendiri. Saya menjual apa yang tersisa dari hati, pikiran,dan femininitas saya pada industri pornografi, dan wanita dan sisi manusia dari saya mati sepenuhnya dalam studio pornografi.

Saya juga berisiko terinfeksi vírus AIDS seperti bintang porno lainnya. Saya bermain-main dan mempertaruhkan hidup saya dalam bahaya. Industri pornografi tidak danTIDAK AKAN PERNAH mendukung penggunaan kontrasepsi dalam film-filmnya, jadi penyakit menular seksual dan HIV sejak dulu masih merupakan resiko antara artis dan aktor film porno. Bulan Mei 2004, Lembaga Medis Industri Pornografi (Adult IndustryMedical Foundation – AIM), yang menawarkan tes sukarela bulanan untuk bintangporno bagi HIV, mengumumkan bahwa lima “aktor” pornografi telah diperiksa positifatas virus AIDS. Saya lebih beruntung dari aktor-aktor itu. Tuhan tidak mengijinkan HIV menjamah saya. Bagaimanapun, saya terjangkit herpes, penyakit menular seksuallainnya yang tidak dapat disembuhkan. Saya ingin bunuh diri. Waktu saya mendapat herpes, tidak ada yang menolong saya. Tapi sejak AIM terjun ke lapangan, organisasi ini mengklaim telah menurunkan beberapa penyebaran HIV di industri pornografi dan meningkatkan kewaspadaan di antara para pelaku film. Tapi kebenaran itu tetap tinggal, aktor porno terus membahayakan hidup mereka dan menyebarkan penyakir. Dalam sebuah wawancara dari Court TV dengan penemu AIM, Sharon Mitchell, juga seorang mantan artis porno, mengakui bahwa di antara aktor porno dewasa ini terdapat “7%HIV, dan 12-28% penyakit menular seksual. Herpes selalu berada di sekitar 66%.

Mereka diobati dengan acyclovir untuk herpes, yang sangat efektif untuk mencegah penularan herpes. Chlamydia dan gonorrhea, akan tetapi, seperti hepatitis, sepertinya menempel pada segala sesuatu mulai dari dildo ke permukaan rata sampai tangan, jadi biasanya kami sudah habis akal menangani Chlamydia.” Itu merupakan kata-katanya sendiri dan wawancaranya dapat ditemukan di http://www.courttv.com/talk/chat_transcripts/2001/0723mitchell.html

Tidak ada yang lebih menghancurkan dari menerima hasil positif untuk sebuahpenyakit menular seksual yang tidak dapat disembuhkan. Waktu itu aku ingin mengakhiri hidupku. Saya menelan banyak pil-pil berharap saya overdosis, dan mengiris pergelangan tangan saya, tapi tampaknya apapun yang saya lakukan, saya tidak bisa mati. Rasa sakit itu benar-benar membanjiri, dan suasana hati saya benar-benar tidak stabil. Satu menit saya berjalan seperti mayat hidup dan menit berikutnya saya marah besar, berteriak dan memecahkan barang-barang. Saya marah terhadap Tuhan, membenci diri saya sendiri dan orang tua saya. Hanya alkohol dan narkotika dapat meringankan rasa sakit saya.

Saya memanggil Yesus untuk menolong saya dan mencoba meninggalkan pola hidup saya yang berantakan, tapi tidak sampai seminggu saya sudah kembali lagi. Saya kehilangan semua harapan dan membenci hidup saya. Saya benar-benar tanpa harapan, dan hidup benar-benar tanpa arti. Setelah terinfeksi dengan herpes, perlahan-lahan saya meninggalkan industri pornografi tapi kembali melacur untuk tetap hidup.Tahun 1994 saya bertemu seorang pria bernama Garrett. Seorang pria berusia 22 tahundan begitu polos dibandingkan dengan saya. Saya memberitahunya ia harus membayaruntuk mengencani saya. Ia berpura-pura membutuhkan “pelayanan” saya untuk sebuah pesta bujangan jadi saya memberinya kartu nama. Ia sering menelpon saya tapi saya terus berkata tidak. Saya tidak mampu memulai hubungan normal karena hati saya benar-benar hitam dan dingin terhadap semua laki-laki.

Namun kemudian, karena alasan-alasan Tuhan, saya mengubah pikiranku dan pergi bersamanya. Dengan cepat kami menjadi sahabat. Ketika saya menghabiskan waktu bersama-sama, hati saya yang hitam dan terluka mulai bisa merasakan lagi. Saya ingat benar-benar merasakan rasa sakit secara fisik di hati saya ketika Garrett mencoba mendekati saya. (Lihat akhir film kartun Grinch ketika hatinya mulai tumbuh, dan seperti itulah saya.)

Saya mencoba menjaga hubungan kami tetap jauh, tapi sulit karena Garrett membuat saya merasa seperti gadis kecil lagi. Dia akan datang ke rumah dan kami akan merokok ganja bersama dan bermain catur dan kartu selama berjam-jam. Waktu itu kami seperti dua anak kecil sedang bersenang-senang. Saya tidak pernah merasa “senang” sejak masa kecil saya.

Garrett dan saya bisa membicarakan apa saja, dan satu hari kami membicarakan Yesus. Kami berdua tumbuh sebagai anak-anak yang mengasihi dan mengenal Yesus Kristus. Saya belajar bahwa Garrett tumbuh di sebuah keluarga Kristen dan dibesarkan dididik di sekolah Kristen. Untuk dua orang yang bertemu di bar, ini adalah sebuah “kebetulan” yang luar biasa. Saya membuka hati tentang trauma yang saya alami, dan ia mendengarkan dan ada bagi saya. Ia tahu saya pernah terlibat dalam industri pornografi dan pelacuran, tapi dia benar-benar bersedih bagi saya. Ia berkata ia mau menyelamatkan saya. Saya tidak pernah bertemu pria seperti Garrett. Ia melihat sesuatu dalam diri saya yang tidak dilihat orang lain. Ia seorang sahabat bagi pelacur, seperti Yesus. Kami tahu Tuhan sedang bekerja dalam hidup kami, jadi kami kembali kepada Yesus dan menikah tanggal 14 Februari 1995.

Hidup baru kami dimulai sebagai kekacauan besar. Garrett kehilangan pekerjaannya setelah kami menikah karena ia tertangkap basah menggunakan narkotika di tempat kerja. Kami harus pergi ke departemen sosial dan menerima bantuan finansial. Semua menjadi semakin buruk dan godaan untuk saya kembali ke gaya hidup yang lama benar-benar menggoyahkan. Tapi Tuhan punya ide yang lebih baik. Garrett bergabung dengan angkatan bersenjata.

Setelah pelatihan dasar, Garrett kembali sebagai pria yang baru, bebas dari ketergantungan narkotika dan akan dipromosikan ke basis militer Fort Lewis di Negara bagian Washington. Saya hamil dan melahirkan Teresa di tahun 1997. Saya bisa lepas dari alkohol selama hamil tapi segera kembali setelahnya.

Setiap kali saya menggendong bayi baru saya, saya teringat kembali betapa tertolaknyasaya oleh orang tua saya dan semua pria dan wanita yang telah melecehkan saya. Tuhan membangkitkan memori itu agar Ia dapat menyembuhkan saya, tapi bagi saya rasa sakit itu tidak tertahankan. Akhirnya saya lari kembali ke alkohol. Tapi rasa sakit itu menjadi semakin buruk sehingga saya pergi mencari pertolongan ke klinik kesehatan mental militer dan di-diagnosis mengidap bipolar disorder, kesalahan pada pengaturan detak jantung, ketergantungan alkohol, depresi, dan stress pos-traumatik. Saya diberikan zoloft, pil tidur, lithium dan waktu konseling. Saya diberikan video untuk melatih saya mengontrol kemarahan saya, yang malah membuat saya semakin marah ketika menontonnya! Saya sudah melalui program-program inti dari angkatan bersenjata tapi tetap ketergantungan saya tidak hilang. Saya juga didiagnosis mengidap kanker tengkukyang harus segera dioperasi. Konsekuensi masa lalu saya mengejar-ngejar saya. Saya ingin menyerah saja. Tidak ada yang berhasil!! Tapi Tuhan punya rencana yang lebih baik.

Tuhan memimpin Garrett dan saya menghadiri sebuah gereja luar biasa bernama Champions Centre di Tacoma, Washington di mana kami diajar menjalani hidup seperti seorang pemenang. Gereja ini dikenal karena membangun hidup berkemenangan melalui kebijaksanaan Firman Allah. Saya diajar untuk hidup dengan percaya, bahwa saya dapat melalui APA SAJA karena dengan Tuhan TIADA YANG MUSTAHIL. Bersama Tuhan, saya sudah diampuni total dari segala dosa saya dan diberi kesempatan untuk bertumbuh menjadi seseorang yang baru tanpa harus menjadi sempurna dulu. Benar-benar melegakan! Saya belajar bahwa Tuhan mengasihi saya tanpa syarat, tidak peduli masa lalu saya, dan bahkan Ia punya rencana untuk masa depan saya. Tuhan punya rencana untuk hidup saya? Saat itu saya merasa seolah-olah seseorang telah menyalakan lampu di hidup saya yang selama ini gelap.

Di bulan November, 1999, saya melahirkan Abigail, dan meskipun saya minum alkohol selama kehamilan saya, Tuhan membiarkannya hidup. Setelah ia lahir, Tuhan AKHIRNYA menjawab doa-doaku dan mengangkat ketergantunganku terhadap alkohol. Saya bersih tanggal 9 April 2000, dan itu adalah waktu yang sangat spesial bagihidup saya. Saya mulai lapar untuk mengenal Tuhan lebih lagi, dan giat belajar bagaimana menjadi wanita yang “normal”. Saya mulai membaca buku tentang bagaimana menjadi ibu dan istri yang baik, dan bagaimana memasak dan mengurus rumah saya. Saya memperhatikan wanita-wanita lain bagaimana mereka mencuci pakaian, bagaimana mereka berpakaian, dan bagaimana mereka berbicara terhadap suami dan anak-anak mereka. Bertahun-tahun saya memasang telinga KEMANA SAJA.

Saya bisa berdiri di bagian penjualan daging di sebuah super market dan mendengarkan ibu di dekat saya menjelaskan bagaimana membuat daging panggang, dan langsung pulang ke rumah dan mencobanya! Sering saya berlama-lama di super market hanya untuk belajar!! Harfiahnya, saya mungkin punya lebih dari 100 mentor yang saya sendiri bahkan tidak tahu betapa mereka telah membantu saya. Saya harus mengulang SEMUANYA dari nol dan belajar bagaimana menjadi seorang normal yang hidup di lingkungan normal, jadi saya mengelilingi diri saya dengan orang-orang unggul untuk belajar dari mereka.

Saya juga mempraktekkan prinsip-prinsip Allah dalam segala sesuatu yang saya lakukan dan saya mulai merasakan sukacita sejati untuk pertama kali dalam 13 tahun terakhir!! Tuhan juga membantu saya belajar mendesain web, membuat saya merasa berhasil dan dapat menggunakan kreativitas saya. Saya sudah memiliki dan mengoperasikan bisnis desain web saya selama 4 tahun. Saya juga mulai menghadiri universitas, dan sekarang saya hampir menjadi seorang sarjana muda Teologia.

Karena saya memilih mengikuti Dia segenap hati, Dia memberkati segala sesuatu yang saya sentuh tepat seperti yang dijanjikan-Nya dalam firman Yohanes 13:17, “Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.”

Setelah hari pertama saya melangkahkan kaki saya ke Champion center dengan hati yang luka dan hidup yang berantakan, delapan tahun kemudian saya berjalan keluar sebagai seorang wanita pemenang (champion) yang disembuhkan dan bersemangat akan hidup saya! Tuhan secara total melepaskan saya dari narkotika, alkohol, memori yang sakit, penyakit mental, kecanduan seks, trauma seksual, dan rasa bersalah dan rasa malu dari masa lalu saya. Tuhan mengambil saya keluar dari hidup saya yang lama, menawarkan sebuah hidup baru, dan meskipun pada awalnya saya tidak bisa melihatnya, saya menyerahkan hidup saya dan mempercayai-Nya. Itu adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil!

Tuhan juga memulihkan kewanitaan saya dan menyembuhkan seksualitas saya, yang merupakan suatu mukjizat besar bagi saya. Setelah melacur dan terjun ke dalam dunia pornografi, saya kehilangan fungsi saya secara seksual. Fakta bahwa saya dapat menikmati hubungan intim yang sehat sekarang ini, nyata merupakan sebuah mukjizat. Tuhan juga menyembuhkan saya dari penyakit herpes yang menurut manusia tidak dapat disembuhkan. Waktu saya menjadi objek pembelajaran angkatan bersenjata untuk wanita hamil yang menderita herpes pada tahun 1996, saya diperiksa dan mereka berkata saya tidak bisa ikut dalam program itu, karena tidak ada virus herpes dalam darah saya. Hasil tesnya negatif! Saya juga bebas dari kanker karena dokter-dokterberhasil membuang semua kanker tengkuk saya. Dialah Jehovah-Rapha, Allah yang menyembuhkan kita!

Tuhan juga menyembuhkan pernikahan kami dengan cara yang luar biasa. Garrett dan saya memiliki hubungan cinta yang indah dan penuh warna! Baca cerita kami yang LUAR BIASA di sini. Tuhan telah melakukan lebih banyak mukjizat lagi di dalam keluarga saya sendiri. Garrett memiliki pekerjaan yang hebat sehingga saya bisa tinggal di rumah, menjadi ibuyang baik, juga melakukan pelayanan. Tiga putri-putri pemenang kami dibesarkan dengan iman dan kasih terhadap Yesus Kristus, dan mereka menghadiri sekolah Kristen. Tiffany, putri saya yang paling tua, yang sekarang berumur 18 tahun, telah mengampuni saya dan memberi saya kesempatan menjadi ibu yang bijak baginya. Ia telah melewati banyak hal dalam hidupnya dan sekarang membagikan kesaksiannya dengan banyak orang untuk menginspirasi dan menguatkan mereka. Saya SANGAT bersyukur saya tidak melakukan aborsi, karena Tiffany adalah seorang wanita yang cantik dan brilian yang punya begitu banyak talenta dalam hidupnya. Ia sangat berbakat secara musikal dan dapat memainkan beberapa instrumen. Tiffany juga merasa Tuhan memanggilnya untuk menjangkau kaum muda yang terluka dan akan memimpin forum remaja di situ-sini. Kerinduannya adalah masuk universitas dan mengambil gelar dalam bidang konseling, jadi ia dapat menggunakan pengalaman masa lalu dan pendidikannya untuk menjangkau kaum muda di tengah kesulitan mereka.

Seperti Anda lihat, Bapa sudah bekerja begitu luar biasa dalam hidup saya dalam dua belas tahun terakhir. Saya memang harus melewati delapan tahun pemulihan. Saya harus membuat pilihan memulai kembali hidup saya dan percaya apa yang Tuhan katakan pada saya, bukan kebohongan-kebohongan dari iblis atau kebohongan tentang gambar diri saya yang sudah rusak. Tuhan menjadi Bapa sejati saya, dan Dia mengajar saya bagaimana mengasihi, mengampuni, dan memiliki gambar diri saya di dalam Dia, bukan masa lalu saya. Saya juga belajar bagaimana memiliki hidup yang sukses dengan mempraktekkan prinsip-prinsip Tuhan dalam segala sesuatu. Apapun yang Firman Tuhan katakan, itu pasti bagi saya. Saya menjadi ciptaan yang baru dan kuat melalui kuasa Yesus Kristus, Pemenang sejati yang sudah mengubah hidup saya!Tuhan sekarang mengirim saya dengan sebuah pesan pada dunia betapa riil-nya kasih-Nya yang luar biasa itu. Bagaimana Ia sudah menciptakan setiap kita serupa dengan gambarnya, dan betapa kita begitu dikasihi dan diterima.

Bagaimana Ia mengirim Anak-Nya Yesus Kristus untuk membebaskan kita dari narkotika, alkohol, keterikatan seksual, penolakan, dan semua kebohongan iblis. Saya bangga menunjukkan pada dunia, bahwa YA, Tuhan mengambil seorang bintang porno dan pelacur dan menjadikannya Pemenang. Tuhan adalah Bapa terbaik, dan Ia ingin semua anak-anak-Nya menemukan jalan pulang kepada-Nya supaya Ia dapat menyembuhkan mereka dan menjadikan mereka Pemenang-pemenang. Tapi pilihannya ada di tangan ANDA.

Saya juga ingin semua orang tahu bahwa apapun yang Tuhan lakukan bagi saya, Ia akan melakukannya bagi Anda. Dan Ia akan melakukan ini karena Ia MENGASIHI Anda dan mengirimkan anak-Nya Yesus Kristus untuk memberimu hidup yang baru. Yang perlu kita lakukan adalah datang pada Yesus dan belajar dari-Nya.

Matius 11:28 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Inginkah Anda memiliki ketenangan dalam jiwa Anda? Saya ingin. Dulu saya sakit dan lelah diombang-ambingkan hidup. Saya lelah harus bertarung untuk hidup setiap hari. Saya hanya ingin merasakan damai dan menemukan kasih sejati tapi dunia tidak bisa memberi itu bagi saya. Saya sudah mencari kasih dalam laki-laki, benda material, ketenaran dan kekayaan, dalam narkotika dan alkohol dan saya MASIH KOSONG. Yang saya inginkan dulu hanyalah kehidupan yang normal. Sampai saya menemukan kebenaran:
Yesus datang untuk memberimu hidup dalam segala kelimpahannya (Yohanes 10:10). Dan tentu saja, SAYA AKHIRNYA menemukan kehidupan yang selalu saya inginkan. Mengapa Anda tidak menaruh kepercayaan Anda pada Tuhan dan Anak-Nya Yesus Kristus, dan segera mengalami hidup berkelimpahan itu? Mungkin tidak akan terjadi dalam satu-dua hari, tapi saya berjanji, itu PASTI terjadi. Saya tahu karena hal ini terjadi bagi saya. Sayalah bukti hidup bahwa Tuhan itu ada, bahwa Ia mengasihi ANDA tidak peduli apa yang sudah Anda lakukan, dan Ia punya rencana yang sempurna dan tujuan bagi hidup Anda.

Klik disini untuk mempelajari lebih lagi tentang Tuhan dan kasih-Nya yang luar biasauntuk Anda. Shelley, seorang sahabat yang mendukung anda.

Secara pribadi saya ingin mengucapkan “Terima Kasih” untuk begitu banyak orang yang telah membantu pemulihan saya:

• Pastor Kevin dan Sheila Gerald di www.championscentre.com – Untuk mengajari saya kebijaksanaan dan menjadi seorang pemenang dalam hidup. Dapatkan pengajaran mereka yang luar biasa di www.kgcmedia.com.

• Patricia dan Argis Hulsey – Untuk mempercayai saya, mendukung saya, dan kesempatan yang kalian berikan untuk mulai melayani di penjara. Mereka juga dua orang tua “spiritual” terbaik yang dapat saya miliki.

• Nuggie Lubben – Untuk sudah menjadi seorang ibu mertua yang luar biasa. Ia mengajar saya bagaimana menjadi ibu yang hebat dan semuanya, mulai dari mencuci pakaian, menyetrika, sampai berkebun! Terima kasih, Mama!

• Kedua orang tuaku – Untuk mengasihi saya dan mengizinkan saya membagi cerita “kita” dengan dunia. Terima kasih sudah mengampuni saya dan memberi saya kesempatan kedua menjadi putri kalian. Saya mengasihi kalian, Mama dan Papa!

• Saudara laki-laki saya Chris – Untuk mengampuni saya dan memberi saya kesempatan menjadi seorang saudara perempuan yang benar, yang selalu saya rindukan. Kamu memiliki hati yang luar biasa dan roh yang indah. Saya ingin terus bekerja denganmu dan sesama pekerja lainnya dalam Kerajaan Allah. Saya mengasihimu Chris.

• Saudara perempuan saya Stacy – Untuk mendoakan saya bahkan ketika saya tidak layak menerimanya. Saya tahu waktu-waktu lalu tidaklah mudah. Saya mengasihimu! Saya juga berdoa Tuhan akan terus memulihkan hubungan kita menurut kehendak-Nya.

• Nenekku yang berketurunan Italia, Nonnie – Yang mempercayai saya ketika tidak ada seorangpun yang mempercayainya. Yang melihat emas dalam diri saya bahkan ketika sinarnya tersembunyi. Ia berpesan ketika saya masih kecil bahwa saya dapat melakukan apapun kalau saya sungguh-sungguh. Ia tidak akan pernah tahu berapa kali ia sudah menyelamatkan hidup saya. Ia adalah seoarang Pemenang sejati.

• Putriku Tiffany – Untuk mengampuni saya dan mengizinkan saya bertumbuh dan menjadi seorang ibu yang bijak baginya. Terima kasih untuk kesempatan mengasihimu dan menjadi bagian dari hidupmu. Terima kasih untuk menunjukkan kasih Kristus ketika Mama tidak punya siapa-siapa. Terima kasih untuk tidak mengizinkan masa lalu mengikatmu tetapi memilih berlari sebagai Pemenang. Mama sangat bangga terhadapmu, betapa hari ini kamu sudah menjadi seoarang wanita yang luar biasa!

• Dan terima kasih yang sangat istimewa untuk suamiku Garrett – Terima kasih telah menjadi Hosea, Yesus, dan Abraham bagiku. Kepedulianmu terhadap seorang pelacur hari ini berbuah, membangkitkan wanita terhormat yang ada di dalamnya. Kamu beriman dan mempercayai Tuhan akan mengubah situasi yang sulit. Kamu rendah hati, sabar, tahan menderita, dan lembut terhadap wanita terluka yang memerlukan lingkungan yang aman untuk sembuh. Kamu lebih dari pemenang. Aku bedoa aku terus dapat menjadi wanita impianmu.

Sumber: http://www.shelleylubben.com/articles/ShelleyStoryIndonesian.pdf

Berkat Doa Istri dan Camp Pria

Sumber Kesaksian: Benny Herman
Sumber Artikel: Jawaban.com

Sungguh tragis hidup Benny. Dia yang tengah membantu usaha ayahnya sebagai salah satu rekanan di sebuah instansi, harus melakukan perbuatan yang sangat menjijikkan. Dia dan ayahnya harus bisa menghibur pejabat-pejabat setempat agar perusahaan mereka bisa mendapatkan banyak pesanan. Salah satunya adalah dengan membawa mereka ke tempat pelacuran. Ayahnya juga masuk dan menyuruh dia untuk ikut. Untuk pertama kalinya, Benny ikut merasakan hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Penyesalan tampak jelas pada wajah Benny saat keperjakaannya hilang. Sebuah pengakuan akan dilakukan di hadapan Winnie, sang pacar. Hati Winnie kecewa karena keperjakaan Benny diberikan kepada wanita lain, bukan pada dirinya, padahal dia juga bisa memberikan keperawanannya untuk Benny. Beberapa hari kemudian, akibat mereka berhubungan seks, Winnie hamil. Pernikahan di usia muda pun harus mereka jalani, walaupun orang tua dari pihak pria sempat tidak merestui.

Sekilas kehidupan mereka tampak bahagia. Namun semua itu hanya bertahan selama 4 tahun, dan harus berakhir ketika nilai-nilai suci dalam pernikahan mulai dinodai. Waktu itu Benny salah bergaul dengan seorang teman yang memang hobinya pergi ke tempat-tempat pelacuran. Dan saya melakukan lagi apa yang dulu pernah saya komitmen untuk tidak melakukannya.
Winnie: Kadang saya terima telpon dari wanita yang mengatakan, “Bu, saya pinjem yah suaminya…” Pertama kali saya nggak terima. Kok katanya membantu orang tua tapi pekerjaannya melakukan hal-hal yang tidak benar… Pada saat Winnie tau, dia langsung marah besar pada Benny. Karena Benny tidak mau mengakui perbuatannya, Winnie marah dan membanting botol.
Winnie: Hati saya terbakar, sakit sekali, tapi saya berjanji, kalau suami saya mau jujur, saya nggak akan marah.

Maka setiap kali Benny pulang dari tempat pelacuran, dia pasti bercerita pada istrinya. Karena dia berpikir bahwa ini bukanlah hal yang harus disembunyikan. Bahkan mama mertua Winnie mendukung perbuatan anaknya yang tidak benar itu.
Winnie: Saya sudah pasrah, terserah hidupnya mau seperti apa. Nggak pulang juga nggak apa-apa, terserah. Saya sudah siap, saya sudah nggak tahan, saya sudah berpikir bahwa bercerai adalah jalan yang terbaik.

Setiap malam, Winnie merebus air untuk mencuci pakaian dalam suaminya. Dia juga memisahkan pakaian suaminya dari pakaian-pakaian yang lain karena dia takut terkena penyakit kotor. Winnie menjadi jijik, dan dia menjadi mati rasa terhadap suaminya sendiri. Sampai-sampai Winnie berdoa meminta kepada Tuhan kalau bisa tidak ada yang namanya malam, supaya dia tidak usah tidur dengan orang yang telah menyakiti hatinya. Tidak ada lagi cinta yang dirasakan Winnie pada suaminya, hubungan suami istri sempat tidak dilakukannya lagi untuk sesaat. Benny juga terkena penyakit kelamin yang tidak umum, dan Winnie pun jadi ikut merasakan penderitaan suaminya. Winnie tertular penyakit yang menyebabkan gatal-gatal di seluruh kemaluannya.

Suatu ketika saat hasrat seks Benny sedang tiba, dia mendapatkan penolakan dari istrinya. Merasa keinginannya tidak terpenuhi, amarahnya memuncak. Benny keluar kamar dan mengambil obeng, dia menusuk-nusukkan obeng itu pada kasur dan bantal sampai hancur, dan baru berhenti setelah Winnie meminta maaf padanya. Ketika hasrat seksnya tidak terpenuhi, Benny menjadi liar dan tidak terkendali. Dengan berjalannya waktu, pengobatan yang mereka lakukan terhadap penyakit kelamin itu akhirnya membuahkan hasil.

Tahun 1987 saya membuka usaha salon dirumah, karena saya adalah seorang yang perfeksionis, segala sesuatu saya mau berjalan seperti yang saya mau. Saat itu saya tatar istri saya dan beberapa anak buah, karena saat itu saya sudah lebih dulu belajar salon, istri saya sangat tertekan karena dia memang tidak suka kerja yang berhubungan dengan salon, saya benar-benar tidak mau menerima keberatan dia, yang ada dikepala saya adalah kalau saya sudah memutuskan semua harus turut serta, istri saya menyimpan kepahitan dengan saya. Disamping itu saya juga mau segala sesuatunya berjalan sesuai dengan keinginan saya. Pernah suatu hari istri dan beberapa karyawan tidak ada yang sungguh-sungguh latihan untuk menyalon, mereka nonton TV, langsung saya ambil cat biru dan saya cat TV tersebut, istri saya benci minta ampun tetapi tidak bisa berkutik, mereka pada akhirnya tidak bisa nonton TV sampai 3 bulan. Tiada hari tanpa keributan bagi pasangan suami istri ini.

Seolah belum cukup, Benny selalu menjelek-jelekkan Winnie di depan para pelanggan salonnya, pernah juga dia dibanding-bandingkan dengan pembantu. Benny sering mengatakan kalau Winnie tidak bisa apa-apa dan tidak berguna. Rasa kecewa dan sakit hatipun semakin bertambah dalam diri Winnie. Ketika Benny sedang bertengkar dengan Winnie dan ingin memukulnya, sang anak yang sempat melihat mamanya hendak dipukul menjadi marah dan mengambil kursi, hendak memukulkan kursi itu ke Benny. Benny pun mengambil bekas knalpot motor dan mereka saling memukul. Winnie dan pembantu berusaha melerai, tapi Benny kemudian mengambil air kencing yang sudah ditampung selama seminggu dan menyiramkannya kepada anaknya. Saat itu anaknya kepahitan dengan Benny dan pergi mengungsi ke rumah neneknya.

Benny yang saat itu tengah mengalami kesulitan keuangan meminta istriya untuk meminjam uang, namun Winnie tidak menanggapinya. Benny marah, sementara Winnie hanya bergumam, “Sudah tahu susah, kenapa tanya sama saya?“. Benny yang mendengar gumaman Winnie langsung mengamuk. Lalu malam itu Benny mengambil keputusan, dia berkata kepada Winnie bahwa ini adalah terakhir kalinya, mereka harus bercerai, tidak ada jalan lain. Benny berkata, “Istri harusnya tunduk pada suami, tapi ini suami kesusahan istri tidak mau menolong, istri macam apa yang tidak tunduk pada suami…” Winnie menimpali bahwa dia sudah sangat siap bercerai, daripada dia menderita terus.

Winnie: Saya ke kolong meja. Kolong meja itu tempat saya setiap hari mengadu dan menangis pada Tuhan, tempat saya menceritakan pada Tuhan setiap sakit hati yang saya rasakan karena perbuatan suami saya… Sejak dia memukul saya… Memori saya sudah penuh… Sampai saya pernah bilang, Tuhan, jemput saya, saya sudah tidak kuat… saya mau pulang ke rumah Bapa… Saya sudah nggak kuat hidup dengan dia… karena saya pikir saya sudah tidak ada harapan lagi.

Tidak terhitung lagi berapa banyak kata-kata cercaan yang keluar dari mulut mereka masing-masing. Bahkan amarah Winnie tidak bisa dibendung lagi, ketika barang kesayangannya dirusak. Benny mengambil alkitab Winnie dan merobek-robeknya di hadapan istrinya. Hati Winnie bagai terbakar, dia marah dan semakin dendam pada Benny. Winnie menangis sambil mengumpulkan sobekan-sobekan alkitab itu. Winnie yang larut dalam kesedihan akhirnya kabur dari rumah untuk pergi ke rumah mamanya. Namun tiga hari kemudian dia kembali ketika Benny memintanya untuk pulang. Tak ada yang bisa dilakukannya untuk mengatasi konflik rumah tangganya, kecuali berdoa.
Winnie: Tuhan kuatkan saya… saya ingat dan saya percaya, Tuhan bilang, kalau satu orang diselamatkan, maka seisi rumah akan diselamatkan, sampai saya puasa, saya mau bayar harga untuk suami saya… Tidak makanpun saya mau, asal suami saya pulih… Saya tidak mau dia menjadi orang yang jahat, orang yang kasar sama saya…

Doa demi doa yang terus dipanjatkan oleh Winnie mulai terjawab saat Benny mengikuti camp pria di akhir minggu atas saran kakak iparnya. Dia tidak pernah menyangka, bahwa di sana dia malah dibawa ke alam maut. Dia disadarkan begitu buruknya kehidupan banyak orang terutama para pria, dia merasa seolah-oleh dia sedang dihakimi oleh Tuhan.

“Di situ air mata saya itu seperti membasahi lantai, semua yang digambarkan itu saya sendiri…”. Kedamaian dan ketenangan mulai dirasakan Benny. Sebuah jawaban atas konflik rumah tangganya mulai didapatkannya. “Ternyata saya mengasihi istri saya itu bukan berdasarkan kasih yang sesungguhnya. Karena saya mengasihinya berdasarkan perasaan saya. Di situ saya juga mendapatkan jawaban, bahwa sebagai suami, saya harus berfungsi sebagai imam. Tugas daripada imam adalah berdoa buat keluarganya…”. Benny mengakui semua dosa-dosanya di sana, karena keterbukaan adalah awal dari sebuah pemulihan. Bahkan dia berani mengambil keputusan yang paling penting bagi masa depan keluarganya, yaitu untuk taat pada perintah Tuhan. “Saya pulang, saya berlutut di hadapan istri saya, saya minta ampun pada dia”

Winnie: Dia bilang, “Mami, mau nggak maafkan papi, karena selama ini saya sebagai suami tidak menempatkan kamu sebagai istri?“. Saya heran pulang camp kok dia menjadi seperti ini, diapakan di camp… apa dia salah minum obat? Ternyata dia cium kaki saya, dia nangis dan minta maaf. Tapi saya belum yakin. Prosesnya selama 2 tahun baru saya katakan dari mulut saya bahwa saya percaya dia sudah berubah.

Winnie tak pernah menyangka, bahwa suaminya yang dulu sangat jahat ini telah berubah total. Suasana romantis kian terasa dalam kehidupan mereka hingga detik ini. Benny sudah menjadi suami yang baik, yang maunya bukan terus dilayani, tapi sudah mau melayani. Benny bisa mengatakan pada Winnie bahwa dia adalah wanita terindah yang Tuhan berikan untuk dia.
Winnie: Luar biasa Kau Tuhan, Kau buat suami saya benar-benar berubah… Saya dan dia sekarang menjadi seperti pengantin baru. Sampai orang lain iri melihat hidup saya, mereka nggak tahu dulunya bagaimana. Kalau bukan Tuhan yang bekerja, saya juga ngak sanggup mengubah suami saya.

Saya mengucap syukur bahwa saya punya Tuhan seperti Tuhan Yesus dan saya mau terus disempurnakan untuk menjadi makin serupa dengan Dia.

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.” (Ef 5:25-27)

Anak Saya Bangga Pada Bapaknya

Sumber Kesaksian: John Timbul Panggabean

JAWABAN.com – Pada tahun 1962, Johni Timbul Panggabean pindah dari Tarutung, Sumatra Utara ke Jakarta, di daerah “Bearland”, Jatinegara. Di tempat inilah Johni pertama kali tinggal dan mengenal kejahatan. Pengaruh pergaulan yang buruk membuat Johni menjadi orang yang sangat keras.

“Saya mulai butuh minuman, narkoba dan uang untuk dikasih ke perempuan-perempuan malam… Lalu saya mulai berpikir Bagaimana mendapatkan uang ini?”.

Karena pergaulan luasnya juga dengan anak-anak orang yang berpengaruh pada masa itu, membuat Johni semakin berani melakukan berbagai tindak kejahatan untuk mendapatkan uang dan memenuhi keinginannya membeli miras dan narkoba.

“Anak-anak penggede itu punya senjata. Jadi kita tidak ada kesulitan untuk melakukan kejahatan. Perampokan-perampokan kecil seperti motor, mobil, apa saja”.

Johny saat itu juga memiliki dendam terhadap anak-anak orang Cina yang pernah mengusirnya dari tempat sekolah pada suatu waktu. Untuk melampiaskan dendam itu, Johni kerap mengincar orang Cina sebagai calon korbannya.

“Kalau lihat Cina, hati saya dendam, nggak suka!”.

Sampai pada suatu ketika, Johni terlibat masalah besar yang menggiringnya ke penjara dan menerima vonis hukuman mati. Waktu itu ia dan kelompoknya berencana merampok rumah ibadah terbesar di Jakarta. Namun rencana itu sudah tercium pihak kepolisian, sehingga ketika mereka sampai di lokasi, polisi sudah menunggu mereka. Terjadi penembakan, dan Johni pun tertembak lalu digiring ke sel. Sidang pengadilan pun digelar, dan Johni dijerat dengan 43 perkara kejahatan yang pernah ia lakukan sehingga hukuman mati ia terima, lengkap dan saksi dan bukti yang memberatkannya.

“Wah takut banget saya waktu itu… takut sekali…..”

Didalam penjara, Johni bertemu dengan seorang hamba Tuhan, Rev. Bill Heckman, yang melayani di penjara dan membawanya kedalam pertobatan. Ia berkenalan dengan Firman Tuhan dan ia memutuskan untuk maju kedepan, didoakan oleh pendeta, bersama dengan 4 orang teman sesama tahanan disana.

“Saya maju kedepan dan menangis waktu itu…..”

Seorang pria dengan celana pendek, rambut panjang dan tato dibadan, maju ke hadapan pendeta tersebut. Dan Johnipun bertanya apakah Tuhan pasti mengabulkan doa seseorang. Rev. Bill Heckman menjawab bahwa jika Johni percaya dan tidak ragu, maka Tuhan pasti mengabulkan. Dengan iman, johni minta didoakan agar ia bebas dari segala tuntutan! Sebuah permintaan yang nyaris tidak mungkin saat itu, namun Rev. Bill tetap mendoakannya. Dan pada suatu malam, 8 bulan setelah Rev. Bill Heckman berdoa dalam nama Yesus untuk kebebasan dari segala tuntutan bagi kasus Johni, pintu rumah Rev. Bill diketuk, dan disana berdirilah Johni Timbul Panggabean.

“Waktu itu, saya tanya banyak tentang keselamatan dan sorga dan hal-hal lain padanya. Dan dia menjawab saya dengan sabar. Dan malam itu juga saya berdoa, karena saya mau tantang dan buktikan apakah benar kata-kata pendeta itu. “Kalau Kamu benar Tuhan, buatlah saya tidak lagi mencuri, memakai morfin, ganja, minum, dan berbuat dosa lagi“. Dan satu malam sejak saya berdoa itu, saya tiba-tiba sanggup mengatakan tidak pada narkoba dan keinginan jahat lain saya. Dan doa saya untuk keluar penjara pun dikabulkan. Saya lalu pergi kerumah pendeta itu, dan bekerja disana sebagai pembantunya dia, mengasuh anak, cuci mobil, dan lain-lain”.

Johni melakukan itu semua dengan setia dan benar-benar meninggalkan jalan kejahatannya. Dan dengan kerendahan hati itu, Rev. Bill akhirnya mengirim Johni yang sudah berubah ini ke Filipina untuk sekolah Alkitab. Pulang dari Filipina, Johni melayani di Papua dan disini Tuhan kembali membentuk karakter Johni untuk mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Saat ini Tuhan memberkati dan mempercayakan pelayanan di daerah puncak kepada Johni. Ia sekarang adalah seorang hamba Tuhan yang lemah lembut terhadap semua orang. Sang istri juga melihat perubahan dalam diri Johni yang dulunya seorang tukang pukul menjadi seorang yang penuh kasih.

Kartini (istri Johni): “Karakternya berbeda dari masa lalu. Jauh sekali dibandingkan dengan dulu…”

“Arti sukses buat saya, kalau anak saya berhasil dan semua melayani Tuhan, itulah sukses buat saya. Mereka meniru papanya yang juga melayani Tuhan. Mereka bangga punya bapak yang menjadi seorang Hamba Tuhan. Mereka lihat hidup saya sebagai mujizat. Dan saya mau melayani Tuhan sampai akhir hidup saya.

II Korintus 5:17 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”.