Category Archives: Umum

Kuasa Kesembuhan Dalam Doa

Luapan kebahagiaan bagi setiap orangtua adalah saat buah hati mereka dilahirkan. Akan tetapi, hal ini tidak dialami seutuhnya oleh keluarga Budi dan Yaya. Kesedihan melanda pasangan muda tersebut saat anak kedua mereka, Regina Grace lahir. Grace yang baru saja dilahirkan langsung terkena penyakit kuning. Ia harus dirawat di satu rumah sakit di Magelang namun ternyata pihak medis tidak mampu lagi menangani bayi tersebut dan meminta agar Grace dibawa ke rumah sakit yang lebih lengkap di kota Semarang.

Keadaan Grace yang baru lahir sangat mencemaskan bagi ibunya, Yaya. Saya pergi ke dokter, tidak tahunya bayi itu lahir dengan cepat tapi bayi saya harus langsung dirawat di rumah sakit. Sampai di rumah sakit Harapan Magelang, badan bayi saya sudah semakin kuning saja. Dua dokter yang menangani di sini mengatakan bahwa saya sudah terlambat membawa anak saya ke dokter karena sakit kuning anak saya sudah masuk ke darah. Dokter mengatakan bahwa anak saya dapat meninggal atau jika hidup maka anak saya akan menjadi idiot.

Ibu Nana, nenek Grace berupaya keras dalam mengupayakan kesehatan cucunya.
Kita ambil gerak cepat untuk membawa Grace ke Semarang karena dokternya mengatakan bahwa peralatan di Magelang tidak tersedia untuk dapat menolong Grace. Dokter menyarankan agar Grace dibawa ke Yokya atau Semarang, kita ambil keputusan saat itu untuk membawa Grace ke Semarang. Setelah dokter melihat darahnya, katanya hanya tinggal satu strip yang masuk ke otaknya, darah itupun telah meracuni tubuhnya.

Saya sebagai oma-nya tidak dapat berbuat apa-apa, saya hanya bisa menangis. Saat itu saya sempat komplain pada Tuhan dan berkata, kalau Tuhan mau mengambil cucu saya kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja?. Mengapa tidak waktu lahir saja ia meninggal?. Waktu itu saya sempat ke Magelang dan menyertai proses kelahiran cucu saya. Jadi saya tahu proses pada saat cucu saya mulai tidak suka minum susu dan mulai menderita sakit. Tapi saya tidak tahu kalau sakit cucu saya ini termasuk penyakit yang berat.

Prof. Dr. Soemantri, seorang dokter spesialis anak mengatakan bahwa apa yang dialami Grace dapat disebabkan banyak hal. Adanya infeksi dapat menjadi kontribusi munculnya keadaan ini, penyebab lainnya ialah kesalahan kekurangan enzim dalam sel darah merah misalnya enzim G-6TD. Kekurangan enzim ini juga sangat berpengaruh pada timbulnya penyakit ini. Semua kekuningan ini dapat terus berkembang dan tentunya jika pasien dapat tertolong maka ada resiko yaitu penderita menjadi anak menjadi bodoh. Ini yang tidak dikehendaki sehingga harus diambil tindakan yang cepat. Dokter yang merujuk juga dinilai telah bertindak tepat.

Ibu Elisabeth, nenek Grace dari ayahnya juga turut berjuang melalui doa-doanya.
Saya melihat bayi yang masih kecil yang baru berusia beberapa hari dalam keadaan seperti itu, saya benar-benar tidak tahan dan sangat sedih. Saat itu saya berseru pada Tuhan : “Tuhan hanya Engkau satu-satunya yang dapat memberikan kekuatan. Biarlah saat ini kekuatan IllahiMu yang mengalir dan memberikan kuasa. Alirkanlah kuasaMu Tuhan. Saya percaya darahMu berkuasa menyembuhkan!”. Saat itu saya mengingat apa yang pernah saya renungkan, apa yang pernah saya baca dalam Injil bahwa kuasa darah dan bilur Tuhan Yesus sanggup menghasilkan mujizat yang besar. Saya minta kuasa kesembuhan itu terjadi atas tubuh Grace. Saya tahu Tuhan punya rencana yang indah.

Keluarga ini mulai pasrah dengan Tuhan, seperti yang diungkapkan ibu Nana. Akhirnya saya pasrah pada Tuhan karena dokterpun menganjurkan kami untuk berdoa. Kalau saya tanya kondisi Grace, dokter selalu menjawab agar kami berdoa saja.

Tidak ada lagi yang dapat dilakukan oleh keluarga Budi dan Yaya selain berdoa kepada Tuhan Yesus. Dan lewat doa-doa tersebut, Tuhan Yesus menyatakan mujizatnya.

Pokoknya saya percaya Tuhan yang memberi mujizat. Saya percaya Tuhan pasti bisa. Suster-suster yang ada disana terheran-heran dengan kenyataan yang ada. Bayi berusia 9 hari biasanya tidak kuat menerima transfusi darah. Bayi-bayi lainnya biasanya meninggal dan begitu terus kejadiannya bila hal serupa itu terjadi. Tapi perawat begitu heran karena baru anak saya Grace yang dapat bertahan hidup setelah tranfusi darah itu terjadi.

Tuhan akhirnya memulihkan tubuh Grace secara sempurna. Penyakit yang sepertinya tidak ada harapan untuk disembuhkan, telah terangkat dengan kuasa Tuhan. Regina Grace kini tumbuh menjadi gadis cilik yang cantik, lucu dan sehat. Grace dan kakaknya Brenda menjadi buah hati dan karya nyata dari kuasa mujizat Tuhan lewat doa kedua orangtua mereka.

Sembuhkanlah aku, ya TUHAN, maka aku akan sembuh; selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkaulah kepujianku! Namun tidak pernah aku mendesak kepada-Mu untuk mendatangkan malapetaka, aku tidak mengingini hari bencana! Engkaulah yang mengetahui apa yang keluar dari bibirku, semuanya terpampang di hadapan mata-Mu. (Yeremia 17:14,16)

Sumber Kesaksian:
Regina Grace (jawaban.com)

Kisah Nyata Kristen pindah alamat

Shalom!

Akhirnya Kisah Nyata Kristen pindah alamat ke domain sendiri di www.kisahnyatakristen.com

Terima kasih kepada Kios Geek yang selama ini sudah memberikan tumpangan domainnya.

Anda akan menemukan banyak postingan yang tidak ada video dan fotonya, ini semua dikarenakan proses migrasi yang kurang sempurna. Jadi kami harap maklum. Perlahan kami akan memperbaikinya sehingga artikel-artikel akan lebih enak dibaca.

Kami juga mengundang teman-teman sekalian yang ingin berpartisipasi di website ini untuk aktif memasukkan kisah nyata dan kesaksian yang Anda temukan di mana saja lewat box di samping ini. Juga ada fasilitas chat yang ada di pojok bawah bagian kanan layar Anda. Kita bisa ber-chat ria dengan fasilitas ini. Sebelum Anda bisa chatting, Anda harus Register dulu untuk mendaftar atau bisa gunakan account facebook Anda untuk bergabung. Gunakan box di samping kiri untuk bergabung.

Mari berbagi, mari sebarkan kabar gembira-Nya!

GBU.

Intermezzo Wisata

Hi temans,

Ini saya baru meluncurkan website pencarian hotel-hotel di seluruh dunia. Dengan website ini kalian semua bisa mencari hotel yang termurah untuk dibooking secara online. Pencarian akan membandingkan harga hotel dari seluruh agen booking online yang ada. Jadi harga yang kalian dapatkan pasti yang termurah. Untuk mendapatkan jaminan harga termurah klik HOTEL TERMURAH.

Semoga bermanfaat.

hotel-murah

Berikut fitur dari setiap tab di Hotel Murah:

HOTEL

hotel

Dengan tab ini anda bisa membandingkan seluruh hotel di seluruh dunia dari seluruh agen booking online yang ada. Dengan begitu anda bisa melihat langsung agen booking mana yang memberikan harga terbaik.

FLIGHT

flight

Anda sedang mencari tiket penerbangan yang murah? Fitur ini memberikan anda pilihan untuk membandingkan harga tiket yang ditawarkan oleh seluruh penerbangan dari kota asal ke kota tujuan yang anda inginkan. Tentunya dengan fasilitas ini anda bisa memilih mana yang paling sesuai dengan budget anda atau kelas mana yang anda inginkan. Mulai dari kelas ekonomi hingga bisnis, semuanya ada di sini.

Tour & Atraksi

tur

Jika anda berlibur ala backpacker, tidak ikut tour yang disediakan oleh agen travel manapun. Anda bisa mencari paket tur & atraksi yang sesuai dengan keinginan anda di sini. Biasanya paket tur yang disediakan oleh agen travel tidak fleksibel jadi waktu anda akan sia-sia jika mengikuti tour yang tidak sesuai dengan minat anda. Di sini anda bisa menentukan sendiri tema liburan anda.

Powered by Hotel Murah & Panduan Wisata.

Kematian Anak Membawa Kebaikan

Andreas lahir pada tanggal 16 Maret 1996, sebagai anak kedua dari dua bersaudara.  Dia dilahirkan dengan kelainan pada matanya, yaitu Strabismus (juling) pada kedua matanya. Penyakit ini hanya bisa disembuhkan dengan cara di operasi, untuk itu pada usianya yang ke lima, Andreas sudah harus berhadapan dengan pisau bedah. Namun dengan pertolongan Tuhan, setelah menjalani beberapa kali operasi, Andreas dapat pulih kembali.

Andreas tumbuh menjadi anak yang lincah dan cerdas. Ditengah-tengah kekurangannya, ia tetap dapat menjadi anak yang berbakat. Berbagai lomba dan kejuaraan ia menangkan. Ia bisa bermain piano, biola, gitar, juara di kelas bahasa Inggris dan juara melukis.

Sebagai anak bungsu, Andreas tidak tumbuh sebagai seorang anak yang manja, malah sebaliknya, dia menjadi seorang yang cukup dewasa dan suka mengalah terhadap kakaknya Nael.

Namun sesuatu yang tak terduga terjadi, pada 4 Februari 2008, Andreas tiba-tiba pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Dan hanya dalam beberapa menit, Andreas dinyatakan meninggal dunia. Ia meninggalkan keluarga dan teman-teman. Sebuah kejadian yang tidak pernah disangka. Dan tidak dapat dicerna oleh akal manusia.

Menurut Domini, ayah Andre, pada saat itu ia belum pulang karena masih ditempat kerja. Lalu ia mendapat telpon dari salah satu karyawannya. Pada saat itu juga ia minta Andre untuk dibawa ke rumah sakit. Dan ia tidak sempat bertemu dengan Andre untuk yang terakhir kalinya. Ibunya hanya melihat saat Andre dalam keadaan tidak sadar.

Orangtua Andre kecewa karena mereka merasa Tuhan tidak adil pada mereka karena pada saat sebelum meninggal, Andre tidak ada punya sakit apa-apa. Bahkan 2 menit sebelum Andre meninggal ia sempat menelepon ibunya.

Kejadian ini membuat mereka sangat kehilangan, bahkan ibunya Andre tidak dapat berdoa karena sangat kecewa terhadap Tuhan. Tetapi mereka bertemu dengan seorang hamba Tuhan dan hamba Tuhan itu menyarankan mereka untuk menuliskan semua perasaan mereka terhadap kejadian ini. Kecewa, sedih dan luka mereka rasakan. Tetapi setelah semua hal ini mereka tuliskan, puji Tuhan mereka mulai menyadari bahwa Tuhan selalu punya rencana dalam kejadian ini. Mereka bisa mengetahui maksud Tuhan sempurna dalam hidup mereka sekeluarga. (Kisah ini ditayangkan 22 Juni 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
Domini & Farida Budianto (jawaban.com)

Kisah Korban Tragedi Poso

Sumber Kesaksian: Nice Lingkeka, Hederita Rongkombulu, Nimu Wadenda

Tragedi berdarah yang menyayat kalbu kembali terulang di Poso. Kasus pembantaian tragis terhadap 3 siswi SMA di Poso Oktober lalu, meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga mereka. Sampai hari ini, foto berbingkai dari Theresia, Yarni, dan Alvita masih terpasang di makam.

Hari itu, Sabtu 29 Oktober 2005, sekitar pukul 06.30 waktu setempat, ketiga gadis remaja ini dan Noviana, berangkat bersama ke sekolah mereka di SMU gereja Kristen Sulawesi Tengah, di kota Poso. Saat berjalan menyusuri jalan setapak dan menuruni bukit bambu yang disebut buyung-buyung, tiba-tiba sekelompok pria menghadang dengan parang di tangan dan mengepung mereka. Noviana, satu-satunya yang berhasil meloloskan diri dari mereka, pipi kirinya robek terkena tebasan parang. Kini dia menjadi satu-satunya saksi hidup yang masih dicengkeram trauma.

Setelah peristiwa itu, orang tua para korban menjadi sorotan massa. Pertanyaan demi pertanyaan seakan tak pernah berhenti. Semua pihak turut bersimpati, tetapi semua itu tidak dapat mengembalikan Theresia (16), Yarni (15), dan Alvita (19) ke pangkuan mereka. SOLUSI mengundang orang tua ke tiga korban ke studio. Satu persatu mereka menceritakan kenangan tentang anak mereka.

Nice Lingkeka (Ibu Alvita): Dia itu yang paling memperhatikan saya, menyiapkan air untuk mandi dan makanan saya. Dia senang berkumpul, bercerita lucu dengan teman-temannya, dia senang melihat teman-temannya tertawa. Kemana saja dia pergi, dia cepat mendapat teman. Sabtu malam dia selalu menyiapkan lagu untuk dinyanyikan di gereja hari minggunya…

Sedangkan Yarni, dikenal sebagai anak yang sederhana, ramah, dan berbakti pada orang tua. Sikapnya yang santun dan ramah membuatnya disukai guru dan teman-temannya. Dia juga termasuk anak yang cerdas dan berprestasi di sekolah.

Hederita Rongkombulu (Ibu Yarni): Setelah makan dia bantu cuci piring, menyapu, cuci pakaian, bantu-bantu di dapur… Apa yang saya katakan, dia selalu ikut, tidak pernah dia membantah…

Sepeninggal Yarni, Hederita bermimpi melihat dua teman putrinya berdiri di depan pintu. Dalam mimpi itu dia berpikir seandainya Yarni masih hidup, dia pasti berdiri di situ bersama teman-temannya. Lalu dia melihat Yarni yang sedang tidur, terbangun. Dia berkata, “Nak, kamu kan sudah meninggal.”. Tapi Yarni bilang, “Tidak, mama jangan sedih, mama jangan menangis. Saya tidak mati, saya hanya tidur dengan nama Tuhan.”

Sementara itu Theresia, putri yang paling disayangi oleh ibunya, dikenal sebagai anak yang ramah dan murid yang baik di sekolahnya.

Nimu Wadenda (Ibu Theresia): Dia bilang ingin melanjutkan sekolah, saya bilang bagaimana kalau saya tidak mampu, kamu kasihan. Katanya doa saja mudah-mudahan Tuhan buka jalan supaya mama bisa menyekolahkan saya dan saya bisa menyenangkan mama di kemudian hari… Kalau saya kasih uang jajan lebih ke sekolah, dia kembalikan lagi… Itu anak satu-satunya tumpuan harapan…

Sebelum tragedi ini terjadi, Alvita sempat menulis syair lagu yang rencananya akan dia nyanyikan keesokan harinya di gereja. Inilah syair tersebut:

Inilah kami Tuhan, yang datang kepadaMu
Di kaki salibMu kami berserah
Tuntunlah kami Tuhan ke jalan yang Kau kehendaki
Bawalah kami, angkatlah kami ke jalan yang benar Tuhan
Marilah kita semua angkat puji bagi Dia
Jangan ada di antara kita hidup saling membenci
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri
Itulah yang pertama dan yang terutama

Dalam syair yang dibuat oleh Alvita, sebenarnya ada pesan Tuhan untuk kita, yaitu kita harus saling mengasihi antara satu dengan yang lain, dengan cara datang kepada Tuhan, dan minta anugrahNya, karena Tuhan adalah kasih. Selain itu mereka juga menyampaikan pesan kepada pelaku pembunuhan putri-putrinya:

Nice Lingkeka: Kami mendoakan pelaku-pelaku itu, supaya Tuhan mengampuni segala perbuatan yang jahat itu. Dan biarlah Tuhan mengubah pikiran-pikiran yang jahat itu supaya di kehidupan ke depan ini dia tidak akan berbuat seperti itu lagi, supaya kota Poso bisa aman.

Nimu Wadenda: Kami berdoa, terhadap pelaku-pelaku, supaya kami dapat mengampuni mereka, sama seperti Tuhan mengampuni kami. Jadi semuanya ini hanya kami serahkan ke dalam tangan Tuhan.

Hederita Rongkombulu: Kami mendoakan mereka, agar Tuhan Yesus mengampuni mereka.

Mereka telah membuat suatu keputusan yang sulit diterima logika manusia, yakni melepaskan pengampunan bagi orang yang telah merenggut nyawa anak-anak mereka. Bagaimana dengan anda? Dengan mengasihi dan mengampuni, akan membuka pintu anugerah Tuhan. Sebab apa yang kita tabur, akan kita tuai. Dengan menabur kasih dan pengampunan, kita juga akan menuai kasih dan pengampunan dari Tuhan. Ini yang membuat hidup anda diberkati.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Matius 5:43-45)

Haruskah Kubiarkan Pergi?

Sumber Kesaksian: Eti Elisa

Perjuangan sebuah prinsip dari Eti Elisa dimulai ketika ia mendapat telepon bahwa suaminya, Adi Suhasta Elisa berada di rumah sakit dalam keadaan kritis.

4 Mei 2003 saya menerima telepon dari Jakarta karena saat itu saya sedang berada di Palembang. Saya telepon rumah sakit itu, saya tanyakan pada dokternya tentang keadaan kesehatan suami saya. Setelah itu saya ke Jakarta dan saya menyaksikan bahwa mas Adi sudah ada dalam keadaan koma dan kami sudah tidak ada komunikasi lagi dengan mas Adi.

Dokter mengatakan bahwa di batang otak itu ada lima syaraf yang seharusnya berfungsi dalam tubuh manusia, tapi empat syaraf itu telah mati, hanya satu yang berfungsi. Dokter mengatakan bahwa tidak mungkin bagi mas Adi untuk bisa mempertahankan hidupnya.

Eti merasa tertekan dan bingung melihat keadaan suaminya yang tidak menunjukkan perkembangan membaik. Melihat keadaan yang semakin buruk ini, pihak rumah sakit mengusulkan melakukan dialisi melalui perut akan tetapi Eti tidak bisa memutuskan saat itu. Secara medis dokter memang akan berusaha tapi mereka tidak bisa memberikan jaminan bahwa tindakan itu akan membawa perubahan yang baik atau kesehatan mas Adi menjadi lebih baik. Saya tidak bisa memberikan keputusan saat itu sampai akhirnya besok paginya saya mengkomunikasikan dengan keluarga saya dan keluarga mas Adi.

Dr. Tunggul Situmorang menjelaskan keadaan Adi.
Dalam pemeriksaan kita kita dapati bahwa kesadaran bapak Adi telah amat menurun, malah kita memerlukan alat bantu nafas. Beliau mengalami sakit gula yang sudah mengalami komplikasi dengan ginjal dan juga sudah ada gangguan ke sentral. Untuk kasus seperti ini memang yang bisa kita lakukan adalah pengobatan supportif, artinya membantu sekuat mungkin, salah satunya adalah mengobati jalan nafasnya selain tentunya adalah membuang racun-racun yang ada dalam tubuhnya yang diakibatkan fungsi ginjalnya yang sudah menurun itu.

Dengan keadaan kesehatan suami yang tidak berubah, Eti Elisa menjadi semakin tertekan, terlebih ketika keluarga menekannya agar ia memutuskan melepaskan alat bantu yang mendukung kehidupan suaminya itu.

Eni Sriendarti, kerabat Eti menjelaskan alasan usulan ini.
Saya mengarahkan pada Eti : “Sudahlah ti, melihat situasi seperti ini sepertinya tidak ada perkembangan. Cobalah kamu tanda-tangani saja surat untuk melepaskan alat-alat yang ada pada Adi”. Kami sebagai keluarga melakukan hal itu karena kami sepertinya sudah capai dalam segala sesuatunya. Kami telah letih dalam menunggunya, memikirkan biaya yang dibutuhkannya setiap harinya. Tapi dia tidak tetap ngotot. Eti tidak bersedia melepaskan, itu seperti ia membunuh suaminya sendiri. Jadi dia tidak mau melakukannya.

Dr. Tunggul Situmorang juga sulit mengambil langkah euthanasia.
Jadi pada bapak Adi telah terpasang alat yang namanya ETT, alat yang membantu agar jalan nafasnya bisa lancar. Nah kalau alat itu dicabut maka jalan nafasnya akan menjadi buruk dan tentunya akan bisa berakibat pada kematian. Ini adalah prosedur yang tidak boleh dilakukan karena itu namanya mengakhiri hidup dengan sengaja secara aktif .

Dalam tekanan, Eti Elisa hanya bisa berserah pada Tuhan.
Pada jam sebelas malam kami berdoa bersama dan saya mengkomunikasikan tekanan yang dilakukan oleh keluarga saya dan keluarga mas Adi bahwa saya harus mencabut alat itu. Saya juga menyampaikan pada dokter dan pada pimpinan saya bahwa sampai kapanpun saya tidak akan mau melakukan hal itu. Karena saya yakin kalau Tuhan memanggil suami saya, mas Adi maka itu akan dilakukan, kalaupun tidak maka Dia juga akan nyatakan hal itu. Saya juga tahu bahwa segala sesuatu ada dalam rencana Tuhan jadi saya tidak mau melakukan hal itu.

Pendeta Nus Reimas ikut berdoa bersama Eti.
Manusia tidak punya hak untuk menghentikan hidup seseorang. Kami dan semua keluarga yang hadir, kita serahkan semuanya kepada tangan Tuhan. Sesudah berdoa sungguh-sungguh, saya bicara pada saudara Adi sendiri. Dua atau tiga jam sesudah itu saya pulang ke rumah dan saya menerima telepon bahwa bapak Adi telah dipanggil oleh Tuhan walaupun semua peralatan medis yang menyokong kelangsungan hidupnya itu masih utuh terpasang.

Akhirnya kehendak Tuhanlah yang terjadi. Malam itu bapak Adi Suhasta Elisa berpulang ke rumah bapak di Surga tanpa harus melepaskan alat bantu kehidupannya.

Damai sejahtera Tuhan melingkupi Eti Elisa.
Ketika saya menolak mencabut alat bantu di tubuh mas Adi waktu itu, saya yakin bahwa saya tidak akan mendahului kehendak Tuhan. Justru pada saat itu Tuhan menyatakan kehendakNya sehingga saya terbebas dari perasaan bersalah, bahkan Tuhan memberikan rasa damai sejahtera dalam kehidupan saya.

Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. (Filipi 1:20)

Cuci Darah Seumur Hidup, Vonisku

Sumber Kesaksian: Oktavianus Gogaya (jawaban.com)

Sebelum sakit, lutut saya ini bengkak, asam urat. Lalu kondisi makin parah, karena setiap saya konsumsi air atau makanan, selalu muntah-muntah ndak pernah berhenti.

Ribka (istri): Dokter menganjurkan untuk ke Jawa (Bandung), atau ke Jakarta.

Rully. M.A.Roesli (internis): Pak Oktavianus itu datang ke saya sekitar bulan Mei tahun 2005 atau sebelumnya, dengan keadaannya parah, dalam istilah kami “gagal ginjal terminal”. Fungsi ginjal sudah hampir tidak ada. Dan pada saat itu pilihannya hanya ada dua: cuci darah atau cangkok. Kondisi ini bahaya karena jika sudah ada otak yang teracuni, mangkanya jadi mual. Nanti lama-lama bisa jadi meracau, tidak sadar atau koma istilahnya, atau meracuni jantung, sehingga jantungnya jadi payah jantung, dan nggak akan tertolong. Jadi dia akan seumur hidup cuci darahnya.

Walaupun sudah melalui perawatan intensif, namun rasa sakit terus dirasakan oleh Oktavianus.

Saya sendiri ndak bayangkan itu sakitnya seperti apa. Aduuh, sakit luar biasa. Dudukpun tidak bisa. Mau tidur, seluruh badan sakit. Kepala rasanya mau pecah, mata fokusnya sudah tidak bisa jauh lagi. Yang terasa hanya sakit dan sakit. Saya mulai terpikir kalau saya meninggal, istri saya tinggal dimana? Siapa yang memberi makan? Masa depannya seperti apa nanti? Lalu, kepada siapa saya menaruh harapan? Itu berperang dalam hati dan pikiran saya. Itu beban yang sangat berat. Mereka kehilangan. Jadi kalau berpikir tentang makan minum, segala sesuatu, saya tidak pikirkan itu.

Ribka: Saya berdoa terus. “Tuhan tolong berikan kekuatan dan kemampuan kepada suami saya!”. Saya harus kuat. Saya harus kuat. Itu tekad saya. Kalau saya kuat, saya sehat, saya bisa menopang suami saya.

Sampai suatu hari, teman-teman Oktavianus datang menjenguknya.

Satu kata yang mereka bicara sama saya, ucapkan di kuping saya: “Bapak harus bangkit! Bapak harus bangkit!”. Dan itu kembali menguatkan saya. Itu kembali membangun saya, walau jangka waktunya pendek untuk hidup, tapi tubuh saya ini milik Tuhan. Penderitaan ini Tuhan tahu persis. Jadi kalau saya mengalami ini, saya tahu jalan Tuhan itu selalu terbuka. Jadi ndak ada gunanya saya mengeluh. Ndak ada gunanya saya terpikir untuk dari mana sumber dananya. Dia mampu memulihkan proses, kalau boleh saya bilang, padang gurun yang saya lewati. Pasti Tuhan kembalikan saya. Saya sendiri ndak tahu tapi untuk pengharapan ke depan, saya percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan saya.

Ribka: Kami bisa memahami kasih Tuhan, karena apa? Karena itu baik. Apa yang Tuhan ijinkan itu pasti baik. Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi, Tuhan tidak membiarkan. Tuhan pasti berperkara. Dan yang menjadi kepercayaan dan iman saya, Tuhan pasti menyelesaikannya!

Mazmur 59:10 “Ya kekuatanku, aku mau berpegang pada-Mu, sebab Allah adalah kota bentengku”.

Saat Berserah, Haruskah Kalah?

Sumber Kesaksian: Suryanti (Yayun)

Nama saya Suryanti atau ibu Daniel, saya biasa dipanggil Yayun. Saya tinggal di pinggiran kota Solo. Pada tahun 1992, dari hasil pemeriksaan laboratorium saya dinyatakan mengidap sakit Hepatitis B yang sudah cukup parah yang menyerang lever saya.

Setelah saya berkonsultasi dengan dokter, ia menyarankan agar saya berhenti dulu kuliah dan mengambil waktu untuk beristirahat. Banyak sekali nasehat dokter diberikan seperti agar saya tidak banyak pikiran, makan yang baik dan semuanya itu intinya adalah agar saya banyak beristirahat. Hal itu saya lakukan selama satu tahun dimana saya beristirahat dan banyak datang ke dokter untuk pemeriksaan. Selama waktu itu saya menjadi tidak tahan karena tidak melakukan aktivitas apa-apa. Sampai akhirnya saya datang ke dokter dan berkonsultasi, disitu saya katakan bahwa saya akan berangkat ke kota Jakarta saja.

Di Jakarta saya kemudian bekerja. Saya memang mendapatkan uang banyak namun penyakit saya menjadi tambah parah. Saat saya berkonsultasi ke dokter, dokter mengatakan bahwa peluang saya setengah-setengah. Saya sempat bingung dan menanyakan ke dokter apa maksudnya dengan peluang setengah-setengah itu. Dokter lalu mengatakan bahwa perjalanan penyakit saya ini sudah cukup parah. Sebaiknya saya tidak lagi melakukan aktivitas apa-apa. Tetapi untuk tidak bekerja di Jakarta adalah mustahil bagi saya. Saya harus tetap hidup dan bekerja di kota Jakarta ini.

Sampai suatu hari saya mulai merasa tidak kuat, lemas bahkan sampai pingsan. Kalau tubuh saya sedikit saja capai, saya sudah pasti pingsan. Untuk berjalan di jalanan yang sedikit menanjak sudah sangat berat sekali terutama di bagian perut kanan di bagian lever. Untuk supaya saya tetap kuat berjalan maka saya selalu membawa payung sebagai tongkat supaya saya bisa berjalan dengan baik karena dari rumah indekost saya ke kantor jalannya turun naik.

Sampai akhirnya dalam kontrol kesehatan saya yang terakhir, dokter memberikan peringatan keras pada saya. Dokter mengatakan bahwa penyakit saya sudah masuk stadium 2-B artinya kalau sebentar lagi masuk ke stadium 3 maka saya tidak punya harapan untuk hidup lagi. Melihat kenyataan ini, saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke Solo dengan banyak pertanyaan. Benarkah saya harus mati dalam waktu dekat ini?. Saya begitu takut, bagi saya mati muda itu adalah sesuatu yang menakutkan.

Keadaan penyakit yang sangat parah membuat Yayun akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia memutuskan untuk kembali ke Solo.

Berfikir bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, Yayun memberikan hidupnya melayani Tuhan di sebuah gereja di desa. Dalam pelayanannya itu Yayun bertemu dengan Daniel yang akhirnya menjadi teman dekatnya. Dalam suatu kesempatan, Daniel menguraikan niat hatinya untuk dapat menikahi Yayun. Namun saat itu Yayun menceritakan keadaan dirinya yang telah divonis dokter tidak akan berumur panjang karena parahnya sakit yang ia derita. Namun Daniel merasa tidak melihat adanya tanda-tanda orang yang sedang menghadapi kematian di wajah Yayun. Daniel bahkan tidak melihat tanda kesakitan dalam wajah Yayun. Daniel sangat percaya bahwa Yayun sembuh jika ia datang pada Tuhan.

Saat itu Yayun mengatakan bahwa sudah sekian lama ia tidak memeriksakan kondisi tubuhnya. Mendengar bahwa Yayun sudah lama tidak ke dokter membuat Daniel yakin bahwa Tuhan sudah menyembuhkan Yayun. Daniel mengajak Yayun untuk memeriksakan keadaannya saat itu ke dokter. Daniel begitu yakin bahwa sakit penyakit Yayun sudah Tuhan sembuhkan.

Saat itu Daniel menantang saya. Ia menyatakan agar saya membuktikan iman yang selama ini saya miliki untuk kesembuhan saya. Ia menyatakan bahwa saat saya meminta kesembuhan kepada Tuhan maka iman itu akan membuahkan hasil. Daniel meminta saya memeriksakan diri ke dokter.

Yayun akhirnya memberanikan diri datang ke dokter.
Saya begitu bingung saat dokter lalu mengatakan bahwa saya dalam kondisi normal dan sehat. Tapi bukan hanya saya saja yang bingung, dokter yang memeriksa sayapun ikut bingung. Dari hasil pemeriksaan yang ia lakukan tidak ada tanda-tanda bahwa saya sakit namun jika melihat hasil foto yang lalu dokter itu mengatakan bahwa dalam waktu enam bulan seharusnya lever saya sudah hancur. Dan jika lever sudah hancur maka saya tidak mungkin punya harapan, apalagi untuk hidup. Tapi ini sudah berselang dua tahun dari vonis dokter, namun saya masih hidup.

Dokter kemudian melakukan pemeriksaan ulang.
Dari hasil pemeriksaan dokter mngatakan bahwa lever saya ternyata tidak ada apa-apa. Lever yang saya miliki bahkan seperti lever yang dimiliki oleh anak-anak. Saat saya bertanya apa maksud dokter, ia mengatakan bahwa kalau saya melakukan terapi obat seperti yang dokter-dokter lakukan maka terapi itu akan menimbulkan bekas luka parut seperti di kulit. Tetapi lever ini sama sekali tidak mempunyai luka, lever ini sempurna.

Yayun begitu terperanjat mendengar hasil pemeriksaan dokter.
Saya begitu bingung dan terheran-heran, bagaimana saya bisa sembuh? Sejak kapan saya sembuh?. Ketika rasa terkejut saya sudah berlalu saya ingat apa yang saya lakukan setelah saya kembali dari Jakarta. Setiap kesempatan yang saya miliki saya selalu datang dan berdoa kepada Tuhan Yesus.

Sejak itu Yayun menyadari bahwa Tuhan sudah menyembuhkan dirinya. Selang beberapa waktu kemudian Daniel dan Yayun kemudian menikah dan dikaruniai dua orang anak.

Jika ada orang bertanya kapan saya sembuh dari penyakit itu, saya selalu katakan tidak tahu. Kalau saya lihat hasil pemeriksaan di Jakarta, seharusnya dalam waktu enam bulan sejak tahun 1997 saya sudah mati tapi ternyata sampai sekarang ini saya masih hidup. Itu artinya Tuhan Yesus bekerja, kuasa dan darah Yesus bekerja dalam kehidupan saya.

Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. (1 Korintus 2 : 9,12)

Aku Berseru Tuhan Menjawab

Sumber Kesaksian: Yeti Ipiet (jawaban.com)

Baik dan buruk datang dan pergi. Secepat datangnya kebaikan, sesegera mungkin keburukan datang untuk mencuri. Yang diperlukan tetaplah berjaga-jaga. Inilah juga pengalaman yang dialami oleh ibu Yeti Ipiet.

Saya pulang dari gereja dengan menaiki mobil omprengan. Waktu itu mobil omprengan yang saya naiki berjalan dengan cepat. Ketika berjalan dengan cepat, ada sebuah truk yang berjalan mundur ke arah jalan mobil yang saya naiki. Saat itu tangan saya agak keluar dari jendela mobil. Seketika itulah tangan saya tergencet badan mobil dan bak truk yang sedang mundur itu. Mobil omprengan berjalan terus hingga tangan saya terluka dan mengalami robek yang dalam.

Siku tangan ibu Yeti mengalami cedera cukup berat.
Mulanya saya memang seperti tidak merasakan sakit. Yang saya tahu tangan saya ini sudah berdarah banyak dan mengalami luka yang parah dan dalam. Teman saya, ibu Meli lalu turun dari mobil untuk memberitahu keluarga saya tentang peristiwa ini. Ibu Meli juga memberitahukan pada keluarga bahwa saya langsung dibawa ke rumah sakit.

Teman Yeti, Ibu Lili bahkan tidak kuat melihat cedera ibu Ipiet.
Sewaktu kejadian itu, saya melihat begitu banyak darah yang keluar dari luka di tangan ibu Ipiet. Saya begitu ngeri melihat darah yang begitu banyak, belum lagi luka itu begitu dalam hingga terlihat tulang dari tangan ibu Ipiet. Saya tidak kuat melihat hal itu hingga akhirnya saya tidak sadarkan diri.

Ibu Ipiet harus menerima vonis berat dari dokter.
Dokter yang memeriksa mengatakan bahwa tangan saya harus diamputasi. Jika tidak cepat diamputasi dengan jalan operasi maka akibatnya akan parah dan akan terjadi
komplikasi hingga ke jantung. Jika itu sampai terjadi maka nyawa saya tidak akan tertolong. Luka saya sudah terlalu parah dan sempat membusuk sehingga hari itu juga harus dioperasi. Saya bukan tidak mau dioperasi tapi keadaan semua itu terbentur masalah biaya. Biaya untuk operasi yang dibutuhkan sebanyak 10 juta, saya tidak punya uang sebanyak itu. Saya tidak tahu mendapat uang dari mana untuk operasi itu.

Dari RS Sumber Waras ibu Ipiet dibawa ke RS Cipto.
Di rumah sakit ini saya butuh biaya sebesar 7 juta dan juga harus diamputasi. Saya kuatir dengan keadaan saya nantinya karena saya masih punya tanggung jawab membesarkan anak-anak yang masih bersekolah. Walaupun mereka sudah besar tapi mereka masih sangat membutuhkan keberadaan saya. Kalau nanti tangan saya sampai buntung, saya tidak tahu harus bagaimana lagi!. Sopir omprengan yang saya naiki memang masih mau bertanggung jawab menolong biaya pengobatan sebanyak satu juta. Karena keadaan sopir itu juga termasuk tidak mampu maka saya harus menerima bantuannya yang terbatas. Sopir itu sudah berusaha mencari bantuan kesana kesini. Hanya karena kasih Tuhan saja yang membuat saya mampu mengampuninya.

Dalam kebimbangan hatinya, ibu Ipiet sempat berobat ke dukun tulang.
Dari Cipto saya sempat dibawa ke dukun dan dirawat disana. Saat itu darah tidak mau berhenti, keluar terus dari luka saya. Sampai beberapa hari pendarahan itu tetap terjadi. Karena di dukun itu saya tidak diapa-apakan, saya tidak mau diberi mantera-mantera. Tidak ada hasil, saya memutuskan untuk pulang.

Peluang untuk kesembuhan seakan makin kecil bagi ibu Ipiet.
Sepulang dari dukun itulah seorang sahabat saya, ibu Pin datang ke rumah. Ibu Pin lalu membawakan hasil pemeriksaan tangan saya ini pada familinya yang seorang dokter. Dokter itu, Handoyo Suryo menyatakan bahwa tangan saya mengalami patah tulang yang disertai peradangan. Ibu Pin menanyakan bagaimana penanganannya, apakah harus diamputasi atau bisa hanya dioperasi atau menggunakan cara lainnya. Dokter itu mengatakan bahwa jalan satu-satunya yang terbaik memang adalah dengan operasi namun tidak perlu dilakukan amputasi. Dengan operasi tulang yang patah dan lepas akan dapat ditempelkan kembali. Dengan pemasangan pen maka tulang siku tangan saya bisa disambungkan kembali dan tangan saya diharapkan berfungsi kembali dengan baik. Tapi bila saya tidak dioperasi maka dokter itu hanya akan mengobati bagian luka yang terbukanya saja.

Mengetahui tangannya tidak perlu diamputasi, iman ibu Ipiet-pun dibangkitkan.
Setelah itu saya hanya makan obat selama 4 bulan yang diberikan dokter yang kerabat ibu Pin ini. Selama itu juga saya terus berdoa dengan dukungan dari teman-teman yang lain. Di rumah saya terus berdoa, dengan iman saya percaya bahwa Tuhan Yesus mampu sembuhkan saya. Apapun yang terjadi, saya percaya Tuhan Yesus mampu sembuhkan saya karena dia adalah Tuhan yang dahsyat dan hidup.

Dengan imannya ibu Ipiet akhirnya menerima kesembuhan. Keadaan tangannya pulih bahkan melebihi apa yang dapat seorang dokter bayangkan. Saat kemampuan manusia begitu terbatas, seruan kepada Tuhan Yesus membuatnya terlepas.

Dokter yang memeriksa ibu Ipiet mengatakan bahwa tulang yang dahulu patah saat ini sudah pulih. Dokter itu bahkan menyatakan keheranannya karena ibu Ipiet mampu melakukan gerakan tangan yang cukup baik. Dia sebelumnya tidak yakin akan terjadi kesembuhan yang sebaik ini. Bagian tulang ibu Ipiet yang sempat pecah dan patah ternyata sudah sembuh dan menempel kembali di tempatnya. Dokter mengatakan bahwa ada bagian tulang yang dulu terlepas yang hingga saat ini masih terlepas. Namun ibu Ipiet ternyata mampu menggerakkan tangannya dengan normal, ini sesuatu yang luar biasa.

Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab. (Yesaya 30:18-19)