Category Archives: Kisah Pertobatan Artis

Billy Glenn: Artis Pecandu Narkoba

Aku lahir dari sebuah keluarga yang sangat taat pada Kristus. Sejak kecil aku rajin ke gereja dan ibuku selalu menanamkan dasar-dasar iman Kristus kepadaku.

Tahun 1995, pada suatu kesempatan yang luar biasa, aku mengikuti sebuah ajang pemilihan top model di Bandung. Selama proses audisi, aku selalu berdoa pada Tuhan meminta agar aku keluar sebagai pemenangnya. Dan ternyata Tuhan memang baik, Ia menjawab doaku. Aku terpilih menjadi juara pertama. Setelah memenangkan ajang tersebut, kesempatanku untuk masuk ke dunia model semakin besar. Perjalanan karierku sebagai seorang model berjalan dengan sangat lancar. Aku percaya bahwa ini semua berkat pertolongan Tuhan dan aku selalu menyempatkan waktu untuk berdoa kepada Tuhan. Karierku semakin berkembang, banyak job dari Jakarta. Situasi ini membuatku memutuskan untuk tinggal di sana saja.

Meraih Kesuksesan

Ternyata di Jakarta karierku berkembang dengan sangat baik. Bahkan aku mulai memasuki dunia akting sinetron. Dengan berbekal pengalaman di bidang taekwondo yang sejak kecil digeluti, aku berhasil menapaki dunia akting dengan peran pertamaku sebagai peran pembantu utama. Aku pun berhasil mendapatkan peran dalam film layar lebar yang sangat terkenal saat itu, Ca Bau Kan. Disaat teman-temanku harus berjuang keras dalam dunia entertainment ini, jalanku justru sangat mulus. Aku sangat merasakan kemurahan Tuhan yang luar biasa dalam hidupku. Tahun 2002, aku mendapat peran utama dalam sebuah sinetron yang terkenal. Saat itulah aku meraih titik puncak kesuksesanku dan mendapatkan kontrak yang bernilai sangat besar.

Melupakan Tuhan

Namun, kemurahan Tuhan dan kesuksesanku itu justru membuatku semakin menjauh dari Tuhan. Kesibukanku justru membuatku tidak memiliki waktu untuk berdoa dan mendekat padaNya. Aku mulai merasa mampu hidup tanpa Dia. Aku benar-benar membuang Tuhan jauh-jauh dari hidupku. Saat itulah, kuasa kegelapan mulai masuk dalam hidupku. Aku mulai terbawa arus pergaulan yang buruk. Diskotik, minuman keras, bahkan jenis narkoba seperti extacy, ganja, kokain, dan shabu-shabu selalu ada di setiap hari-hariku. Honor dari pekerjaanku itu kuhabiskan untuk berfoya-foya sehingga aku pun terjerumus dalam pergaulan seks bebas.

Tertangkap Polisi

September 2002, aku tertangkap polisi. Ketika baru saja pulang dari syuting sebuah sinetron, aku meminta temanku untuk membelikan sejenis narkoba. Polisi ternyata telah mengincar temanku itu sehingga ia tidak bisa melarikan diri lagi. Setelah ditangkap, atas pengakuannya polisi memintanya untuk menjebakku. Seperti yang telah mereka rencanakan, akhirnya aku pun ditangkap dan harus menjalani masa tahanan selama 8 bulan. Dalam situasi ini kesombongan masih kuat menguasaiku sehingga aku tidak menyadari kesalahan, sebaliknya malah selalu mempersalahkan Tuhan. Sebagai seorang artis yang sudah dikenal, aku sering menerima pujian. Tetapi semuanya berubah menjadi hinaan karena tindakan kriminalku ini. Walaupun aku tahu bahwa narkoba itu tidak baik bagi masa depanku, tetapi keterikatanku dengan obat jahat itu membuatku terus mengkonsumsinya sekalipun berada dalam penjara.

Bebas dan Tertangkap Lagi

Setelah masa 8 bulan tahanan itu selesai, aku kembali mulai merintis karierku di dunia sinetron. Namun kesombongan itu tetap mengendalikan pikiranku. Aku sama sekali tidak tergerak untuk bertobat, justru semakin kecanduan dengan obat-obatan. Akhirnya, aku boleh dikatakan menjadi lebih bodoh dari orang bodoh…karena orang bodoh pun tidak akan masuk ke lubang yang sama. Pukul 12 malam itu, ketika sedang berpesta drugs di sebuah tempat di kota Bekasi, bersama teman-teman pecandu, polisi pun mengetahui aksi kami ini dan kami pun digelandang ke tahanan setempat. Aku harus mendekam lagi selama 7 bulan di penjara Bulak Kapal Bekasi.

Ingat Tuhan?

Dalam penjara, pengalaman memalukan ini membuatku merenungkan kasih Tuhan yang besar dalam hidupku. Di saat aku meninggalkanNya, Ia tidak membiarkanku terjebak terus-menerus dalam jurang dosa, justru berusaha menegurku bahkan sampai 2 kali agar aku berbalik kembali kepada jalanNya. Akupun teringat tulisan dalam Wahyu 3: 9 yang mengatakan “Barangsiapa Kukasihi, ia kuhajar. Sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.” Aku langsung menangis histeris dan menyadari bahwa Tuhan begitu baik bagiku. Walaupun aku telah menjauh dariNya, bahkan seringkali menyalahkanNya, namun Ia tidak pernah meninggalkanku dan tetap mengakuiku sebagai anakNya. Ia ingin agar aku bertobat sebelum semuanya terlambat. “Tuhan, Engkau sangat baik bagiku. Kau tidak membiarkanku tenggelam dalam lumpur dosa. Kau tidak membiarkan narkoba itu merenggut nyawaku dan membawaku ke dalam kematian. Terima kasih untuk kesempatan ini. Aku ingin menjadi hambaMu yang taat dan setia di dalam Engkau…” Saat itu aku benar-benar bertobat. Yang berbeda dalam masa tahananku kali ini ialah, sebelumnya aku ditahan dengan rasa kekuatiran dan kemarahan, namun kali ini aku lebih banyak mengucap syukur dan berusaha untuk menjalani dengan sukacita hari-hari dalam tahanan itu sampai akhirnya, 31 Desember 2005, aku selesai menjalani masa tahananku.

Titik balik kehidupanku

1 Januari 2006, hari yang paling bersejarah untukku karena hari itu aku memutuskan untuk memulai kehidupan baru dengan Tuhan Yesus yang akan terus menuntunku dalam tiap langkahku. “Tuhan, ajar aku melakukan segala yang Kau inginkan untuk aku jalani dalam hidupku ini…” pintaku kepadaNya.

Sebagai jawaban doaku, Ia menempatkanku dalam sebuah komunitas rohani di daerah Kelapa Gading. Dan aku juga kembali memulai karierku di dunia entertainment dengan cara hidupku yang baru dalam Kristus. Aku juga ambil bagian dalam pelayanan untuk menyaksikan betapa besar kasihNya bagiku karena Ia telah menghajar dan menegurku saat aku hampir tenggelam dalam lembah maut demi menyelamatkan hidupku. Lingkungan pergaulanku yang baru ini juga membuatku merasa sangat damai dan tentram. Ada sukacita yang kurasakan dalam hari-hariku, yang tidak pernah kurasakan sebelumnya ketika aku masih hidup dalam kenikmatan dunia. Hal yang membanggakan bagiku ialah, melalui pertobatan dan pemulihanku ini, ayahku yang dulu belum sungguh-sungguh di dalam Tuhan kini mengambil keputusan untuk menjadi orang Kristen sejati.

Sumber Kesaksian :
Billy Glen (jawaban.com)

Junaedi Salat : Ketenaran Bawaku ke Jurang Dosa

Masih ingatkah Anda dengan Film di era-70 yang berjudul Ali Topan Anak Jalanan ? Ya, ini adalah kisah hidup pemeran utamanya, Junaedi Salat.

Hidup Memprihatinkan

Sebelum menjadi seorang aktor terkenal, Junaedi Salat adalah pria yang hidupnya sangatlah memprihatinkan. Untuk memenuhi kebutuhan perutnya saja ketika itu ia harus pontang-panting menjalani satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya

“Bisa makan sehari sekali saja sudah cukup. Hidup kok menderita amat ya…Pantesan orang bilang, sekejam-kejamnya ibu tiri, lebih kejam ibukota. bener juga gitu ya… Jadi terpaksa saya jalanin dengan apa adanya,” ujarnya.

Datangnya Kesempatan Merubah Kehidupan

Suatu ketika boss dimana ia bekerja mengajak Junaedi untuk bermain film. Meski awalnya terkejut, ia pun mengambil tawaran yang diberikan kepadanya.

“Boss saya itu sebenarnya bernama Temmy Effendi, suami dari Rahayu Effendi. Saya terkejut sekali, suatu kali dia ngajak saya main film. “Udah sekarang kamu mau film gak?”,

“Saya pikir apa salahnya ya, dapat kesempatan, uangnya juga gede”

Walau tidak memiliki target apa-apa, ternyata ia terpilih bermain sebagai pemeran utama di film pertamanya.

“Pokoknya hari itu sedang ada audisi…nah saya tidak menaruh harapan untuk main film. Saya langsung kok terbayang “rumah itu pasti kotor, banyak debu. Jadi saya otomatis aja, masuk ke pintu, buka lihat-lihat, terus pegang-pegang, banyak debu, ngambil bulu ayam, saya bersih-bersihin, gitu…Suruh ngucapin dialog, ngucapin apa adanya aja ternyata pilihan jatuh ke tangan saya. Langsung dapat peran utama”

Ketenaran, Uang, dan Wanita Datang

Setelah berhasil memerankan berbagai film dan menjadi pemeran utama Ali Topan Anak Jalanan, ia pun semakin eksis dalam berbagai bidang.

“Tahun 77 adalah tahun selebritis saya di dalam berbagai bidang. Pertama main Ali Topan, orang kenal saya. Yang kedua, tahun 77 saya bikin vokal grup sama Guruh Soekarno Putra, Suara Mahardika. Yang ketiga saya buat album yang judulnya Sabda Alam, itu juga booming. Akibatnya saya semakin dikenal dan sejak saat itu saya tak pernah cari uang, uang cari saya”

“Perempuan mah gak usah dicari, dicari malahan. Ngajakin kencan, ngajakin jalan, macam-macam. Apalagi kalau kita syuting di luar kota, uhhh…begitu break, masuk hotel, ya udah tinggal milih aja. Menjadi tujuan saya ya uang dan wanita”

Menikah Dengan Wanita Pujaan Hati

Wanita datang silih berganti dalam hidupnya, namun kali ini ada yang berbeda saat ia bertemu dengan wanita yang menjadi pujaan hatinya. “Saya disitu istilahnya koordinator musik. Mau ngga mau kita komunikasi. Dia pemain piano, saya sering komunikasi. Waktu saya ajak bicara, nanggapinnya enak, sopan, baik. Saya menyatakan lah, saya suka gitu ya dan dia menerima”

Mereka akhirnya memutuskan untuk menikah, namun pernikahan tidak lah seindah Junaedi yang diharapkan. “Sementara saya menikah kayak gitu, gak bisa apa-apa. Maki dengan omongan yang kasar”

“Kalau lo di mata Tuhan baik, lo pasti ke surga; kalau lo di mata Tuhan jahat, lo biar pun 1000 kali ke gereja, lo tetap juga lo ke neraka, sama aja. Hidup sehari-hari harus gimana lo. Jadi, yang penting hidup baik. Kalau kita sama-sama hidup baik, kita pasti ke surga,”

Main Perempuan Lagi

Dia pun tidak kuasa dengan nafsu liarnya dan Junaedi pun kembali jatuh ke wanita lain. “Meski sudah punya istri, ya tetap main perempuan. Di luar sana kan banyak yang masih berbodi gitar Spanyol. hahaha…. dan itu dunia lama saya dulu. Jadi, buat saya masuk ke dunia seperti itu biasa aja”

Layaknya seorang aktor yang memerankan sebuah peran, ia sangat pandai bersandiwara. Namun bagaimana jika keadaannya seperti ini. “Jadi kalau saya pulang syuting atau apa, saya lihat dia sudah di rumah. Makanan sudah tersedia, semuanya sudah tersedia. Pokoknya enak lah jadinya rasanya. Melayani suaminya yang gak jelas, dia lakukan. Dia ngelayanin saya, dia masak, masakannya enak, pinter masak lama-lama dia. Pokoknya berubah lah dia menjadi lemah lembut. Rupanya dia juga sering berdoa buat saya”

“Disitulah mungkin Tuhan mulai bekerja”

Apakah peristiwa ini dapat mengubah kehidupannya?

Menemukan Jalan Kebenaran

“Sekitar 2 malam, saya sedang tidur, rumah saya pintunya digedor. Saya terbangun kaget. Saya pikir siapa nih orang kurang ajar. Saya buka pintu, gak ada orang, sepi, kosong, lalu saya tutup lagi. Saya ngelamun di sofa, “Ini yang gedor benaran gak ya, kedengaran kok pintu digedor, tapi kok gak ada orang”, lagi saya ngomong-ngomong mikir gitu ya ada suara yang bicara sama saya (Carilah kebenaran maka kamu akan diselamatkan)”

“Saya bingung juga dengan kata-kata itu, apa ini kebenaran. Apa saya gak bener gitu hidupnya. Tapi saya pikir, ah emang gw pikirin. Ya udah, saya tidur lagi, Nah, pagi-pagi tuh kata-kata itu terus terngiang di hati. Kata-kata itu saya tidak tahu datang dari mana, malaikat kah yang ngomong atau Tuhan kah yang ngomong, yang jelas kata-kata itu tertancap di hati saya. Saya pengen tahu apa itu kebenaran. Lantas saya cari dari berbagai agama”

Lalu, dengan cara apa ia akan menemukan jalan kebenaran yang selama ini ia cari? Mungkin kah kitab yang dimiiki istrinya bisa menjawabnya?

“Istri saya tidak tahu sama sekali. Terus sembunyi-sembunyi, saya ambil lagi, saya baca…”Yesus””

Entah apa lagi yang harus ia lakukan. Baginya, sulit untuk mengerti sebuah jalan kebenaran. “Itu dalam sebuah kendaraan dimana saya mau pergi rekaman, saya bawa mobil dan saya tanya, “Yesus, Engkau ini Tuhan atau bukan?” Saya gak tahu itu, air mata saya turun, nangis, ada penyesalan yang luar biasa dan saya merasakan Tuhan memeluk saya dan ada satu perkataan yang saya dengar waktu itu, “anak-Ku yang hilang””

“Dia berkata, “Aku lah Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat dunia, kalau kamu tidak percaya, kamu mati” Jadi saya terima Dia dan saya nangis sehabis-habisnya. Lalu Tuhan kasih film, berapa ratus kali saya berzinah, perempuan A perempuan B, digambarin semua. Dosa saya itu digambarin semua. “Ini yang kamu lakukan dan kamu binasa karena ini”. Saya terima Dia. Terus ada rasa damai di hati. Hidup itu indah, tenang tentram..Yesus, Yesus terima kasih Tuhan, terima kasih”

“Saya pikir dulu kalau saya jadi orang kaya, saya terkenal, itulah hidup yang indah. Ternyata hari itu saya menemukan suatu kehidupan yang terindah di dalam hidup saya dimana saya menemukan rasa damai, yang susah diceritakan ya”

“Saya nangis, istri saya peluk saya. Dia bingung, “Kenapa kamu nangis? Ada masalah?” Saya bilang ngga. “Kenapa kamu nangis?” Ya itu saya ceritain peristiwa itu, terus istri saya peluk saya dan dia nangis. Dia bersyukur kepada Tuhan karena doanya selama ini dijawab”

Hidup Baru di Dalam Yesus

Sosok Yesus telah mengubah kehidupannya hingga ia pun semakin bertekun dalam sebuah pengajaran akan firman Tuhan. “Di dalam Yohanes 14 ayatnya yang keenam, Yesus berkata, “Akulah Jalan dan Kebenaran dan kehidupan. Tidak ada seorang pun dapat datang kepada Bapa, tanpa melalui Aku”. Baru saya tahu yang saya cari selama ini, kebenaran itu apa. Baru saya tahu Yesus itu kebenaran”

“Jawaban itu memang ada di Yesus. Ketika kita menerima Yesus, kita itu diberi surga. Surga itu tidak ternilai. Kita punya uang 500 triliun juga tidak bisa masuk surga kok. Berarti itu suatu pemberian yang mulia, yang sangat mahal. Yang mahal aja Tuhan kasih, masa cuma yang ecek-ecek Tuhan gak kasih ? Itu keyakinan saya””

“Satu hal kalau kita mau maju ke depan, kita jangan tengok-tengok ke belakang. Tuhan gak mau itu…Saya bersyukur sekali Tuhan itu baik. Sebagai keluarga yang sudah dimenangkan, diselamatkan, ucapan syukur saya dan bapak, hanya bagaimana untuk menyenangkan hati Tuhan lewat sikap hidup, lewat pelayanan yang Tuhan berikan kepada kami,” ungkap Elizabeth Menik S, istri Junaedi Salat.

“Jadi saya tidak takut miskin, tidak takut melarat, tidak takut apa pun karena saya punya Bapa yang menjamin hidup saya. Saya punya Tuhan yang sangat baik, yang mencukupi kebutuhan hidup saya, yang sanggup mengadakan yang tidak ada menjadi ada, yang tidak mungkin menjadi mungkin, ya itu Dia Yesus namanya dan Dia lah kebenaran yang sejati,” ujar Junaedi Salat mengakhiri kesaksiannya.

Sumber Kesaksian :
Junaedi Salat (jawaban.com)

Sisi Gelap Hidup Tessa Kaunang, Finalis Gadis Sampul 1993

Pada awalnya, Tessa Kaunang hanyalah seorang gadis biasa sampai akhirnya dia menjadi finalis Gadis Sampul 1993. “Masuk ke dalam majalah, itu seru itu, seneng… banggga apalagi” kisah Tessa Kaunang tentang pengalaman barunya semasa remaja. “Waktu wajah kita keluar di majalah cover, wah kita senang banget.” katanya. Setelah menjadi Gadis sampul, Tessa Kaunang pun mencoba merambah dunia sinetron bersama teman-teman finalis Gadis sampul.

Sejak saat itu, glamor dan hedonisme adalah bagian kehidupan dari seorang Tessa Kaunang. “Mencari kesenangan dengan pergi ke clubbing, dimana semua orang, ya hampir semuanyalah yaaa minum, merokok, nge-drug, jadi ya ngikut. Apalagi waktu itu saya yang masih remaja. Lebih banyak ingin mencari tahu banyak hal. Ya coba ini deh, coba itu deh. Jadi, menurut saya di luar rumah itu jauh lebih nyaman daripada di dalam rumah, karena saya tidak pernah memikirkan rumah lagi.” jelas Tessa.

Apa yang menyebabkan Tessa malas memikirkan keadaan rumahnya? “Jadi kalau mama itu sudah cerewet, mulai ngasih tahu, papa itu masih melawan. Sampai akhirnya diomongi sedikit, marah. Marahnya bukan makin turun, tapi makin naik terus. Mereka berantem, dan berantemnya itu bukan berantem biasa. Mereka tuh sampe buat rumah itu pecah semua, sudah kayak kapal pecahlah ya…”. Tidak hanya itu, Tessa juga menyaksikan mamanya yang bertubuh kecil dipukul oleh papanya yang sedang dalam keadaan marah. Hal itu membuatnya tertekan.

Ternyata papanya jatuh dalam dosa, papanya sudah berselingkuh selama 29 tahun lamanya. Jadi, karena itulah Tessa lebih senang berada di luar rumah, karena dia bebas mau berbuat apa saja. Dia pun melakukan apapun yang dia suka, termasuk free sex. Baginya, semua itu biasa saja karena dia pun sudah punya penghasilan sendiri.

Tessa Kaunang baru naik daun pada 1999-2000 setelah melewati perjuangan panjang. Karena itu, dia sangat ketakutan jika orang lain mengetahui bagaimana kehidupan keluarganya sesungguhnya ataupun kehidupan pribadinya sendiri.

Suatu hari, Tessa menganjurkan mamanya untuk bercerai dengan papanya. Menurutnya, biar saja sang ayah pergi meninggalkan mereka karena dia kan sanggup membiayai ibu dan dirinya sendiri. Bahkan, papanya pun boleh mengambil barang apa saja yang ada di rumah, karena Tessa yakin bahwa harta papanya di dalam rumah itu hanya sedikit. “Segitu sombongnya saya dan segitu besarnya akar kepahitan saya sama papa saya,” lanjut Tessa.

Meski mendapatkan perlakuan kasar, mamanya tidak mau bercerai dari papa Tessa. Bahkan, mamanya dengan rajin mendoakan suaminya. “Sampai saya sebel juga. Sudah tahu disiksa, sudah tahu kayak gini, masih aja mau nerima papa.” Pikiran Tessa waktu itu.

Tessa Kaunang yang memang terbentuk dengan sifat kerasnya, akhirnya tetap berbuat semaunya. Jika mamanya meminta saran, maka Tessa hanya memberikan satu saran, yaitu cerai. Tapi mamanya tidak mau. Akhirnya, sang mama hanya bisa datang kepada Tuhan, merendahkan diri dan memohon jalan keluar.

Salah satu wanita yang menjadi teman selingkuh ayahnya, akhirnya ketahuan hamil dan ayahnya pun disuruh bertanggung jawab. Di situlah Arthur, si ayah mulai merasa resah dan akhirnya dia pun mengakui segalanya bahwa dia telah berselingkuh. Meskipun begitu, dengan penuh pengampunan, Julia Kaunang mau mengampuni suaminya. Sang ayah pun mencoba memperbaiki hubungan suami istri dan juga hubungan ayah anak yang rusak.

Awalnya Tessa sangat meragukan perubahan yang terjadi dalam diri ayahnya. Dia bertanya-tanya apakah ayahnya akan jatuh lagi. Namun, lama kelamaan setelah melihat perubahan dalam diri ayahnya yang memang telah berubah, Tessa pun mendapatkan kembali contoh keluarga yang ideal. Di samping itu, Tessa pun mulai kembali kepada firman Tuhan dan melakukan perintah-Nya. Jika Tuhan saja bisa memaafkan dosa-dosa manusia yang begitu besar, apalagi kita harus mampu memaafkan sesama kita manusia.

“Bagaimana cara bisa memaafkan dia? Kita harus meminta bantuan Tuhan. Kalau kita sendiri yang memaafkan kita tidak akan kuat, itu yang saya rasakan.” Jelas Tessa. Dia melihat perubahan yang besar dalam diri ayahnya, ayahnya menjadi begitu bijaksana dan mencerminkan sikap seorang papa yang baik. Sekarang Tessa dan papanya menjadi dua orang yang karib.

Mereka terus melaju dan selalu melihat positif ke depan. “Kalau kita sudah berani mengambil keputusan untuk bertobat, kita juga harus berani menjadi saksi Tuhan. Makanya mengapa saya sekarang berani menceritakan, karena saya ingin keluarga saya ini menjadi terang dan garam buat kita juga.” Dan percayalah, saat berjuang melawan dosa, kepahitan, masalah, kita bisa menang bersama Tuhan.

Sumber Kesaksian :
Tessa Kaunang (jawaban.com)

Adik Thessa Kaunang Nyaris Tusuk Ayahnya

Orang bilang anak adalah duplikat orangtuanya. Dan biasanya seorang anak laki-laki mengidolakan ayahnya. Tapi tidak dengan Genesy Kaunang. Jeratan belenggu narkoba membuatnya nekat melakukan perbuatan-perbuatan yang berujung pada kehancuran hidupnya. Pergaulan buruklah yang menjerumuskan Genesy ke dalam jerat narkoba.

“Bertemu dengan teman-teman di luar yang tidak benar yang menyeret saya ke narkoba dan hal-hal yang tidak benar lainnya,” ujar Genesy mengawali kesaksian hidupnya.

Tawuran menjadi saluran ekspresi jiwa muda Genesy. Rasa takut tak ada dalam kamus hidupnya kala itu. Rasa puas yang tak terhingga dirasakannya setiap kali lawannya terkapar di jalan tak berdaya.

Sikap keras Genesy ternyata berakar dari kekecewaannya terhadap sikap sang ayah yang menjalin hubungan dengan banyak wanita dan berimbas pada keharmonisan rumah tangga orangtuanya. Bahkan ayah Genesy pernah memukul ibunya sampai tulang selangkanya patah. Emosi Genesy menjadi tak terkendali menyaksikan hal itu. Ia bahkan berniat membunuh ayah kandungnya sendiri dengan pisau yang sudah tergenggam di tangannya kala itu. Namun ibunya menghalangi niat Genesy untuk menusuk ayahnya.

“Saya bingung waktu itu, mama barusan dipukul papa dan bisa-bisanya mama membela papa supaya saya tidak tusuk papa. Waktu itu sebenarnya saya bingung, saya tidak mengerti…,” ungkap Genesy.

Masuk ke dalam dunia kampus, Genesy mulai berkenalan dengan putaw dan heroin. Berawal dari mendapatkannya secara cuma-cuma, Genesy mulai ketagihan. Apapun rela dilakukannya demi bisa mendapatkan uang untuk membeli barang haram tersebut. Barang-barang berharga di dalam rumahnya satu-persatu mulai dijual olehnya.

Thessa Kaunang, sang kakak, yang memergoki perbuatan Genesy, tak dapat menghalangi niat Genesy. Kegilaan dalam kondisi sakau bahkan membuat Genesy tega mendorong ibunya sendiri sampai tersungkur di lantai saat mencoba menghalangi niatnya untuk menjual barang berharga yang dicurinya. Satu-satunya hal yang ada di dalam pikiran Genesy hanyalah bagaimana menghilangkan rasa sakit di badannya akibat sakau.

Genesy sempat mengalami over dosis sampai tiga kali. Nyawanya menjadi taruhan. Segala nasehat orangtuanya hanya menjadi angin lalu bagi Genesy. Ia sungguh-sungguh tak peduli dengan hidupnya sendiri karena Genesy tidak menemukan orang-orang yang dapat menguatkan dirinya saat itu. Meskipun berhasil melewati masa-masa kritisnya akibat overdosis, Genesy tetap tidak jera. Pencurian dan perampokan bahkan berani dilakukannya untuk dapat kembali menikmati narkoba. Aksi Genesy mencuri mobil sempat membuat Genesy merasakan dinginnya jeruji besi. Namun kasus pencurian itu masih dapat diselesaikan secara kekeluargaan sehingga Genesy tidak perlu berlama-lama berada di balik jeruji besi.

Pengorbanan orangtuanya untuk menebus dirinya keluar dari penjara, bahkan sampai mengeluarkan uang puluhan juta, membuat Genesy berpikir bahwa ternyata orangtuanya tidak sejahat yang selama ini dipikirkan olehnya. Rehabilitasi sempat menjadi pilihan Genesy untuk pulih. Namun ketika ia kembali ke Jakarta, Genesy tak sanggup melawan godaan dari lingkungan pergaulannya dan kembali terjatuh dalam kelamnya dunia narkoba.

“Saya benar-benar lebih parah jadinya. Saya menjadi lebih menggebu-gebu. Dan dorongan untuk menggunakan narkoba menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Dari sabu, campur inex dan ektasi, akhirnya jatuh dalam free sex juga dengan pacar saya. Saya juga bingung tidak tahu bagaimana caranya bisa lepas dari hal itu. Yang membuat saya tidak bisa berhenti memakai narkoba sebenarnya adalah karena kemarahan yang belum selesai di hati saya kepada orangtua. Bukan rehabnya yang bisa mengubah saya. Sebenarnya yang harus diubah itu hati saya,” ungkap Genesy.

Entah apalagi yang dapat melepaskan Genesy dari belenggu narkoba yang telah mengikatnya sekian lama. Lagi-lagi Genesy tertangkap oleh polisi lengkap dengan barang bukti berupa jarum suntik dan narkoba. Ia pun dikenakan pasal pemakai dan Genesy kembali merasakan suramnya sel penjara. Saat itu orangtua Genesy memberikan Alkitab kepadanya. Dan ternyata banyak hal yang didapatkan Genesy saat membaca Alkitab.

“Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, yaitu bagi saya, Genesy, yang mengasihi Tuhan yang terpanggil sesuai dengan rencana Tuhan. Itu yang saya ingat. Berarti saya masih punya kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebh baik di depan, yang saya pikir setelah memakai narkoba semua itu telah hancur. Jadi saya pikir saya tidak punya masa depan,” ujar Genesy.

Dalam dingin dan gelapnya jeruji penjara, Genesy berjuang keras melawan rasa sakau yang sangat menyakitkan. Dan Genesy memiliki cara tersendiri untuk mengalihkan rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya dengan menyanyikan sebuah lagu yang begitu merema dalam hiduonya, yaitu “Ku mau cinta Yesus selamanya”.

“Lagu itu seperti menggambarkan diri saya. Mau ada godaan narkoba nanti di depan, mau ada godaan free sex atau apaun juga, tapi saya lebih memilih untuk tidak jatuh. Saya lebih memilih untuk bangkit. Setiap kali lagu itu dinyanyikan, membawa ketenangan buat saya,” ujar Genesy.

Dendam dan kebenciannya kepada sang ayah memang masih terpendam. Namun sebuah peristiwa mengubah segalanya. Saat sang ayah menjenguk Genesy di penjara, ia tak pernah mengira bahwa ayahnya akan berjongkok di depannya dan meminta maaf karena telah menjadi figur ayah yang tidak baik bagi dirinya. Saat itulah Genesy merasa bahwa inilah saatnya keluarganya dipulihkan. Dan momen ayahnya meminta maaf menjadi titik balik yang mengganti semua kebencian dan kekecewaan di hati Genesy menjadi kasih sayang yang besar kepada ayahnya. Tiba-tiba semuanya dirasakan begitu berbeda oleh Genesy. Beban berat yang selama ini dibawanya terasa lepas dan Genesy tahu dirinya telah bebas dari segala kebencian dan kepahitan.

Setelah menjalani proses yang panjang, Genesy kembali menghirup udara kebebasan. Bukan hanya bebas dari penjara, namun juga kebebasan dari segala belenggu hidup yang telah lama menjeratnya.

“Yang sekarang itu Gen, istilahnya lebih rela berkorban untuk orang lain daripada dirinya sendiri. Maksudnya bisa mempunyai karakter Kristus, bisa sabar dan penuh kasih,” ujar Thessa kaunang, sang kakak, mengungkapkan perubahan nyata yang terjadi atas diri Genesy.

“Yang membuat saya seperti sekarang, yang mengubahkan keluarga saya, hubungan saya dengan orangtua saya, memulihkan semuanya yang membuat kita sebagai satu keluarga yang melayani, satu orang bertobat seisi rumahnya diselamatkan itu menjadi satu janji yang sudah digenapi, yaitu hanya karena Tuhan Yesus Kristus yang luar biasa itu,” ujar Genesy menutup kesaksian hidupnya.

Sumber Kesaksian:
Genesy Kaunang (jawaban.com)

Advent Bangun: Tuhan Saya Itu Karate

Telah menjadi tekadnya, hidup dan matinya akan ia berikan bagi kecintaannya terhadap bela diri. Menjadi juara karate selama dua belas tahun berturut-turut, adalah bukti bahwa Advent Bangun sangat serius menekuni olahraga tersebut. Bahkan keahliannya dalam bidang bela diri ini membawanya melanglang buana dalam dunia film laga, dirinya mencatat telah membintangi 60 film.

“Dulu.. Tuhan saya itu karate,” demikian ungkap pria yang bernama lengkap Thomas Advent Bangun ini.

Awal ketertarikan Advent kepada karate bermula dari pengalaman traumatis yang menghantuinya.

Suatu malam, Advent Bangun pulang bersama dengan kakak perempuannya melewati sebuah bioskop. Di pinggir bioskop itu banyak anak-anak muda yang sedang berkumpul sambil minum-minuman keras.

“Mereka lihat kakak saya, dipikir perempuan nakal. Karena diganggu, saya lawan. Saya langsung dipukulin sama sekitar 30an orang. Saya dihajar sama 30 orang itu, rasanya seperti slow motion semua. Sampai ada yang ambil pisau, saya mau ditikam tapi saya bisa loncat ke belakang seperti salto gitu.” Advent bangun yang tidak berdaya di hajar oleh massa terus meronta, dan ketika bisa lepas dari mereka ia segera lari sekencang mungkin. Kejadian itu menyisakan rasa sakit dan dendam di hati Advent.

Hingga ia suatu saat ia melihat sebuah latihan karate, dimana mereka dengan tangan kosong mampu menghancurkan es balok dan papan, timbul keyakinan dalam hatinya, “Kalau saya latihan seperti itu, 100 orang juga bisa dibabat.”

Ia pun mendaftar untuk ikut latihan karate itu. Dendam dan rasa sakit dihatinya, membuat dirinya berlatih ekstra keras, “Kalau orang latihan sejam, saya dua jam. Kalau yang lain latihan dua jam, saya empat jam. Saya ngga mau kalah sama orang, saya harus the best..!”

Dendam dalam hati Advent, dilampiaskannya sewaktu bertarung. Jika belum membuat lawan babak belur, ia belum merasakan kepuasan. Sakit hati yang begitu dalam itu dikarenakan apa yang ia alami sewaktu kecil. Saat itu, kakak kecilnya menganiayanya dengan begitu kejam.

“Saya ditarik ke sungai, sungainya dangkal, dan saya di injak-injak disitu. Saya banyak minum air waktu itu, sudah hampir mati, tapi untung ada orang yang lihat. ‘Woi.. itu Advent Bangun mau dibunuh sama abangnya!!’ Semua orang datang dan akhirnya abang saya lari.”

Setiap pertandingan, menjadi ajang pelampiasan dendam baginya. Satu hal yang ia inginkan, juara. Advent tidak mau membagi posisi puncak di dunia karate dengan siapapun.

“Begitu dimulai, kaki kanan saya itu seperti punya mata. Begitu jaraknya sesuai, dia otomatis keluar. Waktu itu saya seperti marah. Setiap saya bisa melampiaskannya, saya merasa puas. Puas banget! Dan orang semakin takut sama saya, sampai saya dapat gelar ‘dokter gigi’ karena saya hobinya bikin gigi rontok.”

Begitu dikuasai oleh amarah dan dendamnya, sifat keras Advent Bangun ini terbawa dalam kehidupan rumah tangganya.

“Sesudah menikah, saya kaget karena saya mengenal dia tidak cukup lama. Hanya selama enam bulan. Selama saya mengenal itu, saya lihat dia bisa sabar menunggu saya pulang kantor. Ternyata tidak sepenuhnya seperti itu. (Sesudah menikah) waktu pergi ke mall atau ke super market, rupanya dia menunggu saya kelamaan. Saya dateng, dia langsung marah, dan langsung banting pintu,” ungkap istri Advent, Louis Sulingga.

Bukan hanya tidak sabar, Advent ternyata juga pria pencemburu. Jika istrinya pulang tidak tepat waktu, maka sang istri akan menerima luapan amarahnya. Louis sempat merasa menyesal telah menikahi pria yang ditolak oleh kedua orangtuanya tersebut.

“Saya merasa kok rumah tangga saya seperti ini. Saya berdoa, ‘Tuhan tolong saya, kalau semua ini terjadi karena kesalahan saya, karena dosa-dosa saya, saya minta ampun. Saya mau bertobat, saya mau kembali sama Tuhan. Tuhan Yesus tolong saya. Pulihkan rumah tangga saya, buka jalan bagi hidup saya,’” demikian Louis kembali berharap pada Tuhan agar dapat memulihkan kehidupan rumah tangganya.

Menghadapi Advent yang temperamental dan keras, Louis seperti tidak berdaya. Apalagi ketika Advent tidak senang dengan gereja yang dikunjungi oleh Louis.

“Kalau kamu kegereja itu lagi, awas kamu! Saya hajar kamu! Apa itu, lompat-lompat, nyanyi-nyanyi, muji-muji! Gereja apaan itu! Sesat itu!” demikian Advent mencerca istrinya. Karena istrinya memilih gereja yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya, Advent tidak mau sekamar lagi dengannya selama satu tahun.

“Jijik.. marah..” Advent menceritakan perasaannya kala itu.

Louis hanya bisa berlari ke kamarnya dan menangis kepada Tuhan. Ia memohon kepada Tuhan agar terus diberikan kekuatan untuk mengasihi Advent. Cintanya pada Tuhan, mengalahkan rasa takut Louis kepada Advent, entah mendapat kekuatan dari mana, Louis membuat keputusan yang sangat berani. Ia mengatakan dengan jujur kepada Advent bahwa dirinya ingin dibabtis selam.

“Itu mau meledak rasanya,” ungkap Advent. Wajahnya memerah, dan dia hanya bisa menatap istrinya sambil menahan amarah. Namun sungguh ajaib, yang terlontar dari mulutnya adalah, “Ya udah, aku anterin kamu.”

Benar, seperti yang dikatakannya. Advent mengatarkan istrinya untuk dibabtis selam. Saat mengikuti ibadah sebelum acara pembabtisan itu, sesuatu terjadi dalam hidup Advent.

“Hamba Tuhan itu mengkotbahkan tentang kuduslah kamu sebab aku kudus. Ada dua ayat, yaitu 1 Petrus 1:16 dan Ibrani 12:14, Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Firman itu keras, seperti saya kena tendangan di dada saya. Kedua firman itu membuat saya menangis, saya terlalu banyak marah, dendam, benci pada semua orang. Jadi disitu saya seperti tertemplak, seperti ditampar..”

Advent yang malu menangis di depan orang lain, berseru kepada Tuhan di balik sebuah tiang gereja itu. Dia benar-benar menyadari bahwa dirinya memerlukan Tuhan untuk mengubah hidupnya. Sepulangnya dari pembabtisan istrinya, dia bicara empat mata dengan Louis, “Mah, saya mau pelepasan dan saya mau dibabtis.”

Namun setelah memutuskan untuk bertobat, proses yang harus dijalani Advent tidaklah mudah. Apa lagi saat ia diperingatkan oleh istrinya tentang kebanggaannya pada semua pialanya, hal itu membuat Advent berang. Tiga hari ia mendiamkan istrinya, Advent merenung dan matanya tertuju pada sebuah ayat.

“Saya lagi baca firman, Filipi 3:7-8, saya sangat kaget membaca firman itu: Semua ku anggap rugi setelah pengenalan akan Kristus. Semua ku anggap sampah. Yesus lebih mulia dari segala-galanya.”

Setelah perenungan yang dalam akan ayat tersebut, Advent sadar bahwa dirinya telah terikat dengan semua piala dan kesombongannya. Ia menyingkirkan semua piala-pialanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada kesombongan. Sejak itu Thomas Advent Bangun memutuskan hubungan dengan dunia karate. Karate bukan lagi Tuhan dalam hidup Advent, dia memilih Yesus yang menjadi penguasa tunggal atas kehidupannya. (Kisah ini ditayangkan 22 Juni 2011 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
Thomas Advent Bangun (jawaban.com)

Dibalik Masa Kelam Joana Alexandra dan Raditya Oloan


Video Kisah Nyata

Wanita ini memasuki dunia entertain secara tidak sengaja, mulai dari dunia model, kesuksesannya terus menanjak merambah dunia sinetron bahkan hingga layar lebar. Namanya adalah Joana Alexandra, wanita kelahiran tahun 1987 ini begitu terbuai kesuksesan di awal karirnya.

“Dapat honor langsung beli obat-obatan,” demikian pengakuannya.

Setali tiga uang dengan Joana, Raditya Oloan, seorang disc jockey dan pemaian band juga terjerat oleh narkoba ketika masuk dalam hingat bingarnya dunia keartisan.

“Nge-band tanpa drugs rasanya kosong aja, kaya gitu,” ungkap Raditya.

Lalu apa jadinya ketika keduanya menjalin hubungan cinta?

“Dia udah tahu aku mulai make, akhirnya kita make bareng,” demikian pengakuan Joana, “kalau perlu barang mintanya sama dia, kalau dia punya barang dia nawarin. Jadi apa ya? Simbiosis mutualisme.”

Clubing, narkoba, seks bebas, semua itu mereka lakukan tanpa memikirkan akibatnya. Keluarga, pendidikan, karir, bahkan masa depan mereka tanpa terasa berada di ambang kehancuran.

“Polisi, jangan bergerak,” demikian seru seorang polisi.

Saat itu Joana dan Raditya bersama beberapa orang teman di grebek oleh pihak kepolisian.

“Di meja itu, saya ingat banget ada paketan beberapa gram, sama beberapa linting. Jadi kalau diperiksa, pasti ditangkep,” ujar Raditya.

Akhirnya mereka semua digelandang ke polsek Tangerang. Dengan berat hati, Joana dan Raditya menghubungi orangtua mereka untuk meminta bantuan. Rasa takut akan amarah dari orangtua jelas terbersit di hati mereka, namun apa daya, mereka kini sungguh butuh bantuan mereka, mereka hanya bisa tertunduk di hadapan orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan mereka.

“Aku benar-benar melihat pengorbanan mereka, pasti rasanya malu banget  ketahuan ke polsek jemput anaknya yang kena narkoba,” tutur Joana.

Orangtua keduanya hanya bisa menangis saat datang ke polsek, tidak seperti yang mereka bayangkan, tidak satu kata cacian atau amarah yang terucap dari mereka. Orangtua mereka memberikan pengampunan bahkan menjamin mereka sehingga mereka tidak harus merasakan berada di balik jeruji penjara. Sayangnya, hal itu tidak membuat mereka sadar dan mengubah cara hidupnya dan membawa diri mereka kesebuah permasalahan yang baru.

“Aku baru saja promo film layar lebar aku, jadi yang kemarin-kemarin sibuk promo selain itu aku juga masih make banget, kemana-mana itu pasti teler, tiba-tiba harus diperhadapkan kalau aku hamil. Antara takut sama apa yang akan terjadi dengan karir aku, orangtua gimana, teman-teman gimana, pikiran-pikiran buruk langsung kepikir sama aku.”
Selama satu bulan Joana dan Raditya tidak bisa memutuskan harus melakukan apa. Sempat terbersit pilihan untuk aborsi, namun entah mengapa mereka masih tidak bisa memutuskan juga.

“Sebenarnya pertama-tama pemikiran saya ya aborsi, karena lingkungan saya banyak yang aborsi, jadi bagi saya itu suatu hal yang biasa. Tapi di hati saya tergerak untuk berkata: Jo, kalau kamu mau terusin, aku mau terusin,” terang Raditya.

“Ini benaran nih, bayinya mau dijadiin?” tanya Joana tidak percaya. “Benar-benar ngga kebayang nanti jadi seorang ibu, lalu punya baby, trus nanti apa yang harus dihadapin benar-benar ngga kebayang.”

Sekalipun takut, Raditya memberitahukan perihal kehamilan Joana itu kepada orangtuanya, demikian juga Joana, mereka berdua terbang ke Manado menemui orangtua Joana untuk mengakui perbuatan mereka. Sungguh diluar dugaan, kedua orangtua mereka tidak memperlihatkan amarah mereka sekalipun memang terluka, namun mereka mendukung keduanya untuk mengambil langkah selanjutnya.

“Oke pah, kita sudah putusin untuk terusin.”
”Kalau begitu papa dukung, papa akan ngomong sama mama. Kamu kasih clue, kamu besok dateng ya,” ungkap papa Raditya.

“Mulai menjauh dari rumah, papa saya melambaikan tangan, dadah. Disitu hati saya benar-benar hancur. Saya lihat mukanya tidak ceria, dia senyum, tapi saya lihat matanya sedih sekali.”

Tatapan sang ayah benar-benar menghancurkan hati Raditya. Lelah, bingung, sedih, semua perasaan itu bercampur baur di hati Raditya. Ia akhirnya memilih tidur tanpa mengucap sepatah katapun pada Joana.

“Saat saya tidur, saya terus terbayang dengan papa saya. Mungkin saya tidur sekitar 10 menit, hati saya seperti ada yang pukul. Saya bangun, saya langsung megap-megap nangis, dan saat nangis kata-kata yang pertama keluar adalah : Tuhan tolong saya, saya menyerahkan hidup saya seluruhnya untuk Engkau. Kami berdoa, setelah selesai, ada damai dan kekuatan baru dari situ.”

Januari 2007, akhirnya keduanya masuk dalam pernikahan. Keduanya masih muda, labil dan penuh ego. Mereka mencoba investasi dalam sebuah usaha dalam jumlah yang cukup besar, namun gagal. Namun masalah mereka bukan hanya itu, mereka masih tetap mengkonsumsi narkoba, bahkan Joana tidak lagi memikirkan janin dalam kandungannya. Beruntung, mereka menemukan sebuah komunitas yang mau menerima mereka apa adanya bahkan membimbing mereka untuk bisa keluar dari semua keterikatan itu.

“Beruntung saya berada di sebuah komunitas yang luar biasa, aku bersaksi dan didoain, dan puji Tuhan, itu sembuh.”

Dengan saling mengakui dosa, mereka sedang menelanjangi pekerjaan iblis. Dikomunitas ini juga, mereka mengikuti konseling. Hingga pada Oktober 2007, Surya anak pertama mereka lahir. Kelahiran Surya di ikuti oleh sebuah perubahan yang luar biasa. Joana bersih dari keterikatan narkoba. Disisi lain, ada pengorbanan lain yang harus ia lakukan.

“Dulu aku single terserah aku mau pulang jam berapa, mau ngapain aja. Sekarang apa yang mau aku lakuin harus mikirin suamilah, mikirin anaklah, mikirin rumah. Benar-benar rasanya aku dikasih tanggung jawab yang gede banget, sedangkan Radit prioritasnya masih pekerjaan dan pelayanannya dia,” tutur Joana.

Konflik antara suami istri pun mulai terjadi. Namun bagaimana Raditya menangani tuntutan dari istrinya?

“Saya sudah panas, saya sudah emosi, akhirnya saya bilang ke teman saya: I hate this women! Tapi saya ingat pas konseling, keluarga nomor dua setelah Tuhan, akhirnya walaupun saya kesal, saya kesana. Dia bbm, saya sudah mau jawab dengan kata-kata yang jelek, kata-kata yang menghina-hina, tapi saya merem, saya hapus, saya cuma bilang : I love you. Saya pulang, saat itu saya pikir, saya mengalah untuk menang.”
Raditya benar, dia mendapatkan kemenangan itu. Joana datang menghampirinya, duduk disampingnya dan berkata, “Dit, maafin aku ya?”

“Akhirnya, sejak saat itu hubungan keluarga kita ngga pernah crash.”

Fokus Raditya dan Joana saat ini sudah berubah. Tuhan, itulah yang menjadi prioritas hidup mereka. Hal itu mengubah seluruh kehidupan mereka. Kehidupan rohani mereka bertumbuh, keadaan ekonomi keluarga mereka pun mengikuti.

“Akhirnya saya memutuskan untuk ninggalin bisnis saya, padahal saya lagi hutang, saya tinggalin dan saya full melayani Tuhan. Tapi luar biasa, saya tidak keluar keringat untuk cari uang, tiba-tiba ada orang telephone yang order. Selama satu tahun seperti itu terus, sampai hutang saya lunas.”

Ketika keduanya mengarahkan hidup mereka untuk menjadi semakin seperti Kristus, gaya hidup mereka berubah. Upaya mereka bukanlah mengubah gaya hidup mereka yang lama, namun fokus menjadi semakin seperti Kristus, dengan sendirinya kebiasaan buruk mereka lenyap, dan tampillah pribadi Raditya dan Joana yang baru, yang setiap hari menjadi semakin seperti Yesus Kristus. Jika mereka bisa berubah, Anda pun bisa. (Kisah ini ditayangkan 24 Juni 2011 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:

Joana Alexandra & Raditya Oloan (jawaban.com)

Hans, Bintang Film Laga Yang Terpuruk Karena Judi


Video Kisah Nyata Gila Judi

Kecintaannya pada ilmu bela diri mengantarkan Hans Wanaghi masuk kedunia film laga. Hal ini awalnya hanyalah sebuah mimpi baginya yang hanyalah anak dari daerah dan keluarga sederhana.

“Dari nonton-nonton film ini (film laga), timbul keinginan, ‘Saya kan punya kemampuan bela diri, kenapa ngga sekalian aja jadi pemainnya.’ Tapi hanya sebatas impian, karena saya merasa saya di daerah.”

Impian itu terus bertumbuh di hati Hans, hingga suatu hari sebuah kejadian membuat masa depannya seakan telah hancur.

“Papa saya meninggal, perekonomian keluarga kami hancur. Disitu timbul tekad, suatu hari nanti saya harus merubah keadaan perekonomian keluarga.”

Hans yang akhirnya melanjutkan SMA-nya di Jakarta semakin memperkuat tekadnya untuk menjadi populer dan sukses. Apa lagi ketika ia menyaksikan beberapa teman sekolahnya yang berhasil menjadi artis, impiannya mulai menyala kembali. Suatu hari pintu kesempatan terbuka baginya, ia pun menyambarnya.

“Pada saat itu pemilihan “Abang None Jakarta,” saya coba ikuti. Kebetulan saya mendapat predikat sebagai salah satu abang Jakarta di tahun 83. Disitu, ada salah satu none yang sudah sering ikut drama-drama di televisi. Saya diajak dan di casting lalu diterima. Karena saya baru, jadi dikasih peran figuran untuk coba dulu. Disitulah awal karir saya hingga ke layar lebar.”

Jalan menjadi seorang bintang sudah terbuka lebar di depan Hans. Tidak hanya ketenaran, uang pun mengalir dengan deras ke kantongnya. Namun hal tersebut membuatnya lupa diri dan jatuh dalam dunia seks bebas.

“Saat saya ditawarkan menjadi pemeran utama di sebuah film kolosal, disitulah saya baru merasa inilah dunia saya. Saya semakin populer dan terlena. Saya lagi istirahat shooting, tiba-tiba ada yang mengetok pintu. Pada saat itulah terjadi hubungan suami istri.”

Bergonta-ganti wanita adalah hal biasa bagi Hans, bahkan dirinya sama sekali tidak merasakan bahwa apa yang telah dilakukannya adalah sesuatu yang salah.

Hati Hans semakin melambung saat ia sudah berhasil mendirikan rumah produksi sendiri dan bisa membeli mobil dan rumah mewah. Namun harta telah membutakan mata hatinya, Hans malah terperosok dalam perjudian.

“Dipuncak kesuksesan saya itu, disitu tidak membuat saya bersyukur. Malah saya jatuh dalam perjudian. Memang awalnya membuahkan hasil, sepertinya gampang sekali. Selama masih ada uang ditangan, saya akan terus pergunakan untuk judi.”

Namun malang tak dapat ditolak, kekalahan membuat Hans kehilangan semua hartanya.

“Saya mengalami putus asa, saya sempat stag. Pada saat itu saya baru menyadari bahwa selama ini saya telah menyia-nyiakan apa yang saya miliki.”

Hans mencoba bangkit, ia mulai melamar pekerjaan ke berbagai tempat namun hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. Penolakan demi penolakan ia terima. Hans akhirnya memulai usaha air minum gallon.

“Saya dulu direktur, namun kini saya angkat-angkat gallon sendiri. Saat itu sebenarnya hati kecil saya menangis.”

Sepertinya Tuhan tidak ingin membiarkan Hans terus meratapi nasibnya. Seorang teman datang dan mengajaknya untuk mengikuti sebuah camp khusus pria.

“Sesi demi sesi saya ikuti, hingga pada malam harinya ketika pembicara mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada dalam hidup ini bukanlah milik kita, semua titipan dari Tuhan. Disitu hati saya mulai tersentuh, saya merasa kalau saya sendiri adalah milik Tuhan, masakah saya menyia-nyiakan hidup saya. Disitu saya merasa kelegaan, saya merasa Tuhan Yesus begitu baik. Saya yang tidak bisa bertanggung jawab terhadap berkat yang Tuhan berikan, tapi Tuhan tetap mengasihi saya. Masih mau menyadarkan saya, masih mau menerima saya kembali.”

Sejak saat itu, Hans mengambil keputusan untuk meninggalkan dosa-dosanya dan bersungguh-sungguh hidup untuk Tuhan.

“Saya baru menyadari bahwa saya ini bukan apa-apa. Popularitas dan materi yang pernah saya miliki ternyata tidak bisa membantu saya, tidak bisa mengangkat saya kembali. Hal itu membuat ambisi saya untuk kembali ke profesi saya yang dulu hilang. Jika saya bandingkan, saya kini jauh merasakan ketenangan. Kedamaian yang saya rasakan yang berasal dari Tuhan Yesus.” (Kisah ini ditayangkan 27 Oktober 2010 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:

Hans Wanaghi (jawaban.com)

Saksikan kisah selengkapnya dalam video dibawah ini:

Kisah Nyata dan Kesaksian mantan Pelacur dan Bintang Film Porno

film porno
shelley lubben

Saya lahir tahun 1968, dan tumbuh di California selatan. Saya adalah yang tertua daritiga bersaudara, seorang anak berkemauan keras dengan kepribadian yang “bersemangat”. 8 tahun pertama dalam hidup saya, keluarga saya menghadiri gereja yang baik di mana saya belajar tentang Tuhan dan Yesus.

Sebagai seorang gadis kecil, saya mengenal dan sangat mengasihi Yesus. Ketika saya berumur 9 tahun, banyak hal berubah di dalam keluarga kami. Kami pindah ke Glendora, meninggalkan gereja dan sahabat-sahabat yang kami kenal dan cintai. Kedua orang tua saya berhenti menghadiri gereja, dan perlahan-lahan keluarga kami terseret menjauh dari Tuhan dan dari satu sama lain.

Saya tumbuh tanpa hubungan yang berarti dan intim dengan kedua orang tua saya, meskipun mereka bukan orang tua yang jahat. Banyak dari waktu dalam keluarga kami, kami habiskan duduk di depan televisi. Keluarga kami SANGAT SUKA menonton televisi. Saya masih ingat kebanyakan episode dari televisi tahun 70 dan 80an. The Love Boat, Three’s Company, Star Trek,Twilight Zone, Chips, I love Lucy (favorit kami), The Munsters, Carol Burnett show,Gilligan’s Island, Bewitched, Bonanza, dan Happy Days. Singkatnya, saya dibesarkan oleh televisi dan mulai mengembangkan cara berpikir yang salah dan berbahaya.

Ibu saya sering berkata bahwa, televisi adalah sebuah pengasuh bayi yang hebat. Saat bertumbuh, saya berbeda dari anak-anak lain. Saya benar-benar kreatif, dan pada usia yang sangat muda saya sudah mulai menulis puisi dan cerita pendek. Waktu itu saya sangat frustrasi karena saya tidak memiliki tempat untuk mengarahkan energi kreatif saya. Orang tua saya tidak mendaftarkan saya ke dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan dalam kebanyakan waktu saya, saya merasa sangat bosan. Pada umur 6 tahun, saya menulis, menyutradarai, dan “membintangi” drama sekolah saya.

Guru kelas satu saya melihat kreativitas dalam diri saya. Dia memberitahu ibu saya bahwa dia terkagum-kagum dengan bakat saya, dan dia tidak sabar melihat saya di usia saya yang ke-30. Diapercaya saya bisa menjadi artis Hollywood atau produser film. Saya ingat juga waktu itu saya seorang yang aneh, karena saya mulai masturbasi dan memiliki tendensi seksual pada usia yang sangat muda. Mata saya dibukakan terhadap seksualitas oleh seorang gadis remaja dan saudara laki-lakinya ketika umur saya 9 tahun, dan mulai saat itu mengalami perlakuan seksual dengan perempuan dan laki-laki sebelum saya berumur 18 tahun.

Seks menjadi sesuatu yang membingungkan untuk saya. Seks berarti “cinta” untuk saya karena enak rasanya, merasa dibutuhkan dan diingini oleh orang lain dan menerima perhatian, tapi pada saat yang sama saya merasa kotor. Saya tidak sadar pada saat itu, sebagai seorang anak kecil, saya sedang diperkosa secara seksual. Sebagai seorang remaja, saya mencari cinta dari laki-laki dan alkohol, dan mulai berhubungan seks di usia 16 tahun.

Usia remaja saya dipenuhi dengan teriakan-teriakan dan pertengkaran yang konstan dengan kedua orang tua saya. Saya punya seorang ibu yang marah pada saya sepanjang waktu, dan seorang ayah yang terlihat terlalu sibuk berteriak menegur saya karena sikap saya yang tidak sopan terhadap ibu saya, dibanding membangun hubungan ayah-anak yang berkualitas dengan saya.

Aku tidak ingat seorangpun mengatakan “aku mengasihimu” dalam tahun-tahun itu. Kedua orang tuaku tidaklah jahat, tapi aku merasa mereka tidak tertarik denganku, dan aku menjadi seorang remaja pemberontak yang bertingkah aneh untuk mendapat perhatian. Tapi bukannya mendapat perhatian mereka, orang tuaku malah memilih tinggal diam di rumah.

Begitu apatisnya mereka, saya diperbolehkan melakukan hal-hal seperti berpakaian kostum kelinci playboy pada usia 15 tahun. Saya diperbolehkan mengencani pria-pria yang mereka tidak kenali. Pada usia 15 tahun saya diperbolehkan pergi ke sebuah malam prom dengan seorang laki-laki berumur 18 tahun, yang akhirnya membuat saya mabuk untuk pertama kalinya.

Kejadian ini memulai gaya hidup berpesta untuk saya, dan saya memulai nongkrong di klub malam, menggunakan narkotika, di usia 16 tahun. Orangtua saya tahu saya punya masalah alkohol, tapi mereka tidak tahu apa yang harusmereka perbuat. Mereka mencoba konseling keluarga, tapi ayah terlalu “sibuk” bekerja dan hanya berhasil datang satu kali. Jadi saya pergi mencari keluarga baru dan menemukan “cinta” di kerumunan yang salah, minum alkohol dengan dosis yangteratur, dan mulai merokok ganja. Orang tuaku melalui kesedihan yang dalam karena tindakan-tindakanku, dan akhirnya – di batas kesabaran mereka – mengusir saya darirumah di usia saya yang ke-18.

Saya berakhir di San Fernando Valley tanpa uang dan makanan. Seorang pria “baik”melihat saya kesulitan dan mengatakan betapa dia mengasihani saya. Dia melingkarkan lengannya di sekeliling saya dan menawarkan bantuan. Tapi kemudian dia mengatakan pada saya dia mengenal seorang pria yang ingin berhubungan seks dengan saya danakan memberi saya uang. Saya masih sangat terkejut dan penuh kemarahan karena orang tua saya mengusir dari rumah, sehingga saya tidak peduli lagi dan menerima tawarannya. Saya menjual diri seharga 35 dollar dan hidup saya sebagai pelacur dimulai dari situ.

Tidak lama aku bertemu seorang ibu yang memperkenalkanku pada sisi “glamour” dari pelacuran. Dia mengajariku setiap trik pelacuran dan cara memanipulasi pria. Awalnya terlihat menarik dengan pria-pria memberiku uang, perhiasan, dan hadiah-hadiah, tapi tidak lama hidup saya terasa seperti perbudakan. Saya menemukan diri saya melakukan seks yang aneh dengan orang asing dan mulai membencinya. Pelanggan mulai melakukan hal-hal menyeramkan seperti menyobek kondom dengan sengaja atau mengikuti saya kemana-mana. Lainnya mencoba membunuh saya dan menabrak saya dengan truknya. Pria lain membawa pistol kapanpun ia bersama saya dan mengancamakan membunuh saya kalau saya tidak melayaninya dalam posisi-posisi seks tertentu.

Pria-pria menuntut dan terus meminta dari saya dan saya terus menerus mesti berbohong untuk keluar dari situasi-situasi yang menakutkan. Saya menjadi seorang pembohong professional dan dapat benar-benar berbohong untuk melicinkan jalan saya. Saya bahkan bisa berbohong pada polisi untuk keluar dari tuntutan mengemudi mabuk, dan beberapa pengalaman mengerikan lainnya. Ini adalah standar untuk industri seks dan alat meloloskan diri paling utama untuk setiap penari telanjang, pelacur, atau artisporno.

Gaya hidup dalam industri seks menjadi semakin buruk bagi saya dan saya merasa tidak ada jalan kemanapun untuk lari. Yesus terus mengetuk pintu hati saya tapi saya tidak menghiraukan-Nya. Saya berpikir, Tuhan tidak memelihara saya, jadi saya harus melakukan apa saja yang bisa saya lakukan untuk bertahan hidup sendiri. Siklus ganas sebagai seorang pelacur dan penari eksotik di California selatan bertahan selama delapan tahun. Selama bekerja sebagai pelacur, saya hamil tiga kali dari pelanggan dan hal itu menghancurkan saya. Jutaan pertanyaan muncul dalam pikiran saya setiap kali. Bagaimana saya membiarkan hal ini terjadi? Bagaimana saya akan merawat bayi ini? Haruskah saya aborsi? Kemana saya harus mencari bantuan? Saya bahkan tidak tahu siapa ayah-ayah dari dua kehamilan. Kemudian saya mengingat Yesus dan saya meminta-Nya, “Tolong saya”. Tuhan menghibur saya dan saya tahu saya tidak bisa membunuh dan akhirnya saya menjaga bayi saya. Dua dari kehamilan itu gugur karena tidak terawat, tapi salah satunya berhasil dan saya punya putri pertama saya, Tiffany, di usia saya yang ke-20. Tiffany memiliki darah Asia dan sangatlah cantik. Saya mencoba kembali untuk hanya melakukan tari eksotik, tapi pelacuran terus menghantui saya dan godaannya sulit untuk ditolak, apalagi untuk seorang orang tua tunggal.

Setelah beberapa tahun membesarkan anak seorang diri dan bekerja sebagai seorang pelacur dan penari, saya mulai minum alkohol secara berlebihan dan mulai bergantung pada alkohol dan narkotika. Tiffany tumbuh sebagai seorang gadis kecil yang sedih, dan kepolosannya terkadang dinodai. Ketika dia tumbuh semakin besar, dia sadar akan keberadaan pria-pria aneh yang “mengunjungi” saya dan memarahi saya. Saya memaksanya bersembunyi di kamarnya sementara saya “menghibur” pelanggan. Dia juga melihat saya dengan hubungan yang “aneh” dengan wanita-wanita. Dia tidak benar-benar mengerti semua itu, tapi jelas dia tahu bahwa dia hidup dengan seorang perempuan liar yang cabul. Ketika itu saya merupakan seorang ibu yang buruk, saya biasa memberinya pager dan menyuruhnya pergi ke taman sementara saya melacur. Umurnya baru empat tahun.

Saya mulai melihat diri saya sendiri sebagai sebuah kegagalan total. Saya kehilangan semua harga diri dan membenci diri saya sendiri sebagai seorang ibu yang buruk. Saya sangat lelah selalu mencoba untuk bertahan hidup. Tidak pernah ada istirahat dari gaya hidup itu. Pria-pria mengikuti saya pulang, menyayat ban mobil saya, menelepon saya setiap saat, datang mabuk di tengah malam, dan bahkan mencoba membunuh saya. Untuk bisa berfungsi, saya selalu bergantung pada sebotol besar Jack Daniels di tangan. Kadang saya akan duduk di sudut dengan botol saya dan dalam keadaan mabuk total menangis pada Yesus, “Saya mohon, tolong saya!”, tapi sepertinya Dia tidak ada disana. Entah mengapa saya selalu merasa ada “perlindungan” aneh di sekeliling saya. Seiring dengan perjalanan menyakitkan saya berlanjut, saya mulai terlibat dalam industri film porno. Saya pikir saya bisa mendapat uang yang mudah dan cepat, juga film porno terlihat lebih aman dan legal dibanding pelacuran. Banyak pelacur yang saya kenal diperkosa dan dikirim ke penjara, dan saya tidak mau hal itu terjadi pada saya. Juga dalam waktu itu, saya benar-benar seorang pecandu berat alkohol dan narkotika dan tidak mampu mengambil keputusan yang rasional.

Ketika saya membuat film porno saya yang pertama, sesuatu yang sangat “gelap”datang pada saya. Saya hampir bisa mendengar iblis berkata, “Lihat Shelley, aku akan membuat kamu terkenal dan KEMUDIAN semua orang akan mencintai kamu.” Sebuah kekuatan aneh yang sangat besar membuat saya mampu berhubungan seks dengan penuh semangat, hanya untuk kemudian ‘jatuh dari ketinggian’ dan hancur, merasa dipermalukan dan dilecehkan. Saya menyukai perhatiannya, tapi membenci diri sayasendiri dalam saat yang sama. Saya suka mendengar betapa hebatnya saya ‘tampil’, tapi saya juga benci seks yang begitu brutal. Saya mulai membintangi film-film seks yang lebih brutal, dan hanya dengan menggunakan lebih banyak alkohol dan narkotika sayaberhasil melakukannya. Saya merasa seperti saya harus membuktikan sesuatu pada dunia dan semua orang yang pernah menyakiti saya. Dan ketika industri pornografi membuka lengan besar mereka dan mengundang saya ke dalam sebuah “keluarga”, akhirnya saya merasa diterima. Tapi harga yang saya bayar untuk “keanggotaan”keluarga itu adalah hidup saya sendiri. Saya menjual apa yang tersisa dari hati, pikiran,dan femininitas saya pada industri pornografi, dan wanita dan sisi manusia dari saya mati sepenuhnya dalam studio pornografi.

Saya juga berisiko terinfeksi vírus AIDS seperti bintang porno lainnya. Saya bermain-main dan mempertaruhkan hidup saya dalam bahaya. Industri pornografi tidak danTIDAK AKAN PERNAH mendukung penggunaan kontrasepsi dalam film-filmnya, jadi penyakit menular seksual dan HIV sejak dulu masih merupakan resiko antara artis dan aktor film porno. Bulan Mei 2004, Lembaga Medis Industri Pornografi (Adult IndustryMedical Foundation – AIM), yang menawarkan tes sukarela bulanan untuk bintangporno bagi HIV, mengumumkan bahwa lima “aktor” pornografi telah diperiksa positifatas virus AIDS. Saya lebih beruntung dari aktor-aktor itu. Tuhan tidak mengijinkan HIV menjamah saya. Bagaimanapun, saya terjangkit herpes, penyakit menular seksuallainnya yang tidak dapat disembuhkan. Saya ingin bunuh diri. Waktu saya mendapat herpes, tidak ada yang menolong saya. Tapi sejak AIM terjun ke lapangan, organisasi ini mengklaim telah menurunkan beberapa penyebaran HIV di industri pornografi dan meningkatkan kewaspadaan di antara para pelaku film. Tapi kebenaran itu tetap tinggal, aktor porno terus membahayakan hidup mereka dan menyebarkan penyakir. Dalam sebuah wawancara dari Court TV dengan penemu AIM, Sharon Mitchell, juga seorang mantan artis porno, mengakui bahwa di antara aktor porno dewasa ini terdapat “7%HIV, dan 12-28% penyakit menular seksual. Herpes selalu berada di sekitar 66%.

Mereka diobati dengan acyclovir untuk herpes, yang sangat efektif untuk mencegah penularan herpes. Chlamydia dan gonorrhea, akan tetapi, seperti hepatitis, sepertinya menempel pada segala sesuatu mulai dari dildo ke permukaan rata sampai tangan, jadi biasanya kami sudah habis akal menangani Chlamydia.” Itu merupakan kata-katanya sendiri dan wawancaranya dapat ditemukan di http://www.courttv.com/talk/chat_transcripts/2001/0723mitchell.html

Tidak ada yang lebih menghancurkan dari menerima hasil positif untuk sebuahpenyakit menular seksual yang tidak dapat disembuhkan. Waktu itu aku ingin mengakhiri hidupku. Saya menelan banyak pil-pil berharap saya overdosis, dan mengiris pergelangan tangan saya, tapi tampaknya apapun yang saya lakukan, saya tidak bisa mati. Rasa sakit itu benar-benar membanjiri, dan suasana hati saya benar-benar tidak stabil. Satu menit saya berjalan seperti mayat hidup dan menit berikutnya saya marah besar, berteriak dan memecahkan barang-barang. Saya marah terhadap Tuhan, membenci diri saya sendiri dan orang tua saya. Hanya alkohol dan narkotika dapat meringankan rasa sakit saya.

Saya memanggil Yesus untuk menolong saya dan mencoba meninggalkan pola hidup saya yang berantakan, tapi tidak sampai seminggu saya sudah kembali lagi. Saya kehilangan semua harapan dan membenci hidup saya. Saya benar-benar tanpa harapan, dan hidup benar-benar tanpa arti. Setelah terinfeksi dengan herpes, perlahan-lahan saya meninggalkan industri pornografi tapi kembali melacur untuk tetap hidup.Tahun 1994 saya bertemu seorang pria bernama Garrett. Seorang pria berusia 22 tahundan begitu polos dibandingkan dengan saya. Saya memberitahunya ia harus membayaruntuk mengencani saya. Ia berpura-pura membutuhkan “pelayanan” saya untuk sebuah pesta bujangan jadi saya memberinya kartu nama. Ia sering menelpon saya tapi saya terus berkata tidak. Saya tidak mampu memulai hubungan normal karena hati saya benar-benar hitam dan dingin terhadap semua laki-laki.

Namun kemudian, karena alasan-alasan Tuhan, saya mengubah pikiranku dan pergi bersamanya. Dengan cepat kami menjadi sahabat. Ketika saya menghabiskan waktu bersama-sama, hati saya yang hitam dan terluka mulai bisa merasakan lagi. Saya ingat benar-benar merasakan rasa sakit secara fisik di hati saya ketika Garrett mencoba mendekati saya. (Lihat akhir film kartun Grinch ketika hatinya mulai tumbuh, dan seperti itulah saya.)

Saya mencoba menjaga hubungan kami tetap jauh, tapi sulit karena Garrett membuat saya merasa seperti gadis kecil lagi. Dia akan datang ke rumah dan kami akan merokok ganja bersama dan bermain catur dan kartu selama berjam-jam. Waktu itu kami seperti dua anak kecil sedang bersenang-senang. Saya tidak pernah merasa “senang” sejak masa kecil saya.

Garrett dan saya bisa membicarakan apa saja, dan satu hari kami membicarakan Yesus. Kami berdua tumbuh sebagai anak-anak yang mengasihi dan mengenal Yesus Kristus. Saya belajar bahwa Garrett tumbuh di sebuah keluarga Kristen dan dibesarkan dididik di sekolah Kristen. Untuk dua orang yang bertemu di bar, ini adalah sebuah “kebetulan” yang luar biasa. Saya membuka hati tentang trauma yang saya alami, dan ia mendengarkan dan ada bagi saya. Ia tahu saya pernah terlibat dalam industri pornografi dan pelacuran, tapi dia benar-benar bersedih bagi saya. Ia berkata ia mau menyelamatkan saya. Saya tidak pernah bertemu pria seperti Garrett. Ia melihat sesuatu dalam diri saya yang tidak dilihat orang lain. Ia seorang sahabat bagi pelacur, seperti Yesus. Kami tahu Tuhan sedang bekerja dalam hidup kami, jadi kami kembali kepada Yesus dan menikah tanggal 14 Februari 1995.

Hidup baru kami dimulai sebagai kekacauan besar. Garrett kehilangan pekerjaannya setelah kami menikah karena ia tertangkap basah menggunakan narkotika di tempat kerja. Kami harus pergi ke departemen sosial dan menerima bantuan finansial. Semua menjadi semakin buruk dan godaan untuk saya kembali ke gaya hidup yang lama benar-benar menggoyahkan. Tapi Tuhan punya ide yang lebih baik. Garrett bergabung dengan angkatan bersenjata.

Setelah pelatihan dasar, Garrett kembali sebagai pria yang baru, bebas dari ketergantungan narkotika dan akan dipromosikan ke basis militer Fort Lewis di Negara bagian Washington. Saya hamil dan melahirkan Teresa di tahun 1997. Saya bisa lepas dari alkohol selama hamil tapi segera kembali setelahnya.

Setiap kali saya menggendong bayi baru saya, saya teringat kembali betapa tertolaknyasaya oleh orang tua saya dan semua pria dan wanita yang telah melecehkan saya. Tuhan membangkitkan memori itu agar Ia dapat menyembuhkan saya, tapi bagi saya rasa sakit itu tidak tertahankan. Akhirnya saya lari kembali ke alkohol. Tapi rasa sakit itu menjadi semakin buruk sehingga saya pergi mencari pertolongan ke klinik kesehatan mental militer dan di-diagnosis mengidap bipolar disorder, kesalahan pada pengaturan detak jantung, ketergantungan alkohol, depresi, dan stress pos-traumatik. Saya diberikan zoloft, pil tidur, lithium dan waktu konseling. Saya diberikan video untuk melatih saya mengontrol kemarahan saya, yang malah membuat saya semakin marah ketika menontonnya! Saya sudah melalui program-program inti dari angkatan bersenjata tapi tetap ketergantungan saya tidak hilang. Saya juga didiagnosis mengidap kanker tengkukyang harus segera dioperasi. Konsekuensi masa lalu saya mengejar-ngejar saya. Saya ingin menyerah saja. Tidak ada yang berhasil!! Tapi Tuhan punya rencana yang lebih baik.

Tuhan memimpin Garrett dan saya menghadiri sebuah gereja luar biasa bernama Champions Centre di Tacoma, Washington di mana kami diajar menjalani hidup seperti seorang pemenang. Gereja ini dikenal karena membangun hidup berkemenangan melalui kebijaksanaan Firman Allah. Saya diajar untuk hidup dengan percaya, bahwa saya dapat melalui APA SAJA karena dengan Tuhan TIADA YANG MUSTAHIL. Bersama Tuhan, saya sudah diampuni total dari segala dosa saya dan diberi kesempatan untuk bertumbuh menjadi seseorang yang baru tanpa harus menjadi sempurna dulu. Benar-benar melegakan! Saya belajar bahwa Tuhan mengasihi saya tanpa syarat, tidak peduli masa lalu saya, dan bahkan Ia punya rencana untuk masa depan saya. Tuhan punya rencana untuk hidup saya? Saat itu saya merasa seolah-olah seseorang telah menyalakan lampu di hidup saya yang selama ini gelap.

Di bulan November, 1999, saya melahirkan Abigail, dan meskipun saya minum alkohol selama kehamilan saya, Tuhan membiarkannya hidup. Setelah ia lahir, Tuhan AKHIRNYA menjawab doa-doaku dan mengangkat ketergantunganku terhadap alkohol. Saya bersih tanggal 9 April 2000, dan itu adalah waktu yang sangat spesial bagihidup saya. Saya mulai lapar untuk mengenal Tuhan lebih lagi, dan giat belajar bagaimana menjadi wanita yang “normal”. Saya mulai membaca buku tentang bagaimana menjadi ibu dan istri yang baik, dan bagaimana memasak dan mengurus rumah saya. Saya memperhatikan wanita-wanita lain bagaimana mereka mencuci pakaian, bagaimana mereka berpakaian, dan bagaimana mereka berbicara terhadap suami dan anak-anak mereka. Bertahun-tahun saya memasang telinga KEMANA SAJA.

Saya bisa berdiri di bagian penjualan daging di sebuah super market dan mendengarkan ibu di dekat saya menjelaskan bagaimana membuat daging panggang, dan langsung pulang ke rumah dan mencobanya! Sering saya berlama-lama di super market hanya untuk belajar!! Harfiahnya, saya mungkin punya lebih dari 100 mentor yang saya sendiri bahkan tidak tahu betapa mereka telah membantu saya. Saya harus mengulang SEMUANYA dari nol dan belajar bagaimana menjadi seorang normal yang hidup di lingkungan normal, jadi saya mengelilingi diri saya dengan orang-orang unggul untuk belajar dari mereka.

Saya juga mempraktekkan prinsip-prinsip Allah dalam segala sesuatu yang saya lakukan dan saya mulai merasakan sukacita sejati untuk pertama kali dalam 13 tahun terakhir!! Tuhan juga membantu saya belajar mendesain web, membuat saya merasa berhasil dan dapat menggunakan kreativitas saya. Saya sudah memiliki dan mengoperasikan bisnis desain web saya selama 4 tahun. Saya juga mulai menghadiri universitas, dan sekarang saya hampir menjadi seorang sarjana muda Teologia.

Karena saya memilih mengikuti Dia segenap hati, Dia memberkati segala sesuatu yang saya sentuh tepat seperti yang dijanjikan-Nya dalam firman Yohanes 13:17, “Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.”

Setelah hari pertama saya melangkahkan kaki saya ke Champion center dengan hati yang luka dan hidup yang berantakan, delapan tahun kemudian saya berjalan keluar sebagai seorang wanita pemenang (champion) yang disembuhkan dan bersemangat akan hidup saya! Tuhan secara total melepaskan saya dari narkotika, alkohol, memori yang sakit, penyakit mental, kecanduan seks, trauma seksual, dan rasa bersalah dan rasa malu dari masa lalu saya. Tuhan mengambil saya keluar dari hidup saya yang lama, menawarkan sebuah hidup baru, dan meskipun pada awalnya saya tidak bisa melihatnya, saya menyerahkan hidup saya dan mempercayai-Nya. Itu adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil!

Tuhan juga memulihkan kewanitaan saya dan menyembuhkan seksualitas saya, yang merupakan suatu mukjizat besar bagi saya. Setelah melacur dan terjun ke dalam dunia pornografi, saya kehilangan fungsi saya secara seksual. Fakta bahwa saya dapat menikmati hubungan intim yang sehat sekarang ini, nyata merupakan sebuah mukjizat. Tuhan juga menyembuhkan saya dari penyakit herpes yang menurut manusia tidak dapat disembuhkan. Waktu saya menjadi objek pembelajaran angkatan bersenjata untuk wanita hamil yang menderita herpes pada tahun 1996, saya diperiksa dan mereka berkata saya tidak bisa ikut dalam program itu, karena tidak ada virus herpes dalam darah saya. Hasil tesnya negatif! Saya juga bebas dari kanker karena dokter-dokterberhasil membuang semua kanker tengkuk saya. Dialah Jehovah-Rapha, Allah yang menyembuhkan kita!

Tuhan juga menyembuhkan pernikahan kami dengan cara yang luar biasa. Garrett dan saya memiliki hubungan cinta yang indah dan penuh warna! Baca cerita kami yang LUAR BIASA di sini. Tuhan telah melakukan lebih banyak mukjizat lagi di dalam keluarga saya sendiri. Garrett memiliki pekerjaan yang hebat sehingga saya bisa tinggal di rumah, menjadi ibuyang baik, juga melakukan pelayanan. Tiga putri-putri pemenang kami dibesarkan dengan iman dan kasih terhadap Yesus Kristus, dan mereka menghadiri sekolah Kristen. Tiffany, putri saya yang paling tua, yang sekarang berumur 18 tahun, telah mengampuni saya dan memberi saya kesempatan menjadi ibu yang bijak baginya. Ia telah melewati banyak hal dalam hidupnya dan sekarang membagikan kesaksiannya dengan banyak orang untuk menginspirasi dan menguatkan mereka. Saya SANGAT bersyukur saya tidak melakukan aborsi, karena Tiffany adalah seorang wanita yang cantik dan brilian yang punya begitu banyak talenta dalam hidupnya. Ia sangat berbakat secara musikal dan dapat memainkan beberapa instrumen. Tiffany juga merasa Tuhan memanggilnya untuk menjangkau kaum muda yang terluka dan akan memimpin forum remaja di situ-sini. Kerinduannya adalah masuk universitas dan mengambil gelar dalam bidang konseling, jadi ia dapat menggunakan pengalaman masa lalu dan pendidikannya untuk menjangkau kaum muda di tengah kesulitan mereka.

Seperti Anda lihat, Bapa sudah bekerja begitu luar biasa dalam hidup saya dalam dua belas tahun terakhir. Saya memang harus melewati delapan tahun pemulihan. Saya harus membuat pilihan memulai kembali hidup saya dan percaya apa yang Tuhan katakan pada saya, bukan kebohongan-kebohongan dari iblis atau kebohongan tentang gambar diri saya yang sudah rusak. Tuhan menjadi Bapa sejati saya, dan Dia mengajar saya bagaimana mengasihi, mengampuni, dan memiliki gambar diri saya di dalam Dia, bukan masa lalu saya. Saya juga belajar bagaimana memiliki hidup yang sukses dengan mempraktekkan prinsip-prinsip Tuhan dalam segala sesuatu. Apapun yang Firman Tuhan katakan, itu pasti bagi saya. Saya menjadi ciptaan yang baru dan kuat melalui kuasa Yesus Kristus, Pemenang sejati yang sudah mengubah hidup saya!Tuhan sekarang mengirim saya dengan sebuah pesan pada dunia betapa riil-nya kasih-Nya yang luar biasa itu. Bagaimana Ia sudah menciptakan setiap kita serupa dengan gambarnya, dan betapa kita begitu dikasihi dan diterima.

Bagaimana Ia mengirim Anak-Nya Yesus Kristus untuk membebaskan kita dari narkotika, alkohol, keterikatan seksual, penolakan, dan semua kebohongan iblis. Saya bangga menunjukkan pada dunia, bahwa YA, Tuhan mengambil seorang bintang porno dan pelacur dan menjadikannya Pemenang. Tuhan adalah Bapa terbaik, dan Ia ingin semua anak-anak-Nya menemukan jalan pulang kepada-Nya supaya Ia dapat menyembuhkan mereka dan menjadikan mereka Pemenang-pemenang. Tapi pilihannya ada di tangan ANDA.

Saya juga ingin semua orang tahu bahwa apapun yang Tuhan lakukan bagi saya, Ia akan melakukannya bagi Anda. Dan Ia akan melakukan ini karena Ia MENGASIHI Anda dan mengirimkan anak-Nya Yesus Kristus untuk memberimu hidup yang baru. Yang perlu kita lakukan adalah datang pada Yesus dan belajar dari-Nya.

Matius 11:28 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Inginkah Anda memiliki ketenangan dalam jiwa Anda? Saya ingin. Dulu saya sakit dan lelah diombang-ambingkan hidup. Saya lelah harus bertarung untuk hidup setiap hari. Saya hanya ingin merasakan damai dan menemukan kasih sejati tapi dunia tidak bisa memberi itu bagi saya. Saya sudah mencari kasih dalam laki-laki, benda material, ketenaran dan kekayaan, dalam narkotika dan alkohol dan saya MASIH KOSONG. Yang saya inginkan dulu hanyalah kehidupan yang normal. Sampai saya menemukan kebenaran:
Yesus datang untuk memberimu hidup dalam segala kelimpahannya (Yohanes 10:10). Dan tentu saja, SAYA AKHIRNYA menemukan kehidupan yang selalu saya inginkan. Mengapa Anda tidak menaruh kepercayaan Anda pada Tuhan dan Anak-Nya Yesus Kristus, dan segera mengalami hidup berkelimpahan itu? Mungkin tidak akan terjadi dalam satu-dua hari, tapi saya berjanji, itu PASTI terjadi. Saya tahu karena hal ini terjadi bagi saya. Sayalah bukti hidup bahwa Tuhan itu ada, bahwa Ia mengasihi ANDA tidak peduli apa yang sudah Anda lakukan, dan Ia punya rencana yang sempurna dan tujuan bagi hidup Anda.

Klik disini untuk mempelajari lebih lagi tentang Tuhan dan kasih-Nya yang luar biasauntuk Anda. Shelley, seorang sahabat yang mendukung anda.

Secara pribadi saya ingin mengucapkan “Terima Kasih” untuk begitu banyak orang yang telah membantu pemulihan saya:

• Pastor Kevin dan Sheila Gerald di www.championscentre.com – Untuk mengajari saya kebijaksanaan dan menjadi seorang pemenang dalam hidup. Dapatkan pengajaran mereka yang luar biasa di www.kgcmedia.com.

• Patricia dan Argis Hulsey – Untuk mempercayai saya, mendukung saya, dan kesempatan yang kalian berikan untuk mulai melayani di penjara. Mereka juga dua orang tua “spiritual” terbaik yang dapat saya miliki.

• Nuggie Lubben – Untuk sudah menjadi seorang ibu mertua yang luar biasa. Ia mengajar saya bagaimana menjadi ibu yang hebat dan semuanya, mulai dari mencuci pakaian, menyetrika, sampai berkebun! Terima kasih, Mama!

• Kedua orang tuaku – Untuk mengasihi saya dan mengizinkan saya membagi cerita “kita” dengan dunia. Terima kasih sudah mengampuni saya dan memberi saya kesempatan kedua menjadi putri kalian. Saya mengasihi kalian, Mama dan Papa!

• Saudara laki-laki saya Chris – Untuk mengampuni saya dan memberi saya kesempatan menjadi seorang saudara perempuan yang benar, yang selalu saya rindukan. Kamu memiliki hati yang luar biasa dan roh yang indah. Saya ingin terus bekerja denganmu dan sesama pekerja lainnya dalam Kerajaan Allah. Saya mengasihimu Chris.

• Saudara perempuan saya Stacy – Untuk mendoakan saya bahkan ketika saya tidak layak menerimanya. Saya tahu waktu-waktu lalu tidaklah mudah. Saya mengasihimu! Saya juga berdoa Tuhan akan terus memulihkan hubungan kita menurut kehendak-Nya.

• Nenekku yang berketurunan Italia, Nonnie – Yang mempercayai saya ketika tidak ada seorangpun yang mempercayainya. Yang melihat emas dalam diri saya bahkan ketika sinarnya tersembunyi. Ia berpesan ketika saya masih kecil bahwa saya dapat melakukan apapun kalau saya sungguh-sungguh. Ia tidak akan pernah tahu berapa kali ia sudah menyelamatkan hidup saya. Ia adalah seoarang Pemenang sejati.

• Putriku Tiffany – Untuk mengampuni saya dan mengizinkan saya bertumbuh dan menjadi seorang ibu yang bijak baginya. Terima kasih untuk kesempatan mengasihimu dan menjadi bagian dari hidupmu. Terima kasih untuk menunjukkan kasih Kristus ketika Mama tidak punya siapa-siapa. Terima kasih untuk tidak mengizinkan masa lalu mengikatmu tetapi memilih berlari sebagai Pemenang. Mama sangat bangga terhadapmu, betapa hari ini kamu sudah menjadi seoarang wanita yang luar biasa!

• Dan terima kasih yang sangat istimewa untuk suamiku Garrett – Terima kasih telah menjadi Hosea, Yesus, dan Abraham bagiku. Kepedulianmu terhadap seorang pelacur hari ini berbuah, membangkitkan wanita terhormat yang ada di dalamnya. Kamu beriman dan mempercayai Tuhan akan mengubah situasi yang sulit. Kamu rendah hati, sabar, tahan menderita, dan lembut terhadap wanita terluka yang memerlukan lingkungan yang aman untuk sembuh. Kamu lebih dari pemenang. Aku bedoa aku terus dapat menjadi wanita impianmu.

Sumber: http://www.shelleylubben.com/articles/ShelleyStoryIndonesian.pdf

Kesaksian Bella Saphira

“Saya Dekat Dengan Yesus

Segudang prestasi disandang dara manis bernama lengkap Bella Saphira Veronika Simanjuntak ini. Jika sekarang Bella dikenal sebagai bintang iklan dan sinetron, ini tentu tidak terjadi begitu saja. Waktu SMA ia pernah menjadi cover girl, lalu nominasi peran utama wanita di Festival Sinetron Wanita Indonesia tahun 1996, finalis Voice of Asia, main sinetronRumah Beton“, “Hangatnya Cinta“, “Di Antara Dua Pilihan“, “Dewi Fortuna” (masih diputar di teve), dan yang terakhir ia terpilih sebagai Bintang Lux. Sebenarnya menjadi artis bukanlah cita-citanya. Waktu kecil ia pingin menjadi penari balet, lalu berubah ingin menjadi arsitek, tapi sekarang ia malah kuliah di Fakultas Ekonomi Trisakti, Jakarta.

Dari namanya yang cukup panjang, orang akan tahu kalau Bella berasal dari Sumatera, tapi sebenarnya ia dilahirkan di Magelang 26 tahun yang lalu dari keluarga TNI, yaitu pasangan Ir. A. Simanjuntak, MBA dan E. Veronika. Diakui bahwa orang tuanya sangat berpengaruh dalam kehidupan rohaninya. Sebagai anggota TNI, ayahnya sangat disiplin dan tak pernah memanjakan anak-anaknya secara berlebihan. Ayahnya selalu mengingatkan kalau Bella tidak ke gereja sehingga yang namanya berdoa dan ke gereja menjadi suatu kebutuhan dan tanpa disuruh pun pasti dilakukan karena kesadaran. Ayahnya adalah seorang Ketua Majelis di gereja HKBP, jadi tak heran apabila kedua orangtuanya begitu memperhatikan kehidupan rohani anak-anaknya. Di saat lagi syuting atau berada di luar kota pun Bella masih sering di telepon untuk jangan lupa berdoa dan ke gereja.

Sejak kecil Bella dibiasakan membaca Alkitab, dan itu diakuinya membuat hubungan dengan Yesus jadi akrab. Semakin hari makin mengenal Yesus, yang sudah dianggapnya sebagai teman, bapak, juga sahabat. “Pokoknya saya merasa sangat dekat dengan-Nya. Yah, sesuatu yang sangat sulit dijabarkan karena me-nyangkut sesuatu yang tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan,” jelasnya.

Menurut Bella, memuliakan Tuhan itu luas maknanya dan tidak hanya dengan kata-kata. Karya nyata justru lebih penting, dan hal ini dibuktikannya dengan tak pernah absen memberikankan sumbangan pada gereja dan menjadi orang tua asuh anak SD yang sering ia kunjungi pula untuk melihat perkembangannya. Perhatiannya yang besar kepada orang lain yang membutuhkan itu pula rupanya yang menjadikan Bella mengidolakan Ibu Teresa. “Saya mengidolakannya karena pilihan hidup dan pelayanannya sungguh luar biasa. Bagi saya ia itumalaikat’. Saya tahu di Kalkuta, India banyak orang miskin. Saya pernah baca, dia nolongin orang kusta yang badannya penuh borok, hi …” kata Bella yang senang makan sea food, dan Italian food.

Bicara soal pasangan hidup, Bella mendukung banget agar orang menikah dengan yang seiman. Bagaimana dengan Bella sendiri, kapan menikah? Sampai saat ini Bellla mengaku belum punya rencana menikah. “Gimana mau nikah, pasangan atau calon aja belum punya,” Ah Bella, masak sih

Kisah Nyata Billy Glen – Artis Pecandu Narkoba

Aku lahir dari sebuah keluarga yang sangat taat pada Kristus. Sejak kecil aku rajin ke gereja dan ibuku selalu menanamkan dasar-dasar iman Kristus kepadaku.

Tahun 1995, pada suatu kesempatan yang luar biasa, aku mengikuti sebuah ajang pemilihan top model di Bandung.  Selama proses audisi, aku selalu berdoa pada Tuhan meminta agar aku keluar sebagai pemenangnya. Dan ternyata Tuhan memang baik, Ia menjawab doaku. Aku terpilih menjadi juara pertama. Setelah memenangkan ajang tersebut, kesempatanku untuk masuk ke dunia model semakin besar. Perjalanan karierku sebagai seorang model berjalan dengan sangat lancar. Aku percaya bahwa ini semua berkat pertolongan Tuhan dan aku selalu menyempatkan waktu untuk berdoa kepada Tuhan. Karierku semakin berkembang, banyak job dari Jakarta. Situasi ini membuatku memutuskan untuk tinggal di sana saja.

Meraih Kesuksesan

Ternyata di Jakarta karierku berkembang dengan sangat baik. Bahkan aku mulai memasuki dunia akting sinetron. Dengan berbekal pengalaman di bidang taekwondo yang sejak kecil digeluti, aku berhasil menapaki dunia akting dengan peran pertamaku sebagai peran pembantu utama. Aku pun berhasil mendapatkan peran dalam film layar lebar yang sangat terkenal saat itu, Ca Bau Kan. Disaat teman-temanku harus berjuang keras dalam dunia entertainment ini, jalanku justru sangat mulus. Aku sangat merasakan kemurahan Tuhan yang luar biasa dalam hidupku. Tahun 2002, aku mendapat peran utama dalam sebuah sinetron yang terkenal. Saat itulah aku meraih titik puncak kesuksesanku dan mendapatkan kontrak yang bernilai sangat besar.

Melupakan Tuhan

Namun, kemurahan Tuhan dan kesuksesanku itu justru membuatku semakin menjauh dari Tuhan. Kesibukanku justru membuatku tidak memiliki waktu untuk berdoa dan mendekat padaNya. Aku mulai merasa mampu hidup tanpa Dia. Aku benar-benar membuang Tuhan jauh-jauh dari hidupku. Saat itulah, kuasa kegelapan mulai masuk dalam hidupku. Aku mulai terbawa arus pergaulan yang buruk. Diskotik, minuman keras, bahkan jenis narkoba seperti extacy, ganja, kokain, dan shabu-shabu selalu ada di setiap hari-hariku. Honor dari pekerjaanku itu kuhabiskan untuk berfoya-foya sehingga aku pun terjerumus dalam pergaulan seks bebas.

Tertangkap Polisi

September 2002, aku tertangkap polisi. Ketika baru saja pulang dari syuting sebuah sinetron, aku meminta temanku untuk membelikan sejenis narkoba. Polisi ternyata telah mengincar temanku itu sehingga ia tidak bisa melarikan diri lagi. Setelah ditangkap, atas pengakuannya polisi memintanya untuk menjebakku. Seperti yang telah mereka rencanakan, akhirnya aku pun ditangkap dan harus menjalani masa tahanan selama 8 bulan. Dalam situasi ini kesombongan masih kuat menguasaiku sehingga aku tidak menyadari kesalahan, sebaliknya malah selalu mempersalahkan Tuhan. Sebagai seorang artis yang sudah dikenal, aku sering menerima pujian. Tetapi semuanya berubah menjadi hinaan karena tindakan kriminalku ini. Walaupun aku tahu bahwa narkoba itu tidak baik bagi masa depanku, tetapi keterikatanku dengan obat jahat itu membuatku terus mengkonsumsinya sekalipun berada dalam penjara.

Bebas dan Tertangkap Lagi

Setelah masa 8 bulan tahanan itu selesai, aku kembali mulai merintis karierku di dunia sinetron. Namun kesombongan itu tetap mengendalikan pikiranku. Aku sama sekali tidak tergerak untuk bertobat, justru semakin kecanduan dengan obat-obatan. Akhirnya, aku boleh dikatakan menjadi lebih bodoh dari orang bodoh…karena orang bodoh pun tidak akan masuk ke lubang yang sama. Pukul 12 malam itu, ketika sedang berpesta drugs di sebuah tempat di kota Bekasi, bersama teman-teman pecandu, polisi pun mengetahui aksi kami ini dan kami pun digelandang ke tahanan setempat. Aku harus mendekam lagi selama 7 bulan di penjara Bulak Kapal Bekasi.

Ingat Tuhan?

Dalam penjara, pengalaman memalukan ini membuatku merenungkan kasih Tuhan yang besar dalam hidupku. Di saat aku meninggalkanNya, Ia tidak membiarkanku terjebak terus-menerus dalam jurang dosa, justru berusaha menegurku bahkan sampai 2 kali agar aku berbalik kembali kepada jalanNya. Akupun teringat tulisan dalam Wahyu 3: 9 yang mengatakan Barangsiapa Kukasihi, ia kuhajar. Sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.” Aku langsung menangis histeris dan menyadari bahwa Tuhan begitu baik bagiku. Walaupun aku telah menjauh dariNya, bahkan seringkali menyalahkanNya, namun Ia tidak pernah meninggalkanku dan tetap mengakuiku sebagai anakNya. Ia ingin agar aku bertobat sebelum semuanya terlambat. “Tuhan, Engkau sangat baik bagiku. Kau tidak membiarkanku tenggelam dalam lumpur dosa. Kau tidak membiarkan narkoba itu merenggut nyawaku dan membawaku ke dalam kematian. Terima kasih untuk kesempatan ini. Aku ingin menjadi hambaMu yang taat dan setia di dalam Engkau…” Saat itu aku benar-benar bertobat. Yang berbeda dalam masa tahananku kali ini ialah, sebelumnya aku ditahan dengan rasa kekuatiran dan kemarahan, namun kali ini aku lebih banyak mengucap syukur dan berusaha untuk menjalani dengan sukacita hari-hari dalam tahanan itu sampai akhirnya, 31 Desember 2005, aku selesai menjalani masa tahananku.

Titik balik kehidupanku

1 Januari 2006, hari yang paling bersejarah untukku karena hari itu aku memutuskan untuk memulai kehidupan baru dengan Tuhan Yesus yang akan terus menuntunku dalam tiap langkahku. “Tuhan, ajar aku melakukan segala yang Kau inginkan untuk aku jalani dalam hidupku ini…” pintaku kepadaNya.

Sebagai jawaban doaku, Ia menempatkanku dalam sebuah komunitas rohani di daerah Kelapa Gading. Dan aku juga kembali memulai karierku di dunia entertainment dengan cara hidupku yang baru dalam Kristus. Aku juga ambil bagian dalam pelayanan untuk menyaksikan betapa besar kasihNya bagiku karena Ia telah menghajar dan menegurku saat aku hampir tenggelam dalam lembah maut demi menyelamatkan hidupku. Lingkungan pergaulanku yang baru ini juga membuatku merasa sangat damai dan tentram. Ada sukacita yang kurasakan dalam hari-hariku, yang tidak pernah kurasakan sebelumnya ketika aku masih hidup dalam kenikmatan dunia. Hal yang membanggakan bagiku ialah, melalui pertobatan dan pemulihanku ini, ayahku yang dulu belum sungguh-sungguh di dalam Tuhan kini mengambil keputusan untuk menjadi orang Kristen sejati.

Sumber Artikel :
Jawaban.com
Sumber Kesaksian :
Billy Glen