Category Archives: Video Kisah Nyata

Terjebak Pergaulan Bebas Dengan Pria Asing

Video Kisah Nyata

Berpetualang mencari cinta dengan para pria asing telah membawa Magda jatuh ke dalam dunia yang paling hina dan menjijikkan. Dengan semua orang asing yang dikenalnya, Magda pasti melakukan hubungan seks. Layaknya suami isri, hubungan itu dilakukan Magda tanpa suatu beban dan hanya dianggap sebagai bagian dari hidupnya saja, hanya untuk memuaskan keinginan biologisnya saja. Ada sekitar sepuluh pria asing yang pernah tidur dengannya.

Hal tersebut bermula dari suatu obsesi yang tak dapat dibendungnya sejak berusia 25 tahun. Magda ingin sekali memiliki suami orang asing karena secara fisik mereka menarik bagi Magda. Magda senang dengan gaya hidup modern dan Magda merasa bangga bisa memiliki pacar orang asing.

Di usia itulah untuk pertama kalinya Magda menjalin cinta dengan pria asing. Bahkan setelah tiga bulan berpacaran, Magda rela mengorbankan hal yang sangat berharga dalam dirinya. Saat itu memang Magda menangis karena merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Magda ingin menunjukkan kepada pria itu bahwa dirinya sudah berkorban banyak dan berharap agar pria asing ini tidak meninggalkan dirinya setelah pengorbanan yang dilakukannya.

Hidup serumah tanpa ikatan pernikahan dijalani oleh Magda. Di tahun keempat, ketakutan sempat mengancam kehidupannya. Magda sempat hamil. Saat itu yang terpikir olehnya hanyalah bagaimana mencari jalan selamat saja, mencari aman jangan sampai orang tuanya tahu tanpa ia sendiri berpikir untuk bertanggung jawab. Aborsi pun menjadi pilihan. Saat melakukannya pun Magda tidak merasa menyesal.

Sungguh perbuatan yang sangat biadab. Magda berharap semua pengorbanan yang dilakukannya dapat berakhir di pelaminan. Namun semuanya sia-sia. Setelah delapan tahun hidup tanpa kepastian, Magda memutuskan meninggalkan pria tersebut.

Obsesinya yang terus mendarah daging semakin membuat Magda menjalani kehidupan yang penuh dengan seks. Karena Magda hanya berpikir kesenangan yang ia dapatkan lebih banyak daripada rasa sakit yang harus ia terima. Meskipun tujuan sampai ke pelaminan tidak tercapai, Magda terus berganti-ganti pasangan di dalam pergaulan kehidupannya. Magda tidak pernah berpikir bahwa apa yang dilakukannya itu salah di mata Tuhan.

Saat Magda berpacaran degan pria asing yang kesepuluh, sebuah konsekuensi akibat dosa seksual kembali diperhadapkan terhadap dirinya. Magda kembali hamil dan ia kembali memiliki niat untuk mengaborsi anaknya. Sedangkan pasangannya saat itu sama sekali tidak mau bertanggung jawab dan kembali ke negaranya.

Ketakutan mencengkeram kehidupan Magda. Saat Magda berniat untuk melakukan aborsi, secara tidak sengaja Magda bertemu dengan temannya dan ia menceritakan segala persoalannya. Temannya langsung menyarankan Magda agar tidak menggugurkan kandungannya karena anaknya nanti pasti cantik. Magda pun berpikir ulang untuk mengaborsi kandungannya. Karena memang setelah ia dulu melakukan aborsi untuk pertama kalinya, Magda sadar kalau hal itu tidak memecahkan masalah dan ia sempat bertekad untuk tidak melakukan aborsi lagi.

Dalam keadaan yang penuh beban, Magda hanya bisa berdoa. Sang bayi pun akhirnya lahir melalui operasi cesar. Itulah gunanya doa, sampai sekarang Magda percaya doa itu besar kuasanya. Apapun yang kita doakan, kita minta, kalau itu untuk sebuah kekuatan, Tuhan pasti kasih dan memberikan jalan keluar.

Magda akhirnya berjuang agar dapat menafkahi dirinya dan anaknya. Pengalaman masa lalu yang menyakitkan menimbulkan kebencian yang mendalam. Magda harus menyaksikan bagaimana tidak tenangnya hidup anaknya yang lahir tanpa ayah. Magda pun hidup dalam dendam, dendam yang ia pendam.

Melalui sebuah buku yang dibacanya dari seorang teman, Magda semakin mengerti apa yang telah ia lakukan selama ini salah. Buku itu membahas tentang perzinahan, dosa bila menghambakan diri terhadap uang dan Magda sadar kalau selama ini ia telah melakukan zinah. Dosa-dosa yang dulu ia lakukan selalu muncul kembali seperti film dan membuat Magda malu sampai menangis. Magda hanya berpikir bagaimana hidupnya telah menyakiti hati Tuhan.

Magda pun berdoa, meminta pengampunan atas segala dosa-dosanya dan ia menyadari apapun yang telah dilakukannya di masa lalunya, dirinya tetap berharga di mata Tuhan. Dan Magda sangat bersyukur akan hal ini karena Tuhan tetap mengasihi dirinya apa adanya.

Tidak berhenti sampai di sana, Magda akhirnya mengikuti sebuah camp atas ajakan seorang teman. Sesuatu yang sangat dahsyat akan segera terjadi di dalam hidupnya. Saat mengikuti sessi mengenai pengampunan, Magda benar-benar merasakan kebencian meluap di dalam hatinya dan ia tidak sanggup mengampuni pria yang telah menghamili dan meninggalkan dirinya. Sampai keesokan harinya Magda tetap menyimpan kebencian itu. Selama ini Magda berpikir dengan melupakan masalah dan melupakan orang yang telah menyakitinya berarti ia telah mengampuni orang tersebut. Namun ternyata Magda salah karena kebencian di hatinya masih sangat berbekas.

Magda berusaha untuk memaafkan bapak dari anaknya, tapi tidak bisa. Tetap saja Magda tidak sanggup mengampuninya. Ada satu lagu yang Magda tidak hapal benar liriknya tapi intinya berkata tentang ‘aku sayang Kristus, aku cinta Kristus’. Saat Magda menyanyikan lagu itu, ia mendengar bisikan, “Kalau kamu sayang sama Aku, maafkan dia.” Meskipun Magda benar-benar tidak tahu bagaimana ia bisa memaafkan bapak dari anaknya, namun akhirnya pengampunan itu keluar dari hati Magda. Gejolak-gejolak nafsu itu tidak lagi dirasakan Magda.

Magda telah bebas dari jeratan dosa yang telah mencengkeram hidupnya selama bertahun-tahun karena dosa tidak akan pernah membawa kedamaian. Saat ini Magda telah hidup bahagia dengan anaknya. Kepuasan pun dirasakan Magda. Saat ini Magda hanya merasakan bahwa Tuhan itu segalanya. (Kisah ini ditayangkan 3 Desember 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian :
Magda Paula Marpaung (jawaban.com)

Malpraktek Mengubah Hidupku Dalam Sejam


Video Kisah Nyata

Professor Irwanto adalah sesosok pria yang aktif dalam isu-isu sosial, sepert HIV / AIDS, narkoba dan penghapusan seksual komersial anak. Di dalam kondisinya yang cacat, ia dianugerahi penghargaan oleh MURI sebagai Guru Besar Penyandang Cacat pada bidang Kemanusiaan. Namun tahukah Anda bahwa kondisi cacat yang dialaminya adalah akibat dari kasus malpraktek yang berawal dari rasa sakit yang ia rasakan di dadanya?

“Sebelum tidur, saya merasakan dada saya tidak enak rasanya. Seperti ada yang menekan dan mengikat saya. Sebenarnya tidak sakit sekali, tapi seperti ada yang menekan di dada saya,” kisah Irwanto.

Berawal dari rasa sakit inilah, ia pun pergi ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, tanpa diduga, dokter langsung meminta agar Irwanto menjalani pengawasan di ICCU, karena dikuatirkan terjadi sumbatan pada jantungnya.

Semenjak awal, dokter hanya melakukan pembicaraan dengan isteri Irwanto. Kehadiran Irwanto tidak dianggap sama sekali. Tanpa berkonsultasi lansung dengan Irwanto, tindakan medis dilakukan oleh para dokter terhadap Irwanto. Ternyata, cairan infus yang dimasukkan ke dalam tubuhnya akan mengubah hidupnya untuk selama-lamanya.

Tanpa pemeriksaan kondisi klinis lebih lanjut, Irwanto langsung diberikan obat untuk mencairkan darah, koagulan yang namanya streptoginase. Satu jam setelah masuk rumah sakit dan diberikan obat dalam cairan infusnya, Irwanto merasakan sakit yang luar biasa di tengkuknya, lalu terjadi trombose, keluar darah dari gusi-gusi Irwanto dan ia langsung mengalami kelumpuhan.

Irwanto dipenuhi kebingungan, apakah yang dialaminya saat itu nyata atau tidak? Darah terus keluar dari hidung dan mulutnya. Baru beberapa saat yang lalu ia merasa dirinya baik-baik saja, lalu kemudian ia sudah seperti mayat hidup, tidak dapat menggerakkan anggota badannya sama sekali.

Saat itu, dokter yang merawat Irwanto mengajak isterinya untuk pergi ke pojokan kamar dan menjelaskan bahwa Irwanto sudah tidak memiliki pengharapan lagi. Ia akan segera meninggal. Parahnya lagi, Irwanto mendengar sendiri percakapan yang dilakukan oleh dokter dengan isterinya.

“Dokter tega-teganya memanggil isteri saya di sebuah ruang sempit dan mengatakan, ‘Ibu, saya sudah tidak dapat membantu ibu. Bapak pasti akan meninggal karena infeksinya sudah sampai ke paru-paru’,” kisah Irwanto.

Semua pikiran akan masa depan kehidupannya dan kehidupan keluarganya terus melintas di kepalanya.

“Bagaimana nanti dengan tugas-tugasku? Berapa biaya yang harus aku tanggung nanti? Anak-anakku akan makan apa nanti? Semuanya campur aduk di otak saya. Saya melihat isteri saya sudah mulai bingung menangis, anak-anak saya menangis, teman-teman saya sudah mulai bingung juga, dan saya hanya bisa bengong seperti zombi,” kisah Irwanto dengan kepiluan yang tergambar jelas di wajahnya.

Namun kematian ternyata belum berpihak pada Irwanto. Ia masih bertahan hidup meskipun mengalami kelumpuhan dari dada ke bawah. Karena kondisi tersebut, Irwanto sempat berpindah-pindah rumah sakit dan mengkonsumsi berbagai macam obat-obatan. Ketika ia memutuskan untuk berobat ke Singapura, bertolak belakang dengan semua diagnosa dokter yang telah diterimanya, dokter di Singapura menyatakan kala itu sebenarnya ia hanya menderita kelelahan semata.

“Pada tagihan obat saya, tercatat sebuah obat yang namanya streptoginase, dan obat itulah yang diduga memecahkan syaraf saya. Dan saya mulai ingat, persis pada waktru infus berisi obat itu masuk, saya sakit tengkuk, dan saya minta dioleskan obat gosok, lalu kemudian darah keluar dari mulut dan hidung saya, itulah saatnya saya mengalami kelumpuhan. Bukan karena sebab yang lain,” ujar Irwanto menceritakan awal kelumpuhan dirinya yang mengubah jalan hidupnya secara total.

Dan ternyata semua diagnosa dokter mengenai infeksi yang sudah sampai ke paru-parunya adalah sebuah kesalahan. Para dokter di Singapura bahkan mentertawakan diagnosa awal yang divoniskan pada Irwanto. Irwanto merasakan kebingungan yang tak berkesudahan akibat peristiwa ini. Hal itulah yang meyebabkan ia akhirnya menderita depresi.

Menyadari bahwa dirinya telah mengalami kelumpuhan dari dada sampai ke ujung kaki, Irwanto harus menerima kenyataan bahwa hidupnya akan berakhir di kursi roda. Irwanto pun merasa putus asa.

“Hari-hari itu saya benar-benar menderita depresi berkepanjangan. Saya tidak mau ada sinar lampu, saya tidak mau mendengar suara apapun, saya benar-benar hanya berpikir untuk mati saja waktu itu. Lalu kemudian kalau berdoa saya selalu mempertanyakan Tuhan, kenapa harus saya yang mengalami ini? Dan bukan hanya itu saja, saya juga mempertanyakan kenapa saya sekarang jadi begini?” ujar Irwanto.

Secara manusiawi, Irwanto pun mengalami keterpurukan akibat malpraktek yang menimpanya. Namun isterinya selalu ada di sampingnya untuk memberikan dukungan. Dengan setia ia terus memperhatikan Irwanto dan mendampingi Irwanto dengan penuh pengertian. Jika Irwato sudah mulai memukuli meja, tempat tidur dan badannya dengan kedua tangannya yang sudah mulai bisa digerakkan, isterinya akan langsung mengajak Irwanto untuk membaca Alkitab. Meskipun berada dalam keterpurukan yang terdalam dalam hidupnya, namun firman yang dibacakan isterinya terus didengarkan oleh Irwanto.

Dalam keputusasaannya, Irwanto bergelut dengan pilihan-pilihan yang ada di dalam benaknya. Mau tidak mau, ia harus mengambil keputusan dan respon yang tepat atas kejadian yang menimpanya.

“Pada waktu sudah diberitahu bahwa ini kesalahan dokter, saya kemudian mulai merefleksikan apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Apakah saya mau tetap hidup sambil terus menyesali apa yang telah terjadi di belakanga, atau saya mati saja, atau pilihan lain saya memilih hidup sambil mulai melupakan apa yang telah terjadi dan fokus ke depan. Perlahan-lahan, saya mulai menemukan jawaban saya sendiri. Kalau saya selalu hidup dengan penuh beban karena dokter yang salah, hidup saya akan selalu dipenuhi dengan kemarahan. Dan setiap kali saya marah, kondisi saya drop. Suhu badan saya tiba-tiba turun, saya menjadi sangat tidak nyaman di tempat tidur, emosi saya pun mulai jelek. Lalu saya akhirnya mengambil keputusan, saya harus bisa memaafkan dokter itu. Saya terus berdoa agar saya betul-betul bisa menghilangkan segala kemarahan saya terhadap dokter itu dan mengatakan, urusan saya dengan dia selesai,” kisah Irwanto.

Semenjak saat itulah Irwanto mulai bisa menikmati latihan yang harus ia jalani untuk menggerakkan anggota-anggota tubuhnya, dan setiap kunjungannya ke dokter bisa dinikmatinya dengan baik.

Dengan semangat yang baru, Irwanto pun bangkit untuk melangkah dalam panggilannya. Irwanto sekarang dapat melihat bahwa apa yang dialaminya bukanlah suatu cobaan ataupun ujian semata, namun Tuhan hanya ingin agar ia melakukan tugas yang lain, tugas yang telah ditetapkan-Nya menjadi tujuan Irwanto hidup di duia ini.

“Tadinya saya melakukan tugas yang lain, tapi sekarang saya diberikan hak istimewa untuk melakukan pekerjaan saya saat ini. Dan buktinya dengan keadaan saya yang seperti ini, saya bisa bertemu dengan banyak orang, saya bisa memberikan inspirasi kepada banyak orang, mungkin itulah maksud dari segala peristiwa yang harus saya lewati kemarin. Bagian dari pemulihan saya justru ketika saya melakukan tugas-tugas ini, saya mendapatkan dan menemukan banyak sekali hal yang memompa semangat saya untuk bangkit kembali. Optimisme hidup saya justru bangkit karena saya ketemu langsung dengan anak-anak yang saya bantu, ketemu NGO-nya, ketemu masyarakat. Pada akhirnya saya menyadari, selain Tuhan, yang menentukan hidup saya itu adalah pilihan yang saya buat sendiri. Jadi kalau saya tidak mengusahakan apa-apa, menyerah dengan keadaan saya, maka tidak akan terjadi apa-apa,” ujar Irwanto menutup kesaksian hidupnya yang begitu menginspirasi banyak orang.

Bagi Anda yang mengalami sebuah peristiwa yang tak dapat dimengerti, jangan pernah menyerah. Teruslah bangkit, maka Anda akan menemukan pelangi dari segala peristiwa menyakitkan yang harus Anda alami. (Kisah ini ditayangkan 2 Desember 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
Prof. Irwanto (jawaban.com)

Kasih Tuhan Menyempurnakan Hidupku


Video Kisah Nyata

Jamrano lahir dengan ayah yang tidak ada mempunyai kasih. Ia selalu mendapat perlakuan yang kasar dari ayahnya. Bila ayahnya sedang ada masalah selalu menumpahkannya di rumah. Anak-anak adalah sasaran utama. Rano pun menjadi sasaran empuk untuk dipukul oleh sang ayah. Karena perlakuan ayahnya yang kasar, maka Rano tumbuh menjadi anak yang kasar dan keras. Rano ingin sekali memiliki ayah yang dapat dijadikan panutan dan teman bercerita. Tetapi kenyataannya ia tidak mendapatkannya. Saat itu Rano mempunyai satu keinginan. Suatu saat nanti bila ia sudah besar dan kuat, ia akan membunuh ayahnya. Hal itu ia tanamkan sejak ia kecil.

Dari saat duduk di bangku SMP, Rano sudah mengenal dan memakai narkoba dan minuman keras. Hal itu berlanjut sampai ia masuk ke STM. Kelakuannya menjadi-jadi. Ia menjadi anak yang suka memberontak. Ia bahkan sering memimpin teman-temannya untuk berkelahi dengan sekolah lain. Bahkan satu hari ia dan teman-temannya tawuran sampai tiga kali. Ia lakukan itu semua karena ingin melampiaskan amarahnya terhadap ayahnya. Dan ia merasa bangga melakukan itu semua

Pada suatu hari ia berkelahi dengan sekolah lain dan ia melukai anak dari jawara kampung lain. Saat itu Rano diincar untuk dibunuh. Pada saat ia naik bus, warga langsung menyerbu bus itu dan mengancam ingin membunuh Rano, tetapi karena Rano juga mengancam supir untuk tetap jalan, maka ia lolos dari maut.

Lolos dari kematian membuat Rano berpikir tentang hidupnya. ia merasa hidupnya tidak ada artinya. Ia berpikir hanya bila ia tidak mati muda, maka ia akan mendekam di penjara. Saat itu merasa tidak ada jalan lagi untuk meraih masa depannya. Ia sempat berpikir untuk bunuh diri. Tetapi ia kemudian berpikir bahwa bunuh diri bukanlah cara yang baik, karena bila ia mati maka ia akan masuk neraka. Pada saat itu juga ia merasa hidupnya ada di dalam sebuah lubang yang dalam, kecil, bau dan gelap. Bila saja ada yang bisa mengeluarkannya dari sana, ia akan ikut.

Ditengah kegundahannya, ia bertemu dengan kerabatnya dari luar kota. Kerabatnya mengajak ia untuk datang ke persekutuan. Di persekutuan itu, Rano bertemu dengan Tuhan. Ia merasa hancur hati saat itu. Ia mengingat semua dosa yang sudah ia lakukan, semua itu sia-sia. Ia ingin mengampuni semua orang yang telah melukai hatinya. Terutama papanya. Ia merasakan kedamaian dan kelegaan yang belum pernah ia rasakan. Kasih Tuhan yang luar biasa telah menjamah dan melembutkan hatinya.

Pertobatan telah merubah Rano menjadi lebih baik. Ia selalu berdoa untuk ayahnya. Ia mempunyai kerinduan sebagaimana Tuhan telah melembutkan hatinya, ia juga ingin ayahnya dilembutkan hatinya. Sampai pada suatu saat papanya mengalami stroke. Pada momen itulah Rano memberanikan untuk meminta maaf pada papanya. Ia mulai mengobrol dan akhirnya ia mengutarakan maksudnya untuk meminta maaf. Papanya juga akhirnya terbuka dengan masa lalunya. Pada saat itu Rano dan papanya menangis dan berpelukan. Itu adalah pelukan pertama mereka.

Akhirnya Rano berdoa untuk ayahnya dan pemulihan terjadi antara mereka. Luar biasa, hubungan ayah anak yang rusak selama 10 tahun kini telah dipulihkan oleh Tuhan. Walaupun pada akhirnya papanya menyerah dengan penyakitnya dan meninggal, tetapi tidak ada lagi penyesalan dalam hati Rano. Waktu yang sempit itu mereka gunakan sebaik-baiknya untuk saling menyayangi.

Setelah menerima Tuhan dalam hati, Rano merasa mempunyai masa depan lagi. Ia ingin hidupnya dipakai Tuhan. Didalam Tuhan ada cahaya terang yang membuatnya melihat dan ada pengharapan.(Kisah ini ditayangkan 1 Desember 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:

Jamrano (jawaban.com)

Kisah Pilu Marthin, Ayah Kiki Idola Cilik


Video Kisah Nyata

Siapa yang tak mengenal Kiki? Semenjak memenangkan kontes penyanyi cilik yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta, nama Kiki memang semakin terkenal. Penampilan bocah 12 tahun itu telah memikat jutaan pemirsa terutama anak-anak sebayanya. Namun di balik kesuksesan Kiki, terdapat kisah sang ayah yang sangat mengenaskan.

Dahulu, ayah Kiki, Marthin Egeten diminta bantuan oleh atasannya untuk membetulkan mesin yang trouble.

“Teman saya waktu itu sempat memberi isyarat pada saya bahwa ada percikan api yang keluar dari atas. Saya kaget! Saya tidak bisa berbuat apa-apa sewaktu itu. Refleks, tangan kanan saya menutup mata saya. Saya bingung bagaimana harus keluar dari situ sewaktu itu. Saya tidak bisa keluar karena saya tutup mata saya. Dan api tetap membakar tubuh saya. Saya sudah merasakan kepanasan dan perih. Api itu tetap mengikuti saya. Saya ke kiri, api itu ke kiri. Saya ke kanan, api itu ikut ke kanan. Saya pikir saya sudah mau mati. Karena saya sudah dibuat capek, sudah dibuat lelah oleh api ini. Saya lari ke sana kemari, saya peluk kabel. Tapi tidak ada aliran listrik yang membunuh saya. Akhirnya saya pun pasrah begitu saja,” kisah Marthin bagaimana ia terserang api dan berjuang untuk keluar dari siksaan api tersebut.

Dalam keadaannya yang sudah tak berdaya, Marthin mengalami sebuah peristiwa yang aneh.

“Saya memejamkan mata, saya mendengar suatu seruan yang sepertinya keluar dari seorang wanita, ia katakan dan membangun saya dengan suara yang nyaring. Ia katakan sama saya waktu itu – ‘Tidak, kamu harus bangun. Kamu harus lawan api itu dan kamu akan diselamatkan.’ – Setelah saya buka mata saya, saya sudah bisa menangkap Cahaya. Cahaya terang. Saya kaget sewaktu itu, karena saya sudah terbaring rapi di depan panel yang terbakar tadi,” lanjut kisah Marthin.

Dalam kondisinya yang setengah sadar, teman-teman Marthin pun kemudian datang dan menolong Marthin.

“Mereka pikir saya sudah mati atau bagaimana pingsannya, waktu diangkat bagian tangan ini, tangan ini sudah matang, gosong, kulitnya terkelupas. Saya merasakan tangan, kepala, kaki itu sudah terpisah-pisah karena saking perihnya itu,” kisah Marthin.

Melihat kondisi luka bakarnya yang sangat parah, Marthin segera dilarikan ke rumah sakit. Saat istri dan ibu Marthin tiba, betapa terkejutnya mereka melihat keadaan Marthin. Akibat tegangan listrik bertegangan tinggi dan sambaran api yang begitu dahsyat membuat tubuh Marthin bagai seonggok daging asap yang hangus terbakar.

Setelah menunggu beberapa jam, tiba-tiba sebuah pernyataan dokter membuat jantung ibu dan istri Marthin seakan berhenti berdetak. “Lebih baik ibu pulang saja, membereskan rumah, karena katanya Bapak mungkin sudah tak bisa tertolong lagi. Karena luka bakarnya sudah stadium 4,” kisah istri Marthin.

Marthin sendiri mendengar perbincangan mereka, “Mereka pikir saya tidak bisa mendengar, saat itu dalam keadaan pingsan atau bagaimana. Tapi, saya masih bisa mendengar sewaktu itu. Hati saya semakin sakit. Karena… itu mengingatkan kembali perkataan saya sama istri saya bahwa saya akan melakukan tanggung-jawab sepenuhnya. “Kamu tenang saja,” – itu janji saya sama istri saya.”

Janji yang begitu manis, pupus sudah. Kini yang tersisa adalah guratan kesedihan dan ketakutan mendalam yang nampak dalam diri istri dan ibu Marthin.

“Saat itu saya belum siap untuk ditinggal oleh bapaknya Kiki. Waktu itu Kiki masih kecil, dia butuh seorang ayah. Memang sewaktu itu di pikiranku, pasti meninggal kan… Karena dari kisah teman-temannya memang tak akan ketolong lagi. Di hati saya, saya berdoa – “Tuhan, jika boleh… Tuhan kasih lagi kesempatan kami bersama. Saya akan terima dia apapun keadaannya,” tutur istri Marthin.

Dalam kondisinya yang kritis, sang ibu membacakan sebuah kisah menarik kepada Marthin. Dan hati Marthin pun tersentuh saat mendengarkannya.

“Mama saya membisikkan cerita-cerita bagaimana Tuhan Yesus dulu punya penderitaan. Dan disitulah saya terkejut dan terbangun dari kelemahan saya,” kisah Marthin.

Beberapa jam kemudian, Marthin pun menunjukkan tanda-tanda kehidupan. “Saya mulai memberikan reaksi melalui tubuh saya. Saya terbatuk, mama saya langsung berteriak. ‘Dia hidup!’- Dan dokter itupun merasa terkejut ketika ia mulai melihat denyut dan tanda nadi.”

Setelah Marthin sadar dari keadaan kritis, beberapa hari kemudian dokterpun langsung melakukan tindakan operasi. Ada bagian luka dari Marthin yang harus ditutupi dengan daging yang diambil dari tubuh Marthin sendiri.

Setelah operasi tersebut berhasil, penderitaan Marthin belum berakhir. Ia mengalami pergolakan batin saat akan melihat wajahnya sendiri.

“Setiap orang yang datang… pingsan ketika melihat saya. Saya bingung, sudah separah mana wajah saya, keberadaan saya waktu itu. Saya menguatkan hati saya, saya minta cermin. Sebenarnya mama saya tidak mau kasih, tapi saya bilang kalau saya penasaran. Kok sampai suster saja tidak mau masuk sini?. Saya pun perlahan-lahan melihat pantulan wajah saya di cermin…” kisah Marthin.

Marthin sangat terkejut melihat wajahnya yang terpantul di cermin.

“Itu sebenarnya sudah bukan orang lagi, itu sudah tengkorak. Semuanya mulai rata. Yang tinggal hanya gigi dan mata,” ujar Marthin.

Kecewa dan sedih. Semua bercampur dalam batin Marthin saat ia melihat wajahnya hancur berantakan. Ia menjadi putus asa… Sehingga berpikir lebih baik mati saja.

“Karena percuma… Saya bilang sama Tuhan, ‘Tuhan kok tidak adil ya?’ – Setiap saat saya mau keluar, saya selalu berdoa. Waktu di tempat kerja, kalau ada kesempatanpun saya berdoa, saya minta Tuhan kalau bisa saya dijauhkan dari malapetaka dari kecelakaan. Tapi kok tiba-tiba begini… Mengapa Tuhan? Mengapa bukan orang-orang yang melakukan hal-hal yang lebih jahat lagi? Saya menangis sambil mengatakan itu…” kisah Marthin.

Belum habis kepedihan batinnya, setiap hari Marthin harus menahan rasa sakit yang luar biasa saat harus bangun dari tidurnya. Marthin pun sering mengalami pendarahan sehingga ia harus sering mengalami transfusi darah agar dapat bertahan hidup.

Belum usai kepedihan Marthin, ia pun dilingkupi ketakutan akan kepergian sang istri. Bahkan ketika melihat dokter berbicara dengan sang istri, api amarah berkecamuk dalam pikiran dan batinnya.

“Dalam keadaan kelemahan itu, terpikir juga bahwa… hancurlah sudah keluarga kita. Sia-sialah keluarga kita yang sudah kita bangun bersama pada waktu yang lalu,” pikir Marthin mengenai keadaan keluarganya yang akan berubah akibat tragedi yang dialaminya.

Pikirnya, kalaupun istrinya ingin meninggalkan dia, itu adalah hak istrinya. “Tapi jujur dalam hati saya, saya tidak terima.” Tetapi istrinya sendiri tidaklah seperti itu. “Tak mungkinlah seenaknya saya cepat-cepat mencari pengganti,” bantah istrinya.

Perawatan selama 1 tahun di rumah sakit membuat keadaan Marthin semakin baik, bahkan kulit baru mulai muncul di beberapa bagian tubuhnya. Namun penderitaannya belumlah usai ketika ia kembali ke rumah. Karena untuk hal-hal kecil pun, Marthin haruslah selalu membutuhkan bantuan istrinya.

“Saya ini merasa berdosa sekali. Keadaan saya ini menjadi beban buat mereka semua. Ya, saya tidak bisa melakukan apa-apa,” tutur Marthin.

Merasa keberadaannya hanya menyusahkan keluarga membuat semangat hidup Marthin semakin padam. Bahkan saat ia mencoba memberanikan diri untuk bersosialisasi, sebuah penolakan yang menyakitkan pun harus ia terima.

“Perasaan takut, perasaan minder itu ada ya… Saya pernah mencegat mobil, tapi, sampai mobil pun gak mau berhenti. Dari jauh saya sudah kasih tanda ke angkot, tapi begitu dekat, sopir itu membuang muka seakan-akan tidak melihat apa-apa. Selama setengah jam saya berdiri di pinggiran jalan, saya menjadi malu, saya pulang. Saya merasa sedih sekali,” kisah Marthin mengenai penolakan ketika ia bergaul di tengah masyarakat.

Bahkan keceriaan dan kegembiraan anak-anak yang biasanya bermain di depan rumah Marthin berubah menjadi teriakan ketakutan saat melihat dirinya.

“Lebih baik saya mati saja, kenapa Tuhan membiarkan saya lagi hidup? Kalau saya harus berhadapan dengan orang-orang di luar sana yang mungkin merasa takut dan jijik dengan keberadaan saya,” kisah Marthin.

Namun di tengah keletihan batinnya, Marthin mencoba untuk menemukan kedamaian yang abadi. “Satu hal yang dia berikan kepada saya, kini kita tahu sekarang… Bahwa segala sesuatu yang terjadi, itu adalah campur tangan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Sungguh luar biasa perkataan dari nas itu yang menggembirakan saya, menguatkan saya. Sehingga tadinya saya merasa tidak berguna lagi dengan apa yang saya alami. Tetapi ketika saya menemukan kata peneguhan ini, saya merasa berarti. Saya masih berarti di mata Tuhan.”

Saat itu Marthin mulai menemukan sebuah harapan baru dalam hidupnya. Bahkan sang istri, mulai membuat Marthin merasa semakin berharga.

“Yang saya rasakan ketika berada dengan dia… Apa yang kami alami, apa yang kita lakukan pada masa-masa pacaran itulah yang terjadi. Seperti ketika dia menggandeng saya ketika kami berjalan,” kisah Marthin.

Tak hanya perhatian dari sang istri, sang anak yang waktu itu masih berusia 7 tahun pun menunjukkan kasih sayangnya. Kiki, selalu mengajak ayahnya untuk pergi keluar bersama. Tetapi Marthin yang menolak dengan mengatakan bahwa nanti teman-teman Kiki akan mengejek Kiki jika melihat keadaan ayahnya. Tetapi Kiki tak menyetujui perkataan ayahnya itu bahkan ia akan marah jika ada teman-temannya yang mengejeknya dan ayahnya.

Melihat itu, Marthin sangat senang dan mengucap syukur dengan keluarganya. “Saya tidak malu. Yang penting anak dan istri saya masih mau mengakui keberadaan saya walaupun keadaan saya sudah begini.”

Kiki sendiri berkata, “Kiki tak pernah malu dengan keadaan papa seperti itu. Karena papa itu seperti malaikat yang selalu membimbing Kiki dan sering mengajarkan yang terbaik buat Kiki.”

“Cinta saya sama suami saya seperti cinta kayak kami pacaran dulu. Sampai sekarang juga, masih tetap cinta. Tak berkurang, malahan, dulunya 100 persen sekarang menjadi 200 persen,” ujar Anitha, istri Marthin.

“Dokter dulu memvonis bahwa saya tidak ada harapan sama sekali. Namun, mukjizat Tuhan lain. Ketika manusia angkat tangan, Tuhan turun tangan. Jadi mustahil bagi manusia, bukan mustahil bagi Tuhan,” tutup Marthin Egeten. (Kisah ini ditayangkan 24 November 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel)

Sumber kesaksian:
Marthin Egeten (jawaban.com)

Pernikahanku Hampir Karam Saat Mengetahui Istriku Selingkuh


Video Kisah Nyata

Emosinya yang meledak-ledak membuat rumah tangganya selalu diwarnai pertengkaran. Bahkan saat emosinya tak terkendali, ia tak segan-segan melakukan hal yang sadis terhadap istrinya yang sedang hamil.

“Saya bertengkar sama dia, saya bilang, “sebenarnya ini anak siapa?” iya, ini anak kamu lah. Saya marah, lalu sempat menginjak perutnya beberapa kali. Ini bukan bukan saya, ini anak orang” kata Andre Santoso mengawali kesaksiannya.

“Saya bilang sama dia, ini anak kamu. Kalo kamu memang tega, silahkan aja kamu lakuin itu. Saya tidak takut” ujar Damay Siahaan, istri Andre.

Jawaban sang istri bukannya membuat Andre diam, tetapi malah menjadi-jadi. Keinginan membunuh janin yang ada dalam tubuh istrinya tersebut begitu kuat. Namun, hal itu tidak pernah terjadi.

Nasib baik masih berpihak pada bayi tak berdosa tersebut. Bayi itu akhirnya luput dari maut dan dibiarkan hidup oleh Andre. Sampai suatu hari, untuk memenuhi fantasi seksnya, Andre dan kakak iparnya menonton sebuah film porno.

“Kalau saya gak suka nonton blue film itu, saya jijik. Tapi, saya melakukan hubungan itu sama Andre. Tapi ketika menonton blue film itu justru saya tidak selera. Tapi, Andre nonton blue film itu selera,” aku Damay. 

“Saya bilang kalau lo gak suka gw nonton BF di rumah mendingan lo keluar aja, tetapi dia gak mau. Saya tarik keluar lalu saya kunci. Munafik, nonton BF aja gak boleh. Dia gak pernah mau nonton, dia maunya praktek,” kata Andre dengan wajah datar.

Dorongan seks yang kuat membuat Andre mulai mencoba berpetualang di luar rumah, tanpa sepengetahuan istrinya.

“Kalo sama istri sendiri, badannya mulai gemuk. Kalo orang lain kan saya bisa pilih teman. Lebih muda, badan lebih bagus. Hubungan badan juga lebih oke. Jadi saya lebih senang sama diluar,” ungkap Andre tanpa sungkan.

Di luar rumah, Andre adalah seorang penakluk wanita, namun di hadapan istrinya sendiri ia seperti laki-laki yang tidak sempurna. Saat Damay diminta dilayani oleh Andre, sebuah sikap yang sangat menyakitkan harus diterima Damay.

“Saya pikir sudahlah. Sekali saya pendem. Sebulan saya gak melakukan, saya hitung, saya minta lagi. Bahkan saya, maaf, promosiin diri saya sama dia. Tetapi, ditoleh juga nggak,” kata Damay dengan raut wajah yang sedih. 

Namun, ternyata Andre melakukan hal itu kepada istrinya bukan tanpa sebab. Masa lalu Damay yang sering gonta-ganti pacar dan selingkuh di belakangnya membuat Andre enggan berhubungan badan.

Berawal dari pertemuan biasa, kemudian Andre dan Damay mulai merasakan gejolak yang sama dalam hati mereka.

“Ya dibilang, first love yah sama dia. Perjuangan dia mendapatkan saya tuh gigih amat. Itulah yang saya lihat dari dirinya. Udah gitu, dia baik sekali, ” ujar wanita asal tapanuli tersebut. 

Namun, lain Damay lain pula Andre. Saat sang wanita melihat kebaikan pria pujaannya tersebut, justru si pria malah melihat fisik calon pacarnya ketika itu. Hubungan mereka semakin dalam dan tanda disadari hubungan tersebut merupakan awal malapetaka bagi perjalanan hidup Andre dan Damay.

“Pacaran, ujungnya pasti ke tempat tidur. Pokoknya saya waktu itu cintanya bukan cinta kasih, tetapi cinta nafsu. Pokoknya saya harus dapatin tuh cewek. Kalo gak bisa, jangan sebut saya Andre. Pokoknya saya mau lihat seluruh badannya gitu. Saya gak mau cuma kenalan, salaman,” kata pria berkacamata tersebut.

“Pertama kali saya melakukan hubungan badan itu takut banget. Sepertinya saya gak mau. Awalnya saya gak rela. Terus, ya entah kenapa terjadi juga hubungan itu,” ujar Damay dalam kesaksiannya kepada tim solusi yang mewawancarainya. 

Penyesalan tinggallah penyesalan, kini yang tersisa di batin Damay adalah sebuah luka yang sangat mendalam. Setelah dirinya melakukan hubungan terlarang tersebut, sesampai di rumah ia memukuli diri sendiri dan tanpa sadar, ia pun menjadi benci dengan laki-laki. Ia pun memiliki rencana untuk menyakiti setiap laki-laki yang menyukainya agar ia dapat membalas dendam sakit hati yang ia rasakan.

Walaupun kesuciaannya telah direnggut laki-laki yang dicintainya, namun Damay bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Dia dan Andre kembali melakukan perbuatan maksiat tersebut sampai akhirnya ia mengandung. Mengetahui hal itu, mereka pun memutuskan untuk membunuh sang jabang bayi tersebut.

“Saya kayak orang berdosa gitu. Tapi, saya tidak bisa omong apa-apa lagi. Saya melihat anak saya seperti di mangkok seperti anak tikus ya,” ungkap wanita itu. 

Penyesalan tersebut hanyalah omongan kosong belaka. Mereka pun kembali melakukan hubungan badan itu berkali-kali tanpa peduli apa yang pernah terjadi. Sampai pada suatu saat, Damay melampiaskan rasa sakit hatinya yang telah lama ia pendam. Ia mulai menjalin hubungan dengan seorang pria lain hingga dirinya hamil.

Mengetahui cintanya dikhianati, Andre benar-benar tidak terima apalagi Damay hamil dan menggugurkan bayi dari hasil hubungan gelapnya dengan seorang pria. Andre pun memutuskan untuk berpisah dengan Damay. Namun, itu tidaklah berlangsung lama. Rasa cintanya Damay terhadap Andre sudah terlanjur bersemi di hatinya.

Damai benar-benar tak bisa melupakan bayang-bayang Andre. Ia pun berusaha mendapatkan cinta Andre kembali dengan cara mengajaknya berhubungan badan. Mendapatkan tawaran yang menggiurkan, tentu saja Andre mengiyakan dan mereka pun kembali melakukan hubungan badan. 

Akhirnya, mereka pun menikah dengan kondisi Damay telah berbadan dua. Namun, kejadian masa lalu membuat Andre menaruh curiga terhadap kehamilan Damay.

“Tiba-tiba dia hamil, hati saya bertanya-tanya, ‘jangan-jangan gue dijebak lagi kayak kemarin’, kenapa saya bertanya-tanya karena saya gak mau ketipu untuk kedua kalinya,” aku Andre.

“Karena dia mungkin trauma sama yang dulu-dulu, tapi yang ini saya sempat ngotot karena saya merasa saya benar. Semenjak saya putus dari Andre, saya gak pernah sama pria lain,” kata Damay.

“Waktu saya main sama dia, saya suka ingat dia tuh suka gonta ganti pacaran. Dia sampai hamil, sampai bayinya digugurin,” tambah Andre lagi.

Perlakuan cuek dari suaminya membuat Damay untuk berpikir kembali mengulangi masa lalunya ketika mereka masih berpacaran, yakni berselingkuh. Dan Damay tidak main-main sama perkataannya. Seorang pemuda yang tak jauh dari rumahnya mulai mengisi kekosongan hatinya.

Hari demi hari perselingkuhan itu terus dia lakukan. Bila suaminya sedang bekerja atau sedang tidak ada di rumah, Damay akan mengontak pria selingkuhannya untuk berjalan-jalan. Akan tetapi, ternyata hubungannya dengan pria idaman lainnya itu pun tercium oleh sang suami.

Mulanya Damay tidak mengakui hal tersebut, tetapi ketika Andre menyebutkan inisial nama sang pria idaman lain, ia pun tidak bisa berkutik. Ia hanya terdiam ketika sang suami memarahinya. Sementara, perasaan Andre sendiri ketika mengetahui perselingkuhan untuk kali kedua dari istrinya itu pun kembali terluka.

Rasa sakit hati terhadap perlakuan sang istri, ia balas dengan cara yang tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan istrinya. Andre mulai menjalin hubungan dengan seorang pelanggan tokonya yang baik terhadapnya. Tanpa berpikir lama-lama lagi, ia mulai berencana menceraikan Damay dan hidup berumah tangga dengan wanita idaman lainnya tersebut. Rencana itu pun disampaikan Andre kepada sang istri.

Mendengar perkataan sang suami, timbul penyesalan dalam hati Damay akan kelakuan yang ia telah perbuat terhadap suaminya. Namun, di sisi lain ia merasa bahwa apa yang dilakukannya dengan berselingkuh dengan pria lain dianggapnya sebagai bentuk pembenaran terhadap kelakuan Andre yang tidak pernah memberikan nafkah batin kepadanya selama ini. Permohonan untuk bercerai dari sang suami pun ditolak oleh Damay. “Saya tidak akan pernah cerai, saya akan terus memegang komitmen pernikahan saya. Saya tahu kalau orang memegang komitmen pernikahan, Tuhan berada di pihak saya,” ujar Damay dengan intonasi suara yang sedih. 

Sampai suatu hari, Andre nekat bertemu dengan wanita selingkuhannya. Namun, sebuah kejutan dahsyat harus siap diterima Andre saat tiba di rumah.

“Adek sama kakak pergi bertiga? Enggak sama Tante. udah istri saya tanya. Marah dia,” kata Andre meniru ucapan anaknya.

“Saya marah, di dapur saya bantingin sendok. Dia mungkin mau mukulin saya, tetapi karena ada si Bryan dilihat di dalam dilihatin, dia gak berani. Saya maki-maki, saya teriak-teriak disitu. Saya ludahin mukanya. Saya berani banget,” kenang Damay.

Andre yang mendapat perlakuan tidak semena-mena dari istrinya itu pun hanya diam saja. Tidak ada perlawanan yang ia lakukan ketika itu.

Bagi Damay, menyelamatkan keluarganya dari ambang kehancuran adalah sebuah perjuangan. Damay meminta bantuan temannya untuk membujuk Andre agar mengikuti sebuah acara ibadah. Namun itu pun gagal. Sampai suatu hari anak laki-laki Andre menelepon Andre dan membuat Andre membuat keputusan penting dalam hidupnya.

“Pada waktu saya menelepon papa, saya bilang begini bahwa papa harus mengikuti acara ibadah ini. Saya pengin papa bisa berubah,” ujar Bryan, putra dari Andre dan Damay.

Walau awalnya berat, namun Andre tidak kuasa memenuhi keinginan anaknya yang begitu tulus. Akhirnya Andre pun memutuskan untuk mengikuti ibadah tersebut. Namun, saat akan berangkat ke ibadah itu Andre menemukan sesuatu yang sangat menyentuh hatinya.

“Di tas baju ada secarik kertas dibilang, “daddy, aku, mami sayang sama daddy. Kakak percaya, keluarga kita pasti dipulihkan,” cerita pria dua anak ini.

Di tempat itu, pikiran Andre benar-benar tidak menentu dan hatinya tak tenang. Namun, sebuah pernyataan dari seorang pembicara mendadak membuat hati Andre terbuka. Ia yang merasa sudah menjalankan perannya sebagai pria ternyata belum benar-benar ia lakukan. Kasih yang ia tunjukkan kepada orang lain masih belum murni karena masih ada persyaratan yang ia berikan. Tuhan mengingatkan agar saya memiliki kasih yang murni terhadap sesama. Andre tak kuasa lagi menahan lagi air matanya. Saat itu sebuah pengalaman yang menakjubkan pun dialami Andre.

“Tuhan, kayaknya menghampiri saya. Di depan muka saya persis gitu “Anak-Ku, bertobatlah, bertobatlah. Bahwasanya saya menjadi manusia yang bodoh, sebagai manusia yang benar-benar terikat dosa. Dosa seks, dosa manipulasi hidup saya, dosa munafik. Memori-memori saya dulu-dulu sama istri saya yang kurang ajar, yang jahat, yang saya semena-mena, yang saya tidak menghargai dia. Saya diingatkan kembali. Makanya saya hancur hati ya sampai disaat disuruh melepaskan dosa-dosa saya. Saya lepas saja,” ungkap Andre mengisahkan pertobatannya pertama kali.

Setelah mengikuti acara tersebut, Andre menyadari kesalahannya. Ia pun langsung memutuskan dengan wanita selingkuhannya. Dan pada kesempatan lain, Andre mengajak istrinya ke sebuah pertemuan ibadah. Di tempat ini, sebuah kejadian yang sama sekali tidak diduga oleh Andre dan Damay pun terjadi. Tuhan mengingatkan mereka tentang pernikahan melalui pendeta yang berkhotbah saat itu. Ia mengatakan bahwa pernikahan bukan antara manusia dengan manusia lainnya, tetapi antara manusia dengan Allah. Pernikahan pun terjadi bukan atas rencana manusia, tetapi benar dari Allah.

Kata-kata dari sang hamba Tuhan itu menguatkan hati Andre dan ia pun segera meminta maaf terhadap istrinya bahwa selama ini ia salah sama dia. Tidak memberi rasa hormat yang seharusnya istrinya terima. Damay pun meresponi hal tersebut dengan melepaskan pengampunan kepada suaminya. Keduanya diubahkan Tuhan ketika itu. Damai sejahtera yang belum pernah mereka rasakan turun saat keduanya mengakui dosa-dosa pelanggaran mereka.

Bahtera rumah tangga Andre dan Damay yang hampir hancur dihempas oleh badai perceraian akhirnya dapat diredakan. Kini Andre dan Damay benar-benar merasakan sebuah keajaiban terjadi dalam rumah tangga mereka.

“Suami saya banyak berubah, dari segala kesabaran, dari kata-kata. Terutama nih dalam hubungan suami istri, jadi dia yang ngajakin saya gitu. Awalnya kan dulu-dulu, selalu saya yang ngajakin, tetapi sejak dia berubah begitu, dia belajar untuk memberi yang terbaik buat saya,” kata Damay.

“Menafkahi baik lahir dan batin itu sudah kewajiban saya untuk istri saya, bukan sebagai nafsu tetapi sebagai kasih. Walaupun istri saya badannya sudah melar, beratnya sudah naik, tetapi satu hal diingatkan bahwa istri saya adalah hadiah terindah dari Tuhan. Saya bersyukur Tuhan telah pulihkan saya ke jalan yang benar, ke jalan Tuhan buat hidup saya.” ujar Andre Santoso mengakhiri kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan pada 23 November 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel)

Sumber Kesaksian:
Andre Santoso (jawaban.com)

Dunia Petualanganku Adalah Panti Pijat dan Pelacuran


Video Kisah Nyata

Melihat darah dagingnya yang baru lahir di ujung maut, dan jika pun hidup di vonis dokter mengalami kelainan, membuat Harry Nugroho memutuskan mengakhiri petualangannya bersama para pelacur. Inilah pengakuan jujur dari bapak 3 anak tersebut.

Saya mulai mengenal pelacuran sejak duduk di bangku SMA. Awalnya sih mencoba-coba, tapi akibatnya saya merasa ketagihan, Saya merasa kepingin terus. Karena disitu saya ngga perlu pusing-pusing, dan saya dilayani. Jadi itu kenikmatan sesat sebetulnya.

Karena saya ingin tetap menjaga image saya, saya ingin tetap menjaga nama baik keluarga, saya melakukannya secara diam-diam dan tidak bawa teman. Supaya orang bisa melihat bahwa saya orang baik-baik.

Saya bisa berganti-ganti wanita, dalam tanda petik barang yang lain, melihat yang lain, membuat saya kepingin terus. Hal itulah yang menyebabkan saya ngga bisa lepas dari seks bebas.

Dalam perjalanan petualangan itu, Harry bertemu dengan Devi dan menjalani hubungan dengannya. Sungguh mengherankan, Harry mengaku bahwa dirinya sudah tidak perjaka lagi pada sang pacar. Devi sangat kecewa ketika mengetahui kebenaran itu. Devi sempat memutuskan untuk tidak menemui Harry lagi, namun kegigihan Harry meluluhkan hati Devi, hingga akhirnya mereka berdua melangkah ke pelaminan.

Saya berjanji padanya untuk tidak melakukannya lagi. Akhirnya kami menikah, tapi karena ada keterikatan itu, saya tidak bisa stop.

Biasa dengan teman-teman di kantor, siang-siang, kami pergi ke panti pijat. Kami pergi-pergi ke spa, berendam, hal seperti itulah yang kami lakukan. Istri saya ngga pernah tahu, pikirnya saya kan di kantor. Tapi saya dan teman-teman pergi ke panti pijat, yang masing-masing masuk ke ruangan-ruangan, yang setelah masuk, terserah Anda.

Suatu pengalaman yang lain, itu yang saya cari.

Berganti-ganti wanita, tidak membuat Harry takut. Bahkan ketika dia bertemu dengan seseorang yang dia kenal di lingkungannya sebagai orang baik-baik ada di tempat pelacuran, membuatnya semakin berani.

Saya ketemu satu orang yang sangat baik. Di keluarganya baik, di lingkungannya baik, tapi saya ketemu disana. “Harry rahasia kita ya..tahu sama tahu, rahasia laki-laki. Udah.. ngga usah banyak cerita.” Saya hanya jawab, “Ya..oke..oke…Siap..” Hal ini membuat saya merasa, orang baik saja bisa begitu, apa lagi saya yang belum baik. Hal itu membuat saya merasa tidak bersalah. Apa yang saya lakukan belumlah apa-apa.

Petualangannya hanya mencari kesenangan sesaat, namun tidak disadarinya bahwa ia telah terjerat dalam perangkap yang mematikan.

“Saya hanya mencari variasi saja. Yang tidak saya dapat di rumah, saya cari variasi di luar. Bukan saya adiktif, yang sehari harus tiga kali atau empat kali. Tapi hanya mencari variasi dalam kehidupan saya. Mencari petualangan. Saya tetap dalam kondisi yang normal. Satu lawan satu. Tapi saya melakukannya dengan curi-curi waktu. Kalau ada waktu saya melakukan seks bebas. Seks yang saya lakukan adalah dengan cara saya bayar orang. Saya bayar dan saya nikmati, lalu selesai. Saya takut untuk menjalin suatu asmara atau sampai jatuh cinta wanita tersebut.

Ada suatu dorongan yang membuat saya selalu ingin ke tempat seperti itu. Ada suatu tekanan atau ikatan yang membuat saya ingin ke tempat pelacuran, panti pijat, dan tempat-tempat perzinahan. Istilahnya itu “cipto” – icip-icip roto – jadi semua saya coba. Semuanya saya coba satu-satu. Mana yang baik, besok saya ulang lagi.

Semua itu terus ia lakukan, hingga istrinya mengandung anak ketiganya. Ketika istrinya melahirkan anaknya itu sesuatu terjadi dan membuat Harry terpukul.

Dokter bilang, ibu Devi, istri saya harus di operasi untuk diambil anaknya. Saya cukup cemas. Saya hanya bisa SMS ke teman-teman “tolong bantu saya dalam doa.” Pagi harinya, operasi pun dilakukan.

Bayi perempuan berhasil di keluarkan dari rahim Devi, namun tidak terdengar tangisan dan tubuh bayi itu kaku.

Waktu dokter memanggil, saya langsung lari dan bertanya, “Dok, ada apa?” Dokternya hanya berkata, “Anaknya tidak bagus.” Saya tanya apa maksudnya dengan tidak bagus. Dokter menjelaskan kalau anak ini ada kelainan. Waktu lahir pun dia seperti mati dan tidak menangis. Saya tanya apa akibatnya? Kata dokter anak ini akan mengalami gangguan pertumbuhan, gangguan di kemudian hari. Seperti down syndrome , atau kelainan bawaan lainnya. Saya hancur sebagai orangtua. Saya nangis saat itu, saya minta ampun sama Tuhan. “Tuhan, tolong jaga anak saya. Engkau pelihara anak saya.”

Melihat kondisi anaknya yang terkulai tak berdaya membuat hati Harry semakin hancur.

Saya lihat anak saya terbungkus semua scan, semua kabel-kabel, semua selang-selang, sampai transfusi darah juga. Scan seluruh tubuh karena dianggap mengalami kelainan. Dianggap oksigen yang masuk ke otak kurang. Secara pengetahuan, kalau oksigen yang masuk ke otak kurang, anaknya bodoh, anak itu idiot. Itu yang menghantui saya. Saya merasa tidak siap. Kenikmatan yang saya rasakan selama ini tidak ada artinya, kalau saya harus menanggung hal ini seumur hidup. “Ini akibat dosa saya,” saya langsung bilang begitu. Saya tidak menyalahkan Tuhan, tapi saya menyalahkan diri saya sendiri. Karena saya hal ini terjadi. Tapi saya percaya, saya punya Tuhan yang luar biasa.

Saya katakan pada anak saya saat itu, “Valerie, ampuni papa. Papamu ini bukanlah papa yang baik. Papamu ini adalah papa yang jahat. Kamu sampai jadi seperti ini karena dosa papa.

Saya bilang sama Tuhan, “Tuhan, ampuni saya Tuhan. Buat anak ini menjadi perjanjian antara aku dan Engkau Tuhan. Tuhan kalau ini karena dosa saya, jangan ke anak saya, ke saya. Saya yang tanggung dosanya. Kalau Tuhan pulihkan anak saya, saya akan jaga hidup saya.

Kerendahan hati dan pertobatan yang bersungguh-sungguh membuat seruan hati Harry di jawab oleh Tuhan.

Seakan Tuhan berkata, “Kekuatan kamu tidak ada artinya. Kamu mau cari dokter yang paling mahal pun ngga ada gunanya. Kamu mau cari rumah sakit yang paling mahal pun tidak ada gunanya. Kamu hanya bisa berserah pada Tuhan.” Saya berada di posisi seperti itu. Dan saya harus kembali ke Dia.

Waktu berjalan, pertumbuhan Valerie semakin hari semakin baik. Kata-kata dokter yang pernah terucap, semua hal-hal negatif, tidak terbukti. Karena saya percaya, saya punya Tuhan yang luar biasa. Tuhan yang sudah mengampuni saya. Saya punya dosa yang semua orang tidak tahu. Tapi saya harus buka semuanya. Keterbukaan adalah awal dari pemulihan.

Sebuah keputusan yang sangat berani dibuat oleh Harry, dia mendatangi istrinya dan mengakui semua yang pernah diperbuatnya. Inilah pengakuan Harry kepada Devi:

Saya sudah tidak setia dengan kamu. Saya sudah banyak jatuh dalam dosa seksual, perzinahan, perselingkuhan, seks bebas. Ampuni saya.

Devi terguncang oleh pengakuan Harry. Dia tidak menyangka, pernikahannya yang sudah berjalan selama 10 tahun itu penuh dengan kebohongan. Bagaimana Devi menghadapi kebenaran yang pahit ini?

Waktu mendengar pengakuan suami saya, saya betul-betul kaget. Ternyata kehidupan pernikahan kami yang sudah berjalan 10 tahun itu penuh dengan kebohongan. Saya sangat menyesal, saya sangat menyesal mengapa pernikahan ini bisa terjadi. Kenapa Tuhan ijinkan ini terjadi? Kenapa 10 tahun itu harus di kotori oleh cerita sebuah pengkhianatan.

Saya katakan, “Memang saya anak Tuhan, tidak ada kata lain, selain mengampuni.”

“Tapi jangan sekarang ya.. saat ini saya belum bisa untuk mengampuni. Walaupun itu perintah Tuhan untuk mengampuni, tapi jangan saat ini,” demikian ungkap Devi dengan penuh kekecewaan dan derai air mata.

Suatu pertempuran terjadi di dalam hati Devi. Kemarahan, rasa jijik, dan kekecewaan berkecamuk di benaknya, membuat dia begitu berat untuk memutuskan mengampuni Harry.

Saya merasa saat itu jijik dan kesal. Saya bertanya pada diri saya apakah saya bisa memaafkannya. Saat itu saya banyak berdiam diri. Saya tidak ingin memperlihatkan kegundahan saya dihadapan semua orang, untuk itu saya banyak menenangkan diri.

Di saat itu saya berseru, “Tuhan, beri saya kekuatan. Tuhan, apa yang harus saya perbuat?”

Saya diingatkan banyak hal. Muncul kata-kata mengampuni..mengampuni… tiba-tiba kata-kata mengampuni itu mengiang-ngiang di telingan saya.

Saya berdoa, “Tuhan beri kekuatan pada saya. Saya mau menjadi wanita yang menjadi penopang bagi suami. Tuhan, beri saya hati yang bisa mengampuni sepenuhnya.”

Saya berdoa seperti itu, karena bisa saja saya berkata “sudah mengampuni,” tetapi begitu teringat sakit hati lagi. Saya berdoa seperti itu bagi diri saya sendiri, untuk saya bisa mengampuni dan menerima suami saya apa adanya.

Kasih Tuhan, dan keputusan Devi untuk mau mengampuni membuka berkat bagi pemulihan hubungan dengan Harry. Pengampunan yang tulus dari istrinya sulit dipercaya oleh Harry, baginya ini adalah sebuah mukjizat.

Devi berkata pada saya, “Harry, aku cuma bisa mengucapkan satu kata saja, “Saya mengampuni, saya mau menerima kamu apa adanya. Asal kamu betul bertobat. Betul janji.”

Luar biasa keteguhan hati istri saya. Dia mau menerima saya, dan dia mengampuni saya.

Keharmonisan keluarga Devi dan Harry terbangun kembali. Suasana romantis pun selalu menghiasi hari-hari kehidupan mereka. Saat ini, Harry dan Devi memberikan hidup mereka untuk melayani Tuhan. Dan apakah yang dilakukan Harry untuk menjaga komitmennya?

Saya menghindari tempat-tempat yang tidak baik. Saya tidak berani coba-coba lagi. Saya tahu daging ini lemah. Tapi Tuhan kuatkan saya untuk menghindari.

Saya sungguh senang melihat pertumbuhan Valerie. Ternyata Tuhan adalah Tuhan yang baik. Dia menyadarkan saya dari kehidupan saya yang lama untuk menjadi orang yang lebih baik. Untuk menjadi suami yang lebih baik. Untuk menjadi orangtua yang lebih baik. Dan untuk kemuliaan nama Tuhan.

Tuhan yang sama dapat bekerja dalam hidup Anda. Jika Anda mengalami apa yang pernah Harry dan Devi alami, datanglah pada Tuhan, dan ijinkan Tuhan menjamah dan memulihkan hidup Anda juga.

(Kisah ini ditayangkan 18 November 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).
Sumber Kesaksian :

Harry & Devi Nugroho (jawaban.com)

Kisah Takluknya Nono Sang Pemburu Kebahagiaan


Video Kisah Nyata Kecanduan Narkoba & Seks

Hanya demi mendapatkan kesenangan dan pengakuan dari teman-temannya, Nono Tjokro merusak hidupnya dengan minuman keras. Ketika masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), Nono berkenalan dengan minuman keras yang kemudian membawanya kepada narkoba, perkelahian dan juga seks bebas.

“Siapa sih laki-laki yang ngga bangga kalau kita punya nama? Kita dikenal…?” demikian ujar Nono mengungkapkan alasannya menjalani semua kebejatan itu.

Berkelahi adalah salah satu cara untuk menunjukkan kejantanannya sehingga bisa mendapatkan penghormatan baik oleh kawan maupun lawan.

“Waktu itu saya sekolah di SMA 2. Ada seorang teman yang menelpon saya.”

“Eh..ada anak baru nih..”

“Emang kenapa?” Tanya Nono.

“Ngga..sombong aja..”

Hanya dengan alasan seperti itu, Nono tega menghajar orang lain yang tidak dikenalnya.

“Karenanya mereka tahu kalau saya suka berkelahi..”

Mabuk-mabukan dan berkelahi sudah menjadi hal biasa bagi Nono. Bahkan ketika ia bekerja di luar daerah kelakuannya pun semakin menjadi-jadi.

“Waktu saya mau ke kantor, saya harus konsumsi ganja dulu.. supaya saya merasa fit. Narkoba sudah menjadi seperti suplemen buat saya. Ketika saya sampai dikantor, saya duduk dan meminta rekan saya memutar lagu. Lalu saya denger lagu, sambil saya ngelinting di depan mereka!! Saya sudah tidak peduli dengan pendapat orang. Saya bertumbuh menjadi orang yang berpikir ‘Udah deh, kalau saya mau mati, mati aja..’ Yang saya tahu, saya cuma mau senang. Jadi kalau saya bisa konsumsi ganja, atau saya bisa konsumsi jenis narkoba yang lain itu berarti saya ngga bakalan sedih. Saya pasti senang dan saya harus senang.”

Kesenangan demi kesenangan terus dicari Nono, sampai akhirnya ia terjerumus dalam dunia malam.

“Saya mulai masuk di diskotik. Saya merasa ini tempat yang sangat mengasikkan banget. Sepertinya ini bisa lebih menyenangkan hati saya lagi. Waktu on dengan teman-teman, kami dugem sama-sama, saya sudah seperti penggembira. Saya bisa naik ke atas-atas speaker, saya bisa goyang di atas mejanya orang. Sudah seperti kita yang punya dunia. Disitulah awal-awal saya berkenalan dengan perempuan. Kalau orang bicara narkoba tanpa perempuan tanpa seks, itu omong kosong. Saya karaoke, saya berkenalan dengan perempuan, ditemani perempuan, begitu pulang pasti buntut-buntutnya seks. Dua hal yang sangat menyenangkan buat saya, adalah narkoba dan perempuan. Jadi sampai tahun 2001, bayangkan, hampir setiap hari kehidupan saya hanya seputar itu. Mabuk-mabukan, narkoba, perempuan, itu seperti sesuatu hal yang sudah mendarah daging dalam hidup saya.”

Tiada hari yang dilaluinya tanpa mabuk-mabukan dan narkoba. Demi kesenangan yang ia cari, Nono pun terus berpetualang dalam kehidupan liarnya. Hingga suatu hari, sesuatu terjadi dan meluluh-lantahkan semua harapannya.

“Sampai 2001 malam natal, akhirnya saya ditangkap. Hari itu adik-adik sedang bakar petasan di depan, lalu perintis masuk. Kebetulan saya lagi minum di belakang dan ada ganja di tangan saya. Saya pingin ke depan, karena saya liat rame di depan. Jadi saya sembunyikan bungkusan rokok itu di pinggir jalan, saya ngga sadar intel polisinya masuk. Empat orang polisi sudah langsung pegang saya,”demikian Nono bercerita tentang penangkapannya.

“Selamat malam pak, ini punya bapak?” Seorang polisi menunjukkan sebungkus rokok pada Nono.

“Ya.. benar. Itu punya saya.”

“Tangkap..”

Akhirnya Nono di gelandang ke Poltabes. Detik itu, ketakutan mulai menyusup di benak Nono.

“Waktu saya di borgol, waktu dalam perjalanan ke Poltabes, mulai ada ketakutan yang timbul dalam hati saya. Pada hal saya dulu orang yang tidak kenal rasa takut.”

Bagai jatuh tertimpa tangga, ketika Nono mendengar kabar yang membuatnya merasa seluruh masa depannya hancur.

“Satu kali, sewaktu saya masih di penjara, teman-teman dari kantor datang. Saya pikir ada apa? Ternyata mereka datang untuk mengantarkan surat pemecatan saya. Pemecatan saya, jujur sangat membuat saya kecewa. Saya ngga nyangka SK pemecatan saya itu datang di akhir-akhir masa hukuman saya. Saya hanya tahu pekerjaan ini adalah satu-satunya harapan buat saya. Jadi waktu saya tidak lagi memiliki pekerjaan ini, dan SK pemecatannya keluar, saya seperti kehilangan hal yang besar. Seperti saya kehilangan sesuatu yang benar-benar penting dalam hidup saya. Saya berpikir, kenapa di saat-saat seperti ini, tinggal tiga bulan lagi masa hukuman saya selesai, tetapi kok bukan hal yang baik yang datang, bukan hal yang menggembirakan, tetapi kok hal yang menyedihkan!”

Tidak bisa menerima kenyataan, Nono pun semakin larut dalam keputusasaannya. Perbuatan nekad pun akan dia lakukan.

“Saat itu saya sedang di kamar mandi, di sel, saya seperti antara ingin memotong urat nadi saya, tetapi seperti ada banyak suara yang berbicara dalam hati saya. Saya ngga tahu mau dengar suara yang mana. Tapi yang saya tahu, saya sudah ngga punya pengharapan. Pada waktu tangan saya yang memegang silet sudah di urat nadi, ada suara yang lain yang ngomong dalam hati saya. Suara itu kecil banget tetapi tegas. Suara itu hanya berkata ‘Bangun, jalan!’ Sewaktu saya dengar suara itu, saya hanya bisa nangis. Tetapi tangisan saya, seperti tangisan yang lain. Saya ngga tahu mengartikannya sebagai apa, tapi bagi saya seperti tangisan sukacita. Saya ngga bisa jelaskan kenapa saya batalkan untuk bunuh diri.”

Seakan mendapatkan kekuatan baru, Nono pun mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Sampai hari pembebasannya tiba, Nono memutuskan untuk kembali ke Ambon dan mengikuti suatu ibadah.

“Saya duduk dalam ibadah itu, setengah jam sampai 45 menit saya menikmatinya. Tetapi ada satu statement yang pendeta ini kemukakan yang sangat menarik di hati saya. Yang sangat menarik di pikiran saya. Statemennya seperti ini, ‘Bahwa yang paling payah dari mati konyol adalah orang yang hidupnya konyol.’ Waktu saya dengar kata-kata itu, sepertinya Tuhan sedang berkata kepada saya, ‘Kamu orang konyol.’ Kenapa saya berkata kalau Tuhan seperti bicara pada saya kalau saya orang konyol? Karena semua kehidupan yang pernah saya habiskan, semuanya konyol. Entah itu mabuk-mabukan, entah itu saya berkelahi dengan anaknya orang, entah itu saya menyakiti hati orang, entah itu saya merokok, entah itu narkoba, entah itu saya free seks dengan banyak perempuan, saya mulai mengerti semua itu konyol. Saya minta ampun pada Tuhan, saya ngomong dalam hati ‘Tuhan ampuni saya.’ Saya tahu persis ini saya. Dan saya tahu Tuhan tidak tinggalkan saya. Saya seperti merasakan Yesus sedang bersama-sama dengan saya. Yesus sedang memeluk saya, Yesus bilang, ‘Kamu ngga sendiri, kamu ngga dikucilkan, kamu ngga dibuang. Kalau kamu merasa kehilangan pengharapan, Saya punya pengharapan. Saya janjikan pengharapan itu buat kamu. Saya yang punya pengharapan.’ Waktu saya ada di posisi ini, saya merasa sangat nyaman. Saya hanya bisa menangis dan menangis dan menangis. Saya menikmati benar, bahwa Tuhan Yesus ada bersama-sama dengan saya. Saat itu saya tahu kalau Tuhan Yesus memberi saya kekuatan. Saya tahu kalau Tuhan Yesus sudah menyelamatkan hidup saya. Saya tahu kalau Tuhan Yesus akan memberikan masa depan yang luar biasa.”

Melalui satu pribadi, Nono kembali menemukan pengharapan baru. Ia pun merasakan kebahagiaan sejati yang selama ini ia cari.

“Jadi semua yang dulu saya pikir adalah hal-hal yang bagus, hal-hal yang prioritas kini ngga berarti buat saya. Waktu saya di titik orang ngga indahkan saya, dimana dunia buang saya, dimana manusia kucilkan saya, dimana saya ngga berarti buat orang, tapi saya tahu kalau Tuhan Yesus sangat mengasihi saya. Kenapa saya katakan begini? Karena ada sesuatu yang membuat saya bahagia. Kenapanya, saya ngga bisa jelasin. Tapi sekalipun saya kurang, sekalipun saya ngga punya apa-apa, tapi saya bisa bahagia. Kasih Yesus itu sangat memberikan suatu damai sejahtera yang luar biasa. Cuma Yesus yang bisa memulihkan separah apapun kehidupan kita dan yang memberikan jaminan masa depan yang cerah,” ucap Nono menutup kesaksiannya. (Kisah ini sudah ditayangkan pada 11 November 2009 dalam acara Solusi Life di O’Chanel).

Sumber kesaksian:

Nono Tjokro (jawaban.com)

Choky Sitohang Disembuhkan Dari Hepatitis


Video Kisah Nyata Sembuh dari Hepatitis

Siapa yang tidak mengenal presenter yang berpenampilan menarik dan sedang naik daun ini. Tanpa disangka-sangka Choky divonis dokter terkena penyakit Hepatitis (liver). Ia terkejut karena ia merasa bahwa ia adalah orang yang paling sehat. Tetapi ia malah jatuh sakit. Yang membuat ia kecewa adalah karena ia mengalami sakit pada saat ia sedang berkarir. Ia sedang mengejar cita-citanya untuk menjadi presenter terkenal.

Pada saat itu ia mulai flash back kehidupannya 2 tahun terakhir ini. Ia sibuk dengan pekerjaannya. Ia mencari uang dengan giat, sesudah itu ia menghabiskan waktu dengan hobi dan teman-temannya. Setelah lelah sampai dirumah ia langsung beristirahat. Ia lupa bahwa ia tidak pernah meluangkan waktunya untuk menyapa Tuhan. Ia tidak pernah bersaat teduh bahkan hari Minggu terkadang ia tidak ke gereja, dan Roh Kudus mulai mengingatkannya akan hal itu.

Pada saat ia sakit, ia harus dirawat di Rumah Sakit selama 21 hari. Padahal ia tidak mempunyai cukup uang untuk biaya Rumah Sakit. Dokter berkata bahwa ia harus tetap dirawat karena sakitnya cukup parah. Tetapi dokter berkata bila ada mukjizat maka Choky dapat keluar Rumah Sakit sesegera mungkin.

Pada hari ke delapan, Choky berangsur-angsur pulih. Akhirnya ia bisa keluar dari Rumah Sakit dan ia dapat membayar biaya Rumah Sakit. Tetapi Choky tidak dapat langsung dapat melakukan kegiatannya. Ia harus bed rest selama 3 bulan. Ia menjalaninya. Pada saat ia merasa sehat, perasaan takut itu datang. Ia merasa tidak bisa sukses. Tetapi pada saat itu Tuhan meyakinkan bahwa ia harus melakukan bagiannya dan Tuhan yang akan lakukan bagian-Nya.

Mulai saat itu ia kembali menulis CV untuk ia masukkan ke beberapa agensi. Ia mulai menghubungi teman-temannya dan mencari link untuk memberikan jalan ia menjadi presenter. Ia melakukan yang terbaik pada waktu di casting. Sampai pada akhirnya produsernya berkata bahwa ia adalah orang yang tepat untuk acara ini.

Ada saatnya ia hampir gagal dan ia ingin menyerah. Tetapi Tuhan jelas berkata jangan pernah menyerah, lakukan terus apa yang sedang dilakukan karena ia menuju keberhasilan. Ia mendapatkan satu ayat “Tetapi orang-orang yang menantikan Tuhan akan mendapat kekuatan baru, mereka seumpama rajawali yang naik terbang…”. Ada waktunya Tuhan memberikan kepercayaan dari yang kecil dampai yang besar. Dari perkara yang kecil, bila kita setia lalu Tuhan pasti akan mempercayakan hal yang besar.

Tuhan mengajarkan Choky untuk tetap optimis. Melakukan sesuatu yang baru dengan semanagt. Tuhan Yesus adalah sahabatnya. Walaupun banyak sahabatnya di dunia tetapi ia merasa bahwa Yesus adalah sahabat sejatinya. Pengharapan akan menimbulkan iman dan pada akhirnya akan menghasilakan satu solusi. Itulah hal yang ia percayai tentang kehidupannya bersama Tuhan Yesus. (Kisah ini ditayangkan 10 November 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel)

Sumber kesaksian:
Choky Sitohang (jawaban.com)

Diculik Dan Dibunuh, Namun Hidup Kembali


Video Kisah Nyata Penculikan

“Sebelum kejadian itu saya alami, saya bermimpi diculik oleh dua orang ke hutan. Tapi saya tidak tahu di hutan mana. Di situ saya dipukuli dan dibunuh. Saya sempat menceritakan mimpi saya itu ke seorang teman, tapi teman saya berkata bahwa hal itu hanyalah mimpi, tidak mungkin jadi kenyataan,” demikian Janni memulai kesaksiannya.

Justru sekitar satu bulan kemudian, mimpi Janni menjadi kenyataan. Hari itu Janni sedang berjalan-jalan di daerah Kota ketika tiba-tiba ada seseorang menepuk pundaknya. Ada enam orang pelaku yang membawanya masuk ke dalam taksi dan membawanya ke sebuah hutan. Di hutan tersebut, Janni diperlakukan secara tidak manusiawi.

“Saya dipukul, ditendang dan diancam. Mereka berkata, kamu harus temukan cara untuk bisa menebus nyawa kamu, supaya kamu bisa pulang dengan selamat. Maka saya menelepon abang saya. Saya bilang, ‘Bang saya diculik. Saya posisinya di hutan, saya tidak tahu hutan mana, saya diculik’.”

Hari itu kakak Janni sedang dalam perjalanan menggunakan sepeda motor. Selain mendapat telepon dari Janni, si penculik juga menghubunginya serta meminta uang tebusan sebesar 20 juta. Setiap setengah jam si penculik menghubungi kakak Janni dan terus menyampaikan ancaman akan membunuh Janni jika uang yang diminta tidak segera ditransfer. Pada hari itu juga kakak Janni langsung melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Dan sewaktu masih di kantor Polisi, penculik itu kembali menelepon.

“Sebelum jam sembilan uang itu harus sudah ditransfer, kalau tidak adik kamu saya habisi,” demikian kakak Janni bercerita. “Saya sudah transfer sebagian, tapi saya harus mencari pinjaman dulu kepada teman-teman dan kerabat supaya bisa cukup.”

Namun pada akhirnya negosiasi dengan para penculik itu menghadapi jalan buntu karena para penculik itu mengetahui bahwa kakak Janni telah melapor ke Polisi..

“Pada saat itu saya tambah merasa tertekan, ketakutan saya lebih tinggi lagi. Mereka bilang, ‘Adik kamu sekarang saya bunuh’. Saya bilang, ‘Kenapa adik saya harus dibunuh? Saya sudah transfer uang yang diminta’. Mereka menjawab karena saya lapor polisi.”

Akibat negosiasi yang gagal, maka saat itupun Janni dipersiapkan untuk dibunuh.

“Ini makanan terarkhir kamu, makan! Lihat matahari, ini terakhir kali kamu lihat matahari dan makan. Hari ini kamu mati.”

Mereka menyeret Janni dan memukulinya sampai ia sekarat. Dan akhirnya, salah satu dari penculik itu menjerat lehernya untuk menghabisi nyawanya. Setelah dibunuh, tubuh Janni dibuang ke semak-semak.

“Hampir jam sebelas, si penculik menelepon, ‘Adik kamu sudah saya bunuh’. Saya tidak bisa apa-apa, hanya diam. Saat itu saya pasrah. Sambil air mata saya mengalir, saya berdoa, Tuhan saya berserah penuh pada-Mu. Jika adik saya masih hidup, kembalikan utuh dari kepala sampai ujung kaki”

Namun sebuah peristiwa spiritual dialami oleh Janni.

“Saat itu saya merasakan sudah mati. Bahkan roh saya melihat sendiri jenasah saya diseret ke semak-semak. Tapi pada saat itu saya melihat sebuah cahaya yang terang sekali. Yesus menampakkan diri dengan cahaya yang terangnya luar biasa. Tiba-tiba ada angin yang begitu kencang dan roh saya kembali ke tubuh saya.” Setelah sadar, Janni pun berlari keluar hutan untuk mencari pertolongan.

Sekitar jam 1 siang, kakak Janni pamit pulang dari kantor polisi. Namun seorang polisi menahannya, “Jangan! Jangan pulang dulu.” Dan sekitar lima belas menit kemudian, seorang polisi memberitahukan bahwa adiknya sudah ditemukan dan sekarang berada di rumah sakit.

“Pada saat itu, saya langsung mengucap syukur kepada Tuhan. Tuhan terima kasih, Tuhan Yesus saya sangat berterima kasih. Pada saat bertemu dengan Janni, saya langsung memeluknya dan terus mengucap syukur kepada Tuhan.” Demikian ungkap kakak Janni.

Janni pun tak putus-putusnya mengucap syukur buat kebaikan Tuhan, “Kebaikan Tuhan yang saya alami tidak pernah saya bayangkan, saya bisa selamat dari maut. Saya bisa bertemu dengan abang saya, juga bisa bertemu dengan keluarga. Saya rasanya bangga bisa hidup kembali. Saya senantiasa mengucap syukur atas kebaikan Tuhan. Bahkan saya mengucap syukur atas segala hal yang Tuhan kerjakan. Tuhan itu luar biasa.” (Kisah ini sudah ditayangkan 09 November 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber kesaksian :

Janni (jawaban.com)

Istri Kejam yang Menyiksa Buah Hatinya Sendiri


Video Kisah Nyata Kepahitan & Luka Batin

Kebahagiaan Mui Ha hanya seumur jagung. Setelah anak pertamanya lahir, Mui ha berubah menjadi sosok wanita yang keras. Anaknya pun sering menjadi korban kemarahannya.

“trus anak 9 bulan aja kalo nangis saja saya pukul. Saya cubit. Dasar anak gak berguna, kalo tahu mah gw matiin saya bilang gitu. Udah saya marah-marah, saya lempar anaknya ke kasur,” ujar Mui Ha mengawali kesaksiannya.

Namun, keberingasan Mui Ha tidak cukup sampai disitu. Saat anaknya pertama semakin besar, sedikit kesalahan yang dibuatnya akan berakibat fatal.

“Saya tanya kenapa lis, bisa tumpah. Dia jawab gak tahu, tahu. Tanyain gak tahu, spontan saya angkat kemoceng, saya pukul dia. Saya bilang dasar anak gak berguna. Semua perkataan gak bener, saya ucapkan ke dia,”

Saat anaknya tidak mau mengaku, Mui Ha semakin ganas menyiksanya.

“Pertama, saya gigit kupingnya sampai berdarah. Walaupun dia sudah minta ampun, tetap aja dia saya pukul. Sambil pukul, sambil membayangi muka wajah mama saya”.

Sejak lahir, Mui ha tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Kehadirannya selalu ditolak oleh ibu kandungnya.

“Kalau saya panggil dia mama, dia tidak pernah nyahutin. Kalau saya dekatin, dia selalu dorong. Saya gak pernah diberi kesempatan dekatin dia, apalagi kalau saya sakit panas atau apa, mama selalu bilang begini, “kamu sakit itu kamu sendiri yang mau. Mati aja, ga pa pa. Lo anak yang lebih. Kalau gw ga ngelahirin lo, ga suka begini,” Pas lahirin saya, mama terus sering sakit, kena musibah” kata Mui Ha sambil menahan tangis.

Beranjak remaja, hidup Mui Ha sedikit pun berubah. Seringkali dia dipersalahkan untuk hal yang tidak ia lakukan.

Suatu waktu, adik Mui Ha menangis karena menginginkan kue. Mendengar tangisan, kakak Mui Ha langsung mendatanginya dan menampar hingga pipinya berdarah. Tanpa terlihat iba, kakak Mui Ha menyuruh dirinya untuk mengkumur-kumur bibirnya yang berdarah dengan air garam agar darahnya berhenti. Ia pun menuruti perintah tersebut.

Penderitaan Mui belumlah selesai. Ketika ia membantu adiknya yang sedang terjerumus ke sungai, Mui Ha malah dimarahi oleh kakaknya sendiri yang tidak jauh dari situ. Bahkan saat mamanya sampai di tempat dimana dia dan saudarinya sedang bermain, ibu Mui Ha langsung marah-marah melihat kondisi adik Mui Ha yang penuh lumpur.

Tanpa basa-basi, sang ibu pun langsung menghajar dirinya. Tangisan dirinya, tidak membuat mamanya diam atau mengurangi pukulannya. Malah, saat dirinya minta ampun, malah kata-kata yang kurang pantas keluar dari mamanya sambil terus memukul dirinya yang sudah menderita.

Namun, siksaan yang diterima Mui Ha dari ibunya semakin hari semakin parah dan merajalela. Bahkan, di depan mata ayahnya, sang ibu tega memukul dirinya tanpa alasan.

“Memang saya mandi di sungai agak lamaan karena saya mencari ikan untuk lauk buat makan. Jadi mungkin karena kelamaan atau apa, saya juga tidak tahu. Saya udah naik dari sungai, saya masuk ke dapur tahu-tahu dari belakang mama tarik rambut saya, dijenggut langsung dipukul, dihajar dengan kayu sebesar batang senter sampai diri saya terkencing-kencing disitu. Papa yang melihat hal itu, hanya merangkul saya,” ujarnya. “Melihat diri saya dirangkul papa, mama malah bertambah kasar. Papa pun segera keluar dari situ dan tidak berapa lama kemudian datang membawa golok. Bukannya takut, malah perkataan mama semakin menyakitkan dan berkata kepada papa agar membawa saya pergi dari rumah mereka,” lanjut Mui Ha.

Kebencian Mui Ha terhadap ibunya sudah memuncak, sebuah tindakan gila menantang sang ibu siap ia lakukan.

“Saya bilang, “awas lho ma. Kalau saya sudah jadi orang kuat, saya akan bunuh mama di depan papa. Dan kalau mama mati, saya tidak akan tangisin mama.”

Mui Ha tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan hancur di tangan ibunya sendiri. Hatinya tidak kuat menahan rasa sedih di dalam batinnya. Rasa sesal hadir di dunia ini pun menyelimuti dirinya. Tanpa sadar, masa lalunya itu pun terus mengikat dirinya sampai ia menikah dan mempunyai anak.

Perlakuan kasar Mui Ha terhadap salah seorang putrinya merupakan hasil masa lalu yang terus ia ingat. Elis, putri dari Mui Ha yang sering kali mendapat perlakuan kasar mengaku sedih atas tindakan masa lalu mamanya kepadanya ketika itu.

“Kok mama bisa begini? Kenapa Elis gak lahir di keluarga yang beda, jangan di keluarga yang seperti ini,” ungkap Elis sambil menahan tangis.

Dendam telah membuat Mui Ha menjadi sosok yang kejam sama seperti ibunya, namun hati kecilnya menjerit, ia tidak pernah mau hidup seperti ibunya.

“Saya gak bisa lepas kekerasan saya walaupun sebenarnya saya menyesal dengan apa saya lakukan. Selalu saya tonjok dada saya sendiri dan kepala saya, saya jedotin ke tembok. Gak bisa hilangin emosi, tetapi gak bisa. Saya merasa tidak menemukan jalan keluar untuk masalah saya ini,” kisah Mui Ha.

Tak ada yang mampu mengubah sifat keras Mui Ha, sampai suatu hari ia bertemu dengan seorang teman. Kepada wanita tersebut, Mui Ha menceritakan rahasia hidupnya. Dalam pembicaraan tersebut, temannya memberikan saran kepadanya agar dia bisa mengubah perilaku terhadap putrinya. Namun, itu tidaklah belum bisa mengubah sifatnya yang keras.

Dua hari kemudian, Mui Ha dibawa ke dalam sebuah pertemuan yang nantinya akan menjungkir balikkan hidupnya.

“Dari situ, saya dengar setiap khotbah yang disampaikan oleh hamba Tuhan yang berdiri di depan mimbar. Sampai ada satu ayat yang begitu me-rhema di hati saya yakni di Yohanes 3:16, Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Tetapi, ayat itu seperti bertolak belakang dengan kenyataanya saat ini. Di mata orang tua saya, saya bukanlah orang berharga; di mata suami, saya tidak berharga karena saya orang gila.”

Saat itu juga, Mui Ha ditantang untuk mengampuni ibunya. Bayang-bayang kekejaman sang ibu sangat melekat di ingatannya. Masih segar di ingatan Mui Ha, saat terakhir ibu menangis di sisinya. Tidak ada rasa iba yang ditunjukkannya kepada sang ibu ketika itu bahkan harapan akan kematian cepat dari ibunya itulah yang diinginkannya.

Kuasa Tuhan dalam pertemuan itu begitu kuat. Walaupun begitu, perjuangan Mui Ha melepaskan pengampuan kepada orang-orang terdekatnya tidaklah mudah.

“Pembimbing saya bilang, kamu bisa, kamu pasti bisa katanya. Kamu panggil Tuhan Yesus. Ya sudah saya panggil, Tuhan Yesus bantu saya Tuhan, sanggupkan saya untuk bisa mengampuni mama saya. Ketika saya berteriak Tuhan Yesus yang ketiga kalinya, saya melihat ada layar putih yang terbuka dan terdengar suara bisikan yang mengatakan bahwa saya pasti bisa mengampuni mama saya. Saya pun taat dengan suara Tuhan dan saat itu saya mengambil keputusan untuk mengampuni mama saya. Saya tahu saya telah ditebus oleh Tuhan dan hidup saya berharga di hadapan-Nya “

Kata-kata pengampunan itu telah mencabut setiap akar pahit dari hati Mui Ha. Satu pengakuan tulus keluar dari hatinya.

“Saya minta ampun sama Tuhan karena selama ini dendam sama mama, suami, saudara, sama anak. Saya gak tahu mengapa perasaan dendam itu begitu dalam dan berat, tetapi waktu saya pertama kali mengampuni mama, saya merasakan kelegaan,”

Hari itu juga, Mui Ha memberanikan diri memohon maaf kepada kedua anaknya. Tangisan dan pelukan diantara mereka menjadi sebuah awal hubungan yang baru di antara mereka. Anak-anak Mui Ha pun mengaku bahwa mereka sudah lama mengampuni setiap kelakuan dari dirinya.

Mui Ha yang telah bertahun-tahun menyiksa darah dagingnya sendiri kini telah berubah total menjadi seorang ibu yang penuh dengan kasih. Dirinya mengaku begitu mengucap syukur dengan perubahan yang sekarang dia alami di dalam Tuhan Yesus.

“Saya senang sekali, senang sekali dan selalu tidak pernah habis-habisnya selalu mengucap syukur,” ungkap Mui Ha menutup kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan 4 September 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
Phang Mui Ha (jawaban.com)