Category Archives: Keselamatan

Waktuku Tersita Di lapangan Tenis

Bermain tenis adalah hobi Jimmy Dumais, demikian nama lengkapnya atau yang biasa dipanggil Jimmy. Hampir setiap hari dia bermain tenis bahkan sampai melupakan dan menomorduakan keluarga. Dalam keluarga sering timbul pertengkaran karena Jimmy jarang berkumpul bersama keluarga di rumah. Ia lebih menyukai berkumpul bersama teman-teman di lapangan tenis.

Pada suatu hari yang cerah, tepatnya pada tanggal 18 Februari 2000, seperti biasanya Jimmy melakukan kegiatan rutin bersama teman-teman yaitu bermain tenis. Permainan pada hari itu sangat bersemangat seperti hari biasanya. Permainan terus berlangsung sampai tiba pada hitungan keempat. Sementara permainan berlangsung, tiba-tiba kakinya keseleo sehingga permainan tak dapat diteruskan.Teman-temanya mencoba menekuk kakinya namun kakinya tarasa sakit sekali.

Jimmy segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter segera memeriksanya, dan menurut hasil pemeriksaan dokter, ternyata arkhilesnya putus. Sebelum diadakan operasi, dokter terlebih dahulu memeriksa jantung juga diperiksa dan di ronsen untuk diadakan operasi. Dokter menyarankan agar Jimmy beristrahat total di rumah sakit selama seminggu. Dalam kesakitan, dia masih sempat menanyakan pada dokter apakah ada kemungkinan bermain tenis lagi. Dokter mengatakan masih dapat melakukan olah raga tenis dalam waktu enam bulan atau setahun mendatang. Dan jikalau tak dapat melakukan olah raga tenis, mungkin dapat melakukan olah raga lain.

Rasa sedih dan putus asa menyelimutinya sebab harus berjalan memakai tongkat dan tak dapat bermain tenis lagi. Ia menjadi rendah diri sebab merepotkan dan menyusahkan orang lain untuk menuntunnya kemanapun dia pergi.Tidak ada yang dapat dilakukan tanpa pertolongan orang lain. Sikap mandiri yang tertanam dalam dirinya terasa pudar seketika. Jimmy tidak menyadari bahwa melalui kehidupannya ada sesuatu yang luar biasa akan mengisi kehidupannya.

Pada suatu hari, ia diajak anaknya mengikuti pertemuan ibadah beberapa hari di luar kota. Dalam hatinya ia berkata, apakah mungkin kuasa doa akan mampu menyembuhkan kakinya yang sakit? Mustahil semua itu. Tapi untuk menyenangkan hati anaknya, ia mengikuti ajakan anaknya. Pada hari terakhir acara pertemuan ibadah, Jimmy merasa bosan dan ingin pulang. Hal itu dikatakan pada istri dan anaknya. Anaknya menyetujui permintaan akan kembali terlebih dahulu ke rumah. Ia merasa heran mengapa anaknya tidak memperhatikan keadaan mereka selama pertemuan itu. Menjelang berakhirnya pertemuan ibadah itu, anaknya mengajak mengikuti doa penyerahan pada malam hari. Namun, keinginan duniawi lebih kuat menguasai dirinya.

Dalam hatinya selalu berkata, tidak mungkin hanya dengan doa seseorang akan mampu menyembuhkan penyakit orang lain. Dia masih terus diliputi rasa tidak percaya akan kuasa Tuhan melalui doa sang pendeta. Jimmy tidak mengikuti ajakan anaknya mengikuti doa penyerahan, dia tetap berkeras pada pendiriannya. Sepanjang malam, kakinya terasa sakit dan ia kembali bersungut-sungut bahwa jika dia mengikuti doa penyerahan, pasti dia akan menyusahkan orang lain dan tidak dapat mengikuti doa penyerahan. Pada malam itu, seperti ada yang menahannya agar tidak kembali ke rumah, tetapi dia tidak tahu apa yang menahannya.

Keesokan paginya tepat pada hari Minggu, ia bangun lebih awal tak seperti hari biasanya. Ada yang menyuruh dia untuk pergi ke gereja. Ia segera berkemas-kemas hendak pergi ke gereja. Istri dan anaknya terheran-heran. Jimmy mengajak anak dan istrinya agar bersiap-siap pergi ke gereja. Bagi istri dan anak Jimmy, hal ini merupakan peristiwa terbesar dalam keluarga mereka sebab suami atau ayah yang sangat mereka kasihi ternyata mau membuka hatinya untuk mendengarkan firman Tuhan. Jika keadaan sebelumnya Jimmy sangat tertutup hatinya akan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, maka saat ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidup Jimmy untuk menerima Tuhan sebagai Penolong dan Pelindung kehidupannya.

Kehadiran Jimmy di gereja, sangat menggembirakan pak pendeta. Semua anggota jemaat menyambut dengan penuh sukacita kehadiran Jimmy sekeluarga. Kiranya melalui kehadirannya, akan memberikan pembaruan bagi kehidupan pribadinya. Acara demi acara berlangsung dan Jimmy mengikutinya dengan seksama.Sementara istrinya mengambil makanan, tiba-tiba Jimmy menangis tersedu-sedu. Dadanya terasa sesak dan panas. Kemudian pak pendeta mendoakannya dengan mengimani bahwa Tuhan mempunyai kuasa untuk menyembuhkan seseorang.

Jimmy mohon ampun pada Tuhan atas segala dosa yang dilakukannya selama ini yang telah jauh dari Tuhan dan menyangkali kehadiran dan kuasa Tuhan dalam kehidupan pribadinya. Selesai berdoa, Jimmy mencoba berdiri dan berjalan secara perlahan tanpa ditopang oleh tongkat. Dia berjalan terus ke depan sambil memuji Tuhan dan bersukacita. Alangkah bersuka citanya Jimmy, sebab mengalami kebaikan Tuhan dalam kehidupan pribadinya walaupun dia sempat menyangkali kasih Tuhan tetapi Tuhan tetap mengasihi dirinya. Melalui pengalaman yang dialaminya, ia semakin menyadari dan meyakini kasih Tuhan dalam kehidupannya.

Sumber Kesaksian:
Jimmy Dumais (jawaban.com)

Kista Membusuk Di Kandunganku

Seorang wanita karir terpaksa berhenti melakukan pekerjaannya oleh karena mengidap suatu penyakit yang cukup berat yaitu terdapat kista di kandungannya. Ia adalah seorang ibu rumah tangga dan mantan direktur sebuah bank di Jakarta. Dia adalah Elizabet Budi. Mula-mula dia menganggap bahwa sakit di perutnya adalah sakit ringan dan tidak dihiraukannya.Setiap hari dia merasakan sakit di perut. Namun, pada suatu hari ketika dia kembali dari kantor, sakit di perut terasa hebat sehingga tak dapat ditahan. Pada hari itu juga, Elizabet bersama suaminya pergi ke dokter ahli gynekolog. Dokter memeriksa kandungan Elizabet melalui alat USG. Dari hasil pemeriksaan, ternyata di kandungan Elizabet terdapat kista yang sudah membusuk dan menghitam.

Dokter memberikan jalan keluar satu-satunya yaitu harus menjalani operasi agar kista yang ada di kandungan diangkat. Menurut diagnosa dokter bahwa jikalau tidak dilakukan operasi maka kista akan pecah dalam waktu tiga hari dan umur kehidupan Elizabet tinggal tiga hari juga. Namun Elizabet berkeras tidak mau di operasi oleh karena trauma pada saat melahirkan anak yang kedua juga melalui operasi, tidak sadarkan diri selama kurang lebih lima jam. Dalam keyakinan iman Elizabet bahwa masih ada seseorang yang mampu menyembuhkannya yaitu Tuhan. Dia sangat yakin bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan penyakitnya. Selama tiga hari, dia terbaring di tempat tidur sambil berdoa dan meyerahkan pergumulannya pada Tuhan agar Tuhan memberikan kekuatan dan umur panjang. Ada banyak saudara dan handai taolan turut mendoakannya. Di dalam kesakitannya, dia masih menyempatkan diri menghadiri ibadah di gereja sebab dia yakin bahwa di dalam kuasa Tuhan segala sesuatu dapat terjadi.

Dari hari ke hari, penyakit Elizabet semakin memburuk, tetapi tidak melunturkan iman dan kepercayaan pada kasih dan kuasa Tuhan yang suatu saat akan menganugerahkan kesembuhan atas dirinya. Pada suatu saat, ketika dia tertidur pulas, terdengar isak tangis anaknya. Elizabet langsung bangun dan berdiri seolah-olah tidak merasa sakit dalam dirinya.Dia menghampiri anaknya yang sedang dimandikan oleh baby sitter.Ternyata anaknya menangis oleh karena sedang dimandikan. Elizabet juga merasa haus dan kemudian menuju meja makan mengambil air. Tanpa disadarinya, ia dapat berjalan dan berdiri.

Ia kemudian menyadari bahwa dirinya sedang sakit dan tak dapat bangun dari tempat tidur.Betapa terkejutnya dia pada saat itu melihat dirinya mampu berjalan, berdiri dan perutnya kempes di saat mengalami penyakit yang cukup parah yang hanya dapat terkulai lemas di tempat tidur. Elizabet masih meragukan apa yang dialaminya, kembali dia mencoba meloncat-loncat ternyata tidak merasa sakit. Elizabet kemudian membangunkan suaminya dan mengatakan bahwa dirinya sembuh. Hal pertama yang mereka lakukan adalah berdoa dan mengucap syukur pada Tuhan.

Pada keesokan harinya, mereka berdua ke dokter memeriksakan diri sambil memastikan bahwa penyakit Elizabet benar-benar sembuh. Dokter melakukan USG dan hasilnya kista yang ada di kandungan Elizabet benar-benar hilang dan itu berarti Elizabet sembuh. Dokter juga membandingkan hasil USG pada waktu kista masih ada di kandungannya. Dokter tetap tidak yakin pada hasil pemeriksaan sehingga dia bertanya apakah Elizabet pergi berobat ke dokter lain. Elizabet mengatakan bahwa dia tidak pernah berobat ke dokter lain. Selama ini yang dilakukannya adalah menyerahkan penuh segala keberadaannya pada Tuhan yang diyakininya sanggup mengobati penyakitnya.Akhirnya dokter dapat memahami bahwa ini adalah karya Tuhan dalam kehidupan seseorang yang tak dapat disangsikan.

Elizabet sekeluarga sangat bersukacita dan mengucap syukur atas pertolongan Tuhan yang terjadi dalam keluarga. Sebagai ungkapan syukur pribadi, Elizabet kini menyerahkan seluruh kehidupannya bagi pekerjaan pelayanan Tuhan.

Sumber Kesaksian:
Elizabet Budi (jawaban.com)

Harapan Yang Pasti

Vika Patricia seorang anak kecil ketika berusia tiga tahun menderita sakit aplastik anemia yaitu suatu penyakit dimana sumsum tulang tidak mampu memproduksi elemen-elemen darah. Penyakit ini lebih berbahaya dari penyakit anemia. Gejala penyakit ini ditandai dengan wajah yang pucat, badan yang lemah, lekosit kurang dan suhu badan naik turun. Gejala ini dirasakan Vika pada pagi hari dan saat itu juga Vika dihentar oleh ayahnya ke dokter untuk memeriksakan diri. Dari hasil pemeriksaan dokter, ternyata Vika mengidap penyakit “aplastik anemia”.

Pemeriksaan terus dilakukan dan ternyata dokter juga menemukan ada kejanggalan penyakit lain. Menurut dokter, penyakit ini sulit disembuhkan.Vika harus diopname di rumah sakit. Dokter juga menganjurkan agar Vika berobat di Belanda, sebab pengobatan di Belanda lebih canggih. Orang tua Vika sangat terkejut mendengar penjelasan dokter. Orang tua Vika mengikuti anjuran dokter. Vika berobat ke Belanda namun dokter tidak dapat menyembuhkannya. Pengobatan juga dilakukan di salah satu rumah sakit di Singapura, namun tidak memberikan kesembuhan.

Akhirnya mereka kembali ke Indonesia. Mereka banyak mendapat dukungan doa dari teman-teman. Hari demi hari mereka lewati namun kondisi kesehatan Vika tidak menunjukan hasil yang menggembirkan. Orang Tua Vika pasrah menerima kenyataan yang ada. Pada saat itu, orang tua Vika belum sepenuhnya menerima Yesus sebagai Juruselamat. Mereka benar-benar mengandalkan kuasa dokter untuk menyembuhkan penyakit Vika.

Sampai tiba pada suatu hari, orang tua Vika sangat bergumul dengan penyakit yang diderita Vika. Sampai kapan Vika harus menanggung beban penderitaan ini? Ibu Vika berkata kepada ayah Vika, sebaiknya kita tidak mengandalkan kuasa dokter tetapi kita menyerahkan sepenuhnya pada Yesus Kristus yang berkuasa dan empunya kehidupan kita. Ayah Vika merenungkan hal ini. Di dalam hatinya dia berkata bahwa benar juga dan memang seharusnya demikian. Tidak ada yang mampu melawan kuasa Tuhan. Akhirnya orang tua Vika bersepakat agar semua yang mereka alami pada saat ini, sepenuhnya diserahkan kedalam kuasa dan kasih Tuhan. Orang Tua Vika yakin bahwa pasti akan ada kesembuhan yang Tuhan anugerahkan pada diri Vika. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan kepada mereka yang percaya dan menaruh pengharapan pada Tuhan. Sesulit apapun bagi manusia, Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi kita.

Pada beberapa hari berikutnya, dokter menyatakan bahwa penyakit Vika berangsur pulih. Hal ini dapat dibuktikan dengan bertambahnya sel darah merah (hemoglobin) yang semula 3,0 menjadi 13,0 dalam waktu satu minggu.Tuhan memang baik dan sangat mengasihi hidup kita. Orang tua Vika menyadari bahwa tanpa campur tangan Tuhan dalam kehidupan, kita tidak dapat melakukan sesuatu.

Mulai saat itu, orang tua Vika menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Saat ini anak Vika berusia sebelas tahun dan bertumbuh menjadi anak yang sehat dan kreatif. Ia mengikuti berbagai macam les, seperti les vokal, les renang dan les beberapa mata pelajaran. Pengharapan itu telah diperoleh. Ini semua diyakini sebagai berkat kasih sayang Tuhan yang tidak berkesudahan bagi kehidupan umatNya.

Sumber Kesaksian:
Vika Patricia (jawaban.com)

Saatku Takut Tuhanku Sanggup

Awalnya mengalami sakit kulit,gatal-gatal akibat terkelupasnya kulit disekujur tubuhnya.Dimulai dari 2 titik seperti bintil merah pada sisi perut bagian kiri dan kanan. Lalu bergerak terus dari hari ke hari keatas dan ke bawah sehingga seluruh tubuh saya penuh dengan penyakit kulit seperti eksim yang gatal sekali dan menebal dikulit. Setelah 2 bulan berjalan saya diserang oleh satu penyakit yang saya tidak tahu itu apa tetapi saya mendadak mengalami dehidrasi (kehilangan cairan) dan buang air besar secara mendadak sekaligus. Saya diantar oleh suami saya ke dokter karena perasaan saya sudah tidak enak dirumah.

Akhirnya pada waktu sampai di rumah sakit, saya pingsan dan cairan itu keluar sekaligus. untung dokter bisa mengatasi hal itu dengan memberikan infus secepatnya sehingga saya terselamatkan. Selama 1 minggu saya dirawat di rumah sakit tetapi tidak dapat ditemukan penyakitnya apa. Setelah itu saya pulang ke rumah. Waktu tiba dirumah saya melakukan aktivitas seperti biasa. kira-kira 5 hari kemudian saya merasakan sakit ditusuk-tusuk dari luar seperti orang ditusuk oleh pisau lalu dicabut lagi. Tidak tertahankan sakitnya…. Ketika saya dirawat..biasanya saya bisa diinfus tetapi saya tidak bisa diinfus lagi karena nadi vena yang biasa dipakai untuk menusukkan jarum infus itu pecah walaupun pakai jarum untuk bayi. Urine saya warnanya coklat seperti coca cola dan faces saya putih seperti kapas .

Pengecekan oleh dokter pada air seni dan muntahannya tidak memberikan hasil.Diagnosa dokter gagal untuk memastikan apa penyakitnya .

Saat itu suami nyonya Nita memanggil hamba Tuhan untuk mendoakan isterinya.

Hamba Tuhan itu menanyakan kepada saya, apakah saya pernah menyakiti dan membenci seseorang dan tidak bisa mengampuninya ?

Lalu saya mulai berpikir apakah urusannya dengan penyakit saya..tetapi ketika dijelaskan : Tuhan akan mengampuni kamu jika kamu mengampuni orang yang telah menyakiti hati kamu. Saat itu saya teringat bahwa saya benci kepada ayah saya sendiri. Lalu hamba Tuhan itu bertanya kepada saya : Maukah kamu sembuh, kamu harus mengampuni ayahmu…..Itulah syarat untuk saya sembuh…Saya didoakan dan saya melihat bagiamana Tuhan bekerja. Jam 09.00 malam saya merasakan serangan yang luar biasa..saatnya mungkin saya harus pergi meninggalkan dunia ini karena kematian datang dari ujung kaki simetris ke arah tangan berjalan bersama-sama seperti tidak mempunyai rasa, tubuh kita mati dari ujung kaki dan terus merambat keperut sampai kelambung nafas hanyai sampai di dada dan leher.

Rasanya Tuhan saya tidak kuat lagi. Jika saya mau diambil Tuhan tolong saya..tetapi kalau saya masih diberi kesmpatan untuk hidup, pakai saya……Tuhan tolong saya..tolong saya… Pada saat itu dalam keadaan yang seperti itu…..dimana pikiran saya masih utuh tetapi badan saya tidak dapat bergerak sama sekali dan tidak merasa mempunyai badan..Tiba-tiba ada sinar yang terang benderang turun persis di sekujur tubuh saya. Terangnya bukan main pada saat yang bersamaan saya melihat orang-orang disekeliling saya seperti xtrim . Bisa dibayangkan begitu takutnya saya waktu itu, saya pikir itulah saat kematian saya sambil berteriak Tuhan tolong saya..tolong saya…

Esok harinya nyonya Nita diperiksa dokter dan hasilnya sungguh luar biasa. Penyakit tersebut hilang menurut pengecekan dokter. Tubuh saya, kulit saya yang sebelumnya merah padam dan berair jadi kering dan menjadi kulit yang terkelupas. Dan perut saya yang besar itu menjadi kempes dan rasanya yang tidak karuan dan sakit sekali itu hilang sirna. Saya bangun benar-benar sehat.

Kuasa mujizat Yesus sungguh menyembuhkan segala penyakit nyonya Nita. Dan saat ini nyonya Nita aktif bersama suaminya membuat program acara keluarga di televisi.

Semuanya yang saya alami ini tentunya karena Tuhan Yesus Kristus. Tuhan kita.

Bila sesuatu malapetaka menimpa kami, yakni pedang, penghukuman, penyakit sampar atau kelaparan, kami akan berdiri di muka rumah ini, di hadapan-Mu, karena nama-Mu tinggal di dalam rumah ini. Dan kami akan berseru kepada-Mu di dalam kesesakan kami, sampai Engkau mendengar dan menyelamatkan kami. (2 Tawarikh 20:9)

Sumber Kesaksian:
Nita Pelamonia (jawaban.com)

12 Tulang Rusuk Patah!!

Suatu pagi pasangan Achin dan Yeyen pergi ke stasiun gambir untuk mengantarkan ibunya yang akan ke Bandung. Pada waktu itu ada sebuah truk yang melindas kaki Yeyen dan menabrak Achin. Lalu Achin terjatuh dan masuk ke kolong truk dan terseret untuk beberapa saat lamanya. Akhirnya ban truk itu melindas dada sebelah kirinya. Keadaannya sangat parah dan ia ditinggalkan sendirian terlentang di tengah jalan tak berdaya…..

Banyak korban kecelakaan terjadi di jalan arteri Palmerah. Pasangan Achin dan Yeyen mengalami kecelakaan yang tragis. “Pada suatu hari saya bersama suami dan anak-anak mau pergi ke stasiun gambir. Saat itu saya melihat ada truk yang berjalan di pinggir. Truk itu tiba-tiba melindas kaki saya dan saya menjatuhkan diri ke samping yang ada pohon-pohon. Lalu saya berteriak : Yesus tolong ! ”

Pengakuan pak Achin : “Saya dengar isteri saya berteriak : awas ada mobil ! Waktu saya menoleh ke belakang, mobil itu langsung menabrak muka saya” Achin terdorong dan akhirnya ia terjatuh di kolong truk. ” Saya tidak berdaya di kolong truk saat itu. Saya pasrahkan semua itu dan ternyata saya terlindas oleh ban mobil belakang” Achin terlindas mobil setelah terseret truk beberapa lama dan truk itu langsung kabur. “Waktu saya sudah terlindas truk, saya terlentang di tengah jalan dan sesudah itu dada saya terasa dingin”. Pengakuan ibu Yeyen : “Secara manusia saat itu saya berpikir suami saya tidakakan hidup”

Achin ditinggalkan di tengah jalan dalam keadaan parah tidak berdaya. “Saat itu saya menangis dan berkata kepada Tuhan : Tuhan saya tidak kuat karena saat itu saya melihat sendiri dengan mata kepala saya sendiri. Sakit rasanya…..Dia yang terlindas tapi saya juga ikut merasakannya dan sakit sekali” Pengakuan pak Achin, “Waktu saya masuk ke UGD saya berpikir hidup saya akan berakhir. Saya sudah pasrahkan hidup saya kepada Tuhan”

Keadaan sangat kritis, 12 pasang tulang rusuknya patah sehingga paru-parunya tidak dapat berfungsi normal. Dokter harus membuat 2 lubang di paru-parunya untuk dapat menyedot darah. Pengakuan dokter Widarto Binafsihi (spesilis bedah), “Ketika korban di bawa ke rumah sakit subuh itu keadaannya masih cukup sadar tetapi menurut pemeriksaan foto dada, yang kita lihat itu rusuknya hampir semua patah di depan dan di belakang. Dan sebenarnya tidak ada harapan lagi baginya untuk hidup !

Pengakuan ibu Yeyen, “Dokter secara manusia sudah angkat tangan. Hampir setiap hari saya menangis di rumah sakit dan berseru kepada Tuhan. Yeyen diliputi oleh kekuatiran dan ketakutan. Hari demi hari yang dijalani terasa lambat. “Saat saya menangis, dari dalam hati saya ada suara Roh Kudus yang berkata : Tuhan menguji kamu tidak melampaui kekuatanmu. Tuhan itu baik dan saat itu saya mendapatkan kekuatan baru. Saat itu saya menjadi tenang sekali. Ditengah kegalauan hatinya, Yeyen teringat pada Solusi sebuah program televisi yang pernah di lihatnya. “Saat saya membutuhkan doa, saya teringat akan solusi. Pada sabtu siang, saya telepon Solusi 021-6513344 untuk minta dukungan doa. Semua permohonan doa saya di doakan oleh Solusi. Saya langsung mengimani setiap doa yang didoakan dari Solusi dan memang benar-benar dahsyat Kuasa Tuhan yang saya rasakan”

Yeyen terus setia berdoa bagi suaminya. Bagi Yeyen setiap saat adalah kesempatan untuk berdoa. “Pada saat saya mau tidur, saya serhkan suami saya ke dalam tangan Tuhan. Dan pada saat saya bangun, saya bersyukur suami saya masih bernafas”

Kondisi Achin tidak stabil, sangat kecil kesempatan bagi Achin untuk pulih. Namun saat itu satu hal yang indah terjadi. “Kamis malamnya saya berkumpul bersama anak saya, saya berdoa di depanlift. Teman anak saya melihat ada suatu cahaya yang terang sekali. Ia melihat terang itu dan merasakan damai dan sejahtera. Sejak itu langsung saya berdoa : Tuhan Yesus terima kasih. Saya percaya Tuhan Yesus sedang melawat suami saya”

Doa yang tulus menggerakkan tangan Tuhan. Keadaan yang mustahil menjadi tidak mustahil. Saat iut terjadi titik balik dalam kehidupan Achin. Achin pulih dengan mengesankan. Tulang-tulang rusuknya yang patah, tertauh dan berfaal serta fungsi tubuhnya kembali normal. Pengakuan dokter Widarto Binafsihi (spesilis bedah), “Kalau 1,2,3 tulang rusuk yang patah kemudian tertaut mungkin dapat kita lihat tiap hari tapi kalau 12 pasang tulang rusuk patah depan- belakang dan tertaut kembali itu bukan karya dari dokter dan selalu saya yakin karena karya dari Kristus”

Achin mengalami pemulihan yang sempurna. Pada tanggal 30 Desember 1999 Achin berjalan keluar dari rumah sakit dan menjalani kehidupannya seperti dahulu. “Saya bersyukur kepada Tuhan yang begitu baik dan telah memulihkan kesehatan suami saya. Kini ia telah kembali bekerja seperti biasa. Achin berkata, “Saya pulang dari rumah sakit dengan kondisi sehat. Saya berterima kasih kepada Tuhan Yesus. Saya bersyukur sekali mempunyai Tuhan yang hebat”

Sumber Kesaksian:
Achin & Yeyen (jawaban.com)

Penyembuhan Ginjal Bocor

Ana adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Kehidupannya ia jalani dengan sederhana bersama suami dan seorang putrinya di sebuah gang daerah Palmerah Jakarta. Suatu saat Ana merasa sakit di pinggangnya dan hanya bisa tergelatak di tempa tidur. Sekitar pertengahan bulan Oktober 1999 tejadi pembengkakan di kaki dan tangan. Saya lihat badan saya semakin bengkak dan lemas. Saya tidak bisa bangun dan makan dengan baik karena seluruh tubuh lemas. Untuk ke WC saja saya harus dibopong oleh suami.

Saya tidak segera berobat dan tetap bertahan dirumah karena tidak ada biaya. Suatu saat teman-temannya mendengar bahwa ia sakit dan mereka segera datang kerumahnya. Mereka kaget saat melihat keadaanya “kok sampai separah ini ? kami kira biasa-biasa saja” Atas bantuan biaya dari teman-temannya, Ana dibawa berobat ke sebuah rumah sakit. Selama beberapa hari Ana terbaring di rumah sakit dan menjalani permeriksaan dokter. Waktu di rumah sakit dokter bertanya kepadanya apa saja yang menjadi keluhannya. Dokter segera pastikan bahwa dari keluhan yang saya ungkapkan “Kalau saya buang air kecil warnanya kuning dan berbusa”, bahwa saya sakit ginjal bocor. Keesokan harinya Ana langsung periksa ke laboratorium dan ternyata hasil labnya saya sakit ginjal bocor. Dokter kemudian memberikan Ana obat. Keesokan harinya dokter sudah memperbolehkan ia pulang.

Namun satu hari setelah sampai di rumah, keadaannya semakin memburuk. Seluruh tubuh Ana mulai bengkak dan menjalar samapai ke kaki. Lalu mereka membawa Ana kembali ke dokter. Dokter spesialis ginjal kaget melihat keadaannya dan mengatakan “Ini diluar dugaan saya, saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya akan buatkan surat pengantar dan ibu bisa mencari rumah sakit lain” Namun karena tidak ada biaya, Ana tidak pergi ke rumah sakit seperti dianjurkan oleh dokter. Hari-hari selanjutnya ia lewati dengan terbaring di tempat tidur. Kondisi tubuhnya semakin buruk, badanya semakin sakit dan bengkak-bengkak si sekujur tubuh.

“Saya tahu saya mempunyai tabib yang ajaib yang sanggup menyembuhkan saya” Malam itu Ana berdoa dengan suaminya. Pada saat mereka menaikkan pujian penyembahan, Ana hanya ingat lagu : ajarku mengerti….ajarku berharap…ajarku berserah hanya padaMu. “Bapa sekarang imanku hanya berserah kepada kekuatanMu. Sekarang saya tidak mempunyai apa-apa, saya tidak sanggup tetapi saya percaya Bapaku sanggup menyembuhkan saya” Pada saat mengucapkan hal itu Ana melihat sebuah penglihatan. “Saya melihat Tuhan Yesus menumpangkan tangan di kepala saya dan saya lihat dari dari tangan itu keluar darah. Darah yang membasahi rambut saya. Saya ambil darah itu dan saya usapkan ke seluruh tubuh saya. Terima kasih Tuhan, darahMu tercurah penuh bagi saya. DarahMu menebus saya. Dan saya percaya di dalam nama Tuhan Yesus, saat ini saya sudah disembuhkan oleh Engkau. Saya sudah terima mujizat kesembuhan”

Saat itu suaminya heran dengan apa yang dilakukan oleh isterinya dan hanya bertanya-tanya di dalam hatinya. “Tepat pukul 06.00 urat di tangan saya mulai kelihatan, saya lihat kerutan di mata saya sudah kelihatan. Saya langsung teriak Puji Tuhan – puji Tuhan pak, puji Tuhan, mujizat Allah terjadi. Saya gandeng dan peluk suami saya dan kami mengucap syukur bersama” Suatu perjalanan yang indah yang takkan terlupakkan. Ana bersyukur memiliki Tuhan Yesus yang selalu membawa kebahagiaan di dalam kehidupannya.

Sumber Kesaksian:
Ana (jawaban.com)

Menghadapi 50 Sengatan Ubur-Ubur

Ada kekuatan yang indah pada laut dan Ian menyukainya. Ian cukup percaya diri saat di laut. Ia lebih suka berada di laut dari pada di daratan. Ia lebih suka berada dilaut dari pada di daratan. Ia suka kekuatan misterius, kecantikan mahluk-mahluk unik di laut. Ia menduga sudah mengetahui seluruh bahaya yang ada di bawah sana. Tapi satu mahluk yang berbahaya yang tidak dipahami. Bahkan kini para ahlipun sedikit yang mengetahuinya. Mahluk itu disebut ubur-ubur. Tampaknya tak berbahaya tetapi dapat membunuh orang dalam waktu 4 menit. Dan Ian McCormack mengalaminya.

Saat saya menyelam, ada sesuatu yang menghantam lengan dan saya merasakan seperti sengatan listrik. Seluruh tangan saya membengkak 2 kali ukuran normal. Saya merasakan racun menjalar dengan cepat melalui darah. Saat itu saya bertanya “Ian, apa saja yang sudah kau lakukan dalam hidupmu ? Hal ini seperti hukuman.” Ian tidak siap untuk mati. Ia masih muda dan penuh gairah hidup. Ia bertualang, berpesta, dan bermain wanita. Ia menggambarkan dirinya sebagai hedonis. Dan saat menghadapi kematian akibat 50 sengatan ubur-ubur, ia dipaksa berhadapan dengan bagaimana kehidupannya dan apa yang akan terjadi kemudian.

Teman-teman meyakinkan saya bahwa cara yang tercepat adalah membawa saya ke pantai dan ditinggalkan tergeletak begitu saja. Dengar, saya akan mencoba mencari bantuan …” Lalu saya berteriak “Jangan tinggalkan saya. Saya perlu ambulance. Saya akan mati…!” Ia begitu panik. Dan ketika terbaring, saya hampir menutup mata saya. Tiba-tiba ada suara pria yang berbicara sangat jelas “Nak, kalau engkau tutup matamu sekarang, engkau tidak akan bangun lagi.” Suara itu jelas berbicara pada saya apakah saya bodoh ? Lalu saya mulai merangkak dan mencari pertolongan.

Ian lalu mencoba untuk berjalan dan akhirnya Ian terjatuh di dekat supir taxi “Tuan, Anda perlu ambulance”, dan ia harus memohon kembali agar nyawanya diselamatkan. “Tolong saya ……” Dalam perjalanan ke RS, supir taxi tidak yakin bahwa penumpangnya yang sekarat akan membawa kebaikan bagi pekerjaannya sehingga ia melakukan hal yang tidak terbayangkan. Ia meninggalkannya di dekat sebuah hotel dalam kondisi sekarat. Untungnya petugas keamanan melihat apa yang terjadi dan memanggil ambulance. Tetapi bagi Ian, mungkin sudah terlambat. Tangan kanan dan muka saya mulai kaku dan kejang.

Saya tahu apa yang sedang terjadi dan bersiap untuk mati. Sementara saya berjuang hidup di dalam ambulance, saya mulai melihat kehidupan yang sudah saya lalui seperti video klip. Kemudian saya melihat wajah ibu saya dan ia berkata, “Nak, seberapapun jauhnya engkau dari Tuhan… jika Engkau memanggilNya dari hatimu, Tuhan akan mendengar doamu.” Saya berkata “Tuhan, kalau engkau bisa mendengar saya dan Engkau itu ada, saya meminta bantulah saya berdoa” dan seperti ada barisan kalimat muncul di depan saya “Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami.” Jadi Tuhan, maukah Engkau memaafkan aku untuk semua perbuatanku yg salah ..? Dan wajah ibuku kembali berkata ” Nak, berdoalah dalam hatimu.” Saya berkata, “Tuhan saya minta dengan sungguh pengampunan untuk dosa dan kesalahan saya.” Setelah saya berkata demikian, bayangan kalimat itu hilang. Lalu muncul kalimat lainnya “Ampunilah orang yang bersalah kepadamu.” Wajah pengemudi taxi muncul dalam ingatan saya. Suara itu berkata “Maukah engkau mengampuni orang itu, setelah ia menarikmu keluar dari taxi dan meninggalkanmu di jalan?” Saya ingin sekali membalas dendam tetapi dengan semua ini, saya berpikir “siapakah suara ini ?

Jelas bukan pikiran saya sendiri ? Dan kalimat-kalimat itu ? Apakah saya berbicara kepada Tuhan ? ” Saya sadar bahwa jika saya tidak mengampuni mereka dengan segenap hati maka saya tidak akan bisa berdoa lagi. Lalu saya hanya melihat seluruh Doa Bapa Kami muncul. Sepanjang hidup saya sudah berdoa dengan doa tersebut, tapi kali ini saya megerti arti doa itu. Dan saya menyadari bahwa hal terbaik yang saya bisa lakukan adalah memperoleh damai dari Tuhan. Saya melihat banyak orang disana memberikan suntikan. Saat saya berbaring, saya pergi semakin jauh … jauh… Dan seketika saya berada di tempat lain. Tempat itu begitu menakutkan bagi Ian, yaitu neraka. Ia berkata bukanlah satu masalah bahwa ia tidak mempercayai neraka.

Dan saat berdiri, saya melihat satu cahaya yang mengatasi kegelapan. Saya ditarik mendekati cahaya itu. Saat saya menangis, saya berkata “Tuhan, Engkau tidak mungkin mencintai aku. Aku sudah mengutukiMu.” Tetapi kasih itu mengalir. “Aku sudah memakai obat dan bermain wanita.” Tetapi kasih itu mengalir semakin kuat dalam diriku. Hatiku yang hancur dipulihkan secara total. Tuhan adalah orang yang pertama mengasihi dan menerimaku apa adanya. Hadirat dan kasihMu …. Tidak mungkin aku balas …

Ian lalu teringat kepada seseorang yang mengasihinya yaitu ibunya yang setia berdoa untuk dirinya. Ian bertanya pada Yesus jika ia mungkin untuk kembali. Dan Ian minta disembuhkan secara total. Tuhan berkata “Ian, kalau engkau ingin kembali, kau harus melihat segala sesuatu dengan cara yang baru.” Saat saya hampir kembali ke tubuh saya, mata saya sebelah kanan terbuka dan melihat tubuh saya, kaki kanan saya dinaikkan. Dan saya melihat seorang dokter memegangi kaki saya dengan jarum ditangannya, menusuki tubuh saya seperti orang mati. Dokter hampir menyerah dan saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sambil berbaring saya berpikir apa yang terjadi, apakah saya melihat Tuhan ? Satu hal yang bisa saya katakan, dalam 15 menit Ia melakukannya. Saya merasakan aliran seperti listrik dan hangat mengaliri tubuh saya dan dalam 4 jam seluruh tubuh saya sudah disembuhkan. Keesokan harinya saya sudah keluar dari RS.

Ian McCormack bertobat seperti Rasul Paulus dalam perjalanan ke Damaskus. Tidak di dalam gereja, tidak ada panggilan pertobatan, hanya pertemuan sekejap dengan Tuhan akan satu dunia yang tidak bisa di terangkan dengan kata-kata. Ian masih berkeliling untuk menyampaikan pada orang lain tentang Tuhan yang menyelamatkannya dari kematian dan neraka yang kekal serta memberikan hidup baru.

Sumber Kesaksian:
Ian McCormack (jawaban.com)

Antara Doa dan Vonis

Bertahun-tahun sejak pernikahan mereka, pasangan Kiki dan Mulyana belum juga dikaruniai anak. Sampai akhirnya diketahui bahwa Kiki menderita serangan virus toxoplasma yang menyebabkan dirinya sulit untuk hamil.

Memang kebanyakan penderita toxoplasma akan mengalami kesulitan dalam mengandung. Jika seseorang menderita toxoplasma, maka orang itu kemungkinan besar akan mengalami kesulitan saat mengandung. Janinnya juga kemungkinan kecil untuk dapat hidup, jika lahir sekalipun diperkirakan hanya hidup satu minggu hingga satu bulan. Karena mengidap hal itu maka saya mendapat doa terus menerus dalam kelompok persekutuan saya. Saya minta disembuhkan oleh Tuhan. Ternyata kuasa Tuhan bekerja, saya disembuhkan dari toxoplasma dan saya bahkan dapat mengalami kehamilan.

Namun pada awal kehamilan ini ternyata penyakit asma Kiki mulai kambuh kembali. Untuk itu ia mulai mengkonsumsi obat-obat asma yang cukup keras. Namun hal ini berakibat fatal. Saat di rumah sakit, Kiki menerima berita mengejutkan dari dokter yang memeriksa kandungannya.

Waktu saya hamil inilah ternyata asma saya kambuh dan saya makan obat asma. Obat ini saya makan kurang lebih selama sepuluh hari. Namun saat saya memeriksakan diri, dokter mengatakan bahwa secara ilmu kedokteran anak saya 90 persen akan mengalami cacat fisik. Hal ini disebabkan karena pada saat saya memakan obat asma tersebut, kandungan saya baru berusia 5 minggu. Dan menurut dokter, masa tersebut merupakan masa pembentukan tubuh janin dan obat asma yang saya makan akan menghambat pertumbuhan tubuh janin. Obat tersebut berakibat buruk pada janin saya dan menurut dokter anak saya kelak akan mengalami cacat fisik.

Akibat keterangan dokter tersebut, Kiki merasa sedih dan putus asa. Hatinya bimbang apakah dia harus melanjutkan kehamilannya.

Saya mulai berpikir saat itu. Tuhan sudah berikan anak pada saya, masakan saya harus menggugurkan kembali anak tersebut. Saya lalu pergi ke dokter asma dan membawa kembali obat-obat asma yang saya minum. Dokter ahli asma tersebut mengatakan bahwa memang obat-obatan yang saya minum adalah berbahaya jika saya sedang mengandung dan jika terus dikonsumsi akan berakibat anak saya akan lahir cacat. Dari ilmu kedokteran memang tidak dapat dipastikan jika bayi saya kelak akan lahir normal.

Berita ini memang buruk, namun Kiki dan Mulyana percaya akan mujizat. Dengan satu hati mereka terus menerus berdoa bagi janin yang ada dalam kandungan Kiki. Mereka percaya pada Yesus yang mereka sembah sanggup membuat suatu mujizat bagi mereka.

Sikap Mulyana sendiri dalam menanggapi hal ini sungguh menguatkan hati Kiki.
Saya berpikir tentang hal ini. Tuhan sudah memberikan kehamilan bagi istri saya, masakan janin itu harus digugurkan kembali. Tujuan kami ialah memiliki anak, masakan janin yang sudah ada harus kita gugurkan kembali. Kami yakin bahwa Yesus pasti memberikan yang terbaik bagi kami.

Pengalaman mujizat pertama membangkitkan iman Kiki menanti mujizat berikutnya.
Saya yakin Tuhan pasti akan memberikan anak pada saya. Mujizat pertama Tuhan lakukan ketika saya disembuhkan dari toxoplasma dan mujizat kedua ialah saat saya bisa hamil. Tuhan buat mujizat dan saya percaya hal itu. Saya tidak akan gugurkan bayi itu dan saya percaya bahwa bayi saya pasti akan lahir sempurna.

Kiki akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kehamilannya dan Tuhan akhirnya menjawab doa dan iman orang yang datang dan percaya kepadaNya. Joshua, putra Kiki dan Mulyana akhirnya dilahirkan dengan sempurna dan tanpa cacat. Suatu kebahagiaan yang sukar dilukiskan oleh Kiki dan Mulyana. Namun kegembiraan ini ternyata tidak berlangsung lama, ujian kembali dialami keluarga Kiki dan Mulyana. Dokter tidak mengijinkan Joshua pulang ke rumah karena mereka menemukan adanya pendarahan di bagian otak. Joshua harus menjalani operasi secapatnya.

Pergumulan saya ternyata belum berhenti saat anak saya divonis mengalami pendarahan di bagian otak. Tuhan sudah sembuhkan saya dari toxoplasma, Tuhan sudah berikan anak yang lahir sempurna dan tanpa cacat. Waktu itu saya bergumul pada Tuhan dan minta Tuhan nyatakan lagi mujizat bagi anak saya. Selama dua setengah tahun saya sudah begitu rindu untuk memeluk dan menggendong anak saya. Namun ketika anak saya dilahirkan, ternyata anak saya ada dalam keadaan sakit.

Kiki dan Mulyana tidak menyerah. Bersama keluarga yang lain, mereka terus berdoa dan berharap pada Tuhan. Hati Kiki menangis dan menjerit pada Tuhan agar Joshua dapat mengalami kesembuhan tanpa harus mengalami operasi.

Saya bilang pada Tuhan, saya serahkan semuanya pada Tuhan sebab saya sudah lelah dan tidak punya lagi kemampuan. Saya bilang bahwa saya tidah tahu harus berpegang pada apa lagi kecuali yang saya butuhkan hanyalah mujizat. Saya juga katakan bahwa saya tidak mau anak saya sakit lagi.

Tuhan itu sungguh ajaib dan Ia sungguh baik pada orang yang berharap padaNya.
Ternyata pagi itu saat saya ke rumah sakit untuk melihat anak saya dan mau mencoba memberi minum anak saya. Saat itulah suster mengatakan bahwa anak saya tidak jadi diselang. Saya langsung tahu bahwa Tuhan telah mengerjakan kembali mujizat pada kami. Dokter lalu mengatakan bahwa anak saya ini telah mereka periksa ulang dan mereka katakan bahwa anak saya ini telah sembuh. Saya merasa ringan seperti terbang, hati saya penuh sukacita.

Mulyana sungguh tidak mengira cara Tuhan bekerja.
Hari itu bisa saya rasakan bahwa Tuhan Yesus benar-benar bisa sembuhkan anak saya. Yang seharusnya dokter bilang anak saya harus diselang ternyata hari itu dokter mengatakan bahwa anak saya bisa dibawa pulang.

Joshua akhirnya dinyatakan sehat. Kiki dan Mulyana bisa membawa Joshua pulang tanpa harus melalui operasi. Dan Tuhan bekerja dalam hidup Joshua selanjutnya. Joshua tumbuh menjadi anak yang lucu, sehat dan tanpa cacat.

Anak kami Joshua adalah mujizat terbesar yang Tuhan berikan kepada kami. Dokter sudah memvonis dia lahir dengan cacat fisik, tapi ternyata dia lahir dengan normal dan ternyata dia sangat sehat. Sampai sekarang kesehatannya sangat luar biasa, kami sangat menyayanginya dan kami menamai dia anak Yesus. Kami sangat menyayanginya.

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.(Ibrani 11:1,6)

Sumber Kesaksian:
Kiki dan Mulyana (jawaban.com)

Ketika Yang Lain Tidak Mampu Menolong

Saya mengalami sakit lumpuh di tahun 1973. Saya tidak mengerti mengapa saya harus mengalami kelumpuhan ini. Suatu ketika di pagi hari saat saya sedang berjalan tiba-tiba saya terjatuh, saat itu rasanya tubuh saya ini seperti tidak mempunyai tulang lagi. Saya seperti daun yang rontok begitu saja. Mengalami hal seperti itu, saya langsung menjerit dan minta pertolongan. Saya tidak mengerti mengapa badan saya ini tiba-tiba bisa lunglai begitu, apa yang terjadi dengan badan saya ini?.

Orang tua Robin kemudian membawa Robin ke dokter. Orang tua saya kuatir dan takut tentunya. Dokter lalu memeriksa saya, memeriksa darah, memeriksa semuanya, tapi hasilnya bagus. Dari hasil pemeriksaan semua keadaan tubuh saya, tidak ditemukan hal yang salah atau kurang menurut dokter. Begitu juga saat saya pergi ke dokter lainnya, tidak ditemukan adanya kelainan. Hanya saja ketika saya pergi ke dokter ahli syaraf, dia menganjurkan saya untuk dipijat saja, tapi itupun tidak menolong apa-apa.

Melihat kondisi anaknya yang makin parah, orang tua Robin memutuskan membawa anaknya ke dukun.
Kemudian saya dibawa ke orang-orang pintar dan dukun. Tapi dari mereka juga saya tidak mendapatkan kesembuhan malahan penyakit itu semakin sering untuk kambuh. Bila kambuh, lumpuh pada badan ini bukan hanya terjadi satu atau dua hari saja, bahkan kadang-kadang bisa mencapai lima hari. Hal itu saya alami selama bertahun-tahun.

Sementara itu Robin merasakan hidup ini seperti seorang bayi yang harus dipapah dan ditolong bila ia bergerak kemana-mana. Bukan hanya kelumpuhan, Robin juga merasakan kepekaan yang sangat pada sekujur kulit di tubuhnya.

Saya sangat menderita. Kalau mau keluar saya harus dibopong atau dipapah. Kalau saya mau buang air besar maka badan saya harus dipegangi, tidak bisa didudukkan begitu saja. Semua otot saya baik pinggang itu tidak berfungsi sama sekali. Selain itu kulit saya juga menjadi sangat sensitif dan peka. Pasir yang sangat halus sekalipun bila mengenai kulit rasanya kulit saya ini seperti ditoreh-toreh. Tempat tidur saya harus bersih dari butiran-butiran yang sangat halus sekalipun. Kulit saya ini rasanya sangat sensitif sekali.

Lengkap sudah penderitaan yang dialami Robin Sinaga. Saya sudah tidak punya pengharapan untuk hidup lebih baik lagi. Padahal waktu itu saya masih muda, masih punya potensi banyak dan masih punya angan-angan yang tinggi. Saya saat itu baru saja tamat SMA dan baru berkuliah.

Di tengah-tengah keputusasaannya itulah orang tuanya membawa Robin ke seorang hamba Tuhan.

Setelah sepuluh tahun saya mengalami penyakit itu dan saya menjadi putus asa, saat itulah orang tua saya datang dan menanyakan pada saya, kemanakah mereka dapat membawa saya demi kesembuhan yang ditunggu-tunggu itu. Saat itu saya sudah pasrah dan saya katakan terserah pada orang tua saya saja kemana mereka hendak membawa saya, saya sudah tidak mempunyai pengharapan lagi. Saya sudah putus asa. Orang tua menanyakan bagaimana jika saya dibawa ke pendeta saja untuk dilayani dan didoakan?. Saya katakan bahwa semua keputusan ada di tangan orang tua saya, terserah mereka saja.

Tapi kemudian setelah saya dilayani dan didoakan oleh seorang hamba Tuhan, timbul iman dalam hati saya. Memang pada waktu itu penyakit saya tidak langsung sembuh. Ketika saya sampai di rumah saya mulai membaca Alkitab walaupun saya membaca sambil berbaring. Saya menemukan satu nats dalam Alkitab, dalam kitab Yakobus pasal 5:17 yang mengatakan bahwa Elia itu adalah manusia biasa walaupun dia nabi. Saya berpikir bahwa sayapun manusia biasa sama seperti Elia yang berdoa itu. Saya berpikir bahwa sayapun bisa berdoa seperti Elia itu. Sayapun mulai berdoa kepada Tuhan. Saya percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan dan tidak ada yang mustahil bagi Dia. Malam itu saya dapat tidur dengan tenang dan tidak gelisah.

Keesokan harinya, sesuatu telah terjadi. Robin merasakan sesuatu yang berbeda dalam tubuhnya yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Besok paginya saya bangun dengan sesuatu yang berbeda!. Saya mulai menggerakkkan badan saya, saya duduk lalu bangkit berdiri, semua mampu saya lakukan. Saya melompat dan saya ternyata bisa!. Saya yakin saat itu saya sudah sembuh!. Saya memuji Tuhan, bersyukur dan menangis di hadapan Tuhan. Saya katakan bahwa hidup saya ini adalah milik Tuhan semata. Saya ingat bahwa kesembuhan itu terjadi di bulan Oktober 1982, sepuluh tahun setelah saya terkena penyakit ini. Sejak saat itulah saya sembuh sampai sekarang. Setelah itu saya dapat berkuliah dengan bergairah dan akhirnya dapat menyelesaikan studi saya.

Bagi Robin yang menyembuhkannya secara total hanyalah satu pribadi. Setelah kami memakai segala daya upaya baik medis maupun ilmu-ilmu perdukunan dan mistik tidak membawa suatu pertolongan bahkan penyakit saya semakin hari semakin berat. Tapi setelah saya datang pada Yesus dan didoakan dan saya mengakui dosa saya, saya merasakan kasih Tuhan dan mengalami kesembuhan atas segala penyakit saya. Luar biasa Tuhan Yesus itu karena Dia menyembuhkan saya sampai sekarang, Haleluya.

Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain (Yesaya 45:5-6)

Sumber Kesaksian:
Robin Sinaga (jawaban.com)

Rencana Indah Dibalik Kelumpuhan

Anak yang bertumbuh sehat dan ceria adalah harapan semua orangtua. Namun keluarga Ridwan asal Semarang ini tidak bisa merasakan kebahagiaan itu. Putrinya Evelyne yang semula sehat, tiba-tiba mengalami kelumpuhan tanpa sebab yang pasti. Kejadian yang terjadi saat Evelyne berusia 12 tahun, sangat menggelisahkan orang tuanya terutama ibunya.

Waktu itu Evelyne berusia 12 tahun dan duduk di kelas 6 SD. Waktu hari itu, kami sangat terkejut sewaktu kami mendapat telepon bahwa Evelyne tidak dapat pulang dari sekolah karena badannya sulit untuk digerakkan. Evelyne lalu menjalani pemeriksaan berkali-kali dari dokter namun hasil pemeriksaan tidak menunjukkan penyakit apapun dideritanya.

Evelyne lalu menjalani pemeriksaan dan pengobatan dari berbagai dokter ahli tetapi penyakitnya tidak kunjung sembuh. Malah dari hari ke hari penyakitnya semakin bertambah parah. Melihat hal ini kedua orang tua Evelyne semakin panik dan gelisah, tidak tahu harus berbuat apa. Dengan berjalannya waktu, Evelyne akhirnya mengalami kelumpuhan yang total dan terus menderita kesakitan.

Saya semakin melihat anak saya semakin bingung dan sedih. Saya berpikir bahwa tidak ada pertolongan lagi untuk keadaan ini. Setiap malam dia mau tidur dan bergerak, maka Evelyne akan menangis menjerit-jerit dan teriak-teriak karena kesakitan.

Hari berganti hari, minggu berganti biru serta bulan berganti bulan tetapi Evelyne tetap tidak mengalami kesembuhan. Hal inilah yang membuat kedua orang tua Evelyne menjadi putus asa. Keadaan Evelyne bukan hanya berpengaruh pada fisiknya namun juga mengganggu jiwanya dimana perasaannya sangat tertekan karena keadaannya yang lumpuh. Saat memasuki bulan yang keempat, ia merasakan kebosanan yang dalam dan kehilangan keceriaan karena tidak dapat bermain dengan teman-teman seusianya.

Saya pernah pergi ke mall dengan menggunakan kursi roda, saat itu saya merasa malu ketika orang-orang memandangi saya. Saya sudah bosan dibawa berobat kemana-mana, sepertinya dokter tidak memberikan harapan sama sekali. Semua sudah mengangkat tangan dan mengatakan bahwa saya tidak mempunyai penyakit. Saya bosan dan malas dibawa kemana-mana, karena saat saya berjalan-jalan, saya harus menahan rasa sakit yang luar biasa. Kalau saya ada dalam posisi tidur, untuk bergerak sedikit saja saya sudah tidak bisa karena rasa sakit.

Bapak Ridwan ikut menderita melihat penderitaan putrinya ini. Setiap kali anak saya menjerit kesakitan, kami sebagai orang tuanya ikut menjerit. Tapi kami tidak tahu harus berbuat apa. Saya sebagai ayahnya waktu itu tidak mau anak saya menderita rasa sakit seperti itu. Akhirnya saya katakan bahwa apapun yang terjadi akan saya lakukan, yang penting anak saya sembuh.

Karena tidak tahan melihat penderitaan Evelyne, bapak Ridwan memutuskan untuk membawa Evelyne ke dukun. Namun niat sang ayah ini ditolak dan ditentang Evelyne. Ia teringat pesan guru sekolah minggunya bahwa Tuhan Yesus yang dia sembah sanggup untuk menyembuhkannya.

Waktu itu papa bilang supaya saya dibawa ke dukun saja, lagipula dukun disini juga banyak. Tapi saya waktu itu cuma percaya satu, hanya Tuhan Yesus yang bisa menyembuhkan saya. Saya bilang pada papa, saya lebih baik mati tapi ditangan Dia. Saya tidak mau hidup saya terbuang cuma-cuma. Kalau saya harus mati dengan penyakit ini, saya mau mati ditangan Tuhan, saya tidak mau mati ditangan paranormal. Saya merasa kalau saya punya Tuhan yang hidup, saya punya Tuhan yang mampu menyembuhkan saya. Saya tidak perlu berharap pada orang lain. Saya percaya Tuhan punya rencana yang indah buat saya.

Dengan keteguhan hati Evelyne, akhirnya seluruh keluarga mengambil langkah iman untuk berseru pada Yesus dan mengadakan puasa bersama. Ketika seluruh keluarga ini berpuasa dan berseru kepada Tuhan Yesus, sesuatu terjadi!.

Kita sekeluarga sepakat mengadakan puasa bersama selama lima hari. Kita semua terus berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Ternyata kuasa Tuhan bekerja, kaki saya mula-mula tidak dapat diluruskan sama sekali tapi lama-lama kaki itu bisa lurus. Lalu saya bisa berjalan sedikit-sedikit lalu saya bisa terlepas dari tongkat pada hari kelima. Pada hari kelima itu saya merasakan badan saya sudah enak, tidak ada sakit sama sekali dan jalan sudah mulai enteng. Akhirnya saya mencoba berjalan tanpa tongkat, ternyata saya bisa berjalan tanpa tongkat, hari Minggu itu saya langsung bisa bergereja. Mulai saat itu saya tidak pernah lagi terserang rasa sakit, saya sembuh total.

Peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu itu, tidak pernah dapat dilupakan oleh Evelyne sekeluarga. Kini Evelyne dan keluarganya semakin percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup menyelesaikan segala masalah mereka.

Saya percaya melalui sakit saya, kemuliaan Tuhan ada didalam keluarga saya. Keluarga saya semakin mengenal Tuhan. Saya percaya hanya Dia yang mampu menyembuhkan saya, tidak ada illah lain dan manusia yang mampu menyembuhkan saya. Dalam Yesus segala masalah saya pasti terselesaikan.

Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi. Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. (Hosea 6:3,6)

Sumber Kesaksian:
Evelyne (jawaban.com)