Category Archives: Narkoba

Penyakit Akibat Penyalahgunaan Narkoba

Sejak kelas lima SD, Dolly mulai coba-coba menggunakannarkoba hingga akhirnya ketagihan. Setiap hari dosisnya makin bertambah. Beberapa tahun kemudian tubuhnya menjadi sangat kurus karena diracuni olehnarkoba. Dan, dalam melakukan aktifitas apapun harus mengkonsumsinya terlebih dahulu agar timbul rasa percaya dirinya. Sampai kelas tiga SMA, barang tersebut masih dikonsumsinya, dia sadar hidupnya menderita karena keterikatannya terhadap barang tersebut dan dia ingin sekali melepaskan diri dari keterikatannya.

Lulus SMA, Dolly berjuang untuk berhenti dan melepaskan diri dari keterikatannya. Kurang lebih dua tahun, dia berjuang, sehingga ia pun dapat berhenti total. Namun tanpa disadarinya narkoba yang dikonsumsi selama ini menyebabkan banyak sekali kerusakan pada organ bagian dalam tubuhnya. Hal ini diketahui setelah setahun sejak ia berhenti total. Saat itu, dia sedang sakit dan harus di bawa ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, Dolly dinyatakan terkena Leukimia, selain itu mengalami kerusakan pada bagian ginjal, lever, dan lambungnya.

Akhirnya ia dirawat di rumah sakit. Karena kekurangan biaya, Dolly ditempatkan di kamar yang berisi lebih dari duapuluh orang pasien dengan penyakit yang bermacam-macam. Keadaan ini tidak memberikan dampak positif bagi kesembuhannnya, karena kamar yang sesak serta pengobatan yang kurang intensif. Tidak adanya perubahan membuat keluarga Dolly pasrah dan memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah.

Kondisinya semakin buruk, setiap kali berdiri langsung terjatuh. Kulitnya pun menjadi kuning dan menyebarkan aroma yang bau amis. Keluarganya tidak dapat berbuat apa-apa, mereka hanya dapat menatapnya dengan penuh rasa iba dan berpikir mungkin sebentar lagi Dolly akan meninggal dunia.

Dolly sadar bahwa apa yang dialaminya hingga saat ini adalah karena kesalahannya sendiri. Dalam keputusasaannya dia diingatkan untuk berdoa dan mengucapkan syukur kepada Tuhan yang lebih tahu apa yang terbaik bagi kehidupannya.

Mulai saat itu, dalam setiap kesempatan dimanapun dia bertemu dengan orang lain, dia bercerita akan kebaikan Tuhan terhadap dirinya. Seiring waktu yang terus berjalan, tanpa disadari, Dolly mengalami suatu keajaiban dalam dirinya. Dia merasakan dirinya sehat dan dia tahu, bahwa dia telah disembuhkan, diapun tahu bahwa yang telah memulihkannya adalah Tuhan dan dia sadar karena Tuhan telah memberikan kesempatan bagi dirinya.. Namun keluarganya tidak percaya begitu saja, sehingga untuk memastikan bahwa Dolly telah sembuh total dari Leukimia dan kerusakan organ tubuhnya, mereka membawanya ke dokter untuk diperiksa ulang.

Ternyata hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Dolly benar telah sembuh total. Bahkan tanda-tanda ia pernah sakit hilang sama sekali tanpa ada bekasnya. Sampai saat ini penyakit yang pernah dideritanya tidak ada yang kambuh sama sekali. Dolly hidup dengan sehat dan menjadi wanita karir saat ini. Sejak kelas lima SD, Dolly mulai coba-coba menggunakan narkoba hingga akhirnya ketagihan. Setiap hari dosisnya makin bertambah. Beberapa tahun kemudian tubuhnya menjadi sangat kurus karena diracuni oleh narkoba. Dan, dalam melakukan aktifitas apapun harus mengkonsumsinya terlebih dahulu agar timbul rasa percaya dirinya. Sampai kelas tiga SMA, barang tersebut masih dikonsumsinya, dia sadar hidupnya menderita karena keterikatannya terhadap barang tersebut dan dia ingin sekali melepaskan diri dari keterikatannya.

Lulus SMA, Dolly berjuang untuk berhenti dan melepaskan diri dari keterikatannya. Kurang lebih dua tahun, dia berjuang, sehingga ia pun dapat berhenti total. Namun tanpa disadarinya narkoba yang dikonsumsi selama ini menyebabkan banyak sekali kerusakan pada organ bagian dalam tubuhnya. Hal ini diketahui setelah setahun sejak ia berhenti total. Saat itu, dia sedang sakit dan harus di bawa ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, Dolly dinyatakan terkena Leukimia, selain itu mengalami kerusakan pada bagian ginjal, lever, dan lambungnya.

Akhirnya ia dirawat di rumah sakit. Karena kekurangan biaya, Dolly ditempatkan di kamar yang berisi lebih dari duapuluh orang pasien dengan penyakit yang bermacam-macam. Keadaan ini tidak memberikan dampak positif bagi kesembuhannnya, karena kamar yang sesak serta pengobatan yang kurang intensif. Tidak adanya perubahan membuat keluarga Dolly pasrah dan memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah.

Kondisinya semakin buruk, setiap kali berdiri langsung terjatuh. Kulitnya pun menjadi kuning dan menyebarkan aroma yang bau amis. Keluarganya tidak dapat berbuat apa-apa, mereka hanya dapat menatapnya dengan penuh rasa iba dan berpikir mungkin sebentar lagi Dolly akan meninggal dunia.

Dolly sadar bahwa apa yang dialaminya hingga saat ini adalah karena kesalahannya sendiri. Dalam keputusasaannya dia diingatkan untuk berdoa dan mengucapkan syukur kepada Tuhan yang lebih tahu apa yang terbaik bagi kehidupannya.

Mulai saat itu, dalam setiap kesempatan dimanapun dia bertemu dengan orang lain, dia bercerita akan kebaikan Tuhan terhadap dirinya. Seiring waktu yang terus berjalan, tanpa disadari, Dolly mengalami suatu keajaiban dalam dirinya. Dia merasakan dirinya sehat dan dia tahu, bahwa dia telah disembuhkan, diapun tahu bahwa yang telah memulihkannya adalah Tuhan dan dia sadar karena Tuhan telah memberikan kesempatan bagi dirinya.. Namun keluarganya tidak percaya begitu saja, sehingga untuk memastikan bahwa Dolly telah sembuh total dari Leukimia dan kerusakan organ tubuhnya, mereka membawanya ke dokter untuk diperiksa ulang. Ternyata hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Dolly benar telah sembuh total. Bahkan tanda-tanda ia pernah sakit hilang sama sekali tanpa ada bekasnya. Sampai saat ini penyakit yang pernah dideritanya tidak ada yang kambuh sama sekali. Dolly hidup dengan sehat dan menjadi wanita karir saat ini.

Sumber Kesaksian:
Dolly (jawaban.com)

Kisah Nyata Ketiga Anakku Hancur akibat Narkoba

Telah banyak kisah dan cerita mengenai dampak dari Narkoba yang membelenggu para keluarga. Banyak yang berakhir duka, namun tidak sedikit yang pulih dan bersukacita karena mukjizat dan pengampunan dari Tuhan. Seperti yang dialami oleh Ibu Usdety kala ketiga anaknya harus menjadi pengguna narkoba.

Berawal pada suatu hari kala ketiga anaknya masih duduk dibangku sekolah dasar, seusai pulang sekolah mereka berkumpul didalam kamar. Curiga karena tidak ada suara dan aktivitas yang terdengar, Ibu Usdety menghampiri kamar dan mengetuk pintu untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan. Betapa terkejutnya dia ketika melihat didalam kamar, ketiga anknya dan teman-temannya sedang menggunakan narkoba.

Beranjak dewasa, ketiga anak Ibu Usdetty menjadi pribadi yang suka memberontak. Terutama ketika meminta uang, mereka dapat memaksa sang ibu untuk memberikannya. Hal ini seringkali membuat Ibu Usdety marah dan naik pitam. Ada satu situasi dimana emosi tidak terkendali akibat kelakuan sang anak, Ibu Usdety memukul, membenturkan kepala anaknya ketembok dan juga menendangnya. Sang anak pun bukan sadar malah mengancam-mengancam sang ibu, bahkan keluar dari rumah.

Bahkan pernah sang anak bersandiwara dengan menelepon sang ibu bahwa dirinya sedang disandera oleh seseorang dan meminta sang ibu untuk menyerahkan sejumlah uang untuk menebus dirinya. Merasa ketakutan dan ingin agar anaknya selamat, Ibu Usdety segera menyerahkan uang. Namun ketika uang telah diserahkan, yang ada hanyalah sang anak memakai uang tersebut untuk menggunakan narkoba lagi. Penyanderaan itu ternyata hanyalah skenario belaka agar mereka dapat terus menggunakan narkoba.

Segala cara telah dilakukan oleh Ibu Usedty agar sang anak sembuh dari ketergantungan. Namun semuanya terasa sia-sia karena ketiga anaknya telah jauh terperosok dalam jurang maut. Bahkan Dave, anak pertamanya harus mengalami kejadian yang mengancam keselamatan nyawanya sendiri. Dirinya mengalamo overdosis, diantar oleh sebuah becak kerumahnya dengan kondisi tidak sadarkan diri dan diketemukan didalam sebuah comberan.

Dave segera dibaringkan ditempat tidur. Anak-anaknya yang lain segera membantu untuk menyadarakan Dave. Namun semuanya berkata bahwa Dave sudah tidak ada lagi (tidak bernyawa). Disinilah Ibu Usdety merasa mendapat sebuah pukulan yang hebat. Meninggal karena sakit adalah hal yang masih bisa diterima. Namun meninggal karena overdosis narkoba, adalah hal yang tidak bisa diterimanya.

“Ada satu kekuatan, satu keyakinan dengan sangat tenang saya menghampirinya. Sembari saya coba pegan badannya, mendekatkan telinga ke dadanya, memang nggak ada ternyata. Saya hanya gini ” Tuhan kehendakmu itu baik” dan tidak terpikir bahwa anak ini hidup atau mati,” ungkap Ibu Desty.

Namun mukjizat itupun terjadi. Dave tersedak dan dapat sadar kembali. Hal ini merupakan hal yang begitu memberkati Ibu Usdetty. “Saya bersyukur, saya bermazmur dan puji Tuhan. Disitulah saya bisa mengungkapkan perasaan saya. Saya tumpahkan banget (perasaan bersyukur)”

Namun hal tersebut tidak membuat jera Dave dan kedua adiknya, lagi-lagi mereka menggunakan narkoba. Hal yang membuat Ibu Usdety jengkel dan marah, bahkan ingin agar perasaan sayang kepada mereka menjadi hilang. Namun dirinya tetap mendapat kekuatan dari Tuhan untuk menghadapi hal ini.

“Saat hati saya sudah lelah, saat hati saya udah nggak kuat lagi untuk mengasihi, berjuang dan berkorban untuk mereka, ada satu kasih pengganti yaitu kasih Kristus, yang masuk kedalam hati saya dan memperkuat saya lagi. Dan ketika saya menyadari, saya tahu bahwa itu adalah kasih Tuhan sendiri. Tuhan gak mau anak-anaknya binasa. Dan salah satunya adalah anak saya sendiri.”

Salah satu yang terus menguatkan dirinya adalah, penyerahan diri melalui senbuah doa. Doa Ibu Usdety kepada anaknya bertahun-tahun terjawab ketika ketiga anaknya berhenti total dari narkoba. “Apa yang engga mungkin, bagi Tuhan menjadi mungkin. Walaupun begitu kelam, begitu berliku-liku dan begitu pahit perjuangan saya, tetapi ada satu sisi yang saya terima, karena ketika saya tidak mampu, ada Tuhan yang memampukan saya.”

Sumber Kesaksian: jawaban.com

Hengky Solihin Menderita HIV AIDS Karena Ayahnya

Di dalam masa kecil Hengky Solihin, dia seringkali harus melihat ibunya hanya terima nasib saat sang ayah sibuk bercumbu mesra dengan wanita lain. Pada akhirnya, sang ayah memilih untuk meninggalkan keluarga dan menafkahi wanita yang menggodanya.

Melihat kesedihan sang ibu, kemarahan Hengky tak dapat dibendung lagi. Dia tidak terima apalagi dia tidak pernah merasakan bahagia punya keluarga lengkap. “Hari-hari besar mereka kumpul, dengan anak-anak mereka, dengan keluarga mereka, mereka komplit. Kalau aku nggak, aku selalu berdua sama mama,” cerita Hengky tentang masa lalunya.

Karena itulah, Hengky keluar dari rumah dan hidup di jalanan. Dengan hidup di jalanan, Hengky dapat melakukan apa saja, mabuk-mabukan sampai memakai obat terlarang. Namun, derita harus ditanggung ibunya. Selain dikhianati suami, dia harus mengurus anak semata wayangnya, Hengky, yang semakin terpuruk dalam dunia narkotika sampai seringkali mengalami kecanduan parah.

Dengan penuh kasih, Hengky dapat merasakan ketika mamanya berusaha membuat dia kembali ke jalan yang benar, mamanya menyiram dia dengan air, semuanya dilakukan agar Hengky sadar.

Di tengah perjuangan itu, mamanya jatuh sakit pada 2003 karena tumor payudara. “Karena aku melihat mama ga tega, ke dokter sendiri, check up sendiri, akhirnya mengalah untuk berhenti sekolah. Dari pengobatannya, sampai buang air besar, aku yang selalu (mengurusnya). Sampai akhirnya dia meninggal di pangkuanku. Nyesel ada, aku minta ampun pada mama, mama pun udah ga ada…” katanya. Di tahun 2006, ayah Hengky pun meninggal, sedangkan Hengky makin terjerumus dalam dunia narkoba.

Suatu hal terjadi ketika ada saudaranya yang menyuruhnya untuk melakukan tes kesehatan karena ternyata Hengky menderita HIV AIDS. Meskipun telah mengetahui penyakitnya itu, Hengky tak jera menggunakan narkoba. Hal ini juga disebabkan karena minimnya pengetahuannya tentang HIV.

Suatu hari di tengah rasa melayangnya karena narkoba, Hengky bermimpi. Dia berjalan berdampingan dengan seorang yang memakai jubah putih. Dibawa-Nya Hengky ke suatu tempat. Di sebelah kanan Hengky melihat banyak orang yang kesakitan menjerit. Hengky langsung tahu apa maksudnya. Ketika dia melihat ke sebelah kiri, ada seorang ibu yang memakai baju yang indah, mirip seperti mamanya, Hengky langsung terbangun.

Hengky berusaha berhenti dari narkoba itu, namun ada dampak yang dia rasakan. Dia tidak bisa makan, ingusan, diare, pusing, dan lain sebagainya. Setiap kali dia merasa sakau, maka setiap kali itu pula dia harus menyebut “Dalam nama Yesus..” sampai pada pertengahan 2007, dia berhasil menghentikan kebiasaan jeleknya itu.

Namun, ada dampak lain yang dirasakannya. Di sekujur tubuhnya timbul jamur. Ternyata itu adalah dampak dari penyakit HIV AIDS yang dideritanya. Satu persatu saudara-saudaranya yang mengidap HIV AIDS meninggal dunia. Itu seperti tragedi yang menghantui Hengky. Penyakit itupun membuatnya tidak konsen bekerja.

Di tengah keputusasaannya, Hengky ingat sebuah kejadian di masa lalunya. Dia teringat mamanya yang sering minta ampun kepada Tuhan karena dosa-dosa yang dilakukan Hengky. “Mama selalu berdoa untuk aku…” kata Hengky. Karena itulah, dia pun berdoa minta ampun kepada Tuhan. Dia tahu dari mamanya bahwa ketika kita meminta ampun, maka Tuhan akan memberikan pengampunan itu.

Di samping itu, Hengky juga meminta kesembuhan dari Tuhan. Namun, di sudut hatinya, hati Hengky masih diliputi kebencian kepada papanya. Hengky mencoba mengikuti sebuah kebaktian. Tapi di saat pendoanya berkata agar dia mengampuni papanya, dengan tegas dia katakan tidak. Sampai Tuhan datang sendiri. Suara-Nya berkata, “Ikutlah Aku, ampuni papamu dan kamu akan terima kelegaan,” kata suara itu di dalam hati Hengky.

Hengky pun berusaha untuk mengampuni papanya dan pada saat itu dia mulai merasakan kelegaan. Dia merasa diubahkan. Sekarang, dia bahkan bisa berkata, “Meski papa nggak ada, aku tetap sayang sama papa.” Suatu perubahan yang luar biasa baginya.

Tidak hanya itu, dalam jangka waktu 2 tahun kemudian, kondisi tubuh Hengky menjadi sehat hampir seperti semula, sebanyak 90%, padahal dokter sudah memvonisnya tidak akan sembuh. Melalui pengalaman hidupnya ini, kemudian Hengky melayani mereka yang juga terkena HIV AIDS. Dia paling mengerti bahwa penderita HIV AIDS tidak perlu ditakuti. Dan semua itu hanya karena karunia Tuhan semata.

Sumber Kesaksian :
Hengky Solihin (jawaban.com)

Kugadaikan Hidupku Pada Wanita Malam Demi Narkoba

“Waktu kecil, hubungan mama dan papa saya sangat tiidak baik. Dan saya melihat jurang perbedaan di antara mereka hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah. Dan saya mulai kecewa dengan papa saya dan mulai menyalahkan papa atas perpisahan papa dan mama saya,” ungkap Denny memulai kisah hidupnya.

“Kalau saya melihat teman lain, saya merasa cemburu dengan keharmonisan mereka. Papa mereka sangat sayang dengan anak-anaknya dan saya merindukan hal itu. Saya benar-benar kehilangan figur seorang ayah. Saya merasa saya tidak punya papa,” ungkap Denny.

Trauma masa kecil yang dialaminya membuat Denny tumbuh menjadi seorang anak yang agak bandel. Kelas 6 SD Denny mulai mengenal rokok, ganja, narkoba bahkan sampai jatuh ke dalam dunia seks bebas. Demi mendapatkan narkoba yang harganya mahal, Denny mulai bergaul dengan preman untuk mendapatkan uang.

Di tengah kekelaman hidup yang dijalaninya, Denny sangat mencintai ibunya. Intensitas pertemuan dengan ayahnya yang semakin jarang membuat keluarganya semakin terpuruk secara ekonomi. Denny yang mencintai ibunya harus menyaksikan bagaimana ibunya sebagai seorang single parent harus bekerja keras membiayai sekolah dia beserta saudara-saudaranya yang masih kecil. Tak jarang ibunya rela untuk tidak makan hanya agar Denny bisa makan.

Kenyataan itu membuat Denny melakukan berbaga macam cara agar dapat membantu ibunya. Setiap subuh Denny memalak tukang-tukang sayur hanya untuk memgisi kulkas di rumahnya. Ibunya mulai mencurigai kelakuan Denny namun ia tak pernah melihat langsung kenakalan Denny di luar rumah. Hingga suatu hari ibunya memergoki Denny sedang menyuntikkan obat-obatan terlarang ke tubuhnya. Ibunya yang shock menampar Denny dan langsung pingsan mengetahui kelakuan Denny. Jauh di dalam hatinya Denny menyesali apa yang telah dilakukannya karena sesungguhnya Denny sangat menyayangi ibunya.

“Pertama kali tangan saya pukul Denny waktu dia SMA,” ungkap Dortje Suawah, ibunda Denny. “Pikiran saya saat itu hanya: saya sudah hidup sendiri, cari nafkah untuk anak-anak saya, tapi anak saya yang satu ini membuat saya kecewa sekali,” tambah Dortje dengan hati pedih.

Dalam kesedihan hatinya, Dortje hanya bisa berdoa memohon kepada Tuhan agar Denny dapat terlepas dari ikatan obat-obatan terlarang yang mengikatnya. Ia tak ingin Denny semakin terpuruk akibat kesalahannya sebagai seorang ibu yang tak mampu memberikan keluarga yang terbaik bagi Denny.

Tak mau kecewakan sang ibu, Denny ingin berhenti dari cengkeraman narkoba. Namun kebutuhannya akan narkoba semakin meningkat dan teman dekatnya yang juga seorang wanita malam sanggup memenuhi segala kebutuhannya akan barang laknat itu. Uang, barang-barang mahal dan seks menjadi teman dekatnya saat itu akibat pergaulannya yang buruk.

“Tadinya saya merasa inilah hidup saya. Tapi lama-kelamaan saya mulai capek dengan situasi ini. Papa tidak sayang sama saya dan saya juga tidak sanggup membahagiakan mama saya, buat apalagi saya hidup. Situasi seperti itu membuat saya semakin down. Saya berpikir sepertinya masa depan saya sudah gelap,” ujar Denny.

Lelah karena harus selalu merasa sakau dan menjalani hidup yang suram karena harus berpacaran dengan wanita malam demi narkoba membuat Denny berpikir bahwa mati adalah sebuah pilihan yang waras. Namun usaha bunuh diri yang coba dilakoninya tak kunjung membuat maut menjemputnya.

Keinginan untuk berhenti dari narkoba sebenarnya ada di hatinya namun ia tak kuasa menahan dirinya dari dorongan obat yang telah begitu menguasai tubuhnya. Demi memenuhi hasrat kebutuhannya akan narkoba, Denny bahkan pernah merampok taksi. Dalam salah satu aksinya ia nyaris diamuk massa karena ketahuan warga.

Saat massa mengejarnya, Denny berhasil bersembunyi. Denny yang tadinya berpikir bahwa dirinya tidak takut mati ternyata takut juga untuk mati. Di saat genting itu, ia ingat untuk berdoa kepada Tuhan. Dan secara ajaib Tuhan menolong Denny lolos dari amukan massa. Saat itu Denny sadar bahwa Tuhan itu baik. Bahkan untuk dirinya, seorang berdosa yang penuh dengan kejahatan, Tuhan masih mau untuk menjawab doanya. Momen itu sempat menjadi momen dimana Denny berpikir untuk meninggalkan segala dosa-dosanya. Namun dalam peringatan milenium memasuki tahun 2000, Denny mendapati dirinya masih terjerat narkoba, bahkan ia semakin terpuruk.

“Saya pesta narkoba, sampai akhirnya saya pesta seks. Saya sadar dan bertanya-tanya kenapa saya seperti ini lagi. Padahal niat saya adalah untuk berubah. Karena sayang saya sama mama, saya mencoba untuk berubah. Dan saya ingat waktu dulu Tuhan jawab doa saya, itu yang saya ingat. Sampai akhirya saya merasa bersalah. Jangan sampai saya berakhir seperti teman saya yang terlambat (untuk ditolong),” ungkap Denny panjang lebar.

Denny akhirnya memutuskan untuk menghentikan semua kebiasaan buruknya. Selama beberapa bulan Denny berusaha lepas dari ketergantungannya dengan mengurung diri di kamar. Ibunya tak pernah tahu ketika Denny harus menahan sakit sendirian melalui masa-masa sakaunya. Sampai akhirnya Denny berhasil lepas dari ketergantungannya akan narkoba.

Setelah menjalani hidup baru, Denny mulai menjalin hubungan spesial dengan seorang wanita. Denny yakin bahwa wanita ini adalah jodoh terbaik bagi dirinya. Setelah menikah, Denny memutuskan untuk mengalah dan meninggalkan pekerjaannya di Bandung demi dapat berkumpul dengan istrinya di Bekasi. Namun semua usaha yang dijalaninya selalu gagal. Sampai akhirnya kegagalan itu meninggalkan hutang dan membuatnya frustrasi. Denny merasa ia tidak hanya gagal sebagai seorang anak yang tak dapat membahagiakan ibunya, namun ia juga gagal sebagai seorang suami yang tak dapat menafkahi istrinya.

Komunikasi yang kurang dengan istrinya membuat Denny tak tahu harus berbagi kepada siapa mengenai kondisi kegagalan bisnisnya. Teman lama menjadi pilihan Denny untuk melepaskan rasa frustrasinya. Bahkan ia nyaris jatuh lagi ke dalam dosa seks bebas. Kehidupan kelam itu kembali dijalaninya sekitar tiga bulan lamanya. Sampai akhirnya istrinya jatuh sakit. Kondisi istrinya yang harus istirahat total di tempat tidur membuat Denny harus selalu menemani dan membantu istrinya beraktivitas.

“Saat itu saya merasa bersalah. Karena saya merasa kok saya senang-senang tapi istri saya kerja keras (untuk memenuhi kebutuhan kami). Sampai akhirnya istri saya jatuh sakit,” ujar Denny.

Rasa bersalah membuat Denny akhirnya memberanikan dirinya untuk mengaku dosa di hadapan istrinya. Ia mengaku bagaimana dirinya kembali menggunakan narkoba, mabuk dan main perempuan. Secara mengejutkan, dengan lapang dada istri Denny memutuskan untuk mengampuni Denny.

“Saya bertanya pada Tuhan apa yang harus saya lakukan. Dan saat itu hati saya dikuatkan. Saya berpikir bagaimana membuat dia kembali ke jalan Tuhan karena dia membutuhkan saya,” ujar Eliana D Simbolon, istri Denny.

“Saat itu saya kaget. Saya pikir istri saya akan marah, ternyata ia hanya senyum, ia hanya elus-elus dada saya,” ujar Denny.

“Yang terngiang di telinga saya hanya kata-kata papa saya, laki-laki yang tinggal di dalam Tuhan itulah laki-laki yang setia. Saya percaya tidak ada manusia yang bisa merubah manusia yang lain. Manusia berubah hanya ketika ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Itu yang saya percaya, mangkanya saya selalu berdoa untuk suami saya,” ujar Eliana.

“Ini adalah istri terbaik yang Tuhan kasih buat saya. Ya, saya sangat terharu sekali. karena saya telah menyakiti istri saya namun istri saya dengan mudahnya bisa memaafkan saya,” ungkap Denny.

Berawal dari keterbukaan, Denny mendapati dirinya terus dipulihkan. Denny kemudian sadar bahwa kebencian dan kepahitan yang dimilikinya terhadap sang ayah membuat hidupnya terus jatuh bangun dalam dosa. Melepaskan pengampunan menjadi pilihan Denny untuk menikmati hidup berkelimpahan dan jauh dari dosa.

“Tuhan tidak suka dengan orang yang mengalami kepahitan dan kebencian karena Tuhan itu adalah kasih. Jadi, kalau kita menyimpan kebencian dan kepahitan, itu adalah lawan dari kasih. Kita tidak akan memiliki rasa kasih itu jika kita menyimpan kepahitan dan kebencian. Kita tidak akan mengenal kasih kalau kita tidak mengenal kasih Bapa. Dan kasih Bapa itu hanya datang daripada Yesus,” ujar Denny menutup kesaksiannya.

Sumber Kesaksian:
Denny Hilton (jawaban.com)

Demi Narkoba Kugadaikan Tubuhku

Datang ke Ibukota Jakarta, Farida Serang muda hidup di dunia malam Jakarta. Pekerjaan sebagai wanita pendamping tamu di tempat karaoke pun ia ambil untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Walau hidup bersama dengan pamannya dan keluarga, tetapi Farida sudah bertekad untuk mencari uang sendiri karena ia tidak ingin membebani siapa pun juga.

Di rumah tersebut, ia pun berkenalan dengan Irwan, anak dari pamannya. Awalnya hubungan antara mereka adalah hubungan saudara biasa saja. Namun, berjalannya waktu mereka semakin dekat seiring dengan seringnya Irwan memberikan perhatian kepada Farida.

Suatu hari, di saat keadaan rumah sedang sepi, Irwan mendatangi kamar Farida yang tidak terkunci. Dimulai dengan rayuan-rayuan, kedua anak manusia ini pun akhirnya melakukan hubungan badan.

Berpikir tidak terjadi apa-apa, keduanya pun menjalani kehidupan seperti biasanya. Namun, empat bulan kemudian, Farida yang kala itu sedang berada di tempat karaoke dimana ia bekerja mengalami mual-mual.

Merasa ada yang tidak beres, ia pun melakukan cek kehamilan menggunakan test pack. Dan benar dugannya, ia hamil. Sejurus kemudian, ia pun menghubungi Irwan dan memberitahukan keadaannya.

Setelah mengabarkan hal itu, Farida lalu segera mencari cara untuk menggugurkan janin yang ada di dalam kandungnya, tanpa sepengetahuan Irwan. Dengan minum jamu dan obat-obatan pelemah janin, ia berharap janinnya tidak berkembang besar dan bahkan hadir ke dunia. Namun, semua itu sia-sia.

Singkat kisah, pihak keluarga pun mengetahui kehamilan Farida dan apa yang terjadi dengannya dan Irwan. Mereka semua pun menjadi marah besar kepada dua sejoli ini. Akan tetapi, dengan berat hati mereka pun menyetujui menikahkan mereka berdua.

Lima tahun setelah menikah, kehidupan Irwan dan Farida bukan bertambah baik. Keduanya justru masuk ke dalam lubang dunia narkoba. Bahkan parahnya, Farida demi mendapatkan barang haram ini menjual tubuhnya ke salah satu tamu karaoke yang telah lama ia temani.

Tanpa rasa bersalah, ia pun menggunakan uang dari tamu tersebut untuk membeli narkoba.

Momen Perubahan

Hari lepas hari keadaan rumah tangga Farida dan Irwan terus bertambah buruk. Meski tidak bercerai, tetapi mereka sudah seperti pasangan yang tidak sehat lagi.

Entah ada angin apa, kakak dari Farida mengunjunginya pada waktu yang ia tidak duga-duga. Di dalam pertemuan tersebut, sang kakak pun menasihatinya agar ia bertobat dan kembali kepada jalan Tuhan Yesus.

Teguran ini ternyata tak dihiraukan Farida. Ia tetap hidup seperti ia hidup saat itu. Namun, ini tak bertahan lama.

Satu bulan dari kejadian tersebut, batin Farida berteriak. Ia merasakan cukup sudah dengan semua pencarian barang haram itu. Ia pun memutuskan mulai hari minggu untuk pergi beribadah.

Perlahan tapi pasti, kehidupan Farida mengalami perubahan yang positif. Sang suami, Irwan, yang pada pertamanya merasa aneh dengan tingkah sang istri pun mengikuti kegiatannya di hari minggu.

Sungguh luar biasa kuasa Tuhan. Di tempat itu untuk pertama kalinya, Irwan mengalami jamahan Tuhan yang dahsyat. Kedamaian yang selama ini ia cari, ia temukan disana.

Tahun 2001, Farida dan Irwan memutuskan untuk tidak memakai narkoba lagi. Berbagai tantangan mereka hadapi. Godaan dari pada tetangga untuk menawarkan narkoba, dengan sopan mereka tolak.

Akan tetapi, selesai masalah ini bukan lah akhir dari persoalan rumah tangga Farida dan Irwan. Ada satu hal lain yang harus mereka selesaikan, yakni hubungan badan yang pernah dilakukan Farida dengan seorang tamu karaokenya di masa lalu

Benar, ketika ini disampaikan Farida, Irwan begitu kaget. Ia bahkan tidak terima dengan fakta tersebut. Dengan perasaan marah, ia meninggalkan sang istri.

Perasaan Irwan saat mendengarkan pengakuan sang istri begitu hancur lebur. Rumah tangga mereka sepertinya tidak akan bertahan lama kembali. Hanya, Tuhan ternyata punya rencana yang indah bagi rumah tangga mereka.

Kala bertemu dengan kakak dari Farida, Irwan mendapatkan teguran yang menyentak dirinya. Ia tersadar bahwa apa yang terjadi kepada istrinya, tak lepas juga dari peran dirinya selama ini.

Dengan perasaan bersalah, ia pun mendatangi istrinya dan memohon maaf akan tindakannya tersebut. Suasana saling mengampuni pun terjadi disaat itu.

Kini kehidupan Farida dan Irwan sungguh harmonis. Suasana kasih sangat begitu terasa hari-hari ini diantara mereka.

Meresponi apa yang telah terjadi di dalam kehidupannya, Farida pun menyatakan rasa terima kasihnya kepada Tuhan Yesus.

“Karena firman-Nya saya tahu bahwa semerah apapun dosamu, Dia pasti sanggup memutihkan seperti salju. Saya percaya itu. Saya pun sangat mengucap syukur karena Dia telah mengangkat saya dari lumpur dosa.”

Sumber Kesaksian :
Farida Serang (jawaban.com)

Adik Thessa Kaunang Nyaris Tusuk Ayahnya

Orang bilang anak adalah duplikat orangtuanya. Dan biasanya seorang anak laki-laki mengidolakan ayahnya. Tapi tidak dengan Genesy Kaunang. Jeratan belenggu narkoba membuatnya nekat melakukan perbuatan-perbuatan yang berujung pada kehancuran hidupnya. Pergaulan buruklah yang menjerumuskan Genesy ke dalam jerat narkoba.

“Bertemu dengan teman-teman di luar yang tidak benar yang menyeret saya ke narkoba dan hal-hal yang tidak benar lainnya,” ujar Genesy mengawali kesaksian hidupnya.

Tawuran menjadi saluran ekspresi jiwa muda Genesy. Rasa takut tak ada dalam kamus hidupnya kala itu. Rasa puas yang tak terhingga dirasakannya setiap kali lawannya terkapar di jalan tak berdaya.

Sikap keras Genesy ternyata berakar dari kekecewaannya terhadap sikap sang ayah yang menjalin hubungan dengan banyak wanita dan berimbas pada keharmonisan rumah tangga orangtuanya. Bahkan ayah Genesy pernah memukul ibunya sampai tulang selangkanya patah. Emosi Genesy menjadi tak terkendali menyaksikan hal itu. Ia bahkan berniat membunuh ayah kandungnya sendiri dengan pisau yang sudah tergenggam di tangannya kala itu. Namun ibunya menghalangi niat Genesy untuk menusuk ayahnya.

“Saya bingung waktu itu, mama barusan dipukul papa dan bisa-bisanya mama membela papa supaya saya tidak tusuk papa. Waktu itu sebenarnya saya bingung, saya tidak mengerti…,” ungkap Genesy.

Masuk ke dalam dunia kampus, Genesy mulai berkenalan dengan putaw dan heroin. Berawal dari mendapatkannya secara cuma-cuma, Genesy mulai ketagihan. Apapun rela dilakukannya demi bisa mendapatkan uang untuk membeli barang haram tersebut. Barang-barang berharga di dalam rumahnya satu-persatu mulai dijual olehnya.

Thessa Kaunang, sang kakak, yang memergoki perbuatan Genesy, tak dapat menghalangi niat Genesy. Kegilaan dalam kondisi sakau bahkan membuat Genesy tega mendorong ibunya sendiri sampai tersungkur di lantai saat mencoba menghalangi niatnya untuk menjual barang berharga yang dicurinya. Satu-satunya hal yang ada di dalam pikiran Genesy hanyalah bagaimana menghilangkan rasa sakit di badannya akibat sakau.

Genesy sempat mengalami over dosis sampai tiga kali. Nyawanya menjadi taruhan. Segala nasehat orangtuanya hanya menjadi angin lalu bagi Genesy. Ia sungguh-sungguh tak peduli dengan hidupnya sendiri karena Genesy tidak menemukan orang-orang yang dapat menguatkan dirinya saat itu. Meskipun berhasil melewati masa-masa kritisnya akibat overdosis, Genesy tetap tidak jera. Pencurian dan perampokan bahkan berani dilakukannya untuk dapat kembali menikmati narkoba. Aksi Genesy mencuri mobil sempat membuat Genesy merasakan dinginnya jeruji besi. Namun kasus pencurian itu masih dapat diselesaikan secara kekeluargaan sehingga Genesy tidak perlu berlama-lama berada di balik jeruji besi.

Pengorbanan orangtuanya untuk menebus dirinya keluar dari penjara, bahkan sampai mengeluarkan uang puluhan juta, membuat Genesy berpikir bahwa ternyata orangtuanya tidak sejahat yang selama ini dipikirkan olehnya. Rehabilitasi sempat menjadi pilihan Genesy untuk pulih. Namun ketika ia kembali ke Jakarta, Genesy tak sanggup melawan godaan dari lingkungan pergaulannya dan kembali terjatuh dalam kelamnya dunia narkoba.

“Saya benar-benar lebih parah jadinya. Saya menjadi lebih menggebu-gebu. Dan dorongan untuk menggunakan narkoba menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Dari sabu, campur inex dan ektasi, akhirnya jatuh dalam free sex juga dengan pacar saya. Saya juga bingung tidak tahu bagaimana caranya bisa lepas dari hal itu. Yang membuat saya tidak bisa berhenti memakai narkoba sebenarnya adalah karena kemarahan yang belum selesai di hati saya kepada orangtua. Bukan rehabnya yang bisa mengubah saya. Sebenarnya yang harus diubah itu hati saya,” ungkap Genesy.

Entah apalagi yang dapat melepaskan Genesy dari belenggu narkoba yang telah mengikatnya sekian lama. Lagi-lagi Genesy tertangkap oleh polisi lengkap dengan barang bukti berupa jarum suntik dan narkoba. Ia pun dikenakan pasal pemakai dan Genesy kembali merasakan suramnya sel penjara. Saat itu orangtua Genesy memberikan Alkitab kepadanya. Dan ternyata banyak hal yang didapatkan Genesy saat membaca Alkitab.

“Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, yaitu bagi saya, Genesy, yang mengasihi Tuhan yang terpanggil sesuai dengan rencana Tuhan. Itu yang saya ingat. Berarti saya masih punya kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebh baik di depan, yang saya pikir setelah memakai narkoba semua itu telah hancur. Jadi saya pikir saya tidak punya masa depan,” ujar Genesy.

Dalam dingin dan gelapnya jeruji penjara, Genesy berjuang keras melawan rasa sakau yang sangat menyakitkan. Dan Genesy memiliki cara tersendiri untuk mengalihkan rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya dengan menyanyikan sebuah lagu yang begitu merema dalam hiduonya, yaitu “Ku mau cinta Yesus selamanya”.

“Lagu itu seperti menggambarkan diri saya. Mau ada godaan narkoba nanti di depan, mau ada godaan free sex atau apaun juga, tapi saya lebih memilih untuk tidak jatuh. Saya lebih memilih untuk bangkit. Setiap kali lagu itu dinyanyikan, membawa ketenangan buat saya,” ujar Genesy.

Dendam dan kebenciannya kepada sang ayah memang masih terpendam. Namun sebuah peristiwa mengubah segalanya. Saat sang ayah menjenguk Genesy di penjara, ia tak pernah mengira bahwa ayahnya akan berjongkok di depannya dan meminta maaf karena telah menjadi figur ayah yang tidak baik bagi dirinya. Saat itulah Genesy merasa bahwa inilah saatnya keluarganya dipulihkan. Dan momen ayahnya meminta maaf menjadi titik balik yang mengganti semua kebencian dan kekecewaan di hati Genesy menjadi kasih sayang yang besar kepada ayahnya. Tiba-tiba semuanya dirasakan begitu berbeda oleh Genesy. Beban berat yang selama ini dibawanya terasa lepas dan Genesy tahu dirinya telah bebas dari segala kebencian dan kepahitan.

Setelah menjalani proses yang panjang, Genesy kembali menghirup udara kebebasan. Bukan hanya bebas dari penjara, namun juga kebebasan dari segala belenggu hidup yang telah lama menjeratnya.

“Yang sekarang itu Gen, istilahnya lebih rela berkorban untuk orang lain daripada dirinya sendiri. Maksudnya bisa mempunyai karakter Kristus, bisa sabar dan penuh kasih,” ujar Thessa kaunang, sang kakak, mengungkapkan perubahan nyata yang terjadi atas diri Genesy.

“Yang membuat saya seperti sekarang, yang mengubahkan keluarga saya, hubungan saya dengan orangtua saya, memulihkan semuanya yang membuat kita sebagai satu keluarga yang melayani, satu orang bertobat seisi rumahnya diselamatkan itu menjadi satu janji yang sudah digenapi, yaitu hanya karena Tuhan Yesus Kristus yang luar biasa itu,” ujar Genesy menutup kesaksian hidupnya.

Sumber Kesaksian:
Genesy Kaunang (jawaban.com)

Demi Obat Penenang Satu Persatu Bagian Tubuhku Kupotong

Dunia Kevin Kubik serasa runtuh hancur berkeping-keping saat suatu hari di depan matanya ia melihat ayahnya ditangkap polisi dengan tangan terborgol. Semenjak hari itu ia tidak pernah melihat ayahnya lagi dan tidak pernah tahu kejahatan apa yang telah dilakukan ayahnya.

“Saat saya melihat ayah saya dibawa pergi seperti itu, yang ada di dalam diri saya adalah rasa marah yang amat sangat. Dan tentu saja karena saya masih kecil saya tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dan saya benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Dan perasaan marah itu mulai bertumbuh di dalam hati saya,” ujar Kevin mengawali kisahnya.

Secara emosional, pribadi Kevin hancur dan ia mulai melampiaskan kemarahan itu pada setiap barang yang ada di hadapannya. Kevin mulai memukul dan menghancurkan barang-barang, merobek perkakas dengan pisau, merusak mobil dan apa saja karena besarnya rasa marah yang tersimpan di dalam dirinya. Dalam waktu tidak terlalu lama, Kevin menemukan cara lain yang jauh lebih mengerikan untuk melampiaskan rasa frustrasinya, memotong bagian tubunya sendiri dengan pisau.

“Sejujurnya saya tidak tahu kenapa saya mulai melukai tubuh saya sendiri. Saya pikir mungkin dengan cara itu saya bisa mendapatkan sedikit perhatian karena saya kehilangan perhatian dari seorang ayah dan saya tidak memiliki figur seorang ayah,” ujarnya dengan pedih.

Tidak hanya melukai dirinya sendiri, Kevin juga mulai minum alkohol dan memakai obat-obatan. Kevin mulai menikmati semuanya itu karena melalui hal itulah semua rasa sakit akibat ketidakhadiran ayahnya mulai menghilang dan Kevin tidak lagi merasakan luka, marah maupun rasa sakit untuk sesaat.

Awalnya Kevin hanya menggunakan mariyuana namun seiring dengan pertambahan usianya, ia mulai memakai semua obat-obatan yang bisa ia dapatkan dan hidup dengan alkohol maupun asap yang memabukkan. Ketergantungan ini semakin parah ketika Kevin mulai kecanduan obat-obatan dokter. Kevin menipu, mencuri, dan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan segala obat.

Ketidakstabilan emosi Kevin dan ketergantungannya akan obat yang semakin parah memaksanya untuk melakukan hal-hal yang ekstrim. ‘Ide brilian’ yang melintas di kepalanya membuat Kevin mengambil mesin pemotong dan memotong salah satu jarinya. Jari telunjuk tangan kirinya menjadi korban pertama kegilaan Kevin.

“Saya pergi ke dokter dan langsung masuk ICU. Tentu saja mereka mengoperasi tangan saya dan hal itu membuat saya diberikan obat-obatan penahan rasa sakit yang saya dambakan,” ujarnya.

Kevin tidak berhenti sampai di situ. Selama bertahun-tahun, beragam pemotongan dilakukan olehnya. Kevin mengambil pisau listrik dan memotong tendon kakinya. Dan ketika luka itu sembuh, ia memotongnya lagi. Kevin juga memotong bagian belakang lutut kanannya, memotong otot-otot di tangan kirinya, dan memotong buku jari tangan tengahnya. Kevin juga menghancurkan jempol kakinya sedemikian rupa sampai harus diamputasi. Semuanya itu dilakukan oleh Kevin hanya untuk mendapatkan resep obat-obatan dokter dalam jumlah yang besar.

“Secara fisik saya kecanduan obat dokter. Jika saya tidak meminumnya, saya akan merasakan sakit, pusing, mual, berkeringat, dan ngilu di seluruh tubuh saya. Cara termudah untuk mengatasi hal itu adalah dengan tetap memakai semua obat-obatan itu. Karena semakin banyak saya memakainya, semakin sedikit rasa sakit itu,” kisah Kevin akan masa lalunya yang kelam.

Kevin pun kemudian bertemu Luane. Ia menjauhkan diri dari semua kecanduannya hingga mereka menikah. Tapi semua itu tidak bertahan lama sampai Luane menangkap basah apa yang Kevin lakukan.

“Sedikit demi sedikit Luane mulai menyadari akan kebiasaan saya melukai diri sendiri dan juga akan kecanduan saya. Pada mulanya saya berusaha keras untuk menyembunyikannya, namun bagaimana Anda dapat menyembunyikan luka-luka maupun ketika Anda jatuh di sana-sini dan terkapar di lantai?” ungkap Kevin.

Hidup Kevin semakin gelap. Ia mulai mendengar suara-suara seram di dalam rumah, bayangan menyeramkan yang dipercayanya sebagai kuasa kegelapan, dan temperamennya menjadi semakin brutal bahkan melampaui batas ketika dalam ketidaksadaran akibat obat-obatan dan alkohol, Kevin menodongkan pisau kepada Luane dan mengancam akan membunuhnya. Luane lari dari rumah dan tidak pernah kembali.

“Sewaktu Luane pergi, saya benar-benar merasa kehilangan dan hancur. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya benar-benar merasa sendirian. Hati saya tercabik, saya tidak tahu harus pergi kemana dan berpaling kepada siapa, saya kehilangan segalanya, tidak memiliki apa-apa lagi, sangat tidak sehat, tidak makan, dan yang saya lakukan hanyalah mabuk dan ‘ngobat’. Saya telah kehilangan hal-hal yang terpenting bagi saya. Itu adalah titik terendah dalam hidup saya,” ungkap Kevin dengan suara serak menahan tangis.

Sementara itu Luane mulai menghadiri kebaktian gereja bersama dengan teman-temannya. Tak lama setelah itu ia menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya. Saat Kevin berusaha mati-matian untuk berkomunikasi dengan istrinya, Kevin setuju untuk berdoa dengan Luane setiap malam di telepon. Lalu suatu malam sesuatu yang menakutkan terjadi.

“Kami berbicara, kami berdoa dan menutup telepon. Ketika saya berbaring di situ, sepertinya ada yang mencengkeram pergelangan kaki saya. Hal itu begitu menakutkan saya. Jadi saya kembali menelepon Luane. Dan ketika kami berbicara di telepon, suara guntur menggelegar dan petir menyambar. Suasana malam itu bagaikan Tuhan yang sedang menghantam tinju-Nya dan berkata, ‘Anak-Ku akan datang dan menyelamatkan anak muda ini malam ini’. Jadi waktu kami berbicara di telepon saya berkata, ‘Luane, apa yang harus saya lakukan?’ dan dia bilang ‘Mintalah agar Yesus datang!’ Dan saya berkata, ‘Yesus, hidupku adalah milik-Mu. Lakukanlah apapun yang ingin Engkau lakukan’. Dan saat itu juga saya tertidur. Saya tertidur di atas Alkitab saya dan merasakan damai untuk pertama kalinya dalam hidup saya, paling tidak selama 31 tahun umur saya,” ungkap Kevin dengan isak tangis penuh haru ketika ia menceritakan titik balik dalam hidupnya.

Keesokan paginya, Kevin telah menjadi seorang pria yang baru.

“Pagi itu, 9 Maret 2003, Tuhan melalui anak-Nya Yesus Kristus memulihkan dan membebaskan saya dari 25 tahun kecanduan, gangguan mental, dari sakit penyakit dan pola makan yang kacau. Secara instan Tuhan mengambil semua itu dan tak pernah kembali lagi,” ujar Kevin akan mukjizat yang terjadi dalam hidupnya.

Ketergantungan Kevin akan obat-obatan kini digantikan dengan sebuah rasa lapar yang baru.

“Saya mulai ‘melahap’ Firman Tuhan. Saya tenggelam ke dalam Firman Tuhan dengan begitu dalam. IA menaruh rasa lapar dalam hidup saya akan Firman itu. Mulai dari saat saya membuka mata di pagi hari sampai saya menutup mata di malam hari, saya hanya ingin terus mencari siapa pribadi yang telah datang dan menyelamatkan saya,” ujar Kevin.

Luane melihat perubahan yang dramatis dalam hidup Kevin dan pulang ke rumah. Saat ini Kevin dan Luane melayani Tuhan bersama-sama. Mereka tertanam di gereja lokal dan memiliki banyak teman rohani. Kevin juga telah bebas dari obat-obatan dan alkohol, suatu hal yang tak pernah terbayangkan olehnya bahwa hal itu mungkin terjadi.

“Apapun yang pernah engkau lakukan, setiap pikiran yang akan engkau lakukan, bisa diampuni. Tidak ada masalah yang terlalu besar bagi Tuhan yang tidak dapat diatasi oleh Yesus Kristus. Yang kita perlukan hanyalah merendahkan diri di hadapan-Nya dan meminta-Nya untuk megambil alih segala masalah itu,” ujar Kevin menutup kesaksiannya.

Sumber Kesaksian:
Kevin Kubik (jawaban.com)

Putaw, Merusak Kehidupan dan Keluargaku

Mulai dari SMP, Femerio mengenal narkoba dan juga menggunakannya. Sikap dan perilakunya menjadi keluar batas hingga dikeluarkan dari sekolah. Hingga dirinya beranjak dewasa, narkoba membuatnya menghindari kuliah dan menguras habis dana kuliahnya.

Femerio menggunakan narkoba jenis Putaw. Jenis yang membuatnya tidak bisa mengerjakan apapun, sulit berkonsentrasi dan memahami pelajaran. Namun dapat menambah kepercayaan dirinya begitu tinggi. “Kalau sudah mendapat barang itu (putaw) lebih percaya diri,” ungkapnya.

Kenakalannya bertambah seiring dengan kebutuhannya terhadap putaw. Rasa ketagihan ini menyebabkannya harus membeli barang tersebut melalui benda-benda berharga dirumahnya. Mencuri, memalak dan mengutil barang diluar rumah menjadi salah satu kegiatan buruknya.

Dikala pergaulannya yang buruk diluar, kondisi dirumah pun diwarnai pertengkaran oleh kedua orangtuanya. Femerio pun mengakui jika saat itu, ada rasa kasihan terhadap kedua orangtuanya. Namun kelemahan tubuhnya, mengalahkan rasa kasihannya. Pendekatan secara keras dan lembut yang dilakukan oleh orangtuanya untuk menyembuhkan dirinya, tidak membuat Femerio berubah. Bahkan karena nilainya sangat buruk di kampus, dirinya terpaksa dikeluarkan. Hal yang membuat sang Ibu berdoa keras kepada Tuhan.

Titik balik dalam dirinya terjadi pada sebuah situasi. Femerio berkenalan dengan seorang pria yang diakuinya sebagai seorang homoseksual. Pria itu mengajak Femerio berkunjung kerumahnya yang kemungkinan akan mengajaknya untuk melakukan aktivitas seksual. Ternyata kejadian tersebut membuatnya tersadar bahwa dirinya telah masuk kedalam situasi yang telah jauh melenceng dari kesadaran yang sesungguhnya.

Bahkan sang Ibu pun merelakannya, jika dirinya meninggal duni akibat perilakunya yang tidak berubah tersebut. Femerio pun menyadari bahwa kelakuannya telah menyakiti hati orangtua terutama sang Ibu. Hingga dirinya berkata pada Ibunya bahwa hanya Tuhan saja yang bisa dan dapat menyembuhkannya. Satu kondisi yang bahkan Femerio terkejut bahwa dirinya mengatakan hal tersebut.

Keinginan yang kuat untuk berhenti dari narkoba, ditambah rasa muaknya terhadap kehidupannya saat itu, membuatnya mencoba untuk mengisolasi diri dikamar selama 5 hari untuk menjauhkan diri dari narkoba. “Dia (Femerio) menyatakan ingin sembuh, dia sudah capek. Ya itu harapan buat Kami (orangtua) dan Kami percaya. Darisitu juga kami keluarga melakukan mezbah doa, setiap malam untuk kesembuhan Rio,” ungkap Ayahnya.

Lima hari dijalaninya untuk keluar dari narkoba, dirinyapun memasuki panti rehabilitasi. “Pertama kali terlintas tuh, saya merasa diterima kembali. Ada para pembina yang memberikan kasihnya,” ungkap Rio.

Namun, ujian dan cobaan terhadap dirinya, nampaknya tidak berhenti. Hubungannya dengan kekasihnya telah melampaui batas, sehingga kekasihnya mengandung anak darinya. Tentu hal ini menjadi sumber kekecewaan bagi kedua belah pihak orangtua.

Tiadanya komunitas yang membangun dikala rasa frustasinya yang memuncak, membuatnya kembali ke temannya para pemakai narkoba. Dirinya ikut memakai narkoba, namun tidak ada efek apapun dari narkoba itu. Semua terasa hambar dan tidak berpengaruh terhadap tubuhnya.

“Sekali waktu, Tuhan berbicara lewat Yesaya 53. apa yang harusnya kita tanggung. Tapi Yesus mau untuk menanggungnya. Karena Yesus tau kita tidak mampu menanggungnya. Makanya Dia yang tanggung itu semua. Saya ingat pertama kali dibilang, Disaat semua orang ninggalin kamu, justru Aku datang menyambut kamu. Ini ada satu sosok yang nggak pernah ninggalin, yang selalu menyertai saya didalam kegelapan. Dan saya memilih untuk berjalan bersama Tuhan.” Ungkap Rio.

Semuanya berubah, Rio pun kembali memasuki perkuliahan. Karena kerja kerasnya dirinya menjadi lulusan terbaik di kampusnya. “Bangga dengan dia, juga dalam kehidupan dia, ya jauhlah sekarang,” ungkap sang Ayah.

“Ketika kita mengalami kasih Tuhan, Kita mengalami perubahan. Meninggalkan cara hidup yang lama. Dan kita bisa membawa dampak buat keluarga. Kelihatannya nggak wah, cuman itulah kelembutan Tuhan. Dia gak show off, tapi sebenarnya kita sedang mengalami mukjizat itu sendiri.” Ungkap Femerio.

Sumber kesaksian:
Femerio (jawaban.com)

Setelah OD 5 Kali, Bagaimana Nasib Rani Selanjutnya?

Adik papa Rani Rahmi tidak mempunyai anak sehingga Rani diberikan kepada mereka. Karena hidup berkecukupan, apapun yang Rani mau diberikan. Namun, kesenangan itu tidak bertahan lama. Dia dikembalikan ke orangtua kandungnya. Hal ini membuat dia tidak bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Dia menyimpan marah kepada orangtua angkatnya yang mengembalikan dirinya tersebut.

Rasa tidak puas itu menumpuk dan bertumbuh menjadi pemberontakan. Rani atau yang biasa disebut Ani, dia mulai nakal. Sejak SMP, dia mulai merokok bersama teman-teman prianya, bahkan dia juga mencoba obat-obatan keras yang murah. Sampai kelas 3 SMP, dari rokok dan obat-obat murah, Ani juga minum-minuman keras. Bahkan dia mulai mengenal ganja.

Setelah lulus SMP, Ani lebih nakal lagi. Setiap hari dia pasti mabuk. Dia tidak peduli akan kehidupannya, semua teguran dan nasihat tidak dipedulikan. “Saya sudah tidak peduli. Sejak saya dikembalikan kepada orangtua saya, saya marah. Sebenarnya yang saya cari sih perhatian. Perhatian dari orangtua yang saya anggap orangtua saya, supaya mereka ambil saya lagi.” cerita Ani waktu itu. “Mengapa orangtua kandung saya memberikan saya kepada om dan tante saya, tapi kemudian mereka berikan saya lagi kepada orangtua saya?” tambahnya.

Dia bertanya-tanya buat apa dia dilahirkan, apakah dia benar-benar dibuang. Ani pikir, buat apa dia ada di tengah-tengah keluarga yang seperti itu. Karena itu, dia mencari kesenangan sendiri dengan mabuk, obat, ataupun rokok untuk menutupi jiwanya yang hancur. Ani merasa dirinya sebagai anak yang tidak diinginkan orangtuanya. Karena itu juga, dia menghancurkan dirinya sendiri. Apalagi ketika temannya ada yang mengajak dirinya ke diskotek. Di sanalah dia mengenal ekstasi dan menyukainya. Ketika pacaran dengan seorang BD (Bandar, red), dia pun mencoba putaw. Dia tidak mengerti bahwa putaw mempunyai efek ketergantungan yang lebih parah lagi daripada semua obat-obatan yang dicobanya. Dan untuk mencukupi kebutuhannya akan narkoba, dia rela melakukan apa saja.

Setiap dua jam sekali dia harus memakai benda itu, sehingga mau tak mau dia pun melakukan segala cara. Mencuri, menjual barang-barang berharga, seks bebas demi mendapatkan uang ataupun barang itu langsung. Demi narkoba, dia rela mengorbankan harga dirinya, karena dia memang merasa dirinya sudah tidak berharga lagi. Hal ini membuat Ani sempat mengalami 5 kali overdosis. Biasanya hal ini dikarenakan obat-obatan yang dia pakai, tidak hanya 1 macam. “Karena saya memang mencari kematian. Karena saya ini anak perempuan, tapi kok saya dioper-oper? Saya pikir, lebih baik saya mati. Tapi kok tidak mati-mati padahal sudah 5x overdosis.”

Pihak keluarga mencoba menyembuhkannya, membawanya ke dokter. Dia memang memakai obat yang diberikan dokter, tapi dia pun masih memakai ‘obat’ yang satunya. Keadaannya bertambah parah, tanpa pengharapan, dia hanya mencari satu jalan yaitu kematian. Semakin dia putus asa, dia mencoba lompat dari apartemen. Jika dengan overdosis tidak bisa, mungkin dengan bunuh diri seperti itu, dia bisa mati. Melompatlah Ani, jatuh dengan posisi terduduk di lantai empat. Semua tulang-tulangnya patah. Saat itu pikirannya, sebentar lagi dia akan mati. “Asyik, saya mati.” Katanya dalam hati.

Ternyata pada saat itu, ada seorang suster yang melihat kejadian tersebut, sehingga Ani langsung dibawa satpam yang ada ke rumah sakit. Di rumah sakit, selama 6 bulan perawatan, dia masih menginginkan kematian datang di hidupnya. “Saya tidak bisa jalan. Semua obat yang dari dokter saya minum melebihi dosis yang dianjurkan, tapi tetap saja saya tidak mati-mati.” katanya. ‘Kok susah amat ya ga mati-mati?’ begitu pikirannya ketika itu.

Semua cara agar kematian itu datang yang ditempuh Ani, baik melalui narkoba dengan overdosis 5x, melompat dari gedung, maupun minum obat melebihi dosis, semuanya mendatangkan kesia-siaan. Ani mulai bertanya-tanya, mengapa bisa terjadi hal seperti itu. Kenapa aku masih hidup? Itulah pertanyaan yang membayanginya, padahal dia merasa tidak mempunyai alasan untuk hidup.

Kemudian, Ani lari ke rumah kakaknya. Setiap siang, biasanya rumah tersebut kosong. Pada awalnya, Ani tidak ada niatan untuk mencuri, namun ketika melihat pintu lemari pakaiannya terbuka, niat itu muncul. Dia ambil kotak perhiasannya. Dia pakai buat kumpul sama teman-temannya dan memakai narkoba sampai habis. Dia mulai bingung harus kemana, akhirnya dia tiba di sebuah rumah kosong.

Di sana dia melihat ada orang gila. Dalam hatinya dia berpikir, apakah dia akan berakhir seperti itu karena keputusasaannya untuk mati. Mungkin dia bisa gila. “Ah, aku ga mau gila, mendingan aku mati daripada gila. Maka di situlah saya menjerit. ‘Tuhan, kalau memang Engkau ada tolong sembuhkan saya. Saya sudah capek pakai narkoba. Saya sudah tidak punya apa-apa, saya sudah tidak diterima. Tolong Tuhan, saya sudah capek.’” Perkataan itu dia keluarkan pada saat dirinya sakaw.

Menjelang pagi, masih dalam keadaan sakaw, Ani pergi dari rumah kosong tersebut. “Saya jalan, cukup jauh perjalanan saya sampai akhirnya saya tidak tahan.” Pukul 3 sore, dia tiba di sebuah halte. Dia takut mau tidur dimana nanti malam. Ternyata di dekat halte tersebut, ada panti asuhan. Dia ke panti asuhan tersebut dan menceritakan semua kehidupannya kepada orang-orang yang mengurus panti asuhan itu, keadaan sakaw masih menguasai dirinya.

“Kamu ingin sembuh?” tanya pengurus itu. Ketika Ani mengiyakan, dibawalah dia ke sebuah tempat yang benar-benar tidak diduga olehnya. “Nah, di situ saya merasa aneh. Masa saya disuruh berdoa? Saya disuruh baca Alkitab, saya nggak ngerti. Saya bilang ini bukan jalan saya.” Ani mengatakan bahwa dia tidak butuh Alkitab, karena dia sakaw yang dia butuhkan adalah obat. “Kalian semua gila. Karena yang saya tahu dari dulu untuk menyembuhkan itu pake obat. Ini nggak.” Itulah kata-katanya ketika itu. “Mereka cuma nyanyi, baca Alkitab, doa, tumpang tangan, sudah.”

Pada hari kedua, sakaw nya pun menjadi-jadi. Dia pikir mungkin saat itulah dia akan mati. Dan untuk kedua kalinya, dia pun marah kepada orang-orang yang ada di sana ketika itu. Permintaan Ani untuk narkoba pun ditolak, tapi para pembimbing di sana terus mendoakannya. Akhirnya, merasa tidak tahan, akhirnya Ani ingin pulang saja. Sebelum pulang, sang pembina ingin mendoakan dia dulu. Ani pun berpikir tidak ada masalah. Sewaktu didoakan, dia teringat kembali doanya sendiri ketika itu. Dia ingat bahwa dia pernah minta Tuhan untuk menyembuhkannya. Apa ini yang mau Tuhan lakukan buat saya? Tanyanya dalam hati. Setelah itu, Ani tertidur sampai pagi.

Di hari ketiga, sakaw-nya bertambah parah. Dia semakin liar dan galak pada semua orang di sana, bahkan dia mengancam mentornya dengan memakai pisau dan meminta uang untuk membeli narkoba. Lalu datanglah seorang pendeta yang mendoakannya. Entah mengapa, setelah itu Ani merasa malas untuk pulang. Di hari ketiga itu, dia mengurungkan niatnya untuk pergi dan mengikuti ibadah pada malam harinya.

Di dalam ibadah itu, ada suatu lagu yang mengatakan, “Hanya nama Yesus…” Dia menangis sampai hancur hati. Lagu itu membuatnya sadar hanya nama Yesus, hanya nama Yesus. Berarti Tuhan ini yang menyembuhkan saya. Katanya dalam hati. Perasaannya pun menjadi dingin dan tenang, kayak tidak mempunyai masalah. “Besok saya juga mau,” katanya dalam hati kembali ingin merasakan perasaan itu. Sejak saat itu, Ani tidak lagi merasa sakaw dan rasa ingin memakai obat-obatan itupun sirna.

Semua kejadian yang dia alami, berkali-kali mujizat yang dia alami, banyak jalan yang dia lalui, dia menyadari bahwa dirinya sesungguhnya berharga dan bahwa Tuhan tidak ingin dia mati. “Semua kebaikan Tuhan itu saya rasakan, semua mujizat Tuhan itu saya rasakan. Yang dibilang Yesus itu kekasih jiwaku itu benar-benar saya alami, jadi saya benar-benar merasa bahwa Yesus itu segalanya buat saya.” tutupnya tentang cerita hidupnya. Percayalah, Yesus pun segalanya buat kita semua.

 

Sumber Kesaksian :
Rani Rahmi (jawaban.com)

Sentuhan Maut Mengikat Jiwa Susy

Sentuhan pria kepada wanita tentu bisa mengandung arti yang dalam. Tapi bagi Susy Greta, hidupnya yang getir telah membuat setiap sentuhan pria tidak lagi begitu berarti. Ada hal lain yang memberinya kenikmatan maut, mengikat jiwanya dan ia tidak pernah membiarkannya pergi begitu saja.

Kisah ini bercerita tentang Susy Greta. Tahun 1970, seorang lelaki bernama Rudy menjadi gila karena kecelakaan. Istrinya yang bernama Cory memutuskan untuk kabur ke Jakarta. Ia tinggal bersama anaknya yang bernama Jeany. Seorang pemuda bernama Cecep jatuh cinta kepada Jeany, namun cinta itu tak bertahan lama.

Suatu hari, tanpa alasan yang jelas, Jeany kabur dari rumah, padahal Cory, sang ibu, telah merestui hubungan mereka. Sehingga Susy Greta, anak kedua Ibu Cory, menjadi penggantinya. Susy dijodohkan dengan Cecep. Beberapa tahun setelah Susy dan Cecep menikah, mereka mengalami kesulitan dalam perekonomian. Pekerjaan yang paling mudah dan menghasilkan uang bagi Susy adalah menjadi pramuria. Apalagi latar belakan pendidikannya yang hanya sampai kelas 3 SD tak memungkinkannya untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Yang Susy perlu lakukan hanyalah menemani tamu makan, minum dan berdansa. Dari hasil kerjanya, Susy dan Cecep bisa hidup berkecukupan.

Hanya saja Susy seringkali mendapatkan tamu yang meminta lebih. Menghindari tamu seperti itu, Susy yang mencoba menenangkan diri di luar pub malah bertemu dengan teman kerjanya yang sedang mengisap morfin. Terpengaruh bujukan teman, Susy mulai mengisap morfin. Pengaruh morfin membuatnya tidak lagi menolak keinginan para tamunya sehingga ia bisa mendapatkan uang tip yang lebih besar. Tapa disadari olehnya, ketergantungannya akan morfin mulai menjerat hidupnya. Susy mulai menukarkan barang-barang miliknya demi mendapatklan morfin. Cincin, gelang, apa saja yang dipakainya hari itu ditukar Susy dengan morfin.

Cecep sendiri bergabung di dalam kepolisian menjadi spionase mengungkap gembong narkoba. Dari salah seorang bandar narkotika yang ditangkapnya, Cecep mendapatan informasi bahwa salah satu pusat penyebaran narkotika adalah di pub tempat Susy bekerja. Cecep pun mulai mengawasi Susy secara ketat. Namun akal bulus Susy selalu mampu mengelabui Cecep.

Ketika salah seorang temannya mati mendadak di pangkuannya saat sedang mengisap morfin bersama, ketakutan pun mulai menghantui Susy. Ia akhirnya memutuskan untuk datang ke gereja. Saat itulah ia diajak terlibat dalam drama menyambut Natal yang akan jatuh bebeapa bulan lagi. Namun ketergantungannya akan morfin terus membuat Susy terpuruk. Ia tak sanggup lepas walaupun ia sangat ingin. Sampai akhirnya Cecep berhasil memergoki ulah istrinya. Kenyataan itu begitu melukai hati Cecep. Di luar sebagai anggota kepolisian ia sepertinya berhasil, namun di dalam keluarganya sendiri ia gagal membimbing keluarganya.

Dengan penuh kesabaran, Cecep yang begitu mencinta Susy terus menjaga dan berusaha membantu Susy lepas dari ketergantungannya. Cecep pun meminta Susy untuk keluar dari pekerjaannya. Susy kemudian mulai menjalani pengobatan untuk berhenti dari pekerjaannya.

“Pertama kali minum obat dokter, rasanya tidak enak sekali. Rasanya mau muntah tapi tidak bisa, eneg luar biasa,” ujar Susy. Namun Susy terus bertahan dan berjuang untuk mendapatkan kesembuhannya. Setiap kali keinginan untuk kembali menggunakan morfin begitu kuat, Susy langsung berlutut dan berdoa. Ia memohon dengan sungguh-sungguh agar dapat lepas dari ketergantungannya. Meskipun Susi tidak tahu bagaimana caranya, namun ia tahu Yesus sanggup menyembuhkannya.

Doa dan keteguhan hati itulah yang memampukan Susy bebas dari ketergantungan. Masa-masa itu bukan waktu yang singkat bagi Susy yntuk lepas dari ketergantungan morfin dan alkohol. Namun pengalaman itu tetap menjadi suatu pelajaran yang berharga bagi mereka.

“Saya berani mengatakan ia sudah pulih dan ia sangat cinta sama Tuhan. Susy bisa seperti ini karena anugerah Tuhan, bukan karena saya suaminya yang selalu mengawasi dia, mengajar dia secara keras, tapi sungguh ini merupakan pertolongan Tuhan,” ungkap Cecep.

“Karena berdoa saya bisa berhenti. Dan sampai tiba waktunya Natalan, saat itulah saya benar-benar stop total dalam menggunakan morfin. Saat itulah saya sadar bahwa Tuhan Yesus itu baik,” ujar Susy menutup kesaksiannya.

Tak cukup sampai di situ, berkat bantuan tim Solusi, Susy dapat bertemu dan berkumpul kembali dengan kakaknya Jeany. Simak kisah lengkapnya melalui video di bawah ini.

 

Sumber Kesaksian:
Susy Greta (jawaban.com)