All posts by konya

Imelda, Memberi Inspirasi Dari Kursi Rodanya

Namaku Imelda Saputra, aku seorang penulis. Sebenarnya dulu aku tidak pernah berpikir akan menjadi seorang penulis, namun inilah cara Tuhan memakai aku menjadi penanya untuk menyemangati banyak orang sama seperti Ia menyemangati aku untuk menjalani hidupku.

Aku terlahir sebagai anak normal, namun saat aku masih balita orangtuaku menemukan sebuah benjolan di punggungku. Ternyata saraf kaki kusut di benjolan tersebut. Dokter menyarankan untuk operasi, tetapi ketika operasi dilakukan ternyata ada efek samping yang terjadi. Setelah operasi kakiku bengkok dan menciut. Akhirnya aku tidak pernah bisa berjalan, aku lumpuh.

Orangtuaku melakukan berbagai upaya agar aku bisa berjalan lagi, mulai dengan ke dokter, tukang urut hingga ke dukun. Aku ingat, setiap kali ke dukun, aku sering disuruh minum air yang telah dijampi-jampi. Tapi usaha yang dilakukan oleh orangtuaku selama bertahun-tahun sia-sia belaka, aku pun telah lelah dan hampir putus asa. Tapi setiap kali aku bilang, “Malas ah…” Orangtuaku kembali bertanya, “Kamu mau sembuh ngga?” Hal itu membuatku bangkit lagi dan mau mencoba lagi.

Hingga suatu hari, saat kami konsultasi dengan seorang dokter, dia memberikan sebuah nasihat yang berbeda. Bukan janji kesembuhan yang diberikan, dia menyatakan dengan jujur bahwa kemungkinan untuk sembuh itu sudah tidak ada. Dia meminta orangtuaku untuk menyekolahkanku.

Mendengar aku akan sekolah, hatiku bergejolak karena sangat senang. Karena anugrah Tuhan, aku bisa sekolah di sekolah umum sekalipun aku cacat dan harus menggunakan kursi roda. Kadang memang ada orang yang memandangku dengan aneh karena keadaanku, tapi itu hanya di satu dua hari awal saja, selanjutnya, teman-teman dan guru-guruku bisa menerima keadaanku.

Sekalipun aku lumpuh dan harus beraktivitas dengan kursi roda, namun hal itu tidak menghalangiku untuk berprestasi. Bahkan ketika aku duduk di bangku SMP, aku cukup aktif dalam organisasi di sekolah. Aktivitasku sangat padat, kadang aku pulang sekolah antara jam dua atau setengah tiga. Setelah itu, kadang ada les yang ku ikuti. Namun karena aku duduk terus, dan kadang karena kesibukan aku tidak mengganti pampers, akhirnya terjadi iritasi dan membuat kesehatanku menurun.

Aku tidak pernah memberitahu orangtuaku tentang apa yang aku rasakan karena aku takut tidak diijinkan sekolah. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, suatu hari aku jatuh pingsan karena tidak tahan lagi dengan sakitku. Dokter memvonisku dengan penyakit dekubistus dan juga tipes akut sehingga aku harus di rawat di rumah sakit. Mulai bulan Mei di tahun itu, aku berhenti sekolah. Aku sudah tidak bisa bangun lagi, jadi aku hanya terbaring di tempat tidur tanpa daya.

Aku tertekan dan putus asa karena aku tidak bisa melakukan apa-apa, padahal biasanya setiap hari aku sibuk dengan aktivitas sekolah. Sering terbersit di pikiranku, kalau aku lebih baik mati. Tapi suatu hari seorang perawat datang dan berbincang denganku. Dia menceritakan tentang kesaksian hidupnya, dulu dia juga pernah sakit, bahkan mamanya pernah berkata, “Sudahlah Tuhan, ambil saja nyawa anak saya.” Tapi perawat itu berkata pada mamanya, “Ngga ma, aku pasti sembuh. Aku pasti sehat. Aku ngga akan mati. Aku akan melayani Tuhan.”

Perawat itu berkata dengan penuh kasih kepadaku, “Kalau aku bisa sembuh, kamu juga pasti bisa sembuh.”

Ketika perawat itu keluar dari ruanganku, aku langsung berdoa. “Tuhan terima kasih karena Engkau masih sayang sama aku. Aku mengasihimu Tuhan..” Kata-kata itu sudah lama tidak pernah ku ucapkan kepada Tuhan. Hari itu, aku merasakan sesuatu yang berbeda di hidupku. Aku merasakan Tuhan melembutkan hatiku kembali.

Semangat hidupku pun bangkit, bahkan kesehatanku juga berangsung membaik. Suatu saat aku diingatkan kepada seorang kakak rohaniku. Hari itu juga aku menghubunginya. Di telephone itu dia berkata, “Mel, beberapa bulan lagi kita ada konser doa. Yuk ikut gabung melayani..”

Hal itu menjadi jawaban doa bagiku, aku ingin melupakan apa yang telah lalu dan memulai sesuatu yang baru. Hingga tiba di perayaan natal di tahun 2005, saat itu hamba Tuhan yang melayani memintaku untuk maju ke tengah.

“Saya mau berdoa buat kamu,” demikian ucap pendeta tersebut.

“Saya minta seorang perempuan untuk peluk dia..”
Aku berpikir, aku akan diapakan nih? Seorang teman datang memelukku dan hamba Tuhan itu berdoa untukku, saat itu Tuhan menyampaikan isi hati-Nya kepadaku melalui hamba Tuhan itu. Salah satunya adalah:

“Kamu akan nulis buku, kamu akan Tuhan pakai jadi penanya Tuhan.”
Sempat aku merasakan keraguan, “Bener nih Tuhan?”

Tapi saat itu juga Tuhan berbicara, “Aku yang akan melakukannya, bukan kamu.”

Waktu berlalu, karena kondisiku, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Akupun mulai banyak membaca, mulai dari buku, hingga berbagai majalah. Saat membaca sebuah majalah anak-anak, aku berpikir aku juga bisa menulis seperti itu. Akupun mulai mencoba menulis, ketika ada lomba menulis, aku kirim karyaku. Tapi saat itu, semua yang ku kirimkan di tolak dan dikembalikan semua.

Waktu berbagai karyaku di tolak, aku sempat merasa, “Udahlah Tuhan, memang aku ngga berbakat.” Beberapa lama aku sempat berhenti menulis, tapi perkataan hamba Tuhan yang berdoa bagiku terus teringat olehku. Aku ingat janji Tuhan itu, aku tahu kalau aku perlu bekerja sama dengan Tuhan. Jika aku mau janji Tuhan itu terwujud, aku harus terus menulis.

Aku tidak tahu darimana datangnya inspirasi itu, terkadang seperti Tuhan sedang berbicara atau mendiktekan sesuatu kepadaku. “Nanti nulisnya seperti ini.. awalnya seperti ini..” Tuhan hanya memberi tahu aku sedikit, kemudian aku harus mengembangkannya sendiri.

Selama beberapa tahun aku hanya menulis, tanpa ada tanda-tanda janji Tuhan itu terwujud. Hingga tiba di tahun 2008, sebuah penerbit menghubungiku.

“Imelda, bukunya di terima ya, kami terbitkan.”

Aku seakan tidak percaya, “Buku… penerbit.. buku yang mana ya?”

Itulah cerita bagaimana akhirnya buku pertamaku akhirnya diterbitkan. Aku merasa sangat senang lagi, ternyata memang janji Tuhan itu tidak pernah gagal. Kini semua nubuatan itu telah menjadi kenyataan.

Aku melihat karya Tuhan begitu ajaib, apa yang tidak pernah aku pikirkan, tidak pernah timbul dalam hati, Tuhan melakukan itu dalam hidupku. Hal itulah yang membuatku merasa Tuhan itu begitu luar biasa. Jika orang heran bagaimana aku bisa menulis buku, akupun juga heran. Tapi semua itu terjadi karena Tuhan. Dari semua yang terjadi itu, aku tahu bahwa hidupku penting, bagi Tuhan dan juga bagi sesama. Aku bersyukur untuk apa yang Tuhan lakukan dalam hidupku, apa yang terlihat buruk dapat Tuhan ubahkan menjadi kebaikan, bukan hanya untukku namun juga untuk orang lain.

 

Sumber Kesaksian :
Imelda Saputra (jawaban.com)

Kisah Nyata Anak Terbuang yang Anggap Dirinya Tak Berharga

Sewaktu masih kecil, Harun Sapto sudah dititipkan ke Malang dari Blitar, dari rumah orangtuanya ke rumah pamannya. Di rumah pamannya itu, dia mendapat perlakuan yang kasar dari tantenya. “Saya mulai ada kekecewaan, suka nangis, suka murung,” cerita Sapto saat itu.

Kelas 2 SD Sapto dibawa kembali oleh orangtuanya ke Jakarta. Di sana, dia suka berantem. Jika Sapto pulang ke rumah dengan baju yang kotor, ibunya akan marah-marah. Nasi satu butir jatuh di lantai, dia juga kena marah. Tidak tidur siang, dia akan dipukul.

Kebalikannya, papanya baik. Namun sayangnya, Sapto jarang bertemu dengan bapaknya karena kesibukannya. Lain lagi dengan kakaknya. Kakaknya pernah mengatakan, “Sapto, mengapa sih kamu pulang lagi?” Kakaknya menyalahkan Sapto karena mereka sudah tidak punya mobil lagi, seolah-olah Saptolah penyebab hilangnya mobil tersebut dan juga keruwetan lain yang dialami keluarga mereka.

Sapto yang dewasa, punya tato di badannya dan seringkali memakai baju lengan buntung. Tidak hanya itu, dia menjadi preman yang suka memalaki para pedagang, kekerasan memenuhi hidupnya.

Suatu hari, dia diberitahu bahwa papanya meninggal. Karena itu, dia menganggap semua orang yang dia sayangi sudah tidak ada lagi sehingga dia makin brutal.

Pada suatu hari jam 7 malam di Menteng, dia dikejar oleh sekelompok orang yang ingin membunuhnya. Dia lari dan lari dan masuk ke gorong-gorong. Di sana dia berdoa dan begitu dia bangun dari gorong-gorong, dia melihat tidak ada orang lagi.

Dia mencoba nasib lain. Dia bekerja di kapal. Namun di sana, kerjaannya hanya minum dan minum saja. Di pelabuhan, ada orang yang menitip sesuatu kepadanya untuk dikirimkan ke Jayapura. Dia pun mendapat upah Rp 8 juta. Sayangnya, dia tidak melihat barang apa yang dititipkan itu.

Besoknya, dia berlabuh di Surabaya. Di sana, dia dipanggil pihak keamanan yang marah karena barang titipannya tergeletak di mana-mana. Barang yang diperkirakan sebanyak 2 ton itupun coba dikumpulkan Sapto. Dia mengajak semua orang yang lewat untuk memindahkan barang-barang tersebut tapi tidak ada yang mau membantunya. Dia putus asa, barang-barang itu dibuangnya ke laut.

Sesampainya di Jayapura, Sapto dicari orang-orang yang seharusnya mendapatkan barang tersebut. Dia pikir saat itu dirinya akan dibunuh, dia pun berpegangan pada besi yang ada di kapal sambil berpikir bahwa dirinya memang lebih baik mati.

Di situ juga dia mulai berkata di dalam hatinya, “Kalaupun memang Tuhan yang saya sembah sekarang ada dan menyelamatkan saya, saya akan jadi pengikut-Nya.”

Lama tidak ada yang menusuknya, dia pun menengok ke belakang, ternyata orang-orang itu pergi entah kemana. Pulang ke Jakarta, Sapto menginap di rumah salah satu kenalannya. Di rumah itu, dia menemukan VCD yang ternyata merupakan VCD khotbah.

Hamba Tuhan yang berada di VCD itu mengatakan bahwa ada satu anak muda peminum dan perlu menerima kasih Allah. Hamba Tuhan itupun membagikan ayat Yohanes 3:16. “Kamu harus bertobat…” kata hamba Tuhan tersebut sambil menunjuk. Sapto merasa hamba Tuhan itu seperti menunjuk dirinya langsung, seolah-olah tangannya keluar. Dia pun mematikan VCD tersebut.

Saat hendak berbaring, Sapto menemukan traktat. Di dalam traktat itu, kembali ayat itu berbicara. “Saya tidak tahan, saya keluar air mata dan tidak dapat berhenti.” katanya.

Saat itulah dia putuskan untuk beribadah di suatu tempat ibadah. Sapto sadar akar dari segala pemberontakannya adalah kebenciannya kepada keluarganya dan dia pun meminta hamba Tuhan di sana untuk mendoakannya.

Ketika ibunya masuk ke rumah sakit, Sapto pun meminta maaf. Hubungan ibu dan anak itu pun dipulihkan. Seminggu kemudian, ibunya dipanggil Tuhan.

Apa yang Sapto lakukan dulu, sudah dia tinggalkan semua. Dia pun berubah hidupnya dan berbalik dari jalannya yang jahat. Sekarang dia mengabdikan hidupnya untuk anak-anak yang terlantar. “Saya selalu memberikan satu saran yang baik dari Tuhan bahwa hidup itu sangat berarti kalau kita mau merespon.”

Setiap orang yang dididiknya pun mengakui hal tersebut, begitu pula tetangganya. Dia beralih dari yang paling buruk menjadi pelayan Tuhan. “Dia bisa mengubah kita semua, hidup saya dan hidup Anda.” tutup kesaksian Sapto.

Sumber Kesaksian :
Harun Sapto (jawaban.com)

Ditinggalkan Namun Tak Pernah Sendiri

Banyak wanita membayangkan pernikahan adalah sebuah dunia yang indah, demikian juga mimpi Maureen. Namun ternyata mimpi indahnya tak terwujud malah berubah menjadi sebuah mimpi buruk. Inilah penuturan Maureen tentang kisah hidupnya.

Ketika aku menikah dengan suamiku, dan membentuk sebuah keluarga, kami pindah ke kota Balikpapan. Dengan sebuah pengharapan yang besar, aku memulai kehidupan yang baru. Aku memiliki cita-cita, pernikahanku akan menjadi seperti pernikahan kedua orangtuaku. Sebuah keluarga yang ideal dan bahagia.

Namun kehidupan ternyata tidak seindah bayanganku. Ketika suamiku mulai berhasil usahanya, dia mulai lupa akan keluarga. Dia melalaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan kepala keluarga. Saat aku mengingatkannya, semua itu berakhir dengan pertengkaran dan tak jarang pukulan dilayangkannya kepadaku. Akhirnya dia pergi meninggalkanku bersama kelima buah hatiku tanpa meninggalkan apapun untuk kami.

Aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta, dan berjuang membesarkan kelima anakku. Aku bertekad untuk mendidik dan membesarkan anak-anakku dengan baik. Aku melakukan segala cara untuk bisa menyekolahkan dan memberi makan mereka. Saat aku sudah tidak memiliki apapun, aku jual baju-baju yang ku miliki. Lima belas tahun lalu, satu baju yang kujual harganya seribu rupiah. Dan dengan uang hasil penjualan baju-bajuku itu, aku membeli beras, minyak tanah, sayuran, dan aku atur sedemikian rupa sehingga anak-anakku dapat makan makanan yang sehat dan bergizi sekalipun sangat sederhana.

Terkadang, jika anak-anakku ingin makan apel atau jeruk, mereka harus pergi ke kuburan. Pada hari-hari tertentu, akan ada orang-orang yang datang kekuburan untuk sembahyang dan membawa makanan persembahan. Ketika anak-anakku bercerita kalau mereka harus berebutan dengan orang-orang untuk mendapatkan buah-buahan dikuburan itu, aku merasa sangat sedih.

Suatu kali, kami sudah tidak memiliki apapun untuk dimakan. Hingga jam dua siang, anak-anakku belum juga makan. Aku kumpulkan anak-anakku, dan kuajak mereka berdoa, “Ayo kita berdoa.” Kami memanjatkan doa Bapa Kami bersama-sama. Ketika kami berkata, “Amin,” tiba-tiba pintu rumahku di ketuk. Ada seseorang yang datang dan membawakan makanan sehingga kami bisa makan.

Dalam kondisi sulit seperti itu, aku terus memperjuangkan kehidupan anak-anakku. Aku mulai melamar pekerjaan dimana-mana. Sekalipun itu hanya pekerjaan part time, aku jalani dengan segenap hati. Terkadang ada teman yang telah mengenalku dengan baik sengaja memintaku bekerja ditempatnya. Sekalipun hanya bekerja selama satu minggu, tetapi hasil kerja saya itu bisa mencukupi kehidupan selama satu bulan, dari sekolah anak-anak, membayar kontrakan hingga makan sehari-hari.

Mulai saat itu aku mulai bekerja sebagai pegawai pengganti dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Aku menggantikan pegawai yang sedang cuti ataupun hamil. Jika ada pegawai yang hamil, aku sangat senang sekali, karena itu artinya aku bisa bekerja selama tiga bulan. Itu sangat lumayan sekali bagiku, karena uangnya aku bisa simpan untuk keperluan yang akan datang.

Perlahan-lahan kehidupanku dan anak-anakku mulai membaik. Satu hal yang membuatku bisa melewati semua masa sulit itu adalah adanya sebuah tekad yang tertanam dalam hatiku, “Aku harus menjadi panutan bagi anak-anakku.” Aku ingin anak-anakku bisa belajar nilai-nilai kehidupan yang benar dari diriku.

Jika orang lain berpikir aku bisa saja menghalalkan segala cara sehingga aku bisa lebih mudah melewati kesulitan-kesulitan yang menghadangku, aku berkata pada diriku, aku tidak boleh melakukan itu. Aku tidak mau menghalalkan segala cara, karena dalam hatiku ada takut akan Tuhan. Karena ada Tuhan Yesus dalam hidup keluargaku, aku tidak pernah takut dengan apa yang ada di masa depanku karena aku tahu Dia yang menjamin kehidupanku dan kehidupan anak-anakku. Aku sudah membuktikannya sejak awal ketika aku harus menjalani kehidupan seorang diri bersama kelima anak-anakku sampai saat ini, Dia selalu menyertaiku. Karena Dia adalah Immanuel.

Sumber Kesaksian :
Maureen (jawaban.com)

Pecandu Musik Dead Metal Dipulihkan

Lucky mengenal aliran musik Dead Metal sejak SMP. Karena kecintaannya dengan musik itu mempengaruhi kehidupannya hingga dia menjadi anak yang berontak, menutup diri bahkan selama 6 tahun dia tidak pernah kegereja.

Aliran deathmetal adalah musik aliran keras dan di aliran musik itu juga di dalam CD mereka ada gambar-gambar yang menggambarkan pelecehan mengenai Tuhan Yesus, bagaimana Yesus bermain dengan para wanita. Ada gambarnya dan liriknya juga mengandung penghujatan terhadap Yesus. Tapi saat itu karena Lucky dibutakan maka Lucky tidak peduli dengan segala sesuatunya itu. Justru Lucky sangat menyukai jenis musik mereka.

Lucky sering ngobrol dan bertukar pikiran dengan mereka. Pola pikir Lucky jadi berubah sejak ikut dengan perkumpulan mereka, Lucky jadi suka berontak dengan orangtua. Dan lama-kelamaan tanpa Lucky sadari Lucky menjadi pribadi yang dingin dan menarik diri dari keluarga. Jadi kalau ada saudara yang datang kerumah maka Lucky suka masuk ke kamar, dan kalau Lucky melihat orang, maka ketika mereka mengajak Lucky berbicara, saya sering tertunduk. Lucky sepertinya minder, Lucky merasa sendiri dan Lucky merasa cocok bila bercerita dengan sesama penganut dan musisi-musisi keras yang gelap itu. Kesombongan dan lirik kematian ia ciptakan melalui keahliannya bermain musik.

Pada suatu hari Lucky menderita sakit kepala dan sangat sakit rasanya. Karena sakit kepala itu Lucky derita selama satu bulan. Pada saat itu Lucky ketakutan, Lucky takut mati, Lucky takut sendiri. Kepala itu selama sebulan sakit sekali, ketika di bawa ke rumah sakit kata dokternya berkata tidak sakit apa-apa, tapi di kepala Lucky sudah berkecemuk berbagai pikiran, sakit apa Lucky sebenarnya ini, apa tumor, kanker atau apa.

Saat ia menderita karena sakit kepalanya, Lucky mulai masuk ke kamar kakaknya. Saat itu penasaran juga ingin mendengar lagu rohani dan akhirnya ia memasangnya. Saat itu Lucky menangis, dan tidak pernah Lucky merasakan seumur hidupnya. Saat itu lagu yang Lucky dengar adalah “Ku bri yang terbaik bagimu, kurelakan segalanya..” Lucky memasangnya pada siang hari dan mendengarkan lagu itu. Lucky menangis dan merasa lega. Lucky dalam posisi duduk dan menangis. Lucky merasa penyakitnya sembuh. Keesokan harinya ia memasangnya lagi lalu ada suara audible “kamu sudah saya pilih sejak dalam kandungan”. Ketika itu Lucky mengingat lagi bagaimana dulu ia pernah ke gereja dan mengenang bagaimana orang-orang itu memuji Tuhan, maka Lucky ingin sekali ke gereja.

Setelah itu ia mulai berbeda. Kasih Yesus yang membuatnya bertobat. Sejak saat itu ia mulai menyingkirkan semua barang-barnag yang berhubungan dengan musik metal itu. ia mencopot semua poster dan membuang semua kaset-kasetnya.

Saat ini Lucky sudah tergabung dalam satu band yang beranggotakan anak-anak muda yang bermusik untuk Tuhan. Dengan Sobat Band,. Lucky melangkah dengan pasti. Nilainya akademiknya menjadi cemerlang dan ia sekarang mampu menciptakan lagiu-lagu indah untuk kemuliaan nama Tuhan.

Sumber Kesaksian:
Lucky Barus (jawaban.com)

Lindiawati: Terlepas Dari Ikatan Ilmu Gaib

Dilahirkan dalam sebuah keluarga keturunan dukun, sejak umur 3 tahun Lindiawati memiliki kemampuan yang tidak lazim. Lindiawati memiliki kemampuan supranatural dan ia mulai melihat hal-hal yang gaib.

Suatu sore Lindiawati yang sedang disuapi makan oleh kakaknya di teras rumah mereka melihat seorang nenek berbaju hijau memegang sebuah batok dan tongkat berjalan dan masuk ke dalam pohon. Pohon itu memang berlubang tengahnya. Saat Lindiawati mengatakan kepada kakanya apa yang baru saja dilihatnya, kakakLindiawati lari ketakutan.

Peristiwa-peristiwa mistis sering dialami Lindiawatisampai ia dewasa. Bahkan dirinya sering bermimpi aneh. Saat Lindiawati menceritakan perihal mimpi-mimpinya kepada kakaknya, kakak Lindiawati malah mengatakan kalau dirinya sudah dipelet. Kakaknya pun mengajakLindiawati pergi ke orang pintar dan diisi dengan ilmu yang bisa mengimbangi peletannya.

Lindiawati dibekali ilmu untuk memagari diri. Tanpa disadari, ia memperhambakan dirinya kepada setan. Saat mengikuti ritual itu, kepala Lindiawati dan dua kakak iparnya ditutupi dengan kain tujuh warna. Lalu di hadapan mereka ada tujuh macam minuman, tujuh macam kembang, tujuh macam kue dan tujuh macam air sumur. Kemudian Lindiawati diminta mengikuti ucapan dukun itu membaca mantera. Sesudah membaca mantera, Lindiawati disuruh minum air kembang dan ditiup. Setelah acara ritual itu selesai, dukun itu meminta Lindiawati untuk megulurkan tangannya. Laludukun itu kemudian mengayunkan golok ke tangan Lindiawati dan memang senjata itu hanya meninggalkan garis merah saja di tangannya.

Semenjak saat itu, emosi Lindiawati menjadi tidak terkontrol. Bahkan hal itu berpengaruh terhadap hidup pernikahannya yang selalu diwarnai pertengkaran. Temperamen Lindiawati memang sangat tinggi. Hal kecil yang diributkan dalam rumah tangganya pun bisa menjadi sesuatu yang besar. Kelihatannya Lindiawati tidak memiliki kesabaran sama sekai. Emosional Lindiawati benar-benar tidak terkendali.

Dan Lindiawati sendiri sering menjadi nekat. Saat sedang kesal, keinginan untuk mati itu begitu kuat. Berulang kali Lindiawati mencoba untuk bunuh diri. Dari memotong nadinya dengan silet, menenggelamkan diri ke dalam bak mandi sampai mengurung diri di mobil yang tertutup rapat agar kekurangan oksigen.

Tidak hanya suami, anak-anaknya pun menjadi korban ketidaksabaran Lindiawati. Dalam hal emosi, jika Lindiawati sedang marah kepada anaknya, ia bisa memukuli anaknya dengan kejam. Dengan memakai ikat pinggang atau sapu, Lindiawatimemukuli anaknya sampai kulitnya lebam dan bengkak. Lindiawati menghajar anaknya sampai puas, sampai anaknya ketakutan. Saat memukuli anaknya itu,Lindiawati benar-benar merasakan benci kepada anaknya itu.

Bahkan buah hati Lindiawati yang masih balita pun tak luput menjadi sasaran kemarahannya. Keempat anaknya saat masih bayi sempat dibekap Lindiawati dengan menggunakan bantal jika mereka tidak berhenti menangis. Bahkan ditengkurapkan sampai tidak bisa bernafas dan dicubit bila tangisannya tidak juga kunjung berhenti. Kalau mendengar anaknya menangis, Lindiawati langsung merasa pusing. Ia merasakan seperti ada dorongan untuk membekap anaknya.

Bertahun-tahun Lindiawati terikat dan diperhamba oleh kuasa gaib. Suami dan anak-anaknya menjadi korban. Sampai suatu ketika Lindiawati mengikuti suatu pertemuan ibadah karena ajakan seorang teman. Awalnya Lindiawati merasa tidak betah karena aneh melihat orang berdoa dengan suasana yang cukup ribut. Kepalanya sakit tapi di hatinya Lindiawati merasa ada sesuatu yang berbeda. Hingga tanpa terasa minggu demi minggu Lindiawati mendatangi pertemuan ibadah tersebut.

Lindiawati pun pada akhirnya berterus terang dengan keterlibatannya dalam dunia mistis dan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan dunia gaib.Lindiawati dilayani pelepasan. Saat ia pertama kali bermanifestasi, yang dilihatnya adalah kain terbang di sebelah kanannya, berwarna-warni. Menurut kesaksian anak-anak dan rekan pelayanan yang melayaninya, saat itu Lindiawati berteriak, menjerit, menangis, mengamuk dan berguling-guling seperti orang kerasukan.

“Mama seperti orang kerasukan gitu deh… jadi seperti ular,macan, burung….” kisah William, anak Lindiawati.

“Saya juga tidak tahu kalau istri saya itu ternyata punya ilmu sebenarnya. Saat melihat pelepasan itu, saya baru tahu kalau istri saya itu ilmunya banyak sekali,” kisah Hansen Haskindy, suami Lindiawati.

Saat ikatan di alam roh itu diputuskan, Lindiawati melihat sang dukun datang, membelakangi Lindiawati dan pergi. Setelah selesai pelayanan kelepasan itu,Lindiawati mulai merasa enak dan merasa lega. Sampai akhirnya Lindiawati meminta Tuhan Yesus masuk ke dalam hatinya dan Lindiawati merasakan ketenangan yang luar biasa, suatu damai sejahtera yang luar biasa. Lindiawati juga merasakan sukacita yang luar biasa, sesuatu yang belum pernah dirasakannya di dalam hidupnya.

Semua ilmu yang ada di dalam dirinya telah dilepaskan. Kini Lindiawati memiliki hidup yang baru, yang berbeda dari sebelumnya. Tentu saja keluarganya yang paling merasakan dampak dari perubahan Lindiawati.

“Dulu itu saya sama mama merasa kesal, nakal sedikit saja dipukul, dicubit, disambet sampai merah-merah gitu. Kalau sekarang, sifat mama sudah berubah, jadi mama yang baik,” kisah William menceritakan perubahan Lindiawati.

Saat ini Lindiawati pun sudah berubah menjadi lebih sabar, lebih baik dan care sama anak-anak. Di dalam rumah tangganya saat ini penuh dengan sukacita dan Lindiawatijuga jadi banyak mengalah. Lindiawati pun menjadi pribadi yang semakin dewasa, sangat jauh berbeda dengan Lindiawati yang dulu sebelum ia mengenal Tuhan. Yesus memang suatu sosok yang sangat handal. Saat kita berseru, saat kita mau mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus, Ia akan datang.

“Saya sangat merasakan bahwa Tuhan Yesus itu memang benar-benar ada dan mengasihi saya. Saya sangat berterima kasih karena Tuhan Yesus menyelamatkan saya, Tuhan Yesus mau bersabar sampai saya bertobat, diselamatkan dan Tuhan mau memakai saya,” kisah Lindiawati menutup kesaksiannya dengan penuh haru.

Sumber Kesaksian :
Lindiawati (jawaban.com)

Pengampunan di Tengah Pengkhianatan Tiada Akhir

Bagaimana rasanya seorang wanita yang tengah hamil tua ditinggal pergi karena sang suami sudah kepincut dengan wanita lain? Dan yang lebih parah lagi, Masta akhirnya harus menghidupi delapan orang anaknya sendirian.

Hanya dalam satu kali pertemuan, Masta sudah terpikat dengan janji manis seorang pria. Tanpa pikir panjang, ia pun mengiyakan sebuah ajakan untuk kawin lari. Bagi orangtua Masta sendiri, kekecewaan menyelimuti hati mereka. Apalagi sebagai orangtua, mereka sama sekali tidak hadir dan dimintai restu terlebih dahulu. Mereka pun hanya dapat menangis menerima kenyataan ini.

Seperti membeli kucing dalam karung, Masta tak pernah menyangka sikap manis sang suami ternyata palsu. Setelah dua tahun bersama, sifat asli sang suami mulai terlihat. Masta selalu merasa curiga terhadap tingkah laku suaminya karena setiap malam ia tidak pernah pulang ke rumah. Dari adik ipar suaminyalah Masta mengetahui kalau suaminya memiliki rencana untuk menikah lagi. Masta sangat terpukul mendengar kabar itu. Apalagi kondisi Masta sendiri sedang hamil tua saat itu.

Rasa penasaran tiba-tiba membakar hati Masta. Pagi-pagi saat suaminya pulang, Masta diam-diam berniat datang ke rumah wanita yang hendak merebut suaminya. Tanpa diketahui Masta, suaminya ternyata mengikuti dirinya dari belakang. Namun setibanya di sana, wanita selingkuhan suaminya tidak ada di sana. Merasa dipermalukan, suami Masta langsung menyeret Masta pulang. Tidak hanya sampai di situ, pukulan dan tamparan pun diterima Masta yang sedang hamil besar. Bahkan suaminya dengan tegas bermaksud menceraikan Masta saat itu juga. Hati Masta sangat pedih namun ia hanya dapat menangis.

Campur tangan orangtua Masta mampu menyelesaikan permasalahan mereka untuk sementara waktu. Niat untuk menceraikan Masta pun urung dilakukan. Permintaan orangtua Masta yang menentang perceraian mampu meredam nafsu sang suami.

Kelahiran anak pertama mereka seakan menghapus segalanya. Keadaan itu bertahan sampai Masta dikaruniai lima orang anak. Sampai sebuah kabar dari Jakarta membuat Masta mengambil sebuah keputusan penting. Ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Mendengar kabar itu, anak-anak Masta menyambut dengan gembira. Padahal sebenarnya kabar buruklah yang Masta terima.

Masta menerima surat dari adik mertuanya yang tinggal di Jakarta dan mengatakan kalau suaminya ternyata suka main perempuan juga di sana. Kepindahan Masta dan anak-anaknya ke Jakarta menyusul suaminya tidak memperbaiki keadaan sama sekali. Seringkali Masta harus menerima perkataan-perkataan sinis yang penuh sindiran kepada dirinya. Suaminya sepertinya tidak menghargai keberadaan Masta dan anak-anaknya di sana. Sebagai seorang istri, Masta merasa menjadi istri yang tidak berharga bagi suaminya.

Untuk menambah penghasilan suaminya, Masta pun menjalankan usaha simpan pinjam. Dan dalam waktu satu setengah tahun, mereka sudah dapat memiliki rumah sendiri. Namun rumah itu tak bisa membawa kebahagiaan bagi Masta. Atas saran seorang saudara, rumah itu dijual untuk modal usaha.

Hingga sesuatu yang buruk pun terjadi. Salah satu anak mereka mengalami sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Semuanya terjadi begitu cepat. Sepeninggal anak mereka, suami Masta pun semakin frustrasi. Tidak hanya ditinggal mati salah seorang anak mereka, pekerjaan pun ia tidak punya sedangkan hasil penjualan rumah yang dijadikan modal usaha pun tidak menghasilkan apa-apa. Semuanya terbuang sia-sia.

Kejadian itu sangat berdampak kepada sifat suami Masta. Terkadang ia sangat memanjakan anak-anaknya, namun tak jarang ia menjadi sangat kasar. Saat sedang marah, apapun yang ada di tangannya akan dipakai untuk memukul anak-anaknya. Masta benar-benar tidak berani membela anak-anaknya saat suaminya sedang marah. Namun saat suaminya sudah selesai memukul anak-anaknya, barulah Masta berani menasehati suaminya. “Terlalu keras kamu bapak sama anak-anak kita. Nanti mereka bawa akar pahit dari kamu,” ujar Masta pada suaminya.

Entah apa yang dipikirkan suaminya. Saat Masta melahirkan anak kedelapan, suaminya tega meninggalkan Masta dan anak-anaknya tanpa kabar. Masta hanya dapat berlutut kepada Tuhan karena Masta melihat ketujuh anaknya dan seorang bayi yang baru lahir, ia tak tahu bagaimana caranya harus bertahan menghidupi kedelapan anaknya seorang diri tanpa pekerjaan yang tetap. Belum lagi anaknya yang baru lahir, bagaimana mungkin Masta tega meninggalkannya untuk mencari nafkah? Masta datang kepada Tuhan dan menyerahkan hidupnya dan kedelapan anaknya sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan.

Tepat di saat keputusasaannya, seseorang datang menolong Masta. Hamba Tuhan ini menasehati Masta supaya semakin dekat kepada Tuhan dan Masta diarahkan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Setelah menerima Yesus, Masta terus dibimbing di gereja dan Masta semakin dapat melihat kuasa Tuhan yang luar biasa. Hamba Tuhan ini juga mengajarkan Masta untuk berani melakukan apapun demi menghidupi anak-anaknya.

Demi menghidupi anak-anaknya, harga diri dan peluh tak lagi Masta perdulikan. Namun Masta tak pernah menyangka apa yang akan dialami anak pertamanya, James, saat berniat mencari ayahnya yang tak pernah pulang ke Sumatera. Suatu peristiwa pahit telah menantinya. James melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya sedang bermesraan dengan wanita lain. Tak cukup sampai di situ, James harus mendapati kenyataan kalau sebenarnya ayahnya adalah seorang germo. Ia tidak hanya mencari wanita-wanita cantik untuk ditawarkan kepada para lelaki hidung belang, namun ia juga berzinah dengan para wanita itu.

Hal yang lebih menyakitkan lagi harus James terima saat ia mengajak ayahnya pulang. Dengan kasar ayahnya mengusir James untuk pergi, bahkan menyuruh James tidak lagi memanggilnya ayah, melainkan om. Di hadapan James dan para wanita itu, dengan lantang ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki istri dan juga anak. Sebelum James pulang, ayahnya sempat mengancamnya untuk tidak mengatakan hal ini kepada ibunya atau James akan ia bunuh!!

Takut akan ancaman ayahnya dan juga takut akan kemungkinan ibunya yang akan bunuh diri jika mengetahui keadaan ini, James pun menulis surat kepada ibunya dan mengatakan kalau ia tidak dapat menemukan ayahnya. Namun Masta tidak percaya, bahkan ia semakin penasaran. Kalau memang suaminya sudah meninggal, paling tidak ia harus tahu dimana suaminya telah meninggal. Masta pun memutuskan untuk pergi sendiri mencari suaminya. Masta pun pulang ke Siantar.

Namun di sana, Masta hanya bertemu dengan adik suaminya. Karena tidak percaya, sesaat setelah meninggalkan rumah itu, Masta pun kembali ke rumah adik iparnya. Dan benar, suaminya ternyata sudah berada di sana. Saat itulah suaminya mengaku kalau di Siantar ada teman wanitanya yang begitu baik kepadanya dan memberikan modal untuk membuka bar di sana. Namun ia tidak menggambarkan wanita itu lebih jauh, hanya menyebutnya sebagai pelayan, pelayan yang dapat memodali dirinya membuka bar di Siantar. Padahal dirinya adalah germo dari wanita itu. Suaminya pun berjanji akan mengikuti Masta kembali ke rumah.

Namun janji hanyalah tinggal janji. Baru beberapa bulan saja, suami Masta kembali pergi. Untuk kesekian kalinya, hati Masta terluka. Namun di tengah kekecewaan dan kesedihannya, Masta tak berhenti berdoa untuk suami dan anak-anaknya.

Di lain tempat, suami Masta yang berniat hendak menjual bar miliknya mengalami penipuan dan hidup layaknya seorang gelandangan. Sampai keputusasaan mengingatkannya akan keluarganya. Penyesalan pun mulai menyelimuti hatinya saat ia mengingat segala perbuatan yang dilakukannya terhadap Masta, istrinya dan juga anak-anaknya. Dalam keadaan sakit, ia pun memutuskan untuk pulang, kembali kepada keluarganya.

Saat itu Masta sedang tidak berada di rumah. Ia sedang pergi bersama James, anaknya. Setibanya di rumah, Masta dan James tentu saja sangat terkejut melihat kehadiran orang yang selama ini telah menyia-nyiakan hidup mereka. Masta hanya bisa bengong di luar rumah, tidak berani melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Namun James, anaknya, serta merta berteriak kegirangan dan langsung memeluk ayahnya. Hati Masta pun dipenuhi kegalauan. Satu sisi, hatinya luluh melihat sikap anaknya yang begitu bahagia dapat melihat ayahnya kembali. Namun di sisi lain, Masta merasa tak sanggup menghadapi suaminya mengingat penghinaan yang telah diterimanya selama ini. Masta pun berseru kepada Tuhan agar pengampunan-Nya bisa mengalir dan ia bisa mengampuni suaminya sekali lagi. Apapun yang dikatakan Masta saat itu kepada suaminya ditanggapi dengan kemauan yang serius dari sang suami. Awal pemulihan pun terjadi saat itu di keluarga mereka.

“Tuhan begitu luar biasa. Apapun yang terjadi, Dia selalu melihat kita sebagai anak-anak kesayangan-Nya,” ujar Masta di sela-sela kesaksiannya.

Namun setelah beberapa tahun berlalu, sebuah rahasia akan terkuak lewat pengakuan sang suami. Dalam keadaan sakit parah setelah serangan jantung yang hebat, James mencoba mengajak ayahnya berbicara dari hati ke hati. Ia meminta ayahnya untuk mengakui dosa yang selama ini belum pernah mereka ketahui karena James sendiri merasa kalau ayahnya masih menyimpan rahasia di antara mereka. Saat itulah, ayahnya mengakui kalau Monaris, keponakan Masta, adalah anak dari hasil hubungannya dengan adik kandung Masta. Bagaikan tertimpa langit, seketika itu juga Masta jatuh pingsan. Ia benar-benar tak menyangka suaminya sanggup melakukan hal itu kepada dirinya. Adik kandungnya sendiripun sanggup mengkhianati dirinya. Apalagi suaminya telah menyimpan rahasia ini selama puluhan tahun karena saat pengakuan itu terjadi, Monaris telah berusia 19 tahun.

“Tuhan, ampuni suami saya Tuhan. Karena saat itu saya sudah mengenal Tuhan, saya hanya bisa berkata ampuni suamiku Tuhan. Sudah berumur 19 tahun anak ini, baru suami saya membuka rahasia aib ini kepada saya. Saat itu saya pingsan. Saya tidak dapat menerima kenyataan ini lagi. Tapi saya mengambil keputusan untuk mengampuni suami saya dan menerima Monaris sebagai anak saya sendiri. Walaupun kenyataan ini sangat pahit, tapi pasti Tuhan akan membuatnya menjadi sukacita buat saya,” kisah Masta dengan penuh keharuan.

Pengampunan dan kesabaran Masta perlahan-lahan mengubahkan sikap sang suami. Dengan cinta dan kesabaran, Masta terus merawat suaminya yang saat itu mulai sakit-sakitan. Setelah mengalami sakit yang berkepanjangan, 1 November 2002 suami Masta pun dipangil Tuhan untuk selamanya. Beberapa tahun kemudian, Masta kembali menemui adiknya. Saat itu juga hubungan antara Masta dan adiknya dipulihkan.

Kasih Yesus telah memulihkan hati Masta dan adiknya. Hingga kini, Masta dan anak-anaknya tak lagi hidup dalam kekecewaan.

“Saya bangga sekali memiliki mama seperti mama saya. Dia selalu berdoa sama Tuhan, agar keluarganya bisa selalu bersama dan berbahagia sekalipun mama selama hidupnya selalu menderita. Kalau saya pribadi sih sebenarnya hanya mengharapkan agar keluarga saya rukun-rukun saja. Tetap sayang sama mama walaupun Tuhan hanya memberikan seorang mama di sisi kami,” ujar Delima Sondang Samosir, salah seorang anak perempuan Masta.

“Saya sangat mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena anak-anak saya tidak membawa akar pahit dari kelakuan ayahnya. Saya mendapat pertolongan hanya dari Tuhan Yesus sendiri. Tidak ada unsur yang lain, hanya Tuhan Yesus sendiri yang menolong kami sekeluarga. Tuhan itu sangat baik bagi keluarga kami,” ujar Masta menutup kesaksiannya.

Sumber Kesaksian:
Masta br Simanjuntak (jawaban.com)

Ilmu hitam membawa Maida bertemu kasih Yesus

Maida Supriyatno, anak keempat dari tujuh bersaudara. Ia dilahirkan di Kalten Solo Jawa Tengah. Maida dilahirkan dari keluarga yang mempunyai latar belakang agama islam. Dari kecil ia membenci agama Kristen apalagi yang namanya Yesus.

Sejak SD ia sudah mempelajari ilmu hitam. Ia dapat memguasai ilmu pellet, ilmu santet, ilmu kontak, ilmu menghilang dan guna-guna. Awalnya hanya coba-coba, tetapi karena ingin membuktikan keampuhan ilmu-ilmu yang sudah ia dapat, maka ia mulai mencari masalah dengan orang lain.

Maida sering mengajak orang lain duel dengannya. Dan terbukti ia dapat memenangkannya. Ia menjadi semakin sombong setelah itu. Ia mulai mencoba ilmu peletnya kepada wanita yang akhirnya membuat wanita itu mengejar-ngejar Maida. Semua keinginannya dapat ia penuhi dengan ilmunya itu.

Suatu hari, ia pernah ingin mengerjai salah satu dari temannya yang beragam Kristen, tetapi entah mengapa ilmunya tidak dapat mengenai temannya itu. Lalu ia mulai bertanya ilmu apa yang temannya gunakan. Ternyata temannya berkata ia mempunyai Yesus.

Rasa penasarannya memnbuat Maida ingin menguji Yesus apakah Yesus sungguh-sungguh memiliki kuasa atau tidak. Pada suatu hari sepulang kerja diluar hujan deras sekali. Maida kuatir karena ia tidak dapat pulang dan ia berpikir bahwa rumahnya akan kebanjitan karena atap rumahnya bocor dan akan kemasukan air. Lalu ia mencobai Tuhan dan ia berdoa “Tuhan sayqa mohon dalam nama Yesus tutup lobang yang ada di genteng saya, jangan biarkan setetes airpun masuk kedalam kontrakan saya, dalam nama Yesus amin”.

Setelah ia sampai dirumah dan menyalakan lampu, ia terkejut karena tidak ada setetes airpun di kamarnya, semuanya kering, padahal hujan sangat deras. Tetapi hal itu tidak langsung membuat Maida percaya pada Yesus. Ia berpikir itu hanya kebetulan saja. Karena hokum alam yang membuat itu. Setelah kejadian itu, ia sengaja tidak membetulkan atapnya. Karena Maida ingin mencobai Tuhan lagi.

Dengan kejadian yang hampir sama. Pada saat itu hujan deras dan ia memutuskan untuk tidak berdoa pada Tuhan, ia ingin melihat apakah yang akan terjadi nanti. Pada saat ia sampai dirumahnya, betapa terkejutnya ia pada saat ia menemukan seluruh rumahnya telah dibanjiri oleh air hujan. Seluruh peralatan mulai dari kasur, lemari, dan peralatan dapur semua basah karena air hujan yang masuk lewat atap rumahnya yang bocor.

Pada saat itu ia menangis dan meminta ampun pada Tuhan karena telah meragukan mukjizat-Nya. Dan mulai saat itu ia berjanji akan menjadi hamba-Nya yang setia. Saat ini Maida dan keluarganya terlepas dari semua ilmu hitam dan memulai kehidupan baru bersama Tuhan Yesus yang selalu menjadi penolong mereka.

Sumber Kesaksian :
Maida Supriyatno (jawaban.com)

Billy Glenn: Artis Pecandu Narkoba

Aku lahir dari sebuah keluarga yang sangat taat pada Kristus. Sejak kecil aku rajin ke gereja dan ibuku selalu menanamkan dasar-dasar iman Kristus kepadaku.

Tahun 1995, pada suatu kesempatan yang luar biasa, aku mengikuti sebuah ajang pemilihan top model di Bandung. Selama proses audisi, aku selalu berdoa pada Tuhan meminta agar aku keluar sebagai pemenangnya. Dan ternyata Tuhan memang baik, Ia menjawab doaku. Aku terpilih menjadi juara pertama. Setelah memenangkan ajang tersebut, kesempatanku untuk masuk ke dunia model semakin besar. Perjalanan karierku sebagai seorang model berjalan dengan sangat lancar. Aku percaya bahwa ini semua berkat pertolongan Tuhan dan aku selalu menyempatkan waktu untuk berdoa kepada Tuhan. Karierku semakin berkembang, banyak job dari Jakarta. Situasi ini membuatku memutuskan untuk tinggal di sana saja.

Meraih Kesuksesan

Ternyata di Jakarta karierku berkembang dengan sangat baik. Bahkan aku mulai memasuki dunia akting sinetron. Dengan berbekal pengalaman di bidang taekwondo yang sejak kecil digeluti, aku berhasil menapaki dunia akting dengan peran pertamaku sebagai peran pembantu utama. Aku pun berhasil mendapatkan peran dalam film layar lebar yang sangat terkenal saat itu, Ca Bau Kan. Disaat teman-temanku harus berjuang keras dalam dunia entertainment ini, jalanku justru sangat mulus. Aku sangat merasakan kemurahan Tuhan yang luar biasa dalam hidupku. Tahun 2002, aku mendapat peran utama dalam sebuah sinetron yang terkenal. Saat itulah aku meraih titik puncak kesuksesanku dan mendapatkan kontrak yang bernilai sangat besar.

Melupakan Tuhan

Namun, kemurahan Tuhan dan kesuksesanku itu justru membuatku semakin menjauh dari Tuhan. Kesibukanku justru membuatku tidak memiliki waktu untuk berdoa dan mendekat padaNya. Aku mulai merasa mampu hidup tanpa Dia. Aku benar-benar membuang Tuhan jauh-jauh dari hidupku. Saat itulah, kuasa kegelapan mulai masuk dalam hidupku. Aku mulai terbawa arus pergaulan yang buruk. Diskotik, minuman keras, bahkan jenis narkoba seperti extacy, ganja, kokain, dan shabu-shabu selalu ada di setiap hari-hariku. Honor dari pekerjaanku itu kuhabiskan untuk berfoya-foya sehingga aku pun terjerumus dalam pergaulan seks bebas.

Tertangkap Polisi

September 2002, aku tertangkap polisi. Ketika baru saja pulang dari syuting sebuah sinetron, aku meminta temanku untuk membelikan sejenis narkoba. Polisi ternyata telah mengincar temanku itu sehingga ia tidak bisa melarikan diri lagi. Setelah ditangkap, atas pengakuannya polisi memintanya untuk menjebakku. Seperti yang telah mereka rencanakan, akhirnya aku pun ditangkap dan harus menjalani masa tahanan selama 8 bulan. Dalam situasi ini kesombongan masih kuat menguasaiku sehingga aku tidak menyadari kesalahan, sebaliknya malah selalu mempersalahkan Tuhan. Sebagai seorang artis yang sudah dikenal, aku sering menerima pujian. Tetapi semuanya berubah menjadi hinaan karena tindakan kriminalku ini. Walaupun aku tahu bahwa narkoba itu tidak baik bagi masa depanku, tetapi keterikatanku dengan obat jahat itu membuatku terus mengkonsumsinya sekalipun berada dalam penjara.

Bebas dan Tertangkap Lagi

Setelah masa 8 bulan tahanan itu selesai, aku kembali mulai merintis karierku di dunia sinetron. Namun kesombongan itu tetap mengendalikan pikiranku. Aku sama sekali tidak tergerak untuk bertobat, justru semakin kecanduan dengan obat-obatan. Akhirnya, aku boleh dikatakan menjadi lebih bodoh dari orang bodoh…karena orang bodoh pun tidak akan masuk ke lubang yang sama. Pukul 12 malam itu, ketika sedang berpesta drugs di sebuah tempat di kota Bekasi, bersama teman-teman pecandu, polisi pun mengetahui aksi kami ini dan kami pun digelandang ke tahanan setempat. Aku harus mendekam lagi selama 7 bulan di penjara Bulak Kapal Bekasi.

Ingat Tuhan?

Dalam penjara, pengalaman memalukan ini membuatku merenungkan kasih Tuhan yang besar dalam hidupku. Di saat aku meninggalkanNya, Ia tidak membiarkanku terjebak terus-menerus dalam jurang dosa, justru berusaha menegurku bahkan sampai 2 kali agar aku berbalik kembali kepada jalanNya. Akupun teringat tulisan dalam Wahyu 3: 9 yang mengatakan “Barangsiapa Kukasihi, ia kuhajar. Sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.” Aku langsung menangis histeris dan menyadari bahwa Tuhan begitu baik bagiku. Walaupun aku telah menjauh dariNya, bahkan seringkali menyalahkanNya, namun Ia tidak pernah meninggalkanku dan tetap mengakuiku sebagai anakNya. Ia ingin agar aku bertobat sebelum semuanya terlambat. “Tuhan, Engkau sangat baik bagiku. Kau tidak membiarkanku tenggelam dalam lumpur dosa. Kau tidak membiarkan narkoba itu merenggut nyawaku dan membawaku ke dalam kematian. Terima kasih untuk kesempatan ini. Aku ingin menjadi hambaMu yang taat dan setia di dalam Engkau…” Saat itu aku benar-benar bertobat. Yang berbeda dalam masa tahananku kali ini ialah, sebelumnya aku ditahan dengan rasa kekuatiran dan kemarahan, namun kali ini aku lebih banyak mengucap syukur dan berusaha untuk menjalani dengan sukacita hari-hari dalam tahanan itu sampai akhirnya, 31 Desember 2005, aku selesai menjalani masa tahananku.

Titik balik kehidupanku

1 Januari 2006, hari yang paling bersejarah untukku karena hari itu aku memutuskan untuk memulai kehidupan baru dengan Tuhan Yesus yang akan terus menuntunku dalam tiap langkahku. “Tuhan, ajar aku melakukan segala yang Kau inginkan untuk aku jalani dalam hidupku ini…” pintaku kepadaNya.

Sebagai jawaban doaku, Ia menempatkanku dalam sebuah komunitas rohani di daerah Kelapa Gading. Dan aku juga kembali memulai karierku di dunia entertainment dengan cara hidupku yang baru dalam Kristus. Aku juga ambil bagian dalam pelayanan untuk menyaksikan betapa besar kasihNya bagiku karena Ia telah menghajar dan menegurku saat aku hampir tenggelam dalam lembah maut demi menyelamatkan hidupku. Lingkungan pergaulanku yang baru ini juga membuatku merasa sangat damai dan tentram. Ada sukacita yang kurasakan dalam hari-hariku, yang tidak pernah kurasakan sebelumnya ketika aku masih hidup dalam kenikmatan dunia. Hal yang membanggakan bagiku ialah, melalui pertobatan dan pemulihanku ini, ayahku yang dulu belum sungguh-sungguh di dalam Tuhan kini mengambil keputusan untuk menjadi orang Kristen sejati.

Sumber Kesaksian :
Billy Glen (jawaban.com)

Misteri Anak Tanpa Ayah

Bertahun-tahun ia hidup tanpa tahu siapa ayahnya. Bahkan sewaktu kecil, banyak orang sering melontarkan hinaan bahwa ia anak haram. Teman-temannya pun tak jarang mengejek dan mengucilkannya, hingga perkelahianpun tak terelakkan. Ia tumbuh dalam kesusahan, kekecewaan dan kekerasan. Baru tiga puluh tahun kemudian, Jarwo Yosafat akhirnya mengetahui misteri penyebab kehadirannya didunia ini.

Sewaktu kecil, berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya tentang keberadaan ayahnya. Namun sang ibu tak pernah menjawab dengan gamblang, siapa sebenarnya ayah dari Jarwo. Rasa malu, terhina, dan marah karena berbagai hinaan yang diterimanya, membuat Jarwo menyimpan kekecewaan yang dalam pada sang ibu. “Ketika saya tanyakan kepada Mak’e, selalu saja dijawab: Tuhan yang tahu, kamu itu bukan anak haram, bapak kamu ada di Jakarta. Kami telah menikah secara resmi, dan surat-suratnya ada semua. Hanya Mak’e saja yang tidak mau tinggal di Jakarta,” ungkap Jarwo.

Rasa penasaran harus dipendam oleh Jarwo dan tetap menjadi sebuah misteri. Hingga suatu saat seorang pria hadir dalam kehidupan Suciati, ibunda Jarwo. Pria itu melakukan pernikahan dibawah tangan dengan Suciyati, namun setelah itu, bapak tiri Jarwo pergi meninggalkan mereka demi wanita lain. Tak lama kemudian lahirlah seorang bayi perempuan, buah cinta Suciati dan ayah tiri Jarwo. Namun hinaan dan makian dari sanak saudara harus ditanggung kembali oleh Suciyati. Apa lagi selepas melahirkan, Suciati tak bisa bekerja untuk menopang kehidupan mereka. Sanak saudara ibunya yang tak lagi memiliki belas kasihan, membuat Jarwo harus rela berhenti bersekolah dan menggantikan ibunya menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan kue.

“Sewaktu adiknya baru berumur dua bulan, saya kan tidak bisa berjualan untuk mencari makan. Jadi Jarwo yang jualan untuk makan kami. Lalu guru Jarwo memanggil saya, menanyakan mengapa Jarwo tidak lagi bersekolah. Saya mengatakan bahwa, untuk makan sehari-hari saja kami susah apa lagi harus membayar sekolah anak, saya tidak mampu,” Demikian penuturan ibu Suciati dengan mata berkaca-kaca. Demi ibu dan adiknya, Jarwo rela mengubur impiannya untuk bisa kembali bersekolah. Hingga suatu saat, seseorang datang dengan membawa sebuah harapan. Pada saat itu, Pak Marsono datang dan menawarkan Jarwo untuk bisa kembali meneruskan sekolahnya, namun dengan syarat Jarwo harus tinggal di panti asuhan. Dengan berat hati, Jarwo harus meninggalkan adik dan juga ibunya. Sang ibu pun merasa begitu berat harus berpisah dengan anak laki-laki yang sangat dikasihinya itu.

“Saya sebenarnya ingin sekali sekolah. Tapi pada satu sisi saya tidak rela meninggalkan ibu dan adik saya hidup menderita. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap mencari uang untuk membantu mereka, dengan cara menerobos peraturan panti asuhan. Pada jam istirahat siang, sewaktu seharusnya tidur siang atau melakukan kegiatan lain, diam-diam saya pergi untuk mencari uang dengan mengamen, menjual koran, dan banyak hal lain. Uang itu saya berikan kepada ibu saya untuk beli beras, dan kebutuhan hidup lainnya.” Tak peduli siang atau malam, bahkan kerasnya dunia jalanan tidak mematahkan semangat Jarwo untuk mencari uang demi adik dan ibunya. Hingga suatu saat Jarwo harus menghadapi sebuah pengalaman buruk.

“Ada ketua genk yang menguasai daerah dimana saya ngamen saat itu yang memeras saya. Karena sering diminta setoran, membuat saya berpikir, kalau begini saya akan terus menderita.” Tidak mau terus ditindas dan harus menyetorkan hasil kerja kerasnya, membuat Jarwo memutuskan untuk mempelajari bela diri dengan sungguh-sungguh. Tekad Jarwo sudah bulat, bahwa bela diri adalah satu-satunya jalan keluar. Namun secara tidak disadarinya, keberanian dan kekerasan yang ia pupuk membawanya kepada dunia kejahatan. “Semakin banyak saya mengalahkan orang, semangat dan kepercayaan diri saya semakin tinggi. Saya semakin tidak takut dengan orang.”

Pada suatu saat, Jarwo dan temannya Aji mengamen di Semarang. Tetapi keinginan memiliki sandal bermerek yang cukup mahal saat itu, membuatnya memberanikan diri untuk mencuri di salah satu rumah dimana mereka mengamen. Namun rupanya hal tersebut diketahui oleh sang pemilik rumah. Keduanya dikejar, ditangkap bahkan dijebloskan kedalam penjara. Jarwo harus mendekam dipenjara selama tiga bulan, dan membuatnya benar-benar merasa terpisah dengan ibunya. Hal itu akhinya membuat Jarwo dikeluarkan dari panti asuhan.

Namun ada hal yang tidak disadari oleh Jarwo, kekecewaan dan kekerasan yang disimpannya sejak kecil terus terbawa hingga ia dewasa. Bahkan hingga ia menikah dan dikarunia dua anak, tabiat Jarwo tidak juga berubah. “Sikap saya dulu seperti preman saja. Ada orang yang bicara kasar sedikit saja, sudah saya anggap menantang saya.” Suatu hari karena suatu perkara, Jarwo bersitegang dengan tetangganya. Namun tetangganya itu tidak bisa lagi membiarkan sikap Jarwo yang kasar tersebut. Dengan memanggil teman-teman sekampungnya, tetangga Jarwo mempersiapkan sebuah rencana untuk memberikan pelajaran kepada Jarwo. Melihat gelagat buruk tersebut, Jarwo buru-buru pergi meninggalkan rumah. “Melihat banyak orang datang kerumah tetangga saya, buru-buru saya pergi ke pabrik tempat saya bekerja.” Namun dalam perjalanan, Jarwo diculik dan dipukuli habis-habisan oleh tetangga dan teman-temannya itu. Ketika nyawanya diujung maut, Jarwo diingatkan pada sebuah kejadian.

Waktu itu Jarwo baru pulang kerja, dan ia meminta istrinya untuk dibuatkan teh. Namun sang istri menjawab bahwa tidak ada teh dan gula, sekalipun ada itu pun milik ibu Suciati. Merasa tersinggung, dengan kemarahan yang menyala-nyala Jarwo mengusir ibu dan adiknya untuk keluar dari rumahnya. Bahkan di depan mata ibu dan adiknya, peralatan yang digunakan ibunya untuk berjualan bubur untuk mencari tambahan sedikit uang dibakar oleh Jarwo. Hati dan perasaan ibunya seperti disayat-sayat, namun jauh didalam hatinya dia tidak ingin membenci anaknya itu. Akhirnya ibu Suciati dan Puji, adik Jarwo pergi meninggalkan rumah itu.

“Sewaktu saya tahu, mak’e dan adik saya Puji pergi dan tidak kembali, saya merasa sangat menyesal. Saya tidak rela ibu saya pergi, tapi saya merasa kecewa, karena hingga setua ini saya belum pernah dipertemukan dengah ayah saya.”

Kedurhakaan pada sang ibu, diperlihatkan dengan jelas sewaktu Jarwo dipukuli hingga babak belur. Setelah puas memukulinya, Jarwo diserahkan oleh para penculiknya kepada polisi. Kemudian polisi memperbolehkannya untuk pulang. Namun kesalahan yang telah diperbuat pada ibunya terus membayanginya. Di tengah kegalauannya, seorang teman memperkenalkannya pada seorang hamba Tuhan yang menuntunnya pada pertobatan dan mengalami pengampunan dari Tuhan.

“Pada waktu itu, Kak Lina, hamba Tuhan itu berkata: Tuhan tidak pernah lagi mengingat-ingat lagi masa lalu kamu, dosa kamu. Tuhan tidak pernah mengingat-ingat lagi, sepanjang kamu mau bertobat. Saat itu rasanya seperti disambar petir, saya disadarkan. Ayat-ayat firman Tuhan yang ditunjukkan Kak Lina meneguhkan saya untuk bertobat. Mulai dari situ, saya sungguh-sungguh bertobat.”

Namun ujian kembali datang, Christy, anak pertama Jarwo mengalami kecelakaan dan harus dioperasi. Saat itu Jarwo meminta ibunya datang untuk mendoakan anaknya. “Ketika saya butuhkan, Mak’e pun datang. Meskipun sering saya sakiti hatinya, namun seperti tak pernah jera dan tanpa dendam, Mak’e datang dan berdoa bagi anak saya.” Sebuah mujizat terjadi, Christy sadar dan kondisinya mulai membaik. Lewat kesembuhan Christy tersebut, Tuhan menegur Jarwo atas kesalahan yang pernah diperbuatnya pada sang ibu. Dalam sebuah ibadah ucapan syukur, Jarwo menyatakan penyesalannya atas semua yang pernah dilakukannya dan meminta maaf pada sang ibu. “Rasanya plong… Pada saat itu saya sangat bersyukur. Puji Tuhan, anak saya bisa ingat dan punya kasih pada orangtuanya.”

Sebenarnya, rahasia apa yang terjadi dibalik kelahiran Jarwo? Sebuah kenyataan pahit harus ditanggung Suciati selama bertahun-tahun. Semua itu bermula sewaktu Suciati bekerja sebagai pembantu di Jakarta, sebuah peristiwa menghancurkan kehidupannya. Suatu malam, anak majikan dimana dia bekerja membekap dan memperkosanya. Kesuciannya terengut, dan ia pun hamil mengandung Jarwo. Hari demi hari dilewati dengan tangisan dan kegalauan. Tak dapat dibayangkan bagaimana respon orangtua dan saudara-saudaranya di kampung jika mengetahui semua kenyataan pahit ini.

Dengan dibekali surat dari orang tua majikannya yang menyatakan bahwa mereka bertanggung jawab atas anak tersebut, Suciati dipulangkan ke kampungnya. Suciati pulang ke rumah dengan penuh harap mendapat penghiburan dan dukungan dari orang tua dan saudaranya, namun hinaan yang dia terima. Dianggap telah berbuat zinah seperti perempuan jalanan, keluarganya mengucilkan Suciati dan anaknya. Satu hal yang dipegangnya, janji sang majikan yang tak pernah terwujud. “Anak saya wajahnya itu persis seperti bapaknya, tapi saya tidak merasa benci setiap kali melihatnya. Hanya saya sedih, jika saja anak saya ada bapaknya pasti dia tidak menderita seperti ini. Saya juga tidak berani mengatakan dengan jujur bahwa saya diperkosa oleh bapaknya, karena saya takut dia marah dan memukul saya, lalu dia meninggalkan saya. Saya takut sekali kehilangan Jarwo.” Demikian penuturan ibu Suciati kepada Solusi.

Namun kasih Tuhan telah memulihkan kehidupan Jarwo, demikian pengakuannya, “Saya sangat mengasihi Mak’e. Saya rindu untuk membahagiakan Mak’e. Saya sudah tidak mempersalahkan Mak’e lagi. Bahkan jika Tuhan ijinkan saya bertemu dengan bapak saya, dengan tulus saya mengampuni bapak saya. Jika dia mau terima, saya mau mengakui dia sebagai bapak saya. Bahkan jika dia menolak saya, saya tetap mau menerima dia sebagai bapak saya.” Demikianlah karya Tuhan yang sempurna memulihkan seorang anak bernama Jarwo Yosafat, tak ada lagi kekecewaan ataupun amarah.

“Saya merasakan sukacita saat ini, karena Tuhan memulihkan keluarga saya. Saya tahu bahwa saya berharga dimata Tuhan, demikian juga dengan keluarga saya. Tuhan memberkati keluarga saya. Sehingga kebahagiaan saya menjadi penuh. Saya yakin, sepanjang hidup saya, saya bukan hanya keluar sebagai seorang pemenang, tetapi lebih dari pemenang.” Demikian Jarwo menutup kesaksiannya dengan penuh senyum.

Sumber kesaksian:
Jarwo Yosafat (jawaban.com)

Kedamaian Karena Pengampunan

Apa kira-kira yang anda lakukan jika orang tua anda diculik dan dibunuh di depan mata anda sendiri? Riri Panjaitan, putri almarhum Jenderal D.I. Panjaitan akan menuturkan kisah tragis pembunuhan ayahnya.

Ketika itu pukul 3 pagi. Waktu terjadi pendobrakan pintu pertama kali, saya ada di dalam rumah, bersama keluarga. Saya sedang berada di dalam kamar. Dan tiba-tiba mereka meletuskan senapan dan menembak ke arah rumah kami. Selama beberapa saat peluru-peluru mereka menghujani rumah kami. Mereka masuk ke dalam rumah dan menyuruh ayah saya menemui mereka atau mereka akan meledakkan rumah kami. Saya ingat waktu itu ayah keluar dengan berpakaian militer lengkap sebagai angkatan darat.

Saya dengar ayah saya berbicara, rupanya ayah saya meminta waktu untuk berdoa. Saat itu ayah saya ditembak, diberondong dengan beberapa peluru. Lalu jenazah ayah diseret dan dilempar ke lubang yang dalamnya hampir 2 meter. Saya berlari ke depan dan saya melihat darah yang kental… Saya ingin pegang, saya ingin peluk papa saya tapi tidak ada… Sepertinya saat itu saya betul-betul mengalami kecewa, dan sungguh berat untuk seorang anak berumur 8 tahun seperti saya.

Marieke Panjaitan (Istri Mayjen Anumerta DI Panjaitan): Waktu itu Riri masih kecil sehingga dia belum mengerti arti kejadian itu. Tapi sesudah dia melihat banyak orang datang ke rumah, ada yang menangis juga, dan dia menjadi heran, apa yang sudah terjadi. Baru setelah itu dia tahu papanya sudah tidak ada lagi.

Saya merasa sangat kehilangan… Orang yang kita cintai diambil seperi itu, diseret seperti binatang, dibantai seperti binatang… Tapi saya tidak mendapat jawaban dari siapapun mengapa ini harus terjadi. Saat itu saya merasakan tidak adil, dalam hidup saya ada sesuatu yang tidak adil, dan itu yang berbekas di hati saya.

Saya bertambah besar dan peristiwa G30SPKI tahun 1965 itu semakin jauh saya tinggalkan, tapi tidak ada satu titik pun yang bisa saya lupakan. Saat-saat itu saya merasa begitu menderita, di dalam batin saya, sekalipun keadaan fisik saya baik sekali.

Marieke Panjaitan (Istri Mayjen Anumerta DI Panjaitan): Dulu dia selalu kelihatan gembira, karena setiap papanya pulang, selalu menemani anak-anak. Tapi setelah peristiwa itu dia jadi pendiam, dia merasakan pahitnya peristiwa itu. Dan sebagai orang tua saya merasakan penderitaan yang sama dengan dia.

Kalau saya melihat suatu persoalan yang tidak pada tempatnya, saya merasa seperti ada sesuatu yang tidak bisa saya tahan. Saya susah untuk bergaul dan saya susah untuk menyesuaikan diri, temperamental, sangat sulit sekali bagi saya untuk mengekspresikan apa yang saya inginkan, sulit sekali untuk saya merasa nyaman dan damai… Seperti mau berontak hanya tidak tahu mau berontak kepada siapa. Dan kalau saya ingat masa-masa itu, saya merasa ada kekejaman, ada ketidakadilan dan kekejian… saya merasa manusia itu jahat sekali ya…

Penampilan luar saya bisa menipu. Saya bisa tertawa, saya bisa hidup sehari-hari seperti anak-anak lain, gembira, tapi hati saya tidak bisa sembuh dari luka itu. Tidak ada obat yang bisa mengobati luka karena peristiwa itu terjadi dalam hidup saya.

Lalu saat saya pergi ke Eropa, saya bertemu dengan seorang teman yang bisa berbicara tentang Tuhan dengan sangat dalam. Saat itu mungkin saya sudah dijamah Tuhan tapi saya sepertinya tidak mengerti karena saya tidak mempunyai pengetahuan tentang Tuhan. Selama kurang lebih 4 tahun saya mencari, akhirnya saya bertemu dengan Tuhan secara pribadi.

Saat itu saya dalam puncak kesedihan saya dan saya menangis, saya putus asa dan ingin mati, Tuhan datang. Tiba-tiba saya lihat langit terbuka, dan terang itu masuk ke kamar. Saya takut, saya pikir saya sudah mati, karna saya minta mati maka saya mati. Saya lihat ada seseorang menghampiri saya dan Dia begitu besar, begitu terang… Dia merentangkan tanganNya dan berkata, “Riri, kau harus mengampuni, engkau harus memberikan pengampunan kepada orang-orang yang kamu benci.” Saya katakan tidak mungkin. Dia menjawab, “Ya mungkin. Karena jika engkau melepaskan pengampunan, maka Aku, Tuhan Yesus akan mengampuni engkau. Riri, apakah engkau mau mengampuni?”

Ketika Tuhan berkata seperti itu, maka seperti ada video dalam pikiran saya, peristiwa G30SPKI itu, saya melihat diri saya, saya melihat peristiwa itu terulang. Dan Tuhan bilang, “Jikalau engkau tidak mengampuni peristiwa itu, Aku tidak akan mengampuni engkau.” Lalu saya katakan,”Saya mau mengampuni, Tuhan. Saya mau mengampuni pembunuh papa…” Dan saya rasakan Tuhan bekerja di dalam kata-kata saya itu, Tuhan seperti masuk dalam batin saya yang terdalam, dan Dia cabut semua akar kebencian, kepahitan, amarah, dari dalam hati saya. Semua tercabut seperti akar wortel. Saya merasa damai masuk ke dalam hati saya dan saya merasakan… saya tidak pernah merasakan hidup seperti itu.

Saya sadar bahwa Tuhan sudah menampakkan diriNya. Dan sejak itu saya mulai hidup dengan bersukacita, tidak lagi bersedih-sedih… Dia sembuhkan saya, Dia baharui hati saya, Dia beri saya kuasa kebangkitan. Hidup saya sudah berubah, saya tahu tujuan saya, saya tahu ayah saya sudah duduk bersama Bapa di Sorga, tidak ada penyesalan, tidak ada kebencian, tidak ada akar kepahitan, tidak ada dendam, yang ada hanya damai sejahtera, ucapan syukur. Kiranya Tuhan boleh memakai saya untuk mereka yang membutuhkan kesaksian saya.

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (Markus 11:25)

Sumber Kesaksian:
Riri Panjaitan (jawaban.com)