Category Archives: Mukjizat

Imelda, Memberi Inspirasi Dari Kursi Rodanya

Namaku Imelda Saputra, aku seorang penulis. Sebenarnya dulu aku tidak pernah berpikir akan menjadi seorang penulis, namun inilah cara Tuhan memakai aku menjadi penanya untuk menyemangati banyak orang sama seperti Ia menyemangati aku untuk menjalani hidupku.

Aku terlahir sebagai anak normal, namun saat aku masih balita orangtuaku menemukan sebuah benjolan di punggungku. Ternyata saraf kaki kusut di benjolan tersebut. Dokter menyarankan untuk operasi, tetapi ketika operasi dilakukan ternyata ada efek samping yang terjadi. Setelah operasi kakiku bengkok dan menciut. Akhirnya aku tidak pernah bisa berjalan, aku lumpuh.

Orangtuaku melakukan berbagai upaya agar aku bisa berjalan lagi, mulai dengan ke dokter, tukang urut hingga ke dukun. Aku ingat, setiap kali ke dukun, aku sering disuruh minum air yang telah dijampi-jampi. Tapi usaha yang dilakukan oleh orangtuaku selama bertahun-tahun sia-sia belaka, aku pun telah lelah dan hampir putus asa. Tapi setiap kali aku bilang, “Malas ah…” Orangtuaku kembali bertanya, “Kamu mau sembuh ngga?” Hal itu membuatku bangkit lagi dan mau mencoba lagi.

Hingga suatu hari, saat kami konsultasi dengan seorang dokter, dia memberikan sebuah nasihat yang berbeda. Bukan janji kesembuhan yang diberikan, dia menyatakan dengan jujur bahwa kemungkinan untuk sembuh itu sudah tidak ada. Dia meminta orangtuaku untuk menyekolahkanku.

Mendengar aku akan sekolah, hatiku bergejolak karena sangat senang. Karena anugrah Tuhan, aku bisa sekolah di sekolah umum sekalipun aku cacat dan harus menggunakan kursi roda. Kadang memang ada orang yang memandangku dengan aneh karena keadaanku, tapi itu hanya di satu dua hari awal saja, selanjutnya, teman-teman dan guru-guruku bisa menerima keadaanku.

Sekalipun aku lumpuh dan harus beraktivitas dengan kursi roda, namun hal itu tidak menghalangiku untuk berprestasi. Bahkan ketika aku duduk di bangku SMP, aku cukup aktif dalam organisasi di sekolah. Aktivitasku sangat padat, kadang aku pulang sekolah antara jam dua atau setengah tiga. Setelah itu, kadang ada les yang ku ikuti. Namun karena aku duduk terus, dan kadang karena kesibukan aku tidak mengganti pampers, akhirnya terjadi iritasi dan membuat kesehatanku menurun.

Aku tidak pernah memberitahu orangtuaku tentang apa yang aku rasakan karena aku takut tidak diijinkan sekolah. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, suatu hari aku jatuh pingsan karena tidak tahan lagi dengan sakitku. Dokter memvonisku dengan penyakit dekubistus dan juga tipes akut sehingga aku harus di rawat di rumah sakit. Mulai bulan Mei di tahun itu, aku berhenti sekolah. Aku sudah tidak bisa bangun lagi, jadi aku hanya terbaring di tempat tidur tanpa daya.

Aku tertekan dan putus asa karena aku tidak bisa melakukan apa-apa, padahal biasanya setiap hari aku sibuk dengan aktivitas sekolah. Sering terbersit di pikiranku, kalau aku lebih baik mati. Tapi suatu hari seorang perawat datang dan berbincang denganku. Dia menceritakan tentang kesaksian hidupnya, dulu dia juga pernah sakit, bahkan mamanya pernah berkata, “Sudahlah Tuhan, ambil saja nyawa anak saya.” Tapi perawat itu berkata pada mamanya, “Ngga ma, aku pasti sembuh. Aku pasti sehat. Aku ngga akan mati. Aku akan melayani Tuhan.”

Perawat itu berkata dengan penuh kasih kepadaku, “Kalau aku bisa sembuh, kamu juga pasti bisa sembuh.”

Ketika perawat itu keluar dari ruanganku, aku langsung berdoa. “Tuhan terima kasih karena Engkau masih sayang sama aku. Aku mengasihimu Tuhan..” Kata-kata itu sudah lama tidak pernah ku ucapkan kepada Tuhan. Hari itu, aku merasakan sesuatu yang berbeda di hidupku. Aku merasakan Tuhan melembutkan hatiku kembali.

Semangat hidupku pun bangkit, bahkan kesehatanku juga berangsung membaik. Suatu saat aku diingatkan kepada seorang kakak rohaniku. Hari itu juga aku menghubunginya. Di telephone itu dia berkata, “Mel, beberapa bulan lagi kita ada konser doa. Yuk ikut gabung melayani..”

Hal itu menjadi jawaban doa bagiku, aku ingin melupakan apa yang telah lalu dan memulai sesuatu yang baru. Hingga tiba di perayaan natal di tahun 2005, saat itu hamba Tuhan yang melayani memintaku untuk maju ke tengah.

“Saya mau berdoa buat kamu,” demikian ucap pendeta tersebut.

“Saya minta seorang perempuan untuk peluk dia..”
Aku berpikir, aku akan diapakan nih? Seorang teman datang memelukku dan hamba Tuhan itu berdoa untukku, saat itu Tuhan menyampaikan isi hati-Nya kepadaku melalui hamba Tuhan itu. Salah satunya adalah:

“Kamu akan nulis buku, kamu akan Tuhan pakai jadi penanya Tuhan.”
Sempat aku merasakan keraguan, “Bener nih Tuhan?”

Tapi saat itu juga Tuhan berbicara, “Aku yang akan melakukannya, bukan kamu.”

Waktu berlalu, karena kondisiku, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Akupun mulai banyak membaca, mulai dari buku, hingga berbagai majalah. Saat membaca sebuah majalah anak-anak, aku berpikir aku juga bisa menulis seperti itu. Akupun mulai mencoba menulis, ketika ada lomba menulis, aku kirim karyaku. Tapi saat itu, semua yang ku kirimkan di tolak dan dikembalikan semua.

Waktu berbagai karyaku di tolak, aku sempat merasa, “Udahlah Tuhan, memang aku ngga berbakat.” Beberapa lama aku sempat berhenti menulis, tapi perkataan hamba Tuhan yang berdoa bagiku terus teringat olehku. Aku ingat janji Tuhan itu, aku tahu kalau aku perlu bekerja sama dengan Tuhan. Jika aku mau janji Tuhan itu terwujud, aku harus terus menulis.

Aku tidak tahu darimana datangnya inspirasi itu, terkadang seperti Tuhan sedang berbicara atau mendiktekan sesuatu kepadaku. “Nanti nulisnya seperti ini.. awalnya seperti ini..” Tuhan hanya memberi tahu aku sedikit, kemudian aku harus mengembangkannya sendiri.

Selama beberapa tahun aku hanya menulis, tanpa ada tanda-tanda janji Tuhan itu terwujud. Hingga tiba di tahun 2008, sebuah penerbit menghubungiku.

“Imelda, bukunya di terima ya, kami terbitkan.”

Aku seakan tidak percaya, “Buku… penerbit.. buku yang mana ya?”

Itulah cerita bagaimana akhirnya buku pertamaku akhirnya diterbitkan. Aku merasa sangat senang lagi, ternyata memang janji Tuhan itu tidak pernah gagal. Kini semua nubuatan itu telah menjadi kenyataan.

Aku melihat karya Tuhan begitu ajaib, apa yang tidak pernah aku pikirkan, tidak pernah timbul dalam hati, Tuhan melakukan itu dalam hidupku. Hal itulah yang membuatku merasa Tuhan itu begitu luar biasa. Jika orang heran bagaimana aku bisa menulis buku, akupun juga heran. Tapi semua itu terjadi karena Tuhan. Dari semua yang terjadi itu, aku tahu bahwa hidupku penting, bagi Tuhan dan juga bagi sesama. Aku bersyukur untuk apa yang Tuhan lakukan dalam hidupku, apa yang terlihat buruk dapat Tuhan ubahkan menjadi kebaikan, bukan hanya untukku namun juga untuk orang lain.

 

Sumber Kesaksian :
Imelda Saputra (jawaban.com)

Ditinggalkan Namun Tak Pernah Sendiri

Banyak wanita membayangkan pernikahan adalah sebuah dunia yang indah, demikian juga mimpi Maureen. Namun ternyata mimpi indahnya tak terwujud malah berubah menjadi sebuah mimpi buruk. Inilah penuturan Maureen tentang kisah hidupnya.

Ketika aku menikah dengan suamiku, dan membentuk sebuah keluarga, kami pindah ke kota Balikpapan. Dengan sebuah pengharapan yang besar, aku memulai kehidupan yang baru. Aku memiliki cita-cita, pernikahanku akan menjadi seperti pernikahan kedua orangtuaku. Sebuah keluarga yang ideal dan bahagia.

Namun kehidupan ternyata tidak seindah bayanganku. Ketika suamiku mulai berhasil usahanya, dia mulai lupa akan keluarga. Dia melalaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan kepala keluarga. Saat aku mengingatkannya, semua itu berakhir dengan pertengkaran dan tak jarang pukulan dilayangkannya kepadaku. Akhirnya dia pergi meninggalkanku bersama kelima buah hatiku tanpa meninggalkan apapun untuk kami.

Aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta, dan berjuang membesarkan kelima anakku. Aku bertekad untuk mendidik dan membesarkan anak-anakku dengan baik. Aku melakukan segala cara untuk bisa menyekolahkan dan memberi makan mereka. Saat aku sudah tidak memiliki apapun, aku jual baju-baju yang ku miliki. Lima belas tahun lalu, satu baju yang kujual harganya seribu rupiah. Dan dengan uang hasil penjualan baju-bajuku itu, aku membeli beras, minyak tanah, sayuran, dan aku atur sedemikian rupa sehingga anak-anakku dapat makan makanan yang sehat dan bergizi sekalipun sangat sederhana.

Terkadang, jika anak-anakku ingin makan apel atau jeruk, mereka harus pergi ke kuburan. Pada hari-hari tertentu, akan ada orang-orang yang datang kekuburan untuk sembahyang dan membawa makanan persembahan. Ketika anak-anakku bercerita kalau mereka harus berebutan dengan orang-orang untuk mendapatkan buah-buahan dikuburan itu, aku merasa sangat sedih.

Suatu kali, kami sudah tidak memiliki apapun untuk dimakan. Hingga jam dua siang, anak-anakku belum juga makan. Aku kumpulkan anak-anakku, dan kuajak mereka berdoa, “Ayo kita berdoa.” Kami memanjatkan doa Bapa Kami bersama-sama. Ketika kami berkata, “Amin,” tiba-tiba pintu rumahku di ketuk. Ada seseorang yang datang dan membawakan makanan sehingga kami bisa makan.

Dalam kondisi sulit seperti itu, aku terus memperjuangkan kehidupan anak-anakku. Aku mulai melamar pekerjaan dimana-mana. Sekalipun itu hanya pekerjaan part time, aku jalani dengan segenap hati. Terkadang ada teman yang telah mengenalku dengan baik sengaja memintaku bekerja ditempatnya. Sekalipun hanya bekerja selama satu minggu, tetapi hasil kerja saya itu bisa mencukupi kehidupan selama satu bulan, dari sekolah anak-anak, membayar kontrakan hingga makan sehari-hari.

Mulai saat itu aku mulai bekerja sebagai pegawai pengganti dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Aku menggantikan pegawai yang sedang cuti ataupun hamil. Jika ada pegawai yang hamil, aku sangat senang sekali, karena itu artinya aku bisa bekerja selama tiga bulan. Itu sangat lumayan sekali bagiku, karena uangnya aku bisa simpan untuk keperluan yang akan datang.

Perlahan-lahan kehidupanku dan anak-anakku mulai membaik. Satu hal yang membuatku bisa melewati semua masa sulit itu adalah adanya sebuah tekad yang tertanam dalam hatiku, “Aku harus menjadi panutan bagi anak-anakku.” Aku ingin anak-anakku bisa belajar nilai-nilai kehidupan yang benar dari diriku.

Jika orang lain berpikir aku bisa saja menghalalkan segala cara sehingga aku bisa lebih mudah melewati kesulitan-kesulitan yang menghadangku, aku berkata pada diriku, aku tidak boleh melakukan itu. Aku tidak mau menghalalkan segala cara, karena dalam hatiku ada takut akan Tuhan. Karena ada Tuhan Yesus dalam hidup keluargaku, aku tidak pernah takut dengan apa yang ada di masa depanku karena aku tahu Dia yang menjamin kehidupanku dan kehidupan anak-anakku. Aku sudah membuktikannya sejak awal ketika aku harus menjalani kehidupan seorang diri bersama kelima anak-anakku sampai saat ini, Dia selalu menyertaiku. Karena Dia adalah Immanuel.

Sumber Kesaksian :
Maureen (jawaban.com)

Aku Berharga Di Mata Tuhan

Papa mama saya menikah dalam usia yang masih sangat muda. Pada saat kehadiran anak pertama, anak kedua dan anak ketiga keadaan keluarga saya masih baik-baik saja dan belum terasa adanya tekanan. Namun ketika saya ada di dalam kandungan, mama saya merasakan tekanan yang begitu berat. Setiap hari tidak ada kedamaian, mama saya selalu menangis karena sering sekali bertengkar dengan papa saya. Pertengkaran yang sumbernya sebenarnya adalah masalah ekonomi tersebut akhirnya merembet kemana-mana. Sampai akhirnya mama saya memutuskan untuk bunuh diri. Pada waktu itu mama saya mengambil keputusan bunuh diri selain untuk menggugurkan saya, juga untuk mengakhiri hidupnya.

Walaupun sang ibu ingin melarikan diri dari kenyataan namun niatnya itu gagal, akhirnya John Nathanael lahir pada tahun 1964 dalam keadaan cacat.

Keluarga memperlakukan saya antara kasih sayang dan rasa malu karena mempunyai anggota keluarga yang cacat. Jadi kalau ada sanak saudara dari mama saya atau teman-teman daripada kakak-kakak saya berkunjung ke rumah, saya disuruh tetap berada di dalam kamar, tidak boleh keluar. Saya tidak boleh menemui siapa-siapa, bahkan untuk buang air kecil, saya mengalami kesulitan untuk keluar dari kamar.

Pada usia delapan tahun, saya mulai menunjukkan kekecewaan terhadap mama saya yang nampak dalam kelakuannya saya sehari-hari. Suatu saat ketika saya sedang diberi makan oleh mama saya, makanan itu saya buang. Mama saya menjadi marah sekali dan sambil mengucapkan kata-kata yang amat menyakiti hati saya. Saya amat tertolak dan kecewa terhadap mama saya.

Sejak umur delapan atau sembilan tahun itu saya baru menyadari kalau saya mempunyai kelainan dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Terkadang teman saya bilang kalau baju yang saya pakai, terdapat gambar yang bagus, akan tetapi saya tidak tahu baju apa yang sedang saya pakai dan gambar apa yang ada di baju saya. Keadaan itulah yang membuat saya kecewa dan sedih. Dalam kekecewaan itu, ada dorongan diluar kesadaran saya untuk mencoba bunuh diri.

Dalam kepolosan pemikiran seorang anak, John berpikir dengan gantung diri menggunakan karet lompat tali, dia dapat mengakhiri hidupnya. John sempat beberapa saat tidak sadarkan diri, tapi usaha bunuh dirinya tidak berhasil. Akhirnya John menemukan seorang yang menjadi teman akrabnya yang mau menemani hari-hari hidupnya.

Selama hidup saya hanya mempunyai satu orang teman akrab. Saya hanya bisa berteman dengan dia dan bersahabat dengan harmonika yang selalu setia menemani. Memang karena saya tidak bisa kemana-mana, saya melakukan apa saja yang bisa saya lakukan untuk melewati hari-hari saya yang begitu saya rasakan kelam. Banyak orang datang kepada saya dan mengatakan bahwa Tuhan itu baik dan adil. Namun dalam hati saya timbul pertanyaan, mengapa jika Tuhan itu baik dan adil mengijinkan saya lahir dalam keadaan seperti ini. Waktu remaja, saya merasakan frustasi dan keadaan itu yang harus saya lewati.

Pada suatu ketika, Tuhan mulai menjamah kehidupan John melalui salah satu teman kakaknya yang sedang bekerja di rumah John.

Ketika dia sedang bekerja, saya ambil gitar dan memainkannya di dekatnya, lalu dia mulai bertanya kepada saya, “apa kegiatan kamu sehari-hari kalau sedang di rumah?” Saya bilang saya tidak kemana-mana dan tidak ada kegiatan apa-apa, lalu dia mengajak saya untuk ikut ke gereja jika tidak ada kegiatan. Ketika saya bercakap-cakap dengan dia, saya merasakan kedekatan, jadi saya mulai berani untuk ikut bersamanya ke gereja. Mulai saat itu saya mulai rajin beribadah. Saya sangat tersentuh kepada kebaikannya, karena tempat tinggalnya cukup jauh dari rumah saya, sedangkan dia hanya mengendarai sepeda motor untuk menjemput saya. Akan tetapi dia lakukan juga untuk menjemput saya dengan tulus. Melihat ketulusan dan kebaikan orang ini, saya waktu itu meyakinkan diri saya untuk mempercayai apa yang dikatakan teman saya ini bahwa Tuhan itu sangat baik, karena saya melihat kehidupan teman saya ini. Kalau teman saya begitu baik kepada saya apalagi dengan Tuhannya. Tiba-tiba saya menemukan bahwa diri saya begitu berarti di hadapan Tuhan.

Yang Tuhan mau dalam hidup saya adalah supaya saya mengampuni mama saya. Dan ketika saya mau mengambil keputusan untuk mengampuni, waktu itu saya rasakan saya mengalami suatu kelepasan yang luar biasa dan Tuhan itu hadir dalam pribadi Bapa dalam hidup saya, karena Dia juga mengetahui kerinduan saya untuk bertemu dengan Bapa.

Di dalam keberadaan saya seperti ini, saya dapat memandang bahwa hidup ini indah. Saya bisa memberikan yang terbaik, walaupun saya dulu menganggap itu tidak mungkin. Ketika Tuhan pulihkan saya, Tuhan bukakan kepada saya kalau saya adalah seorang pelayan Tuhan di dalam penyembahan, kesaksian dan bernyanyi. Sejak saat itu saya menjalani hidupnya dengan sukacita dan penuh pengharapan kepada Tuhan. Bahkan dengan cara yang ajaib Tuhan mempertemukan John dengan Mariane dan mempersatukan mereka dalam pernikahan yang kudus.

“Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” (1 Petrus 3:4)

Sumber Kesaksian:
John Nathanael (jawaban.com)

Waktuku Tersita Di lapangan Tenis

Bermain tenis adalah hobi Jimmy Dumais, demikian nama lengkapnya atau yang biasa dipanggil Jimmy. Hampir setiap hari dia bermain tenis bahkan sampai melupakan dan menomorduakan keluarga. Dalam keluarga sering timbul pertengkaran karena Jimmy jarang berkumpul bersama keluarga di rumah. Ia lebih menyukai berkumpul bersama teman-teman di lapangan tenis.

Pada suatu hari yang cerah, tepatnya pada tanggal 18 Februari 2000, seperti biasanya Jimmy melakukan kegiatan rutin bersama teman-teman yaitu bermain tenis. Permainan pada hari itu sangat bersemangat seperti hari biasanya. Permainan terus berlangsung sampai tiba pada hitungan keempat. Sementara permainan berlangsung, tiba-tiba kakinya keseleo sehingga permainan tak dapat diteruskan.Teman-temanya mencoba menekuk kakinya namun kakinya tarasa sakit sekali.

Jimmy segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter segera memeriksanya, dan menurut hasil pemeriksaan dokter, ternyata arkhilesnya putus. Sebelum diadakan operasi, dokter terlebih dahulu memeriksa jantung juga diperiksa dan di ronsen untuk diadakan operasi. Dokter menyarankan agar Jimmy beristrahat total di rumah sakit selama seminggu. Dalam kesakitan, dia masih sempat menanyakan pada dokter apakah ada kemungkinan bermain tenis lagi. Dokter mengatakan masih dapat melakukan olah raga tenis dalam waktu enam bulan atau setahun mendatang. Dan jikalau tak dapat melakukan olah raga tenis, mungkin dapat melakukan olah raga lain.

Rasa sedih dan putus asa menyelimutinya sebab harus berjalan memakai tongkat dan tak dapat bermain tenis lagi. Ia menjadi rendah diri sebab merepotkan dan menyusahkan orang lain untuk menuntunnya kemanapun dia pergi.Tidak ada yang dapat dilakukan tanpa pertolongan orang lain. Sikap mandiri yang tertanam dalam dirinya terasa pudar seketika. Jimmy tidak menyadari bahwa melalui kehidupannya ada sesuatu yang luar biasa akan mengisi kehidupannya.

Pada suatu hari, ia diajak anaknya mengikuti pertemuan ibadah beberapa hari di luar kota. Dalam hatinya ia berkata, apakah mungkin kuasa doa akan mampu menyembuhkan kakinya yang sakit? Mustahil semua itu. Tapi untuk menyenangkan hati anaknya, ia mengikuti ajakan anaknya. Pada hari terakhir acara pertemuan ibadah, Jimmy merasa bosan dan ingin pulang. Hal itu dikatakan pada istri dan anaknya. Anaknya menyetujui permintaan akan kembali terlebih dahulu ke rumah. Ia merasa heran mengapa anaknya tidak memperhatikan keadaan mereka selama pertemuan itu. Menjelang berakhirnya pertemuan ibadah itu, anaknya mengajak mengikuti doa penyerahan pada malam hari. Namun, keinginan duniawi lebih kuat menguasai dirinya.

Dalam hatinya selalu berkata, tidak mungkin hanya dengan doa seseorang akan mampu menyembuhkan penyakit orang lain. Dia masih terus diliputi rasa tidak percaya akan kuasa Tuhan melalui doa sang pendeta. Jimmy tidak mengikuti ajakan anaknya mengikuti doa penyerahan, dia tetap berkeras pada pendiriannya. Sepanjang malam, kakinya terasa sakit dan ia kembali bersungut-sungut bahwa jika dia mengikuti doa penyerahan, pasti dia akan menyusahkan orang lain dan tidak dapat mengikuti doa penyerahan. Pada malam itu, seperti ada yang menahannya agar tidak kembali ke rumah, tetapi dia tidak tahu apa yang menahannya.

Keesokan paginya tepat pada hari Minggu, ia bangun lebih awal tak seperti hari biasanya. Ada yang menyuruh dia untuk pergi ke gereja. Ia segera berkemas-kemas hendak pergi ke gereja. Istri dan anaknya terheran-heran. Jimmy mengajak anak dan istrinya agar bersiap-siap pergi ke gereja. Bagi istri dan anak Jimmy, hal ini merupakan peristiwa terbesar dalam keluarga mereka sebab suami atau ayah yang sangat mereka kasihi ternyata mau membuka hatinya untuk mendengarkan firman Tuhan. Jika keadaan sebelumnya Jimmy sangat tertutup hatinya akan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, maka saat ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidup Jimmy untuk menerima Tuhan sebagai Penolong dan Pelindung kehidupannya.

Kehadiran Jimmy di gereja, sangat menggembirakan pak pendeta. Semua anggota jemaat menyambut dengan penuh sukacita kehadiran Jimmy sekeluarga. Kiranya melalui kehadirannya, akan memberikan pembaruan bagi kehidupan pribadinya. Acara demi acara berlangsung dan Jimmy mengikutinya dengan seksama.Sementara istrinya mengambil makanan, tiba-tiba Jimmy menangis tersedu-sedu. Dadanya terasa sesak dan panas. Kemudian pak pendeta mendoakannya dengan mengimani bahwa Tuhan mempunyai kuasa untuk menyembuhkan seseorang.

Jimmy mohon ampun pada Tuhan atas segala dosa yang dilakukannya selama ini yang telah jauh dari Tuhan dan menyangkali kehadiran dan kuasa Tuhan dalam kehidupan pribadinya. Selesai berdoa, Jimmy mencoba berdiri dan berjalan secara perlahan tanpa ditopang oleh tongkat. Dia berjalan terus ke depan sambil memuji Tuhan dan bersukacita. Alangkah bersuka citanya Jimmy, sebab mengalami kebaikan Tuhan dalam kehidupan pribadinya walaupun dia sempat menyangkali kasih Tuhan tetapi Tuhan tetap mengasihi dirinya. Melalui pengalaman yang dialaminya, ia semakin menyadari dan meyakini kasih Tuhan dalam kehidupannya.

Sumber Kesaksian:
Jimmy Dumais (jawaban.com)

Aku Kembali Seperti Anak Kecil

Apa jadinya kalau seseorang yang telah menginjak dewasa kembali melakukan kegiatan anak kecil yaitu belajar berbicara, belajar berjalan, bahkan kemampuan fisiknya seperti seorang anak kecil. Ketika masih kecil dia dididik sangat keras oleh kakeknya sehingga mempengaruhi mental dan kepribadian dia menjadi seorang yang nakal dan pemberontak. Sampai dia besar perilakunya makin buruk sehingga menjadikan dia sebagai seorang pemakai narkoba, tukang berkelahi, ugal-ugalan, kebut-kebutan di jalan, dan pemain perempuan.

Peristiwa ini dialami oleh Haryanto Budi, yang mengalami kecelakaan bermotor sehingga mengakibatkan lumpuh pada kedua kaki dan tangan serta buta pada kedua matanya.Dia tidak menyangka kalau kecelakaan itu akan mengakibatkan fatal pada dirinya.Kejadian ini dialaminya pada suatu malam, ketika dia sedang mengendarai motor, tiba-tiba dari arah depan ada mobil dan Haryanto tidak dapat menguasai kecepatan motor yang dikendarai sehingga tabrakan itu tidak dapat dihindari. Haryanto terlempar, kepalanya membentur trotoar dan berlumuran darah.

Orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian mengatakan bahwa dirinya tak bernyawa lagi. Dia segera dilarikan ke rumah sakit dan dokter segera mengambil tindakan. Dokter tidak dapat berbuat banyak sebab kecelakaan yang dialami Haryanto cukup berat. Dari hasil pemeriksaan dokter, ternyata Haryanto mengalami geger otak dan harapan hidupnya tinggal duapuluh persen. Seandainya hidup, dia akan mengalami geger otak yang hebat, separuh saraf-saraf dalam tubuhnya tidak berfungsi, penglihatan kabur, kedua kaki dan tangan lumpuh dan tidak dapat berbicara.

Sekarang Haryanto tak berdaya dan semangat hidupnya hilang seketika.Hari-hari kehidupannya dilalui dengan melakukan kegiatan dia pada waktu kecil yaitu belajar berbicara dan belajar berjalan sementara penglihatan dia semakin kabur. Pada saat dia sedang sendiri dan termenung, pikirannya kembali mengingat masa lalunya yang dipenuhi dengan kehidupan ugal-ugalan, kebut-kebutan, perkelahian, pemakai narkoba, dan mempermainkan perempuan. Kini dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini betapa menghancurkan kehidupan dan masa depannya. Dia berjanji akan meninggalkan semua kebiasaan buruknya di masa lalu. Haryanto tetap yakin bahwa masih ada harapan kehidupan dan kesembuhan yang diberikan Tuhan pada dirinya, dan oleh karena itu ia tidak putus asa untuk terus berlatih berbicara dan berjalan walaupun masih gagap dan terus terjatuh.

Pada suatu hari, di saat Haryanto duduk berdoa dan merenungkan kehidupannnya, tiba-tiba dia merasakan kekuatan baru dalam dirinya. Dia mencoba berdiri dan berjalan sambil mencoba berbicara. Memang benar, pada saat itu Haryanto dapat berjalan dan berbicara, penglihatannya juga semakin jelas. Betapa bahagianya Haryanto mengalami kesembuhan. Kebahagiaan dia tak dapat terlukiskan dengan kata-kata. Dia sangat yakin bahwa apa yang dialaminya adalah semata-mata pertolongan Tuhan. Entah dengan apa dia harus mengucapkan terima kasih pada Tuhan atas segala kasihNya yang tak berkesudahan. Namun yang pasti bahwa dia menempatkan Tuhan yang terutama dalam segala kehidupan dan pergumulan hidup yang dialaminya.

Kini dia dapat melewati masa-masa sulit selama beberapa waktu lamanya dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang baru dengan segala rencana kehidupan dan masa depan yang lebih jelas dan terarah di dalam bimbingan dan penyertaan Tuhan.

Sumber Kesaksian:
Haryanto Budi (jawaban.com)

Kista Membusuk Di Kandunganku

Seorang wanita karir terpaksa berhenti melakukan pekerjaannya oleh karena mengidap suatu penyakit yang cukup berat yaitu terdapat kista di kandungannya. Ia adalah seorang ibu rumah tangga dan mantan direktur sebuah bank di Jakarta. Dia adalah Elizabet Budi. Mula-mula dia menganggap bahwa sakit di perutnya adalah sakit ringan dan tidak dihiraukannya.Setiap hari dia merasakan sakit di perut. Namun, pada suatu hari ketika dia kembali dari kantor, sakit di perut terasa hebat sehingga tak dapat ditahan. Pada hari itu juga, Elizabet bersama suaminya pergi ke dokter ahli gynekolog. Dokter memeriksa kandungan Elizabet melalui alat USG. Dari hasil pemeriksaan, ternyata di kandungan Elizabet terdapat kista yang sudah membusuk dan menghitam.

Dokter memberikan jalan keluar satu-satunya yaitu harus menjalani operasi agar kista yang ada di kandungan diangkat. Menurut diagnosa dokter bahwa jikalau tidak dilakukan operasi maka kista akan pecah dalam waktu tiga hari dan umur kehidupan Elizabet tinggal tiga hari juga. Namun Elizabet berkeras tidak mau di operasi oleh karena trauma pada saat melahirkan anak yang kedua juga melalui operasi, tidak sadarkan diri selama kurang lebih lima jam. Dalam keyakinan iman Elizabet bahwa masih ada seseorang yang mampu menyembuhkannya yaitu Tuhan. Dia sangat yakin bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan penyakitnya. Selama tiga hari, dia terbaring di tempat tidur sambil berdoa dan meyerahkan pergumulannya pada Tuhan agar Tuhan memberikan kekuatan dan umur panjang. Ada banyak saudara dan handai taolan turut mendoakannya. Di dalam kesakitannya, dia masih menyempatkan diri menghadiri ibadah di gereja sebab dia yakin bahwa di dalam kuasa Tuhan segala sesuatu dapat terjadi.

Dari hari ke hari, penyakit Elizabet semakin memburuk, tetapi tidak melunturkan iman dan kepercayaan pada kasih dan kuasa Tuhan yang suatu saat akan menganugerahkan kesembuhan atas dirinya. Pada suatu saat, ketika dia tertidur pulas, terdengar isak tangis anaknya. Elizabet langsung bangun dan berdiri seolah-olah tidak merasa sakit dalam dirinya.Dia menghampiri anaknya yang sedang dimandikan oleh baby sitter.Ternyata anaknya menangis oleh karena sedang dimandikan. Elizabet juga merasa haus dan kemudian menuju meja makan mengambil air. Tanpa disadarinya, ia dapat berjalan dan berdiri.

Ia kemudian menyadari bahwa dirinya sedang sakit dan tak dapat bangun dari tempat tidur.Betapa terkejutnya dia pada saat itu melihat dirinya mampu berjalan, berdiri dan perutnya kempes di saat mengalami penyakit yang cukup parah yang hanya dapat terkulai lemas di tempat tidur. Elizabet masih meragukan apa yang dialaminya, kembali dia mencoba meloncat-loncat ternyata tidak merasa sakit. Elizabet kemudian membangunkan suaminya dan mengatakan bahwa dirinya sembuh. Hal pertama yang mereka lakukan adalah berdoa dan mengucap syukur pada Tuhan.

Pada keesokan harinya, mereka berdua ke dokter memeriksakan diri sambil memastikan bahwa penyakit Elizabet benar-benar sembuh. Dokter melakukan USG dan hasilnya kista yang ada di kandungan Elizabet benar-benar hilang dan itu berarti Elizabet sembuh. Dokter juga membandingkan hasil USG pada waktu kista masih ada di kandungannya. Dokter tetap tidak yakin pada hasil pemeriksaan sehingga dia bertanya apakah Elizabet pergi berobat ke dokter lain. Elizabet mengatakan bahwa dia tidak pernah berobat ke dokter lain. Selama ini yang dilakukannya adalah menyerahkan penuh segala keberadaannya pada Tuhan yang diyakininya sanggup mengobati penyakitnya.Akhirnya dokter dapat memahami bahwa ini adalah karya Tuhan dalam kehidupan seseorang yang tak dapat disangsikan.

Elizabet sekeluarga sangat bersukacita dan mengucap syukur atas pertolongan Tuhan yang terjadi dalam keluarga. Sebagai ungkapan syukur pribadi, Elizabet kini menyerahkan seluruh kehidupannya bagi pekerjaan pelayanan Tuhan.

Sumber Kesaksian:
Elizabet Budi (jawaban.com)

Usia Hidupku Tinggal Sesaat

Seandainya ada seorang anggota keluarga kita yang sakit keras dan berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter mengatakan: “Kuatkanalah hati saudara, karena harapannya sangat tipis sekali.” Apa reaksi saudara ketika mendengar hal tersebut? Ada dua kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan yang pertama berontak dan tidak percaya, karena dibawa berobat tentu dengan harapan untuk sembuh. Kemungkinan yang kedua: pasrah pada apa yang akan terjadi, terjadilah asalkan penderitaan si sakit cepat berlalu. Lalu, kalau di antara kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, di tengah-tengah harapan tipis yang hampir menuju pada keputusasaan, ternyata saudara kita yang sakit itu sembuh. Bagaimana pula perasaan kita? Tentunya kita merasakan “sukacita yang tidak dapat digambarkan hanya dengan kata-kata saja.”

Perasaan-perasaan semacam ini dialami oleh Yakobus Karman, ketika berusia muda dan ia adalah seorang yang sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor. Ia bekerja pada sebuah pabrik farmasi dan memiliki posisi baik di kantornya sehingga secara finansial ia tidak mengalami kesulitan.Waktunya tidak hanya tersita pada pekerjaan tetapi juga tersita bersama teman-teman seperti berjudi dan melakukan hubungan seks. Di tengah kesibukannya, dia tidak merasa bahwa ada bahaya besar menghadang dia.Disinilah awal kehancurannya.Dia mulai merasakan ada sesuatu di lehernya yang kelihatan membengkak.Yakobus menjadi tidak tenang sebab sangat mengganggu pekerjaannya.Ia memeriksakan diri ke dokter dan dokter mengambil langkah pemeriksaan melalui CT scan. Dari hasil pemeriksaan dokter dengan menggunakan alat CT scan, ternyata Yakobus mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening yang berukuran 1,5cm x 1,5cm. Sumsum darah juga diambil sebab kelenjar getah bening ini akan menjalar ke darah.

Pada waktu pengambilan sumsum darah, Yakobus merasakan sakit sehingga dia harus berteriak-teriak karena menahan rasa sakit. Dokter juga menyatakan bahwa kemampuan Yakobus bertahan hidup diperkirakan enam bulan jika memang dia memiliki ketahanan tubuh yang kuat. Salah seorang anggota keluarga berinisiatif mencari pertolongan lewat paranormal.Sementara paranormal mempersiapkan segala peralatan, Yakobus berbaring dengan tenang dan hanya berharap mudah-mudahan dia sembuh.Proses penyembuhan ini dijalani beberapa jam yang dipenuhi dengan pembacaan mantera.Setelah selesai, paranormal memberitahukan hasil pengobatan bahwa reaksi dari pengobatan ini adalah keluarnya darah yang berarti Yakobus sembuh dari penyakitnya. Beberapa saat kemudian, darah keluar dari tubuhnya dan mendadak Yakobus ketakutan, seperti mau mati rasanya.Harapannya untuk bertahan hidup sirna seketika.Sepertinya tidak ada harapan hidup bagi Yakobus. Keluarganya bingung melihat tingkah Yakobus yang ketakutan.

Pada saat depresi yang berat, Yakobus teringat pergi ke gereja.Kebetulan pada hari itu ada suatu acara kebaktian di gereja.Yakobus mendengar dengan seksama Firman Tuhan yang disampaikan oleh bapak Pendeta.Tema khotbah pada saat itu ialah “janganlah minta kekayaan, tetapi minta ampun pada Tuhan atas dosa yang telah diperbuat.” Hatinya tersentuh mendengar khotbah itu.Yakobus memberanikan diri maju ke depan mengaku dosa dan mohon ampun dari Tuhan atas segala dosa yang diperbuatnya selama ini.

Selama pengakuan dosa, ia merasa ada pertemuan yang indah bersama Tuhan.Pada saat yang bersamaan, ada sinar memancar yang menerangi dirinya sehingga dirinya terasa panas. Rasa sesak yang dirasakan sebelumnya mendadak hilang. Namun, ada suatu kelegaan yang mengalir dalam dirinya. Pada malam itu ia menjadi tenang, tidak merasa gelisah dan takut seperti hari-hari sebelumnya.Yakobus mengatakan pada ibunya bahwa ia tidak mau di operasi, sebab ia merasa sehat. Namun ibunya berkeras harus dioperasi. Malam itu adalam malam terakhir saat ia menunggu waktu operasi pada besok hari.

Keesokan harinya, sebelum operasi dimulai, dengan penuh keyakinan bahwa ia menerima kesembuhan dari Tuhan, Yakobus mengatakan pada dokter bahwa dirinya tidak lagi merasa sakit.Dokter tidak percaya yang dikatakan Yakobus sehingga pemeriksaan melalui CT scan dilakukan kembali.Hasil pemeriksaan menunjukan kelenjar getah bening telah hilang dan itu berarti penyakit kanker yang di deritanya sembuh. Dokter tetap tidak percaya melihat hasil pemeriksaan sehingga pemeriksaan dilakukan kembali pada beberapa bulan berikutnya.Hasilnya tetap sama, yaitu kelenjar getah bening hilang dari tubuhnya.Pembengkakan pada leher menjadi kempes.

Akhirnya dokter menyatakan bahwa Yakobus benar-benar sembuh dan operasi tidak jadi dilakukan.Yakobus dan keluarga sangat bersukacita menerima kesembuhan dari Tuhan yang menurut ilmu kedokteran, penyakit yang dideritanya sulit disembuhkan tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Sebelas tahun yang silam ia melewati penderitaan ini. Sungguh besar kasih setia Tuhan pada umatNya yang selalu mengingat, meyakini dan menyerahkan diri, hati dan hidup kita pada penyertaan Tuhan.

Sumber Kesaksian:
Yakobus Karman (jawaban.com)

Sakit Mata Sejak Lahir

Siapa yang tidak mendambakan anak atau cucu lahir dengan selamat tanpa mengidap suatu penyakit? Apalagi jika sebuah keluarga sedang menantikan anak atau cucu pertama.Yang ada dalam hari-hari penantian mereka adalah anak yang lucu dan sehat sehingga semakin melengkapi sukacita dan kebahagiaan keluarga.

Berbeda dengan situasi keluarga Hendrik ketika menerima kehadiran anak pertama dalam keluarga mereka. Anak ini diberi nama Amelia. Pada waktu kelahirannya, dia memiliki kelainan pada mata yaitu selalu mengeluarkan air dan kotoran dari mata sehingga mengganggu penglihatannya. Setiap pagi, ibu dan bapaknya membersihkan mata Amelia agar bisa terbuka dan melihat. Berbagai pengobatan melalui beberapa dokter telah dijalani namun tidak memberikan hasil kesembuhan. Sampai Amelia menginjak usia dua setengah tahun, penyakitnya bertambah parah. Amelia di bawa pada seorang dokter ahli mata. Dari hasil pemeriksaan dokter, ternyata terjadi penyumbatan pada mata Amelia. Dokter segera mengambil tindakan pada Amelia dengan menusuk sisi mata Amelia.Walaupun telah menjalani pengobatan melalui dokter ahli, tetap juga tidak membawa perubahan. Usaha mereka telah mencapai batas maksimal kemampuan seseorang sehingga mereka sempat putus asa. Kemana lagi mereka harus membawa Amelia untuk mendapatkan pengobatan yang sempurna?

Tetapi ada yang sangat mengasihi Amelia yaitu nenek Amelia atau ibu Bertha yang sekaligus mengingatkan orang tua Amelia agar jangan putus asa, sebab pasti masih ada jalan keluar di luar kuasa dokter yaitu Sang pencipta dan pemilik manusia. Manusia tidak sanggup melakukannya tetapi didalam Dia semua beban penderitaan dan pergumulan manusia menjadi hilang. Nenek Amelia mengajak orang tua Amelia menghadiri suatu ibadah.

Selama ibadah berlangsung, orang tua Amelia mengikuti dengan seksama firman Tuhan dan doa yang disampaikan oleh pendeta. Ibadah itu merupakan moment penting bagi orang tua Amelia membawa segala pergumulan yang dihadapi keluarga mereka.Jika selama ini orang tua Amelia sempat melupakan Tuhan, maka dalam ibadah saat itu mereka juga diingatkan bahwa hanya kuasa Tuhan segala sesuatu dapat terjadi. Dan lebih khusus lagi, kiranya Amelia menerima jamahan kasih Tuhan atas penyakit yang dialaminya saat ini.

Orang tua dan nenek Amelia kembali ke rumah membawa roti dan anggur untuk mengadakan perjamuan kudus bersama Amelia. Nenek Amelia memimpin perjamuan sambil mengajari Amelia berdoa mengikuti doa yang diucapkan neneknya.Dengan penuh ketulusan dan kepolosan seorang anak kecil datang bersujud pada Tuhan memohon pertolonganNya.Bukan pada saat itu saja Amelia dibimbing dan dibesarkan di dalam Tuhan, tetapi seluruh hidup dan sepanjang kehidupannya berada dalam naungan kasih Tuhan. Hari demi hari penyakit mata Amelia sembuh total. Air dan kotoran tidak lagi keluar dari mata.

Semua yang terjadi dalam keluarga Hendrik adalah semata-mata karya Tuhan. Kini Amelia berusia tujuh tahun dan merupakan cucu pertama dari ibu Bertha yang tumbuh menjadi anak yang periang dan cerdas baik di sekolah maupun di rumah.

Sumber Kesaksian:
Kel. Hendrik / Amelia (jawaban.com)

Harapan Yang Pasti

Vika Patricia seorang anak kecil ketika berusia tiga tahun menderita sakit aplastik anemia yaitu suatu penyakit dimana sumsum tulang tidak mampu memproduksi elemen-elemen darah. Penyakit ini lebih berbahaya dari penyakit anemia. Gejala penyakit ini ditandai dengan wajah yang pucat, badan yang lemah, lekosit kurang dan suhu badan naik turun. Gejala ini dirasakan Vika pada pagi hari dan saat itu juga Vika dihentar oleh ayahnya ke dokter untuk memeriksakan diri. Dari hasil pemeriksaan dokter, ternyata Vika mengidap penyakit “aplastik anemia”.

Pemeriksaan terus dilakukan dan ternyata dokter juga menemukan ada kejanggalan penyakit lain. Menurut dokter, penyakit ini sulit disembuhkan.Vika harus diopname di rumah sakit. Dokter juga menganjurkan agar Vika berobat di Belanda, sebab pengobatan di Belanda lebih canggih. Orang tua Vika sangat terkejut mendengar penjelasan dokter. Orang tua Vika mengikuti anjuran dokter. Vika berobat ke Belanda namun dokter tidak dapat menyembuhkannya. Pengobatan juga dilakukan di salah satu rumah sakit di Singapura, namun tidak memberikan kesembuhan.

Akhirnya mereka kembali ke Indonesia. Mereka banyak mendapat dukungan doa dari teman-teman. Hari demi hari mereka lewati namun kondisi kesehatan Vika tidak menunjukan hasil yang menggembirkan. Orang Tua Vika pasrah menerima kenyataan yang ada. Pada saat itu, orang tua Vika belum sepenuhnya menerima Yesus sebagai Juruselamat. Mereka benar-benar mengandalkan kuasa dokter untuk menyembuhkan penyakit Vika.

Sampai tiba pada suatu hari, orang tua Vika sangat bergumul dengan penyakit yang diderita Vika. Sampai kapan Vika harus menanggung beban penderitaan ini? Ibu Vika berkata kepada ayah Vika, sebaiknya kita tidak mengandalkan kuasa dokter tetapi kita menyerahkan sepenuhnya pada Yesus Kristus yang berkuasa dan empunya kehidupan kita. Ayah Vika merenungkan hal ini. Di dalam hatinya dia berkata bahwa benar juga dan memang seharusnya demikian. Tidak ada yang mampu melawan kuasa Tuhan. Akhirnya orang tua Vika bersepakat agar semua yang mereka alami pada saat ini, sepenuhnya diserahkan kedalam kuasa dan kasih Tuhan. Orang Tua Vika yakin bahwa pasti akan ada kesembuhan yang Tuhan anugerahkan pada diri Vika. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan kepada mereka yang percaya dan menaruh pengharapan pada Tuhan. Sesulit apapun bagi manusia, Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi kita.

Pada beberapa hari berikutnya, dokter menyatakan bahwa penyakit Vika berangsur pulih. Hal ini dapat dibuktikan dengan bertambahnya sel darah merah (hemoglobin) yang semula 3,0 menjadi 13,0 dalam waktu satu minggu.Tuhan memang baik dan sangat mengasihi hidup kita. Orang tua Vika menyadari bahwa tanpa campur tangan Tuhan dalam kehidupan, kita tidak dapat melakukan sesuatu.

Mulai saat itu, orang tua Vika menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Saat ini anak Vika berusia sebelas tahun dan bertumbuh menjadi anak yang sehat dan kreatif. Ia mengikuti berbagai macam les, seperti les vokal, les renang dan les beberapa mata pelajaran. Pengharapan itu telah diperoleh. Ini semua diyakini sebagai berkat kasih sayang Tuhan yang tidak berkesudahan bagi kehidupan umatNya.

Sumber Kesaksian:
Vika Patricia (jawaban.com)

Saatku Takut Tuhanku Sanggup

Awalnya mengalami sakit kulit,gatal-gatal akibat terkelupasnya kulit disekujur tubuhnya.Dimulai dari 2 titik seperti bintil merah pada sisi perut bagian kiri dan kanan. Lalu bergerak terus dari hari ke hari keatas dan ke bawah sehingga seluruh tubuh saya penuh dengan penyakit kulit seperti eksim yang gatal sekali dan menebal dikulit. Setelah 2 bulan berjalan saya diserang oleh satu penyakit yang saya tidak tahu itu apa tetapi saya mendadak mengalami dehidrasi (kehilangan cairan) dan buang air besar secara mendadak sekaligus. Saya diantar oleh suami saya ke dokter karena perasaan saya sudah tidak enak dirumah.

Akhirnya pada waktu sampai di rumah sakit, saya pingsan dan cairan itu keluar sekaligus. untung dokter bisa mengatasi hal itu dengan memberikan infus secepatnya sehingga saya terselamatkan. Selama 1 minggu saya dirawat di rumah sakit tetapi tidak dapat ditemukan penyakitnya apa. Setelah itu saya pulang ke rumah. Waktu tiba dirumah saya melakukan aktivitas seperti biasa. kira-kira 5 hari kemudian saya merasakan sakit ditusuk-tusuk dari luar seperti orang ditusuk oleh pisau lalu dicabut lagi. Tidak tertahankan sakitnya…. Ketika saya dirawat..biasanya saya bisa diinfus tetapi saya tidak bisa diinfus lagi karena nadi vena yang biasa dipakai untuk menusukkan jarum infus itu pecah walaupun pakai jarum untuk bayi. Urine saya warnanya coklat seperti coca cola dan faces saya putih seperti kapas .

Pengecekan oleh dokter pada air seni dan muntahannya tidak memberikan hasil.Diagnosa dokter gagal untuk memastikan apa penyakitnya .

Saat itu suami nyonya Nita memanggil hamba Tuhan untuk mendoakan isterinya.

Hamba Tuhan itu menanyakan kepada saya, apakah saya pernah menyakiti dan membenci seseorang dan tidak bisa mengampuninya ?

Lalu saya mulai berpikir apakah urusannya dengan penyakit saya..tetapi ketika dijelaskan : Tuhan akan mengampuni kamu jika kamu mengampuni orang yang telah menyakiti hati kamu. Saat itu saya teringat bahwa saya benci kepada ayah saya sendiri. Lalu hamba Tuhan itu bertanya kepada saya : Maukah kamu sembuh, kamu harus mengampuni ayahmu…..Itulah syarat untuk saya sembuh…Saya didoakan dan saya melihat bagiamana Tuhan bekerja. Jam 09.00 malam saya merasakan serangan yang luar biasa..saatnya mungkin saya harus pergi meninggalkan dunia ini karena kematian datang dari ujung kaki simetris ke arah tangan berjalan bersama-sama seperti tidak mempunyai rasa, tubuh kita mati dari ujung kaki dan terus merambat keperut sampai kelambung nafas hanyai sampai di dada dan leher.

Rasanya Tuhan saya tidak kuat lagi. Jika saya mau diambil Tuhan tolong saya..tetapi kalau saya masih diberi kesmpatan untuk hidup, pakai saya……Tuhan tolong saya..tolong saya… Pada saat itu dalam keadaan yang seperti itu…..dimana pikiran saya masih utuh tetapi badan saya tidak dapat bergerak sama sekali dan tidak merasa mempunyai badan..Tiba-tiba ada sinar yang terang benderang turun persis di sekujur tubuh saya. Terangnya bukan main pada saat yang bersamaan saya melihat orang-orang disekeliling saya seperti xtrim . Bisa dibayangkan begitu takutnya saya waktu itu, saya pikir itulah saat kematian saya sambil berteriak Tuhan tolong saya..tolong saya…

Esok harinya nyonya Nita diperiksa dokter dan hasilnya sungguh luar biasa. Penyakit tersebut hilang menurut pengecekan dokter. Tubuh saya, kulit saya yang sebelumnya merah padam dan berair jadi kering dan menjadi kulit yang terkelupas. Dan perut saya yang besar itu menjadi kempes dan rasanya yang tidak karuan dan sakit sekali itu hilang sirna. Saya bangun benar-benar sehat.

Kuasa mujizat Yesus sungguh menyembuhkan segala penyakit nyonya Nita. Dan saat ini nyonya Nita aktif bersama suaminya membuat program acara keluarga di televisi.

Semuanya yang saya alami ini tentunya karena Tuhan Yesus Kristus. Tuhan kita.

Bila sesuatu malapetaka menimpa kami, yakni pedang, penghukuman, penyakit sampar atau kelaparan, kami akan berdiri di muka rumah ini, di hadapan-Mu, karena nama-Mu tinggal di dalam rumah ini. Dan kami akan berseru kepada-Mu di dalam kesesakan kami, sampai Engkau mendengar dan menyelamatkan kami. (2 Tawarikh 20:9)

Sumber Kesaksian:
Nita Pelamonia (jawaban.com)