Category Archives: Luka Batin

Lahir Sebagai Tuna Rungu

Waktu aku masih kecil, berbaur sama dengan teman-teman yang bisa mendengar. Aku lihat teman-teman bisa ngomong terlalu cepat. Aku cuma bisa diam, nggak bisa sama mereka….

Orang tua Shianne mengingat masa ketika putrinya masih kecil. Waktu suami istri itu tengah bermain bertiga dengan putri mereka. Saat itu ada hujan deras yang diiringi halilintar yang begitu besar. Pintu depan tiba-tiba tertutup karena angin yang membuat suami istri itu begitu kaget dibuatnya. Tapi Shianne tidak kaget sama sekali. Ia diam saja. Dari situ mereka mulai curiga…

Dokter mengatakan bahwa Shianne tidak bisa diobati sehingga akhirnya iapun disekolahkan di SLB B Pangudi Luhur. Disana, ia dan anak-anak tuna rungu lainnya diajarkan untk berkomunikasi dengan membaca gerakan bibir. Prestasi Shianne sama sekali tidak mengecewakan. Beberapa prestasi pernah ia capai, antara lain dalam bidang olahraga. Kepala Sekolah, Bapak Anton M. Fic ikut mengkonfirmasi bahwa Shianne adalah seorang pemain basket yang tangguh, dan seorang juara lari nasional dan tingkat DKI.

Aku ingin mencari pengalaman atau wawasan lebih luas lagi, ke sekolah umum. Soalnya kalau sekolah SLB B, bisa cuma itu saja, tidak bisa berkembang karena bergaul sama teman-teman tuna rungu. Kalau sekolah umum, bisa bergaul sama semuanya.

Hal itu terwujud bagi Shianne. Namun saat ia baru masuk SLTP di sekolah umum, Shianne tidak hanya harus belajar mengatasi hambatan saat harus menerima pelajaran, tapi juga hambatan dalam pergaulan.

Saat aku berkumpul sama teman-teman yang bisa mendengar, mereka sangat sering melupakan aku, meninggalkan aku. Mereka ngomong terus, bercanda. Aku tidak mengerti apa yang mereka omong. Aku diam saja, sedih. Aku bertanya sama Tuhan, kenapa aku dilahirkan tuna rungu? Yang lain bisa mendengar…..kenapa terjadi kepada aku, bukan sama orang lain? Kenapa harus aku? Aku iri sama teman-teman, bisa bermain, bisa ngobrol.

Demi kepentingan anaknya, ibunda Shianne meminta putrinya untuk tidak perlu kuliah. Karena banyak sarjana yang menganggur. Apalagi seorang anak tuna rungu yang cacat. Ibunya menyarankan untuk ikut kursus biasa saja. Tapi Shianne berpikiran lain.

Aku tidak berminat, karena aku tidak mau disamakan kebanyakan teman-teman tuna rungu, kursus. Pokoknya aku ingin sama seperti teman-teman yang bisa mendengar, bisa kuliah. Aku ingin membuktikan diri apakah aku bisa seperti mereka. Aku pernah baca Alkitab, ada mujizat. Mungkin bisa terjadi kepada aku tapi tidak tahu kapan waktunya. Tapi aku menunggu jawaban dari Tuhan, sampai kapan aku mendengar.

Saat ini, dengan bakat dan tekad yang ada padanya, Shianne kuliah di Jurusan Design Interior di salah satu universitas swasta di Jakarta. Walaupun masih harus beradaptasi, namun berkat usahanya, serta dukungan keluarga dan teman-temannya, Shianne dapat mencapai prestasi yang cukup tinggi.

Terimakasih Tuhan sudah memberi jalan yang benar saya dan beberapa rencana yang tidak terduga. Terimakasih Tuhan sudah memberi orang tua yang baik, sayang sama aku. Dan teman-teman yang mau berteman sama saya.

Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang Amsal 24:14

Sumber Kesaksian:
Shianne Tugiman (jawaban.com)

Nyaris Aku Bunuh Diri

“Saya melihat anak saya yang nomor tiga itu nggak bisa…nyuapin pun saya nggak bisa. Nyuapin salah-salah terus, ke telinga, ke mata…saya sering nyuapi sembari menangis…sedih karena nggak bisa nyuapin sendiri…”

Semasa kecil, Endang pernah terjatuh dari ketinggian dengan cukup keras. Dan karena kejadian itu, semakin Endang beranjak dewasa penglihatannya semakin menurun. Puncaknya ialah ketika Endang menikah dan mempunyai anak.

“… setiap kali saya melahirkan, maka makin bertambah menurun penglihatan saya. Tapi kesepakatan saya dan suami saya, namanya perkawinan kan ingin punya anak dan bahagia. Jadi hal-hal itu sudah kami sepakati, tidak apa-apa lah…”

Karena takut terjadi sesuatu, Endang kembali memeriksakan matanya ke dokter.

“Tapi saya dinasehati dokter itu bahwa suatu saat saya akan kehilangan penglihatan saya. Dan dokter itu mengatakan kepada saya bahwa saya tidak boleh berpikir hanya dengan emosi, dengan pikiran dan dengan perasaan saja, tapi saya harus juga berpikir peka dan nyata. “Ibu mulai dari sekarang harus mulai belajar huruf braile” katanya”.

Adalah kabar yang sangat mengejutkan bagi seorang ibu yang ketika itu harus membesarkan anak-anaknya yang masih kecil.

“Yang terlintas di pikiran saya ialah aduh, bagaimana nanti kalau saya buta? Saya bisa berbuat apa? Aduh saya bakal ngerepotin orang banyak, saya bakal ngerepotin saudara, aduh nanti suami saya sudah nggak mau lagi dengan saya…
aduh dia pasti nanti dengan orang lain dan ninggalin saya. Pokoknya hal-hal yang mencemaskan dan membuat saya kuatir dan putus asa dan membuat saya merasa saya tidak berguna lagi. Saya ketakutan sekali dan saya sangat minder, mider sekali… Saya sering diejek dan dicemooh orang… kalau di pesta misalnya saya sering makan keliru atau makan berantakan… suka ada yang cekikikan dan ketawa… saya malu!”.

Perasaan depresi yang begitu dalam mengisi hari-hari Endang, hingga suatu hari dengan pikiran yang kalut Endang mencoba mengakhiri hidupnya….Ketika silet hendak menyayat tangannya, tiba-tiba Theresia, anak Endang yang kedua menangis karena rebutan mainan dengan kakaknya. Endang tersentak dan segera lari keluar kamar menghampiri anaknya.

“Saya mendengar jeritannya, dan saya buang silet itu. Anak saya saya tubruk, saya menangis sejadi-jadinya dan saya mohon ampun sama Tuhan. Hampir saja saya melakukan kebodohan itu…”

“Beberapa minggu kemudian saya diajak melayat karena ada tetangga saya yang meninggal dunia, seorang ibu. Terus anaknya yang kira-kira umur tiga tahun datang ke jenasah itu dan jenasah itu digoyang-goyang sambil teriak-teriak “mak.. bangun mak…” berkali-kali. Saya semakin menangis dan semakin saya sadar bahwa bagaimanapun seorang ibu masih dibutuhkan oleh anak-anaknya”.

Motivasi dari teman-teman sangat membantu bagi pemulihan Endang. Lewat dukungan dari keluarga dan teman itulah semangat hidup Endang bangkit kembali. Kini sebagai tuna netra, Endang bisa menikmati hidupnya bersama orang-orang tercinta.

“Ya, walaupun saya nggak bisa sembuh secara kenyataan, tapi saya tidak menyesali…”

Anak Endang, Theresia juga memiliki perasaan yang sama: “Saya tidak pernah punya perasaan malu atau minder dengan keadaan ibu. Saya justru merasa bangga karena memiliki seorang ibu yang begitu kuat dan tabah dalam menghadapi kekurangannya itu, untuk menghadapi hidupnya”

Endangpun bersyukur. “Tuhan telah menganugerahkan suami yang terbaik bagi saya dan ayah yang baik bagi anak-anak saya dan anak-anak yang sangat baik bagi saya. Saya sungguh bersyukur. Dan saya juga bersyukur diberi teman-teman, sahabat. Semua telah diberikan kepada saya. Saya bersyukur sekali. Saya sungguh bersyukur….Saya sungguh berterimakasih kepada Tuhan. Tuhan begitu mengasihi saya”.

Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Mazmur 136:2

Sumber Kesaksian:
Endang (jawaban.com)

Wanda, Ditolak Orangtua Sendiri

Masa Kecil Wanda……

Selama saya masih kecil itu, saya dirawat sama oma dan opa saya. Saya pikir waktu itu, oma dan opa itu adalah orang tua saya. Disaat saya mulai duduk di bangku SMP, saya mulai dengar cerita dari oma saya sendiri bahwa orang tua saya ada di Jakarta.

Awalnya mulai timbul rasa dendam. Saya pikir kok saya hanya dibuang seperti itu saja. Saya mulai tumbuh sebagai anak yang kondisinya labil. Rasa minder mulai muncul. Nah disitu saya mulai merasakan bahwa saya harus mengembalikan rasa percaya diri saya dengan cara mencari orang tua.

Pertemuan dengan sang ibu

Waktu perjalanan itu saya senang banget karena mau ketemu ibu. Dengan pikiran bahwa kasih sayang seorang ibu akan segera saya dapatkan. Pas waktu ketemu itu ada papa tiri saya dan 3 adek tiri yang masih kecil, dan mama. Mulai saya peluk dia dan saya pikir ini dia mama saya yang sesungguhnya. Mama mulai ada perhatian kepada saya secara pribadi. Tapi setelah satu dan dua minggu didalam suasana rumah itu saya mulai rasakan ada yang kurang. Saya merasa tertekan dan sangat tidak nyaman dengan kondisi di rumah

Saya mulai berpikir kenapa saya dibedakan dari adek-adek saya yang lain. Sampai titik tertentu saya mulai tidak kuat sehingga akhirnya saya pergi dari rumah. Saya berpikir, saya di Jakarta harus hidup sama siapa? Sementara mama saya sendiri tidak memberi uang pada saya. Saya sempat pikir kalau keluarga saya seperti ini, kenapa saya tidak melakukan hal yang lebih parah saja? Mungkin saya bisa jual diri! Intinya agar saya bisa melampiaskan emosi saya, dengan melakukan hal-hal itu. Tapi nggak tahu kenapa, ada saja halangan yang membuat saya tidak bisa melakukan hal seperti itu.

Mendapat tempat tinggal baru

Margaretha (tante): Dia diantara oleh om-nya ke rumah saya di Cililitan, dan mereka menitip Wanda dirumah saya. Jadi walaupun saya hidup pas-pasan, tapi saya mau dia tinggal di rumah. Saya lihat tidak pernah ibunya bertanya pada saya keadaan Wanda itu seperti apa. Jadi Wanda itu tinggal dengan saya kurang lebih 12 tahun. Disitu, Wanda juga punya kerinduan untuk mencari papanya.

Mencari jejak sang ayah

Pas pulang ke Menado diakhir tahun 2000, saya mulai cari informasi. Dan melalui berbagai informasi yang saya dapatkan dari saudara-saudara akhirnya saya berangkat ke Jogya dengan ditemani seorang teman saya. Di sana kami berhasil menemui salah seorang saudara kandung ayah saya. Saya menyatakan kerinduan saya untuk bertemu dengan ayah saya. Dari Oom saya itu, saya mendapatkan informasi bahwa ayah saya ada di Pemalang dan sudah berkeluarga lagi. Namun mereka tidak bersedia memberitahukan nomor telepon ayah kepada saya. Akhirnya kami kembali ke hotel lagi.

Setibanya di hotel, saya berdoa “Tuhan, saya sudah datang jauh-jauh untuk bertemu dengan ayah. Meskipun dia tidak pernah mencari saya selama ini. Meskipun secara materi dia tidak pernah memenuhi kebutuhanku. Tapi saya rindu untuk bertemu dengannya. Kalau Tuhan izinkan, saya tidak tahu bagaimana caranya, saya ingin ketemu dengan ayah saya, Tuhan.” Kemudian kamipun kembali lagi ke Jakarta dengan tangan hampa.

Kejutan dari sang ayah

Beberapa hari setelah saya sampai di Jakarta, seseorang yang belum pernah saya dengar suaranya sebelumnya menelepon saya. Ketika saya bertanya siapa ini, beliau tidak memperkenalkan namanya. Namun dia mengenal saya dan bertanya gimana khabar saya sambil berkata, “Wanda kemarin ke Jogya yah?” Akhirnya saya tiba-tiba seperti tersadar bahwa yang sedang berbicara dengan saya itu adalah ayah saya. Rupanya Oom saya yang tinggal di Jogya itu memberitahukan nomor telepon saya kepada ayah. Perasaan saya waktu itu senang, namun saya bingung harus ngomong apa, mulai dari mana dan harus memanggil apa? Kemudian saya panggil dia dengan sebutan “Bapak.” Pembicaraan kami hanya singkat saya waktu itu.

Singkat cerita kami bertemu November 2002 di Jakarta. Dia bilang dia minta maaf karena tidak bisa membiayai saya, untuk apa yang menjadi kebutuhan saya. Dia mulai bercerita latar belakang mengapa bisa begitu. Ada juga latar belakang perbedaan agama juga. Mereka tidak direstuin oleh masing-masing kedua belah pihak. Pas pulang dia bilang “kamu nggak usah cari saya lagi”. Pesan itu menambah luka dihati. Bukannya dia menguatkan saya, dia malah membuat saya drop banget.

Ayah menolak, ibu mengecewakan

Waktu itu mama minta maaf sama saya karena muncul dari mulut saya kata “mama”. Kita berdoa bersama-sama dan dia sampai menangis dan memeluk Wanda dan minta maaf. Tapi selanjutnya yang saya lihat, dia tidak pernah lagi memperhatikan. Pernah ke rumahnya di Pondok Gede, pintu tidak dibukakan padahal dia ada didalam.

Saya pikir, lho bukannya mama sudah masuk ke pelayanan? Kok bisa begitu lagi? Itu bikin aku sakit banget. Yang lebih menyakitkan saya waktu saya sakit. Om saya kasih tau ke mama saya bahwa saya sakit. Tapi dia tidak datang. Itu jadi trauma banget sama saya, kenapa lagi dia seperti itu. Diluar, dia juga tidak pernah anggap Wanda anaknya. Dia selalu katakan bahwa Wanda itu keponakannya.

Apa reaksi terakhir Wanda?

Hal yang tidak pernah terlintas di dalam pikiran saya. Tuhan memelihara kehidupan saya dengan cara yang luar biasa. Meskipun saya tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibu saya, namun Tuhan mengasihi saya dengan kasih yang sempurna. Sampai hari ini hidup saya dipelihara Tuhan. Tuhan punya rencana dan tujuanNya di dalam hidup saya. Kalau papa bisa ke Jakarta, kita rindu bertemu dengan dia supaya bisa saling memaafkan satu sama lain. Masa lalu biar jadi masa lalu. Saya rindu kita kumpul bersama walau mereka sudah punya keluarga masing-masing. Saya hanya rindu kita saling memaafkan satu sama lain. Itulah kerinduan saya.

Mazmur 27:10 “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku”

Sumber Kesaksian:
Wanda (jawaban.com)

Tuhan, Mengapa aku buta?

Ketika lahir keberadaan Rahel Stefanie tidak berbeda seperti layaknya anak-anak normal lainnya. Namun mulai menginjak usia 6 tahun, terlihat tanda-tanda yang tidak beres pada penglihatannya. Berbagai usaha telah dilakukan oleh orang tua Rahel, namun penglihatan Rahel terus memburuk.

Yulia Halim (Ibu): Saya coba bawa ke dokter di Sukabumi, tapi dokter juga bilang dia nggak tahu apa penyakitnya, dan dianjurkan bawa ke Jakarta.

Sudah banyak dokter yang mereka kunjungi tapi tidak ada penjelasan bagaimana Rahel bisa diembuhkan.

Yulia Halim: Sampai terakhir ada satu dokter yang bilang bahwa anak ini menuju kebutaan.

Hasil pemeriksaan dokter membuat orang tua Rahel sangat terpukul.

Piddy Halim (ayah): Saya mengalami suatu beban yang begitu berat. Saya mengalami stress. Jadi sejak waktu itu selama kurang lebih 3 bulan saya mengalami depresi yang berat sekali.

Yulia Halim: Saya rasa, orang tua mana yang mau punya anak cacat. Waktu itu saya sama papinya Rahel sempat shock. Waktu itu kita nggak bisa bilang apa-apa. Kita cuma bisa bisa nangis karena memang cukup berat, ya…. Ini menghadap kebutaan.

Dokter menyarankan Rahel bersekolah di SLB. Namun orang tua Rahel bersikeras menyekolahkan Rahel di sekolah normal. Akhirnya, Rahel bersekolah di SD swasta terbaik di Sukabumi. Namun gangguan penglihatan yang dialami oleh Rahel sangat mengganggu aktivitasnya di sekolah.

Rahel: Ya waktu SMP karena penglihatan saya makin lama makin menurun dan sikap teman-teman juga kadang-kadang yang buat saya sedih karena kalau saya minta tolong bacain juga mereka ada yang keberatan. Saya berusaha sebisa mungkin saya nggak kelihatan tuna netra. Tapi malah hal itulah yang membuat saya menjadi merasa lain sendiri. Saya pasti cerita sama Tuhan: Tuhan kenapa Tuhan ijinin Rahel seperti ini, sementara Rahel juga kan pengen seperti teman-teman lain. Pengen bisa bergaul, ya apalagi waktu ABG, pengen punya pacar, dilirik cowok….

Memasuki masa SMU, Rahel mulai bisa menerima kondisinya dan kepercayaan dirinya mulai bangkit. Rahel tidak lagi hidup dalam kesendirian walau penglihatannya semakin menurun.

Rahel: Waktu itu Rahel punya satu ayat, yang Rahel juga dapat dari teman Rahel, yang bilang begini: “Murid-murid Yesus lagi jalan dan melihat orang buta dan bertanya sama Tuhan Yesus, Tuhan, kenapa dia buta? Apakah ini dosa orangtuanya, ataukah dosa dirinya sendiri jadi dia buta? Tapi Tuhan Yesus berkata bukan dosa siapa-siapa, melainkan ada pekerjaan Tuhan yang akan dinyatakan dalam dirinya’ Itu yang buat Rahel kuat.

Tahun 1999, Rahel melanjutkan sekolahnya di Universitas Atmajaya. Selama kuliah dia belajar dengan menggunakan tape recoder. Akhirnya, 4 tahun kemudian Rahel berhasil menyelesaikan kuliahnya dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Tanpa diduga pada saat itulah Tuhan menjawab doa Rahel. Rahel mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai operator telepon. Bahkan melalui kehidupannya, Rahel membawa suatu perubahan ditengah keluarganya.

Piddy Halim: Ya jelas, karena melalui Rahel itu, saya khususnya pribadi begitu juga dengan ibu saya, bisa menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan saya lihat kehidupan Rahel, dia selalu menomorsatukan Tuhan. Dia itu hidup bersandar kepada Tuhan.

Yulia Halim: Saya nggak pernah malu punya anak yang nggak bisa lihat. Saya ama papinya bangga punya anak kayak Rahel. Walau anak ini nggak bisa lihat, banyak kelebihan-kelebihan yang Tuhan kasih sama anak ini.

Rahel: Meskipun sampai saat ini Tuhan belum sembuhkan mata Rahel secara fisik, tapi yang paling Rahel syukuri, Tuhan telah menyembuhkan dan mencelikkan mata hari Rahel lebih dulu sehingga sekarang Rahel bisa lihat betapa baiknya Tuhan dan betapa indahnya rencana Tuhan dalam kehidupan Rahel.

Yohanes 9:2-3 “Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?. Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia”.

Sumber Kesaksian:
Rahel Halim (jawaban.com)

Bertahan Bersama Sauh yang Kuat

Rumah, satu tempat yang aman dan perlindungan yang nyaman. Hal inilah yang diharapkan dan dirasakan oleh Andrea Roberts dan putranya Kevin saat mereka pindah ke rumah baru mereka di Richmond, Virginia bulan Juli 1996. Namun hanya dalam beberapa hari rasa aman itu harus terguncang oleh kekerasan.

Saya baru pindah sekitar 4 hari dan ketika sedang membersihkan rumah, bel pintu depan berbunyi. Saya bertanya : “Apa yang bisa saya bantu?”, dan pria itu berkata : “Saya bekerja di lingkungan ini, mungkin anda tertarik jika saya membereskan halaman anda”. Saat itu perasaan saya mengatakan untuk menjawab “tidak’. Tetapi pria ini memaksa dan mengatakan bahwa dia sudah bekerja sekian lama di wilayah tersebut. Akhirnya saya katakan dia boleh bekerja dengan upah 10 dollar. Pria tersebut setuju dan mulai membereskan daun-daunan serta membersihkan halaman.

Pada siang harinya, saya masih tinggal di rumah dan tengah membersihkan rumah ketika bel kembali berbunyi, yang menekan ternyata pria tadi. Ia berkata : “Anda sudah meminta saya membereskan halaman anda”. Saya katakan saat itu bahwa suami saya yang akan membereskan sisa pekerjaan lainnya. Semua itu saya katakan hanya sebagai alasan baginya. Pria itu mengatakan jika saya tertarik untuk mempekerjakan dia kembali maka dia akan datang, pria ini meninggalkan nama dan telepon yang bisa dihubungi. Kemudian pria ini pergi untuk kedua kalinya.

Setelah pria tersebut pergi, Andrea mengalami pengalaman yang tidak terlupakan.
Saya sedang bekerja dengan komputer, dan ada suara kecil dalam diri saya : “Andrea kunci pintumu!”. Saya merasakan begitu jelas, begitu kuat. Saya masih mengetik dan saya berkata dalam hati bahwa saya dalam keadaan baik-baik saja. Saat itu putra saya tengah bermain di luar rumah. Saya melanjutkan mengetik dan suara kecil itu semakin kuat : “Andrea, kau sangat perlu untuk mengunci pintumu!”. Saya berhenti mengetik dan melihat ke sekeliling. Kembali saya merasa baik-baik saja. Saya membiarkan pintu tidak terkunci dan kami belum lama tinggal disana. Saya tidak ingin mengunci pintu sementara putra saya berada diluar rumah.

Bel berbunyi kembali, Andrea keluar dan akan membuka pintu.
Kali ini saya pergi kedepan dengan perasaan ragu. Saya membuka pintu dan sepertinya badan saya bersiap menghadapi sesuatu. Ternyata pria yang tadi siang dan ia mendorong masuk. Saya berkata bahwa saya tidak mempunyai uang. Ia lalu memukul saya melalui kaca di pintu, membuat saya terluka dan akibatnya darah berceceran dimana-mana. Ia merenggut rambut saya, menjambak, menarik dan kemudian memperkosa saya.

Saat dimana Andrea merasa bahwa ia akan mati, putranya Kevin yang tengah bermain basket di seberang jalan mendengar anjing tetangga menggonggong. Selama 4-5 hari terakhir saat Kevin ada disana dan ketika Andrea memindahkan dan membersihkan barang-barang, anjing tetangga tersebut tidak pernah mengganggu atau menggonggong.

Saat itu putra saya, Kevin mempunyai firasat buruk dan berlari ke rumah dengan perasaan takut yang luar biasa. Ketika Kevin menggedor pintu, pria pemerkosa berkata : “Oh itu anakmu, buka pintunya!”. Ia mendorong saya dan mencoba menangkap putra saya. Saat itulah saya mendapat kekuatan entah darimana, namun saya percaya kekuatan itu datang dari Tuhan, saya hanya berteriak : “Kevin lari!”. Hal itu ternyata menghentikan perbuatannya, pria ini berlari melewati putra saya.

Setelah satu minggu pencarian akhirnya polisi berhasil menangkap pria yang memperkosa Andrea. Pria ini dijatuhi hukuman penjara selama 25 tahun. Seperti wanita yang lain, Andrea berpikir ia dapat melanjutkan hidupnya secara normal. Tetapi sesungguhnya Andrea justru baru memulai pergumulan yang berat. Andrea tidak hanya menderita secara fisik, ia juga menghadapi peperangan pikiran dan perasaan yang tidak dapat disembuhkan secara medis. Sesungguhnya ia lebih terluka secara psikologis.

Saya hanya ingin memastikan bahwa saya aman. Saya menjadi sangat sensitif terhadap setiap gerakan. Saya tidak bisa tidur dan saya dalam kondisi stress dari apa yang saya bisa bayangkan. Saat itu saya menjadi sangat sakit, tekanan darah saya sangat tinggi. Ketika melalui masa itu, saya merasakan perasaan tertuduh yang dilemparkan oleh masyarakat.

Ketika orang mengetahui bahwa anda mengalami perkosaan, anda akan bertanya apa yang mereka pikirkan tentang anda. Bagaimana mereka memandang anda dan hal itu semakin menjadi beban untuk mereka yang menjadi korban. Karena anda tahu apa yang sebagian orang pikirkan, walau tidak semua orang. Mayoritas orang berpikir bahwa perkosaan adalah melulu mengenai seks padahal tidaklah demikian.

Namun ditengah pergumulan tersebut, Andrea memiliki sauh yang kuat.
Seseorang yang tidak memiliki Kristus dalam hidupnya akan menghadapi pergumulan itu dengan kekuatan sendiri dan seolah tidak akan pernah mampu melewatinya. Saya bisa berkata demikian karena jika saya bangkit untuk apa dan tujuannya apa?. Saya percaya hanya karena saya memiliki Kristus dalam hidup ini maka Ia menyatakan bahwa saya memiliki tujuan hidup dan hal ini yang menjadi faktor utama yang membangkitkan saya.

Kejadian ini menjadi kesaksian bagi mantan suaminya yang telah berpisah.
Sekalipun Andrea dan saya telah lama berpisah, namun ia tetap menjadi orang yang memberi dorongan. Saya melihatnya di rumah sakit bagaimana ia menanggung hal ini walau ia mengalami trauma yang berat. Bahkan saya melihat petugas reserse juga merasa kagum pada realita bahwa Andrea bisa bekerjasama mengungkap kasus ini. Saya melihat bagaimana ia dengan cepat mengalami pemulihan. Dan saya tahu bahwa satu-satunya penjelasan tentang pemulihan itu adalah karena hubungan pribadinya dengan Kristus.

Dengan Kristus sebagai pusat hidupnya, Andrea telah membagikan kesaksian hidupnya. Ia menerima tawaran mengisi koran lokal untuk menjangkau para korban perkosaan dan hubungan insest. Andrea juga menjadi tamu pada Oprah Winfrey Show yang membahas topik “Bagaimana mengenali datangnya kejahatan”. Bahkan Andrea kini pergi ke seluruh negara bagian untuk membagikan harapan dalam Yesus bagi para korban perkosaan. Dia juga telah menyelesaikan bukunya berjudul “Dilahirkan Untuk Hidup, Rencana Tuhan Untuk Hidup Anda”

Banyak alasan mengapa Tuhan mengijinkan hal buruk terjadi, tetapi Dia memiliki satu alasan untuk mengijinkan saya hidup. Saya percaya bahwa saya adalah suatu kesaksian yang hidup, suatu bejana yang hidup untuk membawa banyak wanita keluar dari tekanan yang mereka alami akibat korban kekerasan seksual. Dan saya pikir itulah yang menjadi satu tujuan melebihi alasan yang lain.

Allah, yang telah mengadakan pembalasan bagiku, yang telah menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku, yang telah meluputkan aku dari pada musuhku. Bahkan, Engkau telah meninggikan aku mengatasi mereka yang bangkit melawan aku; Engkau telah melepaskan aku dari orang yang melakukan kelaliman. Sebab itu aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya TUHAN, dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu. (Mazmur 18:48-50)

Sumber Kesaksian:
Andrea Roberts (jawaban.com)

Demi Balas Dendam, Kupelajari Ilmu Hitam

Tahun 1980, Jombang, Jawa Timur. Aparat desa memaksa rakyat untuk menyerahkan tanah milik mereka. Proyek cengkeh pun didirikan disana. Proyek itu berhasil, jutaan rupiah mengalir, sedang rakyat hanya menjadi buruhnya. Namun, bukan berarti rakyat tinggal diam.

“Rasa ndak rela. Perasaan itu milik kita tadinya seperti itu. Setelah dikerjakan dengan proyek, hasilnya cukup memuaskan. Yang menikmati kan bukan masyarakat. Pengusaha-pengusaha yang pendatang itu,” ujar Daud Supriyo mengawali kesaksiannya.

Masih muda, pengangguran, dan hanya bermodalkan dendam, Daud sadar akan kekurangannya. Oleh sebab itu, ia pun akhirnya meniatkan diri untuk belajar ilmu kegelapan. Ia tahu bahwa hanya dengan inilah ia dapat membalaskan perlakuan orang-orang yang akan semena-mena dengan dirinya nanti.

Di saat sedang berusaha mendapatkannya, Daud pun diperkenalkan teman dengan seorang yang bernama Muri.

“Kebetulan si Muri itu tinggal jauh dari tempat kami. Itu dia memang mempraktikan, memeragakan ilmu hitamnya. Jadi, Muri bagi saya seorang yang ilmunya tinggi, seorang yang bisa menjadi pelindung bagi sehingga saya terinspirasi untuk berguru kepada dia”

Beberapa waktu lama belajar dengan Muri, muncul dalam benak Daud untuk mencoba ilmu hitamnya kepada orang lain. Ia pun menargetkan seorang pengusaha yang ada di wilayahnya tersebut.

Tanpa perlu berlama-lama, orang itu pun menuruti apa yang Daud mau.

“Saya pada saat itu berpikir ndak ada salahnya kalau saya juga ingin menikmati hasil itu karena itu milik leluhur kami, milik orangtua kami. Jadi gak merasa saya mencuri, gak merasa saya merampok. Saya minta”

“Ya nek bersalah atau ngga, ya tidak merasa bersalah. Istilahnya dia takut. Saya juga dapat barangnya, cengkehnya, saya jual, saya dapat uangnya”

Sekali, dua kali, tiga kali, pihak perusahaan pun mulai gerah. Mereka pun meminta bantuan kepolisian setempat untuk menghentikan aksi preman Daud dan kawan-kawan.

Tanpa diduga-duga, di satu aksi penyergapan polisi, Muri yang selama ini juga turut terlibat melakukan aksi pemerasan dapat diringkus cepat. Lebih mengagetkan lagi, pengajar ilmu hitam Daud ini malah mengalami cedera karena ditembak saat hendak mau ditangkap.

“Kena tangannya, setelah itu baru diborgol dan dibawa ke kepolisian yang ada di Wonosalam. Saya menjadi ketakutan yang luar biasa. Itulah awal keragu-raguan saya pada ilmu hitam”

Daud pun kembali menjadi pengecut. Ia takut bernasib sama seperti Muri. Dengan segera, dia pun melarikan diri ke satu tempat.

Dalam pelariannya, Daud bertemu seorang pria. Pria tersebut tidak hanya baik dan mau menerima apa adanya, tetapi juga menyadarkannya dari segala perbuatan jahatnya selama ini.

Kira-kira apakah yang disampaikan oleh pria asing tersebut kepada Daud? Sederhana saja, yakni tentang dua jalan setelah manusia meninggalkan dunia ini.

“Jalan yang pertama itu kesempurnaan yaitu yang menuju surga. Lalu jalan yang kedua yaitu jalan kebinasaan, jalan menuju ke neraka. Tetapi tidak ada seorang pun yang masuk jalan kesempurnaan kalau dia berbuat dosa. Perkataan inilah yang membuat saya itu terhenyak. Pada saat itu ia hanya mengucapkan itu, setelah itu ia pergi meninggalkan saya”

“Ya terus terang selama ini yang saya lakukan itu ndak ada yang positif. Yang saya lakukan yang negatif, merugikan orang, menyakitkan orang maka kalau perbuatan saya seperti itu kan ngga mungkin saya masuk surga, pasti masuk neraka. Itulah yang membuat saya sadar. Akhirnya saya mulai melangkah, walau pun saya tidak nanti bagaimana.”

Tahap demi tahap berlalu, Daud akhirnya menemukan sebuah kebenaran. “Tuhan Yesus berkata Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup, tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”

“Ajaran yang sekarang itu mengajarkan sesuatu yang pasti, keselamatan yang pasti, hidup kekal juga pasti, masuk surga itu juga pasti. Disanalah yang mengubah hidup saya, yang negatif menjadi positif. Yang tadinya jahat, saya belajar akan kebenaran, tentang kebaikan, dan akhirnya Tuhan mengubah hidup saya menjadi orang yang tidak lagi melakukan kejahatan”

“Setelah saya mengetahui kebenaran bahwa itu salah dan itu kejahatan dan kejahatan itu adalah dosa dengan alasan apapun maka saya juga melakukan saya melakukan penyelesaian kepada orang-orang yang masih memungkinkan saya temui”

“Banyak orang yang ilmunya tinggi, banyak orang yang memiliki kekebalan yang katanya sudah teruji, toh akhirnya mereka juga meninggal”

Daud kini telah menikah, kisah lalu masa mudanya kini menjadi pelajaran bagi keluarga dan orang di sekitarnya. “Dunia itu sementara. Yang bisa diharapkan dan menjadi andalan bagi kita untuk pelindung, untuk menyelamatkan kita hanya Tuhan Yesus yang memberikan keselamatan bagi jiwa kita, dunia dan akhirat,” ungkap Daud Supriyo mengakhiri kesaksiannya.

Sumber Kesaksian :
Daud Supriyo (jawaban.com)

Mengapa Tuhan Memanggil Istri dan Anakku Berurutan

Daud adalah seorang pria yang sangat mencintai Tuhan. Dia pun mempunyai seorang istri dan dua orang anak yang juga mengasihi Tuhan. Namun rentetan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya mengubah pandangannya tentang Tuhan.

Istri tercintanya mendadak meninggal tanpa diketahui sebabnya. Belum kering tanah kuburan istrinya, putri tercintanya juga menyusul kepergian sang ibu karena terlalu sedih.

“Sama sekali saya tidak mengerti rencana Tuhan itu apa dan maksud Tuhan itu seperti apa,” ungkap Daud.

Tidak hanya mempertanyakan kehendak Tuhan, kematian putri dan istrinya ini membuat Daud mempertanyakan keberadaan Tuhan. “Terus terang saya malu terhadap adik-adik, keluarga terhadap tetangga, karena seolah-olah doa saya tidak didengar dan tidak dijawab oleh Tuhan. Akhirnya dalam hati itu tanda tanya, Tuhan itu ada atau tidak. Mujizat Tuhan itu bener atau tidak. Saya semakin tanya, saya semakin down,” ungkap Daud.

Kini Daud hidup dengan akan sulungnya, Yonathan. Semangat hidup Yonathan membuat Daud kembali bergairah dalam hidup. “Yang membuat saya masih bertahan hidup dan tetap berusaha untuk bangkit karena masih ada anak satu-satunya, namanya Yonathan,” kenang Daud.

Daud sangat kagum atas ketegaran Yonathan “Ternyata saya tidak setegar Yonathan, saya tidak sekuat Yonathan. Seolah-olah dia tidak kehilangan, seolah-olah dia itu tidak mengalami kesusahan,” kisah Daud.

Yonathan berusaha untuk tegar karena ia ingin ayahnya tidak semakin bersedih. Namun sebenarnya iapun masih merasa kehilangan sama seperti yang dirasakan Daud. Akhirnya bersama Yonathan, Daud kembali melayani Tuhan, seperti aktifitasnya ketika istri dan putrinya masih hidup. “Akhirnya saya berusaha untuk bangkit, untuk kuat, seolah-olah saya menunjukan kepada Yonathan kalau saya juga tidak mengalami kesusahan atau dukacita yang mendalam,” ungkap Daud.

Kebersamaan Yonathan dan Daud membuat mereka semakin kuat. Sampai akhirnya Yonathan membuat sebuah pernyataan yang mengejutkan Daud. Dia meminta Daud untuk menikah lagi. “Saat itu saya kaget. Kok tiba-tiba dia itu bilang seperti itu? Pikir saya dia cuma bercanda,” tukas Daud.

Bagi Daud, gambaran anak istri itu kan belum hilang untuk itu permintaan Yonathan putranya itu terkesan tidak masuk akal. Perasaan saya mereka itu belum meninggal dan masih ada di rumah, juga rasa trauma itu ya masih ada juga dalam hidup saya. Pikir saya, kalau misal memungkinkan tidak sekarang, tidak tahu kapan. Tapi saya saat itu tidak berpikir untuk menikah dulu,” ungkap Daud.

Yonathan serius dengan permintaanya. Dia terus mempengaruhi Daud untuk menikah lagi dengan alasan dia membutuhkan figur seorang ibu. Bahkan keinginan hatinya itu disampaikannya kepada jemaat tempatnya dan Daud melayani.

Teman Daud langsung menyampaikan kabar itu kepada Maria. Seorang ibu dua anak yang suaminya sudah lama meninggal. Walaupun mengaku tidak mempunyai perasaan apapun, Maria mencoba mendiskusikan perihal rencana pernikahannya kepada kedua anaknya. Diluar dugaan, anak-anaknya memberikan respon positif, maka pertemuan keluarga pun segera dilakukan.

Respon positif Yonathan terhadap Maria membuat Daud berani mengambil keputusan untuk menikah dengan Maria. Namun belum genap satu tahun pernikahan mereka, sesuatu yang buruk terjadi pada Yonathan. Penyakit aneh menyerang tubuhnya bahkan membuat nyawanya tidak tertolong lagi. Lagi-lagi, Daud harus menelan pil pahit kehilangan orang yang dikasihinya.

“Saya merasa kehilangan, saya merasa sedih, rasanya tidak kuat sama sekali,” Maria menceritakan perasaannya ditinggal Yonathan.

Kepergian Yonathan kembali membuat luka di hati Daud. Namun kali ini dia bisa melihat rancangan damai sejahtera Tuhan kedukaan yang berulang kali dialaminya. “Yonathan harapan besar saya, dalam waktu singkat dia dipanggil Tuhan. Tapi saya bersyukur walaupun seolah-olah habis semuanya, hilang semuanya, apa yang saya lakukan itu seolah semuanya sia-sia, seolah-olah saya itu sebatang kara, akhirnya toh saya juga sadar dan bersyukur kepada Tuhan,” ungkap Daud.

“Yonathan itu sebelum meninggalkan saya untuk selama-lamanya, mendorong saya, mendesak saya untuk menikah. Tapi kalau tidak, saya tidak tahu apa yang terjadi dalam hidup saya. Maka saat Tuhan ambil semua orang yang dekat dengan saya, Tuhan gantikan dengan ibu Maria. Istri yang baik, yang menghormati suami yang cinta kepada pekerjaan Tuhan. Memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan, anak-anak yang bisa menerima saya seperti ayahnya sendiri,” tambah Daud.

Tapi walaupun Yonathan sudah tidak ada, tapi kami tetap menjadi satu keluarga yang utuh. Ada figur seorang bapak, figur seorang ibu, ada anak-anak, jadi merasa lengkap,” ungkap Maria.

“Tuhan izinkan masalah, tapi Tuhan juga izinkan penyelesaiannya. Tuhan izinkan dukacita yang sangat mendalam dalam hidup saya, Tuhan mengizinkan kesusahan yang sangat mendalam dalam hidup saya, tetapi Tuhan juga gantikan, Tuhan juga sediakan penghiburan, kekuatan, dalam hidup saya,” Daud mengakhiri kesaksiannya.

Sumber Kesaksian :
Daud (jawaban.com)

Dendam Membara Dalam Diri Evertandus Terhadap Ayahnya

Sedari kecil, Evertlandus Louputty sering sekali dimarahi ayahnya. Ayahnya suka melampiaskan kemarahannya untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Pernah di dalam ingatan Evert, ayahnya makan nasi yang mungkin kurang matang. Dia pun marah kepada ibu Evert. Evert melihat bagaimana ayahnya memasukkan muka ibunya ke dalam tempat nasi sambil berkata, “Nih, rasain sendiri…” kata ayahnya.

Evert mencoba menarik tangan ayahnya, namun ayahnya malah balik memarahinya, Evert dan ibunya dipukul oleh ayahnya. Kemudian, semua makanan yang ada di meja tidak boleh dimakan, semua makanan itu kemudian dibuang oleh ayahnya. Kejadian itu membawa luka batin di dalam diri Evert. Selain itu, ayahnya memang tidak pernah ada di rumah. “Lebih baik dia ga ada deh, kalau nggak, semuanya dia bikin sakit,” kata Evert.

“Saya terus tanam di dalam diri saya, suatu hari akan saya balas, suatu hari akan saya balas,” kata Evert. Setiap pukulan yang dia terima, dia telan begitu saja. Dia hanya bisa pendam di dalam hatinya.

Evert pun beranjak dewasa dan memasuki masa SMA. Suatu ketika, saat dia dan teman-temannya yang lain sedang bermain basket, bola basket tersebut mengenai dua orang murid lainnya yang sedang lewat. Salah satu di antara mereka ternyata membawa celurit. Bola basket itu pun dipotong jadi dua. Tentu saja hal ini membuat Evertlandus marah sekali.

“Anak baru sudah songong (sombong, red) ya…” kata anak itu kepada Evert. “Mentang-mentang dia orang lama, dia pikir saya takut kali…” tutur Evert. Lalu, Evert mengajaknya berantem dengan tangan kosong. Melihat keberanian Evert, teman-teman sepermainan basketnya sudah siap bertempur. Lawannya sendiri, dengan alasan malas, tidak mau berantem. Namun, ketika lawannya pergi, Evert mengejarnya dan langsung memukulnya. Hal itu akhirnya kedengaran oleh satu sekolah, bahwa preman di sekolah itu dipukuli oleh anak kelas 1 (Evert, red).

Sejak saat itu, Evert didaulat jadi preman nomor satu di sekolah itu. Pengeroyokan dan tawuran jadi hal yang biasa baginya. Jika lawan menggunakan besi, Evert dan teman-temannya yang hanya mengandalkan tangan, kemudian akan memakai alat apa saja yang ada di sekitar kejadian. Tidak hanya guru, kepala sekolahnya pun tidak ada yang berani melerai Evert ketika berkelahi.

“Saya melampiaskan semua yang tidak bisa saya lakukan di rumah tapi di luar saya lampiaskan semuanya, dengan pukulin orang, tawuran. Saya menganggap bahwa semua orang itu ayah saya.” cerita Evertlandus tentang masa remajanya.

Pernah suatu hari ketika Evert pulang dari sekolah, dia mendapati ayahnya memarahi ibunya, bahkan memukulnya. Melihat kejadian itu, Evert begitu marah, dia melempar botol bir yang ada di meja ke dinding dan menantang ayahnya. Ibunya yang ketakutan, meminta Evert untuk tidak pulang dulu karena ayahnya masih mengamuk.

Di kesempatan lain, Evert melihat ayahnya selingkuh dengan wanita lain dan menyia-nyiakan ibunya. Evert pun langsung mengambil golok dari rumahnya dan menunggu di tengah jalan. Dia melihat ayahnya begitu mesra memeluk wanita tersebut. Amarah begitu berkobar dalam hati Evert dan dia ingin membunuh mereka.

Namun, entah kenapa, di saat-saat seperti itu Evert teringat akan perkataan neneknya. Neneknya pernah berkata bahwa sejelek-jeleknya sang ayah, dia tetaplah seorang ayah. Itu yang membuatnya tidak sampai hati untuk membunuh. Akhirnya, Evert pulang, menaruh golok, dan menunggu sampai ayahnya pulang ke rumah.

Ketika ayahnya pulang, Evert langsung membentaknya, “Ngapain di tengah jalan peluk-pelukan?” tanya Evert kepada ayahnya. Dan dengan seenaknya sang ayah menjawab, “Itu bukan urusan kamu, kamu cuma anak kecil. Masuk sana,” kata sang ayah. Mendengar perkataan ayahnya tersebut, Evert langsung menantangnya berkelahi dan perkelahian pun tak dapat dihindarkan antara anak dan ayah. Sang ibu melihat mereka dari depan rumah dengan risau.

Di tengah perkelahian, teman-teman Evert datang dan melerai mereka. Semenjak saat itu, Evert benar-benar jenuh hidup bersama ayahnya, dia pun memutuskan untuk keluar dari rumah. Sejak saat itu sampai dia beranjak dewasa, minuman keras dan narkoba yang menjadi temannya.

Di tempat inilah, Evert merasakan sedikit kebahagiaan dengan seorang wanita. Pada awalnya, Evert ke klub malam hanya untuk minum. Suatu hari, ada seorang wanita yang datang mendekatinya. “Kenapa ga melantai?” tanya wanita itu kepada Evert. “Nggak, saya hanya datang untuk minum.” jawab Evert. Mereka pun mulai berkenalan. Dan malam itu, wanita tersebut meminta Evert untuk mengantarnya pulang. Dan di situlah hubungan intim itu pertama kali terjadi.

Evert merasa senang-senang saja, karena dia tidak perlu membayar. Dan dari situlah, hubungan itu pun terus berlanjut sampai setahun. Setelah itu, Evert mencoba mengubah hidupnya dan menikahi wanita baik-baik. Tetapi pernikahan itu dia jadikan kedok untuk menutupi bisnis haramnya, yaitu transaksi ganja. Namun, akhirnya hal itu diketahui oleh istrinya.

Berkali-kali Juliet Debora, sang istri, memperingatinya agar berhenti melakukan perdagangan tersebut, namun tak digubris Evert, padahal Evert pernah berjanji untuk berhenti. Hal itu membuat Debby, panggilan istri Evert, menginginkan perceraian pada akhirnya. Sejak kata cerai dikeluarkan, Evert mencoba melunakkan hati Debby. Dia berjanji untuk tidak melakukannya lagi, namun ternyata di luar rumah Evert masih melakukan hal yang sama.

Di tengah keputusasaan, Debby mengajak Evert menghadiri sebuah kebaktian, dimana pembicaranya dari luar. Pendeta itu berkata, “Di sini ada seorang laki-laki yang seorang drug addict yang datang bersama istrinya…” kata pendeta itu. Saat mendengar perkataan itu, Evert berkata dalam hatinya, “Itu bukan saya, itu bukan saya…” sampai pembicara itu menunjuk dirinya untuk maju.

Evert pun maju dan didoakan. Istrinya hanya bisa berharap bahwa Evert bertobat dan berhenti dari pekerjaan haramnya. Malam itu, Evert meminta pertolongan dari Tuhan. Dia meminta Tuhan untuk melepaskan dirinya dari rokok, minuman keras, ganja, dan obat-obatan terlarang lainnya. Evert berdoa dari pukul 12 malam sampai jam tiga pagi di hari itu.

Di pagi hari, ketika temannya meminta rokok, Evert langsung memberi semua rokok yang ada padanya. Ketika Evert menghirup rokok tersebut, dia langsung merasa pusing. Hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Sejak saat itu, Evert tahu bahwa Tuhan sudah lepaskan. Dia tidak punya keinginan untuk rokok, minum, maupun menghisap ganja.

Evert pun ingin berdamai dengan ayahnya. Dia datang ke rumah yang pernah menjadi rumahnya. Dia bertemu sang ayah dan sambil memegang tangannya Evert meminta maaf. Di saat itu juga, ayahnya meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah dilakukannya. Mereka kemudian berdoa bersama. Sampai saat ini, Evert terus bersyukur untuk segala yang sudah Tuhan lakukan dalam hidupnya.

Sumber Kesaksian :
Evertlandus Louputty (jawaban.com)

Karena Ayah, Aku Benci terhadap Lelaki

Sejak kecil, Roselly hidup tanpa kehadiran sang ayah yang meninggalkan keluarganya. Hidup penuh kekurangan dengan didikan sang ibu, membuatnya menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggungjawab untuk membuktikan baktinya kepada keluarga.

“Waktu kecil rindu banget pengen punya sosok seorang papa itu seperti apa. Waktu kecil itu aku mikirnya semua anak-anak didunia itu nggak punya papa, cuma punya mama yang berjuang sendirian gitu.” Itulah yang dirasakan Roselly mengingat masa lalunya terhadap ketiadaan ayahnya yang meninggalkan tanggungjawab terhadap keluarga.

Sang ayah yang dirindukannya, dahulu mempunyai peringai yang tidak menyenangkan. Ayahnya pernah selingkuh dan berlaku keras terhadap sang ibu. Bahkan sang ayah tidak memperkenankan sang ibu untuk bekerja dan hanya mengurus rumah tangga saja. Bahkan ketika sang ibu mengandung Roselly, sang ayah tidak mau mengakuinya, dan meninggalkan keluarganya.

Sang ibu pun berjuang untuk tetap menjalani hidup melaluinya jasanya dibidang salon. Roselly tumbuh menjadi wanita yang mandiri, namum mempunyai kepahitan tersendiri terhadap sosok seorang lelaki. Hingga 15 tahun berlalu, sang ayah kembali ke rumahnya.

Tentunya hal ini menimbulkan rasa yang lain didalam diri Roselly. Dirinya sulit untuk menerima kehadiran sang ayah. “Meskipun aku Cuma ditinggal, aku nggak pernah ngeliat dia, aku nggak pernah disakiti secara fisik, tapi cara pandang pola pikir aku tuh, jadi semua laki-laki pembohong dan nggak bertanggungjawab.”

Sang ibu yang melihat situasi inipun meyakinkan dirinya untuk dapat menerima ayahnya. Namun Roselly tetap sulit untuk membuka dirinya. Namun ketika dirinya melihat sikap dan hati sang ibu yang mau menerima sekaligus mengampuni sang ayah, membuatnya tersadar untuk berlaku baik. Akhirnya dirinya mulai membuka diri untuk berkomunikasi dan melakukan pendekatan dengan sang ayah.

“Papa jadi lebih terbuka, lebih mau cerita. Aku juga sebisa mungkin, apapun hal yang disenengin papa, aku berusaha untuk tahu hal itu agar bisa nyambung ngobrol dengan papa. Semakin lama papa semakin perhatian sama aku dan sama keluarga,” ungkap Roselly.

Jelang ujian akhir semester, sang ayah jatuh sakit dan koma. Disaat itulah kesusahan hati dan beban yang terpendam selama ini diutarakan disaat ayahnya terbaring dirumah sakit. Pada momen itulah Roselly melepaskan pengampunan dan rasa bangga terhadap ayahnya. Hingga sang ayah tutup usia, Roselly telah merasakan pengampunan itu.

Pikiran dan sikapnya terhadap kaum lelaki yang dianggap sebagai pribadi yang tidak layak dan sumber ketidakharmonisan, berubah seketika dikala melihat perubahan yang terjadi didalam diri ayahnya. “Aku baru tahu dan baru sadar kalau ternyata, kasih itu menutupi segala sesuatu.”

Kasih pengampunan pun dialami oleh Roselly dan juga ibunya dalam menghadapi pergumulan ini. Segala sesuatu yang berjalan tidak begitu berkenan, pada akhirnya membawa berkat dan menjadi bagian hidup yang indah untuk keluarga mereka. “Inilah keluarga paling baik yang Tuhan pilihkan buat aku, kalo aku boleh terlahir dikeluarga ini pasti Tuhan punya rencana dan di keluarga ini aku banyak belajar dari figurnya mama dari figurnya papa yang berubah dan dari kakak-kakak ku yang lain juga.”

Sumber Kesaksian (jawaban.com)

Clara Supit: Babi Lebih Berharga Daripada Saya

Terlahir sebagai anak yang kekurangan pigmen atau dikenal sebagai albino, Clara mengalami penolakan tidak hanya dari lingkungan tapi juga dari orangtuanya sendiri. Hari-hari Clara dipenuhi dengan kekerasan dan caci maki dari orangtuanya, terutama ibunya. Kedua orangtuanya sepertinya tidak bahagia dengan kehadiran Clara di tengah keluarga mereka. Bahkan dalam sebuah kesempatan, dalam kemarahannya ibunda Clara sampai terucap kata-kata, “Kalau kamu babi, sudah mama jual!” sambil memukul dan mencubiti Clara.

“Berarti babi itu lebih berharga dari saya. Orangtua selalu melihat bahwa saya itu tidak bisa berbuat apa-apa,” ungkap Clara memulai kisahnya akan masa kecilnya yang menyedihkan.

Tidak hanya dari orangtuanya, Clara juga mengalami penpolakan dari saudara maupun teman-temannya. Setiap kali bertemu dengannya, mereka berkata bahwa Clara pembawa sial.

“Hal itu membuat saya tambah minder, tambah tertolak dan semakin merasa bahwa saya tidak diterima oleh lingkungan saya,” ungkap Clara.

Tidak hanya kelainan pada kulitnya, Clara juga mengalami gangguan di matanya. Ia tak dapat melihat jauh. Akibatnya, di sekolah Clara selalu menjadi bahan olok-olokan teman-temannya karena harus bolak-balik maju ke depan papan tulis untuk mencatat pelajaran dari gurunya. Dari luar, Clara terlihat cuek atas setiap olok-olokan tersebut, namun tak ada yang tahu bahwa semua ejekan itu disimpan Clara di dalam hati.

“Saya tidak dapat berbuat apa-apa selain saya menangis. Kadang saya sempat berpikir begini, ‘Kalau memang seperti ini, lebih baik saya mati saja daripada kehadiran saya ini seperti apa yang orang maupun teman-teman bilang, kalau ketemu saya itu sial’. Sedangkan adik saya sangat dekat dengan kedua orangtua saya. Dia bisa peluk, bisa cerita, bisa enjoy dengan mama dan papa saya, sementara saya tidak bisa seperti itu. Saya cemburu dan perasaan saya semakin terluka. Kenapa saya tidak bisa dekat dengan mereka sementara mereka bisa begitu dekat dan begitu sayangnya dengan adik saya,” kisah Clara.

Kondisi ini membuat Clara menyesali hidupnya. Rasa minder yang dirasakannya itu terus berlanjut sampai Clara menginjak usia remaja. Saat berjalan di luar rumah, Clara selalu menundukkan kepalanya. Saat harus berjalan melewati orang banyak, Clara berjalan di pinggir dan menutupi wajahnya dengan rambutnya.

Situasi di sekolahpun tidak jauh berbeda. Clara seolah menjadi terbiasa setiap kali ia dijadikan bahan permainan teman-temannya. Namun sekali waktu Clara pernah melawan perbuatan teman sekelasnya karena tidak tahan dengan perlakuan mereka yang membuat seolah-olah dirinya tidak berharga sama sekali.

Sampai suatu ketika Clara diajak oleh teman yang juga tetangganya untuk mengikuti ibadah di rumahnya. Saat mengikuti ibadah itulah Clara merasakan jamahan tangan Tuhan yang luar biasa saat menaikkan pujian penyembahan. Clara kemudian didoakan seorang hamba Tuhan dari Jakarta yang memang sedang melayani di dalam ibadah tersebut.

“Air mata saya tumpah, saya menangis sejadi-jadinya. Saya tidak pernah merasakan perasaan yang seperti ini. Saat itulah hamba Tuhan itu mendoakan saya dan mulai saat itu kerinduan saya kepada Tuhan semakin menjadi, semakin tidak dapat dibendung. Akhirnya saya dipinjamkan sebuah kaset dari seorang hamba Tuhan terkenal di Jakarta. Di akhir khotbah itu, ada doa tantangan untuk terima Yesus. Tepat di bagian itu, saya benar-benar ikuti karena hamba Tuhan itu bilang ikuti doa saya,” ungkap Clara mengisahkan awal titik balik dari hidupnya.

Saat Clara mulai mengucapkan kata-kata doa tersebut, ada sesuatu terjadi dalam batinnya.

“Saya merasa sebelum saya menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi dalam hdup saya, ada bagian yang kosong dalam hidup saya, bagian yang tak dapat diisi oleh apapun juga selain pribadi Yesus sendiri. Yang menjawab kerinduan saya, yang menghibur saya di saat saya sedih. Saya merasakan ketenangan di dalam hidup saya. Ada kedamaian sekalipun keadaan di sekeliling saya belum berubah,” ujar Clara.

Rasa kedamaian itulah yang membuat Clara semakin rindu mengenal siapa Tuhan itu sebenarnya. Untuk itu, Clara pergi menuntut ilmu ke Jakarta dan di sanalah ia bertemu dengan komunitas yang baru. Komunitas rohani inilah yang kemudian membantu Clara untuk membangun kepercayaan dirinya dan meyakinkan dirinya bahwa dirinya adalah seorang yang berharga dan sangat spesial di mata Tuhan.

“Sebenarnya luka di dalam hati saya itu belum sembuh. Sampai suatu saat, kebenaran Tuhan itu saya buka. Oh, ternyata ada firman itu. Oleh karena Engkau berharga dan mulia dan Aku ini mengasihi engkau. Di situ saya tahu, ya Tuhan, ternyata saya ini berharga. Karena Tuhan yang menciptakan saya. Karena di dalam kandungan ibu saya, Tuhan yang menenun dan membentuk saya. Berarti Tuhan tidak salah menciptakan saya seperti ini. Ternyata Tuhan punya rencana atas hidup saya. Dan saking berharganya saya itu, Yesus mau mati untuk saya. Siapa saya? Tapi Dia bisa terima saya apa adanya,” ujar Clara.

Bukan kali ini saja Tuhan mengungkapkan kebenaran kepadanya. Di sebuah seminar, Clara kembali menemukan sebuah kebenaran.

“Ada satu sesi yang benar-benar mengena di hati saya dan bahkan itu adalah firman Tuhan juga yang mengajarkan kepada kita untuk bisa melepaskan pengampunan. Oleh karena itu, saya mengambil suatu langkah untuk rekonsiliasi dengan orangtua. Bukan salah orangtua saya kalau saya dilahirkan seperi ini, dengan keadaan albino seperti ini. Tapi saya sadar sekarang kalau saya diciptakan Tuhan unik,” kisah Clara.

Seiring dengan waktu, pribadi Clara berubah total. Dari pribadi yang minder, Clara berubah menjadi seorang yang penuh percaya diri. Bahkan Clara tidak sungkan membagikan kisah hidupnya kepada orang lain dan menjadi seorang motivator.

“Kasih yesus itu kasih yang luar biasa. Kalau kasih manusia itu kasih yang bersyarat. Saya meggasihi kamu karena kamu anak baik, bahkan orangtua pun bisa seperti itu. Tapi kalau kasih dari Tuhan, kasih tanpa syarat. Dia mengasihi saya apa adanya. Dia menerima saya apa adanya. Sebagaimana saya sudah dijadikan, sudah dilahirkan seperti ini, Yesus terima saya apa adanya,” ujar Clara menutup kesaksian hidupnya.

Sumber Kesaksian :
Clara Supit (jawaban.com)