Category Archives: Kisah Sukses

PERJANJIAN DENGAN SETAN HANYA SESAAT NIKMATNYA

AKU adalah seorang programmer , aku kuliah disalah satu STMIK terbaik di kota ku. Kota ku hanya kota kecil tetapi maju. Hidup ku dari nol, saat kuliah aku bekerja, karena aku hidup hanya bersama ibu ku dan 2 orang adikku.

Saat aku lulus kuliah aku mulai bekerja bersama temanku membangun software house, aku memasarkan hingga ke plosok kota dan desa2. Rencana ini akhir nya berhasil, hingga kita bisa membeli motor masing-masing.

Tetapi kisah baik dan senang berakhir semuanya karena nafsu dan keserakaan dari kedua pihak, akhirnya kita bentrok dan saling menjatuhkan. Saya pun jalan sendiri mencari sesuap nasi, meranggkak akhirnya akupun sukses melanjut kan usaha software tersebut. Sayang ya aku terjerumus dengan obat2 an dan wanita… aku haus akan segala kenikmatan itu, aku terlalu dalam hingga saat ini susah melepaskan…

Aku sedikit demi sedikit meninggalkan gereja ku, sampai sekarang aku tidak pernah kegerejaku selama 5 tahun.

Aku mulai kembali lagi ke greja terasa sulit bagiku untuk hidup didalam kesesakan dan kecanduan ini … tetapi aku nyakin didalam kerinduan Tuhan akan memberikan kesempatan kepada saya untuk mengulang dan bertobat…

Ternyata kekayaan yang kita miliki dari tempat yang tidak semestinya adalah kekayaan yang tidak Nikmat, kekayaan yang semu.

Tuhan ampunilah keluarga ku, dan jadikanlah aku hidup yang baik, takut akan ENGKAU ya TUHAN ku.

Aku mau kembali hidup menurut ajaran MU amin.

Sumber Kesaksian: NN

Susanti Kartiningrum Rintis Usaha Bridal dengan Air Mata

Susanti Kartiningrum seorang pengusaha bridal yang sukses, namun tidak ada yang menyangka perjuangan kerasnya berawal dari kerasnya kehidupan di masa lalunya.

Kisah Susanti bermula ketika dia dan kakaknya harus tinggal di panti asuhan karena ayah mereka mengalami kebangkrutan. Susanti yang saat itu masih kecil harus menelan air mata dan menahan kepedihan karena kehilangan kasih sayang. “Pada waktu seperti itu, tidak ada dekapan rasa nyaman, tidak ada kasih sayang, tidak ada yang dekap saya. Sehingga saya merasa saya hidup sendiri,” ungkap Susanti.

Pedihnya hidup 15 tahun di panti asuhan harus ditambah dengan pahitnya kemiskinan yang dialaminya. Hal itu membuat Susanti bertekad untuk keluar dari kemiskinan. “Saya tidak mau hidup miskin lagi, nanti kalau saya sudah besar saya mesti (harus) berjuang, saya mesti bekerja, pokoknya saya mau hidup layak. Saya nggak mau hidup miskin dan minta-minta orang lagi,” ujarnya.

Keinginan Susanti untuk keluar dari kemiskinan membuatnya menjalani berbagai pekerjaan dari staff administrasi di rumah sakit, hingga menjadi seoragn guru. Namun dari berbagai pekerjaannya, ada satu pekerjaan yang membuatnya jatuh cinta.

“Nggak tahu saya bisa suka sekali sama hal-hal yang berhubungan dengan kecantikan. Dan saya merasa saya bisa. Ada satu keberanian-keberanian, yang muncul begitu saja secara otodidak. Ternyata saya itu hobi,” ungkap Susanti.

Disitulah awal tekad Susanti untuk merintis usaha salon di Semarang yang diberinya nama “Kezia”. Ia pun menikah dengan kekasihnya dan dianugerahi dua orang anak laki-laki yang sangat dikasihinya. Namun indahnya bahtera pernikahan tidak lama dirasakannya.

Pertengkaran demi pertengkaran terus mereka lalui. Takut merusak perkembangan jiwa anak-anaknya, Susanti memutuskan untuk berpisah dari suaminya. “Saya nggak mau masa lalu saya terulang kembali dalam hidup anak-anak saya. Saya nggak mau mereka hidup dalam kekerasan. Saya berpikir lebih baik saya mengayomi anak-anak saya sendiri,” kisah Kezia tentang awal perpisahannya dengan suami.

Perpisahannya dengan suami ternyata membuat Susanti semakin tertekan dengan keadaan. “Keaadan itu menekan saya, terutama pandangan masyarakat dan itu sangat memukul perasaan saya,” ucapnya.

Pertentangan batin mulai dirasakan Susanti. Hatinya kelu dengan peristiwa-peristiwa buruk yang menimpa hidupnya. “Kok Tuhan bisa mengizinkan hal ini terjadi? Kok rasanya nggak adil, karena saat itu saya berpikir saya sudah melakukan semua hal yang baik,” ungkap Susanti.

“Saya sudah berkorban untuk keluarga saya, saya juga sudah bantuin banyak hal, saya sudah didik anak-anak saya, pokoknya saya sudah lakukan banyak hal untuk keluarga saya! Tapi kok akhirnya saya begini, saya jadinya kecewa,” tambahnya.

Kekecewaan terus memenuhi hati Susanti, hingga suatu hari seorang teman menelponnya. Dari teman itulah Susanti kembali mendapat penguatan, ia pun disarankan untuk melepaskan pengampunan untuk orang-orang yang telah menyakiti hatinya. Susanti kemudian bertekad untuk keluar dari bayang-bayang kekecewaannya selama ini.

“Saya berjuang setengah mati untuk mengambil keputusan mengampuni. Pada waktu itu saya berteriak, saya bilang: ‘Tuhan, oke saya ampuni!’ Tiba-tiba ada damai sejahtera dan tidak pernah saya alami dan saya mulai kuat lagi,” ungkap Susanti menceritakan lahirnya kembali pengharapannya.

Sikap Susanti bahkan membuatnya mempunyai kerinduan untuk dapat bersatu lagi dengan suaminya. Hal itu langsung diungkapkannya dalam doa. “Tuhan okelah suatu hari, kalau dia sudah tua nanti saya akan rawat dia. Saya akan tetap merawat bapak dari anak-anak saya,” ungkapnya.

Berbekal dengan sisa uang tabungannya, Susanti mencoba mengadu nasib di Jakarta dengan membuka usaha serupa. Namun lagi-lagi, Susanti belajar bahwa hidup tidak semudah bayangannya. Ia pun sempat merasa depresi dan kembali mempertanyakan Tuhan. “Saya nangis kepada Tuhan, ‘Tuhan ini apa, kok saya jadi seperti ini? Apakah saya salah? pokoknya Tuhan harus jawab dan buat saya sampai mengerti mengapa ini bisa terjadi,’” Susanti galau.

Namun Susanti mendapat sebuah pencerahan. “Setiap hidup itu adalah proses, Tuhan bilang serahkan semua yang ada pada hidup kamu kepada Saya,” kisahnya.

Pencerahan ini membuat Susanti makin bersemangat. Kini dia menyerahkan usahanya itu kepada Tuhan, dan Tuhan pun menunjukan kuasa-Nya. “Pada waktu saya nggak ada uang mau bayar tagihan besok gitu, saya bilang sama Tuhan gini, ‘Tuhan, usaha ini milik Tuhan. Tuhan kasi berkat yaa’,” kisahnya.

Doa sederhana itu membawa sebuah mujizat. Pada malam hari ada orang yang ingin melihat koleksi gaun pengantin miliknya. Susanti melayani pengunjungnya itu dengan ramah, dan akhirnya sebuah gaun rancangannya laku terjual. Dari uang inilah Susanti mampu membayar tagihannya esok hari.

“Saya ngerti sekali bahwa ini bukan kebetulan, tapi ini mujizat yang Tuhan buat dalam diri saya. Sejak hari itu saya bisa melihat, kebaikan-kebaikan Tuhan itu beruntun dalam kehidupan saya. Jadi saya percaya bahwa hidup kita bener-bener dipelihara. Sejak itu saya makin beriman, makin mengerti dan nggak takut,” ungkap Susanti.

Usaha Susanti pun semakin maju. Dari Mangga Besar, Kezia Bridal pindah ke Kelapa Gading dan semakin berkembang. Namun di saat yang sama, Susanti mendapat kabar bahwa suaminya jatuh sakit dan membutuhkan dukungan dari keluarga.

“Ada suara gitu di hati saya, sepertinya Tuhan ngomong ‘Ini waktunya Nak kamu tolong dia (suami Susanti)’. Yaa saya mau taat aja, saya telepon anak saya dan beri tahu bahwa ini adalah yang Tuhan mau. Jadi apa yang mama lakukan adalah yang Tuhan mau,” kisah Susanti.

Keputusan Susanti untuk menerima suaminya kembali semakin melengkapi kebahagiaan keluarganya. Dan dari semua pengalaman yang ia alami, Susanti mendapat banyak pelajaran berharga. “Berubahlah, saya banyak berubah. Kalau mungkin dulu keras, gampang tersinggung, gampang marah, saya lihat sekarang saya mungkin sudah tidak seperti itu lagi. Saya sudah terbiasa, menjadi gaya hidup untuk kita mengampuni orang lain,” ungkap Susanti.

“Hidup itu perlu diperjuangkan, tapi dengan siapa kita berjuang itu masalahnya. Kalau kita berjuang bersama Tuhan Yesus, nggak ada sesuatu pun yang kita tidak bisa capai. Pasti bisa!” tambah Susanti.

Kisah hidup Susanti ini pun menginspirasi keluarganya. “Pelajaran hidup yang bisa saya ambil dari mama adalah, dia benar-benar bergantung terhadap Tuhan, menjadi contoh terhadap anak-anaknya, seorang yang berani dan teguh dalam melakukan segala hal. Hingga kita pun anak-anaknya belajar untuk bergantung kepada Tuhan sepenuhnya dalam segala hal,” ucap Dhani Yufisa, putra Susanti.

“Nyatanya sampai hari ini, sebagaimana saya ada sampai saat ini bukan karena kuat dan gagah saya. Tetapi karena saya tahu bahwa kesanggupan saya adalah kesanggupan Allah dalam hidup saya,” Susanti menutup kesaksiannya.

Sumber Kesaksian:
Susanti Kartiningrum (jawaban.com)

Sisi Gelap Hidup Tessa Kaunang, Finalis Gadis Sampul 1993

Pada awalnya, Tessa Kaunang hanyalah seorang gadis biasa sampai akhirnya dia menjadi finalis Gadis Sampul 1993. “Masuk ke dalam majalah, itu seru itu, seneng… banggga apalagi” kisah Tessa Kaunang tentang pengalaman barunya semasa remaja. “Waktu wajah kita keluar di majalah cover, wah kita senang banget.” katanya. Setelah menjadi Gadis sampul, Tessa Kaunang pun mencoba merambah dunia sinetron bersama teman-teman finalis Gadis sampul.

Sejak saat itu, glamor dan hedonisme adalah bagian kehidupan dari seorang Tessa Kaunang. “Mencari kesenangan dengan pergi ke clubbing, dimana semua orang, ya hampir semuanyalah yaaa minum, merokok, nge-drug, jadi ya ngikut. Apalagi waktu itu saya yang masih remaja. Lebih banyak ingin mencari tahu banyak hal. Ya coba ini deh, coba itu deh. Jadi, menurut saya di luar rumah itu jauh lebih nyaman daripada di dalam rumah, karena saya tidak pernah memikirkan rumah lagi.” jelas Tessa.

Apa yang menyebabkan Tessa malas memikirkan keadaan rumahnya? “Jadi kalau mama itu sudah cerewet, mulai ngasih tahu, papa itu masih melawan. Sampai akhirnya diomongi sedikit, marah. Marahnya bukan makin turun, tapi makin naik terus. Mereka berantem, dan berantemnya itu bukan berantem biasa. Mereka tuh sampe buat rumah itu pecah semua, sudah kayak kapal pecahlah ya…”. Tidak hanya itu, Tessa juga menyaksikan mamanya yang bertubuh kecil dipukul oleh papanya yang sedang dalam keadaan marah. Hal itu membuatnya tertekan.

Ternyata papanya jatuh dalam dosa, papanya sudah berselingkuh selama 29 tahun lamanya. Jadi, karena itulah Tessa lebih senang berada di luar rumah, karena dia bebas mau berbuat apa saja. Dia pun melakukan apapun yang dia suka, termasuk free sex. Baginya, semua itu biasa saja karena dia pun sudah punya penghasilan sendiri.

Tessa Kaunang baru naik daun pada 1999-2000 setelah melewati perjuangan panjang. Karena itu, dia sangat ketakutan jika orang lain mengetahui bagaimana kehidupan keluarganya sesungguhnya ataupun kehidupan pribadinya sendiri.

Suatu hari, Tessa menganjurkan mamanya untuk bercerai dengan papanya. Menurutnya, biar saja sang ayah pergi meninggalkan mereka karena dia kan sanggup membiayai ibu dan dirinya sendiri. Bahkan, papanya pun boleh mengambil barang apa saja yang ada di rumah, karena Tessa yakin bahwa harta papanya di dalam rumah itu hanya sedikit. “Segitu sombongnya saya dan segitu besarnya akar kepahitan saya sama papa saya,” lanjut Tessa.

Meski mendapatkan perlakuan kasar, mamanya tidak mau bercerai dari papa Tessa. Bahkan, mamanya dengan rajin mendoakan suaminya. “Sampai saya sebel juga. Sudah tahu disiksa, sudah tahu kayak gini, masih aja mau nerima papa.” Pikiran Tessa waktu itu.

Tessa Kaunang yang memang terbentuk dengan sifat kerasnya, akhirnya tetap berbuat semaunya. Jika mamanya meminta saran, maka Tessa hanya memberikan satu saran, yaitu cerai. Tapi mamanya tidak mau. Akhirnya, sang mama hanya bisa datang kepada Tuhan, merendahkan diri dan memohon jalan keluar.

Salah satu wanita yang menjadi teman selingkuh ayahnya, akhirnya ketahuan hamil dan ayahnya pun disuruh bertanggung jawab. Di situlah Arthur, si ayah mulai merasa resah dan akhirnya dia pun mengakui segalanya bahwa dia telah berselingkuh. Meskipun begitu, dengan penuh pengampunan, Julia Kaunang mau mengampuni suaminya. Sang ayah pun mencoba memperbaiki hubungan suami istri dan juga hubungan ayah anak yang rusak.

Awalnya Tessa sangat meragukan perubahan yang terjadi dalam diri ayahnya. Dia bertanya-tanya apakah ayahnya akan jatuh lagi. Namun, lama kelamaan setelah melihat perubahan dalam diri ayahnya yang memang telah berubah, Tessa pun mendapatkan kembali contoh keluarga yang ideal. Di samping itu, Tessa pun mulai kembali kepada firman Tuhan dan melakukan perintah-Nya. Jika Tuhan saja bisa memaafkan dosa-dosa manusia yang begitu besar, apalagi kita harus mampu memaafkan sesama kita manusia.

“Bagaimana cara bisa memaafkan dia? Kita harus meminta bantuan Tuhan. Kalau kita sendiri yang memaafkan kita tidak akan kuat, itu yang saya rasakan.” Jelas Tessa. Dia melihat perubahan yang besar dalam diri ayahnya, ayahnya menjadi begitu bijaksana dan mencerminkan sikap seorang papa yang baik. Sekarang Tessa dan papanya menjadi dua orang yang karib.

Mereka terus melaju dan selalu melihat positif ke depan. “Kalau kita sudah berani mengambil keputusan untuk bertobat, kita juga harus berani menjadi saksi Tuhan. Makanya mengapa saya sekarang berani menceritakan, karena saya ingin keluarga saya ini menjadi terang dan garam buat kita juga.” Dan percayalah, saat berjuang melawan dosa, kepahitan, masalah, kita bisa menang bersama Tuhan.

Sumber Kesaksian :
Tessa Kaunang (jawaban.com)

Menggapai Puncak Di Tengah Keterbatasan Tuna Rungu

Erika Susanti lahir normal layaknya anak lainnya. Namun sebagai anak kecil, ia tak menyadari ketika keanehan serius sebenarnya sedang terjadi atas dirinya. Saat mendengarkan pelajaran di kelas, dengan serius ia mengikuti setiap gerak-gerik gurunya dan melihat dengan seksama bibir guru yang sedang mengajar. Gurunya yang tak menyadari keanehan yang dialaminya justru berbalik mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang membuat Erika ditertawakan teman-teman sekelasnya.

“Setiap hari saya dipermalukan oleh guru-guru yang seperti itu. Waktu itu umur saya sekitar 9-10 tahun. Telinga saya terus-menerus berdengung. Tapi karena saya mengalami hal ini setiap hari, saya menjadi tidak sadar kalau telinga saya berdengung. Saya tidak sadar kalau itu hal yang aneh. Saya pikir setiap anak mengalami hal yang saya alami. Setiap hari tiba-tiba banyak orang yang marah-marah sama saya. Setiap hari sepertinya tidak ada hari tanpa dimarahi,” ungkap Erika mengawali kesaksiannya.

Orangtua Erika pun akhirnya mengambil langkah pengobatan bag Erika. Semua dokter yang katanya bagus didatangi mereka demi kesembuhan Erika. Namun ternyata semua dokter angkat tangan. Kerusakan di saraf telinga Erika sudah sangat parah dan tidak dapat disembuhkan. Dokter memperkirakan kerusakan saraf di telinganya telah terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya, namun tak ada yang tahu persis kapan kerusakan itu sebenarnya terjadi. Erika pun divonis menjadi tuna rungu untuk selamanya.

Erika menjadi kesulitan mengikuti pelajaran di sekolahnya. Rasa takut juga mulai dirasakannya terhadap para gurunya. Prestasi Erika dulu di atas rata-rata. Dan guru-gurunya yang dulu baik mulai banyak yang berubah dan sering memarahi dirinya. Meskipun telah diberitahu mengenai kondisi Erika yang sebenarnya, namun entah lupa atau memang tidak mau, beberapa gurunya lebih memilih untuk membacakan soal daripada menuliskan soal tersebut di papan tulis. Tentu saja hal ini menyulitkan Erika. Niat Erika untuk melihat soal kepada temannya justru dianggap sebagai niat mencontek. Diperlakukan seperti ini di sekolah membuat Erika merasa sangat sedih.

“Bukankah kata orang Tuhan itu baik? Tetapi kenapa saya dibuat cacat? Berarti Tuhan itu jahat, Tuhan itu tidak ada. Saya marah, marah sekali! Saya dulu tidak pernah menghina orang cacat, tapi kenapa saya dijadikan cacat? Saya marah! Saya berpikir mungkin lebih baik saya mati. Bahkan untuk berkomunikasi saja saya tidak bisa. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Kalau untuk hal dasar seperti komunikasi saja saya tidak bisa, hidup saya tidak berharga,” kisah Erika.

“Kata-kata orang yang suka bilang saya goblok, hal semudah ini saja tidak mengerti, membuat saya merasa bahwa saya ini goblok, saya tidak berharga dan saya tidak layak untuk hidup. Jadi untuk apa saya hidup?,” tambah Erika.

Kasih sayang orangtuanyalah yang membuat Erika tetap bertahan. Namun satu pesan dari mamanya melekat kuat di dalam hati Erika ketika Erika mencurahkan isi hatinya akan beratnya penghinaan demi penghinaan yang harus ia tanggung setiap hari. Kala itu mamanya berkata, “Mami kasihan sama kamu. Tapi mami sadar, begitu mami mati kamu harus hidup. Suka tidak suka, kamu harus melatih diri kamu untuk bisa tahan terhadap semua hal itu.” Pandangan itulah yang menguatkan orangtua Erika untuk terus memperlakukan Erika sebagai orang normal. Meskipun dididik dengan penuh kasih, Erika dituntut untuk menjadi pribadi yang kuat. Didikan ini pun sedikit demi sedikit mengubah paradigma Erika.

“Saya menyadari bahwa saya tidak pernah berjuang. Saya tidak pernah melakukan apa-apa. Saya pun mengambil keputusan untuk bangkit. Saya memilih untuk memulai dari awal. Karena saya masih belajar, saya memilih untuk menjadi sama dengan keluarga saya yang lain yang punya prestasi,” ungkap Erika mengenai awal perubahan hidupnya.

Erika mulai belajar untuk berkomunikasi melalui tulisan baik kepada teman, orangtua maupun keluarga. Setiap kali sebelum ulangan dimulai di sekolahnya, Erika memberanikan diri untuk berdiri dan mengatakan kepada gurunya bahwa ia tidak dapat mendengar dan meminta agar gurunya menuliskan soal di papan tulis. Perubahan sikap Erika berbuah manis. Ia berhasil meraih rangking satu di kelasnya.

“Sebelumnya saya adalah salah satu murid yang menempati posisi tiga terbawah. Dan di tahun itu juga saya langsung mendapatkan rangking satu. Nilai saya menonjol di Matematika, Fisika dan Kimia. Di akhir SMA, saya menjadi rangking 2 dari seluruh siswa di sekolah,” kisah Erika.

Prestasi telah Erika gapai namun ia masih merasa sendirian. “Saya merasa hampa sekali, Saya merasa apa yag saya miliki tidak ada gunanya. Saya tidak bahagia. Saya sadar saya dibenci banyak orang karena sifat saya egois,” ungkap Erika.

Namun Erika memiliki teman-teman yang begitu memperhatikannya. Oleh teman-temannya ini Erika diajari cara bergaul yang sopan dan beretika. Bergaul dengan orang lain bagi Erika memang tidaklah mudah. Namun persahabatan mereka sebagai orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan membuat Erika untuk pertama kalinya merasa percaya diri, bahwa bersahabat dengan orang lain adalah suatu hal yang mungkin. Erika diajari oleh para sahabatnya untuk memiliki karakter yang baik.

Hari demi hari persahabatan yang dijalaninya itu membawa perubahan besar bagi Erika. Selama lima tahun pertama menjalani masa-masa kuliahnya, para sahabatnyalah yang membantu Erika. Karena tinggal di kos-kosan yang sama, di malam hari terkadang mereka berdoa bersama.

“Tuhan mulai menjawab apa yan selama bertahun-tahun ini saya rindukan untuk dekat dengan Dia. Mungkin ketuna-runguan saya ini adalah jawaban Tuhan agar saya bisa dekat dengan Dia. Karena kalau saya tidak tuna rungu, mungkin saya tidak akan mengenal orang-orang yang akan mendekatkan saya dengan Tuhan,” kisah Erika.

Hidup Erika semakin lengkap setelah menikah dan memiliki dua orang putra kembar.

“Walaupun dia tuna rungu, namun Erika tidak memakai ketuna-runguannya itu sebagai alasan untuk diperlakukan khusus atau dia bersikap cengeng. Di kantor pun setahu saya, semua laporan keuangan yang diminta oleh bos, dilakukan olehnya dengan yang terbaik,” ujar Sugianto, suami Erika.

Tanggal 17 Maret 2012 Erika meluncurkan buku yang berjudul Be A Great Of You.

“Buku ini saya dedikasikan untuk orang normal maupun orang cacat, untuk semua orang yang merasa bahwa hidup mereka itu sudah pasti gagal karena mereka terbatas. Kalau kita tahu caranya dan mulai dengan cara yang benar, kita bisa mencapai puncak,” ujar Erika.

“Teladannya banyak yah, dari disiplin, semangat, saya lihat dia juga sebagai istri, sebagai seorang ibu, sebagai seorang pekerja, saya lihat bagaimana ia memiliki pengaturan prioritas waktu yang terbaik,” ujar Vivi, mentor Erika.

“Saya sangat bersyukur karena saya bertemu dengan Tuhan. Jika saya tidak bertemu dengan Tuhan, saya percaya saya tidak akan mencapai apa yang saya miliki saat ini. Dan waktu hati saya dipenuhi oleh Roh Tuhan, saya tahu saya aman. Itu sesuatu yang tidak bisa digambarkan. Sebagai seorang yang pernah melalui masa-masa yang penuh ketakutan, rasa aman itu luar biasa, merasa damai sejahtera, karena saya tahu saya tidak pernah sendirian. Karena saya tahu Tuhan itu sugguh-sungguh ada. Tahun-tahun ini saya sudah melihat penjagaan Tuhan bagi hidup saya. Saya menikmati hidup karena Tuhan itu baik,” ungkap Erika menutup kesaksiannya.

Sumber Kesaksian:
Erika Susanti (jawaban.com)

Marni, Pembantu Yang Jadi Motivator Sukses

Wanita ini hanyalah seorang pembantu rumah tangga, namun melalui kehidupannya, dia bisa memberkati orang-orang terpelajar.

“Nama saya Marni, saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Saat ini saya memimpin sebuah komunitas yang anggotanya orang terpelajar, antara lain D3, S1, bahkan ada yang menjabat sebagai seorang manajer.”

Namun Marni yang ceria dan penuh percaya diri ini, sangat jauh berbeda dengan Marni yang dulu. Dia menyimpan sebuah kenangan pahit di masa lalunya. Kemiskinan dan cacat pada matanya, membuat masa kecil yang harusnya bahagia, hilang berganti menjadi hinaan dan cercaan.

“Saya waktu itu kelas 3 SD. Saat itu saya baru menyadari bahwa fisik saya ada yang kurang, tidak sempurna. Mata kanan saya tidak bisa melihat, hanya yang kiri saja yang bisa melihat. Waktu itu teman-teman sering mengejek saya ‘Marni, matanya bijil (buta sebelah – red)..’ kata-kata itu yang membuat saya sakit hati. Membuat saya sangat sedih. Saya merasa Tuhan tidak adil.”

Marni tidak dilahirkan dalam keadaan cacat, namun karena sebuah kejadian sepele, seluruh kehidupannya berubah.

“Pada saat saya main, mata saya terlempar serpihan genteng. Saya kesakitan waktu itu, dan ketika saya tutup dengan tangan, ada darah di tangan saya. Dari hari ke hari, penglihatan saya semakin berkurang. Dan dalam waktu beberapa bulan, mata kanan saya sudah tidak bisa melihat lagi. Tetapi saya tidak pernah menyadarinya, sampai teman-teman saya mulai mengejek saya di kelas 3 SD waktu itu.”

Hati yang terhujam dengan kekecewaan membuat Marni kehilangan jati diri, dia bertumbuh menjadi remaja yang minder dan sangat rendah diri.

“Ketika saya bertumbuh dewasa, saya mulai merasa minder, pemalu, penakut dan menjadi pribadi yang pendiam. Susah untuk tertawa, bahkan untuk senyum. Untuk bicara di depan dua orang saja saya gemetar, karena saya merasa fisik saya tidak sempurna.”

Didalam ketidak sempurnaan dan keluguannya, Marni pun ingin mengubah nasibnya di Jakarta.

“Waktu itu ada saudara saya yang menawarkan pada saya pekerjaan di Jakarta. Saya bertanya, ‘kerjaan apa?’ dia jawab ‘pokoknya gampanglah nanti. Ikut aku aja.’ Di dalam hati saya ada kerinduan untuk mau pergi ke Jakarta. Pada hal belum jelas pekerjaan yang di tawarkan itu apa. Waktu itu saya masih menjahit di rumah, bahkan masih ada jahitan yang harus saya selesaikan. Lalu saya memberanikan diri untuk meminta ijin kepada orangtua saya. Kalau bapak saya sih mengijinkan, karena semua itu di kembalikan ke diri saya lagi. ‘Kamu sudah besar, kamu sudah bisa memilih apa yang baik untuk diri kamu,’ demikian kata bapak.”

Namun apa yang terjadi ketika Marni sampai di Jakarta, bukanlah yang dia harapkan. Sampai akhirnya Marni bertemu dengan seorang ibu yang mengajaknya bekerja di sebuah rumah tangga. Inilah rumah keluarga Agus Sugianto, tempat dimana Marni mengalami titik balik kehidupannya.

“Kami melihat penampilannya memprihatinkan sekali. Prihatin disini maksudnya kusut, dan banyak hal dalam kondisi fisiknya tidak dirawat, dan tidak di urus. Selain itu juga pembawaannya sangat pemalu sekali, bahkan cenderung menutup diri. Bahkan ketika bicara dengan orang, dia tidak berani menatap mata,” demikian cerita bapak Agus, majikan Marni.

“Saya melihat Marni adalah seorang pribadi yang sangat sensitif. Lalu saya memberanikan diri untuk menanyakan pada Marni, apa yang terjadi dengan matanya. Dan memang, waktu itu Marni menceritakan masa kecilnya dengan menangis,” demikian tutur ibu Mala, istri bapak Agus.

“Kami menempatkan dia sebagai anak kami, dan kami sebagai orang tuanya. Jadi kami melakukan suatu pendekatan, bicara dari hati ke hati. Gimana sih sebenarnya perasaannya dia, kekecewaanya dia,” demikian bapak Agus memperlakukan Marni.

“Kami membimbing dia untuk melepaskan semua kekecewaan yang ada dalam dirinya, tentang keberadaan dirinya. Atau juga penyesalan mengapa semua itu terjadi. Jadi akhirnya waktu itu kami bawa semuanya itu kepada Tuhan, sehingga dia bisa menerima semuanya ini, dan tidak menjadi sebuah penyesalan yang berkelanjutan. Tetapi mempercayai bahwa apapun keberadaan dia, ada sebuah rencana Tuhan bagi dirinya,” Ibu Mala menceritakan bagaimana dirinya dan suami membimbing Marni.

“Waktu itu bapak Agus dan bu Mala mengajarkan saya untuk membaca firman, mengajak untuk berdoa, dan berdoa bersama. Dan sewaktu saya pertama kali membaca Alkitab, saya membaca ‘Oleh karena kamu berharga dimataKu, dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau.’ Sewaktu firman itu saya baca, hati saya merasa tersentuh. Saya mengganti kata kamu dengan nama saya pada ayat itu. ‘Oleh karena Marni berharga di mata Tuhan, dan mulia, dan Tuhan mengasi Marni.’ Saya akhirnya menerima diri saya apa adanya. Walaupun diri saya dalam kekurangan, dan diri saya cacat, tetapi saya menerima diri saya.”

Apa yang menjadi kekurangan dalam diri Marni, kini menjadi sebuah kelebihan. Memimpin dan membina sebuah komunitas, kini menjadi kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh Marni. Inilah cerita dari sahabat-sahabat Marni yang diberkati oleh kehidupannya:

“Mbak Marni itu sudah seperti ibu bagi saya, karena dia ikhlas menolong saya. Bahkan selalu memberikan perhatian yang lebih kepada saya,” ungkap Samuel.

Lain lagi dengan cerita Grace, “Dia selalu memberikan nasihat-nasihat yang positif buat saya. Selalu menguatkan saya pada saat saya mengalami masalah yang berat. Dan juga memberikan dukungan doa pada waktu saya meminta seorang anak pada Tuhan, hingga saya boleh mempunyai seorang anak saat ini.”

“Saya tidak melihat latar belakang pendidikan Mbak Marni, tetapi beliau bisa menjadi teladan buat hidup saya. Karena tidak semua orang yang berpendidikan tinggi itu dapat memberikan teladan,” demikian cerita Hendra Gunawan S, S.H.

“Walaupun saya seorang manajer, tapi saya tidak melihat Mbak Marni sebagai pembantu rumah tangga. Yang saya lihat dari dirinya adalah kerendahan hatinya, dia orang yang bisa memimpin. Dan dia memberikan dampak buat orang lain, serta saya melihat hasilnya.” David Mandoringin, sahabat Marni.

Inilah rahasia perubahan hidup Marni.

“Jadi saya berharga bukan karena apa kata orang, tetapi saya berharga karena apa kata Tuhan. Ketika saya sekarang sudah kenal Tuhan, saya percaya sama Tuhan, dan saya diubahkan. Saya melihat bahwa Tuhan bisa memakai orang yang tidak sempurna. Orang cacatpun bisa dipakai oleh Tuhan. Yang terpenting, ada kerinduan, ada kemauan dan hatinya mau dipakai oleh Tuhan.”.

Sumber kesaksian :
Marni (jawaban.com)

Merry Riana : Meraih Mimpi Satu Juta Dolar

Merry Riana adalah seorang wanita yang telah mewujudkan mimpi besarnya. Dalam usia yang belum genap 30 tahun, ia sudah menjadi milyader. Namun, seperti orang-orang yang telah mengecap kesuksesan dalam hal finansial, Merry Riana juga mengalami banyak rintangan saat meraih mimpinya tersebut. Dan berikut wawancara tim Solusi Life dengan Merry Riana seputar bagian dari kehidupannya ini.

Anda waktu itu mempunyai mimpi apa ?

Ketika saya ulang tahun yang ke-20, pada saat itu saya mempunyai satu mimpi “i can be a millionaire”. Dan mimpi saya pada saat itu adalah sebelum saya berulang tahun yang ke-30, saya harus sudah bisa mempunyai kebebasan finansial.

Bisa Anda ceritakan tentang awal mimpi sejuta dolar Anda?

Kisah mimpi sejuta dolar saya berawal tahun 1998. Jadi pada 98 itu, saya baru saja lulus sma dan tadinya ingin melanjutkan pendidikan saya di universitas di Jakarta tapi waktu itu ada kerusuhan, kerusuhan 98 ya.

Karena orangtua sangat mengkhawatirkan masa depan saya terutama masa pendidikan saya maka dari itu, saya pun diterbangkan ke Singapore untuk belajar disana.

Di Singapore, saya harus melakukan banyak sekali pengiritan. Tidak jarang saya harus tidak makan dan juga puasa. Membawa bekal ke kuliah adalah cara terefektif bagi saya (untuk menghemat) dan bekalnya pun sesuatu yang sangat sederhana yakni sepotong roti tawar. Ketika semua telah sepi, saya pergi ke toilet untuk memakan bekal yang saya bawa tersebut.

Ini adalah masa-masa yang menyedihkan dan lumayan mengesankan bagi saya karena pada saat itu banyak sekali perasaan yang bercampur aduk. Jadi, ada perasaan kecewa juga, marah juga ‘Kenapa sih kok Tuhan memberikan cobaan yang sangat besar untuk saya; kenapa saya harus jauh-jauh dari orang tua; kenapa saya harus pindah ke Singapore, sedangkan waktu itu keadaan di Jakarta gak tahu gimana, masih banyak kerusuhan dan sebagainya. Keadaan saya di Singapore saat itu pun juga sangat sulit.

Namun, di dalam iman saya, saya meyakini pasti ada maksud Tuhan atas semua yang saya alami ini. Maka dari itu, seluruh energi yang saya miliki saya salurkan untuk keluar dari keadaan yang tidak menyenangkan tersebut.

Di usia yang ke-20, saya berjanji bahwa saya harus benar-benar sukses sebelum usia 30 tahun. Jadi, itulah awalnya kenapa saya mempunyai mimpi seperti itu.

Lalu, bagaimana caranya Anda bisa bangkit dari segala masalah Anda ini?

Saya percaya bahwa kalau saya ingin mengubah kehidupan saya, langkah pertama yang paling mudah yang bisa saya ambil adalah dengan mengubah cara pandang saya terhadap kehidupan.

Saya mengubah cara pandang saya menjadi hal-hal yang lebih positif – “Pasti ada alasannya mengapa segala kondisi yang tidak menyenangkan terjadi di dalam kehidupan saya”, kemudian “Kalau saya ingin mewujudkan impian saya maka saya harus berjuang”. Mulai dari situ, saya mulai melakukan hal-hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya.

Pada saat itu saya mulai mencari pekerjaan tambahan, mulai dari membagi brosur, kerja di toko bunga, kerja sebagai pelayan restoran di hotel. Pada saat itu, saya tidak memikirkan gengsi atau gaya-gayaan. Bagi saya, bekerja pada saat itu sebagai usaha saya untuk bisa memberikan kehidupan yang lebih baik buat saya sendiri dan pada akhirnya bisa mewujudkan impian saya.

Perlahan tapi pasti, apa yang saya lakukan khususnya dalam bidang finance dan sales membawa hasil dan saya sangat bersyukur karena itu. Pasalnya, di dalam tahun pertama saja saya sudah bisa mendapatkan pendapatan lebih dari 200.000 dolar Singapore atau di-kurs kan ke rupiah sekitar 1,5 Miliar.

Setelah itu, saya mulai bisa menyewa kantor, punya sekretaris, dan mengembangkan bisnis saya sendiri sampai sekarang ini.

Apa tips kesuksesan dari Anda?

Tips pertama adalah visi. Jadi kita harus punya visi, kita harus tahu kemana kita akan pergi, kita harus bermimpi. Yang kedua, adalah tindakan – kita juga harus berani ambil tindakan, jangan pernah takut gagal. Dan yang ketiga adalah hasrat. Jadi kita harus menyukai pekerjaan kita dan juga melakukan apa yang kita sukai.

Seberapa penting kekuatan iman dalam kehidupan Anda?

Kekuatan iman adalah sangat penting dalam hidup saya terutama ketika saat saya jauh dari orangtua. Karena saya punya kekuatan iman, saya percaya bahwa saya berada di dalam lindungan Tuhan dan itu memberikan suatu harapan pada saya bahwa apa yang saya alami selama ini pasti ada maksud Tuhan yang indah.

Saya ingat pesan mama yang bilang, “Serahkanlah semuanya ke tangan Tuhan dan biarlah Dia yang akan membimbingmu, langkah demi langkah. Tidak semua langkah sekaligus, tapi langkah demi langkah dan setiap langkah itu adalah mukjizat.

Saat ini, mimpi satu juta dolar Anda telah terwujud, apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?

Saya percaya bahwa kesuksesan seseorang dinilai dari seberapa besar dampak positif yang dia beri kepada orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, pada saat saya berusia 30 tahun, saya juga punya mimpi baru. Saya ingin bisa memberikan dampak yang positif kepada 1 juta orang terutama di Asia dan di Indonesia. Itulah mimpi satu juta dolar saya sekarang.

Sampai dengan hari ini saya sangat bersyukur karena melalui seminar saya, melalui buku-buku saya, saya sudah memberikan dampak positif kepada ratusan ribu orang. Saya tidak hanya mau berhenti disitu saja. Mimpi terbesar saya adalah suatu saat nanti kalau saya bisa memberikan dampak positif lewat program televisi saya sendiri karena saya melihat pengaruh yang paling besar bagi masyarakat adalah pertelevisian.

Semoga lewat karya-karya saya yang selanjutnya, saya bisa memberikan dampak positif kepada lebih banyak orang.

Kata-kata terakhir kepada orang yang menyaksikan maupun membaca kesaksian Anda saat ini ?

Kalau saya saja bisa, saya yakin dengan doa dan juga dengan usaha, Anda pun bisa mewujudkan mimpi sejuta dolar Anda.

Sumber Kesaksian :
Merry Riana (jawaban.com)

Anak Pedagang Sayur Menjadi Pengacara Hebat

Tommy bersaksi bahwa kehidupan yang sekarang sedang ia jalani adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah ia mimpikan karena semasa kecilnya ia harus hidup dengan biaya pas-pasan. Orangtuanya adalah pedagang kecil. Mereka berdagang hasil bumi seperti bawang, cabai dan sayur-sayuran. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga, Tommy dan ibunya setiap pagi harus pergi ke pasar induk Kramat Jati untuk mengambil bahan-bahan dagangan mereka dan dijual. Mereka harus naik sebuah mobil bak kecil setiap jam 4 pagi.

Pada saat itu Ia berpikir bahwa mereka tidak boleh seperti ini terus. Ia harus membuat perubahan dalam kehidupan ekonomi mereka. Setelah lulus SD, Tommy tidak sekolah selama 2 tahun. Ia menjadi makhluk ekonomi yang berjualan es, Koran, permen dan bahkan ia menkadi pemecah batu untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Sesulit apapun situasi perekonomian keluarga pada saat itu, tetapi orangtua Tommy tetap menganggap bahwa sekolah adalah hal yang penting. Perlahan tapi pasti Tommy melanjutkan sekolahnya SMP dan SMU. Kemudian karena kerja kerasnya ia berhasil masuk di perguruan tinggi.

Pada tahun kedua ia kuliah, ia diajak temannya untuk bekerja di kantor pengacara. Awalnya ia tidak tahu apa itu pengacara. Yang ia tahu bahwa kalau ia bekerja maka ia akan mendapat uang. Ia bekerja di Firma Hukum Maruli Simorangkir dan menjadi asisten pengacara. Tetapi disana ia melakukan semua pekerjaan. Termasuk pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Office Boy, misalnya bayar tagihan telepon, tagihan listrik, beli Koran sampai menyuguhkan minuman pada tamu. Bahkan sampai membetulkan genteng yang bocor.

Ia lakukan semua dengan sukacita. Ia harus bekerja disana sampai jam 5 dan harus ke kampus sepulang kerja. Tanpa ia sadari sebenarnya ia sedang mempelajari praktek hukum yang sebenarnya disana yang tertanam sampai sekarang. Sampai pada suatu saat ia melihat kerjaan diatas meja yang tidak berhubungan dengan hukum, misalnua seperti surat tawaran, dll. Ia akhirnya berinisiatif untuk membuat surat itu dan diperbolehkan oleh bosnya saat itu.

Beberapa tahun ia bekerja disana dan mendapat pengajaran yang luar biasa dari kantor itu. Menurut Maruli ia adalah orang yang tekun. Tekun dalam pekerjaan dan sekolah. Ia mengalami kemajuan yang luar biasa dalam percaya diri. Akhirnya ia pada tahun 1988 ia mengundurkan diri dan mendirikan firma sendiri yaitu Tommy Sihotang&Partners.

Menjadi kaya adalah pilihan. Menjadi miskin juga adalah pilihan. Setelah ia mengalami masa kecil yang tidak enak. Ia mulai bangkit dan maju untuk memperbaiki keadaan perekonomian. Sejak saat itu ia dipercayakan untuk menangani kasus-kasus besar dan namanya mulai sejajar dengan para pengacara-pengacara besar yang sudah ada. Menurut Tommy untuk keluar dari kemiskinan, kita harus melakukan suatu terobosan dalam hidup. Dan terobosan itu hanya kita bisa lakukan bersama Tuhan Yesus.

Tommy Sihotang sudah berhasil melewati semua lingkaran kemiskinan yang membelenggunya dan keluarganya. Ia keluar menjadi pemenang. Dan semua itu berkat Tuhan Yesus yang sudah sangat baik dalam hidupnya.

“Ingat selalu, lihat dan kecaplah betapa baiknya Tuhan itu” ujar Tommy menutup kesaksiannya.

Sumber Kesaksian :
Tommy Sihotang (jawaban.com)

Bong Chandra Ungkap Rahasia Suksesnya

Bong Chandra, pemuda usia 24 tahun ini dikenal sebagai “Motivator Termuda di Asia”. Ia berhasil menjadi seorang milyader di usia yang sangat muda, tentu saja hal tersebut membuatnya menjadi idola banyak orang. Namun siapa sangka bahwa perjalanannya menuju kesuksesan ternyata penuh liku. Berikut adalah wawancara tim Solusi Life dengan Bong Chandra.

Bagaimana sih ceritanya hingga Anda bisa sukses seperti sekarang ini?

Saya dibesarkan di keluarga yang biasa saja. Orangtua saya seorang pengusaha. Namun saya dibesarkan dalam keadaan penuh kelemahan. Dalam artian yang pertama adalah kelemahan fisik. Waktu saya lahir, saya terkena penyakit flek paru-paru. Jadi waktu kecil saya suka kejang. Akhirnya hal itu membuat tubuh saya sangat kurus, dan hal tersebut membuat saya tidak percaya diri dan kuper.

Hingga pada tahun 1998, pada saat saya kelas 6 SD Indonesia mengalami krisis ekonomi dan kerusuhan. Salah satu yang kena adalah pabrik papa saya. Papa saya bankrupt, sehingga mulai dari kelas 6 SD sampai 2 SMA saya hidup sangat kekurangan.

Saya juga melihat bagaimana ayah saya dari punya pabrik, kerja dengan mesin, kebetulan pabrik kue, jadi buat adonan kue sendiri. Bagaimana keringatnya, bagaimana beliau masuk ke pasar-pasar basah, panas, pada hal usia beliau sudah 50 tahun lebih saat itu.

Saya seringkali juga hanya makan seadanya, dan juga hutang sana dan hutang sini. Bahkan seringkali kalau saya terima telephone di rumah diminta bilang papi ngga ada, mami ngga ada. Karena yang telephone adalah penagih hutang. Listrik dan telephone kami juga sering di putus.

Masa-masa paling pahit bagi saya adalah saat kami sekeluarga harus mengumpulkan uang-uang receh yang ada di sudut-sudut jendela, pojok-pojok lemari. Uang receh bisa buat apa sih? Tapi saking berharganya uang-uang receh itu bisa kami buat bayar listrik atau telephone.

Bagaimana dengan prestasi di sekolah?

Saya tidak punya prestasi sama sekali (di sekolah – red). Seringkali saya hanya fotokopi buku pelajaran karena tidak mampu beli buku baru. Saya hampir tidak naik kelas waktu SMA kelas 2 semester pertama. Raport saya merah 11 pelajaran dari 13 mata pelajaran. Saya menangis, saya sedih sekali. Itu adalah titik paling rendah dalam hidup saya.

Ternyata Bong Chandra pun pernah merasa iri…

Wajar, namanya juga anak muda waktunya aktualisasi diri. Mereka bisa punya handphone baru, saya ngga bisa. Mereka bisa pergi sama keluarganya, saya ngga bisa.

Saat itu ada teman saya yang ngga ada jemu-jemunya menjenguk saya, bukan karena saya sakit, tapi untuk mengajak saya ke gereja. Waktu itu ngga tahu kenapa saya merasa ini saat yang tepat. Akhirnya saya putuskan untuk ke gereja. Di sana saya sadar bahwa selama ini saya masih mengandalkan kekuatan saya sendiri.

Kadang saya bertanya, untuk apa sih Tuhan ciptakan kesulitan. Kenapa Tuhan ciptakan masa-masa down. Akhirnya saya menemukan (jawabannya), ternyata kalau tidak ada masa-masa sulit, tidak ada masa down, manusia akan mengandalkan dirinya sendiri, itu yang saya yakini yang dulunya saya belum yakin.

Ketika mengalami masa sulit, manusia sudah tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri, tidak bisa mengandalkan orangtuanya, orang lain, maka manusia mulai mencari satu pribadi, itulah yang saya alami.

Bong menemukan satu pribadi itu dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Mulai saat itulah paradigmanya mulai berubah.

Kita manusia ini bukan apa-apa, dalam artian kita ini bisa hidup karena anugrah. Kita bisa sehat, bisa makan karena anugrah. Jadi jangan lagi mengandalkan manusia. Jangan lagi percaya sepenuhnya sama manusia. Tapi andalkan dan percayakan sepenuhnya sama Tuhan.

Sekali lagi hidup ini seperti permainan catur. Tuhan baru bisa majukan pionnya kalau kita majukan pionnya. Karena kalau kita majukan pion, satunya hanya diam kan tidak bisa. Jadi kita berharap sepenuhnya pada Tuhan, tapi kita harus berusaha jadi yang terbaik. Jadi dua keseimbangan ini yang menjadi paradigma yang baru ketika saya mengenal Kristus.

Berlahan Bong mulai bangkit..

Yang membuat saya bangkit adalah orang-orang yang saya cintai. Yaitu orangtua saya, adik, pasangan saya dan lain sebagainya. Jadi yang membuat saya bangkit adalah alasan yang kuat, karena saya percaya motivasi terbesar bukanlah ketika kita berjuang untuk diri kita sendiri tapi berjuang untuk orang lain. Saya berkomitmen untuk tidak egois lagi. Dalam arti, saya siap bayar harganya. Dulunya saya nyaman, diam di rumah. Kemudian sudah uangnya terbatas, malah habiskan uangnya ke warnet. Main game, sama teman-teman main basket. Saya bilang, mulai hari ini saya tidak mau egois berpikir untuk diri saya, dan saya mau bangkit, bukan untuk saya tapi untuk mereka.

Demi keluarganya Bong rela bekerja keras..

Saya pernah gonta-ganti pekerjaan, dari pertama serabutan. Saya jualan baju, saya jual parfum, apapun yang bisa saya jual. Saya punya prinsip, lebih baik susah sekarang.

Dan saya bersyukur, karena keluarga kami bankrut dan kami punya keterbatasan, jadi keluarga kami sangat dekat. Yang kedua adalah saya bersyukur, karena hidup saya dari kecil sudah sulit, saya jadi anak yang tidak manja.

Jadi saya balik, dari awalnya saya iri sama teman-teman saya, teman-teman saya harus iri sama saya. Karena apa? Karena mereka tidak mengalami kesulitas yang saya rasakan. Karena mereka tidak mengalami kesulitan, mereka tidak tumbuh sekeras saya. Saya percaya ketika kita tumbuh dalam lingkungan yang keras, maka Tuhan akan menjadikan kita lebih keras.

Kerasnya tekad Bong itulah yang membuat ia tidak pernah menyerah. Berbagai bisnis seperti MLM dan event organizer ia jalani. Untung dan rugi juga silih berganti. Namun ia tidak pernah putus asa.

Luar biasanya, setiap saya jatuh Tuhan angkat saya lebih tinggi. Jadi setiap kali saya jatuh, mentalnya bukannya sama atau lebih rendah, tapi lebih tinggi. Ketika saya pernah jatuh, ternyata Tuhan mempertemukan saya dengan bisnis property.

Di bisnis property inilah Bong Chandra berhasil mencapai kesuksesannya. Ia berhasil menjadi milyader di usia muda dan berhasil mewujudkan impian orangtuanya untuk ke luar negeri. Saat dipuncak keberhasilannya, ia ingin orang lain berhasil juga. Karena itulah ia menjadi seorang motivator. Apa yang menjadi kepuasan Bong saat ia menjadi motivator?

Paling puas adalah saat saya mendapatkan email, atau mendapat mention di twitter saya yang mengatakan hidupnya berubah, mereka jadi memiliki semangat lagi. Pernah saya mendapat email dari orang yang dulu katanya pernah dibilang hampir gila sama orang-orang, dan akhirnya mereka bisa temukan jati diri yang baru. Ada yang pernah hampir bunuh diri, saya bisa bantu mereka. Itulah salah satu yang membuat saya senang memberi motivasi.

Apa arti kesuksesan bagi Bong Chandra?

Buat saya sukses adalah saya bisa menjadi lebih baik dari yang kemarin, itulah yang pertama. Yang kedua, sukses adalah ketika kita bisa mengalahkan diri sendiri. Dalam artian, manusia itu Tuhan kasih potensi yang sangat luar biasa. Jika manusia itu tidak bisa melawan dirinya sendiri maka potensinya akan terhambat. Sukses adalah ketika kita bisa menggunakan talenta yang Tuhan kasih, kita develop sehingga kita bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Dimana peran Tuhan dalam kesuksesan Bong Chandra?

Peran Tuhan Yesus sangat-sangat besar. Terutama dalam filosofi-filosofi hidup saya dalam membangun bisnis. Sebagai contoh, dalam Alkitab ada yang mengatakan barang siapa yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan sorak-sorai. Saya pegang firman Tuhan itu, dan saya lakukan. Dalam artian, ternyata apa yang kita tabur walaupun itu susah, tenang saja, hanya waktu yang akan menentukan segala sesuatunya akan indah pada waktunya.

Yang kedua juga, apa yang Tuhan bilang: siapa yang mau lebih tinggi, dia harus mau menjadi yang lebih melayani. Dari situ saya belajar harus senyum kepada orang-orang siapapun itu. Dari situ saya bisa belajar rendah hati.

Prinsip-prinsip apa yang dijalankan Bong Chandra dalam bisnisnya?

Yang pertama adalah prinsip kebenaran, dalam arti kita tidak boleh kompromi. Yang kedua adalah kerjasama.

Apa pesan Bong Chandra untuk hadapi tahun 2012?

Saya percaya bahwa di dalam Tuhan kita bukanlah manusia yang lama tapi manusia yang baru. Jadi saya percaya di dalam Tuhan setiap hari adalah tahun yang baru. Untuk tahun yang baru selalu ada masalah yang baru. Tahun yang baru selalu ada berkat yang baru. Pelajari, evaluasi apa yang sudah terjadi di tahun 2011. Jangan jadikan suatu kegagalan sebagai akar pahit, jadikan kegagalan sebagai kuliah. Ketika saya ingat uang kuliah yang saya bayar begitu besar, maka saya tidak mau menyia-nyiakan ketika masuk ke tahun yang baru. Demikian juga dengan Anda. Terima kasih, sukses untuk Anda semua, God bless you all.

sumber (jawaban.com)