Category Archives: Pengampunan

Pengampunan di Tengah Pengkhianatan Tiada Akhir

Bagaimana rasanya seorang wanita yang tengah hamil tua ditinggal pergi karena sang suami sudah kepincut dengan wanita lain? Dan yang lebih parah lagi, Masta akhirnya harus menghidupi delapan orang anaknya sendirian.

Hanya dalam satu kali pertemuan, Masta sudah terpikat dengan janji manis seorang pria. Tanpa pikir panjang, ia pun mengiyakan sebuah ajakan untuk kawin lari. Bagi orangtua Masta sendiri, kekecewaan menyelimuti hati mereka. Apalagi sebagai orangtua, mereka sama sekali tidak hadir dan dimintai restu terlebih dahulu. Mereka pun hanya dapat menangis menerima kenyataan ini.

Seperti membeli kucing dalam karung, Masta tak pernah menyangka sikap manis sang suami ternyata palsu. Setelah dua tahun bersama, sifat asli sang suami mulai terlihat. Masta selalu merasa curiga terhadap tingkah laku suaminya karena setiap malam ia tidak pernah pulang ke rumah. Dari adik ipar suaminyalah Masta mengetahui kalau suaminya memiliki rencana untuk menikah lagi. Masta sangat terpukul mendengar kabar itu. Apalagi kondisi Masta sendiri sedang hamil tua saat itu.

Rasa penasaran tiba-tiba membakar hati Masta. Pagi-pagi saat suaminya pulang, Masta diam-diam berniat datang ke rumah wanita yang hendak merebut suaminya. Tanpa diketahui Masta, suaminya ternyata mengikuti dirinya dari belakang. Namun setibanya di sana, wanita selingkuhan suaminya tidak ada di sana. Merasa dipermalukan, suami Masta langsung menyeret Masta pulang. Tidak hanya sampai di situ, pukulan dan tamparan pun diterima Masta yang sedang hamil besar. Bahkan suaminya dengan tegas bermaksud menceraikan Masta saat itu juga. Hati Masta sangat pedih namun ia hanya dapat menangis.

Campur tangan orangtua Masta mampu menyelesaikan permasalahan mereka untuk sementara waktu. Niat untuk menceraikan Masta pun urung dilakukan. Permintaan orangtua Masta yang menentang perceraian mampu meredam nafsu sang suami.

Kelahiran anak pertama mereka seakan menghapus segalanya. Keadaan itu bertahan sampai Masta dikaruniai lima orang anak. Sampai sebuah kabar dari Jakarta membuat Masta mengambil sebuah keputusan penting. Ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Mendengar kabar itu, anak-anak Masta menyambut dengan gembira. Padahal sebenarnya kabar buruklah yang Masta terima.

Masta menerima surat dari adik mertuanya yang tinggal di Jakarta dan mengatakan kalau suaminya ternyata suka main perempuan juga di sana. Kepindahan Masta dan anak-anaknya ke Jakarta menyusul suaminya tidak memperbaiki keadaan sama sekali. Seringkali Masta harus menerima perkataan-perkataan sinis yang penuh sindiran kepada dirinya. Suaminya sepertinya tidak menghargai keberadaan Masta dan anak-anaknya di sana. Sebagai seorang istri, Masta merasa menjadi istri yang tidak berharga bagi suaminya.

Untuk menambah penghasilan suaminya, Masta pun menjalankan usaha simpan pinjam. Dan dalam waktu satu setengah tahun, mereka sudah dapat memiliki rumah sendiri. Namun rumah itu tak bisa membawa kebahagiaan bagi Masta. Atas saran seorang saudara, rumah itu dijual untuk modal usaha.

Hingga sesuatu yang buruk pun terjadi. Salah satu anak mereka mengalami sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Semuanya terjadi begitu cepat. Sepeninggal anak mereka, suami Masta pun semakin frustrasi. Tidak hanya ditinggal mati salah seorang anak mereka, pekerjaan pun ia tidak punya sedangkan hasil penjualan rumah yang dijadikan modal usaha pun tidak menghasilkan apa-apa. Semuanya terbuang sia-sia.

Kejadian itu sangat berdampak kepada sifat suami Masta. Terkadang ia sangat memanjakan anak-anaknya, namun tak jarang ia menjadi sangat kasar. Saat sedang marah, apapun yang ada di tangannya akan dipakai untuk memukul anak-anaknya. Masta benar-benar tidak berani membela anak-anaknya saat suaminya sedang marah. Namun saat suaminya sudah selesai memukul anak-anaknya, barulah Masta berani menasehati suaminya. “Terlalu keras kamu bapak sama anak-anak kita. Nanti mereka bawa akar pahit dari kamu,” ujar Masta pada suaminya.

Entah apa yang dipikirkan suaminya. Saat Masta melahirkan anak kedelapan, suaminya tega meninggalkan Masta dan anak-anaknya tanpa kabar. Masta hanya dapat berlutut kepada Tuhan karena Masta melihat ketujuh anaknya dan seorang bayi yang baru lahir, ia tak tahu bagaimana caranya harus bertahan menghidupi kedelapan anaknya seorang diri tanpa pekerjaan yang tetap. Belum lagi anaknya yang baru lahir, bagaimana mungkin Masta tega meninggalkannya untuk mencari nafkah? Masta datang kepada Tuhan dan menyerahkan hidupnya dan kedelapan anaknya sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan.

Tepat di saat keputusasaannya, seseorang datang menolong Masta. Hamba Tuhan ini menasehati Masta supaya semakin dekat kepada Tuhan dan Masta diarahkan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Setelah menerima Yesus, Masta terus dibimbing di gereja dan Masta semakin dapat melihat kuasa Tuhan yang luar biasa. Hamba Tuhan ini juga mengajarkan Masta untuk berani melakukan apapun demi menghidupi anak-anaknya.

Demi menghidupi anak-anaknya, harga diri dan peluh tak lagi Masta perdulikan. Namun Masta tak pernah menyangka apa yang akan dialami anak pertamanya, James, saat berniat mencari ayahnya yang tak pernah pulang ke Sumatera. Suatu peristiwa pahit telah menantinya. James melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya sedang bermesraan dengan wanita lain. Tak cukup sampai di situ, James harus mendapati kenyataan kalau sebenarnya ayahnya adalah seorang germo. Ia tidak hanya mencari wanita-wanita cantik untuk ditawarkan kepada para lelaki hidung belang, namun ia juga berzinah dengan para wanita itu.

Hal yang lebih menyakitkan lagi harus James terima saat ia mengajak ayahnya pulang. Dengan kasar ayahnya mengusir James untuk pergi, bahkan menyuruh James tidak lagi memanggilnya ayah, melainkan om. Di hadapan James dan para wanita itu, dengan lantang ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki istri dan juga anak. Sebelum James pulang, ayahnya sempat mengancamnya untuk tidak mengatakan hal ini kepada ibunya atau James akan ia bunuh!!

Takut akan ancaman ayahnya dan juga takut akan kemungkinan ibunya yang akan bunuh diri jika mengetahui keadaan ini, James pun menulis surat kepada ibunya dan mengatakan kalau ia tidak dapat menemukan ayahnya. Namun Masta tidak percaya, bahkan ia semakin penasaran. Kalau memang suaminya sudah meninggal, paling tidak ia harus tahu dimana suaminya telah meninggal. Masta pun memutuskan untuk pergi sendiri mencari suaminya. Masta pun pulang ke Siantar.

Namun di sana, Masta hanya bertemu dengan adik suaminya. Karena tidak percaya, sesaat setelah meninggalkan rumah itu, Masta pun kembali ke rumah adik iparnya. Dan benar, suaminya ternyata sudah berada di sana. Saat itulah suaminya mengaku kalau di Siantar ada teman wanitanya yang begitu baik kepadanya dan memberikan modal untuk membuka bar di sana. Namun ia tidak menggambarkan wanita itu lebih jauh, hanya menyebutnya sebagai pelayan, pelayan yang dapat memodali dirinya membuka bar di Siantar. Padahal dirinya adalah germo dari wanita itu. Suaminya pun berjanji akan mengikuti Masta kembali ke rumah.

Namun janji hanyalah tinggal janji. Baru beberapa bulan saja, suami Masta kembali pergi. Untuk kesekian kalinya, hati Masta terluka. Namun di tengah kekecewaan dan kesedihannya, Masta tak berhenti berdoa untuk suami dan anak-anaknya.

Di lain tempat, suami Masta yang berniat hendak menjual bar miliknya mengalami penipuan dan hidup layaknya seorang gelandangan. Sampai keputusasaan mengingatkannya akan keluarganya. Penyesalan pun mulai menyelimuti hatinya saat ia mengingat segala perbuatan yang dilakukannya terhadap Masta, istrinya dan juga anak-anaknya. Dalam keadaan sakit, ia pun memutuskan untuk pulang, kembali kepada keluarganya.

Saat itu Masta sedang tidak berada di rumah. Ia sedang pergi bersama James, anaknya. Setibanya di rumah, Masta dan James tentu saja sangat terkejut melihat kehadiran orang yang selama ini telah menyia-nyiakan hidup mereka. Masta hanya bisa bengong di luar rumah, tidak berani melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Namun James, anaknya, serta merta berteriak kegirangan dan langsung memeluk ayahnya. Hati Masta pun dipenuhi kegalauan. Satu sisi, hatinya luluh melihat sikap anaknya yang begitu bahagia dapat melihat ayahnya kembali. Namun di sisi lain, Masta merasa tak sanggup menghadapi suaminya mengingat penghinaan yang telah diterimanya selama ini. Masta pun berseru kepada Tuhan agar pengampunan-Nya bisa mengalir dan ia bisa mengampuni suaminya sekali lagi. Apapun yang dikatakan Masta saat itu kepada suaminya ditanggapi dengan kemauan yang serius dari sang suami. Awal pemulihan pun terjadi saat itu di keluarga mereka.

“Tuhan begitu luar biasa. Apapun yang terjadi, Dia selalu melihat kita sebagai anak-anak kesayangan-Nya,” ujar Masta di sela-sela kesaksiannya.

Namun setelah beberapa tahun berlalu, sebuah rahasia akan terkuak lewat pengakuan sang suami. Dalam keadaan sakit parah setelah serangan jantung yang hebat, James mencoba mengajak ayahnya berbicara dari hati ke hati. Ia meminta ayahnya untuk mengakui dosa yang selama ini belum pernah mereka ketahui karena James sendiri merasa kalau ayahnya masih menyimpan rahasia di antara mereka. Saat itulah, ayahnya mengakui kalau Monaris, keponakan Masta, adalah anak dari hasil hubungannya dengan adik kandung Masta. Bagaikan tertimpa langit, seketika itu juga Masta jatuh pingsan. Ia benar-benar tak menyangka suaminya sanggup melakukan hal itu kepada dirinya. Adik kandungnya sendiripun sanggup mengkhianati dirinya. Apalagi suaminya telah menyimpan rahasia ini selama puluhan tahun karena saat pengakuan itu terjadi, Monaris telah berusia 19 tahun.

“Tuhan, ampuni suami saya Tuhan. Karena saat itu saya sudah mengenal Tuhan, saya hanya bisa berkata ampuni suamiku Tuhan. Sudah berumur 19 tahun anak ini, baru suami saya membuka rahasia aib ini kepada saya. Saat itu saya pingsan. Saya tidak dapat menerima kenyataan ini lagi. Tapi saya mengambil keputusan untuk mengampuni suami saya dan menerima Monaris sebagai anak saya sendiri. Walaupun kenyataan ini sangat pahit, tapi pasti Tuhan akan membuatnya menjadi sukacita buat saya,” kisah Masta dengan penuh keharuan.

Pengampunan dan kesabaran Masta perlahan-lahan mengubahkan sikap sang suami. Dengan cinta dan kesabaran, Masta terus merawat suaminya yang saat itu mulai sakit-sakitan. Setelah mengalami sakit yang berkepanjangan, 1 November 2002 suami Masta pun dipangil Tuhan untuk selamanya. Beberapa tahun kemudian, Masta kembali menemui adiknya. Saat itu juga hubungan antara Masta dan adiknya dipulihkan.

Kasih Yesus telah memulihkan hati Masta dan adiknya. Hingga kini, Masta dan anak-anaknya tak lagi hidup dalam kekecewaan.

“Saya bangga sekali memiliki mama seperti mama saya. Dia selalu berdoa sama Tuhan, agar keluarganya bisa selalu bersama dan berbahagia sekalipun mama selama hidupnya selalu menderita. Kalau saya pribadi sih sebenarnya hanya mengharapkan agar keluarga saya rukun-rukun saja. Tetap sayang sama mama walaupun Tuhan hanya memberikan seorang mama di sisi kami,” ujar Delima Sondang Samosir, salah seorang anak perempuan Masta.

“Saya sangat mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena anak-anak saya tidak membawa akar pahit dari kelakuan ayahnya. Saya mendapat pertolongan hanya dari Tuhan Yesus sendiri. Tidak ada unsur yang lain, hanya Tuhan Yesus sendiri yang menolong kami sekeluarga. Tuhan itu sangat baik bagi keluarga kami,” ujar Masta menutup kesaksiannya.

Sumber Kesaksian:
Masta br Simanjuntak (jawaban.com)

Kedamaian Karena Pengampunan

Apa kira-kira yang anda lakukan jika orang tua anda diculik dan dibunuh di depan mata anda sendiri? Riri Panjaitan, putri almarhum Jenderal D.I. Panjaitan akan menuturkan kisah tragis pembunuhan ayahnya.

Ketika itu pukul 3 pagi. Waktu terjadi pendobrakan pintu pertama kali, saya ada di dalam rumah, bersama keluarga. Saya sedang berada di dalam kamar. Dan tiba-tiba mereka meletuskan senapan dan menembak ke arah rumah kami. Selama beberapa saat peluru-peluru mereka menghujani rumah kami. Mereka masuk ke dalam rumah dan menyuruh ayah saya menemui mereka atau mereka akan meledakkan rumah kami. Saya ingat waktu itu ayah keluar dengan berpakaian militer lengkap sebagai angkatan darat.

Saya dengar ayah saya berbicara, rupanya ayah saya meminta waktu untuk berdoa. Saat itu ayah saya ditembak, diberondong dengan beberapa peluru. Lalu jenazah ayah diseret dan dilempar ke lubang yang dalamnya hampir 2 meter. Saya berlari ke depan dan saya melihat darah yang kental… Saya ingin pegang, saya ingin peluk papa saya tapi tidak ada… Sepertinya saat itu saya betul-betul mengalami kecewa, dan sungguh berat untuk seorang anak berumur 8 tahun seperti saya.

Marieke Panjaitan (Istri Mayjen Anumerta DI Panjaitan): Waktu itu Riri masih kecil sehingga dia belum mengerti arti kejadian itu. Tapi sesudah dia melihat banyak orang datang ke rumah, ada yang menangis juga, dan dia menjadi heran, apa yang sudah terjadi. Baru setelah itu dia tahu papanya sudah tidak ada lagi.

Saya merasa sangat kehilangan… Orang yang kita cintai diambil seperi itu, diseret seperti binatang, dibantai seperti binatang… Tapi saya tidak mendapat jawaban dari siapapun mengapa ini harus terjadi. Saat itu saya merasakan tidak adil, dalam hidup saya ada sesuatu yang tidak adil, dan itu yang berbekas di hati saya.

Saya bertambah besar dan peristiwa G30SPKI tahun 1965 itu semakin jauh saya tinggalkan, tapi tidak ada satu titik pun yang bisa saya lupakan. Saat-saat itu saya merasa begitu menderita, di dalam batin saya, sekalipun keadaan fisik saya baik sekali.

Marieke Panjaitan (Istri Mayjen Anumerta DI Panjaitan): Dulu dia selalu kelihatan gembira, karena setiap papanya pulang, selalu menemani anak-anak. Tapi setelah peristiwa itu dia jadi pendiam, dia merasakan pahitnya peristiwa itu. Dan sebagai orang tua saya merasakan penderitaan yang sama dengan dia.

Kalau saya melihat suatu persoalan yang tidak pada tempatnya, saya merasa seperti ada sesuatu yang tidak bisa saya tahan. Saya susah untuk bergaul dan saya susah untuk menyesuaikan diri, temperamental, sangat sulit sekali bagi saya untuk mengekspresikan apa yang saya inginkan, sulit sekali untuk saya merasa nyaman dan damai… Seperti mau berontak hanya tidak tahu mau berontak kepada siapa. Dan kalau saya ingat masa-masa itu, saya merasa ada kekejaman, ada ketidakadilan dan kekejian… saya merasa manusia itu jahat sekali ya…

Penampilan luar saya bisa menipu. Saya bisa tertawa, saya bisa hidup sehari-hari seperti anak-anak lain, gembira, tapi hati saya tidak bisa sembuh dari luka itu. Tidak ada obat yang bisa mengobati luka karena peristiwa itu terjadi dalam hidup saya.

Lalu saat saya pergi ke Eropa, saya bertemu dengan seorang teman yang bisa berbicara tentang Tuhan dengan sangat dalam. Saat itu mungkin saya sudah dijamah Tuhan tapi saya sepertinya tidak mengerti karena saya tidak mempunyai pengetahuan tentang Tuhan. Selama kurang lebih 4 tahun saya mencari, akhirnya saya bertemu dengan Tuhan secara pribadi.

Saat itu saya dalam puncak kesedihan saya dan saya menangis, saya putus asa dan ingin mati, Tuhan datang. Tiba-tiba saya lihat langit terbuka, dan terang itu masuk ke kamar. Saya takut, saya pikir saya sudah mati, karna saya minta mati maka saya mati. Saya lihat ada seseorang menghampiri saya dan Dia begitu besar, begitu terang… Dia merentangkan tanganNya dan berkata, “Riri, kau harus mengampuni, engkau harus memberikan pengampunan kepada orang-orang yang kamu benci.” Saya katakan tidak mungkin. Dia menjawab, “Ya mungkin. Karena jika engkau melepaskan pengampunan, maka Aku, Tuhan Yesus akan mengampuni engkau. Riri, apakah engkau mau mengampuni?”

Ketika Tuhan berkata seperti itu, maka seperti ada video dalam pikiran saya, peristiwa G30SPKI itu, saya melihat diri saya, saya melihat peristiwa itu terulang. Dan Tuhan bilang, “Jikalau engkau tidak mengampuni peristiwa itu, Aku tidak akan mengampuni engkau.” Lalu saya katakan,”Saya mau mengampuni, Tuhan. Saya mau mengampuni pembunuh papa…” Dan saya rasakan Tuhan bekerja di dalam kata-kata saya itu, Tuhan seperti masuk dalam batin saya yang terdalam, dan Dia cabut semua akar kebencian, kepahitan, amarah, dari dalam hati saya. Semua tercabut seperti akar wortel. Saya merasa damai masuk ke dalam hati saya dan saya merasakan… saya tidak pernah merasakan hidup seperti itu.

Saya sadar bahwa Tuhan sudah menampakkan diriNya. Dan sejak itu saya mulai hidup dengan bersukacita, tidak lagi bersedih-sedih… Dia sembuhkan saya, Dia baharui hati saya, Dia beri saya kuasa kebangkitan. Hidup saya sudah berubah, saya tahu tujuan saya, saya tahu ayah saya sudah duduk bersama Bapa di Sorga, tidak ada penyesalan, tidak ada kebencian, tidak ada akar kepahitan, tidak ada dendam, yang ada hanya damai sejahtera, ucapan syukur. Kiranya Tuhan boleh memakai saya untuk mereka yang membutuhkan kesaksian saya.

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (Markus 11:25)

Sumber Kesaksian:
Riri Panjaitan (jawaban.com)

Maaf Bagi Masa Silam

Aku pikir hal yang terburuk yang dapat menimpa seorang wanita adalah menjadi korban perkosaan. Kekejaman, pemukulan, kontak secara seksual, penganiayaan itu telah membunuh saya. Badan saya rasanya telah hilang tapi nyatanya tidak. Dan sulit sekali untuk terus hidup dan tidak ada satu orangpun yang menolong.

Inilah kisah seorang wanita bernama Reesee yang menjadi korban perkosaan dibawah todongan pistol. Seperti layaknya semua perempuan yang menjadi korban perkosaan, hidup Reesee benar-benar telah hancur. Kejahatan dan penyerangan itu terjadi ketika Reesee yang berusia 27 tahun dan dua temannya yang masih remaja sedang berbelanja. Seorang pria yang tampan dan kawannya mengajak Reesee dan temannya untuk bertemu di taman kota untuk ngobrol.

Saat aku berada di taman aku sempat bersikeras bahwa tidak ada seorangpun dari kami yang akan turun dari mobil. Selanjutnya yang aku ingat adalah laki-laki ini mengajak aku turun dari mobil dan ikut dengannya. Saat itu aku sempat menolaknya. Dia terus membujukku agar mengatakan “ya’, tapi aku tetap mengatakan “tidak’.

Laki-laki itu menunjukkan pistolnya dan mencoba untuk menembak Reesee dan kedua temannya jika Reesee menolak ikut dengannya.

Sementara itu dua teman gadisku yang lain dan pria yang lainnya yang bersama pria yang lain justru sedang tertawa-tawa. Mereka seperti tidak tahu apa yang terjadi denganku. Saat aku bersama dengan pria itu, kedua temanku mengatakan agar aku pergi saja dengannya. Kedua temanku malah mengatakan bahwa pria yang bersamaku itu cakap dan berwajah ganteng dan mereka menyuruhku pergi bersamanya. Kedua temanku katakan bahwa mereka akan baik-baik saja.

Kedua teman Reesee tidak menduga bahwa Reesee mengikuti kedua pria ini akibat paksaan. Pria itu memaksa Reesee masuk ke mobilnya dan kemudian memperkosanya di dalam mobil dengan todongan pistol.

Pria itu mengeluarkan pistolnya tepat di depan wajahku. Dia mengatakan jika aku berteriak maka dia akan membunuhku. Dia katakan dia tidak peduli dengan kami, lalu dia katakan akan kembali untuk melihat gadis-gadis yang lain karena nasib mereka ada di tanganku. Lalu dia mengeluarkan pistolnya lagi dan dia katakan jika aku bergerak sekali saja maka dia akan mengeluarkan isi kepalaku.

Sangat sulit membicarakn hal ini. Aku tidak dapat hanya merebahkan badanku, aku tidak dapat. Saat aku bergerak dia langsung mengambil pistolnya dan memukulku dan membuatku roboh. Ketika aku tersadar, pria pemerkosa itu sedang beraksi. Aku tidak dapat berbuat apa-apa dan itu sangat menakutkan. Dan saat semuanya telah selesai, pria ini melihat kepadaku dan dia pergi. Dia mengatakan terimakasih karena telah bersenang-senang. Dia juga katakan bahwa ini bukanlah yang pertama dan yang terakhir. Saat itu aku mengusirnya karena dia membuatku merasa jijik.

Luka Reesee secara emosional baru saja dimulai.
Aku merusak barang bukti dan aku langsung mandi. Aku bakar bajuku. Aku merasa sangat kotor. Beberapa hari kemudian aku baru pergi kepada seseorang untuk minta bantuan. Aku tidak bisa mengatakan kepada keluargaku apa yang telah menimpaku. Ayahku sedang menderita akibat menderita serangan jantung kira-kira 6 bulan sebelum serangan kepadaku terjadi. Kami bolak balik dari satu operasi ke operasi yang lain sehingga waktu itu keluargaku cukup stress menghadapi keadaan ayahku. Aku tidak mau bercerita kepada mereka apa yang menimpaku. Aku tidak dapat menambahi dengan berita buruk tentang diriku.

Hanya orang lain yang bisa Reesee hubungi.
Aku menelpon pusat layanan krisis dan mengatakan kepada mereka semua kejadian yang telah menimpaku. Wanita disana menanyakan apakah ada orang yang melihat kejadian itu. Aku menjawab tentu saja tidak ada. Lalu dia katakan bahwa mereka bisa saja menangkap pelakunya, tapi itu mungkin akan dijadikan bahan untuk menjatuhkan balik diriku.

Tanpa ada bukti-bukti, Reesee tidak dapat menuntut si pelaku. Namun pemerkosa ini juga tidak pernah meninggalkan Reesee seorang diri.

Segera setelah kejadian itu, pelaku mulai mengikutiku dan selalu berada dimana aku berada. Aku pulang ke rumah dan menemukan kartu-kartu, kartu Natal, Tahun Baru, Valentine, Santo Patrick, Paskah yang diselipkan di pintu rumah. Ada juga telepon, pesan-pesan, terkadang saat aku keluar dari rumah, aku menemukan pesan-pesan itu di dalam mobil.

Karena depresi yang berat, Reesee mencoba untuk bunuh diri.
Aku mulai makan yang banyak, berat badanku naik sampai 400 pounds. Aku juga mulai merokok, padahal aku tidak pernah merokok sebelumnya. Aku merokok sampai 3 bungkus perhari. Aku sadar bahwa aku benar-benar mencoba untuk membunuh hal-hal yang paling menyakitkanku, dan itu adalah diriku sendiri.

Suatu hari Reesee memutuskan untuk bunuh diri. Dia duduk dengan tangan penuh obat penghilang rasa sakit. Namun saat itu pria di televisi mencuri perhatiannya.

Tiba-tiba saja Pat Robertson muncul di layar televisi, tidak tahu bagaimana awalnya. Sepertinya secara langsung dia berbicara padaku. Wajahnya sangat serius dan dia bilang untuk jangan memakan obat-obatan itu karena ada Tuhan Yesus yang mengasihiku. Pat mengatakan bahwa dia tahu jika aku berpikir Tuhan itu tidak peduli. Pat tahu jika aku berpikir Tuhan itu begitu jauh, tapi tidaklah seperti itu. Pat menambahkan jika aku menambahkan rasa sakit ke badanku maka Tuhanlah yang merasakannya. Pat mengatakan bahwa Yesus mencintaiku, karenanya aku diminta meletakkan obat-obatan itu. Pat mengatakan bahwa bunuh diri bukanlah jalan keluar masalahku. Dan hal itu sungguh menyentuh hatiku…. Sangat menyentuh. Aku meletakkan obat-obatan itu dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun aku berbicara dengan Tuhan lagi. Dan aku tidak ingin kehilangan Tuhan lagi.

Hidup Reesee tidak akan pernah sama lagi, tetapi kisahnya tidak berlalu begitu saja. Pelakunya tidak pernah menghadap pengadilan. Dan setelah beberapa kali berpindah-pindah akhirnya Reesee tidak pernah dikuntit lagi. Namun Reesee harus berhati-hati untuk memberikan alamatnya. Reesee memiliki beberapa nasehat yang penting bagi mereka yang menjadi korban perkosaan. Pertama ialah untuk pergi ke rumah sakit terdekat bila menjadi korban perkosaan karena bukti akan selalu diperlukan. Itulah kesalahan pertama yang Reesee tidak lakukan, dia malah menghancurkan barang-barang bukti.

Reesee berasal dari keluarga Kristen yang kuat, dia memiliki orang tua yang berdedikasi dan dua saudara perempuan yang mendukungnya. Reesee sangat berterima kasih kepada Tuhan karena memiliki mereka dan juga kepada tayangan di 700 clubs.

Bila aku harus mengatakan apa yang paling berarti bagiku, itu adalah kebebasan untuk mencintai kembali, untuk percaya kembali. Aku merasa yakin dan tahu bahwa kita tidak berada di dunia yang serba gampang, banyak benturan dan goncangan yang dihadapi. Tapi ingatlah bahwa ada seseorang yang akan merasakan benturan itu bersama kita. Memang itu tidak gampang, tetapi jika kita bertahan maka Tuhan pasti akan menolong.

Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk. (Yesaya 57:15)

Sumber Kesaksian:
Reesee (jawaban.com)

Aku Penjudi Wanita

Tahun 1985, Emma Sibarani memulai usahanya dengan berjualan makanan khas Tapanuli Utara. Sejak itu pula, Emma gemar bermain judi. Bahkan tempat berjualannya pun dipakai untuk bermain judi. Tahun 1988 Emma sebenarnya sudah masuk ke jenjang kehidupan yang lebih tinggi yaitu untuk berkeluarga. Tapi karena ia bergaul dengan orang-orang yang hebat berjudi, hidup Emma menjadi hidup yang tiada hari tanpa judi. Semua uang yang jumlahnya lumayan dari rumah makan yang ia miliki dihabiskan begitu saja olehnya.

Kadang Emma pergi jumat dan pulang hari senin tanpa membawa modal untuk berjualan, sehingga nasi yang sudah dimasak menunggu lauk terpaksa harus dibuang di rumah makan tersebut. Suaminya, Martahan Sibarani telah berusaha memberikan nasehat untukknya. Tapi karena watak Emma yang keras, sehingga setiap nasehat justru membuat pasangan itu bertengkar. Suami Emma akhirnya selalu menyerah dan membiarkannya pergi bermain judi karena dalam keadaan tidak terima ditegur, Emma bisa membanting barang-barang dalam rumah mereka.

Kebiasaan berjudi Emma mulai merambat ke kebiasaan meminjam uang sana sini, merokok dan juga minum minuman keras. Kadang ia juga pergi dengan teman-teman judinya ke klab malam dangdut untuk bergoyang. Intinya, semua keinginan dagingnya selalu diikuti dan dipuaskan.

Pada tahun 1996, terjadilah sebuah insiden yaitu terbakarnya wilayah tempat Emma berjualan. Dari 12 tempat makanan yang terbakarnya, rumah makan Emma satu-satunya yang selamat dari api. Selama 9 bulan ia berjualan sendirian di lokasi tersebut sampai petugas kota memutuskan untuk menjadikan lokasi dekat pelabuhan itu sebagai taman. Emma yang saat itu masih tetap memiliki kebiasaan berjudi dikejutkan oleh bulldozer yang tiba-tiba datang menghancurkan tempat usahanya. Ia berteriak meminta kegiatan itu dibatalkan namun usaha itu sia-sia belaka.

Ditengah kepanikan di siang hari itu, Emma lari meminta pertolongan kepada teman-teman judinya. Tapi kenyataan pahit yang harus diterima Emma. Tidak ada satupun dari mereka yang mau membantu Emma. Dalam kebingungan, Emma berjanji untuk tidak akan pernah lagi datang ke tempat berjudi itu.

Ia dan keluarganya kemudian pergi mencari tempat tinggal baru dan mendapat tampungan dari adikknya yang tinggal di daerah Pulomas. Di tempat barunya ia mulai merenungkan semua uang yang sudah ia hamburkan sia-sia. Ia sadar bahwa kini keadaannya yang tidak punya uang dan tidak punya rumah sungguh menyedihkan. Disitulah Emma mulai ingat kepada Tuhan. Ia berdoa minta Tuhan mengampuni semua dosa dan kesalahannya dan rindu Tuhan untuk menjamah hatinya.

Kerinduan itu mengantar Emma ke gereja. Pada hari minggu itu, ia bertekad untuk berjupa dengan Yesus.

Di gereja, kotbah pendeta seolah bicara langsung padanya. Firman itu menyatakan bahwa tidak peduli seseorang itu datang darimana, yang penting dia datang karena Kristus. Dan jika orang itu mau berseru, maka Tuhan akan mendengar. Emma merasa benar bahwa Firman itu untuknya. Ia tahu bahwa dalam hidupnya yang penuh kejahatan, belum pernah ia berserah pada Tuhan.

Emma mulai berdoa mengenai keinginan dagingnya yang selama ini membelenggu. Rokok dan judi yang mengikatnya ia akui dihadapan Tuhan. Dan Tuhan mendengar doa orang yang hancur hatinya. Di hari minggu itu Emma pulang sambil bersukacita karena Roh Kudus mulai bekerja dalam hatinya. Pertobatan itu berlangsung tahun 1996 akhir.

Beberapa waktu setelah itu, Emma mencari tempat untuk membangun kembali rumah makannya dan menemukan sebuah tempat yang bisa disewa bulanan. Suaminya memberanikan diri untuk meminjam 200 ribu dari seorang saudara. Ditengah bisnis yang mulai ia tempuh, seorang petugas pelabuhan tanpa sengaja melewati rumah makannya. Ternyata di daerah pelabuhan, sebuah tempat rumah makan baru saja dibangun dan petugas itu mengingat akan Emma. Dia menawarkan apakah Emma bersedia membuka kembali rumah makan didaerah pelabuhan.

Begitu Emma setuju, ia langsung ditempatkan di lokasi yang sangat strategis sehingga usahanya menjadi lancar. Tahun 1997, ia mendapat hikmat untuk mengambalikan semua uang yang pernah ia pinjam. Dan kini Emma tahu bahwa bahwa yang paling berharga dalam hidupnya ialah pada saat Yesus merangkul hidupnya, karena ketika dosanya hampir matang dan berbuahkan maut, merangkulnya kembali dan merubah seluruh hidupnya. Kini Emma mengakui dengan bibirnya bahwa Yesus adalah Tuhan yang hidup dan tanpa Yesus ia tak dapat berbuat apa-apa.

Untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan. Kisah Para Rasul 26:18

Sumber Kesaksian:
Emma Sibarani (jawaban.com)

Bandar Judi Yang Diperbaharui

Pandu adalah salah satu anak dari lima bersaudara di keluarganya. Orangtuanya memindahkan anak-anak mereka dari kehidupan nelayan di Indramayu Cirebon ke Jakarta karena keadaan bangkrut. Bayangan Pandu akan kehidupan Jakarta yang hebat segera pudar ketika ia melihat kenyataan bahwa tempat tinggal baru mereka adalah Tanjung Priuk Kali Baru Cilincing. Orang tua Pandu memang sangat miskin. Untuk makanpun mereka masih bergantung pada teman-teman sesama nelayan yang mau membantu mereka.

Terdesak oleh kubutuhan, Pandu yang sudah beranjak dewasa berusaha mengubah nasib dengan memulai “karir’-nya dengan berjualan judi buntut yang dikenal dengan judi hua hue didaerahnya. Dari situ Pandu mulai terpikat karena dari seorang yang sangat miskin tiba-tiba ia mendapat ratusan ribu rupiah hanya satu malam saja. Maka berubah total-lah Pandu. Dari hasil uang judi buntut itu, Pandu dapat membelikan rumah untuk orangtuanya, sebuah gudang dan menikahi gadis impiannya. Sepertinya uang judi itu membuat Pandu makin bertambah kaya.

Uang itupun ia pakai untuk membeli 2 buah toko kelontong. Tokonya cukup laku dengan para pembeli yang rata-rata adalah germo-germo yang tinggal didaerah itu. Jelas saja, berhubung yang dijual Pandu adalah minuman keras seperti bir, whisky dan brandy. Bertahun-tahun ia hidup dari hasil uang haram tersebut. Pandu tidak sadar bahwa apa yang ia kerjakan sama sekali tidak berkenan dihadapan Tuhan.

Waktu berlalu, dan sebuah peristiwa kerusuhan Tanjung Priuk tahun 1984 terjadi sebagai bukti bahwa tidak selamanya uang hasil judi tersebut bisa membwa keberuntungan. Kehidupan keuangan Pandu dan istrinya mulai mengalami hambatan demi hambatan. Hutang mulai menumpuk sehingga mereka harus menjual segala harta termasuk cincin kawin mereka.

Tapi lewat peristiwa itulah Pandu mulai mengikuti persekutuan-persekutuan pengusaha yang menaburkan Firman Tuhan sehingga menyadarkan Pandu bahwa ada sesuatu yang luar biasa yang baru ia temukan. Disitulah untuk pertama kalinya Pandu meneteskan air mata dan sadar bahwa sesungguhnya Tuhan sangat mengasihinya.

Ada dua orang hamba Tuhan yang “menemukan’ Pandu dalam rentetan kehidupan rohaninya tersebut. Mereka adalah Bapak Max Lalamentik dan Bapak Budianto Andreas. Bapak Max yang menjadi pembimbing rohani Pandu ikut mengingat momen ketika ia datang kerumah Pandu untuk berdoa bagi keluarganya. Disitu ia menyaksikan perubahan, yaitu hadirnya kasih dan pemulihan didalam rumah tangga Pandu.

Hidup Pandu sendiri berubah total. Dari seorang pengusaha ia menjadi seorang penjual panci. Tahun ke tahun ia bekerja dengan setia hingga akhirnya ia direkrut kedalam perusahaan real estate yang cukup terkenal. Toko yang ia miliki dari hasil judi menjadi bangkrut dan meninggalkan hutang sebanyak ratusan juta rupiah. Pandu dan istrinya, Merry, mengalami stress dan tekanan besar dari peristiwa itu karena tagihan hutang yang datang bertubi-tubi. Uang hasil dari pekerjaan Pandupun habis dipakai untuk menutupi hutang, seperti melempar batu kelaut. Dalam keadaan yang lelah dan penuh tanda tanya tentang mengapa itu semua harus ia alami, Pandu bertanya pada Tuhan.

Disana Tuhan memberi jawaban dan membuktikan kesetiaanNya. Pandu akhirnya bisa melunasi hutang-hutangnya dan Merry bisa pulih dari stress yang membuatnya mengigau setiap malam dan nyaris gila.

Dalam perayaan pernikahan mereka yang ke-29, dan ulang tahun Pandu ke-55, Pandu dan Merry mewujudkan mimpi mereka untuk kembali memiliki cincin kawin yang dibeli dari hasil uang yang Tuhan berikan.

“Pesan saya, Tuhan Yesus memang sangat luar biasa!”

Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN. Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku ini akan menjadi Allah mereka, sebab mereka akan bertobat kepada-Ku dengan segenap hatinya. Yeremia 24:7

Sumber Kesaksian:
Pandu Wilantara (jawaban.com)

Bergaul Dengan Kehidupan Malam

Siang itu ketika aku sedang tidur, tiba-tiba saja ayahku pulang dan kemudian ia memukulku tanpa kutahu alasannya. Sejak kejadian itu, aku sering ketakutan bila waktunya untuk tidur siang. Karena kejadian itu pula, aku merasa seperti anak yang terbuang di keluargaku sendiri.

Rasa takut membuatku tidak berani untuk bertanya mengapa ayahku berbuat demikian. Hingga timbul rasa kekesalan dalam hatiku, dan perasaan itu tetap merasuki hatiku sampai aku SMP. Setelah tamat sekolah menengah, rasa kesal itu tak kunjung hilang, keberanianku pun tak ada, hingga aku mulai bergaul dengan kehidupan malam sebagai tempat pelarianku. Dan, setiap kali aku mempunyai uang dan kesempatan, aku pasti pergi ke tempat hiburan.

Kebiasaan buruk itu terbawa hingga aku dewasa dan menjadi semakin parah. Dalam seminggu, aku bisa tiga sampai lima kali pergi ke tempat hiburan untuk melampiaskan nafsu bejatku dan hal itu sepertinya sudah menjadi kebutuhan utamaku. Tetapi, selalu timbul rasa penyesalan dalam hatiku, setiap kali aku melakukannya. Sebenarnya, aku ingin sekali dapat mengakhiri kebiasaan burukku itu, tetapi aku merasa tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya. Setiap kali aku mencoba untuk melawannya, setiap kali itu pula aku gagal.

Kebiasaanku yang jelek itu, tidak membuatku kehilangan pergaulan dengan orang-orang seusiaku. Aku bergaul sebagaimana layaknya anak-anak muda. Hingga suatu hari, aku bertemu dengan seorang gadis, dan setelah beberapa bulan kami pacaran, akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Salah satu harapanku menikah adalah supaya aku dapat terbebas dari kehidupanku yang bejat. Namun, kenyataannya tidak seperti yang kuinginkan, aku masih tetap saja melakukan kebiasaanku itu. Hingga, karena perbuatanku yang menjijikan itu, istriku tertular penyakit kelamin. Itu adalah kesalahanku.

Aku sangat menyesali semuanya, karena istriku harus ikut menanggung perbuatanku itu, sedangkan dia tidak tahu apa yang telah kuperbuat selama ini. Aku sungguh jijik pada diriku sendiri. Setiap kali aku merenungi semua yang telah terjadi, yang ada hanyalah rasa penyesalan, namun demikian aku tidak dapat melakukan apa-apa. Kejadian yang hampir sama dengan kejadian masa kecilku dulu. Aku tidak mempunyai keberanian, yang ada hanyalah rasa penyesalan karena rasa takutku itu. Takut untuk menghadapi apa yang akan terjadi kemudian. Hingga suatu malam, aku terbangun dan perasaan jijik terhadap diriku sendiri begitu dalamnya. Aku pun mulai berdoa sambil meratapi diriku, aku sudah tak tahan lagi untuk menyimpan semuanya. Rupanya, istriku terjaga karena mendengar suaraku, spontan ia memelukku. Aku menceritakan semuanya, ia pun berdoa untukku dan mengampuniku juga.

Malam itu adalah awal perubahan dalam hidupku. Aku seperti menerima sebuah kekuatan yang memampukanku untuk berubah. Mulai saat itu, kebiasaanku yang tidak pernah tertinggal yaitu kehidupan malam yang penuh kebebasan telah kutinggalkan. Aku memulai hidup baru. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan, karena Tuhan-lah yang telah memberiku kekuatan dan memampukanku untuk melawannya. Aku juga bersyukur karena Ia telah mempertemukanku dengan seorang istri yang mau menerimaku dan mengampuniku.

Hingga saat ini, aku tak pernah lagi menyentuh kehidupan yang penuh kebebasan itu. Dan kini, aku mengerti, mengapa aku dulu seringkali gagal dalam melawan nafsu bejatku itu, karena aku mengandalkan kekuatanku sendiri. Namun kini, begitu aku menyerahkan semuanya dengan penyesalan yang sungguh-sungguh dari dalam hatiku, Ia yang akan memberi kekuatan untuk melawan semuanya. Sampai sekarang, perubahan-perubahan yang mendorongku untuk hidup dalam kebenaran, ke jalan yang Tuhan kehendaki, tak pernah berhenti dalam hidupku. Selalu setiap hari ada perubahan yang heran dalam hidupku.

Sumber Kesaksian:
David Subagja (jawaban.com)

Aku Berharga Di Mata Tuhan

Papa mama saya menikah dalam usia yang masih sangat muda. Pada saat kehadiran anak pertama, anak kedua dan anak ketiga keadaan keluarga saya masih baik-baik saja dan belum terasa adanya tekanan. Namun ketika saya ada di dalam kandungan, mama saya merasakan tekanan yang begitu berat. Setiap hari tidak ada kedamaian, mama saya selalu menangis karena sering sekali bertengkar dengan papa saya. Pertengkaran yang sumbernya sebenarnya adalah masalah ekonomi tersebut akhirnya merembet kemana-mana. Sampai akhirnya mama saya memutuskan untuk bunuh diri. Pada waktu itu mama saya mengambil keputusan bunuh diri selain untuk menggugurkan saya, juga untuk mengakhiri hidupnya.

Walaupun sang ibu ingin melarikan diri dari kenyataan namun niatnya itu gagal, akhirnya John Nathanael lahir pada tahun 1964 dalam keadaan cacat.

Keluarga memperlakukan saya antara kasih sayang dan rasa malu karena mempunyai anggota keluarga yang cacat. Jadi kalau ada sanak saudara dari mama saya atau teman-teman daripada kakak-kakak saya berkunjung ke rumah, saya disuruh tetap berada di dalam kamar, tidak boleh keluar. Saya tidak boleh menemui siapa-siapa, bahkan untuk buang air kecil, saya mengalami kesulitan untuk keluar dari kamar.

Pada usia delapan tahun, saya mulai menunjukkan kekecewaan terhadap mama saya yang nampak dalam kelakuannya saya sehari-hari. Suatu saat ketika saya sedang diberi makan oleh mama saya, makanan itu saya buang. Mama saya menjadi marah sekali dan sambil mengucapkan kata-kata yang amat menyakiti hati saya. Saya amat tertolak dan kecewa terhadap mama saya.

Sejak umur delapan atau sembilan tahun itu saya baru menyadari kalau saya mempunyai kelainan dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Terkadang teman saya bilang kalau baju yang saya pakai, terdapat gambar yang bagus, akan tetapi saya tidak tahu baju apa yang sedang saya pakai dan gambar apa yang ada di baju saya. Keadaan itulah yang membuat saya kecewa dan sedih. Dalam kekecewaan itu, ada dorongan diluar kesadaran saya untuk mencoba bunuh diri.

Dalam kepolosan pemikiran seorang anak, John berpikir dengan gantung diri menggunakan karet lompat tali, dia dapat mengakhiri hidupnya. John sempat beberapa saat tidak sadarkan diri, tapi usaha bunuh dirinya tidak berhasil. Akhirnya John menemukan seorang yang menjadi teman akrabnya yang mau menemani hari-hari hidupnya.

Selama hidup saya hanya mempunyai satu orang teman akrab. Saya hanya bisa berteman dengan dia dan bersahabat dengan harmonika yang selalu setia menemani. Memang karena saya tidak bisa kemana-mana, saya melakukan apa saja yang bisa saya lakukan untuk melewati hari-hari saya yang begitu saya rasakan kelam. Banyak orang datang kepada saya dan mengatakan bahwa Tuhan itu baik dan adil. Namun dalam hati saya timbul pertanyaan, mengapa jika Tuhan itu baik dan adil mengijinkan saya lahir dalam keadaan seperti ini. Waktu remaja, saya merasakan frustasi dan keadaan itu yang harus saya lewati.

Pada suatu ketika, Tuhan mulai menjamah kehidupan John melalui salah satu teman kakaknya yang sedang bekerja di rumah John.

Ketika dia sedang bekerja, saya ambil gitar dan memainkannya di dekatnya, lalu dia mulai bertanya kepada saya, “apa kegiatan kamu sehari-hari kalau sedang di rumah?” Saya bilang saya tidak kemana-mana dan tidak ada kegiatan apa-apa, lalu dia mengajak saya untuk ikut ke gereja jika tidak ada kegiatan. Ketika saya bercakap-cakap dengan dia, saya merasakan kedekatan, jadi saya mulai berani untuk ikut bersamanya ke gereja. Mulai saat itu saya mulai rajin beribadah. Saya sangat tersentuh kepada kebaikannya, karena tempat tinggalnya cukup jauh dari rumah saya, sedangkan dia hanya mengendarai sepeda motor untuk menjemput saya. Akan tetapi dia lakukan juga untuk menjemput saya dengan tulus. Melihat ketulusan dan kebaikan orang ini, saya waktu itu meyakinkan diri saya untuk mempercayai apa yang dikatakan teman saya ini bahwa Tuhan itu sangat baik, karena saya melihat kehidupan teman saya ini. Kalau teman saya begitu baik kepada saya apalagi dengan Tuhannya. Tiba-tiba saya menemukan bahwa diri saya begitu berarti di hadapan Tuhan.

Yang Tuhan mau dalam hidup saya adalah supaya saya mengampuni mama saya. Dan ketika saya mau mengambil keputusan untuk mengampuni, waktu itu saya rasakan saya mengalami suatu kelepasan yang luar biasa dan Tuhan itu hadir dalam pribadi Bapa dalam hidup saya, karena Dia juga mengetahui kerinduan saya untuk bertemu dengan Bapa.

Di dalam keberadaan saya seperti ini, saya dapat memandang bahwa hidup ini indah. Saya bisa memberikan yang terbaik, walaupun saya dulu menganggap itu tidak mungkin. Ketika Tuhan pulihkan saya, Tuhan bukakan kepada saya kalau saya adalah seorang pelayan Tuhan di dalam penyembahan, kesaksian dan bernyanyi. Sejak saat itu saya menjalani hidupnya dengan sukacita dan penuh pengharapan kepada Tuhan. Bahkan dengan cara yang ajaib Tuhan mempertemukan John dengan Mariane dan mempersatukan mereka dalam pernikahan yang kudus.

“Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” (1 Petrus 3:4)

Sumber Kesaksian:
John Nathanael (jawaban.com)

Mengalahkan Buah Masa Lalu

Semua ini kisah Rudi Palempung dan gaya hidupnya. Dulu hidup saya tidak sehat seperti sekarang ini. Waktu tidur saya, waktu makan tidak pernah teratur. Kebiasaan untuk minum minuman keras dan merokok begitu mengikat saya. Sungguh-sungguh kacau kehidupan saya pada waktu itu. Kehidupan yang tidak sehat itu terjadi karena saya lebih banyak bergerak pada malam hari.

Saat itu saya mempunyai usaha. Jika saya tidak mencapai penjualan atau adanya situasi yang tidak mendukung dengan segera membuat saya menjadi stress. Akibatnya saya menjadi mudah marah, baik di tempat pekerjaan ataupun di rumah. Dalam keadaan seperti ini saya menjadi pecandu rokok, saya merokok kurang lebih tiga bungkus perhari. Saya merokok dalam jumlah banyak hingga akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan saya. Selain merokok, saya juga suka sekali minum minuman keras. Hal inilah yang mempengaruhi kondisi jasmani saya yang akhirnya membuat saya sakit.

Selama 17 tahun saya terikat dengan kebiasaan buruk ini. Sulit sekali bagi saya untuk melepaskannya. Tiga atau empat bungkus rokok saya habiskan dalam sehari. Waktu itu umur saya masih berkisar 30 sampai 40 tahun dan kesehatan saya memang sepertinya tidak ada masalah.

Kehidupan malam yang dijalani Rudi telah membawa hidup Rudi jauh dari Tuhan. Namun istrinya terus menerus berdoa siang dan malam agar Rudi kembali kepada Tuhan. Suatu hari Tuhan bekerja atas doa istri Rudi, keadaan yang kurang baik diijinkan oleh Tuhan terjadi dalam kehidupan Rudi.

Suatu ketika saya merasakan sakit di dada. Sakit ini menusuk dari depan sampai belakang. Saya tidak tahu sakit apa yang saya derita ini. Pada awalnya saya merasakan sakit di dada yang begitu perih. Saya sudah datang pada beberapa dokter dan mereka tidak menemukan adanya sakit jantung pada diri saya. Namun teman saya meminta agar saya pergi ke dokter yang lain. Dan ternyata pada saat saya pergi ke satu dokter, ia mengatakan bahwa saya mengalami penyumbatan pada jantung dan saya harus diteter.

Setelah saya diteter, hidup saya masih mengikuti pola yang lama. Walaupun sakit saya tetap merokok. Setelah selesai diteter sekalipun, yang namanya rokok tidak dapat saya lepaskan. Selain itu saya juga sangat tergantung kepada obat yang diberikan oleh dokter. Keadaan tubuh saya begitu buruk, setiap kali saya berjalan maka saya merasakan sakit di bagian dada. Umur saya yang masih muda tidak sesuai dengan keadaan saya. Kondisi saya sudah seperti kakek-kakek saja.

Pada suatu hari saya dan istri saya berada dalam suatu mall. Saat itu saya melihat banyak orang yang lewat di sekitar mall itu membawa Alkitab untuk menuju suatu kebaktian. Melihat itu saya merasakan timbulnya kerinduan dalam hati untuk datang ke gereja. Minggu berikutnya akhirnya saya datang pada suatu kebaktian. Dalam ibadah tersebut, seorang hamba Tuhan menyampaikan Firman Tuhan. Saat itu saya merasakan bahwa Firman Tuhan tersebut seolah-olah ditujukan pada diri saya sendiri. Pada waktu saya mendengar perkataan firman itu, air mata saya keluar dan saya menangis tersedu-sedu. Setelah ibadah tersebut timbul kerinduan dalam hati saya untuk terus datang kembali dalam ibadah. Minggu berikutnya saya datang dan datang kembali. Dan akhirnya Tuhan menjamah saya, Dia menjamah hati saya. Saya memiliki satu kehidupan yang baru.

Saya merasakan adanya perubahan, kehidupan yang baru ini penuh dengan sukacita. Mulai saat itu saya punya kerinduan untuk selalu berada di rumah Tuhan. Tidak ada hari Minggu yang saya lewati tanpa datang ke rumah Tuhan. Dalam semuanya itu saya merasakan perubahan yang luar biasa terjadi, hidup saya mulai teratur. Saya mampu meninggalkan kebiasaan yang tidak baik dan tidak sehat seperti rokok dan minuman keras. Tidur saya mulai menjadi teratur.

Kehidupan rohani saya juga semakin baik. Pada waktu bangun pagi saya mulai bersekutu dan mencari wajah Tuhan. Saya juga menjaga kesehatan tubuh jasmani ini karena saya mulai menyadari bahwa tubuh ini adalah bait Allah. Oleh karena kasih dan kemurahan Tuhan saya juga mulai melepaskan obat-obat saya. Sejak itu penyakit saya tidak terasa lagi. Saya sungguh telah disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Mujizat telah terjadi dalam kehidupan saya. Sampai saat ini saya merasa sehat dan saya tahu bahwa kesehatan itu datangnya dari Tuhan Yesus.

Kehidupan dekat dengan Tuhan adalah kekuatan bapak Rudi dan keluarganya. Sejak Tuhan menjamah hidupnya, suatu perubahan yang besar terjadi. Kesehatan Rudi berangsur-angsur pulih dengan luar biasa. Hingga kini bapak Rudi telah dibebaskan secara penuh dari penyakit jantung.

Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur- bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu. (1Petrus 2:21,24-25)

Sumber Kesaksian:
Rudi Palempung (jawaban.com)

Mita Tobing, Kisah Nyataku Sebagai Rentenir Judi

Janke, istilah bagi seseorang yang meminjamkan modal kepada para penjudi dengan mengambil keuntungan satu persen dari total nilai uang yang dipinjamkan. Inilah pekerjaan yang dijalani oleh Mita Tobing.

“Untuk arena judi, saya sudah dikenal. Saya bisa satu malam dapat sampai 100 juta, 50 juta karena saya itu bekerja 1×24 jam, bahkan 2×24 jam. Saat itu pasti bangga karena dapat hasil yang dibawa pulang,” demikian Mita menuturkan kisah nyata kehidupannya.

Rasa bangga semakin dirasakannya ketika ia dipercaya seseorang untuk membawa para penjudi menghamburkan hartanya di luar negeri. “Ketika itu saya harus full up mereka. Karena apa? Karena semua fasilitas saya yang sediakan. Kamar, tiket pesawat pulang pergi, semua makan mereka, semua start mereka mau main saya yang fasilitasi semua. Mereka tinggal duduk semua seperti raja”

“Pada saat itu, saya tidak pernah tertekan atau merasa itu dosa.”

Namun, kehidupan rumah tangganya tidak seindah kehidupannya yang penuh hura-hura. “Sebagai ibu rumah tangga, saya juga jadi bapak rumah tangga karena saat itu saya juga harus membiayai suami saya”

“Saya tidak peduli dia mau pakai apa uang itu. Terkadang saya tidak kuat untuk memberikan nilainya banyak, tetapi karena rasa takut saya akhirnya saya kasih, karena saya pernah dipukul”

Bukan hanya dipukul, Mita pernah melihat suaminya intim dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya. “Saya diam ajalah pas dia bilang “wanita itu orang gila” atau apa saja karena saya pernah berteriak di jalanan, saya bilang “rumah ini tidak pernah mesra”, saya bilang seperti itu, saya mau dia perhatikan saya sebagai istri, tetapi itu tidak pernah saya dapat”

“Jadi ketika itu saya rasakan, saya harus bisa untuk hidup karena saya tidak mungkin bergantung kepada suami saya”

Pilihan bekerja sebagai rentenir di tempat perjudian pun diambil Mita. Selain karena saat itu sang suami sudah terlebih dahulu bekerja disana, bujukan mendapatkan keuntungan besar dari temannya semakin menguatkan ia untuk terjun ke “tempat basah” itu.

“Jadi ketika itu saya masih kecil permainannya. Semakin lama semakin besar, akhirnya rentenir itu dihilangkan, jadilah saya janke,” tutur Mita

Lambat laun, pekerjaan sebagai janket memang membuat Mita mandiri secara finansial. Ia dapat membeli apa saja yang ia dan anak-anaknya mau. Akan tetapi, bergelimang harta ternyata tidak membawa kebahagiaan.

Bertahun-tahun keluarga yang dibangun oleh Mita dan suami seperti berada di dalam api neraka. Tak ada kasih yang terlihat disana. Rasa acuh tak acuh antar suami istri dan percekcokan menjadi pemandangan yang tak asing dilihat tiap-tiap hari.

“Suami saya itu tidak pernah perduli dengan keadaan saya, jadi saya pun tidak terlalu minta perhatian. Jadi, untuk apa lagi berbicara, gak ada gunanya saya pikir. Hampir 15 tahun, saya tidak pernah berbicara dengan suami saya, satu rumah”

Keadaan Mita semakin hancur setelah semua yang dikerjakannya tidak membuahkan hasil. Stress dengan hal ini, akhirnya ia pun mencurahkan isi hatinya kepada saudaranya.

“Disitu saya memang sudah harus ikut Tuhan, tetapi saya mengeraskan hati selalu. Saya tiap hari ibadah, tetapi tidak pernah saya menjadi baik”

Masih bergumul dengan hidup benar, wanita asal Tapanuli ini ternyata di luar pikirannya mengalami suatu kejadian yang aneh. “Tiba-tiba perut saya membesar seperti hamil 8 bulan. Saya pikir ini kenapa, saya gak tahu ini gara-gara apa. Jadi, disitulah saya harus meninggalkan kehidupan lama saya ini. Tidak ada pilihan, tinggalkan saja ini karena ini bukan pilihan untuk hidup saya selanjutnya. Itulah pikiran saya ketika itu”

“Saya merasa saya jijik. Ketika itu saya berbicara kepada Tuhan, “Tuhan, tolong saya, pulihkan rumah tangga saya ini, supaya saya bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik di rumah”

Dibantu oleh saudara perempuannya, Mita pada akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dosa-dosanya dan berbalik kepada jalan Tuhan. “Saya merasakan damai sejahtera, sukacita, dan tidak ada rasa takut lagi dan apapun segala kehidupan saya dan bahkan anak-anak saya, saya serahkan di dalam tangan Tuhan”

Mukjizat terjadi, sesaat setelah mengatakan seperti itu, perutnya yang membesar secara ajaib kempes.

Tidak berhenti disana, beberapa waktu kemudian di saat suaminya sedang dalam keadaan sekarat, Tuhan bekerja memulihkan hubungan rumah tangga Mita. Saling maaf-memaafkan terjadi diantara dua insan manusia tersebut. Air mata pun mengalir di wajah mereka berdua. Walau singkat, tetapi ini sudah cukup untuk merekonsiliasi dan menyatukan hati keduanya yang sudah terpisah jauh.

Dan sebuah babak baru kehidupan Mita dimulai sejak itu. “Saya sudah memutuskan seluruh hubungan saya dengan orang-orang yang dulu ada di dalam kehidupan saya itu. Walaupun mereka mendatangi rumah saya dan mengajak saya, dengan tegas saya katakan tidak”

Mita benar-benar bertekad meninggalkan kehidupan lamanya. Kini ia menyerahkan hidupnya untuk mengabdi kepada Tuhan.

“Saya dulu punya duit tetapi tidak sukacita karena hidup di dalam dosa. Sekarang saya sukacita walaupun hidup saya pas-pasan, tetapi saya percaya Tuhan pasti memelihara saya menurut kemuliaan dan kekayaan Tuhan Yesus Kristus. Jadi apapun yang terjadi di dalam kehidupan saya, saya tetap sukacita,” ungkap Mita mengakhiri kesaksiannya.

Sumber kesaksian:
Mita Tobing (jawaban.com)

Kisah Nyata Linawati, Kuampuni Penembak Ibuku

Segala sesuatu terjadi dengan waktu sekejap. Ketika Linawati Kusuma keluar dari mobil yang dikemudikan ayahnya, Irwan Kusuma, perampok bermotor mendatangi dirinya. Linawati berusaha mempertahankan tas yang ia miliki. Mendengar keributan di jalan, sang ibu, Fang Fang segera menghampiri Linawati. Sambil merebut tas milik Lina, perampok yang panik segera melepaskan tembakan kearah perut ibu Fang Fang.

Linawati Kusuma begitu terkejut
Dari jarak kurang lebih setengah meter, mama saya ditembak

Di dalam mobil Irwan Kusuma hanya bisa tertegun
Saya sempat nggak percaya, bahwa ia benar-benar ditembak. Saya nggak percaya. Begitu orang-orang kasih tahu, semuanya teriak-teriak begitu, seketika itu juga saya turun.

Irwan Kusuma segera melarikan sang istri ke rumah sakit
Saya sebentar-sebentar melongok, sebentar-sebentar melongok. Di bangku mobil itu memang ada darah. Di depan pintu rumah sakit, di depan UGD, dia sudah kehabisan suara. Disana dia ditolong dengan pertolongan pertama yaitu untuk memberhentikan darah. Peluru masih bersarang di dalam tubuh.

Namun dokter tidak bisa mengoperasi ibu Fang Fang
Karena alatnya nggak lengkap dokter nggak berani mengoperasi. Kita lalu cari tempat lain. Setelah itu saya menghubungi salah satu temen yaitu bapak Mangkunarko. Dia lalu telepon ke rumah sakit pantai Indah Kapuk. Sampai di RS pantai Indah kapuk, dokter bilang bahwa istri saya tidak bisa dioperasi karena darahnya sudah terlalu banyak keluar. Nanti kira-kira jam sebelas malam baru bisa dioperasi karena dia harus mendapat tambahan darah dulu.

Melihat ibunya kritis, Linawati diliputi kepedihan
Saya hanya bisa nangis terus. Terus terang saya tidak tega melihat mama seperti itu. Saya sayang sama mama walaupun saat ini saya belum bisa membahagiakan mama, tapi kehidupan saya menjadi lebih berwarna ketika mama itu ada.

17 Juli 2006 jam 23.00 malam operasi dilakukan. Tampaknya operasi berlangsung dengan baik. Namun pasca operasi, hal yang ditakutkan terjadi. Ibu Fang Fang mengalami pendarahan parah. Ia bahkan mengalami muntah darah akibat pendarahan di bagian perutnya.

Dr. Riki Tenggara Spd Pd yang merawat ibu Fang Fang
Setelah masuk ICU ternyata pendarahan masih berlangsung terus. Dokter bedahpun memutuskan untuk melakukan re-operasi. Itu bukan keputusan mudah karena itu artinya melakukan operasi dalam kondisi yang lebih berat. Dokter mengatakan beberapa organ vital dari ibu Fang- Fang harus diangkat.

Dalam keadaan yang kritis, beberapa kerabat tetap mempersalahkan Linawati yang ketika terjadi perampokan tetap mempertahankan tas yang dipegangnya. Mereka mengatakan kalau saja Lina menyerahkan tas itu maka mamanya tidak akan mengalami keadaan kritis seperti itu. Mereka mempersalahkan Lina yang dianggap tidak punya belas kasihan pada mamanya.

Linawati begitu tertekan dan merasa amat bérsalah
Saya semakin penuh perasaan berdosa. Sepertinya saya menganggap semua ini penyebabnya adalah saya. Saat itu saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Sebagai manusia saya sedíh sekali. Hati saya hancur, saya hanya bisa menangis.

Kesedihan yang sama dialami Irwan Kusuma
Menyendiri, saya hanya banyak menyendiri. Kadang-kadang cuma merenungi kenapa kok sampai begini?. Saya merasa sedíh sekali, hanya khan kadang-kadang saya tidak mau orang tahu kesedihan saya

19 Juli 2006 dilakukan operasi kedua. Ibu Fang Fang mengalami luka berat. Banyak organ tubuhnya hancur karena peluru. Organ tubuh yang diangkat adalah sebagian pánkreas, keseluruhan ginjal kirinya, limpa yang sudah hancur, dan liver yang robek-robek akibat diterjang peluru.

Ibunda Lina ini mengalami penolakan transfusi
Setelah operasi yang kedua mama saya tidak bisa menerima darah. Setiap masuk kamar ICU saya tanya : “Dokter, kondisi mama bagaimana?” Dokter bilang : “Mama kamu nggak bisa tarima darah. Darah yang dimasukin – yang ditransfusi, keluar lagi.

Karena Lina mempertahankan hal yang bersifat materi, ibunya menjadi korban. Peluang hidupnya tinggal 25%. Lina tidak bisa membalikkan waktu untuk memperbaiki keadaan. Lina hanya bisa meratap dengan penuh penyesalan.

Malam itu saya bergumul, saya meratap pada Tuhan. Saya hanya bisa bilang : “Tuhan tolong mama saya. Mama saya tidak bisa terima darah. Kalau kondisinya seperti ini dokterpun bilang tidak ada harapan.” Saya mau berserah karena saya tahu hidup mama ada didalam tangan Tuhan. Saya bilang : “Tuhan, saya mau mengampuni orang-orang yang menjahati keluarga kami”

Saat itulah Lina melihat harapan dari Tuhan
Pada saat itu saya hanya melihat dengan pandangan rohani saya, ranjang di rumah sakit dimana mama saya tidur, saya melihat dia tidur. Dan saya bilang : “Tuhan, saya tahu Engkau hadir disana. Dan saya melihat dari tanganNya itu ada satu selang yang mengalir ke tangan mama saya. Saya tahu yang mengalir di dalam tubuh mama saya adalah darah Tuhan Yesus. Mulai saat ini saya tahu mama saya pasti bisa menerima darah.”

4 Hari kemudian kondisi ibu Fang Fang semakin tidak karuan. Ia mengalami perubahan total. Ingatannya mengalami trauma, ibu Fang Fang mengalami penglihatan aneh-aneh. Ia melihat kaca-kaca ditembaki, penglihatannya sudah lain.

Lina seakan putus harapan
Saya bilang : “Tuhan saya menderita, saya tidak kuat.” Saat itu Roh Kudus mengingatkan saya : “Kenapa kamu tidak mengucap syukur, bahwa Aku masih menyertai kamu, bahwa Aku ada selalu untuk kamu.”

Kondisi ibu Fang Fang tampak membaik. Malamnya Lina masih bisa bercanda dengan mama pada waktu jam besuk. Saat Lina kembali ke rumah, adiknya menelpon dan mengabarkan kembali bahwa ibu Fang Fang ada dalam keadaan kritis

Tapi kemudian ada telepon : “Ci cepat kembali ke rumah sakit!”. Saya sempat panik karena suaranya panik . Saya bilang : “Mama kenapa?, mama kenapa?”. “Pokoknya cepetan saat ini juga harus balik.”

Lina mulai memikirkan hal-hal buruk
Saat itu di mobil saya hanya bisa berdoa, saya menangis. Saya terus berdoa karena saya sempat terpikir pikiran negatif : “Ohh tadi tuh seneng-seneng sama mama mungkin yang terakhir kalinya.”

Malam itu jantung ibu Fang Fang tiba-tiba berhenti. Dapatkah ia bertahan dalam kondisi yang sangat lemah?. Lina hanya bisa berdoa.

Di ruangan ICU itu hanya ada adik saya, Yoseph yang melihat mama diberikan pertolongan pertama. Saat itu kita semua hanya bisa berdoa. Saya tahu ini merupakan proses, tapi tolong Tuhan beri kekuatan. Saya bilang : “Tuhan tolong selamatkan mama saya”.

Tuhan mendengar doa Lina dan keluarganya. Ibu Fang Fang berhasil melewati masa krisis. Namun tantangan belum berakhir bagi keluarga Irwan Kusuma dan putrinya Lina. Selama berada di rumah sakit, biaya yang harus ditanggung besarnya hingga 360 juta rupiah. Dalam hal ini kembali Tuhan menyatakan kasihNya.

Irwan Kusuma yang mengalami kebaikan Tuhan.
Dalam 22 hari, hari demi hari setelah drop itu dia mulai ada perkembangan yang bagus. Walau tidak secara drastis, tapi sedikit demi sedikit dia semakin baik. Setiap hari selalu ada saja orang membantu, tidak ada henti-hentinya. Bantuan doa apalagi. Bantuan makanan, bantuan dana, semua diberikan. Saya bersyukur dan berterima kasih.

Setelah satu bulan berada di RS, ibu Fang Fang dinyatakan sehat dan bisa meninggalkan RS dan pulang ke rumah. Bahkan Dr. Riki Tenggara Spd Pd merasa digerakkan Tuhan untuk meringankan biaya pengobatan.

Kita hanya mengatakan súdahlah, mungkin untuk biaya dokternya tidak usah bayar. Yang penting apa yang sudah kita upayakan itu bisa menjadi suatu kehidupan. Penyembuhan dari ibu Fang Fang ini lebih merupakan mujizat dari Tuhan

Saat ini ibu Fang Fang telah bisa melakukan aktifitasnya seharí-hari tanpa ada keluhan sedikitpun.

Hanya syukur yang ada dalam hidup Irwan Kusuma
Ini adalah satu mujizat yang bisa kita lihat dengan mata karena menurut siapapun juga, termasuk dokter sebetulnya telah angkat tangan dan mengatakan tidak ada harapan.

Linawati Kusuma
Tuhan Yesus itu adalah papa saya, sahabat saya, Juruselamat saya dan Allah yang hidup karena dia telah memberikan anugerah untuk kehidupan mama saya dan juga keluarga kami. Dia pemberi mujizat yang luar biasa, tidak ada Tuhan seperti Dia.

Sumber kesaksian:
Linawati Kusuma (jawaban.com)