Ilmu hitam membawa Maida bertemu kasih Yesus

Maida Supriyatno, anak keempat dari tujuh bersaudara. Ia dilahirkan di Kalten Solo Jawa Tengah. Maida dilahirkan dari keluarga yang mempunyai latar belakang agama islam. Dari kecil ia membenci agama Kristen apalagi yang namanya Yesus.

Sejak SD ia sudah mempelajari ilmu hitam. Ia dapat memguasai ilmu pellet, ilmu santet, ilmu kontak, ilmu menghilang dan guna-guna. Awalnya hanya coba-coba, tetapi karena ingin membuktikan keampuhan ilmu-ilmu yang sudah ia dapat, maka ia mulai mencari masalah dengan orang lain.

Maida sering mengajak orang lain duel dengannya. Dan terbukti ia dapat memenangkannya. Ia menjadi semakin sombong setelah itu. Ia mulai mencoba ilmu peletnya kepada wanita yang akhirnya membuat wanita itu mengejar-ngejar Maida. Semua keinginannya dapat ia penuhi dengan ilmunya itu.

Suatu hari, ia pernah ingin mengerjai salah satu dari temannya yang beragam Kristen, tetapi entah mengapa ilmunya tidak dapat mengenai temannya itu. Lalu ia mulai bertanya ilmu apa yang temannya gunakan. Ternyata temannya berkata ia mempunyai Yesus.

Rasa penasarannya memnbuat Maida ingin menguji Yesus apakah Yesus sungguh-sungguh memiliki kuasa atau tidak. Pada suatu hari sepulang kerja diluar hujan deras sekali. Maida kuatir karena ia tidak dapat pulang dan ia berpikir bahwa rumahnya akan kebanjitan karena atap rumahnya bocor dan akan kemasukan air. Lalu ia mencobai Tuhan dan ia berdoa “Tuhan sayqa mohon dalam nama Yesus tutup lobang yang ada di genteng saya, jangan biarkan setetes airpun masuk kedalam kontrakan saya, dalam nama Yesus amin”.

Setelah ia sampai dirumah dan menyalakan lampu, ia terkejut karena tidak ada setetes airpun di kamarnya, semuanya kering, padahal hujan sangat deras. Tetapi hal itu tidak langsung membuat Maida percaya pada Yesus. Ia berpikir itu hanya kebetulan saja. Karena hokum alam yang membuat itu. Setelah kejadian itu, ia sengaja tidak membetulkan atapnya. Karena Maida ingin mencobai Tuhan lagi.

Dengan kejadian yang hampir sama. Pada saat itu hujan deras dan ia memutuskan untuk tidak berdoa pada Tuhan, ia ingin melihat apakah yang akan terjadi nanti. Pada saat ia sampai dirumahnya, betapa terkejutnya ia pada saat ia menemukan seluruh rumahnya telah dibanjiri oleh air hujan. Seluruh peralatan mulai dari kasur, lemari, dan peralatan dapur semua basah karena air hujan yang masuk lewat atap rumahnya yang bocor.

Pada saat itu ia menangis dan meminta ampun pada Tuhan karena telah meragukan mukjizat-Nya. Dan mulai saat itu ia berjanji akan menjadi hamba-Nya yang setia. Saat ini Maida dan keluarganya terlepas dari semua ilmu hitam dan memulai kehidupan baru bersama Tuhan Yesus yang selalu menjadi penolong mereka.

Sumber Kesaksian :
Maida Supriyatno (jawaban.com)

Billy Glenn: Artis Pecandu Narkoba

Aku lahir dari sebuah keluarga yang sangat taat pada Kristus. Sejak kecil aku rajin ke gereja dan ibuku selalu menanamkan dasar-dasar iman Kristus kepadaku.

Tahun 1995, pada suatu kesempatan yang luar biasa, aku mengikuti sebuah ajang pemilihan top model di Bandung. Selama proses audisi, aku selalu berdoa pada Tuhan meminta agar aku keluar sebagai pemenangnya. Dan ternyata Tuhan memang baik, Ia menjawab doaku. Aku terpilih menjadi juara pertama. Setelah memenangkan ajang tersebut, kesempatanku untuk masuk ke dunia model semakin besar. Perjalanan karierku sebagai seorang model berjalan dengan sangat lancar. Aku percaya bahwa ini semua berkat pertolongan Tuhan dan aku selalu menyempatkan waktu untuk berdoa kepada Tuhan. Karierku semakin berkembang, banyak job dari Jakarta. Situasi ini membuatku memutuskan untuk tinggal di sana saja.

Meraih Kesuksesan

Ternyata di Jakarta karierku berkembang dengan sangat baik. Bahkan aku mulai memasuki dunia akting sinetron. Dengan berbekal pengalaman di bidang taekwondo yang sejak kecil digeluti, aku berhasil menapaki dunia akting dengan peran pertamaku sebagai peran pembantu utama. Aku pun berhasil mendapatkan peran dalam film layar lebar yang sangat terkenal saat itu, Ca Bau Kan. Disaat teman-temanku harus berjuang keras dalam dunia entertainment ini, jalanku justru sangat mulus. Aku sangat merasakan kemurahan Tuhan yang luar biasa dalam hidupku. Tahun 2002, aku mendapat peran utama dalam sebuah sinetron yang terkenal. Saat itulah aku meraih titik puncak kesuksesanku dan mendapatkan kontrak yang bernilai sangat besar.

Melupakan Tuhan

Namun, kemurahan Tuhan dan kesuksesanku itu justru membuatku semakin menjauh dari Tuhan. Kesibukanku justru membuatku tidak memiliki waktu untuk berdoa dan mendekat padaNya. Aku mulai merasa mampu hidup tanpa Dia. Aku benar-benar membuang Tuhan jauh-jauh dari hidupku. Saat itulah, kuasa kegelapan mulai masuk dalam hidupku. Aku mulai terbawa arus pergaulan yang buruk. Diskotik, minuman keras, bahkan jenis narkoba seperti extacy, ganja, kokain, dan shabu-shabu selalu ada di setiap hari-hariku. Honor dari pekerjaanku itu kuhabiskan untuk berfoya-foya sehingga aku pun terjerumus dalam pergaulan seks bebas.

Tertangkap Polisi

September 2002, aku tertangkap polisi. Ketika baru saja pulang dari syuting sebuah sinetron, aku meminta temanku untuk membelikan sejenis narkoba. Polisi ternyata telah mengincar temanku itu sehingga ia tidak bisa melarikan diri lagi. Setelah ditangkap, atas pengakuannya polisi memintanya untuk menjebakku. Seperti yang telah mereka rencanakan, akhirnya aku pun ditangkap dan harus menjalani masa tahanan selama 8 bulan. Dalam situasi ini kesombongan masih kuat menguasaiku sehingga aku tidak menyadari kesalahan, sebaliknya malah selalu mempersalahkan Tuhan. Sebagai seorang artis yang sudah dikenal, aku sering menerima pujian. Tetapi semuanya berubah menjadi hinaan karena tindakan kriminalku ini. Walaupun aku tahu bahwa narkoba itu tidak baik bagi masa depanku, tetapi keterikatanku dengan obat jahat itu membuatku terus mengkonsumsinya sekalipun berada dalam penjara.

Bebas dan Tertangkap Lagi

Setelah masa 8 bulan tahanan itu selesai, aku kembali mulai merintis karierku di dunia sinetron. Namun kesombongan itu tetap mengendalikan pikiranku. Aku sama sekali tidak tergerak untuk bertobat, justru semakin kecanduan dengan obat-obatan. Akhirnya, aku boleh dikatakan menjadi lebih bodoh dari orang bodoh…karena orang bodoh pun tidak akan masuk ke lubang yang sama. Pukul 12 malam itu, ketika sedang berpesta drugs di sebuah tempat di kota Bekasi, bersama teman-teman pecandu, polisi pun mengetahui aksi kami ini dan kami pun digelandang ke tahanan setempat. Aku harus mendekam lagi selama 7 bulan di penjara Bulak Kapal Bekasi.

Ingat Tuhan?

Dalam penjara, pengalaman memalukan ini membuatku merenungkan kasih Tuhan yang besar dalam hidupku. Di saat aku meninggalkanNya, Ia tidak membiarkanku terjebak terus-menerus dalam jurang dosa, justru berusaha menegurku bahkan sampai 2 kali agar aku berbalik kembali kepada jalanNya. Akupun teringat tulisan dalam Wahyu 3: 9 yang mengatakan “Barangsiapa Kukasihi, ia kuhajar. Sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.” Aku langsung menangis histeris dan menyadari bahwa Tuhan begitu baik bagiku. Walaupun aku telah menjauh dariNya, bahkan seringkali menyalahkanNya, namun Ia tidak pernah meninggalkanku dan tetap mengakuiku sebagai anakNya. Ia ingin agar aku bertobat sebelum semuanya terlambat. “Tuhan, Engkau sangat baik bagiku. Kau tidak membiarkanku tenggelam dalam lumpur dosa. Kau tidak membiarkan narkoba itu merenggut nyawaku dan membawaku ke dalam kematian. Terima kasih untuk kesempatan ini. Aku ingin menjadi hambaMu yang taat dan setia di dalam Engkau…” Saat itu aku benar-benar bertobat. Yang berbeda dalam masa tahananku kali ini ialah, sebelumnya aku ditahan dengan rasa kekuatiran dan kemarahan, namun kali ini aku lebih banyak mengucap syukur dan berusaha untuk menjalani dengan sukacita hari-hari dalam tahanan itu sampai akhirnya, 31 Desember 2005, aku selesai menjalani masa tahananku.

Titik balik kehidupanku

1 Januari 2006, hari yang paling bersejarah untukku karena hari itu aku memutuskan untuk memulai kehidupan baru dengan Tuhan Yesus yang akan terus menuntunku dalam tiap langkahku. “Tuhan, ajar aku melakukan segala yang Kau inginkan untuk aku jalani dalam hidupku ini…” pintaku kepadaNya.

Sebagai jawaban doaku, Ia menempatkanku dalam sebuah komunitas rohani di daerah Kelapa Gading. Dan aku juga kembali memulai karierku di dunia entertainment dengan cara hidupku yang baru dalam Kristus. Aku juga ambil bagian dalam pelayanan untuk menyaksikan betapa besar kasihNya bagiku karena Ia telah menghajar dan menegurku saat aku hampir tenggelam dalam lembah maut demi menyelamatkan hidupku. Lingkungan pergaulanku yang baru ini juga membuatku merasa sangat damai dan tentram. Ada sukacita yang kurasakan dalam hari-hariku, yang tidak pernah kurasakan sebelumnya ketika aku masih hidup dalam kenikmatan dunia. Hal yang membanggakan bagiku ialah, melalui pertobatan dan pemulihanku ini, ayahku yang dulu belum sungguh-sungguh di dalam Tuhan kini mengambil keputusan untuk menjadi orang Kristen sejati.

Sumber Kesaksian :
Billy Glen (jawaban.com)

Misteri Anak Tanpa Ayah

Bertahun-tahun ia hidup tanpa tahu siapa ayahnya. Bahkan sewaktu kecil, banyak orang sering melontarkan hinaan bahwa ia anak haram. Teman-temannya pun tak jarang mengejek dan mengucilkannya, hingga perkelahianpun tak terelakkan. Ia tumbuh dalam kesusahan, kekecewaan dan kekerasan. Baru tiga puluh tahun kemudian, Jarwo Yosafat akhirnya mengetahui misteri penyebab kehadirannya didunia ini.

Sewaktu kecil, berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya tentang keberadaan ayahnya. Namun sang ibu tak pernah menjawab dengan gamblang, siapa sebenarnya ayah dari Jarwo. Rasa malu, terhina, dan marah karena berbagai hinaan yang diterimanya, membuat Jarwo menyimpan kekecewaan yang dalam pada sang ibu. “Ketika saya tanyakan kepada Mak’e, selalu saja dijawab: Tuhan yang tahu, kamu itu bukan anak haram, bapak kamu ada di Jakarta. Kami telah menikah secara resmi, dan surat-suratnya ada semua. Hanya Mak’e saja yang tidak mau tinggal di Jakarta,” ungkap Jarwo.

Rasa penasaran harus dipendam oleh Jarwo dan tetap menjadi sebuah misteri. Hingga suatu saat seorang pria hadir dalam kehidupan Suciati, ibunda Jarwo. Pria itu melakukan pernikahan dibawah tangan dengan Suciyati, namun setelah itu, bapak tiri Jarwo pergi meninggalkan mereka demi wanita lain. Tak lama kemudian lahirlah seorang bayi perempuan, buah cinta Suciati dan ayah tiri Jarwo. Namun hinaan dan makian dari sanak saudara harus ditanggung kembali oleh Suciyati. Apa lagi selepas melahirkan, Suciati tak bisa bekerja untuk menopang kehidupan mereka. Sanak saudara ibunya yang tak lagi memiliki belas kasihan, membuat Jarwo harus rela berhenti bersekolah dan menggantikan ibunya menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan kue.

“Sewaktu adiknya baru berumur dua bulan, saya kan tidak bisa berjualan untuk mencari makan. Jadi Jarwo yang jualan untuk makan kami. Lalu guru Jarwo memanggil saya, menanyakan mengapa Jarwo tidak lagi bersekolah. Saya mengatakan bahwa, untuk makan sehari-hari saja kami susah apa lagi harus membayar sekolah anak, saya tidak mampu,” Demikian penuturan ibu Suciati dengan mata berkaca-kaca. Demi ibu dan adiknya, Jarwo rela mengubur impiannya untuk bisa kembali bersekolah. Hingga suatu saat, seseorang datang dengan membawa sebuah harapan. Pada saat itu, Pak Marsono datang dan menawarkan Jarwo untuk bisa kembali meneruskan sekolahnya, namun dengan syarat Jarwo harus tinggal di panti asuhan. Dengan berat hati, Jarwo harus meninggalkan adik dan juga ibunya. Sang ibu pun merasa begitu berat harus berpisah dengan anak laki-laki yang sangat dikasihinya itu.

“Saya sebenarnya ingin sekali sekolah. Tapi pada satu sisi saya tidak rela meninggalkan ibu dan adik saya hidup menderita. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap mencari uang untuk membantu mereka, dengan cara menerobos peraturan panti asuhan. Pada jam istirahat siang, sewaktu seharusnya tidur siang atau melakukan kegiatan lain, diam-diam saya pergi untuk mencari uang dengan mengamen, menjual koran, dan banyak hal lain. Uang itu saya berikan kepada ibu saya untuk beli beras, dan kebutuhan hidup lainnya.” Tak peduli siang atau malam, bahkan kerasnya dunia jalanan tidak mematahkan semangat Jarwo untuk mencari uang demi adik dan ibunya. Hingga suatu saat Jarwo harus menghadapi sebuah pengalaman buruk.

“Ada ketua genk yang menguasai daerah dimana saya ngamen saat itu yang memeras saya. Karena sering diminta setoran, membuat saya berpikir, kalau begini saya akan terus menderita.” Tidak mau terus ditindas dan harus menyetorkan hasil kerja kerasnya, membuat Jarwo memutuskan untuk mempelajari bela diri dengan sungguh-sungguh. Tekad Jarwo sudah bulat, bahwa bela diri adalah satu-satunya jalan keluar. Namun secara tidak disadarinya, keberanian dan kekerasan yang ia pupuk membawanya kepada dunia kejahatan. “Semakin banyak saya mengalahkan orang, semangat dan kepercayaan diri saya semakin tinggi. Saya semakin tidak takut dengan orang.”

Pada suatu saat, Jarwo dan temannya Aji mengamen di Semarang. Tetapi keinginan memiliki sandal bermerek yang cukup mahal saat itu, membuatnya memberanikan diri untuk mencuri di salah satu rumah dimana mereka mengamen. Namun rupanya hal tersebut diketahui oleh sang pemilik rumah. Keduanya dikejar, ditangkap bahkan dijebloskan kedalam penjara. Jarwo harus mendekam dipenjara selama tiga bulan, dan membuatnya benar-benar merasa terpisah dengan ibunya. Hal itu akhinya membuat Jarwo dikeluarkan dari panti asuhan.

Namun ada hal yang tidak disadari oleh Jarwo, kekecewaan dan kekerasan yang disimpannya sejak kecil terus terbawa hingga ia dewasa. Bahkan hingga ia menikah dan dikarunia dua anak, tabiat Jarwo tidak juga berubah. “Sikap saya dulu seperti preman saja. Ada orang yang bicara kasar sedikit saja, sudah saya anggap menantang saya.” Suatu hari karena suatu perkara, Jarwo bersitegang dengan tetangganya. Namun tetangganya itu tidak bisa lagi membiarkan sikap Jarwo yang kasar tersebut. Dengan memanggil teman-teman sekampungnya, tetangga Jarwo mempersiapkan sebuah rencana untuk memberikan pelajaran kepada Jarwo. Melihat gelagat buruk tersebut, Jarwo buru-buru pergi meninggalkan rumah. “Melihat banyak orang datang kerumah tetangga saya, buru-buru saya pergi ke pabrik tempat saya bekerja.” Namun dalam perjalanan, Jarwo diculik dan dipukuli habis-habisan oleh tetangga dan teman-temannya itu. Ketika nyawanya diujung maut, Jarwo diingatkan pada sebuah kejadian.

Waktu itu Jarwo baru pulang kerja, dan ia meminta istrinya untuk dibuatkan teh. Namun sang istri menjawab bahwa tidak ada teh dan gula, sekalipun ada itu pun milik ibu Suciati. Merasa tersinggung, dengan kemarahan yang menyala-nyala Jarwo mengusir ibu dan adiknya untuk keluar dari rumahnya. Bahkan di depan mata ibu dan adiknya, peralatan yang digunakan ibunya untuk berjualan bubur untuk mencari tambahan sedikit uang dibakar oleh Jarwo. Hati dan perasaan ibunya seperti disayat-sayat, namun jauh didalam hatinya dia tidak ingin membenci anaknya itu. Akhirnya ibu Suciati dan Puji, adik Jarwo pergi meninggalkan rumah itu.

“Sewaktu saya tahu, mak’e dan adik saya Puji pergi dan tidak kembali, saya merasa sangat menyesal. Saya tidak rela ibu saya pergi, tapi saya merasa kecewa, karena hingga setua ini saya belum pernah dipertemukan dengah ayah saya.”

Kedurhakaan pada sang ibu, diperlihatkan dengan jelas sewaktu Jarwo dipukuli hingga babak belur. Setelah puas memukulinya, Jarwo diserahkan oleh para penculiknya kepada polisi. Kemudian polisi memperbolehkannya untuk pulang. Namun kesalahan yang telah diperbuat pada ibunya terus membayanginya. Di tengah kegalauannya, seorang teman memperkenalkannya pada seorang hamba Tuhan yang menuntunnya pada pertobatan dan mengalami pengampunan dari Tuhan.

“Pada waktu itu, Kak Lina, hamba Tuhan itu berkata: Tuhan tidak pernah lagi mengingat-ingat lagi masa lalu kamu, dosa kamu. Tuhan tidak pernah mengingat-ingat lagi, sepanjang kamu mau bertobat. Saat itu rasanya seperti disambar petir, saya disadarkan. Ayat-ayat firman Tuhan yang ditunjukkan Kak Lina meneguhkan saya untuk bertobat. Mulai dari situ, saya sungguh-sungguh bertobat.”

Namun ujian kembali datang, Christy, anak pertama Jarwo mengalami kecelakaan dan harus dioperasi. Saat itu Jarwo meminta ibunya datang untuk mendoakan anaknya. “Ketika saya butuhkan, Mak’e pun datang. Meskipun sering saya sakiti hatinya, namun seperti tak pernah jera dan tanpa dendam, Mak’e datang dan berdoa bagi anak saya.” Sebuah mujizat terjadi, Christy sadar dan kondisinya mulai membaik. Lewat kesembuhan Christy tersebut, Tuhan menegur Jarwo atas kesalahan yang pernah diperbuatnya pada sang ibu. Dalam sebuah ibadah ucapan syukur, Jarwo menyatakan penyesalannya atas semua yang pernah dilakukannya dan meminta maaf pada sang ibu. “Rasanya plong… Pada saat itu saya sangat bersyukur. Puji Tuhan, anak saya bisa ingat dan punya kasih pada orangtuanya.”

Sebenarnya, rahasia apa yang terjadi dibalik kelahiran Jarwo? Sebuah kenyataan pahit harus ditanggung Suciati selama bertahun-tahun. Semua itu bermula sewaktu Suciati bekerja sebagai pembantu di Jakarta, sebuah peristiwa menghancurkan kehidupannya. Suatu malam, anak majikan dimana dia bekerja membekap dan memperkosanya. Kesuciannya terengut, dan ia pun hamil mengandung Jarwo. Hari demi hari dilewati dengan tangisan dan kegalauan. Tak dapat dibayangkan bagaimana respon orangtua dan saudara-saudaranya di kampung jika mengetahui semua kenyataan pahit ini.

Dengan dibekali surat dari orang tua majikannya yang menyatakan bahwa mereka bertanggung jawab atas anak tersebut, Suciati dipulangkan ke kampungnya. Suciati pulang ke rumah dengan penuh harap mendapat penghiburan dan dukungan dari orang tua dan saudaranya, namun hinaan yang dia terima. Dianggap telah berbuat zinah seperti perempuan jalanan, keluarganya mengucilkan Suciati dan anaknya. Satu hal yang dipegangnya, janji sang majikan yang tak pernah terwujud. “Anak saya wajahnya itu persis seperti bapaknya, tapi saya tidak merasa benci setiap kali melihatnya. Hanya saya sedih, jika saja anak saya ada bapaknya pasti dia tidak menderita seperti ini. Saya juga tidak berani mengatakan dengan jujur bahwa saya diperkosa oleh bapaknya, karena saya takut dia marah dan memukul saya, lalu dia meninggalkan saya. Saya takut sekali kehilangan Jarwo.” Demikian penuturan ibu Suciati kepada Solusi.

Namun kasih Tuhan telah memulihkan kehidupan Jarwo, demikian pengakuannya, “Saya sangat mengasihi Mak’e. Saya rindu untuk membahagiakan Mak’e. Saya sudah tidak mempersalahkan Mak’e lagi. Bahkan jika Tuhan ijinkan saya bertemu dengan bapak saya, dengan tulus saya mengampuni bapak saya. Jika dia mau terima, saya mau mengakui dia sebagai bapak saya. Bahkan jika dia menolak saya, saya tetap mau menerima dia sebagai bapak saya.” Demikianlah karya Tuhan yang sempurna memulihkan seorang anak bernama Jarwo Yosafat, tak ada lagi kekecewaan ataupun amarah.

“Saya merasakan sukacita saat ini, karena Tuhan memulihkan keluarga saya. Saya tahu bahwa saya berharga dimata Tuhan, demikian juga dengan keluarga saya. Tuhan memberkati keluarga saya. Sehingga kebahagiaan saya menjadi penuh. Saya yakin, sepanjang hidup saya, saya bukan hanya keluar sebagai seorang pemenang, tetapi lebih dari pemenang.” Demikian Jarwo menutup kesaksiannya dengan penuh senyum.

Sumber kesaksian:
Jarwo Yosafat (jawaban.com)

Kedamaian Karena Pengampunan

Apa kira-kira yang anda lakukan jika orang tua anda diculik dan dibunuh di depan mata anda sendiri? Riri Panjaitan, putri almarhum Jenderal D.I. Panjaitan akan menuturkan kisah tragis pembunuhan ayahnya.

Ketika itu pukul 3 pagi. Waktu terjadi pendobrakan pintu pertama kali, saya ada di dalam rumah, bersama keluarga. Saya sedang berada di dalam kamar. Dan tiba-tiba mereka meletuskan senapan dan menembak ke arah rumah kami. Selama beberapa saat peluru-peluru mereka menghujani rumah kami. Mereka masuk ke dalam rumah dan menyuruh ayah saya menemui mereka atau mereka akan meledakkan rumah kami. Saya ingat waktu itu ayah keluar dengan berpakaian militer lengkap sebagai angkatan darat.

Saya dengar ayah saya berbicara, rupanya ayah saya meminta waktu untuk berdoa. Saat itu ayah saya ditembak, diberondong dengan beberapa peluru. Lalu jenazah ayah diseret dan dilempar ke lubang yang dalamnya hampir 2 meter. Saya berlari ke depan dan saya melihat darah yang kental… Saya ingin pegang, saya ingin peluk papa saya tapi tidak ada… Sepertinya saat itu saya betul-betul mengalami kecewa, dan sungguh berat untuk seorang anak berumur 8 tahun seperti saya.

Marieke Panjaitan (Istri Mayjen Anumerta DI Panjaitan): Waktu itu Riri masih kecil sehingga dia belum mengerti arti kejadian itu. Tapi sesudah dia melihat banyak orang datang ke rumah, ada yang menangis juga, dan dia menjadi heran, apa yang sudah terjadi. Baru setelah itu dia tahu papanya sudah tidak ada lagi.

Saya merasa sangat kehilangan… Orang yang kita cintai diambil seperi itu, diseret seperti binatang, dibantai seperti binatang… Tapi saya tidak mendapat jawaban dari siapapun mengapa ini harus terjadi. Saat itu saya merasakan tidak adil, dalam hidup saya ada sesuatu yang tidak adil, dan itu yang berbekas di hati saya.

Saya bertambah besar dan peristiwa G30SPKI tahun 1965 itu semakin jauh saya tinggalkan, tapi tidak ada satu titik pun yang bisa saya lupakan. Saat-saat itu saya merasa begitu menderita, di dalam batin saya, sekalipun keadaan fisik saya baik sekali.

Marieke Panjaitan (Istri Mayjen Anumerta DI Panjaitan): Dulu dia selalu kelihatan gembira, karena setiap papanya pulang, selalu menemani anak-anak. Tapi setelah peristiwa itu dia jadi pendiam, dia merasakan pahitnya peristiwa itu. Dan sebagai orang tua saya merasakan penderitaan yang sama dengan dia.

Kalau saya melihat suatu persoalan yang tidak pada tempatnya, saya merasa seperti ada sesuatu yang tidak bisa saya tahan. Saya susah untuk bergaul dan saya susah untuk menyesuaikan diri, temperamental, sangat sulit sekali bagi saya untuk mengekspresikan apa yang saya inginkan, sulit sekali untuk saya merasa nyaman dan damai… Seperti mau berontak hanya tidak tahu mau berontak kepada siapa. Dan kalau saya ingat masa-masa itu, saya merasa ada kekejaman, ada ketidakadilan dan kekejian… saya merasa manusia itu jahat sekali ya…

Penampilan luar saya bisa menipu. Saya bisa tertawa, saya bisa hidup sehari-hari seperti anak-anak lain, gembira, tapi hati saya tidak bisa sembuh dari luka itu. Tidak ada obat yang bisa mengobati luka karena peristiwa itu terjadi dalam hidup saya.

Lalu saat saya pergi ke Eropa, saya bertemu dengan seorang teman yang bisa berbicara tentang Tuhan dengan sangat dalam. Saat itu mungkin saya sudah dijamah Tuhan tapi saya sepertinya tidak mengerti karena saya tidak mempunyai pengetahuan tentang Tuhan. Selama kurang lebih 4 tahun saya mencari, akhirnya saya bertemu dengan Tuhan secara pribadi.

Saat itu saya dalam puncak kesedihan saya dan saya menangis, saya putus asa dan ingin mati, Tuhan datang. Tiba-tiba saya lihat langit terbuka, dan terang itu masuk ke kamar. Saya takut, saya pikir saya sudah mati, karna saya minta mati maka saya mati. Saya lihat ada seseorang menghampiri saya dan Dia begitu besar, begitu terang… Dia merentangkan tanganNya dan berkata, “Riri, kau harus mengampuni, engkau harus memberikan pengampunan kepada orang-orang yang kamu benci.” Saya katakan tidak mungkin. Dia menjawab, “Ya mungkin. Karena jika engkau melepaskan pengampunan, maka Aku, Tuhan Yesus akan mengampuni engkau. Riri, apakah engkau mau mengampuni?”

Ketika Tuhan berkata seperti itu, maka seperti ada video dalam pikiran saya, peristiwa G30SPKI itu, saya melihat diri saya, saya melihat peristiwa itu terulang. Dan Tuhan bilang, “Jikalau engkau tidak mengampuni peristiwa itu, Aku tidak akan mengampuni engkau.” Lalu saya katakan,”Saya mau mengampuni, Tuhan. Saya mau mengampuni pembunuh papa…” Dan saya rasakan Tuhan bekerja di dalam kata-kata saya itu, Tuhan seperti masuk dalam batin saya yang terdalam, dan Dia cabut semua akar kebencian, kepahitan, amarah, dari dalam hati saya. Semua tercabut seperti akar wortel. Saya merasa damai masuk ke dalam hati saya dan saya merasakan… saya tidak pernah merasakan hidup seperti itu.

Saya sadar bahwa Tuhan sudah menampakkan diriNya. Dan sejak itu saya mulai hidup dengan bersukacita, tidak lagi bersedih-sedih… Dia sembuhkan saya, Dia baharui hati saya, Dia beri saya kuasa kebangkitan. Hidup saya sudah berubah, saya tahu tujuan saya, saya tahu ayah saya sudah duduk bersama Bapa di Sorga, tidak ada penyesalan, tidak ada kebencian, tidak ada akar kepahitan, tidak ada dendam, yang ada hanya damai sejahtera, ucapan syukur. Kiranya Tuhan boleh memakai saya untuk mereka yang membutuhkan kesaksian saya.

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (Markus 11:25)

Sumber Kesaksian:
Riri Panjaitan (jawaban.com)

Lahir Sebagai Tuna Rungu

Waktu aku masih kecil, berbaur sama dengan teman-teman yang bisa mendengar. Aku lihat teman-teman bisa ngomong terlalu cepat. Aku cuma bisa diam, nggak bisa sama mereka….

Orang tua Shianne mengingat masa ketika putrinya masih kecil. Waktu suami istri itu tengah bermain bertiga dengan putri mereka. Saat itu ada hujan deras yang diiringi halilintar yang begitu besar. Pintu depan tiba-tiba tertutup karena angin yang membuat suami istri itu begitu kaget dibuatnya. Tapi Shianne tidak kaget sama sekali. Ia diam saja. Dari situ mereka mulai curiga…

Dokter mengatakan bahwa Shianne tidak bisa diobati sehingga akhirnya iapun disekolahkan di SLB B Pangudi Luhur. Disana, ia dan anak-anak tuna rungu lainnya diajarkan untk berkomunikasi dengan membaca gerakan bibir. Prestasi Shianne sama sekali tidak mengecewakan. Beberapa prestasi pernah ia capai, antara lain dalam bidang olahraga. Kepala Sekolah, Bapak Anton M. Fic ikut mengkonfirmasi bahwa Shianne adalah seorang pemain basket yang tangguh, dan seorang juara lari nasional dan tingkat DKI.

Aku ingin mencari pengalaman atau wawasan lebih luas lagi, ke sekolah umum. Soalnya kalau sekolah SLB B, bisa cuma itu saja, tidak bisa berkembang karena bergaul sama teman-teman tuna rungu. Kalau sekolah umum, bisa bergaul sama semuanya.

Hal itu terwujud bagi Shianne. Namun saat ia baru masuk SLTP di sekolah umum, Shianne tidak hanya harus belajar mengatasi hambatan saat harus menerima pelajaran, tapi juga hambatan dalam pergaulan.

Saat aku berkumpul sama teman-teman yang bisa mendengar, mereka sangat sering melupakan aku, meninggalkan aku. Mereka ngomong terus, bercanda. Aku tidak mengerti apa yang mereka omong. Aku diam saja, sedih. Aku bertanya sama Tuhan, kenapa aku dilahirkan tuna rungu? Yang lain bisa mendengar…..kenapa terjadi kepada aku, bukan sama orang lain? Kenapa harus aku? Aku iri sama teman-teman, bisa bermain, bisa ngobrol.

Demi kepentingan anaknya, ibunda Shianne meminta putrinya untuk tidak perlu kuliah. Karena banyak sarjana yang menganggur. Apalagi seorang anak tuna rungu yang cacat. Ibunya menyarankan untuk ikut kursus biasa saja. Tapi Shianne berpikiran lain.

Aku tidak berminat, karena aku tidak mau disamakan kebanyakan teman-teman tuna rungu, kursus. Pokoknya aku ingin sama seperti teman-teman yang bisa mendengar, bisa kuliah. Aku ingin membuktikan diri apakah aku bisa seperti mereka. Aku pernah baca Alkitab, ada mujizat. Mungkin bisa terjadi kepada aku tapi tidak tahu kapan waktunya. Tapi aku menunggu jawaban dari Tuhan, sampai kapan aku mendengar.

Saat ini, dengan bakat dan tekad yang ada padanya, Shianne kuliah di Jurusan Design Interior di salah satu universitas swasta di Jakarta. Walaupun masih harus beradaptasi, namun berkat usahanya, serta dukungan keluarga dan teman-temannya, Shianne dapat mencapai prestasi yang cukup tinggi.

Terimakasih Tuhan sudah memberi jalan yang benar saya dan beberapa rencana yang tidak terduga. Terimakasih Tuhan sudah memberi orang tua yang baik, sayang sama aku. Dan teman-teman yang mau berteman sama saya.

Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang Amsal 24:14

Sumber Kesaksian:
Shianne Tugiman (jawaban.com)

Maaf Bagi Masa Silam

Aku pikir hal yang terburuk yang dapat menimpa seorang wanita adalah menjadi korban perkosaan. Kekejaman, pemukulan, kontak secara seksual, penganiayaan itu telah membunuh saya. Badan saya rasanya telah hilang tapi nyatanya tidak. Dan sulit sekali untuk terus hidup dan tidak ada satu orangpun yang menolong.

Inilah kisah seorang wanita bernama Reesee yang menjadi korban perkosaan dibawah todongan pistol. Seperti layaknya semua perempuan yang menjadi korban perkosaan, hidup Reesee benar-benar telah hancur. Kejahatan dan penyerangan itu terjadi ketika Reesee yang berusia 27 tahun dan dua temannya yang masih remaja sedang berbelanja. Seorang pria yang tampan dan kawannya mengajak Reesee dan temannya untuk bertemu di taman kota untuk ngobrol.

Saat aku berada di taman aku sempat bersikeras bahwa tidak ada seorangpun dari kami yang akan turun dari mobil. Selanjutnya yang aku ingat adalah laki-laki ini mengajak aku turun dari mobil dan ikut dengannya. Saat itu aku sempat menolaknya. Dia terus membujukku agar mengatakan “ya’, tapi aku tetap mengatakan “tidak’.

Laki-laki itu menunjukkan pistolnya dan mencoba untuk menembak Reesee dan kedua temannya jika Reesee menolak ikut dengannya.

Sementara itu dua teman gadisku yang lain dan pria yang lainnya yang bersama pria yang lain justru sedang tertawa-tawa. Mereka seperti tidak tahu apa yang terjadi denganku. Saat aku bersama dengan pria itu, kedua temanku mengatakan agar aku pergi saja dengannya. Kedua temanku malah mengatakan bahwa pria yang bersamaku itu cakap dan berwajah ganteng dan mereka menyuruhku pergi bersamanya. Kedua temanku katakan bahwa mereka akan baik-baik saja.

Kedua teman Reesee tidak menduga bahwa Reesee mengikuti kedua pria ini akibat paksaan. Pria itu memaksa Reesee masuk ke mobilnya dan kemudian memperkosanya di dalam mobil dengan todongan pistol.

Pria itu mengeluarkan pistolnya tepat di depan wajahku. Dia mengatakan jika aku berteriak maka dia akan membunuhku. Dia katakan dia tidak peduli dengan kami, lalu dia katakan akan kembali untuk melihat gadis-gadis yang lain karena nasib mereka ada di tanganku. Lalu dia mengeluarkan pistolnya lagi dan dia katakan jika aku bergerak sekali saja maka dia akan mengeluarkan isi kepalaku.

Sangat sulit membicarakn hal ini. Aku tidak dapat hanya merebahkan badanku, aku tidak dapat. Saat aku bergerak dia langsung mengambil pistolnya dan memukulku dan membuatku roboh. Ketika aku tersadar, pria pemerkosa itu sedang beraksi. Aku tidak dapat berbuat apa-apa dan itu sangat menakutkan. Dan saat semuanya telah selesai, pria ini melihat kepadaku dan dia pergi. Dia mengatakan terimakasih karena telah bersenang-senang. Dia juga katakan bahwa ini bukanlah yang pertama dan yang terakhir. Saat itu aku mengusirnya karena dia membuatku merasa jijik.

Luka Reesee secara emosional baru saja dimulai.
Aku merusak barang bukti dan aku langsung mandi. Aku bakar bajuku. Aku merasa sangat kotor. Beberapa hari kemudian aku baru pergi kepada seseorang untuk minta bantuan. Aku tidak bisa mengatakan kepada keluargaku apa yang telah menimpaku. Ayahku sedang menderita akibat menderita serangan jantung kira-kira 6 bulan sebelum serangan kepadaku terjadi. Kami bolak balik dari satu operasi ke operasi yang lain sehingga waktu itu keluargaku cukup stress menghadapi keadaan ayahku. Aku tidak mau bercerita kepada mereka apa yang menimpaku. Aku tidak dapat menambahi dengan berita buruk tentang diriku.

Hanya orang lain yang bisa Reesee hubungi.
Aku menelpon pusat layanan krisis dan mengatakan kepada mereka semua kejadian yang telah menimpaku. Wanita disana menanyakan apakah ada orang yang melihat kejadian itu. Aku menjawab tentu saja tidak ada. Lalu dia katakan bahwa mereka bisa saja menangkap pelakunya, tapi itu mungkin akan dijadikan bahan untuk menjatuhkan balik diriku.

Tanpa ada bukti-bukti, Reesee tidak dapat menuntut si pelaku. Namun pemerkosa ini juga tidak pernah meninggalkan Reesee seorang diri.

Segera setelah kejadian itu, pelaku mulai mengikutiku dan selalu berada dimana aku berada. Aku pulang ke rumah dan menemukan kartu-kartu, kartu Natal, Tahun Baru, Valentine, Santo Patrick, Paskah yang diselipkan di pintu rumah. Ada juga telepon, pesan-pesan, terkadang saat aku keluar dari rumah, aku menemukan pesan-pesan itu di dalam mobil.

Karena depresi yang berat, Reesee mencoba untuk bunuh diri.
Aku mulai makan yang banyak, berat badanku naik sampai 400 pounds. Aku juga mulai merokok, padahal aku tidak pernah merokok sebelumnya. Aku merokok sampai 3 bungkus perhari. Aku sadar bahwa aku benar-benar mencoba untuk membunuh hal-hal yang paling menyakitkanku, dan itu adalah diriku sendiri.

Suatu hari Reesee memutuskan untuk bunuh diri. Dia duduk dengan tangan penuh obat penghilang rasa sakit. Namun saat itu pria di televisi mencuri perhatiannya.

Tiba-tiba saja Pat Robertson muncul di layar televisi, tidak tahu bagaimana awalnya. Sepertinya secara langsung dia berbicara padaku. Wajahnya sangat serius dan dia bilang untuk jangan memakan obat-obatan itu karena ada Tuhan Yesus yang mengasihiku. Pat mengatakan bahwa dia tahu jika aku berpikir Tuhan itu tidak peduli. Pat tahu jika aku berpikir Tuhan itu begitu jauh, tapi tidaklah seperti itu. Pat menambahkan jika aku menambahkan rasa sakit ke badanku maka Tuhanlah yang merasakannya. Pat mengatakan bahwa Yesus mencintaiku, karenanya aku diminta meletakkan obat-obatan itu. Pat mengatakan bahwa bunuh diri bukanlah jalan keluar masalahku. Dan hal itu sungguh menyentuh hatiku…. Sangat menyentuh. Aku meletakkan obat-obatan itu dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun aku berbicara dengan Tuhan lagi. Dan aku tidak ingin kehilangan Tuhan lagi.

Hidup Reesee tidak akan pernah sama lagi, tetapi kisahnya tidak berlalu begitu saja. Pelakunya tidak pernah menghadap pengadilan. Dan setelah beberapa kali berpindah-pindah akhirnya Reesee tidak pernah dikuntit lagi. Namun Reesee harus berhati-hati untuk memberikan alamatnya. Reesee memiliki beberapa nasehat yang penting bagi mereka yang menjadi korban perkosaan. Pertama ialah untuk pergi ke rumah sakit terdekat bila menjadi korban perkosaan karena bukti akan selalu diperlukan. Itulah kesalahan pertama yang Reesee tidak lakukan, dia malah menghancurkan barang-barang bukti.

Reesee berasal dari keluarga Kristen yang kuat, dia memiliki orang tua yang berdedikasi dan dua saudara perempuan yang mendukungnya. Reesee sangat berterima kasih kepada Tuhan karena memiliki mereka dan juga kepada tayangan di 700 clubs.

Bila aku harus mengatakan apa yang paling berarti bagiku, itu adalah kebebasan untuk mencintai kembali, untuk percaya kembali. Aku merasa yakin dan tahu bahwa kita tidak berada di dunia yang serba gampang, banyak benturan dan goncangan yang dihadapi. Tapi ingatlah bahwa ada seseorang yang akan merasakan benturan itu bersama kita. Memang itu tidak gampang, tetapi jika kita bertahan maka Tuhan pasti akan menolong.

Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk. (Yesaya 57:15)

Sumber Kesaksian:
Reesee (jawaban.com)

Nyaris Aku Bunuh Diri

“Saya melihat anak saya yang nomor tiga itu nggak bisa…nyuapin pun saya nggak bisa. Nyuapin salah-salah terus, ke telinga, ke mata…saya sering nyuapi sembari menangis…sedih karena nggak bisa nyuapin sendiri…”

Semasa kecil, Endang pernah terjatuh dari ketinggian dengan cukup keras. Dan karena kejadian itu, semakin Endang beranjak dewasa penglihatannya semakin menurun. Puncaknya ialah ketika Endang menikah dan mempunyai anak.

“… setiap kali saya melahirkan, maka makin bertambah menurun penglihatan saya. Tapi kesepakatan saya dan suami saya, namanya perkawinan kan ingin punya anak dan bahagia. Jadi hal-hal itu sudah kami sepakati, tidak apa-apa lah…”

Karena takut terjadi sesuatu, Endang kembali memeriksakan matanya ke dokter.

“Tapi saya dinasehati dokter itu bahwa suatu saat saya akan kehilangan penglihatan saya. Dan dokter itu mengatakan kepada saya bahwa saya tidak boleh berpikir hanya dengan emosi, dengan pikiran dan dengan perasaan saja, tapi saya harus juga berpikir peka dan nyata. “Ibu mulai dari sekarang harus mulai belajar huruf braile” katanya”.

Adalah kabar yang sangat mengejutkan bagi seorang ibu yang ketika itu harus membesarkan anak-anaknya yang masih kecil.

“Yang terlintas di pikiran saya ialah aduh, bagaimana nanti kalau saya buta? Saya bisa berbuat apa? Aduh saya bakal ngerepotin orang banyak, saya bakal ngerepotin saudara, aduh nanti suami saya sudah nggak mau lagi dengan saya…
aduh dia pasti nanti dengan orang lain dan ninggalin saya. Pokoknya hal-hal yang mencemaskan dan membuat saya kuatir dan putus asa dan membuat saya merasa saya tidak berguna lagi. Saya ketakutan sekali dan saya sangat minder, mider sekali… Saya sering diejek dan dicemooh orang… kalau di pesta misalnya saya sering makan keliru atau makan berantakan… suka ada yang cekikikan dan ketawa… saya malu!”.

Perasaan depresi yang begitu dalam mengisi hari-hari Endang, hingga suatu hari dengan pikiran yang kalut Endang mencoba mengakhiri hidupnya….Ketika silet hendak menyayat tangannya, tiba-tiba Theresia, anak Endang yang kedua menangis karena rebutan mainan dengan kakaknya. Endang tersentak dan segera lari keluar kamar menghampiri anaknya.

“Saya mendengar jeritannya, dan saya buang silet itu. Anak saya saya tubruk, saya menangis sejadi-jadinya dan saya mohon ampun sama Tuhan. Hampir saja saya melakukan kebodohan itu…”

“Beberapa minggu kemudian saya diajak melayat karena ada tetangga saya yang meninggal dunia, seorang ibu. Terus anaknya yang kira-kira umur tiga tahun datang ke jenasah itu dan jenasah itu digoyang-goyang sambil teriak-teriak “mak.. bangun mak…” berkali-kali. Saya semakin menangis dan semakin saya sadar bahwa bagaimanapun seorang ibu masih dibutuhkan oleh anak-anaknya”.

Motivasi dari teman-teman sangat membantu bagi pemulihan Endang. Lewat dukungan dari keluarga dan teman itulah semangat hidup Endang bangkit kembali. Kini sebagai tuna netra, Endang bisa menikmati hidupnya bersama orang-orang tercinta.

“Ya, walaupun saya nggak bisa sembuh secara kenyataan, tapi saya tidak menyesali…”

Anak Endang, Theresia juga memiliki perasaan yang sama: “Saya tidak pernah punya perasaan malu atau minder dengan keadaan ibu. Saya justru merasa bangga karena memiliki seorang ibu yang begitu kuat dan tabah dalam menghadapi kekurangannya itu, untuk menghadapi hidupnya”

Endangpun bersyukur. “Tuhan telah menganugerahkan suami yang terbaik bagi saya dan ayah yang baik bagi anak-anak saya dan anak-anak yang sangat baik bagi saya. Saya sungguh bersyukur. Dan saya juga bersyukur diberi teman-teman, sahabat. Semua telah diberikan kepada saya. Saya bersyukur sekali. Saya sungguh bersyukur….Saya sungguh berterimakasih kepada Tuhan. Tuhan begitu mengasihi saya”.

Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Mazmur 136:2

Sumber Kesaksian:
Endang (jawaban.com)

“TUHAN MENGUBAHKAN HIDUPKU DAN MENYURUH AKU TAAT KEPADANYA”

“TUHAN MENGUBAHKAN HIDUPKU DAN MENYURUH AKU TAAT KEPADANYA”

Kali ini aku memberanikan diri untuk menulis tentang kehidupanku sendiri. Persoalan besar tibul didalam keluargaku pada saat aku melanjutkan pendidikanku di sebuah universitas dimedan. Waktu itu pendidikanku semester 4, mamak sama bapak jatuh sakit akhirnya kebun jeruk terbengkalai. Semua simpanan orangtuaku habis terjual untuk biaya pendidikanku dan biaya pengobatan mereka. Hutangpun sudah banyak, akhirnya tanah dan ladang warisan kakek dari keluarga bapak tegadai juga. Saat itu aku sudah semester 6, saat itu aku sering mengeluarkan air mata karena bingung. Saat itu aku betul-betul merasa hampa, lanjut kuliah dana tidak ada berhenti kuliah tanggung. Memang saat itu kedua kakaku sering memberi bantuan kepadaku tepi mereka sudah berumah tangga jadi tidak mungkin aku biasa mengharapkan semua dari mereka.

Suatu hari ada seorang teman membawa aku kegreja, di greja itu aku sangat merasa ada kedamaian dan entah kenapa setiap minggu aku ke greja di tempat itu selalu khotbahnya menyangkut masalahku. Mulailah aku mendekatkan diri kepada TUHAN dengan sunguh-sungguh. Waktu itu aku sering makan hanya dengan nasi putih saja karena kurang biaya. Jujur persoalan semakin mencekek, semakin berat persoalan semakin tumbuh imanku. Suatu hari terjadilah muzijat bagiku tiba-tiba aku diangkat menjadi seorang asisten dosen di kampus, jujur menjadi asisten dosen gajinya tidak biasa diharapkan untuk memenuhi uang kuliah. Yang menjadi muzijatnya setelah aku diangkat menjadi seorang asisten dosen dilaboratorium, banyak pekerjaan proyek musiman yang kukerjakan. Memang kerjannya biasa hanya sekali sebulan biasa juga sama sekali tidak ada dalam sebulan itu. Tapi hasilnya biasa membiayai aku selama 5 bulan. Suatu hari aku menonton film yakup dan aku melihat yakub bernazar demikian:

Kejadian 28:20-22

28:20 Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, 28:21 sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. 28:22 Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”

Setelah selesai menonton film itu aku berdoa dan bernazar juga kepada ALLAH Bunyi nazaru demikian:

“ JIKA ENGKAU TUHAN MEMENUHI SEGALA KEBUTUHANKU DAN MEMBERKATI AKU BERLIMPAH-LIMPAH MAKA SEPERSEPULUH DARI BERKAT ITU AKU BAWA KERUMAHMU UNTUK PERSEDIAAN MAKANAN DIRUMAHMU” itulah nazarku.

Sejak itu mujizat terus terjadi didalam hidupku, setiap aku butuh dana pasti Tuhan aku memberi pekerjaan. Pernah sekali aku tidak punya uang lagi, ada seseorang datang dan bertanya kepadaku. Dia bertanya dan mencari orang yang mengerti menggunakan alat topografi untuk melakukan pembagian tanah warisannya. Saat itu aku langsung menjawab; akulah yang bapak cari! Ayo kita selesaikan saya bilang. Dengan bekerja 2 jam saya digaji 1,5 jt , dengan uang itu saya dapat memenuhi kebutuhan selama 4 bulan. imanku mulai bertambah, aku mulai tekun bepuasa, memuji-muji Tuhan dan berdoa. Masih banyak mujizat lainya yang aku alami.

Pada saat aku menyusun sekripsi persoalan datang lagi, biaya terancam karena aku tidak dapat pekerjaan. Tapi karena sudah akhir pendidikan kami meminjam uang kepada keluarga untuk menyelesaikan pendidikanku. Pendidikankupun selesai juga, tapi persoalan belum selesai juga. Aku bingung mau cari kerja kemana? Padahal aku telah berjanji sama bapak dan mamak aku pasti dapat pekerjaan. Maka aku putuskan untuk mengurung diri di kosku 2,5×3 m2 itu, aku berpuasa, memuji-muji nama Tuhan dan berdoa sambil menangis dihadapan Tuhan. Tapi ada suatu hal yang belum pernah terjadi dalam hidupku saat itu terjadi. Kejadiannya begini; setelah satu harian aku berpuasa dan bernyanyi memuji Tuhan dan berdoa. malamnya aku mau tidur, pada saat  badanku kuletakkan di tempat tiduruku dan aku memulai memejamkan mataku tiba-tiba ada seorang yang turun dari atas dengan bercahaya, saat itu aku belum tidur, aku mau buka mataku tapi tidak biasa,mau duduk juga tidak biasa tapi cahayanya bias dilaihat walaupun mataku terpejam dan Dia berdiri disampingku dan mengatakan” ORANG AKAN MENGENALMU” dan tiba-tiba cahaya itu naik keatas dan badanku terhentak duduk, mataku kembali terbuka. Ke esokan harinya ada orang menelpon aku untuk ikut bekerja dengan dia. MUJIZAT INI TIDAK AKAN PERNAH KULUPAKAN.

 

Setelah aku diberkati Tuhan aku dapat membeli sepeda motor, berkeluarga dengan biaya pesta dengan uangku sendiri, membeli tanah, membeli mobil membantu pendidikan adekku, membantu orang tuaku dan membangun rumah. Berkatnya begitu berlimpah bagiku.

Itu mujizat indah yang kualami tapi pada saat aku tidak taat persoalan membuat hatiku menangis seumur hidup.

Pada tahun 2010 aku memiliki pekerjaan banyak sehingga penghasilankupun besar. Saat itu istriku mengandung anak pertama, aku mendapatkan hasil dari pekerjaanku lumayan juga besarnya lalu aku lupa akan nazarku , aku merasa terlalu besar memberikan sepersepuluh dari uang itu. Aku pun tidak memberikan persepuluhanku. Saat itu usia kandungan istriku sudah 9 bulan dan dokter memfonis istriku keracunan kehamilan dan harus segera di oprasi untuk keselamatan bayi dan ibunya. Saat itu aku dan keluarga sepakat mengoperasi sesar istriku. Malam sebelum istriku oprasi aku berdoa kepada Tuhan saat itu prasaanku tidak enak, seakan aku akan kehilangan anak atau istriku. Lalu aku sujut menyembah Tuhan dan berdoa karena waswas, isi doakupun tidak karukaruan seperti kerasukan setan. Aku bekata kepada Tuhan selamatkan anak dan istriku maka akan kubawa kerumahMU persepuluhanku. Ternyata Tuhan menganggap aku telah lupa daratan keesokan harinya istriku di oprasi sesar dan oprasinya berhasil. Setelah anakku lahir tiba-tiba dia sesak dan meninggal Dunia, dan umurnya hanya 2 jam saja.

Hanya 2 jam Tuhan memberi aku kebahagiaan setelah itu hatiku menangis seumur hidup. Aku bertekat tidak akan mau lagi mempermainkan Tuhan didalam hidupku. Jika murka Tuhan telah datang tak akan ada satu orangpun mampu menghadangnya.

Saat ini semua telah kurenungkan, jika seandainya anakku tidak dipanggil Tuhan mungkin aku akan menjadi orang yang sombong dan angkuh karena telah diberkati begitu luar biasa. Ternyata Tuhan mau kalau aku setia padaNYA. Sebenarnya bukan pesepuluhan itu yang diingikan Tuhan melainkan ketaatan kita yang diinginkanNya. Lihat bangsa Israel karena tidak taat mereka harus mengembara di padang gurun selama 40 tahun sampai harus satu angkatan mati semua baru sampai ke Tanah perjanjian. Pada hal Tuha telah menyediakan apa yang mereka perlukan, saat siang hari Tuhan menurunkan tiang awan agar mereka tidak kepanasan, saat malam hari Tuhan menurunkan tiang api agar mereka tidak kedinginan dan Tuhan juga menurunkan manna sebagai makanan orang itu.

Marilah kita taat kepada Tuhan karena Tuhan baik bagi kita. Berkatnya akan melimpahi kita asal kita mau taat kepadaNYA. Tuhan Yesus baik, amat baik dan teramat baik. AMIN

Penglihatan yang Membawa Pertobatan

Jimmy Wardemar sosok pria yang terkenal sangat pemarah dan kejam. Ia tinggal di Sentani, Papua. Semua orang takut berhadapan dengan dia. Berikut ini perjalanan hidupnya.

Satu hari, Jimmy mendatangi rumah pacarnya di Pantai Amade. Pacar Jimmy (Tince Homer) berjanji untuk datang ke rumah Jimmy. Karena marah, Jimmy mendatangi rumah pacarnya di Pantai Amade dalam keadaan mabuk. Ternyata, pacarnya tidak ada di rumah dan adiknya berkata mungkin Tince ada di pantai.

Jimmy Wardenar: Dia janji kepada saya, “Saya akan ke rumah kamu”. Tetapi, dia tidak datang, di situ membuat hati saya marah. Saya cari dia di pantai.

Jimmy beranjak ke pantai dengan marah sambil mengibas-ngibaskan parangnya ke berbagai arah. Di pantai, ia pun langsung menghampiri pacarnya dan menempelkan parang di leher Tince.

Tince Homer: Langsung Jimmy taruh parang. Terus, takut saya. Kakak saya datang. Kakak pukul dia, dia tidak terima. Terus, dia rebut parang, langsung kejar kakak saya.

Jimmy langsung mengejar Anis. Ia melampiaskan kemarahannya kepada Anis yang sempat melemparinya dengan batu. Setelah itu, Jimmy langsung menebas kaki Anis dengan parang.

Jimmy Wardenar: Saya potong dia di kaki dia.

Tince Homer:Jimmy cincang dia seperti potong anjing.

Orang-orang dan polisi pun berdatangan karena mendengar teriakan minta tolong Anis. Polisi bahkan sampai mengeluarkan senjata untuk menenangkan massa.

Tince Homer: Polisi tembak ke langit pertama, terus ke bawah, ke tiga mau ke badannya Jimmy, langsung ia ditangkap. Jimmy itu sangat nakal sekali. Semua orang di Sentani tahu, kalau Jimmy tuh nakal. Jimmy tuh kalau sedikit bertengkar pasti bawa parang. Padahal masih pacaran, Jimmy bisa pukul saya sampai pingsan-pingsan.

Jimmy pun diadili dan harus pasrah dengan keputusan hakim. Karena perbuatannya, Jimmy dijatuhi hukuman lima tahun penjara. Di dalam penjara, ia sempat dipukuli oleh seorang polisi. Diam-diam, dia merencakan untuk membalas dendam kepada polisi tersebut. Satu kali, ia mengundang si polisi untuk minum bersama.

Jimmy Wardenar: Waktu saya keluar dari penjara, bebas, saya undang dia polisi itu yang pernah pukul saya di sel. Kami mabuk. Waktu mabuk itu, teman saya sudah punya rencana untuk pukul dia. Tapi, teman saya tuh karena emosi dia, dia ambil batu dan lempar kepalanya.

Karena kejadian itu, Jimmy kembali dikejar oleh polisi. Setelah buron selama satu bulan, Jimmy ditangkap. Penjara kembali menjadi rumah Jimmy. Masa depannya suram. Dan seolah tidak lagi ada harapan. Kekeras pribadi Jimmy ini diakibatkan kekerasan yang ia alami sejak ia masih kecil. Ia sering dimarahi dan dipukuli oleh ayahnya.

Jimmy Wardenar: memang waktu dari kecil, ya saya dengan Bapak sering dipukul, sering dimarah, dibilang goblok. Waktu itu saya marah. Marah dengan Bapak. Marah sekali. Dan saya simpan itu dalam hati. Saya rindu sekali ketemu dengan orang tua, tetapi tidak bisa ketemu dengan orang tua.

Perubahannya diawali pada suatu malam yang ajaib di penjara. Jimmy dikejutkan oleh sebuah cahaya terang yang bersinar tepat di depan pintu penjara saat ia sedang berdiri tepat di depan terali penjara.

Jimmy Wardenar: Malam-malam, kami sudah masuk semua ke dalam tahanan. Waktu itu saya lihat banyak orang, mereka ada yang berkelahi, dipotong dengan parang. Terus, tentara pukul orang dengan kayu, terus ada lihat suster-suster juga, pegawai-pegawai Negeri yang suka menipu. Ada juga yang beribadah di gereja. Itu hampir sekitar dua jam atau tiga jam.

Banyak peristiwa dan kehidupan orang-orang terlintas di depan matanya dalam penglihatan itu. Kemudian, ada suara yang bergema dalam diri Jimmy.

Jimmy Wardenar: “Jim, dari semua yang kau lihat di sini, mana yang harus kau pilih?” Saya pilih hidup seperti orang yang berdoa. Dan saya ambil satu keputusan, saya tidak mau lagi hidup seperti itu.

Kini, Jimmy yang sekarang bukanlah Jimmy yang dikenal orang-orang di Kota Sentani. Pacar yang kemudian menjadi istrinya, Tince pun mengakuinya.

Tince Homer: Sampai sekarang, dia tidak pernah pukul saya lagi. Tidak pernah buat-buat hal yang Tuhan tidak ingin kan, begitu.

Perubahan itu bertahan sampai saat ini. Frans Billin yang merupakan pembimbing rohani Jimmy juga mengakui perubahan yang terjadi pada diri Jimmy.

Frans Billin: Waktu dia mengalami perubahan, waktu dia mengalami pertobatan, dilawat oleh Tuhan di penjara dan keluar, dia menyerahkan diri pada Tuhan. Orang boleh melihat ada hal yang baru dalam dirinya.

Saat beribadah di gereja, Jimmy bisa memuji Tuhan dengan sangat bersukacita.

Jimmy Wardenar: Setelah saya mengenal Tuhan. Di situ saya rasa, rasa sukacita. Walaupun ada masalah, saya disinggung, tetapi saya rasa tetap dihibur oleh Tuhan.

Namun, Jimmy belum merasa cukup. Ia masih ingin meminta maaf pada orang yang pernah dianiayanya 4 tahun yang lalu. Dalam suatu kesempatan, Jimmy mendatangi rumah Anis untuk meminta maaf. Saat Jimmy datang, tak disangka Anis bisa menyambut Jimmy dengan senyuman. Seakan lega, Jimmy pun memeluk Anis sebelum mereka berbincang-bincang.

Pertemuan yang masih terlihat agak kaku dan terlihat sedikit menegangkan itu pun semakin cair saat Jimmy meminta maaf pada Anis. Lalu ia bangkit dan menghampiri Anis untuk memeluknya. Anis pun mengulurkan tangan dan meminta maaf. Lalu, Jimmy memberikan hadiah yang ia sudah siapkan. Anis pun membukanya dengan terharu dan memandangi Jimmy. Jimmy terlihat sedikit cemas. Namun, kecemasan itu segera sirna setelah Anis angkat bicara.

Anis: Terima kasih atas perbuatan yang engkau jalani… dalam tahanan.

Jimmy Wardenar: Yah, saya terima kasih juga sama Kakak. Saya tahu ini rencana Tuhan buat saya dengan Kakak.

Lalu ia berdoa bersama Anis sambil berpegangan tangan.

Jimmy Wardenar: Tuhan, kami tahu, semua ada dalam rencana-Mu Tuhan. Setiap waktu setiap saat, di mana kami ada, Engkau ada di situ Tuhan. Dan Engkau melihat hati kami yang ada di dalam ini. Kami rindu mau berdamai. Kami rindu hidup dalam kasih. Kami rindu hidup dalam sukacita-Mu, Tuhan. Saya percaya Tuhan, kami sudah damai. Dan Engkau sudah mendamaikan kami juga di surga Tuhan. Kami taruh semua dalam tangan-Mu, Tuhan. Haleluya, Amin.

Selah itu, Jimmy bersalaman dengan anggota keluarga lainnya yang ada di tempat itu. Mereka saling berpelukan. Kelegaan dan sukacita pun terpancar dari wajah Jimmy dan Anis. Tak ada lagi rasa benci atau pun dendam di antara mereka. Karena pengenalan mereka akan Yesus Kristus yang adalah Raja Damai itu sendiri, maka mereka memutuskan untuk saling mengampuni, seperti yang Kristus ajarkan.

Yesaya 51:11 Maka orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan sorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, duka dan keluh akan menjauh.

Sumber Kesaksian:
Jimmy Wardenar (jawaban.com)

Saya Lahirkan Anak Hasil Perkosaan

Seorang bayi lahir tanpa pernah tahu siapa ayahnya. Sesuatu telah terjadi.

“Pada suatu malam, beberapa tahun yang lalu, saya mengalami sesuatu yang membuat hidup saya berantakan, semua harapan saya musnah, dan semua cita-cita saya juga tidak lagi bisa saya dapatkan”.

Malam itu ketika Kartini hendak pergi ke luar kota, walau sebelumnya ia tidak pernah berpergian jauh pada malam hari. Karcis dari bus yang ia tumpangi ternyata bukan untuk ke kota tujuan dimana ia seharusnya turun. Disana ia berkenalan dengan seorang pemuda yang tidak begitu ia responi sebenarnya.

“Ia menawarkan satu minuman… Dia memberikan minuman itu dan tanpa basa-basi saya meminumnya…”

Pada waktu Kartini turun dari bus, ia merasa kepalanya sangat pening yang tak tertahankan. Pemandangan kabur dan tidak stabil.

“Saya memanggil becak yang lagi mangkal, dan minta antar saya ke terminal. Tapi itu yang terakhir kali saya ingat. Saya naik ke becak. Saya nggak tau pemuda itu ada dimana dan kenapa saya bisa jadi begini. Saya benar-benar nggak berpikir”

Dalam keadaan tak sadarkan diri, Kartini di bawa oleh pemuda tersebut ke sebuah hotel. Dan didalam kamar hotel inilah mahkota kesucian Kartini direnggut. Sebuah persitiwa yang menghancurkan hidupnya.

“Saat saya sadar akan keberadaan saya, saya sudah ada di sebuah kamar disebuah hotel. Dan pakaian saya yang semula licin, sudah jadi berantakan. Terus saya lihat isi tas saya sudah keluar, dan saya lihat dompet saya sudah ada di meja. Ada beberapa lembar uang ribuan yang ditinggal sama pemuda ini”

Dengan tubuh yang merasa sakit, Kartini berjalan tertatih-tatih meninggalkan hotel tersebut. Ia kehilangan fokus pada apa yang telah terjadi karena ia ingat bahwa pagi itu ia hendak pergi wawancara kerja.

Beberapa bulan kemudian, beberapa pertanyaan berkecamuk dalam diri Kartini tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang kawan.

“Saya punya sahabat kental dari kecil. Dia begitu mengenal pribadi saya, dan mengenal pula perubahan apa yang terjadi dalam diri saya. Setelah ia paksa terus, akhirnya saya berani ceritakan semuanya. Teman itulah yang menganjurkannya untuk melakukan tes kehamilan.

“Saat saya mengetahui keadaan saya positif hamil, itu saya baner-benar nggak terima dengan keadaan saya. Kenapa semua harus terjadi? Kenapa semua harus saya alami? Saya diwn selama satu bulan dan tidak mau melsayakan segala sesuatu. Saya hanya bisa merenung dan menangis. Kadang kalau saya sudah terlalu sedih, ibu saya kadang sering mendapatkan saya seperti orang gila, tersenyum dan tertawa sendirian”

“Kalau saya ingat masa itu, saya bingung sendiri. Mungkinkah itu saya? Masa’ saya seperti itu? Karena saat-saat itu adalah saat dimana saya mengalami harus mengandung anakku. Rasanya saya nggak mau terima apa yang ada didalam tubuh saya. Saya nggak mau nerima! Apa yang ada pada anakku juga saya nggak mau terima, karena saya merasa ini bukan apa yang saya kehendaki! Kenapa ini harus terjadi dalam kehidupan saya?”

Seorang kawan membawa Kartini ke sebuah Panti Rehabilitasi, sebuah tempat pemulihan untuk korban pekorsaan. Ditempat inilah Kartini diperkenalkan kepada Tuhan Yesus, pribadi yang mengasihinya dan yang sanggup memulihkan hidupnya.

Meskipun pada awalnya Kartini ingin menggugurkan kandungannya, namun ia memutuskan untuk melahirkan bayi yang ada dikandungannya.

“Karena nasihatnya itu begitu menguatkan saya, dia berkata bahwa anak yang ada dalam kandunganku itu bukan milik dan hakku. Ia adalah hakNya Tuhan yang memberi kehidupan. Anak itu ada dalam rahimku juga karena Roh Tuhan”.

Di panti ini, Kartini belajar untuk semakin mengenal pribadi Yesus. Kini setelah melahirkan bayinya, hari-hari Kartini dilalui dengan menolong orang-orang yang bernasib sama dengannya. Bahkan Tuhan juga memerikan seorang pasangan hidup yang mau menerima dia apa adanya dan tidak melihat masa lalunya.

“Saya bisa melewati masa-masa pahit saya karena semua kasih yang mengalir dalam hidup saya. Yesus itu segala-galanya buat saya. Dia kekasih hati saya, sahabat saya, dan menjadi penolong dalam hidup saya”.

Karena Yesus sanggup memulihkan hidup yang hancur.

Mazmur 126:4 “Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!”

Sumber Kesaksian:
Kartini (jawaban.com)

Sumber Kisah Nyata dan Kesaksian Umat Kristiani