Category Archives: Kuasa Tuhan

Imelda, Memberi Inspirasi Dari Kursi Rodanya

Namaku Imelda Saputra, aku seorang penulis. Sebenarnya dulu aku tidak pernah berpikir akan menjadi seorang penulis, namun inilah cara Tuhan memakai aku menjadi penanya untuk menyemangati banyak orang sama seperti Ia menyemangati aku untuk menjalani hidupku.

Aku terlahir sebagai anak normal, namun saat aku masih balita orangtuaku menemukan sebuah benjolan di punggungku. Ternyata saraf kaki kusut di benjolan tersebut. Dokter menyarankan untuk operasi, tetapi ketika operasi dilakukan ternyata ada efek samping yang terjadi. Setelah operasi kakiku bengkok dan menciut. Akhirnya aku tidak pernah bisa berjalan, aku lumpuh.

Orangtuaku melakukan berbagai upaya agar aku bisa berjalan lagi, mulai dengan ke dokter, tukang urut hingga ke dukun. Aku ingat, setiap kali ke dukun, aku sering disuruh minum air yang telah dijampi-jampi. Tapi usaha yang dilakukan oleh orangtuaku selama bertahun-tahun sia-sia belaka, aku pun telah lelah dan hampir putus asa. Tapi setiap kali aku bilang, “Malas ah…” Orangtuaku kembali bertanya, “Kamu mau sembuh ngga?” Hal itu membuatku bangkit lagi dan mau mencoba lagi.

Hingga suatu hari, saat kami konsultasi dengan seorang dokter, dia memberikan sebuah nasihat yang berbeda. Bukan janji kesembuhan yang diberikan, dia menyatakan dengan jujur bahwa kemungkinan untuk sembuh itu sudah tidak ada. Dia meminta orangtuaku untuk menyekolahkanku.

Mendengar aku akan sekolah, hatiku bergejolak karena sangat senang. Karena anugrah Tuhan, aku bisa sekolah di sekolah umum sekalipun aku cacat dan harus menggunakan kursi roda. Kadang memang ada orang yang memandangku dengan aneh karena keadaanku, tapi itu hanya di satu dua hari awal saja, selanjutnya, teman-teman dan guru-guruku bisa menerima keadaanku.

Sekalipun aku lumpuh dan harus beraktivitas dengan kursi roda, namun hal itu tidak menghalangiku untuk berprestasi. Bahkan ketika aku duduk di bangku SMP, aku cukup aktif dalam organisasi di sekolah. Aktivitasku sangat padat, kadang aku pulang sekolah antara jam dua atau setengah tiga. Setelah itu, kadang ada les yang ku ikuti. Namun karena aku duduk terus, dan kadang karena kesibukan aku tidak mengganti pampers, akhirnya terjadi iritasi dan membuat kesehatanku menurun.

Aku tidak pernah memberitahu orangtuaku tentang apa yang aku rasakan karena aku takut tidak diijinkan sekolah. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, suatu hari aku jatuh pingsan karena tidak tahan lagi dengan sakitku. Dokter memvonisku dengan penyakit dekubistus dan juga tipes akut sehingga aku harus di rawat di rumah sakit. Mulai bulan Mei di tahun itu, aku berhenti sekolah. Aku sudah tidak bisa bangun lagi, jadi aku hanya terbaring di tempat tidur tanpa daya.

Aku tertekan dan putus asa karena aku tidak bisa melakukan apa-apa, padahal biasanya setiap hari aku sibuk dengan aktivitas sekolah. Sering terbersit di pikiranku, kalau aku lebih baik mati. Tapi suatu hari seorang perawat datang dan berbincang denganku. Dia menceritakan tentang kesaksian hidupnya, dulu dia juga pernah sakit, bahkan mamanya pernah berkata, “Sudahlah Tuhan, ambil saja nyawa anak saya.” Tapi perawat itu berkata pada mamanya, “Ngga ma, aku pasti sembuh. Aku pasti sehat. Aku ngga akan mati. Aku akan melayani Tuhan.”

Perawat itu berkata dengan penuh kasih kepadaku, “Kalau aku bisa sembuh, kamu juga pasti bisa sembuh.”

Ketika perawat itu keluar dari ruanganku, aku langsung berdoa. “Tuhan terima kasih karena Engkau masih sayang sama aku. Aku mengasihimu Tuhan..” Kata-kata itu sudah lama tidak pernah ku ucapkan kepada Tuhan. Hari itu, aku merasakan sesuatu yang berbeda di hidupku. Aku merasakan Tuhan melembutkan hatiku kembali.

Semangat hidupku pun bangkit, bahkan kesehatanku juga berangsung membaik. Suatu saat aku diingatkan kepada seorang kakak rohaniku. Hari itu juga aku menghubunginya. Di telephone itu dia berkata, “Mel, beberapa bulan lagi kita ada konser doa. Yuk ikut gabung melayani..”

Hal itu menjadi jawaban doa bagiku, aku ingin melupakan apa yang telah lalu dan memulai sesuatu yang baru. Hingga tiba di perayaan natal di tahun 2005, saat itu hamba Tuhan yang melayani memintaku untuk maju ke tengah.

“Saya mau berdoa buat kamu,” demikian ucap pendeta tersebut.

“Saya minta seorang perempuan untuk peluk dia..”
Aku berpikir, aku akan diapakan nih? Seorang teman datang memelukku dan hamba Tuhan itu berdoa untukku, saat itu Tuhan menyampaikan isi hati-Nya kepadaku melalui hamba Tuhan itu. Salah satunya adalah:

“Kamu akan nulis buku, kamu akan Tuhan pakai jadi penanya Tuhan.”
Sempat aku merasakan keraguan, “Bener nih Tuhan?”

Tapi saat itu juga Tuhan berbicara, “Aku yang akan melakukannya, bukan kamu.”

Waktu berlalu, karena kondisiku, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Akupun mulai banyak membaca, mulai dari buku, hingga berbagai majalah. Saat membaca sebuah majalah anak-anak, aku berpikir aku juga bisa menulis seperti itu. Akupun mulai mencoba menulis, ketika ada lomba menulis, aku kirim karyaku. Tapi saat itu, semua yang ku kirimkan di tolak dan dikembalikan semua.

Waktu berbagai karyaku di tolak, aku sempat merasa, “Udahlah Tuhan, memang aku ngga berbakat.” Beberapa lama aku sempat berhenti menulis, tapi perkataan hamba Tuhan yang berdoa bagiku terus teringat olehku. Aku ingat janji Tuhan itu, aku tahu kalau aku perlu bekerja sama dengan Tuhan. Jika aku mau janji Tuhan itu terwujud, aku harus terus menulis.

Aku tidak tahu darimana datangnya inspirasi itu, terkadang seperti Tuhan sedang berbicara atau mendiktekan sesuatu kepadaku. “Nanti nulisnya seperti ini.. awalnya seperti ini..” Tuhan hanya memberi tahu aku sedikit, kemudian aku harus mengembangkannya sendiri.

Selama beberapa tahun aku hanya menulis, tanpa ada tanda-tanda janji Tuhan itu terwujud. Hingga tiba di tahun 2008, sebuah penerbit menghubungiku.

“Imelda, bukunya di terima ya, kami terbitkan.”

Aku seakan tidak percaya, “Buku… penerbit.. buku yang mana ya?”

Itulah cerita bagaimana akhirnya buku pertamaku akhirnya diterbitkan. Aku merasa sangat senang lagi, ternyata memang janji Tuhan itu tidak pernah gagal. Kini semua nubuatan itu telah menjadi kenyataan.

Aku melihat karya Tuhan begitu ajaib, apa yang tidak pernah aku pikirkan, tidak pernah timbul dalam hati, Tuhan melakukan itu dalam hidupku. Hal itulah yang membuatku merasa Tuhan itu begitu luar biasa. Jika orang heran bagaimana aku bisa menulis buku, akupun juga heran. Tapi semua itu terjadi karena Tuhan. Dari semua yang terjadi itu, aku tahu bahwa hidupku penting, bagi Tuhan dan juga bagi sesama. Aku bersyukur untuk apa yang Tuhan lakukan dalam hidupku, apa yang terlihat buruk dapat Tuhan ubahkan menjadi kebaikan, bukan hanya untukku namun juga untuk orang lain.

 

Sumber Kesaksian :
Imelda Saputra (jawaban.com)

Aku Kembali Seperti Anak Kecil

Apa jadinya kalau seseorang yang telah menginjak dewasa kembali melakukan kegiatan anak kecil yaitu belajar berbicara, belajar berjalan, bahkan kemampuan fisiknya seperti seorang anak kecil. Ketika masih kecil dia dididik sangat keras oleh kakeknya sehingga mempengaruhi mental dan kepribadian dia menjadi seorang yang nakal dan pemberontak. Sampai dia besar perilakunya makin buruk sehingga menjadikan dia sebagai seorang pemakai narkoba, tukang berkelahi, ugal-ugalan, kebut-kebutan di jalan, dan pemain perempuan.

Peristiwa ini dialami oleh Haryanto Budi, yang mengalami kecelakaan bermotor sehingga mengakibatkan lumpuh pada kedua kaki dan tangan serta buta pada kedua matanya.Dia tidak menyangka kalau kecelakaan itu akan mengakibatkan fatal pada dirinya.Kejadian ini dialaminya pada suatu malam, ketika dia sedang mengendarai motor, tiba-tiba dari arah depan ada mobil dan Haryanto tidak dapat menguasai kecepatan motor yang dikendarai sehingga tabrakan itu tidak dapat dihindari. Haryanto terlempar, kepalanya membentur trotoar dan berlumuran darah.

Orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian mengatakan bahwa dirinya tak bernyawa lagi. Dia segera dilarikan ke rumah sakit dan dokter segera mengambil tindakan. Dokter tidak dapat berbuat banyak sebab kecelakaan yang dialami Haryanto cukup berat. Dari hasil pemeriksaan dokter, ternyata Haryanto mengalami geger otak dan harapan hidupnya tinggal duapuluh persen. Seandainya hidup, dia akan mengalami geger otak yang hebat, separuh saraf-saraf dalam tubuhnya tidak berfungsi, penglihatan kabur, kedua kaki dan tangan lumpuh dan tidak dapat berbicara.

Sekarang Haryanto tak berdaya dan semangat hidupnya hilang seketika.Hari-hari kehidupannya dilalui dengan melakukan kegiatan dia pada waktu kecil yaitu belajar berbicara dan belajar berjalan sementara penglihatan dia semakin kabur. Pada saat dia sedang sendiri dan termenung, pikirannya kembali mengingat masa lalunya yang dipenuhi dengan kehidupan ugal-ugalan, kebut-kebutan, perkelahian, pemakai narkoba, dan mempermainkan perempuan. Kini dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini betapa menghancurkan kehidupan dan masa depannya. Dia berjanji akan meninggalkan semua kebiasaan buruknya di masa lalu. Haryanto tetap yakin bahwa masih ada harapan kehidupan dan kesembuhan yang diberikan Tuhan pada dirinya, dan oleh karena itu ia tidak putus asa untuk terus berlatih berbicara dan berjalan walaupun masih gagap dan terus terjatuh.

Pada suatu hari, di saat Haryanto duduk berdoa dan merenungkan kehidupannnya, tiba-tiba dia merasakan kekuatan baru dalam dirinya. Dia mencoba berdiri dan berjalan sambil mencoba berbicara. Memang benar, pada saat itu Haryanto dapat berjalan dan berbicara, penglihatannya juga semakin jelas. Betapa bahagianya Haryanto mengalami kesembuhan. Kebahagiaan dia tak dapat terlukiskan dengan kata-kata. Dia sangat yakin bahwa apa yang dialaminya adalah semata-mata pertolongan Tuhan. Entah dengan apa dia harus mengucapkan terima kasih pada Tuhan atas segala kasihNya yang tak berkesudahan. Namun yang pasti bahwa dia menempatkan Tuhan yang terutama dalam segala kehidupan dan pergumulan hidup yang dialaminya.

Kini dia dapat melewati masa-masa sulit selama beberapa waktu lamanya dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang baru dengan segala rencana kehidupan dan masa depan yang lebih jelas dan terarah di dalam bimbingan dan penyertaan Tuhan.

Sumber Kesaksian:
Haryanto Budi (jawaban.com)

Kista Membusuk Di Kandunganku

Seorang wanita karir terpaksa berhenti melakukan pekerjaannya oleh karena mengidap suatu penyakit yang cukup berat yaitu terdapat kista di kandungannya. Ia adalah seorang ibu rumah tangga dan mantan direktur sebuah bank di Jakarta. Dia adalah Elizabet Budi. Mula-mula dia menganggap bahwa sakit di perutnya adalah sakit ringan dan tidak dihiraukannya.Setiap hari dia merasakan sakit di perut. Namun, pada suatu hari ketika dia kembali dari kantor, sakit di perut terasa hebat sehingga tak dapat ditahan. Pada hari itu juga, Elizabet bersama suaminya pergi ke dokter ahli gynekolog. Dokter memeriksa kandungan Elizabet melalui alat USG. Dari hasil pemeriksaan, ternyata di kandungan Elizabet terdapat kista yang sudah membusuk dan menghitam.

Dokter memberikan jalan keluar satu-satunya yaitu harus menjalani operasi agar kista yang ada di kandungan diangkat. Menurut diagnosa dokter bahwa jikalau tidak dilakukan operasi maka kista akan pecah dalam waktu tiga hari dan umur kehidupan Elizabet tinggal tiga hari juga. Namun Elizabet berkeras tidak mau di operasi oleh karena trauma pada saat melahirkan anak yang kedua juga melalui operasi, tidak sadarkan diri selama kurang lebih lima jam. Dalam keyakinan iman Elizabet bahwa masih ada seseorang yang mampu menyembuhkannya yaitu Tuhan. Dia sangat yakin bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan penyakitnya. Selama tiga hari, dia terbaring di tempat tidur sambil berdoa dan meyerahkan pergumulannya pada Tuhan agar Tuhan memberikan kekuatan dan umur panjang. Ada banyak saudara dan handai taolan turut mendoakannya. Di dalam kesakitannya, dia masih menyempatkan diri menghadiri ibadah di gereja sebab dia yakin bahwa di dalam kuasa Tuhan segala sesuatu dapat terjadi.

Dari hari ke hari, penyakit Elizabet semakin memburuk, tetapi tidak melunturkan iman dan kepercayaan pada kasih dan kuasa Tuhan yang suatu saat akan menganugerahkan kesembuhan atas dirinya. Pada suatu saat, ketika dia tertidur pulas, terdengar isak tangis anaknya. Elizabet langsung bangun dan berdiri seolah-olah tidak merasa sakit dalam dirinya.Dia menghampiri anaknya yang sedang dimandikan oleh baby sitter.Ternyata anaknya menangis oleh karena sedang dimandikan. Elizabet juga merasa haus dan kemudian menuju meja makan mengambil air. Tanpa disadarinya, ia dapat berjalan dan berdiri.

Ia kemudian menyadari bahwa dirinya sedang sakit dan tak dapat bangun dari tempat tidur.Betapa terkejutnya dia pada saat itu melihat dirinya mampu berjalan, berdiri dan perutnya kempes di saat mengalami penyakit yang cukup parah yang hanya dapat terkulai lemas di tempat tidur. Elizabet masih meragukan apa yang dialaminya, kembali dia mencoba meloncat-loncat ternyata tidak merasa sakit. Elizabet kemudian membangunkan suaminya dan mengatakan bahwa dirinya sembuh. Hal pertama yang mereka lakukan adalah berdoa dan mengucap syukur pada Tuhan.

Pada keesokan harinya, mereka berdua ke dokter memeriksakan diri sambil memastikan bahwa penyakit Elizabet benar-benar sembuh. Dokter melakukan USG dan hasilnya kista yang ada di kandungan Elizabet benar-benar hilang dan itu berarti Elizabet sembuh. Dokter juga membandingkan hasil USG pada waktu kista masih ada di kandungannya. Dokter tetap tidak yakin pada hasil pemeriksaan sehingga dia bertanya apakah Elizabet pergi berobat ke dokter lain. Elizabet mengatakan bahwa dia tidak pernah berobat ke dokter lain. Selama ini yang dilakukannya adalah menyerahkan penuh segala keberadaannya pada Tuhan yang diyakininya sanggup mengobati penyakitnya.Akhirnya dokter dapat memahami bahwa ini adalah karya Tuhan dalam kehidupan seseorang yang tak dapat disangsikan.

Elizabet sekeluarga sangat bersukacita dan mengucap syukur atas pertolongan Tuhan yang terjadi dalam keluarga. Sebagai ungkapan syukur pribadi, Elizabet kini menyerahkan seluruh kehidupannya bagi pekerjaan pelayanan Tuhan.

Sumber Kesaksian:
Elizabet Budi (jawaban.com)

Usia Hidupku Tinggal Sesaat

Seandainya ada seorang anggota keluarga kita yang sakit keras dan berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter mengatakan: “Kuatkanalah hati saudara, karena harapannya sangat tipis sekali.” Apa reaksi saudara ketika mendengar hal tersebut? Ada dua kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan yang pertama berontak dan tidak percaya, karena dibawa berobat tentu dengan harapan untuk sembuh. Kemungkinan yang kedua: pasrah pada apa yang akan terjadi, terjadilah asalkan penderitaan si sakit cepat berlalu. Lalu, kalau di antara kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, di tengah-tengah harapan tipis yang hampir menuju pada keputusasaan, ternyata saudara kita yang sakit itu sembuh. Bagaimana pula perasaan kita? Tentunya kita merasakan “sukacita yang tidak dapat digambarkan hanya dengan kata-kata saja.”

Perasaan-perasaan semacam ini dialami oleh Yakobus Karman, ketika berusia muda dan ia adalah seorang yang sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor. Ia bekerja pada sebuah pabrik farmasi dan memiliki posisi baik di kantornya sehingga secara finansial ia tidak mengalami kesulitan.Waktunya tidak hanya tersita pada pekerjaan tetapi juga tersita bersama teman-teman seperti berjudi dan melakukan hubungan seks. Di tengah kesibukannya, dia tidak merasa bahwa ada bahaya besar menghadang dia.Disinilah awal kehancurannya.Dia mulai merasakan ada sesuatu di lehernya yang kelihatan membengkak.Yakobus menjadi tidak tenang sebab sangat mengganggu pekerjaannya.Ia memeriksakan diri ke dokter dan dokter mengambil langkah pemeriksaan melalui CT scan. Dari hasil pemeriksaan dokter dengan menggunakan alat CT scan, ternyata Yakobus mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening yang berukuran 1,5cm x 1,5cm. Sumsum darah juga diambil sebab kelenjar getah bening ini akan menjalar ke darah.

Pada waktu pengambilan sumsum darah, Yakobus merasakan sakit sehingga dia harus berteriak-teriak karena menahan rasa sakit. Dokter juga menyatakan bahwa kemampuan Yakobus bertahan hidup diperkirakan enam bulan jika memang dia memiliki ketahanan tubuh yang kuat. Salah seorang anggota keluarga berinisiatif mencari pertolongan lewat paranormal.Sementara paranormal mempersiapkan segala peralatan, Yakobus berbaring dengan tenang dan hanya berharap mudah-mudahan dia sembuh.Proses penyembuhan ini dijalani beberapa jam yang dipenuhi dengan pembacaan mantera.Setelah selesai, paranormal memberitahukan hasil pengobatan bahwa reaksi dari pengobatan ini adalah keluarnya darah yang berarti Yakobus sembuh dari penyakitnya. Beberapa saat kemudian, darah keluar dari tubuhnya dan mendadak Yakobus ketakutan, seperti mau mati rasanya.Harapannya untuk bertahan hidup sirna seketika.Sepertinya tidak ada harapan hidup bagi Yakobus. Keluarganya bingung melihat tingkah Yakobus yang ketakutan.

Pada saat depresi yang berat, Yakobus teringat pergi ke gereja.Kebetulan pada hari itu ada suatu acara kebaktian di gereja.Yakobus mendengar dengan seksama Firman Tuhan yang disampaikan oleh bapak Pendeta.Tema khotbah pada saat itu ialah “janganlah minta kekayaan, tetapi minta ampun pada Tuhan atas dosa yang telah diperbuat.” Hatinya tersentuh mendengar khotbah itu.Yakobus memberanikan diri maju ke depan mengaku dosa dan mohon ampun dari Tuhan atas segala dosa yang diperbuatnya selama ini.

Selama pengakuan dosa, ia merasa ada pertemuan yang indah bersama Tuhan.Pada saat yang bersamaan, ada sinar memancar yang menerangi dirinya sehingga dirinya terasa panas. Rasa sesak yang dirasakan sebelumnya mendadak hilang. Namun, ada suatu kelegaan yang mengalir dalam dirinya. Pada malam itu ia menjadi tenang, tidak merasa gelisah dan takut seperti hari-hari sebelumnya.Yakobus mengatakan pada ibunya bahwa ia tidak mau di operasi, sebab ia merasa sehat. Namun ibunya berkeras harus dioperasi. Malam itu adalam malam terakhir saat ia menunggu waktu operasi pada besok hari.

Keesokan harinya, sebelum operasi dimulai, dengan penuh keyakinan bahwa ia menerima kesembuhan dari Tuhan, Yakobus mengatakan pada dokter bahwa dirinya tidak lagi merasa sakit.Dokter tidak percaya yang dikatakan Yakobus sehingga pemeriksaan melalui CT scan dilakukan kembali.Hasil pemeriksaan menunjukan kelenjar getah bening telah hilang dan itu berarti penyakit kanker yang di deritanya sembuh. Dokter tetap tidak percaya melihat hasil pemeriksaan sehingga pemeriksaan dilakukan kembali pada beberapa bulan berikutnya.Hasilnya tetap sama, yaitu kelenjar getah bening hilang dari tubuhnya.Pembengkakan pada leher menjadi kempes.

Akhirnya dokter menyatakan bahwa Yakobus benar-benar sembuh dan operasi tidak jadi dilakukan.Yakobus dan keluarga sangat bersukacita menerima kesembuhan dari Tuhan yang menurut ilmu kedokteran, penyakit yang dideritanya sulit disembuhkan tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Sebelas tahun yang silam ia melewati penderitaan ini. Sungguh besar kasih setia Tuhan pada umatNya yang selalu mengingat, meyakini dan menyerahkan diri, hati dan hidup kita pada penyertaan Tuhan.

Sumber Kesaksian:
Yakobus Karman (jawaban.com)

Harapan Yang Pasti

Vika Patricia seorang anak kecil ketika berusia tiga tahun menderita sakit aplastik anemia yaitu suatu penyakit dimana sumsum tulang tidak mampu memproduksi elemen-elemen darah. Penyakit ini lebih berbahaya dari penyakit anemia. Gejala penyakit ini ditandai dengan wajah yang pucat, badan yang lemah, lekosit kurang dan suhu badan naik turun. Gejala ini dirasakan Vika pada pagi hari dan saat itu juga Vika dihentar oleh ayahnya ke dokter untuk memeriksakan diri. Dari hasil pemeriksaan dokter, ternyata Vika mengidap penyakit “aplastik anemia”.

Pemeriksaan terus dilakukan dan ternyata dokter juga menemukan ada kejanggalan penyakit lain. Menurut dokter, penyakit ini sulit disembuhkan.Vika harus diopname di rumah sakit. Dokter juga menganjurkan agar Vika berobat di Belanda, sebab pengobatan di Belanda lebih canggih. Orang tua Vika sangat terkejut mendengar penjelasan dokter. Orang tua Vika mengikuti anjuran dokter. Vika berobat ke Belanda namun dokter tidak dapat menyembuhkannya. Pengobatan juga dilakukan di salah satu rumah sakit di Singapura, namun tidak memberikan kesembuhan.

Akhirnya mereka kembali ke Indonesia. Mereka banyak mendapat dukungan doa dari teman-teman. Hari demi hari mereka lewati namun kondisi kesehatan Vika tidak menunjukan hasil yang menggembirkan. Orang Tua Vika pasrah menerima kenyataan yang ada. Pada saat itu, orang tua Vika belum sepenuhnya menerima Yesus sebagai Juruselamat. Mereka benar-benar mengandalkan kuasa dokter untuk menyembuhkan penyakit Vika.

Sampai tiba pada suatu hari, orang tua Vika sangat bergumul dengan penyakit yang diderita Vika. Sampai kapan Vika harus menanggung beban penderitaan ini? Ibu Vika berkata kepada ayah Vika, sebaiknya kita tidak mengandalkan kuasa dokter tetapi kita menyerahkan sepenuhnya pada Yesus Kristus yang berkuasa dan empunya kehidupan kita. Ayah Vika merenungkan hal ini. Di dalam hatinya dia berkata bahwa benar juga dan memang seharusnya demikian. Tidak ada yang mampu melawan kuasa Tuhan. Akhirnya orang tua Vika bersepakat agar semua yang mereka alami pada saat ini, sepenuhnya diserahkan kedalam kuasa dan kasih Tuhan. Orang Tua Vika yakin bahwa pasti akan ada kesembuhan yang Tuhan anugerahkan pada diri Vika. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan kepada mereka yang percaya dan menaruh pengharapan pada Tuhan. Sesulit apapun bagi manusia, Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi kita.

Pada beberapa hari berikutnya, dokter menyatakan bahwa penyakit Vika berangsur pulih. Hal ini dapat dibuktikan dengan bertambahnya sel darah merah (hemoglobin) yang semula 3,0 menjadi 13,0 dalam waktu satu minggu.Tuhan memang baik dan sangat mengasihi hidup kita. Orang tua Vika menyadari bahwa tanpa campur tangan Tuhan dalam kehidupan, kita tidak dapat melakukan sesuatu.

Mulai saat itu, orang tua Vika menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Saat ini anak Vika berusia sebelas tahun dan bertumbuh menjadi anak yang sehat dan kreatif. Ia mengikuti berbagai macam les, seperti les vokal, les renang dan les beberapa mata pelajaran. Pengharapan itu telah diperoleh. Ini semua diyakini sebagai berkat kasih sayang Tuhan yang tidak berkesudahan bagi kehidupan umatNya.

Sumber Kesaksian:
Vika Patricia (jawaban.com)

12 Tulang Rusuk Patah!!

Suatu pagi pasangan Achin dan Yeyen pergi ke stasiun gambir untuk mengantarkan ibunya yang akan ke Bandung. Pada waktu itu ada sebuah truk yang melindas kaki Yeyen dan menabrak Achin. Lalu Achin terjatuh dan masuk ke kolong truk dan terseret untuk beberapa saat lamanya. Akhirnya ban truk itu melindas dada sebelah kirinya. Keadaannya sangat parah dan ia ditinggalkan sendirian terlentang di tengah jalan tak berdaya…..

Banyak korban kecelakaan terjadi di jalan arteri Palmerah. Pasangan Achin dan Yeyen mengalami kecelakaan yang tragis. “Pada suatu hari saya bersama suami dan anak-anak mau pergi ke stasiun gambir. Saat itu saya melihat ada truk yang berjalan di pinggir. Truk itu tiba-tiba melindas kaki saya dan saya menjatuhkan diri ke samping yang ada pohon-pohon. Lalu saya berteriak : Yesus tolong ! ”

Pengakuan pak Achin : “Saya dengar isteri saya berteriak : awas ada mobil ! Waktu saya menoleh ke belakang, mobil itu langsung menabrak muka saya” Achin terdorong dan akhirnya ia terjatuh di kolong truk. ” Saya tidak berdaya di kolong truk saat itu. Saya pasrahkan semua itu dan ternyata saya terlindas oleh ban mobil belakang” Achin terlindas mobil setelah terseret truk beberapa lama dan truk itu langsung kabur. “Waktu saya sudah terlindas truk, saya terlentang di tengah jalan dan sesudah itu dada saya terasa dingin”. Pengakuan ibu Yeyen : “Secara manusia saat itu saya berpikir suami saya tidakakan hidup”

Achin ditinggalkan di tengah jalan dalam keadaan parah tidak berdaya. “Saat itu saya menangis dan berkata kepada Tuhan : Tuhan saya tidak kuat karena saat itu saya melihat sendiri dengan mata kepala saya sendiri. Sakit rasanya…..Dia yang terlindas tapi saya juga ikut merasakannya dan sakit sekali” Pengakuan pak Achin, “Waktu saya masuk ke UGD saya berpikir hidup saya akan berakhir. Saya sudah pasrahkan hidup saya kepada Tuhan”

Keadaan sangat kritis, 12 pasang tulang rusuknya patah sehingga paru-parunya tidak dapat berfungsi normal. Dokter harus membuat 2 lubang di paru-parunya untuk dapat menyedot darah. Pengakuan dokter Widarto Binafsihi (spesilis bedah), “Ketika korban di bawa ke rumah sakit subuh itu keadaannya masih cukup sadar tetapi menurut pemeriksaan foto dada, yang kita lihat itu rusuknya hampir semua patah di depan dan di belakang. Dan sebenarnya tidak ada harapan lagi baginya untuk hidup !

Pengakuan ibu Yeyen, “Dokter secara manusia sudah angkat tangan. Hampir setiap hari saya menangis di rumah sakit dan berseru kepada Tuhan. Yeyen diliputi oleh kekuatiran dan ketakutan. Hari demi hari yang dijalani terasa lambat. “Saat saya menangis, dari dalam hati saya ada suara Roh Kudus yang berkata : Tuhan menguji kamu tidak melampaui kekuatanmu. Tuhan itu baik dan saat itu saya mendapatkan kekuatan baru. Saat itu saya menjadi tenang sekali. Ditengah kegalauan hatinya, Yeyen teringat pada Solusi sebuah program televisi yang pernah di lihatnya. “Saat saya membutuhkan doa, saya teringat akan solusi. Pada sabtu siang, saya telepon Solusi 021-6513344 untuk minta dukungan doa. Semua permohonan doa saya di doakan oleh Solusi. Saya langsung mengimani setiap doa yang didoakan dari Solusi dan memang benar-benar dahsyat Kuasa Tuhan yang saya rasakan”

Yeyen terus setia berdoa bagi suaminya. Bagi Yeyen setiap saat adalah kesempatan untuk berdoa. “Pada saat saya mau tidur, saya serhkan suami saya ke dalam tangan Tuhan. Dan pada saat saya bangun, saya bersyukur suami saya masih bernafas”

Kondisi Achin tidak stabil, sangat kecil kesempatan bagi Achin untuk pulih. Namun saat itu satu hal yang indah terjadi. “Kamis malamnya saya berkumpul bersama anak saya, saya berdoa di depanlift. Teman anak saya melihat ada suatu cahaya yang terang sekali. Ia melihat terang itu dan merasakan damai dan sejahtera. Sejak itu langsung saya berdoa : Tuhan Yesus terima kasih. Saya percaya Tuhan Yesus sedang melawat suami saya”

Doa yang tulus menggerakkan tangan Tuhan. Keadaan yang mustahil menjadi tidak mustahil. Saat iut terjadi titik balik dalam kehidupan Achin. Achin pulih dengan mengesankan. Tulang-tulang rusuknya yang patah, tertauh dan berfaal serta fungsi tubuhnya kembali normal. Pengakuan dokter Widarto Binafsihi (spesilis bedah), “Kalau 1,2,3 tulang rusuk yang patah kemudian tertaut mungkin dapat kita lihat tiap hari tapi kalau 12 pasang tulang rusuk patah depan- belakang dan tertaut kembali itu bukan karya dari dokter dan selalu saya yakin karena karya dari Kristus”

Achin mengalami pemulihan yang sempurna. Pada tanggal 30 Desember 1999 Achin berjalan keluar dari rumah sakit dan menjalani kehidupannya seperti dahulu. “Saya bersyukur kepada Tuhan yang begitu baik dan telah memulihkan kesehatan suami saya. Kini ia telah kembali bekerja seperti biasa. Achin berkata, “Saya pulang dari rumah sakit dengan kondisi sehat. Saya berterima kasih kepada Tuhan Yesus. Saya bersyukur sekali mempunyai Tuhan yang hebat”

Sumber Kesaksian:
Achin & Yeyen (jawaban.com)

Penyembuhan Ginjal Bocor

Ana adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Kehidupannya ia jalani dengan sederhana bersama suami dan seorang putrinya di sebuah gang daerah Palmerah Jakarta. Suatu saat Ana merasa sakit di pinggangnya dan hanya bisa tergelatak di tempa tidur. Sekitar pertengahan bulan Oktober 1999 tejadi pembengkakan di kaki dan tangan. Saya lihat badan saya semakin bengkak dan lemas. Saya tidak bisa bangun dan makan dengan baik karena seluruh tubuh lemas. Untuk ke WC saja saya harus dibopong oleh suami.

Saya tidak segera berobat dan tetap bertahan dirumah karena tidak ada biaya. Suatu saat teman-temannya mendengar bahwa ia sakit dan mereka segera datang kerumahnya. Mereka kaget saat melihat keadaanya “kok sampai separah ini ? kami kira biasa-biasa saja” Atas bantuan biaya dari teman-temannya, Ana dibawa berobat ke sebuah rumah sakit. Selama beberapa hari Ana terbaring di rumah sakit dan menjalani permeriksaan dokter. Waktu di rumah sakit dokter bertanya kepadanya apa saja yang menjadi keluhannya. Dokter segera pastikan bahwa dari keluhan yang saya ungkapkan “Kalau saya buang air kecil warnanya kuning dan berbusa”, bahwa saya sakit ginjal bocor. Keesokan harinya Ana langsung periksa ke laboratorium dan ternyata hasil labnya saya sakit ginjal bocor. Dokter kemudian memberikan Ana obat. Keesokan harinya dokter sudah memperbolehkan ia pulang.

Namun satu hari setelah sampai di rumah, keadaannya semakin memburuk. Seluruh tubuh Ana mulai bengkak dan menjalar samapai ke kaki. Lalu mereka membawa Ana kembali ke dokter. Dokter spesialis ginjal kaget melihat keadaannya dan mengatakan “Ini diluar dugaan saya, saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya akan buatkan surat pengantar dan ibu bisa mencari rumah sakit lain” Namun karena tidak ada biaya, Ana tidak pergi ke rumah sakit seperti dianjurkan oleh dokter. Hari-hari selanjutnya ia lewati dengan terbaring di tempat tidur. Kondisi tubuhnya semakin buruk, badanya semakin sakit dan bengkak-bengkak si sekujur tubuh.

“Saya tahu saya mempunyai tabib yang ajaib yang sanggup menyembuhkan saya” Malam itu Ana berdoa dengan suaminya. Pada saat mereka menaikkan pujian penyembahan, Ana hanya ingat lagu : ajarku mengerti….ajarku berharap…ajarku berserah hanya padaMu. “Bapa sekarang imanku hanya berserah kepada kekuatanMu. Sekarang saya tidak mempunyai apa-apa, saya tidak sanggup tetapi saya percaya Bapaku sanggup menyembuhkan saya” Pada saat mengucapkan hal itu Ana melihat sebuah penglihatan. “Saya melihat Tuhan Yesus menumpangkan tangan di kepala saya dan saya lihat dari dari tangan itu keluar darah. Darah yang membasahi rambut saya. Saya ambil darah itu dan saya usapkan ke seluruh tubuh saya. Terima kasih Tuhan, darahMu tercurah penuh bagi saya. DarahMu menebus saya. Dan saya percaya di dalam nama Tuhan Yesus, saat ini saya sudah disembuhkan oleh Engkau. Saya sudah terima mujizat kesembuhan”

Saat itu suaminya heran dengan apa yang dilakukan oleh isterinya dan hanya bertanya-tanya di dalam hatinya. “Tepat pukul 06.00 urat di tangan saya mulai kelihatan, saya lihat kerutan di mata saya sudah kelihatan. Saya langsung teriak Puji Tuhan – puji Tuhan pak, puji Tuhan, mujizat Allah terjadi. Saya gandeng dan peluk suami saya dan kami mengucap syukur bersama” Suatu perjalanan yang indah yang takkan terlupakkan. Ana bersyukur memiliki Tuhan Yesus yang selalu membawa kebahagiaan di dalam kehidupannya.

Sumber Kesaksian:
Ana (jawaban.com)

Menghadapi 50 Sengatan Ubur-Ubur

Ada kekuatan yang indah pada laut dan Ian menyukainya. Ian cukup percaya diri saat di laut. Ia lebih suka berada di laut dari pada di daratan. Ia lebih suka berada dilaut dari pada di daratan. Ia suka kekuatan misterius, kecantikan mahluk-mahluk unik di laut. Ia menduga sudah mengetahui seluruh bahaya yang ada di bawah sana. Tapi satu mahluk yang berbahaya yang tidak dipahami. Bahkan kini para ahlipun sedikit yang mengetahuinya. Mahluk itu disebut ubur-ubur. Tampaknya tak berbahaya tetapi dapat membunuh orang dalam waktu 4 menit. Dan Ian McCormack mengalaminya.

Saat saya menyelam, ada sesuatu yang menghantam lengan dan saya merasakan seperti sengatan listrik. Seluruh tangan saya membengkak 2 kali ukuran normal. Saya merasakan racun menjalar dengan cepat melalui darah. Saat itu saya bertanya “Ian, apa saja yang sudah kau lakukan dalam hidupmu ? Hal ini seperti hukuman.” Ian tidak siap untuk mati. Ia masih muda dan penuh gairah hidup. Ia bertualang, berpesta, dan bermain wanita. Ia menggambarkan dirinya sebagai hedonis. Dan saat menghadapi kematian akibat 50 sengatan ubur-ubur, ia dipaksa berhadapan dengan bagaimana kehidupannya dan apa yang akan terjadi kemudian.

Teman-teman meyakinkan saya bahwa cara yang tercepat adalah membawa saya ke pantai dan ditinggalkan tergeletak begitu saja. Dengar, saya akan mencoba mencari bantuan …” Lalu saya berteriak “Jangan tinggalkan saya. Saya perlu ambulance. Saya akan mati…!” Ia begitu panik. Dan ketika terbaring, saya hampir menutup mata saya. Tiba-tiba ada suara pria yang berbicara sangat jelas “Nak, kalau engkau tutup matamu sekarang, engkau tidak akan bangun lagi.” Suara itu jelas berbicara pada saya apakah saya bodoh ? Lalu saya mulai merangkak dan mencari pertolongan.

Ian lalu mencoba untuk berjalan dan akhirnya Ian terjatuh di dekat supir taxi “Tuan, Anda perlu ambulance”, dan ia harus memohon kembali agar nyawanya diselamatkan. “Tolong saya ……” Dalam perjalanan ke RS, supir taxi tidak yakin bahwa penumpangnya yang sekarat akan membawa kebaikan bagi pekerjaannya sehingga ia melakukan hal yang tidak terbayangkan. Ia meninggalkannya di dekat sebuah hotel dalam kondisi sekarat. Untungnya petugas keamanan melihat apa yang terjadi dan memanggil ambulance. Tetapi bagi Ian, mungkin sudah terlambat. Tangan kanan dan muka saya mulai kaku dan kejang.

Saya tahu apa yang sedang terjadi dan bersiap untuk mati. Sementara saya berjuang hidup di dalam ambulance, saya mulai melihat kehidupan yang sudah saya lalui seperti video klip. Kemudian saya melihat wajah ibu saya dan ia berkata, “Nak, seberapapun jauhnya engkau dari Tuhan… jika Engkau memanggilNya dari hatimu, Tuhan akan mendengar doamu.” Saya berkata “Tuhan, kalau engkau bisa mendengar saya dan Engkau itu ada, saya meminta bantulah saya berdoa” dan seperti ada barisan kalimat muncul di depan saya “Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami.” Jadi Tuhan, maukah Engkau memaafkan aku untuk semua perbuatanku yg salah ..? Dan wajah ibuku kembali berkata ” Nak, berdoalah dalam hatimu.” Saya berkata, “Tuhan saya minta dengan sungguh pengampunan untuk dosa dan kesalahan saya.” Setelah saya berkata demikian, bayangan kalimat itu hilang. Lalu muncul kalimat lainnya “Ampunilah orang yang bersalah kepadamu.” Wajah pengemudi taxi muncul dalam ingatan saya. Suara itu berkata “Maukah engkau mengampuni orang itu, setelah ia menarikmu keluar dari taxi dan meninggalkanmu di jalan?” Saya ingin sekali membalas dendam tetapi dengan semua ini, saya berpikir “siapakah suara ini ?

Jelas bukan pikiran saya sendiri ? Dan kalimat-kalimat itu ? Apakah saya berbicara kepada Tuhan ? ” Saya sadar bahwa jika saya tidak mengampuni mereka dengan segenap hati maka saya tidak akan bisa berdoa lagi. Lalu saya hanya melihat seluruh Doa Bapa Kami muncul. Sepanjang hidup saya sudah berdoa dengan doa tersebut, tapi kali ini saya megerti arti doa itu. Dan saya menyadari bahwa hal terbaik yang saya bisa lakukan adalah memperoleh damai dari Tuhan. Saya melihat banyak orang disana memberikan suntikan. Saat saya berbaring, saya pergi semakin jauh … jauh… Dan seketika saya berada di tempat lain. Tempat itu begitu menakutkan bagi Ian, yaitu neraka. Ia berkata bukanlah satu masalah bahwa ia tidak mempercayai neraka.

Dan saat berdiri, saya melihat satu cahaya yang mengatasi kegelapan. Saya ditarik mendekati cahaya itu. Saat saya menangis, saya berkata “Tuhan, Engkau tidak mungkin mencintai aku. Aku sudah mengutukiMu.” Tetapi kasih itu mengalir. “Aku sudah memakai obat dan bermain wanita.” Tetapi kasih itu mengalir semakin kuat dalam diriku. Hatiku yang hancur dipulihkan secara total. Tuhan adalah orang yang pertama mengasihi dan menerimaku apa adanya. Hadirat dan kasihMu …. Tidak mungkin aku balas …

Ian lalu teringat kepada seseorang yang mengasihinya yaitu ibunya yang setia berdoa untuk dirinya. Ian bertanya pada Yesus jika ia mungkin untuk kembali. Dan Ian minta disembuhkan secara total. Tuhan berkata “Ian, kalau engkau ingin kembali, kau harus melihat segala sesuatu dengan cara yang baru.” Saat saya hampir kembali ke tubuh saya, mata saya sebelah kanan terbuka dan melihat tubuh saya, kaki kanan saya dinaikkan. Dan saya melihat seorang dokter memegangi kaki saya dengan jarum ditangannya, menusuki tubuh saya seperti orang mati. Dokter hampir menyerah dan saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sambil berbaring saya berpikir apa yang terjadi, apakah saya melihat Tuhan ? Satu hal yang bisa saya katakan, dalam 15 menit Ia melakukannya. Saya merasakan aliran seperti listrik dan hangat mengaliri tubuh saya dan dalam 4 jam seluruh tubuh saya sudah disembuhkan. Keesokan harinya saya sudah keluar dari RS.

Ian McCormack bertobat seperti Rasul Paulus dalam perjalanan ke Damaskus. Tidak di dalam gereja, tidak ada panggilan pertobatan, hanya pertemuan sekejap dengan Tuhan akan satu dunia yang tidak bisa di terangkan dengan kata-kata. Ian masih berkeliling untuk menyampaikan pada orang lain tentang Tuhan yang menyelamatkannya dari kematian dan neraka yang kekal serta memberikan hidup baru.

Sumber Kesaksian:
Ian McCormack (jawaban.com)

Waktu Awan Gelap Berlalu

Hidup Tavip baik adanya, hingga kecelakaan buruk menimpanya. Kejadiannya terjadi tahun 1991, pada waktu itu sebuah tiang katrol pengangkut besi seberat 200 kg patah dan menimpa kepala saya bagian kanan. Cedera berat saya alami, tengkorak kepala pecah dan sebagian otak saya keluar. Saya langsung tidak sadarkan diri. Kru di tempat saya bekerja mengatakan bahwa darah telah keluar dari semua bagian kepala saya, dari hidung, dari mulut, dari telinga saya keluar darah. Akibat cedera yang berat, saya mengalami koma sekitar tujuh hari. Dokter yang menangani mengatakan pada orang-orang yang menolong saya bahwa kondisi saya sangat kritis. Dokter mengatakan bahwa seperempat bagian otak saya telah terluka.

Setelah tujuh hari koma Tavip tersadar namun dengan keadaan berbeda. Setelah saya sadar, saya mencoba menggerakkan tangan dan kaki, tapi ternyata tidak bisa digerakkan sama sekali. Saya merasa jiwa saya menjadi begitu tertekan. Saya mulanya sehat dan tidak mengalami gangguan apa-apa, namun saat ini tiba-tiba tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam usia muda, dalam usia yang produktif, saya harus mengalami kecelakaan seberat ini. Saya menjadi begitu takut, dalam usia yang masih muda tidak terbayang dalam pikiran bahwa saya harus mengalami kelumpuhan seumur hidup. Saya menjadi sangat tertekan.

Akibat peristiwa ini saya tidak dapat bekerja untuk kurun waktu dua tahun lamanya. Akibat hal ini, keadaan ekonomi saya hancur. Saya juga menghadapi pukulan yang berat, rencana saya untuk bertunangan harus dibatalkan karena pacar saya tidak dapat menerima kondisi saya. Secara logika saya dapat mengerti keadaan ini karena saya juga berpikir bahwa tidak akan ada gadis yang mau menikah dengan orang cacat seperti saya. Hari-hari saya lalui dengan tangis putus asa, bahkan saya seringkali menyalahkan Tuhan atas kejadian ini. Mengapa Tuhan begitu tega mengijinkan hal ini terjadi dalam hidup saya?, mengapa saya yang harus mengalami kelumpuhan seperti ini?, mengapa saya harus masuk kedalam keadaan ekonomi yang sulit ini?. Begitu banyak pertanyaan dan ketidakpuasan yang keluar dari pikiran saya.

Suatu malam saya tersentak sadar. Saya ingat akan kejadian itu. Saya sadar, misalkan pada saat kejadian itu saya meninggal dunia, saya yakin saya akan masuk surga karena saya telah menerima Tuhan Yesus dalam hati sebagai Juruselamat saya. Akibat kesadaran itu, saya tidak berputus asa lagi. Saya mulai berdoa dan minta bantuan Tuhan untuk memberi kekuatan bagi hidup saya. Sejak saat itulah saya lalui hari-hari saya dengan banyak berdoa. Saya mulai mendapatkan kekuatan dan penghiburan dari Dia. Saya mulai bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan bagi hidup saya. Dalam kesedihan, dalam tangisan, Dia memberikan kekuatan bagi hidup saya.

Tuhan begitu baik bagi kehidupan saya, perlahan-lahan tubuh saya dipulihkan. Saya mulai bisa melukis. Lama kelamaan tubuh saya mulai bisa digerakkan normal kembali. Saya mulai bisa berjalan, dari tertatih-tatih hingga bisa berjalan perlahan. Akhirnya saya bisa pergi ke tempat lain dan bisa pergi untuk bekerja, bahkan kini saya dapat membawa mobil sendiri. Saya bersyukur, jika pada awalnya dokter bisa memvonis saya akan buta, lumpuh dan lain-lain tapi Tuhan sungguh baik pada saya. Tuhan memulihkan kesehatan saya walau perlahan-lahan. Saya juga bisa menjalankan usaha kembali dengan lancar, ekonomi saya perlahan-lahan Tuhan pulihkan. Bahkan lewat hasil usaha, saya dapat menghidupi dua puluh kepala keluarga.

Akibat kejadian kecelakaan, dahulu saya gagal bertunangan. Namun Tuhan itu baik pada saya, Dia berikan pada saya istri yang setia dan dua anak yang manis dan dapat membuat saya benar-benar merasakan arti dari kasih Tuhan. Saya sungguh bersyukur dalam hidup ini. Tuhan Yesus bukan hanya mengasihi saya tapi Dia juga sanggup memulihkan tubuh saya, kehidupan ekonomi saya. Tuhan juga memberikan keluarga yang harmonis pada saya, saya sangat bersyukur untuk hal itu.

Beginilah firman TUHAN: Di tempat ini, yang kamu katakan telah menjadi reruntuhan tanpa manusia dan tanpa hewan, di kota-kota Yehuda dan di jalan- jalan Yerusalem yang sunyi sepi itu tanpa manusia, tanpa penduduk dan tanpa hewan, akan terdengar lagi suara kegirangan dan suara sukacita, suara pengantin laki-laki dan suara pengantin perempuan, suara orang-orang yang mengatakan: Bersyukurlah kepada TUHAN semesta alam, sebab TUHAN itu baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!, sambil mempersembahkan korban syukur di rumah TUHAN. Sebab Aku akan memulihkan keadaan negeri ini seperti dahulu, firman TUHAN. (Yeremia 33:10-11)

Sumber Kesaksian:
Tavip (jawaban.com)

Antara Doa dan Vonis

Bertahun-tahun sejak pernikahan mereka, pasangan Kiki dan Mulyana belum juga dikaruniai anak. Sampai akhirnya diketahui bahwa Kiki menderita serangan virus toxoplasma yang menyebabkan dirinya sulit untuk hamil.

Memang kebanyakan penderita toxoplasma akan mengalami kesulitan dalam mengandung. Jika seseorang menderita toxoplasma, maka orang itu kemungkinan besar akan mengalami kesulitan saat mengandung. Janinnya juga kemungkinan kecil untuk dapat hidup, jika lahir sekalipun diperkirakan hanya hidup satu minggu hingga satu bulan. Karena mengidap hal itu maka saya mendapat doa terus menerus dalam kelompok persekutuan saya. Saya minta disembuhkan oleh Tuhan. Ternyata kuasa Tuhan bekerja, saya disembuhkan dari toxoplasma dan saya bahkan dapat mengalami kehamilan.

Namun pada awal kehamilan ini ternyata penyakit asma Kiki mulai kambuh kembali. Untuk itu ia mulai mengkonsumsi obat-obat asma yang cukup keras. Namun hal ini berakibat fatal. Saat di rumah sakit, Kiki menerima berita mengejutkan dari dokter yang memeriksa kandungannya.

Waktu saya hamil inilah ternyata asma saya kambuh dan saya makan obat asma. Obat ini saya makan kurang lebih selama sepuluh hari. Namun saat saya memeriksakan diri, dokter mengatakan bahwa secara ilmu kedokteran anak saya 90 persen akan mengalami cacat fisik. Hal ini disebabkan karena pada saat saya memakan obat asma tersebut, kandungan saya baru berusia 5 minggu. Dan menurut dokter, masa tersebut merupakan masa pembentukan tubuh janin dan obat asma yang saya makan akan menghambat pertumbuhan tubuh janin. Obat tersebut berakibat buruk pada janin saya dan menurut dokter anak saya kelak akan mengalami cacat fisik.

Akibat keterangan dokter tersebut, Kiki merasa sedih dan putus asa. Hatinya bimbang apakah dia harus melanjutkan kehamilannya.

Saya mulai berpikir saat itu. Tuhan sudah berikan anak pada saya, masakan saya harus menggugurkan kembali anak tersebut. Saya lalu pergi ke dokter asma dan membawa kembali obat-obat asma yang saya minum. Dokter ahli asma tersebut mengatakan bahwa memang obat-obatan yang saya minum adalah berbahaya jika saya sedang mengandung dan jika terus dikonsumsi akan berakibat anak saya akan lahir cacat. Dari ilmu kedokteran memang tidak dapat dipastikan jika bayi saya kelak akan lahir normal.

Berita ini memang buruk, namun Kiki dan Mulyana percaya akan mujizat. Dengan satu hati mereka terus menerus berdoa bagi janin yang ada dalam kandungan Kiki. Mereka percaya pada Yesus yang mereka sembah sanggup membuat suatu mujizat bagi mereka.

Sikap Mulyana sendiri dalam menanggapi hal ini sungguh menguatkan hati Kiki.
Saya berpikir tentang hal ini. Tuhan sudah memberikan kehamilan bagi istri saya, masakan janin itu harus digugurkan kembali. Tujuan kami ialah memiliki anak, masakan janin yang sudah ada harus kita gugurkan kembali. Kami yakin bahwa Yesus pasti memberikan yang terbaik bagi kami.

Pengalaman mujizat pertama membangkitkan iman Kiki menanti mujizat berikutnya.
Saya yakin Tuhan pasti akan memberikan anak pada saya. Mujizat pertama Tuhan lakukan ketika saya disembuhkan dari toxoplasma dan mujizat kedua ialah saat saya bisa hamil. Tuhan buat mujizat dan saya percaya hal itu. Saya tidak akan gugurkan bayi itu dan saya percaya bahwa bayi saya pasti akan lahir sempurna.

Kiki akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kehamilannya dan Tuhan akhirnya menjawab doa dan iman orang yang datang dan percaya kepadaNya. Joshua, putra Kiki dan Mulyana akhirnya dilahirkan dengan sempurna dan tanpa cacat. Suatu kebahagiaan yang sukar dilukiskan oleh Kiki dan Mulyana. Namun kegembiraan ini ternyata tidak berlangsung lama, ujian kembali dialami keluarga Kiki dan Mulyana. Dokter tidak mengijinkan Joshua pulang ke rumah karena mereka menemukan adanya pendarahan di bagian otak. Joshua harus menjalani operasi secapatnya.

Pergumulan saya ternyata belum berhenti saat anak saya divonis mengalami pendarahan di bagian otak. Tuhan sudah sembuhkan saya dari toxoplasma, Tuhan sudah berikan anak yang lahir sempurna dan tanpa cacat. Waktu itu saya bergumul pada Tuhan dan minta Tuhan nyatakan lagi mujizat bagi anak saya. Selama dua setengah tahun saya sudah begitu rindu untuk memeluk dan menggendong anak saya. Namun ketika anak saya dilahirkan, ternyata anak saya ada dalam keadaan sakit.

Kiki dan Mulyana tidak menyerah. Bersama keluarga yang lain, mereka terus berdoa dan berharap pada Tuhan. Hati Kiki menangis dan menjerit pada Tuhan agar Joshua dapat mengalami kesembuhan tanpa harus mengalami operasi.

Saya bilang pada Tuhan, saya serahkan semuanya pada Tuhan sebab saya sudah lelah dan tidak punya lagi kemampuan. Saya bilang bahwa saya tidah tahu harus berpegang pada apa lagi kecuali yang saya butuhkan hanyalah mujizat. Saya juga katakan bahwa saya tidak mau anak saya sakit lagi.

Tuhan itu sungguh ajaib dan Ia sungguh baik pada orang yang berharap padaNya.
Ternyata pagi itu saat saya ke rumah sakit untuk melihat anak saya dan mau mencoba memberi minum anak saya. Saat itulah suster mengatakan bahwa anak saya tidak jadi diselang. Saya langsung tahu bahwa Tuhan telah mengerjakan kembali mujizat pada kami. Dokter lalu mengatakan bahwa anak saya ini telah mereka periksa ulang dan mereka katakan bahwa anak saya ini telah sembuh. Saya merasa ringan seperti terbang, hati saya penuh sukacita.

Mulyana sungguh tidak mengira cara Tuhan bekerja.
Hari itu bisa saya rasakan bahwa Tuhan Yesus benar-benar bisa sembuhkan anak saya. Yang seharusnya dokter bilang anak saya harus diselang ternyata hari itu dokter mengatakan bahwa anak saya bisa dibawa pulang.

Joshua akhirnya dinyatakan sehat. Kiki dan Mulyana bisa membawa Joshua pulang tanpa harus melalui operasi. Dan Tuhan bekerja dalam hidup Joshua selanjutnya. Joshua tumbuh menjadi anak yang lucu, sehat dan tanpa cacat.

Anak kami Joshua adalah mujizat terbesar yang Tuhan berikan kepada kami. Dokter sudah memvonis dia lahir dengan cacat fisik, tapi ternyata dia lahir dengan normal dan ternyata dia sangat sehat. Sampai sekarang kesehatannya sangat luar biasa, kami sangat menyayanginya dan kami menamai dia anak Yesus. Kami sangat menyayanginya.

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.(Ibrani 11:1,6)

Sumber Kesaksian:
Kiki dan Mulyana (jawaban.com)